. Nirwana Part 56 | Kisah Malam

Nirwana Part 56

0
143

Nirwana Part 56

Limbo

“Lama banget, aku udah nunggu kamu dari tadi,” kata Awan.

“Maaf-maaf… hehehe, kamu jadi menunggu lama.” Sheena tersenyum manis, menutup buku sketsanya.

Pemuda itu tiba-tiba muncul di sekretariat klub jurnalistik, mengejutkan Sheena yang dari tadi sibuk menggambar komiknya.

Senyum kikuk menghiasi wajah Sheena remaja ketika anak itu membetulkan letak kacamata. “Bentar, ya… beres-beres dulu.”

“Huu… “Awan mendekat, membuka lembaran-lembaran buku sketsa yang dipenuhi gambar komik. Matanya sibuk meneliti gambar dan panel-panel sudah ditebalkan Sheena dengan tinta hitam. “Na, Gambarmu bagus banget, kamu emang bakat gambar, nih!”

“Gambar komik, tepatnya.” Lalu Sheena sibuk berceloteh tentang judul-judul komik yang sebagian bahkan tidak diketahui Awan, “Wan, kamu suka komik apa?”

“Golden B-… eh, Conan… Detektif Conan bagus… hehe… ”

“Kamu harus baca Adolf-nya Osamu Tezuka, gila keren abis.” Kemudian Sheena kembali berceloteh tentang teknik menggambar, “kalau komik jepang, biasanya kebanyakan pakai transisi aspek ke aspek, Wan…”

Awan cuma manggut-manggut pura-pura mengerti. “Wah, kalau ketemu sama dia, kujamin pasti nyambung obrolan kalian.”

“Siapa emang? Bob?”

“Nggak jadi, ah… nanti kamu malah naksir dia lagi, hehe…”

“Wek, memangnya kenapa kalau aku naksir dia? Kita kan cuma temenan.”

Aduh, goblog-nya… aku ngomong apa, sih?

“hehe… i-ya… ya… t-temen, yah… c-cuma temen… ya… he… hehe…” Awan menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal.

Sejenak keduanya sama-sama tersenyum garing, Sementara di luar, mendung yang menggantung sedari pagi perlahan menetas menjadi gerimis tipis.

= = = = = = = = = = = =​

Sepasang remaja itu kini melangkah buru-buru, menghindari rintik gerimis yang perlahan turun membasahi halaman sekolah.

Sheena berjalan agak rikuh, salah tingkah karena Awan memayunginya dengan tangan. Meskipun tidak bisa mencegah kepalanya basah, tapi tak ayal Sheena senyum-senyum juga dibuatnya.

“Eh, Na… ntar malam kamu ada acara, nggak?”

“Nggak ada, kenapa?”

“Sudah pernah nyobain parfait?” Awan tiba-tiba berkata saat mereka sampai di tempat parkir.

“Hah? Apaan tuh?”

Awan menjelaskan, dan Sheena hanya manggut-manggut sambil tersenyum.

“Belum, kalau Awan?”

“Belum juga, nanti nyobain yuk… kalau… kamu mau… “ Awan tersenyum, “dan kalau nggak hujan, he… hehe…” ia menambahkan.

Berdua aja? Is it a… date? Mata Sheena Remaja mendadak berbinar.

= = = = = = = = = = = =​

Malam itu Sheena kehilangan kata-katanya, ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri saat dibonceng melewati jalanan Kuta yang macet dan dipenuhi wisatawan. Sheena melingkarkan lengannya di pinggang Awan, menikmati malam yang sepertinya diciptakan hanya untuk mereka berdua.

“Bilang ibumu, kita pulang agak malam ya.” Awan berkata, saat mereka sampai di sebuah kafe di Jl. Legian yang dipenuhi wisatawan.

“Siap, Bos!” Sheena tersenyum jenaka, menikmati pemadangan dari tempat duduk mereka yang terletak di dekat jalan.

= = = = = = = = = = = =​

Alunan musik Bossanova merdu mengalun di kafe bergaya italia itu saat Fruit Parfait dihidangkan.

“Enak!” Mata Sheena seketika berbinar melihat es krim yoghurt dengan buah-buahan dan astor di atasnya. Remaja itu mengunyah dengan pipi penuh. Lucu sekali. “Eh, tapi aku dibayarin, kan?” Sheena nyengir polos.

Awan mengangguk dan tersenyum mencurigakan.

“Jangan bilang kamu nggak bawa uang.” Sheena mendelik, matanya menyelidik.

“B-bawa kok! S-siapa b-bilang, hehe..” Awan berkata, cepat-cepat menyuap sesendok es krim.

Sepanjang malam itu, mereka berdua berbincang-bincang tentang berbagai hal, namun Sheena menyadari ada yang aneh dengan Awan malam itu, berkali kali pemuda itu menghela nafas panjang, entah kenapa.

“Hujan,” Awan tiba-tiba berkata.

“Hah?”

“Hujan, nama belakangmu artinya ‘Hujan’ kan?”

“I-ya.” Sheena mengangguk cepat.

“Cocok ya, Awan dan Hujan.” Awan berkata, agak bergetar.

Oh my God… Oh my God… Sekarang nih… Awan mau nembak aku… aduuuh… aku jawab apa? Sheena mengerjap-ngerjap panik, “I-ya…”

“Hujan…”

“A-apa?”

Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh, seteduh kumpulan uap air di biru langit.

Awan menarik nafas panjang, “Hujan, boleh saya…”

Sheena menahan nafas, sebelum terdengar letupan kecil di kejauhan. Mendadak keduanya saling mengernyit dan saling lirik ke sekeliling, ke arah bule-bule yang bersorak sorai mendengar suara letupan kembang api.

“Kembang apinya bagu-s…” Awan tidak menyelesaikan kalimatnya…

Sheena tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya mendengarkan sebuah ledakan besar, lalu mendadak sekelilingnya terang benderang oleh warna merah menyala.

Dirinya seperti dihempas oleh tekanan maha raksasa, dan Awan hanya bisa memeluknya, melindunginya dari serpihan benda-benda yang berterbangan…

Kemudian pandangannya berubah putih, dan kian meredup…

Bersambung

Daftar Part