. Nirwana Part 58 | Kisah Malam

Nirwana Part 58

0
139

Nirwana Part 58

Unrequited Love #1

”Ormas Lokal Bentrok Dengan Kelompok Preman, Puluhan Luka-Luka.”

“Meme Ratu…” Kadek menggeleng-geleng membaca headline di harian Bali Post mengenai bentrokan antara Ormas Lokal dengan Kelompok Preman yang melindungi bisnis ilegal yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini.

Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, di mana Sheena ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri setelah mengalami kekerasan seksual. Selama beberapa hari itu, Ava, Indira, dan Kadek dibuat kalang kabut, sibuk bukan kepalang. Terlebih bagi Ava, karena nomor teleponnya adalah nomor terakhir yang dihubungi Sheena, pemuda itu mau tak mau harus berurusan dengan yang berwajib -dimintai keterangan di kantor Polisi.

Namun pagi ini, Kadek sepertinya boleh bernafas lega. Penyelidikan sepertinya mengalami titik cerah, Kerusuhan antar ormas yang menggegerkan kota Denpasar beberapa hari lalu mengungkap praktik hitam Boss Jay dan komplotannya.

Senyum lebar menghias wajah Kadek. Itu artinya ia bisa kembali pada rutinitasnya sebagai manajer Art Galery Pak De yang ramai dikunjugi pemerhati seni dari dalam dan luar negeri.

Deru mobil Mini Cooper yang berhenti di depan galeri memecah keheningan. Tergopoh-gopoh Kadek melongok ke depan, melihat siapa yang datang.

“Lho, Tante? Tumben ke galeri?”

Lucille tersenyum, melepas kacamata hitamnya “Hi, Kadek.” ucap Lucille riang, “Ava mana?”

“Oh, dia lagi di rumah Sakit.”

“Oh, iya… muridnya Kak Gede yang satu lagi, kabarnya gimana? Sudah baikan?” Lucille berkata, matanya menyusuri dinding yang penuh lukisan.

“Sheena, maksud tante?”

“Ya, bagaimana kondisinya?”

= = = = = = = = = = = = = =​

“Kondisi pasien sudah membaik. Kalau sudah tidak ada masalah, sore nanti boleh pulang.” Dokter gendut setengah botak itu berkata sambil memperlihatkan hasil CT Scan kepala Sheena.

Sudah beberapa hari ini Sheena menjalani perawatan di RSUP Sanglah. Butuh beberapa hari bagi Sheena untuk memulihkan kondisinya. Selama itu, bergantian Ava, Bob, atau Indira menemaninya di rumah sakit.

Pagi ini, Bob dan Ava yang kebagian jadwal menunggui Sheena cuma bisa manggut-manggut, pura-pura mengerti mendengarkan penjelasan Si Dokter.

Dokter itu memperbaiki letak kacamatanya, dan menarik nafas panjang, “Jadi, Mas…”

“Ava, saya Ava, Dok.”

“Untuk korban yang mengalami… um…” Ia hendak mengatakan kekerasan seksual, tapi diurungkannya. “Ehem… Sebaiknya memang harus selalu ditemani, diberikan dukungan moral… jangan sampai… traumanya jadi lebih parah…”

Ava menghela nafas, mengusap-usap pundak Sheena, dan Bob juga melirik prihatin.

“Yang penting, nanti tolong dijaga baik-baik pacarnya, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.”

“I-iya, Dok… iya…” Ava nyengir ke arah Sheena yang membisu dengan pipi bersemu seketika.

= = = = = = = = = = = = = =

Fragmen 57
Unrequited Love #1

Siang itu, Sheena bersiap pulang setelah Bob menyelesaikan masalah administrasi. Mendadak, perempuan berambut pendek terdiam lama saat disuruh menandatangani berkas dengan angka-angka yang tertera diatasnya.

“Bob…” Sheena berkata saat Dokter dan Perawat sudah keluar ruangan.

“Yo?”

“Aku… biaya rumah sakitnya… Aku nggak mau ngerepotin keluargaku… tapi jadinya malah ngerepotin kamu… Pasti kuganti, kok,” Sheena berkata, sambil berkali-kali menghela nafas, teringat angka-angka yang tertera di kertas tadi.

“Kalau mau bilang makasih, bilang sama Mas Brewok, tuh.”

= = = = = = = = = = = = = =​

Sementara itu

Lucille mondar-mandir di antara deretan lukisan di Galeri, wajahnya yang cantik nampak berkerut, mengernyit berkali-kali. Pandangannya meniti barisan lukisan dari ujung ke ujung, namun sepertinya ia tidak menemukan apa yang sedang dicari.

“Oh iya, Kadek, ngomong-ngomong lukisan Ava mana?”

“Oh, udah laku, Tante. Kemarin ditawar sama Bule dari Rusia.”

“Lho, saya pikir lukisan itu nggak dijual.”

“Awalnya niatnya Ava gitu, Tante… tapi…” Kadek menggaruk-garuk kepalanya.

= = = = = = = = = = = = = =​

Ava serba salah melihat mata Sheena yang mendadak berkaca-kaca.

“Ava…”

“Iya, kemaren lukisanku…”

Sheena menarik ujung baju Ava, “Ava… kamu… nggak seharusnya…” Suaranya perlahan menghilang tertelan isak yang memenuhi kerongkongannya.

“Udah… nggak apa-apa…” Ava tersenyum lembut, mengusap-usap kepala Sheena yang kini sesenggukan di pelukannya.

“Ih, cengeng ih… tatoan kok cengeng.” ledek Bob, sambil mengacak-acak rambut pendek Sheena.

Sheena mengusap matanya yang berair, buru-buru tersenyum. Cewek tomboy itu kemudian cepat-cepat merogoh tas pakaiannya. “Ava, Aku memang nggak bakal bisa balas semua yang kamu lakukan buat aku, tapi setidaknya…”

“U-udah… s-sante aja lagi.”

Sheena meremas-remas rol film peninggalan Awan sambil melirik ke arah Ava yang tersenyum teduh.

“Ava, mana tanganmu?” Sheena meraih tangan Ava, membuka telapaknya. Diletakkannya rol film itu dan digeggamkan ke tangan pemuda yang masih nampak bingung.

“I-ini?”

Sheena nyengir, tersenyum manis, “Terserah mau dicuci cetak apa enggak, yang jelas itu buat kamu, oke?”

Bob terkekeh, “Itu fotonya Sheena waktu SMA. Cantik, feminim. Limited edition,” Sang pemuda gimbal menambahkan, setengah berpromosi, dan segera ditonjok Sheena.

Sheena tersenyum, dan perasaan Ava campur aduk diserahi barang itu, namun Ava balas tersenyum. Digenggamnya benda itu, erat-erat.

Sepuluh tahun aku melarikan diri dari masa lalu, sampai menjemput kematianku sendiri, dan belum pernah aku selega ini.

Dalam beberapa detik itu, waktu seperti dibekukan untuk mereka berdua. Dalam dunia tanpa ruang waktu, sepasang insan itu saling pandang, saling berharap…

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti seperti pelangi
setia menunggu hujan reda

“Makasih, Hujan…” Ava berkata, entah kenapa.

Sheena mendadak tertegun. “A-apa?”

“Hujan, aku baru tahu nama belakang kamu artinya ‘hujan’.” Ava menunjuk papan yang berisi nama lengkap pasien di ujung ranjang

Setengah mati Sheena menahan air mata yang sudah ingin melompat dari pelupuk mata, sebelum sebuah suara lucu terdengar dari arah pintu, “Kak Na…”

Suara itu membuat Sheena akhirnya tersadar, bahwa ternyata Ava sama seperti orang itu –seperti kumpulan uap air di biru langit– melindunginya dari terik matahari, terlihat, tapi tak tersentuh.

“Kak Na Jegeeg!” Indira yang baru pulang kuliah berlari menghambur, tersenyum lucu sambil membawa sekantung Roti Breadtalk yang dibelinya di Denpasar Junction barusan. “Lho, udah mau pulang? Kirain ntar sore… yah… padahal Indira beliin makanan.”

Sheena nyengir, “Kata Dokter sudah boleh pulang.”

“Yakin sudah sembuh?” Indira mengusap-usap pipi Sheena yang membiru.

Sheena tersenyum, mengangguk, membiarkan Indira duduk di sampingnya.

“Kak Na jangan pergi lagi, ya…” ucap Indira pelan, sambil menggenggam tangan Sheena.

“Iya…”

“Jangan tinggalin Dira…”

“Iya, Dira Jegeg…”

“Janji?”

“Hu-uh.”

Indira terkikik, menggandeng tangan Sheena turun dari tempat tidur.

“C’mon man… kita cabut.” kata Bob.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Sheena bisa melihat Indira berjalan riang sambil menggandeng Ava.

Senyum jenaka Indira saat menggandeng Ava, seperti spektrum cahaya yang berpendar di langit setelah hujan, memancarkan kilauan warna-warni yang mewarnai langit.

Sepanjang ingatannya, belum pernah Sheena melihat Indira sebahagia itu.

Sheena tersenyum, entah kenapa hatinya turut bahagia melihat tawa Indira yang memeluk Ava seperti boneka beruang raksasa.

Siang ini hujan reda, menyisakan pelangi yang mengintip di balik langit.

Ava mungkin kamu berada dalam kisah yang ditulis buat aku…
tapi nggak apa-apa, karena aku akan menemukan langitku…
.

Love shall set you free…

Bersambung

Daftar Part