. Nirwana Part 54 | Kisah Malam

Nirwana Part 54

0
149

Nirwana Part 54

The Unspoken

Hanya hening pagi dan desahan nafas berat yang terdengar ketika Sheena memandangi tabung kecil di telapak tangannya. Mendung hitam bergulung makin tebal memayungi perkampungan padat yang dibelah sungai Badung. Hujan di daerah hulu nampaknya membuat permukaan air beriak deras dan keruh.

Sheena melanjutkan kegiatannya tanpa bersuara, mengepak pakaian dan peralatan lukisnya ke dalam tas ransel karier besar, hingga yang tersisa di dalam bilik sempit itu hanya sebuah amplop cokelat dan tabung kecil yang digenggamnya sedari tadi.

“Elu yakin, Na?”

Sheena mengangkat bahu. “Jujur. Enggak.”

Dirinya memiliki hutang pada lintah darat, Sheena belum lupa akan hal itu. Boss Jay, seorang pengusaha hitam yang membawahi ‘koperasi’ tempatnya berhutang adalah tokoh dunia hitam yang disegani di Jakarta. Terakhir kali kedai tatonya diobrak-abrik oleh preman-preman suruhan Sang Godfather. Itu pula yang membuat Sheena terpaksa bersembunyi di tempat Pak De.

Selama 6 bulan, Sheena mengisi sedikit-demi sedikit pundi-pundinya melalui honor model lukisan Sang Maestro. Hingga kini perempuan berambut pendek itu bisa menimbang-nimbang amplop tebal di tangannya. Dan ia hanya berharap, semoga segepok uang di dalamnya cukup untuk melunasi hutang-hutang yang semakin hari semakin berbunga.

“Tapi, setelah peristiwa kemaren… apa elu pikir mereka bakal ngelepasin elu begitu aja? Lagian elu punya hutang main kabur aja,” Bob berkata sambil menggaruk-garuk rambut gimbalnya.

“Terus, gue harus gimana, Bob? Kabur lagi? Gue udah capek terus-terusan melarikan diri.”

Sheena meletakkan rol film itu di atas meja. 10 tahun sudah dirinya melarikan diri dari masa lalu, dan benda itu adalah penyangkalan terakhir Sang Pengukir Perih atas rasa sakit yang selalu membuntuti, mengikuti.

“Bob, siang nanti gue mau ke kantor mereka, mau bayar hutang-hutang gue.” Sheena menelan ludah. “Kalau misalnya ada apa-apa sama gue, tolong kasih rol film itu ke Ava.”

“Na, ah! Elu jangan ngomong ngawur, ah…,” sambar Bob cepat.

Sheena tersenyum getir. Mendung gelap yang kian menggantung mulai mencurahkan jutaan rintik hujan. “Hidup ini nggak lama, Bob… kita semua cuma mampir…” Sheena berkata, dan langit seketika berguruh, mengamini.

Fragmen 55
The Unspoken

Suara guruh terdengar menggelegar, seperti overture sebelum langit mulai memainkan orkestranya. Rintik gerimis yang sedari pagi memayungi desa kecil di lereng gunung itu kini digenapi dengan hujan deras yang membentuk tirai kelabu, menjadikan bukit hijau di hadapan Ava hanya diwarnai dalam dua warna, monokrom.

Sang seniman muda duduk di atas kursi rotan, memandangi langit dan hujan yang semakin deras turun. Tangannya bergerak lincah di atas buku sketsa, membuat garis-garis dan arsiran pensil arang di atas kertas putih.

“Gus [SUP]([/SUP][SUP]1[/SUP][SUP])[/SUP], silahkan diminum kopinya.” Seorang laki-laki paruh Baya meletakkan secangkir kopi, juga sepiring pisang goreng dengan asap yang masih mengepul di atas meja rotan. “Ini kopi Luwak, pokoknya dijamin jaen[SUP](2)[/SUP],” Ia menambahkan.

Ava tersenyum kecil, merasa sungkan diperlakukan seperti itu. “Suksma[SUP](3)[/SUP], pak…”

(1) Gus: Panggilan untuk anak laki-laki
(2) Jaen: Enak
(3) Suksma: Terima Kasih

“Jangan sungkan-sungkan, kamu kan sudah masuk jadi anggota keluarga kami… Ngomong-ngomong, Indira mana ya?”

“Masih di kamar,” Ava berkata pelan, menghela nafas berat. Melihat bagaimana keluarga Indira menerimanya, membuatnya berpikir bahwa dirinya mungkin sudah melangkah terlalu jauh.

“Saya pamit dulu, Gus…” Bapak itu berkata, sebelum mohon diri dan berbalik pergi. Meninggalkannya dengan wangi kopi dan sekelumit rasa bersalah.

Sembari menunggu, Ava menghirup campuran rasa pahit, manis, dan asam sambil memandangi leretan pohon pinus di kejauhan. Uap panas kopi menerpa wajahnya, berpadu satu dengan dingin angin pegunungan yang berhembus pelan dari balik rintik hujan.

Ava menatap sendu ke arah langit, awan, dan hujan. Dan di antara keheningan yang kian memekakkan, perlahan ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang, sebuah kepingan yang tak lengkap.

Kadang kita menyadari sesuatu, justru di saat kita kehilangannya.

Atau mungkin kita menemukan sesuatu, namun terlambat menyadari.

= = = = = = = = = = =​

 

Masihkah langit mendung di bumi seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?

Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita
Sebab semua telah terbang bersama kereta-
ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi
ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih…

Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Dari mana aku tak mungkin lagi kembali…

Sheena menatap sendu ke arah langit, awan, dan hujan. Dan di antara kesunyian yang kian memuakkan, Sheena menyadari, bahwa setelah ini mungkin ia tidak bisa lagi kembali…

Angkot yang ditumpanginya berjalan perlahan menuju satu tujuan tanpa bisa berbalik lagi.

Sedikit ragu, Sheena akhirnya menekan tuts telepon selular-nya, hingga menemukan satu nama. Sejenak, ia menarik nafas panjang sebelum memutuskan menekan tombol hijau, mendengarkan nada tunggu.

= = = = = = = = = = =​

Blackberry milik Indira bergetar-getar di atas meja, hingga Ava yang asyik menenggak kopi di sebelahnya sedikit tersentak.

“Indiraaaa! Ada telepoooon!” Ava berkata, setengah berteriak kepada Indira yang sedang berada di dalam kamar.

“Dira masih pakai bajuuu! Angkatin ajaaa!” dari dalam, Indira membalas, tak kalah keras.

Ava menghela nafas, hendak beranjak dari tempat duduknya, namun ponsel itu keburu berhenti bergetar.

= = = = = = = = = = =​

Sheena menghela nafas, sebelum kembali menekan nomor yang sama. Wanita itu memandangi rintik-rintik hujan yang menetes sambil menggigit-gigit bibir bawahnya, cemas karena panggilan teleponnya tak juga diangkat.

= = = = = = = = = = =​

Blackberry itu kembali bergetar. Ava mengernyit, melihat panggilan yang hanya berupa nomor. Merasa terganggu, akhirnya Ava mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

Ada jeda sedetik, sebelum suara di seberang menyahut.

Jantung Ava seperti berhenti berdetak, butuh waktu beberapa detik untuk menyadari siapa yang menelpon kekasihnya. “I-Indira lagi mandi, a-ada apa…?” agak terbata, Ava menjawab.

“Eng-enggak, eng-enggak apa-apa.. Ini Ava?”

“I-ya… Ini… ”

“Dewa

Kembali hening.

“Ada apa?” Ava berkata datar.

“Eng-enggak apa-apa… anu… eh… em… mau… eh… Ngucapin selamat hari raya…“

“Oh, nanti saya sampaikan…”

“Ava…”

“Ya?” Ava terdiam lama, mengira-ngira apalagi yang akan dikatakan Dewa.

= = = = = = = = = = =​

Dewa menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ia memutuskan menekan tombol merah, mengakhiri panggilan itu.

Pemuda tampan itu menghela nafasnya, memandangi layar ponsel. Nama “My Angel.” masih berkedip redup, sebelum perlahan memadam. Ia sungguh tidak menyangka, bahwa yang mengangkat teleponnya adalah Ava -yang akhir-akhir ini selalu muncul di setiap tweet dan status FB Indira.

Dewa memainkan stetoskop yang tergeletak di samping kalender meja, matanya tertuju pada tanggal 15 Februari yang dilingkari –Ulang tahun Indira. Dewa tersenyum getir, ia tahu di mata Indira kesalahannya sudah terlampau besar.

Ia juga tahu, bilamana hidup adalah panggung sandiwara, maka dirinya adalah tokoh antagonis, Rahwana.

Lakon yang tak ada satupun penonton yang menginginkannya memperoleh akhir bahagia. Tapi tahukah kalian? tak akan ada terang, tanpa adanya kegelapan.

Bersambung

Daftar Part