. Nirwana Part 57 | Kisah Malam

Nirwana Part 57

0
135

Nirwana Part 57

Inferno

Telinganya berdenging… Sheena mengerjap-ngerjap bingung. Untuk sesaat ia tidak merasakan apapun selain panas membara serta perih di sekujur tubuhnya.

“Awan… Awan…” Sheena berkata lemah, namun ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri, hanya ada suara berdenging yang panjang.

Hingga beberapa detik, ia mulai bisa melihat dinding api menjulang tinggi mengelilingi mereka, Di sekelilingnya banyak tubuh-tubuh berdarah yang merangkak, mengerang meminta pertolongan.

Sheena terbatuk-batuk, paru-parunya dipenuhi bau gosong dan anyir darah.

“Na… kamu… ng-nggak apa… apa…?” Awan berkata, pemuda itu tergolek lemah, dengan dada berdarah dan nafas terengah… tangannya mengulur, mengusap wajah Sheena yang dipenuhi darah dan jelaga.

Tangis Sheena memeecah saat melihat dada Awan tertembus pecahan besi. Darah segar memancar deras, bersama beberapa tulang rusuk yang menyeruak dari dalam. Terisak, Sheena mencoba menutup luka di dada Awan dengan tangannya, namun namun lengan kiri gadis itu-pun terluka, darah segar mengalir tanpa henti dari luka robek dan kulit yang terbakar…

Awan mengusap pipi Sheena yang berurai air mata, “Na… Hujan…” Awan terengah. “Aku…”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sheena hanya bisa memeluk Awan, erat… sampai perlahan tubuhnya juga mulai terasa dingin, dan kesadarannya perlahan hilang…

Dari balik langit yang menyala merah, Sheena bisa dengan jelas melihat sesosok hitam membuka sayapnya lebar-lebar… malaikat maut, kah?

Sheena hanya merasa tubuhnya diangkat keluar dari kobaran api… saat ia mencoba membuka mata… ia mendapati bukan malaikat maut yang menarik tubuhnya…

…dan Sheena mengenali wajah itu…

= = = = = = = = = = = =​

“DokPasien sudah sadar.” Sheena mendengar suara di antara gumanan-gumanan tidak jelas yang berdengung seperti suara tawon.

“S-saya… d-dimana…?” Sheena berkata, parau. Dirasakannya bibirnya kaku dan penuh asin darah. Kepalanya dibebat dan lengan kanannya digips.

“Kak Na… Kak Na… huk… huk….” Sesorang menangis di telinganya, Indira?

Sheena mengerjap-ngerjap, pandangannya masih gelap, dan ia hanya tahu bahwa matanya diperiksa dengan senter.

“Vital Sign pasien sudah mulai normal….” kembali didengarnya gumaman-gumaman tidak jelas, berdengung dan bergaung-gaung, entah.

Butuh beberapa saat hingga perlahan Sheena semakin jelas melihat wajah orang di sekelilingnya…

“A-ava?” Sheena mengerang lemah, mendapati Ava duduk di sisi pembaringan, menggenggam erat tangannya bersama Indira. Ada Kadek yang berkali-kali menghela nafas prihatin, juga Bob -yang cuma mewek-mewek tidak jelas…

“Na… gue kira lu sudah… sudah… …” Bob berkata terbata, senguk tangis di tenggorokannya membuatnya sedikit kesulitan bernafas, hingga terpaksa Kadek menepuk-nepuk pundaknya, menenangkan pemuda berambut gimbal itu.

“Nggak apa-apa… sudah… nggak apa-apa…” Sheena mengusap-usap kepala Indira yang sesenggukan di dadanya.

“Permisi, maaf… Pasien mengalami trauma serius, tolong jangan diganggu dulu…” datang seorang pemuda berjas putih, menegur mereka.

Kepala Sheena masih pening, namun ia masih bisa mengenali wajah pemuda itu…

Wajah yang fotonya dulu terpasang di kamar Indira, dan ditangisi Indira selama sebulan penuh…

Dewa?

= = = = = = = = = = = =​

Indira cepat-cepat mengusap air matanya, tidak menyangka bertemu mantan kekasihnya di saat seperti ini, “De-Dewa… eh… um…”

“Kondisi pasien masih belum stabil.” Dewa cepat menukas, berkata dingin, membuat Indira sadar dengan posisi pemuda itu saat ini -bukan sebagai mantan pacarnya, tapi sebagai staf medis yang sedang bertugas.

Sebuah instruksi dari Supervisor-nya membuat Dewa kemudian menjelaskan kondisi medis Sheena kepada Ava dan yang lainnya.

“Dok… Kakak saya… nggak kenapa-kenapa kan? Nggak gegar otak kan?” Indira berkata, sambil menggigit-gigit bibir.

“Gegar otak ringan, tapi bisa pulih.” Dewa menjawab, namun nadanya seolah tanpa emosi.

“Gegar otak?” Kadek mengernyit.

“Ya, akibat pukulan benda tumpul.”

Indira sedikit cemas. “Parah?”

“Sedikit, lalu ada fraktur humerus

“Eng…”

“Patah tulang, lengan kanan.“ Dewa menjelaskan panjang lebar kondisi medis Sheena, sebelum akhirnya ia mohon diri. “Sebaiknya pasien dibiarkan istirahat, saya permisi dulu.”

Indira mengikuti sampai agak jauh. “Dewa…”

“Ya?”

“Makasih… sudah merawat kakak saya.” Indira tersenyum, tulus.

Dewa tersenyum kecil, buru-buru berlalu.

People changes. Dewa berkata dalam hati, tanpa menoleh lagi.

Kadang kita menyadari sesuatu, justru di saat kita kehilangannya.

= = = = = = = = = = = =​

Perlahan, Ava mengusap punggung tangan Sheena. Pemuda itu tak banyak bicara, tapi dalam kebisuannya, Sheena tahu ada kerinduan yang tidak bisa disembunyikan dari balik mata yang menatapnya teduh.

Senyum getir membersit di bibir Sheena. Atau mungkin kita menemukan sesuatu, namun terlambat menyadari.

To Be Continued