. Nirwana Part 62 | Kisah Malam

Nirwana Part 62

0
149

Nirwana Part 62

Just The Way You Are

“Don’t go… don’t go... eh… salah… don’t go… eh, salah lagi.” Ava menggaruk-garuk kepala, bingung.

Sudah sejak 30 menit yang lalu Ava mencoba memainkan salah satu lagu di Majalah Kord milik Kadek, namun sepertinya Kord atau kunci gitar yang mengiringi lagu tersebut terlalu sulit untuk dirinya. Berkali-kali Ava kesulitan menempatkan jari-jarinya di fret gitar bolong murahan itu, dan yang terdengar hanyalah suara fals, sember.

Sheena yang duduk di bale-bale tersenyum kecil melihat Ava yang seperti orang bego. “Ava, weton mu apa?” Sheena membuka suara.

“Selasa Pahing, memangnya kenapa?”

“Kamu nggak cocok jadi gitaris, cocoknya jadi pelukis,” ucap Sheena lempeng.

“Kampret! Kuncinya susah, tahu!” Ava melotot tidak terima.

Sheena terkikik kecil. “Emang apa kuncinya?”

“Bm6, G7+.” Ava memberengut, “ente bisa, Na?”

“Bm6, itu telunjuknya di senar tiga, fret pertama, trus yang jari tengah di B senar lima, nah, yang jari manis di sini,” Sheena membantu Ava meletakkan jari manisnya menekan nada G di senar pertama.

Jreenggg…

“Kok masih fals?” Ava mengernyit bego.

“Senar enamnya nggak usah di genjreng!”

“Susah Ah, ini G7+ gimana lagi! aduuuh…”

“Mana, sini!” cewek tomboy itu beringsut mendekat ke sebelah kiri Ava, hingga bisa leluasa memegang neck gitar dengan tangan kirinya yang dipenuhi tato.

Sheena dan Ava duduk bersisian di bale kayu di bawah Gazebo, Sheena memegang Kord dengan jari-jari kirinya, sedang Ava duduk rapat di sebelah kanannya, memangku body gitar sambil sesekali melirik ke arah perempuan berambut pendek di sebelahnya.

“Sekarang coba genjreng.”

“Eh, mau!” Ava membeliak girang saat gitarnya akhirnya bersuara merdu.

Sheena mengekeh, setengah bangga. “Lanjutannya apa?”

“Noh!” Ava menunjuk majalah Kord gitar, “Ente bisa, Na?”

“Gampang, Gan! Lanjut!”

Ava membunyikan gitar, dan Sheena memegang kunci. Berdua mereka bernyanyi, memenuhi udara malam Ubud dengan suara mereka -yang satu merdu, yang satu sumbang, namun itu semua membuat malam itu nampak sederhana, apa adanya.

“Sember.”

“Biar.”

“Lanjut…”

“Dont go changing, to try and please me… Tarik, gan!”

Don’t go changing, to try and please me
You never let me down before…

Don’t imagine you’re too familiar
And I don’t see you anymore…

 

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Sementara itu, di dalam ruang kerja Pak De yang remang-remang. Sepasang tubuh telanjang saling berpelukan dengan tubuh lengket dipenuhi keringat sisa-sisa percintaan yang menggebu beberapa saat sebelumnya.

Lucille tergolek manja di dada Pak De yang dipenuhi bulu. Wanita itu tersenyum lucu, mencubit-cubit gemas perut Pak De yang membuncit.

Pak De terkekeh, “Beginilah, saya sudah nggak seperti dulu lagi. Saya sudah gendut, sakit-sakitan… uhuk.. uhuk… ” Laki-Laki tua itu terbatuk beberapa kali.

Lucille mengusap dada Pak De, dan seketika itu juga dada Sang Maestro diliputi oleh energi hangat yang nyaman.

“Saya nggak peduli Kak Gede sekarang seperti apa, saya nggak peduli Kak Gede gendut atau tua… Saya akan selalu ada buat Kak Gede..” Lucille tersenyum tulus, mengecup pipi Pak De yang dipenuhi jambang dan rambut halus.

I wouldn’t leave you in times of trouble
We never could have come this far …

I took the good times, I’ll take the bad times
I’ll take you just the way you are…

 

Fragmen 61
Just The Way You Are

Don’t go trying some new fashion
Don’t change the color of your hair
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care

Diam-diam Ava melirik wajah Sheena yang dipenuhi lebam biru bekas dipukuli tempo hari, miris. Wajah keras itu sungguh kalah jauh dibanding Indira. Namun, kini Ava membatin: apakah Sheena tidak boleh mendapatkan akhir bahagia?

Sheena mulai salah tingkah saat menyadari Ava diam-diam meliriknya. Perlahan tubuh Ava yang menempel di sampingnya terasa makin panas. Namun cewek tomboi itu hanya bisa bernyanyi, hingga lagu mereka mengalun sayup-sayup sampai kamar kerja Pak De….

Jangkrik berderik mengiringi, angin malam berhembus memayungi, dan sepasang jantung itu semakin berdegupan…

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Lucille memandangi tubuh gemuk yang telanjang dan dipenuhi bulu dengan perasaan berdebar. Tubuh itu sungguh jauh berbeda dengan tubuh tegap-kekar yang dulu merenggut kegadisannya, namun senyum dan tatapan mata yang tersembunyi di balik kumis dan jambang yang memutih itu masih tetap seperti dahulu, hingga membuat dirinya yang masih remaja begitu tergila-gila pada pelukis urakan dari sebuah negara tropis.

Lucille membenamkan dirinya dalam pelukan Pak De, menciumi aroma keringat Pak De. Aroma feromon yang membiusnya perlahan membuat Lucille kembali dijangkiti gairah, namun kali ini diwarnai dengan percik-percikan asmara.

“Kak…” Lucille mendesah manja, sebelum menciumi leher dan pipi Pak De.

“Mmh…” Pak De mendengus, menyambut ciuman Lucille dengan bibirnya. Dipagutnya bibir Lucille yang sensual dan lembut itu sambil mengusap wajah Lucille yang sayu.

Lucille membiarkan bibirnya dikecup dan lidahnya kembali dihisap oleh Pak De. Dijulurkannya lidahnya, hingga saling membelit dan membelai di dalam sana, “Mmmh… mmmh… hhh… hh…” dan yang terdengar kemudian hanyalah suara lenguhan dan nafas yang memburu.

Tangan Pak De yang kini bergerak membelai sekujur tubuh Lucille, membuat suara desahan sensual terdengar dari sela-sela bibir yang saling melumat.

Lucille mengerang lemah. Pak De membelai payudaranya, memainkan puting-putingnya yang menegang, membuatnya semakin menggelinjang gelisah, dan kewanitaannya semakin basah.

Pak De dan Lucille saling tatap dengan nafas memburu, tak sampai berapa saat sebelum Pak De menyergap leher Lucille, membenamkan wajahnya yang dipenuhi brewok ke leher Lucille yang jenjang. Dihisapnya kulit halus itu, dan direngkuhnya tubuh molek indah ke dalam tubuhnya yang gemuk berisi, hingga sepasang tubuh telanjang yang berselemak keringat itu seperti menempel erat.

Penuh hasrat, Lucille menggesek-gesekkan selangkangannya yang gatal ke atas paha Pak De yang berbulu. Wanita yang tengah dibakar birahi itu membalas menciumi leher Pak De yang dibasahi keringat, dicecapnya rasa asin kulit Pak De yang tak lagi kencang, dan digigitnya pelan, hingga perlahan nafas Pak De semakin berat dan memburu.

Lucille menciumi sekujur tubuh Pak De, hidungnya yang mancung, serta bibirnya yang sensual bergerak lincah, melumat-menjilat setiap sudut tubuh Pak De. Setiap gigitan kecil yang didaratkan Lucille, membuat Pak De mengerang pelan dan menjambak rambut Lucille yang diikat dan digulung.

“Gek… kamu… oooh…” Pak menggeliat kegelian, Lucille menggigiti perut bawahnya, dan terus turun kebawah, sampai… “Aaaaah….” Pak De menjerit tertahan, Lucille kini menciumi kejantanan Pak De yang layu. Segera ia melirik ke bawah, dan didapatinya Lucille sedang sibuk mengulum buah zakarnya.

Setiap kecupan, dan jilatan yang mendarat di kejantanan Pak De, seperti membuka simpul-simpul saraf yang mengendur. Perlahan batangan yang terkulai lemas itu mulai membesar, namun tak sampai berdiri tegak.

Dengan gemas Lucille menciumi kejantanan Pak De, menempelkannya di pipinya yang menyembul. Lucille menjilati sekujur batang Pak De, dari ujung hingga pangkal, naik-turun cepat dengan sepasang bibir hangat yang ikut memijat sekujur batangan yang masih melunak.

Pak De mengerang, matanya setengah terpejam. Lelaki itu kembali melirik ke bawah, dan mendapati wajah Lucille yang cantik tertutup rambut yang bergerai jatuh, maju-mundur, dengan mulut yang menelan habis kejantanannya.

“Gek… j-jangan…” Pak De termegap-megap, berkelojotan liar. Kejantanannya seperti dibungkus rongga hangat yang bergerak menghisapnya. “Geeek…” Pak De mendorong kepala Lucille, karena sekujur tubuhnya serasa ngilu menerima perlakuan seperti itu.

Lucille tersenyum binal. Dibukanya ikatan di belakang kepalanya dalam gerakan yang sensual, menggoda, hingga sekarang rambutnya tergerai dan menutupi payudaranya yang menggantung indah.

Pak De mengerang lemah, namun yang dirasakannya hanya rasa geli, tak ada rasa nikmat sama sekali. Kejantanannya tetap tertidur lunglai. Lucille terus menjilati kejantanan Pak De, hingga akhirnya ia mendengus panjang, putus asa.

Pak De tersengal-sengal, iba pada Lucille yang menatap kosong, nanar. “Maaf… Gek…”

Lucille tak langsung menjawab, tubuhnya terasa panas oleh birahi, dan kewanitaannya sudah gatal ingin disetubuhi, namun Lucille terpaksa mencoba tersenyum.

Lucille menggigiti bibirnya, menghela nafas berkali-kali, lama sebelum berkata, “Ng-nggak apa-apa…” cepat-cepat wanita itu melebarkan senyumnya.

“Saya sudah nggak seperti dulu lagi… nggak kuat main banyak ronde kayak dulu…” bisik Pak De lirih, “maaf..” bisiknya berulang-ulang, “maaf…”

Dipandanginya Seorang Ksatria Tua yang tak lagi perkasa, menatap sendu seperti seorang prajurit kalah sebelum berperang perang. Perlahan hatinya terenyuh. Lucille mengusap wajah Pak De, mencoba membesarkan hati Laki-laki tua itu, “Nggak apa-apa, kak… yang pertama tadi… puncak saya yang paling luar biasa…” bisik Lucille, dan senyumnya berubah tulus.

Pak De membelai rambut Lucille, “Makasih… Gek…”

Lucille tersenyum, perlahan puncak birahinya digantikan dengan puncak rasa kasih yang lebih nikmat dari segala orgasme di dunia.

I could not love you any better
I love you just the way you are…

“I Love you just the way you are…” Lucille berucap pelan, namun penuh kepastian.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“I love you… just… the way… you are…” Nada terakhir lagu itu terdengar mengambang, sumbang, karena dinyanyikan ragu-ragu, setengah berkumandang, setengahnya lagi tercekat di kerongkongan.

Dua orang itu mendadak saling tatap, dan kini ada jeda kosong yang dipenuhi suara jangkrik dan jantung yang berdebaran.

Ava memandang wajah Sheena lekat-lekat, sebelum bergerak mendekat, namun Sheena cepat-cepat beringsut menjauh dengan wajah merah padam dan senyum garing. Dirinya harus tahu diri, Ava bukanlah kepunyaannya, Ava adalah…

“Hujan, tunggu.” Ava berkata sambil menahan lengan Sheena.

Sheena terhenyak, perlu sedikit waktu bagi dirinya untuk memahami bahwa yang menatap matanya itu adalah Ava, bukan Awan.

“A-apa?”

Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Ava yang serupa Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh. Malam itu ruang dan waktu seperti diputar balik ke 10 tahun yang lalu. Cewek Tomboi bertato itu kembali menjadi gadis manis berkacamata yang menatap penuh harap ke arah pemuda remaja di caffe kecil di Jalan Legian.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Hujan,” Awan tiba-tiba berkata.

“Hah?”

“Hujan, nama belakangmu, artinya ‘Hujan’ kan?”

“I-ya.” Sheena mengangguk cepat.

“Cocok ya, Awan dan Hujan.” Awan berkata, agak bergetar.

Oh my God… Oh my God…. Sekarang nih… Awan mau nembak aku… aduuuh… aku jawab apa? Sheena mengerjap-ngerjap panik, “I-ya…”

“Hujan…”

“A-apa?”

Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh, seteduh kumpulan uap air di biru langit.

Awan menarik nafas panjang, “Hujan, Boleh saya….”

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Ava menarik nafas panjang, “Mungkin sudah terlambat saya bilang ini sekarang, mungkin seharusnya dari dulu saya bilang ini.”

Intonasi Ava, nada suaranya, caranya berbicara, semua itu membuat dada Sheena dipenuhi tangis yang siap meledak.

“Ava… kenapa… sih… kamu….”

Ava tidak mengerti, kenapa Sheena mendadak menangis sesenggukan sambil meremas tangannya kuat-kuat.

“Lho, kok nangis? Aku kan belum ngomong apa-apa?” dengan bingung, Ava mengusap-usap rambut pendek Sheena yang sesengukan di bahunya.

Setelah tangisnya mereda, barulah Sheena bercerita tentang Awan, tentang Hujan, juga tentang cinta yang tak sempat diucapkan…

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Kak Gede, Kakak kenapa?” Lucille mengernyit bingung, melihat Pak De yang mengusap matanya berkali-kali.

“Quote itu… Lagunya Billy Joel… dulu Julia nyanyi itu buat saya… hehe… uhuk… uhuk…. coba dipikir-pikir… gimana mungkin orang secantik Julia, bisa mau sama saya, pelukis urakan yang nggak jelas hehe… uhuk-uhuk…” Pak De terkekeh-kekeh sambil terbatuk-batuk, sebelum menyadari wajah Lucille yang cantik mendadak cemberut.

Pak De terkekeh jahil, “beh, jangan na’e cemburu…” Pak De mengekeh sambil mencubit pipi Lucille.

Lucille tetap manyun. Perkataan Pak De terakhir tadi, membuatnya kembali meragu.

Keraguan yang bertahun-tahun dipendam Lucille. Keraguan yang membuatnya meredam perasaan cinta kepada Kakak Iparnya itu, tanpa mampu sedikitpu mengucap.

“Kak… kalau boleh tahu… kenapa… Kak Gede cinta sama saya?” Lucille berkata pelan, suaranya sedikit bergetar.

Pak De terdiam lama, dan Lucille menggigit-gigit bibir bawahnya, berharap-harap cemas menanti jawaban yang akan diberikan Pak De.

Sang maestro menghela nafas sebelum berkata, “Saya pernah berpikir, saya nggak akan bisa mencintai seseorang lagi selain Julia… sampai kamu datang… dan… saya kira…. nggak ada lagi yang bisa jadi pengganti Julia buat Indira dan saya selain kamu, Gek…”

Lucille tidak menjawab lagi. Dunia seperti runtuh, begitu mendengar kata ‘pengganti’.

Lucille menunduk sambil menggigit-gigit bibir. Perlahan di matanya memelupuk air yang siap membanjir.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

Dengan sabar, Ava mendengarkan setiap cerita Sheena, setiap kata, setiap perasaannya yang tidak sempat disampaikan kepada Awan. Tentang bagaimana Sheena melarikan diri dari masa lalunya, tentang bagaimana Sheena menggurati bekas luka di lengan kiri-nya dengan tatoo, menjadi pengukir perih, The Pain Carver.

Kini Ava mengerti semua…

“Maaf, jadi ngingetin kamu sama cerita yang sedih…” Ava menarik nafas berat, “M-memang… seberapa mirip… saya… sama…” Suaranya bergetar, pelan, lirih.

Sheena meremas tangan Ava, “A-aku yang minta maaf… tiba-tiba aja… aku…” Sheena mengusapi matanya yang membasah, “aku… juga nggak tahu… kenapa… kamu…” Mirip sekali dengan dia.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Jadi cuma karena saya mirip dengan Kak Julia?” Lucille meringkuk, memunguti pakaiannya yang berserakan dengan tangan bergetar.

Pak De terdiam, lama. “M-maaf… bukan maksud, saya…” Ia berusaha memegang pundak Lucille, namun segera ditepisnya.

Lucille menggigit-gigit bibirnya, mengusapi matanya yang mulai berair.

“Saya sayang kamu, Gek… saya cinta kamu!”

“Yang Kak Gede cintai bukan saya, tapi bayangan Kak Julia,” suara Lucille bergetar, kerongkongannya sudah dipenuhi isak yang coba ditahannya dari tadi.

“Gek!” Pak De mencoba memeluk Lucille, namun wanita itu meronta kuat-kuat.

“Kak, lepas!”

Aku tidak mau jadi bayang-bayang…
Aku tidak mau Kak Gede mencintai bayang-bayang…

Cepat-cepat Lucille meninggalkan ruangan itu dengan tangis yang memecah pilu. Lucille tak ingin dicintai hanya karena mirip dengan seseorang, Lucille hanya ingin orang yang dicintainya mengatakan “i love you just the way you are…” cukup itu.

To Be Continude​

Daftar Part