. Nirwana Part 65 | Kisah Malam

Nirwana Part 65

0
160

Nirwana Part 65

Memento Mori

“Siapa kamu?”

“Aku? aku sudah nggak penting lagi,kan? sekarang yang penting ‘siapa kamu’.”

“A-aku? Aku Ava.” Dan cepat-cepat Ava menambahkan, “Mustava Ibrahim.”

“Nah, apa kamu lupa? Bukannya dulu kamu yang cerita ke aku, siapa itu Ibrahim?”

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Seperti nyata, sepanjang pagi itu mimpi Ava masih terngiang-ngiang di benaknya. Dunia dalam masih bisa terlihat jelas, bahkan ketika ia membuka mata.

Tak ada yang bisa menghalangi lagi, pagi itu juga Ava bangkit menuju studio lukis, berjalan tergopoh dan menyiapkan kanvas dan kuas, mengejutkan Sheena yang sedang melakukan finishing lukisannya.

Ada perasaan canggung, perasaan segan yang tiba-tiba menyergap ketika keduanya berpapasan di studio. Cewek tomboy itu tertegun ragu-ragu, antara hendak menyapa, atau mengacuhkan pemuda yang sedang sibuk menyiapkan alat lukis atau diam saja.

“H-hai…”

“U-uit.” Ava menyahut sekenanya, sibuk mengaduk cat air warna hitam.

“Av-“ Sheena terkaget, karena mendadak Ava menyiramkan cat air ke seantero kanvasnya, sehingga kanvasnya total hitam.

“Sheena, ambilin hair dryer di situ.” Ava berkata cuek, tanpa menoleh, karena ia tengah sibuk meratakan cat dengan rol kuas.

Sheena menurut, setengah bingung dengan apa yang dikerjakan Ava.

Dengan hair dryer, Ava mengeringkan kanvas yang dipenuhi warna hitam, hingga menimbulkan corak-corak seperti hujan. Kemudian diambilnya cat warna putih dan mulai dikuaskannya ke seantero kanvas hitam.

Sebuah lukisan Noir.

“Ava… “ yang kemaren, maafin aku.. “Bli Kadek ke sini, katanya…”

“Galeri libur!” Kadek datang tergopoh, dengan menenakan baju hitam, kamen -kain batik yang dililitkan di pinggang, dan udeng -ikat kepala khas Bali. “Nanti siang kita melayat ke pengabenan-nya[SUP](1)[/SUP] Pekak Parwa.”

“Ajik sudah bilang. Makanya aku santai-santai.” Ava mengekeh pelan, tetap melukis.

Kadek berselonjor di kursi panjang, menyeruput kopi sambil mengamati lukisan Ava dan Sheena. Pemuda itu mencomot pisang goreng, mengunyah sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Cieee… cieeee… mesra banget, pagi-pagi sudah melukis berdua.” Kadek nyengir jahil. “Kalau dipikir-pikir, kalian berdua ini cocok… kenapa nggak buka galeri bersama aja!”

“A-apa sih, K-kadek ngegosip aja…” Sheena melotot ke arah Kadek.

Sontak kopi menyembur dari mulut Kadek. “Maksudku lukisan kalian! Lah, Kamu pikir apa?”

Sheena tak menjawab, cepat-cepat menyulut rokok untuk menutupi wajahnya yang memerah.

“Kalian itu memang cocok, sama-sama seniman absurd, seniman gendeng! Ajik kan’ nyuruh kalian melukis diri sendiri. Nah, Sheena, kamu malah gambar anak kecil. Ava? Kamu melukis apa? Nggak jelas.”

“Belum selesai ini, Dek! Pokoknya ini bakal jadi masterpiece,” ucap Ava jumawa, tidak cukup sekali, diulanginya lagi, “masterpiece

Kadek tertawa terbahak, “Terserah deh, lama-lama kamu jadi makin mirip Ajik. Buruan, habis itu kita berangkat ke Setra[SUP](2)[/SUP] bareng sama Ajik.”

Ava mengekeh cuek, memberikan beberapa garis sebelum mengusap tangannya yang belepotan cat ke wajah Kadek.

Saat itu Sheena tidak berkata-kata, namun dirinya tahu: ada yang tak biasa dari lukisan Ava.

(1) Pengabenan: Upacara Kremasi Jenazah.
(2) Setra: Tempat Pemakaman

 

= = = = = = = = = = = = = = = =

Fragmen 64
Memento Mori

 

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur.
Ad mortem festinamus peccare desistamus.

Life is short, and shortly it will end;
Death comes quickly and respects no one,
Death destroys everything and takes pity on no one.
To death we are hastening, let us refrain from sinning.

Irama tetabuhan itu masih saja terdengar asing dan merindingkan bulu roma, persis seperti ketika pertama Ava tiba di tempat ini. Bedanya, kali ini Ava berada di antara mereka, mengenakan kamen dan udeng, ikut mengusung patung lembu hitam menuju pekuburan yang dirimbuni pohon beringin raksasa.

Beberapa jasad dibawa bersama-sama ke puncak bukit. Sinar matahari yang berada tepat di atas kepala, menyusup dari sela-sela daun, jatuh ke atas 5 buah Bade, semacam keranda atau sarkofagus yang dihias kertas warna-warni hingga nampak berkilauan.

Alunan musik pemakaman mengalun lamat-lamat, iramanya sedih dan memilukan. Juru Kidung menembang khusyuk, dan Pendeta memercikkan air suci sambil memanjatkan doa.

Sebuah tangga didirikan ke atas menara sarkofagus, kemudian dengan hati-hati Jenazah diturunkan diiringi hiruk pikuk peziarah, untuk diletakkan di dalam wadah di bawah patung lembu, kendaraan menuju Nirwana.

Dalam diri manusia mempunyai beberapa unsur, dan semua ini digerakan oleh nyawa/roh yang diberikan Sang Pencipta. Saat manusia meninggal, yang ditinggalkan hanya jasad kasarnya saja, sedangkan roh masih ada dan terus kekal sampai akhir jaman.

Ava mundur beberapa langkah saat api mulai dinyalakan. Perlahan manifestasi pralina (penyucian) mulai melahap peti dan kaki-kaki patung Lembu, menimbulkan suara bergemeretak yang bersahutan dan asap hitam yang mengepul.

Pak De menepuk pundak Ava, menjelaskan bahwa Upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, membebaskan roh/arwah dari perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali bereinkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.

“Saya nggak nyangka… Padahal Pekak Parwa itu salah satu seniman yang mengajari saya melukis.” ucap Pak De, bernostalgia melihat tubuh gurunya mulai terbakar di tengah api yang membara “Hidup ini ternyata ndak lama…” Pak De terbatuk, memandangi asap hitam yang mengepul kelam ke langit. “Cepat atau lambat… besok atau lusa… kita pasti akan menyusul ke sana.”

“Ah, A-ajik jangan ngomong yang aneh-aneh.”

“Saya serius.” Pak De menarik nafas, meremas pundak Ava “Ava, kalau misalkan terjadi apa-apa sama saya…”

“Eh, Ajik!” Ava melotot panik.

Pak De terkekeh-kekeh, sambil terbatuk. “Ava… kamu… sudah siap?”

Ava tak menjawab, memandangi ssap hitam yang semakin membumbung ke langit mendung.

“Ava… saya nggak bakal marah kalau kamu nggak bisa nyentana. Saya sayang sama kamu, kamu sudah saya anggap anak saya sendiri. Saya juga tahu, kamu tulus sayang sama Indira.” Pak De menepuk-nepuk pundak Ava, teringat Raka -mendiang anaknya. “Tapi tolong… kasih saya kepastian…”

“Saya, masih butuh waktu, Jik…”

Pak De terbatuk, kali ini lebih lama dari sebelumnya. “Saya… uhuk… huk.. Saya cuma khawatir, saya yang nggak punya banyak waktu…”

Terdengar suara letupan kecil dari dalam kobaran api, disusul patung lembu yang mulai terbakar habis, menghitam dan menampakkan rangka kayu yang terbakar. Kepala patung lembu yang tinggal rangka membara, nampak bergerak, mengangguk-angguk, dan mengeluarkan asap hitam dari mulutnya.

Pupil mata Ava membesar, melihat nyala api yang berkobar-kobar melebar dan semakin membumbung tinggi, juga asap tebal yang berpusar-pusar bersama serpihan debu hitam yang memenuhi langit. Gelap. Sesak. Takut.

Udara panas seperti memiliki nyawa, berhembus kencang, seperti bersuara…

Kamu lupa? Bukannya dulu kamu yang cerita ke aku, siapa itu Ibrahim.

Terdengar letupan dari dalam kobaran api, dan patung Lembu berderak runtuh ke dalam lautan api yang menggelegak, seolah hendak ikut menelan Ava ke dalamnya.

Ibrahim yang mencari Tuhan… Ibrahim yang rela dibakar hidup-hidup…

“Eh, Gus Ava! di Setra jangan bengong!” Pak De mengguncang pundak Ava, menepuk-nepuk pipinya.

Ava mengerjap-ngerjap kaget, gelagapan. “Oh-eh… a-apa… Jik…?”

“Jangan bengong di Kuburan!” Pak De menatap khawatir ke arah Ava yang berkeringat dingin. “Maafin saya… kalau sudah buat kamu bingung… Maklum, saya sudah tua, banyak pikiran…” Pak De menepuk-nepuk punggung Ava. “Santai saja… baru ditanya gitu sudah bingung…” Pak De terkekeh, “nanti kita bicarakan pelan-pelan… sambil pulang.”

“Eng-enggak apa-apa, Jik… saya… mungkin terlalu capek…” Cepat-cepat Ava tersenyum, mengusap keringat yang membasahi wajahnya.

Sepanjang perjalanan pulang itu, Pak De merangkul Ava, seperti seorang ayah merangkul anaknya. Dan sepanjang jalan itu juga Pak De memberitahukan segala rencananya. Tentang Indira, tentang nama baru yang bakal disandang Ava.

Ava menoleh ke belakang, memandangi patung lembu yang tinggal rangka, tinggal abu.

Ni conversus fueris et sicut puer factus
Et vitam mutaveris in meliores actus,
Intrare non poteris regnum Dei beatus.
Ad mortem festinamus peccare desistamus.

If you do not turn back and become like a child,
And change your life for the better,
You will not be able to enter, blessed, the Kingdom of God.
To death we are hastening, let us refrain from sinning.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Sepanjang sore, Ava melukis seperti kesurupan. Pemuda itu terus mengurung diri di dalam studio. Setiap goresan kuas-nya, setiap sapuan warna putih di atas hitam, seperti berusaha mencari jawaban, mencari katarsis atas seribu pertanyaan yang berkecamuk di batinnya.

“Istirahat dulu, Sayang.” Indira berucap lembut, setelah selesai menghaturkan sesaji dan dupa di Pelangkiran, altar kecil di sudut studio.

Ava mencoba tersenyum dari balik wajahnya yang kusut.

Indira berjalan mendekat, memijat pelan pundak Ava.

“Makasih.” Ava mengecup punggung tangan Indira.

Indira tersenyum manis di bawah sinar senja yang menyeruak masuk dari balik jendela. “Saya sembahyang dulu ya, Bli…”

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Dari kejauhan, Ava melihat Indira sedang bersembahyang, menangkupkan tangan di Pura Kecil di pojok rumah. Burung gereja terbang rendah di atas sawah, menimbulkan suara berdengung indah, dan angin sore menghamburkan asap dupa memenuhi paru-paru Ava. Langit senja yang berwarna oranye membuat siluet pohon kamboja menjelma seperti tangan-tangan yang menebarkan taksu, sebuah latar sempurna bagi seorang bidadari yang mengenakan kain dan memuja khusyuk.

Pemuda itu menoleh ke arah lain dan mendapati Sheena sedang berjongkok sambil merokok di bawah pohon durian. Lengannya yang dipenuhi tatoo sibuk menggores buku sketsa. Ada beberapa milisekon, saat pandangan keduanya beradu. Beberapa detik sebelum semua berlalu.

Ava memejam, dirinya terlalu lelah, sudah terlalu…

To Be Continued

Cerita Terpopuler