. Nirwana Part 63 | Kisah Malam

Nirwana Part 63

0
153

Nirwana Part 63

Over The Rainbow

Ava berbaring di bale-bale kayu, memandangi hiasan kupu-kupu yang bergoyang pelan. Hujan yang turun sepanjang malam masih menetes enggan, menitik satu-satu dari atap bambu. Sang pelukis muda menarik nafas, kemudian dihembuskannya malas, sementara kanvas yang teronggok di dekat situ tidak disentuhnya sedari tadi, dibiarkan putih bersih, tak terisi.

Ada yang berbeda dari sesi latihan di hari minggu pagi ini, di mana mendung seperti ikut meliputi hati seisi penghuni Villa. Ava, Lucille, Sheena, dan Pak De, mendadak semua seperti dirudung mendung yang tak jelas muasalnya.

Terutama Sang Maestro, semangat Pak De yang biasanya berapi-api itu mendadak memadam, Lelaki tua itu hanya memberikan instruksi ala kadar: memerintahkan Kadek, Ava, dan Sheena melukis ‘wajah sendiri’.

“Tadi pagi hujannya deras, ya…” Indira berkata, setengah menyindir, duduk di samping kepala Ava.

Ava tersenyum kecut, menyadari perkataan itu ditujukan untuk dirinya.

“Sebenarnya ada apa, sih?”

“Ng-nggak… nggak ada apa-apa…” cepat-cepat Ava tersenyum. Namun Indira tahu, senyum itu hampa, seperti langit yang kehilangan warna. Mendung.

“Nggak cuma kamu. Ajik, Kak Na, Tante Lulu… ada apa, sih sebenarnya?”

Ava tidak menjawab, menghela nafas dan kembali memandangi kanvas kosong. “Enggak apa-apa kok… cuma… yah… ng-nggak dapet ide… hehehe…” Ava berkata, setengah berbohong.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Aku bukan bayang-bayang…

Lucille memandangi wajahnya yang memantul diatas permukaan teh. Uap panas mengepul, menerpa wajahnya yang sendu. Jemarinya yang lentik bergerak pelan mengaduk campuran teh chamomille dan madu, merenung lama di teras.

Dada Lucille terasa panas mengingat kejadian malam tadi, bagaimana perasaannya diterbangkan ke awang-awang oleh Pak De, sebelum dijatuhkan dengan hina ke dasar bumi. Siapa yang bisa tahan dicintai hanya karena mirip seseorang? Batin Lucille terdengar memeberontak.

Pakaiannya sudah dikemas, dan seharusnya kapan saja ia bisa meninggalkan kediaman Pak De. Selain Indira, sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di sini.

Lucille sungguh tidak ingin anak itu menangis lagi. Berkali-kali Lucille menarik nafas panjang, mencari penguatan, memandangi Indira dan Ava dari kejauhan, di mana gadis cantik itu dengan sabar membelai rambut Ava.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Nggak apa, kalau belum mau cerita…” Indira berkata pelan, mengusap-usap rambut kekasihnya. “tapi… Ava sayang, inget nggak? Dulu, waktu aku dulu sedih, kamu selalu ada buat aku…”

Ava mencoba tersenyum, membiarkan rintik hujan mengisi keheningan di antaranya.

“Kamu yang selalu bilang semuanya akan jadi lebih baik… dan…” Indira menarik nafas, “nggak ada hujan yang nggak reda.” Indira membelai rambut Ava yang berbaring di pangkuannya.

Hati Ava mendadak perih, entah karena mendengar kata hujan, ataukah karena usapan lembut Indira yang membelai pelan, tulus.

Tidak langit, tidak juga hujan yang perlahan mereda, yang bisa menahan Ava untuk tidak memeluk Indira. Gadis itu hanya tersenyum, mengusap-usap rambut Ava yang meringkuk seperti bayi raksasa.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Beh, kene be… seniman sing produktip… mecekle gen gaene…[SUP](1)[/SUP]” Kadek tahu-tahu muncul dari dalam Studio, menggeleng-geleng gemas melihat kanvas Ava yang masih kosong.

Kadek duduk di samping Ava, tangannya belepotan cat sengaja diusapnya ke baju Ava.

Ava tercengir kecut, “engkenang men… tusing maan wangsit…[SUP](2)[/SUP]”

(1) Gini dah, seniman nggak produktif… pacaran saja kerjaannya…
(2) Mau gimana lagi, nggak dapat inspirasi…

Indira terkikik kecil, mendengar Ava berbicara dengan Bahasa Bali.

“Nah, daripada bengong lan galau… mai milu manjus ajak Luh Sari… suba mekelo raga sing ngenah, ne![SUP](3)[/SUP]”

(3) Ayo ikut mandi, sama Luh Sari juga… sudah lama saya nggak muncul, nih!

 

Fragmen 62
Over The Rainbow

Somewhere over the rainbow
Way up high,
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby.

Tak lama kemudian, yang terlihat hanyalah Sawah yang mulai bersemi nampak membentang sepanjang mata memandang, membentuk undak-undakan yang berkilau keemasan.

Dua sepeda kumbang itu bergerak terburu di antaranya, terhuyung di jalan tanah yang basah setelah hujan sepanjang hari. Gerimis masih berderai turun, menyisakan beberapa helai rintik tipis dari balik langit senja yang berwarna jingga. Beberapa kali mereka berpapasan dengan petani, juga turis yang asyik trekking di sore hari dengan sepeda.

Indira berpegang erat di pinggang Ava, yang tengah kesulitan mengendalikan sepeda tua milik Pak De. Sepeda kumbang itu berderak kencang dan berguncang-guncang, menuruni jalan menurun yang dipenuhi bebatuan.

“Kadek, tunggu!” Ava berseru pada Kadek dan Luh Sari yang berboncengan di depannya.

Kadek terbahak dan tak mau menunggu, sepedanya membelok tajam di jalan yang ditumbuhi semak perdu.

Ava terengah kelelahan saat mereka sampai di ujung jalan.

“Beh, enduk gati…[SUP](4)[/SUP]” Ledek Kadek jahil, sambil memarkir sepedanya di bawah pohon pisang.

(4) Wah, Payah sekali…

Ava nyengir, terkekeh-kekeh pahit. Nafasnya yang memburu tak mengizinkannya membalas ledekan Kadek.

“Bli Kadek ni! Udah mending dia mau ikut… dari pada galau terus.” Indira berkata, menggamit lengan Ava, menuruni undakan batu di antara rerimbun daun pisang dan pepaya.

Indira lega, kekasihnya kembali tersenyum setelah seharian ini murung, seperti mendung yang memayungi langit Ubud semenjak pagi, tapi sore ini perlahan semua kembali cerah, seperti langit yang memancarkan rona jingga ke wajah Ava.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Dira! Sini!” Luh Sari berucap riang, melambai ke arah Indira sambil berdiri di antara hamparan air yang merona jingga, memantulkan panorama langit senja.

Indira menyusul, membaur bersama kerumunan ibu-ibu yang mencuci dengan menggunakan kemben.

Ada sebuah bendungan kecil yang membendung aliran sungai, mengalirkannya menuju saluran irigasi yang mengairi persawahan di desa itu. Beberapa warga dengan berbagai bentuk dan ukuran tubuh nampak mandi dan mencuci di situ. Sementara perahu-perahu karet berisi wisatawan menyusuri arus sungai tak jauh dari mereka.

Tahun 2012, semakin sedikit warga yang mandi di tempat terbuka. Pencemaran sungai dan rasa malu adalah alasan terbesarnya. Seperti Adam yang memakan buah pengetahuan dan merasa jengah dengan ketelanjangannya, beberapa penduduk desa, terutama yang berusia muda menyisakan kemben, atau celana pendek dan kaus ketat, berendam di air jernih yang mengalir dari pegunungan.

“Lama ndak manjus bareng..” Luh Sari berkata, sembari membuka kancing kemejanya, perlahan payudara montok yang berwarna sawo matang menyembul keluar dari atas cup BH. Indira menyusul, meloloskan daster longgarnya, hingga tubuhnya yang ranum dan tertutup pakaian dalam mini tersingkap.

Beberapa gadis desa terkesiap melihat warna kulit Indira yang demikian berbeda, terlebih lagi saat Indira melepas penutup dadanya. Sepasang payudaranya yang ranum ditutupinya dengan tangan, namun saat melepas celana dalamnya, puting Indira yang berwarna merah hati itu mengintip juga.

Sedikit terpana, wajah Luh Sari perlahan memerah melihat sepasang puting Indira yang mungil dan berwarna merah hati.

Indira sedikit rikuh diperhatikan seperti itu, ia duduk di samping Luh Sari, bersimpuh, dan melipat tangan di depan dadanya.

Tempat mandi laki-laki dan perempuan terpisah jauh. Indira melirik Ava dan Kadek yang membasuh tubuh di bawah guyuran air bendungan yang bergemericik turun. Bulir-bulir air mengalir menuruni punggung Ava yang bidang, juga pantat Kadek yang kekar.

“Bli Ava kenapa… kok nggak seperti biasanya… lagi berantem, ya?“

Indira nyengir, menggeleng sambil membasuh tubuhnya. Indira mengalirkan air ke atas pundak Luh sari, hingga butir-butir bening tersebut mengalir di atas payudara Luh Sari yang menggantung indah.

“Jangan kebanyakan berantem, biar cepet menyusul.”

“Menyusul apa?”

“Lho. Bli Kadek belum ngasih tahu?” Luh Sari berkata, sambil mengusap-usap pundak Indira dengan sabun.

Indira menggeleng.

“Saya kemaren malam diminta sama keluarganya Bli Kadek,” Luh Sari berkata malu-malu.

Indira terhenyak, setengah tidak percaya, “seken to, Mbok? (5)”

(5) Beneran itu, Kak?

catatan: “Mbok” dalam Bahasa Bali berarti “Kak” atau “Mbak” untuk menyebut perempuan yang lebih tua, seperti halnya “Bli” untuk menyebut lelaki yang lebih Tua. Mbok di sini berbeda dengan “Mbok” pada bahasa Jawa yang berarti “Ibu”​

Luh Sari mengangguk, sedikit tersipu. “Tapi upacara resmi-nya bulan depan.”

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Hah, katanya masih bulan depan?” Ava membelalak, ketika kadek mengatakan hal yang sama.

“Upacara resminya memang… Nggak tahu, memang sedikit mendadak.” Kadek terkekeh-kekeh, “kamu kapan menyusul, Va”

Ava menelan ludah, “Jangan bilang Luh Sari hamil.”

Kadek tergelak menjitak Ava. “Terus kamu…”

“Aku masih belum siap, Dek…”

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Kamu gimana, Gek?” Luh Sari berkata, lagi.

“Eng-enggak tahu…” Indira menelan ludah. “Saya cuma bisa menunggu, Mbok…”

Indira tidak tahu, tapi dirinya hanya bisa menunggu dan berharap. Mungkin di atas langit sana ada dunia dimana semua mimpi-mimpinya bisa menjadi nyata.

Somewhere over the rainbow
Skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

Someday I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far
Behind me.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Bendungan semakin sepi, hingga tinggal mereka berempat, perlahan 2 pasang kekasih ini pun semakin mendekat, merapat. Indira mendekatkan duduknya ke arah Ava, memandangi Luh Sari dan Kadek yang sudah berpakaian, saling bercanda di kejauhan sambil mengeringkan rambut.

Gerimis masih berderai turun, menyisakan beberapa helai rintik tipis dari balik langit senja yang berwarna jingga dan lengkungan raksasa yang membentang berwarna-warni.

“Cantik, ya…” Indira bergumam, menatap takjub ke arah lengkungan warna-warni di langit senja. Ava tak lagi bisa berkata-kata, senyuman manis Indira di bawah sinar jingga matahari, dan pelangi yang melengkung di atas kepalanya lebih indah dari segala lukisan di dunia.

“Kayak kamu.”

“Gombal!” Indira terkikik, menyemprot wajah Ava dengan air.

“… tapi ironis…” Ava berucap.

Indira mengusap wajah Ava yang basah kuyup, “kenapa?”

“Pelangi itu aslinya sinar matahari yang tadinya putih, memendar jadi 7 spektrum warna dasar… mereka jadi berbeda-beda… dan nggak bisa lagi bersatu…” Seperti kita.

Indira berusaha mencerna maksud Ava, memaknai setiap kata di dalamnya. Lama ia memandangi lengkungan warna-warni yang melengkung indah. “tapi karena berbeda, mereka jadi lebih indah, kan?” Seperti kita.

Ava tersenyum kecil, merangkul Indira yang membenamkan tubuh dalam pelukannya.

Di langit spektrum cahaya membentuk garis melengkung dalam gradasi yang menakjubkan, disusul sekawanan burung gereja yang terbang rendah di seolah melintas di atas pelangi.

“Aku ingin jadi Pelangi,” Tiba-tiba Indira berkata, dan tak sempat Ava menyahut, gadis itu keburu mengecup pipinya.

Aku akan menjadi Pelangi yang mewarnai langit…
Setia, menunggu hujan reda…

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly.
Birds fly over the rainbow.
Why then, oh why can’t I?

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can’t I?

 

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Sementara itu…

“Lho, kamu nggak ikut Kadek dan yang lainnya ke sungai?”

Lucille yang tiba-tiba muncul di studio, mengejutkan Sheena yang memojok sendirian, menyelesaikan lukisannya.

Sheena tersenyum kecil, menggeleng kalem, sebelum kembali menggoreskan kuas ke atas kanvas.

Lucille melangkah mendekat, hanya untuk terpana melihat lukisan Sang Prodigy. “I-ini lukisan a-apa?”

“Diri saya… ”

Redemption…

“Kamu… berbakat… seperti… Ava…” sekali lagi, Lucille terpana.

Gerakan kuas Sheena mendadak berhenti ketika nama itu disebut. Sekilas, Lucille memperhatikan perubahan raut Sheena yang berubah mendung ketika mendengar nama Ava.

“Kalau melihat kamu dan Ava… saya seperti sedang berkaca…” Lucille berkata, duduk di sebelah Sheena.

Sheena tidak menjawab, dan kembali melukis. Ada hening yang seketika menyergap, sebelum akhirnya dua perempuan itu mulai membuka diri.

Tanpa disadari, keduanya saling bertutur, bercerita…

Tentang orang-orang yang tersisih.

Tentang mereka yang tak dipilih.

Tentang mencintai bayang-bayang…

To Be Continude

Cerita Terpopuler