. Nirwana Part 53 | Kisah Malam

Nirwana Part 53

0
146

Nirwana Part 53

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah,
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak,
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak
kaki yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif,
dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Berpuluh kilometer dari tempat itu, langit nampak mendung meski hujan belum juga turun. Awan yang berwarna kelabu memayungi Tukad Badung yang beriak keruh dan perkampungan padat yang terletak di kanan-kirinya. Beberapa pemancing yang sedari pagi duduk-duduk di bantaran kali yang cukup asri segera berteduh di bawah atap bendungan.

Adalah Kepaon, perkampungan Islam terbesar di kota Denpasar yang terletak di sisi kanan dan kiri sungai terpanjang di Pulau Dewata. Berada di daerah delta sungai, menjadikan tempat ini sebagai satu-satunya tempat di mana engkau bisa melihat hamparan persawahan di kota Denpasar yang kian sesak dari tahun ke tahun.

Seorang pria kurus berambut gimbal berjalan cepat-cepat, menghindari rintik gerimis yang mulai turun di sepanjang gang kecil yang dipenuhi leretan rumah kost yang berjajar rapat.

“Bob!” Sheena melambai dari lantai dua sebuah rumah beratap seng, membuat Bob menghela nafas lega dan bergegas menghampirinya.

“Kampret, nemu juga alamatnya.” Bob mengomel sambil menyerahkan bungkusan berisi nasi bungkus ke arah Sheena. “Lagian buat apa sih pindah? Padahal elu udah enak di Ubud, jadi murid pelukis terkenal, dan…”

“Gue nggak bisa ngerepotin mereka lebih banyak, Bob,” cepat Sheena memotong

Bob hanya bisa mengelus dada melihat hidup sahabatnya yang kacau.

Sheena tercengir pahit, meletakkan bungkusan nasi di atas meja kecil dengan berbagai macam barang.

“Hah, ini kan?’ Bob tersentak ketika melihat benda kecil, tergeletak di antara alat lukis.

“Bob! A-apa sih!” Sheena cepat-cepat merebut silinder plastik berisi rol film dari tangan Bob.

“Jangan bilang ini rol film yang waktu itu.”

Sheena tidak menyahut, hanya menggenggam benda kecil itu, erat-erat.

“Jadi bener, itu rol film yang itu?” Bob terkekeh, “Gue kira rol itu udah lu cuci cetak.”

Sheena memainkan tabung plastik itu di ujung jarinya, berkata lirih, “Awan nakal ya, Bob. Dia bilang kameranya nggak ada filmnya…”

Sheena kembali teringat saat dirinya dan sahabatnya yang sudah tiada, di Sekretariat Klub Jurnalistik. Awan mengutak-atik kamera dan sesekali memotret-motret Sheena. Lampu blitz berkilat-kilat di wajah Sheena yang sedang sibuk menggambar komik untuk majalah sekolah.

“Ih, Awan! Apaan sih!”

“Ye, geer! Gak ada film-nya ini! Cuma ngetes fokus kameranya Bli Suar!”

“Hehe…”

“Cocok!” guman Awan.

“Cocok napa?”

“Cocok jadi model! Gantiin Kak Luna.”

“Ngejek YAH!”

“Eh, serius nih!” Awan mendekat, melepas kacamata Sheena. “Nah, gini kan cakep…” kata Awan sambil memperhatikan wajah Sheena yang sangat manis.

Sheena tersipu sambil memainkan rambutnya. “Awan, kamu serius aku cocok jadi model?”

“Dua rius! Kamu lebih natural dari Kak Luna!”

Sheena remaja terkikik.

“Kenapa?”

“Kayaknya mimpinya ketinggian deh.”

“Lho, apa salahnya punya mimpi?”

Sheena Remaja berbinar-binar menyaksikan Awan yang terus mengabadikan senyumnya.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Sheena menatap tabung kecil itu lekat-lekat, kenangan terakhir dari sahabatnya. “Ternyata kamera itu ada isinya…”

Bob terkekeh. “Dia memang gitu orangnya… cuci cetak, lah! Gue pengin lihat lu pas SMA, rambut potong model bob, pakai kacamata.” Bob tergelak sebelum ditonjok Sheena.

“Belum saatnya, Bob…” Sheena menggenggam benda itu erat.

“10 tahun udah lewat, Na…”

“Pasti… suatu saat aku bakal cetak foto ini… kalau sudah menemukan tukang cuci cetak yang tepat.”

“Tukang cetak foto? Maksudmu?”

Sheena mengangkat bahu. Ia tak tahu kenapa dirinya tiba-tiba memandangi langit yang mendung dan hujan yang tak henti menetes…

= = = = = = = = = = = = = = =​

Ava tidak tahu kenapa pagi ini tiba-tiba dirinya memandangi langit yang mendung, dan hujan yang tak henti menetes dari balik pohon pinus. Langit dan hujan, entah kenapa pemandangan ini nampak begitu familiar. Membuat jiwanya tenang sekaligus diliputi perasaan rindu yang ia tidak tahu dari mana muasalnya.

Jiwa seniman Ava bangkit tiba-tiba. Hujan yang tak henti menitik mengalirkan arus inspirasi ke dalam benaknya. Sang Pelukis Muda segera mengambil buku sketsa dari dalam ranselnya dan mulai melukis di bale-bale. Sampai sebuah lipatan kertas yang disimpannya di sela halaman terjatuh tiba-tiba ―sketsa yang ditinggalkan Sheena untuknya.

Hujan turun deras. Ava menghela nafas. Dipandanginya sketsa itu dan senyum Sheena yang tertinggal di atas kertas. “―aku akan menemukan langitku

Indira berjingkat cepat menghindari hujan dari kejauhan, membawa nampan berisi kopi, yang mati-matian ditutupinya agar tak tertetesi hujan.

Cepat-cepat Ava menyimpan kembali kenangan terakhir itu dalam lembar terdalam buku sketsa, sebelum tersenyum dan menyambut Indira yang menghambur ke arahnya.

“Suamiku sayang, mama bikinkan kopi nih…” Indira berkata dengan wajah cerah dan mata yang berbinar-binar.

Ava tak menyahut, hanya membalas senyum itu dan membiarkan Indira beringsut manja ke dalam dekapannya.

Ava hanya bisa berharap Sheena menemukan langitnya, berharap sahabatnya bisa kembali tersenyum seperti senyum Indira yang merekah saat ini.

Kita semua hanya bisa berharap, dan bermimpi…

To Be Continued