. Nirwana Part 55 | Kisah Malam

Nirwana Part 55

0
150

Nirwana Part 55

Dan Kegelapan Selamat Datang

Beberapa saat kemudian, Sheena sudah sampai di depan sebuah ruko tua. Langit mulai mencurahkan rintik hujan, membasahi secarik kertas yang dari tadi dipandanginya. Suporno Billiards, butuh beberapa saat untuk meyakinkan diri, bahwa ia tidak salah alamat.

Tak salah lagi, ini dia.

Sheena memasuki arena permainan bilyar itu, dan segera disambut oleh pandangan mata tajam dan menusuk. Sheena tak gentar, dihunusnya pandangan yang tak kalah tajam ke seantero ruangan. Mendadak semua terdiam, hingga yang terdengar hanyalah suara sepatu Sheena yang diselingi kelotak suara bola bilyar, seolah saling mengintimidasi.

“Bos ada?” Sheena berkata, sambil menyalakan sebatang rokok. “Gue denger dia lagi ada di Bali.”

“Berani juga ente kemari.” kata seorang lelaki cungkring dengan tato Mick Jagger.

Sheena tersenyum dingin. “Gue mau ngelunasin hutang-hutang gue.”

Si Cungkring tersenyum mengejek. “Setelah kejadian kemaren[SUP](1)[/SUP], nyawa ente pun kagak cukup buat ngelunasin hutang ente… ente bakal di…” Si Cungkring menirukan gerakan menggorok di leher.

(1) Peristiwa “Debt Collector” di Fragmen 23: You Are (not) Alone

“So be it…” Sheena berkata, menghembuskan asap rokok ke udara.

“Mampus lu, Jeng… mampus…” Si Cungkring menggeleng-gelengkan kepala, heran melihat kenekatan Sheena.

Sheena berlalu tanpa menyahut, aku sudah tidak akan kehilangan apa-apa lagi…

= = = = = = = = = = =​

 

“Sunday is gloomy,
My hours are slumberless”

“Dearest the shadows
I live with are numberless
Little white flowers”

“Will never awaken you
Not where the black coach of
Sorrow has taken you
Angels have no thought
Of ever returning you”

“Would they be angry
If I thought of joining you?” 

Alunan lagu Gloomy Sunday mengalun dari dalam ruangan. Sheena memasuki ruang kerja dengan dekorasi lukisan Rahwana dan pedang samurai yang dipajang di dinding, sementara jendela berjeruji di sebelahnya nampak kelabu, dibasahi hujan yang turun kian deras.

Seorang pria tampan flamboyan, dengan rambut dan pakaian necis asyik menghisap cerutu sambil manggut-manggut mengikuti alunan lagu dari piringan hitam yang berputar di atas Gramaphone. Sementara di belakangnya berdiri seorang laki-laki berkulit hitam bertubuh tinggi dengan kepala botak.

Tidak seperti yang kalian bayangkan dalam film-film, di mana seorang Godfather harus berada dalam markas sebuah gedung tinggi yang dijaga tentara bayaran bersenjata lengkap. Seorang Mahessa Jayapratama, justru bisa dengan mudah kalian temukan di layar televisi, tersenyum ramah kepada pemirsa.

Sudah setahun Suporno Group, perusahaannya melebarkan sayap ke Pulau Dewata untuk menangani bisnis ‘pengamanan’ dan ‘penagihan hutang’. Bahkan di periode berikutnya pengusaha hitam itu berencana untuk maju sebagai calon legislatif.

“Ah, Shenaa… hahaha… dunia memang sempit… kenapa tahu gue sedang di Bali? welcome… welcome… silahkan duduk… saya kangen sampai NYARI-NYARI kamu kemana-mana, hahaha.” Si gangster flamboyan berkata ramah tapi mengancam. “

“Makasih, Boss… nggak perlu, gue cuma mau ngelunasin hutang.” Sheena berkata dengan nada dingin, melemparkan amplop berisi segepok uang ke atas meja. “Gue kira ini lebih dari cukup.”

Mr. Jay menyeringai. “Ah, iya… hutang… gue kira elu sudah lupa…”

Sanyum licik menghiasi wajahnya yang tampan. Jarinya yang dipenuhi cincin kini sibuk mengutak-atik komputer tablet. “Ditambah bunga… jadinya…” Mata Mr. Jay melirik Sheena tajam, sambil menghitung lembaran-lembaran uang 100 ribuan di sana.

“Kalau sudah cukup, jangan ganggu gue lagi.” Sheena hendak beranjak, sebelum dihadang oleh pria berperawakan besar seperti Rambo.

Pria flamboyan itu mematikan cerutunya, berjalan mendekat. “Sheena… Sheena… kenapa elu sekarang pengen lari dari gue… 3 tahun kita jadi partner… gue tahu, elu memang liar… tapi yang terakhir lu lakuin itu benar-benar sudah keterlaluan.”

Mr. Jay mengingatkan Sheena tentang kejadian tempo hari, saat Sheena membuat keributan dengan penagih hutang yang dikirimnya. [SUP](1)[/SUP]

“Duit segini…,” Mr. Jay mengacungkan segepok uang dari Sheena, “…memang lebih dari cukup,” ia menepukkan segepok uang ke pipi sheena, “tapi jangan anggap permasalahan ini kelar setelah LU bayar hutang,” ia menekankan dengan nada tinggi. “Susah payah bisnis ‘Jasa Keamanan’ ini gue kembangin sampe Bali. Semua lancar sampai elu ngobrak-abrik.”

“Lonte macam lu ini yang membuat kami kehilangan kewibawaan di mata para klien!”

Jantung Sheena berdetak lebih cepat, merasakan benda logam dingin melingkar di lehernya, pisau lipat.

Mr. Jay mendekatkan wajahnya. “Kalau kami kehilangan kepercayaan, kehilangan kewibawaan… bagaimana klien mempercayakan keamanan kepada kami? Siapa yang takut sama ormas yang diobrak-abrik sama lonte macem elu! Ini udah lebih dari sekedar duit yang lu pinjem! Ini soal harga diri!”

“Orang-orang seperti elu, kudu diberi pelajaran.” Mr. Jay menyeringai kurang ajar sambil mengusap-usap payudara Sheena yang menyembul indah.

“Boss mau apa?!” Sheena berkata, dengan nada yang dibuat berani.

Mr. Jay menyimpan kembali pisau lipatnya. “Kalian urus, dia. Terserah, mau diapakan.” Boss preman itu berkata, sebelum berlalu keluar ruangan, meninggalkan Sheena dengan Si Negro dan Si Rambo yang memandanginya dengan tatapan mesum.

= = = = = = = = = = =​

 

Musim berlalu resah menanti
Matahari pagi, bersinar gelisah
Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti

Siang itu hujan turun kian deras di dekat Bedugul. Mobil Mini Cooper itu menuruni lereng gunung yang berkelok-kelok. Ava, Indira, dan Lucille harus kembali ke Ubud. Kuliah Indira sudah bakal dimulai begitu libur Galungan berakhir.

Ava mengemudi pelan, sepanjang perjalanan itu ia membisu, memandangi wiper yang bergerak turun naik menyapu rintik hujan.

“Ava, kok diem aja… marah ya… karena Dira ditelpon Dewa.” Indira berkata takut-takut. “Dira nggak tahu kok… kenapa dia nelpon lagi, padahal nomornya udah Dira hapus…”

Ava tersenyum beku. “Enggak, enggak apa-apa…” dan pemuda itu kembali memandangi jalanan yang tertutup kabut. Bukan itu yang mengganggu pikirannya. 5 panggilan tak terjawab dari Sheena di ponselnya benar-benar mengusik hati sang pemuda. Ada yang tidak beres, namun dirinya tak tahu jelas apa. Semua serba samar dan abu-abu, seperti kabut tebal yang membungkus hutan hujan di hadapannya.

“Ava…” Indira merengek.

“Udah dibilangin, nggak-apa-apa.” Ava menghela nafas berat.

“Bohong, buktinya kamu diem terus dari tadi… kamu masih kepikiran, kan?”

“Sebenernya yang terus kepikiran itu aku atau kamu, sih?” Ava menukas cepat, berkata dengan wajah datar.

Kali ini, Indira terdiam lama sambil menggigit-gigit bibirnya.

Di luar hujan turun semakin deras, menjelma badai.

Di mana kau timbun daun yang layu?
Makin gelisah aku menanti
Matahari dalam rimba kabut pagi
Sampai kapankah aku harus menanti

Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan
Daun yang layu berguguran di pangkuan

Kapan badai pasti berlalu?
Resah aku menunggu
Kapan badai pasti berlalu?
Badai pasti berlalu

= = = = = = = = = = =​

“Heh! Kalian mau apa? Biarin gue pergi!” Sheena berkata dengan nada tinggi, agak panik karena diseret paksa ke ruang belakang yang dipenuhi debu.

Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya karena Si Negro membuka baju hingga tinggal celana dalam dengan kejantanan yang mulai menegang, sementara Si Rambo mengunci pintu.

“J-jangan macam-macam…” Sheena menepis tangan-tangan yang mulai mencoba menjamahi tubuhnya.

Dua orang preman itu tertawa seperti mengejek, perlahan mendekat mengerumuni Sheena.

“Kamu lupa tadi Boss bilang apa?” Si Negro mendekati Sheena, mencoba meremas payudaranya yang besar.

Sheena melayangkan tangannya menampar Si Negro, namun segera ditangkap. “Lonte macem elo emang kudu dikasih pelajaran.” Pria berkulit hitam itu meremas payudara Sheena kasar, membuat si cewek tomboy mengerang kesakitan.

“BANGSAT! JANGAN KURANG AJAR! CUIH” Sheena meludah jijik.

Tamparan keras mendarat ke wajah Sheena hingga cewek tomboy itu terhujung. Si Negro segera menjambak rambut pendek Sheena, menghimpitnya ke lantai. Sontak Sheena memberontak, mengumpat dengan sumpah serapah saat sepatu dan celana panjang jinsnya coba dilepas paksa.

“LEPASIN GUE! HOY!” Sheena menendang tepat pada kemaluan kemaluan Si Negro.

“AAAH! KONTOL GUE! Sakit, anjing!” Si Negro mengerang, meringis kesakitan sambil memegangi selangkangannya. “ANJING! MATI LOE!” ia mengumpat dan melayangkan tendangan ke atas perut Sheena. Kaki hitam kekar yang dipenuhi otot menginjak rahim Sheena berkali-kali hingga cewek tomboy itu merintih kesakitan.

“Bantuin gue, bego!” Si Negro berteriak ke arah kawannya yang senyum-senyum di kejauhan.

Sheena meringis menahan sakit, mencoba merangkak ke arah pintu keluar, namun tiba-tiba Si Rambo menguncinya tubuhnya dari belakang. “LEPASIN!” Sheena meronta, kakinya menendang liar, namun segera dipegangi Si Negro yang kini berhasil menarik lepas celana jinsnya.

“ANJIING! LU MAU APA?! HEH! LEPASIN GUE!” Sheena berteriak histeris, dengan wajah yang memerah. Kaus hitam ketatnya disingkap ke atas hingga payudaranya yang bundar besar menyembul keluar dari bra hitam ketatnya.

Sheena menggeleng-geleng panik, cup BH-nya direnggut paksa dan payudaranya segera diremas-remas kasar oleh si Rambo. “LEPASIN! LEPASIN GUEEE!” Sheena mendelik, meronta tidak karuan.

Si Negro segera menyusupkan tangan, meraba kewanitaan Sheena dari balik boxernya. “BANGSAT! NGAPAIN LO… AH! AAAKH!” Sheena memberontak, namun apa daya, tubuhnya dipegangi oleh dua orang laki-laki kekar. “Bangsaaaaat! Lepasin gueeee!”

“Plak!””

“Diem lu, njing!” tamparan keras mendarat di wajah Sheena.

“BANCI LOE PADA!”

“BRUAGGH!” tonjokan mendarat di wajah Sheena.

Sheena meringis menahan sakit, namun bibirnya tak berhenti mengucapkan kata-kata kasar.

“BRUUUUGH!” rahimnya ditendang.

Cewek tomboi itu hanya bisa mengerang dan mengumpat berkali-kali. Tonjokan serta tendangan jatuh bertubi-tubi ke wajah dan perutnya. Guruh menggelegar, dan deru hujan menenggelamkan suara jerit kesakitan Sheena.

Hujan turun semakin deras, saat akhirnya perempuan tangguh itu kehabisan tenaga. Sheena mengelepar kelelahan, seperti ikan yang mencoba lepas dari kail… namun gagal…

Ava… tolong…

“Hah… hh… hh…” Sheena terengah lemah, hingga akhirnya ia hanya bisa memejam pasrah, merasakan sekujur tubuhnya diremas dan dilumat habis dari segala penjuru. “Akh! Aaah… aaan… jing…” Cewek tomboi itu masih bisa memaki pelan, sebelum menggeliat geli karena titik-titik sensitifnya dicumbui paksa.

“Hah… hh… hh… hh… hh…” Rasa nikmat bercampur malu membuat wajah Sheena bersemu merah, tapi ia masih mencoba menahan diri. Digigitnya bibir kuat-kuat, agar erangannya tidak sampai terdengar keluar, namun remasan dan jilatan liar di dadanya, juga kocokan di kewanitaannya tak ayal membuat erangan kecil keluar dari tenggorokannya.

“Mmm… ngggg… mmmh… ssh… hh… hh…” Sheena menggeliat gelisah. Tubuhnya meronta pelan, dan perlahan mulai menggelinjang tertahan saat jari Si Negro mulai keluar masuk liangnya yang banjir.

“Mmmh! Mmmh!” Sheena menggeleng-geleng panik, menahan geli yang memenuhi selangkangannya.

“Santai aja, Non… nikmatin aje…” Si Negro merogoh lebih dalam lagi.

“Jangan… mmmh… jangan di situ… aaah… aaaakh!” Sheena mendadak menjerit, sepasang matanya membeliak, jari Si Negro kini mengusapi g-spotnya, membuatnya blingsatan tak karuan. “Mmmh! Aaaakkkh!”

Setelah itu Sheena tidak ingat apa-apa lagi, yang ia rasakan hanyalah gelombang geli yang mendadak melanda, membuat sekujur tubuhnya menggigil, dan bibir sensualnya melolong ke udara.

Kepalanya terasa ringan dan pandangannya memudar. Ia hanya mendengar suara tawa puas di sekelilingnya. Sheena mengerjap lemah, dadanya naik turun terengah. Tanpa disadari, boxer-nya kini sudah tercampak entah kemana. Sheena setengah telanjang, tinggal kaus dan bra yang disingkap hingga leher.

Sheena memandangi orang-orang di sekelilingnya yang melihatnya dengan tatapan mesum. Cewek tomboy itu mengerang lemah, “K-kalian m-mau… a-apa… lagi…” Sheena mengerjap-ngerjap takut, karena kakinya dibuka lebar, hingga tungkai-tungkai mengangkang dan menampakkan belahan kewanitaan yang tembem dan merekah.

“J-jangan… please...” Sheena terengah, mengiba kepada Si Negro yang sudah telanjang bulat dan berlutut di antara kedua pahanya yang dikuak paksa.

“Habis ini hutang-hutang lu lunas, Non… Lunas…” Ia menambahkan.

Perlahan air mata Sheena menitik di pipi ketika dirasakannya kejantanan Si Negro menggerus pelan belahan kewanitaannya.

“J-jangan… jangaaan….” tangis Sheena memecah, kali ini cewek tomboi itu hanya bisa terisak pelan ketika dirinya dinodai. Kejantanan Si Negro perlahan memasuki liang kewanitaannya.

“Uuuh…“ Si Negro melenguh saat mulai mendorong pinggulnya, membuat Sheena mengejan kesakitan karena kewanitaannya dipenuhi oleh kejantanan berukuran jumbo yang tebal dan berurat. “Uooooh… meki ente sedap banget, neng….” Si Negro berkata, dan disambut tawa Si Rambo.

Sheena memejam saat Si Negro mulai memompa. Payudara Sheena yang bulat besar berguncang-guncang seiring ayunan pinggul Si Negro, dan segera diremas dan dicupang oleh Si Rambo.

Sheena merintih, antara kesakitan dan harga dirinya yang direnggut, tapi pemerkosanya seperti tidak peduli, malah mendaratkan remasan di sekujur tubuhnya yang berkeringat seksi.

“Sedap banget, Nooon… Sedaaaaap…” Si Negro menceracau tidak jelas dengan keringat yang menetes-netes. Pinggulnya naik turun cepat, menghujam sekuat tenaga ke tubuh Sheena yang tergolek pasrah.

“Aaaah… aaaakh… hh… h…” Sheena membeliak, berteriak tanpa suara saat kejantanan Si Negro menghentak hingga ujung rahim. Kejantanan khas ras Negroid itu memenuhi kewanitaannya dengan sensasi perih sekaligus geli yang membuat erangan kecil keluar dari sela-sela tangisnya.

“Hah… hh… hh… ah… ah… aaaah…” Sheena tersengal, nafasnya perlahan mendesah seiring ayunan kejantanan yang masuk keluar dari liang kenikmatannya yang dipenuhi cairan cinta. “Sleppph… sleeeph… plak… Plak… slppppph…” terdengar suara paha yang saling beradu , berpadu dengan suara lendir yang berkecipak dan meleleh-leleh di lantai.

Genjotan Si Negro semakin kencang saja, dengan semangatnya ia memperkosa Sheena sambil menciumi lehernya dengan bibir yang diliputi kumis. Cewek manis itu hanya meronta lemah, sekujur tubuhnya seperti kehilangan tenaga… Ia hanya bisa menatap dengan mata sayu yang sembab oleh air mata.

15 menit Sheena diperkosa dan digerayangi, hingga akhirnya Si Negro melengguh kencang, sebelum cepat-cepat mencabut kejantanannya. “Uuuuuuh…”

Cairan cinta si cewek tomboy masih menetes-netes ketika preman itu cepat-cepat mengangkang di atas dada Sheena, menjepitkan kejantanannya di antara bongkahan kenyal yang kini dipenuhi cupangan.

“Ooooh… ooooh…” Si Negro mencengkeram dada Sheena, memaju mundurkan pantatnya sambil melengguh tidak jelas,. Payudara Sheena yang besar diremas, dan dihimpitkan ke arah kejantanan yang belepotan lendir.

“Aaah…” Sheena mengerang pelan dengan wajah memerah, membuat Si Negro semakin bernafsu.

“Neng, lo cakep… banget… ooooh… ooooh…“ Si Negro merem melek keenakan, punggungnya melengkung-lengkung nikmat. ”Oooooh…” Si Negro kemudian melenguh kencang, kejantanannya berkedut dan memuntahkan cairan kental.

“Aaaaa!” Sheena memekik kaget, saat cairan kental putih memuncrat ke wajah dan payudaranya.

Si Negro tersenyum keji, menempelkan kejantanannya di bibir Sheena, memaksa Cewek Tomboi itu menjilati lelehan sperma-nya. Sheena menggeleng-geleng jijik, namun rambutnya segera dijambak dan bibirnya dijejali dengan kejantanan yang mulai melemas.

Sheena meronta, namun tubuhnya kembali dipegangi dan mulutnya dipaksa membuka.

“Mmmmh… mmmhh…” Sheena menggeleng-geleng panik, kejantanan berurat itu memenuhi mulutnya, dan cairan kental melelehi bibirnya.

Sheena histeris, meronta lebih kuat dan lebih kuat lagi… hingga…

“BANGSAAAT!” Si Negro mendadak menjerit.

“Bruaaagh!” Sebuah Bogem mendarat di wajah Sheena, membuat wanita itu terhuyung. Bogem kedua mendarat di perutnya hingga cewek tomboi itu mengaduh, kejang-kejang di lantai berdebu, namun sudut bibir Sheena tersenyum puas, melihat Si Negro nampak kesakitan memegangi kemaluannya, mengaduh sambil mengeluarkan sumpah serapah.

“ANJING!” Si Rambo melayangkan tendangan ke perut Sheena yang sudah tak berdaya, disusul bogem mentah ke wajahnya… Sheena hanya bisa mengerang, dipukuli bertubi-tubi.

“LONTEEEE! KONTOL GUE! KONTOL GUE!” Si Negro gelap mata, ia kalap dan mengambil kursi lalu dihantamkannya ke kepala Sheena.

“BRRRUUAAAAAAK!”

Darah segar mengalir dari kepala Sheena, dan perempuan itu merasakan pandangannya makin lama-makin buram dan mengabur…

Setelah itu, Sheena tidak ingat apa-apa lagi, yang ada hanyalah segala kenangannya yang berputar seperti proyektor film 8mm…

Saat ia makan sate berdua dengan Ava…

Ketika bercanda di sepanjang pematang sawah bersamanya…

Dan juga, pelukan terakhir yang diberikan Ava…

= = = = = = = = = = =​

Dalam sebuah dongeng, pembaca tentu mengharap Sang Puteri memperoleh akhir yang bahagia bersama Sang Pangeran…

Tapi Sheena tahu, dirinya bukan Puteri, bukan Bidadari…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada… 

 

Fragmen ???
Limbo

“Lama banget, aku udah nunggu kamu dari tadi,” kata Awan.

“Maaf-maaf… hehehe, kamu jadi menunggu lama.” Sheena tersenyum manis, menutup buku sketsanya.

To Be Continued