. Nirwana Part 60 | Kisah Malam

Nirwana Part 60

0
158

Nirwana Part 60

Que Sera, Sera

Prolog

Rasuk

 

Menjemukan, rasa itu
Menafsir mimpi, sehalus sepi
Rasa hati, melawannya
Rasa hati, seandainya

~2002~

10 tahun yang lalu. Malam itu kabut pekat membungkus desa kecil di lereng gunung. Hujan yang turun semenjak petang membentuk tirai kelabu yang meliputi rumah tradisional Bali itu dalam dua warna. Penerangan listrik sengaja dipadamkan sehingga yang bersisa tinggal cahaya obor dan pelita minyak yang menyala redup.

Keluarga Besar Pak De berkumpul di rumah tradisional yang terdiri dari banyak kompartemen yang dipisahkan oleh jalan setapak. Sebagian duduk di balai-balai, sebagian lagi memandang cemas ke arah seorang laki-laki tua yang duduk tafakur di antara tumpukan sesaji yang ditumpuk rapi di dekat Pura Utama.

Wangi dupa menguar memenuhi udara. Kidung melantun menggetarkan gendang telinga. Dalam balutan busana putih-putih, Sang Pendeta memuja khusyuk. Dupa yang digenggamnya gemetar sesekali. Bibirnya yang keriput bergerak-gerak menggumamkan kekidungan purba, seperti mencoba meretas batas antara fana dan kematian. Sampai akhirnya di bait ke-8, gerakan Si Kakek mendadak terhenti, seperti juga alun kidungnya.

Untuk sesaat hanya ada keheningan dan wangi dupa yang memenuhi paru-paru. Sunyi diselang-selingi bunyi hujan yang terdengar menitik di daun pisang yang merimbuni rumah tradisional Bali itu…

Guntur bergemuruh di langit malam disusul angin misterius yang tiba-tiba berhembus entah dari mana. Menghamburkan aroma dupa dan membuat cahaya obor bergoyang meredup, membentuk siluet yang mendadak bergerak dalam gerakan yang amat ganjil. Seolah-olah sekujur tubuh Sang Pendeta digerakkan oleh dalang tak terlihat.

mari rasuk…
mari rasuk…
merasuk…

Seorang gadis kecil memeluk ayahnya rapat-rapat, berlindung dari gigitan dingin dan rasa takut yang menusuk tulang. Karena sungguh, sesosok di depannya itu membuatnya jerih.

bila kau rindu
aku kan datang
segera…

Lampu minyak meredup saat Si Kakek kembali bergumam, namun kali ini beliau menyenandungkan lagu…

“Ajik…” gadis kecil itu berbisik pelan, meremas tangan ayahnya. Ia hapal senandung itu, senandung yang selalu dinyanyikan sang ibu untuk menemaninya tidur.

Que Sera, Sera… Whatever will be, will be…” dan itu suara ibunya yang keluar dari mulut si Kakek Tua!
“A-ajik… i-itu…” gadis kecil itu berkata pelan, meremas tangan ayahnya lebih erat lagi.

“Indira, My Angel is it you…?” Si Kakek tersenyum ke arah Indira, menatap hangat seperti tatapan ibu yang merindukan anaknya. Tidak salah lagi…

“Ajik… itu… mama… itu… itu…” Tangis Indira meledak, menyeruak bagai semburat badai kerinduan yang datang bergulung-gulung.

kau rindukan waktu yang pergi
datanglah kembali padaku…
Que Sera, Sera

[2012]

Bertahun-tahun berlalu, dan Indira tak pernah lagi mendengarkan lagu itu disenandungkan. Namun Sore ini, mendadak ia mendengar kembali suara ibunya, bernyanyi-nyayi riang dari ruang kerja ayahnya.

Bergegas, Indira berlari menghambur ke muasal suara. Jantungnya berdegup kencang saat menyusuri lantai kayu vila itu.

Mama pulang…

Gadis itu terhenyak, menarik nafas dalam-dalam saat mendapati ibunya sedang asyik merapikan koleksi piringan hitam Ayahnya, bersenandung kecil, persis seperti dulu.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Lucille tak habis pikir, kenapa Indira mendadak mendekapnya dari belakang, wanita cantik itu hanya tertawa jenaka karena Indira memeluk erat di punggungnya.

“Indira jegeeeeg… apaan sih?” Lucille terkikik, sambil mengutak-atik Gramaphone Pak De.

Indira nyengir, buru-buru mengusap matanya yang berkaca-kaca. “E-enggak apa-apa… hehehe…” Indira tersenyum, melihat wajah Lucille yang mirip dengan ibunya. “I-Indira bantu ya…”

Malam nanti Pak De tiba di Bali, dan sudah seharian itu Lucille sibuk memberesi rumah dan ruang kerja Pak De. Koleksi piringan hitam milik Sang Maestro dibersihkannya dari debu, Sprei tempat tidur di ganti dengan yang lembut dan harum. Tak Lupa, ayam betutu[SUP](1)[/SUP] yang sedang dikukus di dapur siap menyambut kedatangan Pak De malam nanti.

Lucille tersenyum sendiri, pandangannya mengawang-awang di antara leretan foto tua yang dibingkai rapi.

(1) Ayam Betutu: Masakan Khas Bali, ayam yang dikukus utuh dengan bumbu-bumbu rempah

“Ava mana?”

“Di dapur, lagi ngecek betutu-nya udah mateng atau belum.”

Lucille terkekeh, “Jangan lupa, sore ini dia dapat tugas, mewakili Kak Gede, Sangkep[SUP](2)[/SUP] di Bale Banjar.”

(2) Sangkep: Rapat

“Lagunya bagus.” Indira tersenyum polos, melirik ke arah piringan hitam yang berputar pelan di atas Gramaphone, mengalunkan lagu lembut yang memenuhi ruangan itu dengan nostalgia.

“When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty? will I be rich?
Here’s what she said to me.”

“Ah, iya… lagu itu… Doris Day… Tante dan Kak Julia dulu sering sekali menyanyikan lagu ini.”

Indira tersenyum kecil. Gadis itu akhirnya tahu mengapa ibunya suka sekali mendendangkan lagu itu untuknya. Dari jauh, ia memperhatikan tantenya itu bergerak lincah, melangkah riang di antara barang-barang antik sambil bersenandung kecil.

“Tante… Tante Lulu kok mirip banget sama Mama?” Indira berkata, sambil mengusap foto tua di mana dirinya dipangku Lucille dan Julia.

Senyum Lucille mendadak menghambar, namun cepat-cepat ia tersenyum lagi “Tante kan adiknya Kak Julia, kamu gimana, sih?”

“Hehehe… eh, iya… Tante Lucille… um… eh.. ” Indira terdiam agak lama. “Tante jadi mama-nya Indira aja…”

Lucille mendadak tertegun lama, sebelum mengalihkan wajahnya dari sepasang mata Indira yang menatapnya penuh harap.

Lagu mengalun pelan, mengisi keheningan.

“Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future’s not ours, to see”
= = = = = = = = = = = = = = =

[2002]

“Que Sera, Sera
What will be, will be.”

Lagu itu melantun pelan, mengiringi Indira yang menangis sesengukan.

“Mama… huk.. huk..” Indira memeluk tubuh Kakek tua yang disemayami arwah ibunya. Sesenggukan di pangkuannya.

“Don’t cry, Indira… jangan nangis.”

Indira merasakan hangat dekapan ibunya. Dekapan yang sudah bertahun-tahun ia rasakan, dan mungkin tak akan pernah lagi ia rasakan.

“Raka… ada di sana?” Ayah Indira membuka suara.

“Ada, dia ada di sampingku.”

“Tubuh kalian… ada… di mana?”

Ibu Indira menggeleng lemah sambil tersenyum, “Tubuh hanyalah wadah, Sayang.”

Jawaban itu segera disambut tangis histeris semua orang yang ada di sana.

“The time has come…”

“Jangan pergi Mama… jangan pergi… jangan tinggalin Indira..…”

Ibu Indira membelai lembut rambut anak itu, lembut, sangat lembut, seperti belaian yang belum sempat ia berikan, dan mungkin tak akan bisa diberikannya lagi…

Dalam sepersekian detik itu yang ada hanyalah kenangan yang berputar cepat: saat Indira diajari mengeja dan mewarna…

…juga saat Indira baru bisa berjalan, saat gadis kecil itu melangkah tertatih, terkadang terhuyung dengan langkah-langkah limbung yang mencoba menapaki dunia yang demikian raksasa…

Hanyalah sebuah wajah yang tersenyum tulus di kejauhan yang menguatkan langkah-langkah kecil itu untuk bisa menghambur ke dalam pelukan yang merentang menantinya.

Wanita itu tertawa bahagia, memeluk erat bidadari mungilnya yang tertawa jenaka. Berdua, mereka berbaring di rerumputan, memandangi angkasa luas dan awan yang menyembul seperti gula-gula kapas…

“Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future’s not ours, to see
..

“Que Sera, Sera
What will be, will be
...”

= = = = = = = = = = = = = = =​

“Indira jegeg, jangan nakal, ya…”

“Jangan lupa buat PR…”

“Jangan ngelawan Ajik…” Julia berkata, mengusap-usap poni Indira, lembut.

Indira tak menjawab, hanya terus sesengukan dalam pangkuan ibunya.

“Mama sayang Indira… Jangan sedih terus…” Ragaku tiada, tapi aku terus bersamamu, sayangku… “I love you, Indira… always.

“I love you, Mama! I love you!”

Que Sera, sera… whatever will be… will be… the future’s not ours to see..
que sera, sera… what will be… will...”

Not terakhir itu mengambang, tak dinyanyikan sempurna, karena tubuh Si Kakek mendadak lunglai, diikuti Indira yang memekik histeris.

Sekelumit kecil dari lingkar kehidupan tengah berlangsung. Kematian bukanlah akhir, ia merupakan sebuah mula dari sekian perlawatan panjang menuju suatu yang entah. Sebuah perjalanan menuju: Paradiso.

= = = = = = = = = = = = = = =​
[2012]

“Mama… Mama… huk… huk…” Indira sesenggukan di dalam pelukan Lucille.

Dengan sabar, Lucille mengusap-usap kepala Indira, namun semakin Indira mengucapkan nama ibunya, semakin hatinya merasa pedih…

Aku tidak mau menjadi bayang-bayang….

To Be Continued

Cerita Terpopuler