. Nirwana Part 64 | Kisah Malam

Nirwana Part 64

0
154

Nirwana Part 64

Only love Can Break Your Heart

Lucille memperhatikan lukisan gadis kecil yang sedang menatap langit mendung. Sementara tangan sang pelukis bergerak lincah, memberi sentuhan akhir: sapuan warna kelabu pada awan yang menggelap.

“Homunculus.” Lucille tiba-tiba berceletuk.

“Maksud Tante?” Sheena menyahut tanpa menoleh, sibuk menyapukan kuas ke atas kanvas.

“Kak Gede menyuruh kalian melukis diri kalian, kan?” Lucille berkata, sambil berdiri di samping lukisan yang digambar Kadek -lukisan cat minyak bergambar Kadek sedang mengenakan busana adat.

Sheena mengangguk.

“Beda dengan yang dilukis Kadek, yang kamu lukis itu Homunculus-mu. Manusia kecil dalam otak yang menjadi determinasi sikap kita…”

Homunculus?”

“Homunculus,” Lucille menekankan. “Kasarnya: ada sosok ‘manusia lain’ di dalam otak, di alam bawah sadar kita, yang bisa melihat apa yang kita lihat, dan menentukan apa yang akan kita perbuat… dan… nggak banyak… orang yang bisa melukis seperti itu…” Lucille terdiam.

Ada jeda yang tak kasat mata saat wanita itu tertegun memandangi lukisan Sheena, hingga perlahan tengkuknya mulai dirambati perasaan merinding yang tidak bisa dijelaskan.

“… biasanya, cuma orang yang pernah mengalami N.D.E.… yang bisa…”

Gerakan kuas Sheena mendadak terhenti, ia menoleh ke arah Lucille yang menatapnya tajam. “S-saya.. ng-nggak paham…”

Lucille mendekat, mengusap bahu dan lengan Sheena yang dipenuhi tato.

“N.D.E. Near Death Experience…” bisik Lucille tertahan, “Ketakutan, harapan yang tidak terkabulkan… mimpi yang pernah hancur, rasa bersalah yang mendalam…“

Sheena menunduk, tak mampu menatap Lucille yang seperti mampu menembus ke dalam alam bawah sadarnya.

“Kita mungkin bisa melupakan… namun rasa takut itu akan senantiasa hidup, jauh di dalam hati kita… semua itu mendekam di bawah sadar kita dan mempengaruhi tindakan nyata kita tanpa disadari…”

Kembali ada jeda kosong yang tak wajar di antara keduanya.

“Kita semua pernah kehilangan…” desis Sheena.

“Berkali-kali kehilangan…” tambah Lucille, pedih.

When you were young and on your own
How did it feel to be alone?

I was always thinking of games that I was playing
Trying to make the best of my time…

= = = = = = = = = = = = = = =

Fragmen 63
Only Love Can Break Your Heart

Ava memandangi kanvas kosong di depannya. Lama, pemuda itu memandangi hamparan putih yang belum terisi. Haruskah aku melukis wajahnya?

Malam sudah semakin larut, namun pemuda itu terus saja termanggu, duduk di sofa panjang di Studio Lukis, membiarkan kanvasnya hanya diisi warna putih.

”Ih, nyebelin… lama-lama kamu mirip kayak Ajik, terus aja lukisan yang dipikirin.” Indira melengos, menggembungkan kedua pipinya.

“Oh- eh.. a-apa?”

Indira sontak memberengut. “Tuh, kan! Orang ngomong nggak didengerin!”

Ava mencubit pipi Indira, “Iya… iya… maap Indira jegeeeg…”

Indira kembali termanyun lucu. Anak itu merebahkan kepalanya di pangkuan Ava, membiarkan pemuda itu mengusap-usap poninya. Lama. Hingga akhirnya Indira berkata, “Ava… Mbok Sari dan Bli Kadek beruntung, ya…”

Lama tak terdengar jawaban.

“Ava… iih!” rengek Indira lagi.

“Iya… beruntung…” desis Ava setengah hati.

“Aku kapan dilamar? Hehe…”

Ava tersenyum kecut, menghirup secangkir kopi, sebelum kembali memandangi hamparan kanvas kosong dengan hampa.

“Ih, ditanya gitu aja langsung bingung, santai aja, kali… aku juga belum lulus kuliah.”

Lagi-lagi Ava tidak menjawab, lidahnya terasa pahit, entah karena kopi ataukah karena pertanyaan indira yang seolah menohok tepat di saraf-saraf pengecapnya.

“Ava… atau… jangan-jangan… kamu mulai ragu, ya…” Indira merunduk, meremas-remas kaus Tie Dye warna-warninya.

Ava tak langsung menjawab. Pemuda itu menarik nafas panjang sambil melirik lukisan Kadek di pojokan, lukisan pemuda gagah yang mengenakan pakaian adat Bali dengan beras putih menempel di dahi, dan kali ini Ava mencoba membayangkan dirinya berada dalam busana yang sama. Sanggupkah ia?

“Nggak… aku… nggak…” Kepalanya makin penat, Ava merebahkan diri di sofa panjang, Indira beringsut ke sebelahnya.

“Nggak apa… bilang aja… kalau kamu masih ragu… daripada….” aku berharap terlalu banyak.

“Aku… nggak ragu…” Ava tersenyum, mengusap-usap wajah Indira yang menempel di dadanya.

Indira membenamkan tubuhnya semakin dalam ke tubuh Ava, menghirupi aroma tubuh kekasihnya, memeluk Ava erat-erat.

But only love can break your heart
Try to be sure right from the start…

Yes, only love can break your heart
What if your world should fall apart?

“Ava… Jangan tinggalin aku, ya…“

“K-kenapa ngomong gitu?” Ava tersentak, cepat-cepat memasang senyum kaku di wajahnya.

“Aku merasa… kamu.. Ajik… orang-orang… bakal pergi jauh…” Seperti Dewa dulu, seperti Mama, seperti Kak Raka…

“S-siapa b-bilang? Aku nggak…” aku nggak tahu… “A-aku ng-nggak bakal pergi, kok!” Ava berkata, tanpa melepas dekapannya dari tubuh Indira.

“Bener?”

“Iya…”

“Janji?” Indira menatap, penuh harap.

“Hu-uh.” Ava mengangguk, mencoba berkata mantap.

“Buktinya?”

Ava mengecup kening Indira, mengusap-usap poninya.

“Hehehe…” Indira mengekeh lucu, mempererat pelukannya ke tubuh Ava. “Ava…”

“Apa?”

“Enak ya, dipeluk Ava…”

Ava mengecup kening Indira, gadis itu terkikik. “Lagi.”

Ava mengecup kelopak mata Indira yang menutup, gadis itu tersenyum lucu dan melingkarkan lengannya di leher Ava. “Lagiii…”

Ava mencium pipi Indira yang menyembul menggemaskan, hingga gadis itu terkikik-kikik lucu.

“Ava…” bisik Indira.

“Ya?”

“Aku sayang kamu.” Indira berucap, dan Ava hanya mampu menatap sepasang mata yang berbinar-binar.”Aku nggak tahu… tahu-tahu aja aku cintaaa sekali sama kamu, nggak tahu kenapa… hehe…” Indira mengekeh jenaka, “aku suka Ava yang brewok, berbulu lebat kaya beruang, Ava yang aneh… Ava yang lucu… aku nyaman sama Ava yang ini…. aku-”

Indira tak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tahu-tahu saja bibir Ava sudah menempel di bibirnya. Indira membeliak, sedikit terkejut dengan pagutan yang mendarat tiba-tiba, sebelum akhirnya gadis itu ikut memejam, menyambut ciuman Ava yang memagut lembut… pelan… menghanyutkan…

But only love can break your heart
What if your world should fall apart?

Yes, only love can break your heart,
Try to be sure right from the start…

Lampu Studio mendadak padam, dan Sheena bisa melihatnya dari kejauhan. Tanpa perlu mendekat ia sudah tahu siapa yang ada di situ, yang berduaan semenjak petang tadi -tanpa mampu ia dekati.

Cewek berambut pendek itu mengambil sebatang rokok, menyulut api sambil tersenyum getir, teringat percakapannya tadi sore dengan Lucille.

percakapan dengan Lucille sore tadi:

“Besok saya pulang ke Denpasar.”

“Lho, kok tiba-tiba balik? saya pikir Tante dan Ajik udah…”

Lucille menggeleng lemah, “Kalau saya masuk ke dalam hidupnya Kak Gede, saya cuma akan jadi bayang-bayangnya Kak Julia. Yang dia cintai bukan saya, tapi orang yang mirip kak Julia.”

Kata-kata itu membekas di dada Sheena. Mendadak ia merasa bersalah kepada Ava. Sheena tersenyum pahit, memandangi redup bara rokoknya, sebelum menoleh ke arah kegelapan malam. Tato di lengan kirinya berdenyut-denyut. Ada sesuatu yang sedang beresonansi, mencoba berkomunikasi dari sisi yang satunya. Sang Pengukir Perih memang belum menyadari, tapi sedikit demi sedikit, zaman tak terpetakan dalam lorong-lorong ingatannya mulai terbuka…

= = = = = = = = = = = = = = =​

Dalam kehelapan ruang studio yang remang, sepasang tubuh itu saling belai mesra.

“Ava… Ava… beraaat… hihihi…” Indira terkikik-kikik, memukul-mukul pundak Ava ketika dihimpit sambil terus diciumi. “Ava…” Indira berbisik, “kamu ingat? Di sini kita pertama kali…”

Ava terkekeh, “Teganya kau renggut perjakaku….”

“Huu, perjaka apaan.” Indira tersenyum, melingkarkan tangannya di leher Ava, menatap kekasihnya lekat-lekat. “Inget nggak Va, dulunya kamu tuh nyebelin banget, tahu!”

“Sama. Kamu tuh dulu judes banget.”

Indira terkikik lucu. “Nggak nyangka ya, kita… sekarang…” Kalimatnya tak selesai. Senyum indah keburu melebar ketika keningnya dikecup.

Dalam keheningan malam, kenangan keduanya bergulir tanpa bisa ditahan lagi. Ketika Ava dahulu mengganggu Indira. Indira tersenyum teringat lelucon-lelucon bodoh sang pemuda. Atau ketika Ava dengan setia mendengar keluh-kesahnya dahulu. Dan kini, di hadapan mata yang menatapnya teduh, Indira kehilangan jati diri dan segala adieksistensinya. Dibiarkannya pipinya dikecup lembut, dan bibir ranumnya dipagut penuh kasih. Hanya untuk malam ini barang kali, tubuh sang bidadari binal kehilangan kemampuannya untuk bergerak. Malam ini Indira seolah kembali menjadi gadis kecil yang menyerahkan keperawanannya untuk kali pertama.

“Ava… aku sayang kamu…” bisik Indira lirih, ketika keduanya menyatu dalam satu tubuh. Indira merasakannya lagi. Sensasi keterpisahan dan pertemuan kembali. Sepasang ruh yang dahulu terpisah jasad, dan saling berjanji untuk saling menemukan ketika terlahir ke dunia….

Dan Indira hanya bisa berdoa, semoga saja kali ini ia tidak mengharap terlalu banyak….

But only love can break your heart
What if your world should fall apart?

Yes, only love can break your heart,
Try to be sure right from the start…

 

= = = = = = = = = = = = = = =​

Malam itu Indira tidur di dalam gazebo Ava. Embun malam turun bersama kabut yang mengendap dari lereng Gunung Batur, mendinginkan udara yang tadinya membara oleh gairah. Kali ini birahi harus rela susut menjadi bara cinta yang menyala hangat di antara sepasang tubuh telanjang yang kini saling memeluk. Lengan Ava melingkar di perut Indira, memeluk erat kekasihnya. Puncak kenikmatan keduanya menyisakan bulir-bulir keringat dan rona-rona merah di wajah Indira yang tak juga berhenti tersenyum dalam tidurnya.

Di dalam mimpinya, Indira bersanding dengan Ava yang mengenakan busana adat bali, diberkati oleh pendeta dengan denting lonceng dan mantra…

Di dalam mimpinya, Indira yang hamil tua diantar Ava ke dokter kandungan, digandeng mesra di bawah bunga-bunga… Sebelum kemudian kerepotan mengurus sepasang anak lelaki kembar bandel, yang mengotori baju mereka dengan cat minyak saat belajar melukis bersama sang suami tercinta…

Dan Ava tak punya hati untuk menatap Indira yang tersenyum-senyum sendiri di dalam mimpinya. Pemuda itu melangkah gontai, menuruni tangga kayu, duduk di bale-bale di bawah gazebonya.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Dalam keheningan, ia menatap ke langit yang diseraki oleh milyaran bintang. Tuhan. Apa yang kira-kira akan dikatakan-Nya? batin Ava mencoba berkata kepada Dia Yang Maha Mendengar. Namun hanya desau angin yang terdengar sebagai jawaban.

Dalam dingin malam Ava menyalakan sebatang rokok, menghirup asapnya dalam-dalam, hingga pundaknya tiba-tiba ditepuk dari belakang.

“Hei.”

“Oh, h-hai.” Ava menoleh, menghembuskan asap ke asal suara.

“Galau amat…”

Ava tersenyum pahit, memandangi redup bara rokoknya. “Kayanya aku cuma ngasih harapan palsu sama Indira.”

“Harapan palsu? Siapa yang memberikan harapan palsu kalau diam-diam kamu juga mengharap yang sama kaya Indira…”

“A-apaan, sih!” Ava segera memalingkan wajahnya yang bersemu.

“Lagian, harusnya kamu tahu kalau kamu nggak bakal bisa bohong sama aku. Aku yang paling tahu isi hatimu.”

Senyum kecil melengkung di bibir Ava. Pemuda itu lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil mengekeh malu-malu.

“Tapi dengan segala perbedaan iman ini. Is it worth

“Apa sih iman itu?” Lawan bicaranya bertanya retoris. “Iman itu adalah percaya dengan sepenuh hati pada sesuatu yang bahkan nggak kamu lihat dengan mata kepala sendiri. Perang Baratayudha. Pengusiran Adam dari Paradiso. Sampai kapanpun yang tertulis dalam kitab suci nggak bakal bisa masuk dalam logika empiris yang dibatasi dengan dinding-dinding indriawi. Meski begitu, nggak sedikit orang orang-orang percaya dengan sepenuh hati dua kejadian itu benar-benar terjadi di masa lalu. Devosi. Penyerahan total terhadap substansi yang berada di zona potensi dan probabilitas. Dan itu yang kita bangga-banggakan sebagai keimanan.”

“Dan sekarang kamu mau bilang kalau Tuhan itu nggak ada?”

“Siapa bilang Tuhan nggak ada? Tuhan itu ada. Meski manusia tak pernah bersepakat untuk memanggil-Nya dengan satu nama.”

“Ngapain kita jadi ngomongin filsafat, sih! Dari dulu memang selalu ribet ngomong sama kamu!” Ava berkata gemas, menghembuskan asap dengan hampa ke udara. “Mungkin seharusnya aku nggak ke sini… mungkin seharusnya aku nggak jadi pelukis… mungkin sebaiknya aku meneruskan usaha cuci cetak foto punya Bapak di Kroya…”

“C’mon, mana Ava yang optimis yang kukenal selama ini? Ava yang bermimpi jadi Affandi, Ava yang bercita-cita menjadi pelukis hebat!”

Ava tercengir kecut, “aku nggak se-optimis kamu, tahu! bahkan mengambil keputusan saja aku nggak punya nyali…”

“Hei.. Hey!” lawan bicaranya menepuk-nepuk pipi Ava. “Masalahnya apa, sih? Itu karena yang sekarang kamu lihat cuma satu sisi… sedang untuk memahami siapa kamu sebenarnya, kamu harus menyelami, melihat kedua sisi cermin kehidupan. Nggak cuma sebelah!”

Ava terhenyak karena tangannya mendadak diraih, dan ia ditarik memasuki kanvas yang tiba-tiba membentang membungkus dunianya.

Untuk sementara hanyalah pekat hitam sejauh mata memandang, sebelum perlahan jutaan garis putih meluruh dari segala arah, membentuk garis dan kurva, kemudian kurva membentuk bidang, dan bidang membentuk ruang… Perlahan ruang berkomposisi menjadi semesta, langit, awan, hujan, dan bangunan-bangunan tua… lalu beragam titik-titik kecil menjelma menjadi manusia-manusia…

“See? Kalau kamu menyeberang dari sisi koin yang satunya, barulah kamu akan bisa memahami siapa dirimu… memahami ke mana kamu harus menuju…”

“Lho, eh? I-ini… mimpi… kan?” Ava mengerjap-ngerjap tidak percaya.

“Bukankah itu kamu? The Dream Painter, Pelukis Mimpi.”

“Lalu, kamu sendiri?”

I have a friend I’ve never seen
He hides his head inside a dream

“Aku? aku sudah nggak penting lagi, kan? sekarang yang penting ‘siapa kamu’.”

“A-aku? Aku Ava.” Dan cepat-cepat Ava menambahkan, “Mustava Ibrahim.”

“Nah, apa kamu lupa? Bukannya dulu kamu yang cerita ke aku, siapa itu Ibrahim? Sang Pencari Tuhan. The Godseeker.”

Sebelum Ava sempat mengenali, lawan bicaranya keburu memendar bersama mimpi yang runtuh menjadi serpih-serpih ingatan.

To Be Continude

Cerita Terpopuler