. Nirwana Part 52 | Kisah Malam

Nirwana Part 52

0
142

Nirwana Part 52

Have You Ever Seen The Rain?

Langit berwarna kelabu. Penghujung tahun 2012 membuat hujan masih turun sesekali. Mendung gelap mengendapkan kabut dan udara dingin yang merayap turun dari puncak gunung di kejauhan.

Ava menyeka peluh di dahi. Temperatur udara sepertinya tak mampu mencegah kelejar keringatnya berproduksi. Berkali-kali pemuda itu mengibas-ngibas kausnya yang terasa gerah dan lengket, hingga tanpa sadar langkahnya terhenti pada bangunan batu bata merah yang tersembunyi di tengah kebun kopi. Ava melepas headset dari telinga, dan indera pendengarannya segera diserbu dengan suara gemericik air dari kejauhan.

Penasaran. Ava melangkah hati-hati melewati parit yang dialiri air jernih, memasuki gerbang batu yang dipenuhi lumut dan tertutup semak-semak.

Pemuda itu sungguh tak menyangka, bahwa akan disambut dengan pemandangan menakjubkan: bilik-bilik dengan pancuran berukir yang tak henti mengalir, ditampung dari mata air di dekat situ. Dinding batu bata yang sudah lapuk memagari sekelilingnya, memisahkan tempat mandi laki-laki dan perempuan. Sementara atapnya dibiarkan terbuka dan dipayungi daun kopi dan rimbun pohon pinus.

Ava mencoba meraupkan air bening itu ke wajahnya, dan seketika itu juga saraf-saraf sensorinya segera dirambati sensasi segar yang membuatnya ingin segera menceburkan diri ke dalam pancuran.

Ava melongok ke sekeliling. Sepi. Mendung yang menggantung sepertinya membuat penduduk desa kebanyakan memilih berdiam diri di dalam rumah ketimbang berladang.

Tanpa pikir panjang, segera Ava melucuti pakaiannya, melipatnya rapi di dalam ceruk batu agar tak terkena hujan. Semenjak tinggal di Ubud, pemuda itu nampaknya mulai menikmati mandi di tempat yang eksotis seperti ini. Ava segera membasuh tubuh telanjangnya sambil menandak-nandak dan bernyanyi tidak jelas, hanya demi menahan serbuan dingin ribuan galon air yang diguyurkan di atas kepalanya.

Ava memejamkan mata, untuk sesaat ia seperti tidak berada di bumi.

“Hey!” suara merdu menjerit dari arah gerbang batu.

Sesosok bidadari berdiri di atas batu didekatnya. Bidadari itu memainkan ujung rambutnya yang hitam kecoklatan, dengan bibir mungil yang pura-pura cemberut

“Ava? ngapain kamu di sini?”

“Jualan syomai! Eh, ya mandi, lah!” Ava menjawab asal.

Indira terkikik. “Ini kan tempat mandiku!”

“Ye, nggak ada tulisannya, kok!” belot Ava. Juga, dengan senyum dikulum.

“Masih inget aja, siiih!” Gemas, Indira mencubit pinggang kekasihnya.

“Kamu sendiri, ngapain ke sini?” tanya Ava balik, lalu dengan cuek menggosok-gosok dada dan punggungnya. Tinggal di tempat Pak De, agaknya membuat anak itu benar-benar terbiasa dengan ketelanjangan.

“Mandi, lah!”

“Di dalam kan sudah ada kamar mandi!”

“Beda, tahu! Suasananya.”

Indira lalu menjelaskan bahwa tempat ini adalah bilik mandi keluarga yang sudah jarang digunakan. Semenjak Oom Mantra membangun kamar mandi modern di rumah utama, tak ada lagi yang menggunakan tempat itu, kecuali Indira.

“Kayanya deja vu yah, sama dialognya,” sahut Ava sambil terkekeh-kekeh.

Indira tersenyum lebar, menyadari bahwa pemuda tengik yang selama ini biasa diajaknya berseteru kini telah resmi berstatus kekasihnya. Dalam diam, benak Indira mengenang pertengkaran-pertengkaran konyol sewaktu sang pemuda pertama kali tinggal di rumahnya. Betapa cepat waktu berlalu? batin Indira.

“Heh. Ngapain senyum-senyum sendiri? Awas ngiler.”

Tawa Indira segera menyembur. “Idih, sok ganteng.”

“Wo jelas, pacarnya siapa dulu.”

Indira menjawab dengan juluran lidah di atas wajahnya yang lucu, lalu dengan santainya melepas satu demi satu pakaiannya.

“E’et dah!” Ava melotot melihat kelakuan Indira. “Dasar bocah nekat! Nanti dilihat sama orang, dikiranya macem-macem…”

“Ih, masa nggak boleh mandi sama tunangan sendiri…” Indira memberengut, sebelum melangkah santai ke arah pancuran di sebelah Ava. “Dingiiiiiin…” Indira menjerit dengan ekspresi jenaka, berlonjakan lucu saat air dingin membasuh tubuh telanjangnya.

Ava hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah kekanakan Indira yang bersenandung sambil menyabuni ketiak dan lekuk tubuh dengan cueknya.

“Eh iya, bagi sabun, dong!” Ava berkata (pura-pura) cuek.

“Bentaaar!” Indira membasuh buih sabun di tubuhnya terlebih dahulu, “Nih, sabunnya, sayang…” Indira berkata, manja.

“Hehe.. M-makasih…” Hati Ava ketar-ketir tak karuan, mendengar Indira memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.

“Ava sayang, mau disabunin?” Indira meliriknya, sambil tersenyum penuh arti.

Sang Pemuda tertegun lama, berupaya menyadari bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, namun belum sempat ia mejawab, tahu-tahu saja pundaknya tiba-tiba diusap dan disabuni lembut.

Indira tersenyum manis sambil mengusap dada dan punggung kekasihnya dengan telaten.

Dada Ava mendadak bergetar, tidak karena melihat Indira yang telanjang, tapi karena merasakan kasih dari setiap sentuhan Indira.

Ava tersenyum, sebelum melingkarkan tangan kirinya di pinggang Indira, sedang sebelah tangannya meraih dagu kekasihnya, mengecupnya lembut.

Indira tersipu, menyambut pagutan Ava sambil mendekap pemuda itu erat, seolah tak ingin kehilangan. Dalam deru air pancuran, sepasang insan itu saling berpagutan.

“Mmmmh…” Ava dan Indira saling melumat, sementara langit berguruh pelan, mencurahkan gerimis tipis yang membasahi tempat itu.

Ava menyambut lidah Indira yang membelai lidahnya, hingga lidah mereka saling membelit, saling membelai. Indira membiarkan Ava meremasi payudara dan pantatnya, sambil mengeluarkan lengguhan-lengguhan erotis dalam lumatan kekasihnya.

Indira merasakan ada sesuatu yang berdiri tegak di bawah sana. Sang gadis juga merasakan ujung putingnya mengeras dan semakin sensisif saat bergesekan dengan dada sang peuda yang berbulu. Desahan birahi mencelat dari bibir ranum Indira, selangkangannya semakin gatal saat kejantanan kekasihnya yang tegak bergerak-gerak di bawah sana.

Indira melingkarkan lengannya di pundak kekasihnya, kemudian tersenyum dan mulai menciumi leher yang dipenuhi dengan bulir air. Perlahan, bibir Indira yang lembut hangat melumat pelan kulit Ava yang basah, sementara tangannya sibuk meremas pantat Ava, gemas.

“Ummh…” Giliran Ava yang mengerang tertahan. Ciuman Indira semakin lama semakin turun sambil disertai gigitan tipis di sekujur kulitnya.

Dada Ava naik turun cepat, jantungnya berdetak seperti hendak copot mendapati bidadari mungil itu berlutut di antara kedua pahanya. Indira mendongak ke arah Ava, memberikan senyumnya yang paling manis, sebelum mengecup ujung kejantanan kekasihnya penuh kasih. Jemarinya yang lentik membelai sekujur batang dan buah zakar Ava, sambil terus menciumi kejantanan sang pemuda dari ujung hingga pangkal.

Ava melengguh pelan, sekujur otot-ototnya mendadak lemas hingga ia terpaksa bersandar pada pinggiran dinding pancuran yang meluap-luap ke atas pundaknya.
Dengan telaten, Indira menjilati batang kejantanan Ava. Berawal jilatan lucu pada ujung kejantanan Ava, dan perlahan menjelma menjadi jilatan liar yang bergerak cepat, berputar-putar sepanjang batangnya. Ava mengerang, menegang sejadi-jadinya berusaha menahan diri agar tak keluar duluan, karena sekarang Indira sedang asyik menjilati selangkangannya, mengulum buah zakarnya dengan sepasang bibir yang sensual, menggoda.

“Suka?” Indira bertanya, sambil tersenyum menggoda.

Ava tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Indira mengikik jenaka, sebelum memasukkan kejantanan Ava ke dalam rongga mulutnya.

Ava memejam, menahan geli. Perlahan dirinya seperti dihisap ke dalam rongga hangat, yang berdenyut-denyut nikmat. Indira menahan nafas, kejantanan Ava nampaknya terlalu besar bagi mulutnya yang kecil mungil, hingga ia tersedak sesekali ketika ujung kejantanan Ava menohok sampai kerongkongannya.

“Ummh… slerpp… emm… mmmh…” Indira mulai menggeram tidak jelas, saat ia mulai menggerakkan kepalanya mundur maju. Seketika itu juga, tubuh Ava seperti dipenuhi dengan rasa nikmat yang meledak-ledak!

Di langit guruh menggelegar, sebelum air hujan dicurahkan dari puncaknya membasahi tubuh telanjang sepasang kekasih yang makin larut daam permainan birahi!

“Uooohhhh… aaaah… unnnnghhhh….” Ava mulai berteriak pelan. Bibir Indira yang mungil terasa nikmat sekali, melumat dan menyedot kejantanannya. Terlebih lagi, saat ia melirik ke bawah: remaja blasteran dengan tubuh telanjang, dengan mulut penuh, mencoba tersenyum ke arahnya.

“Indira… aauuuh…hhngggghhh,,,,” Ava memejam, dadanya membusung-busung menikmati setiap lumatan Indira pada kejantanannya. Hangat, geli, ngilu, berpadu menjadi satu. Sekujur tubuhnya seperti disetrum dengan tegangan tingkat tinggi, hingga tubuhnya menegang, menggelinjang, dan bibirnya menceracau tidak jelas.

Gerakan kepala Indira semakin cepat, maju mundur beringas, dengan lidah yang menggeliat-geliat, membelai bagian bawah kejantanan Ava, membuat Ava meradang sejadi-jadinya. Desahan Ava menggema ke dinding bata sambil ditimpali deru air hujan yang tak henti mengucur.

“I-indira.. a-ku.. uh.. u-udah mau… Oooh…” Ava berteriak, megap-megap seperti kehabisan udara.

“Ummm… sllrpp… sleph… umhhhh…” Indira malah semakin bersemangat dan melumat kejantanan Ava, tidak peduli hujan bertambah deras dan membasahi tubuh keduanya.

“Indira… Aku…” Ava tidak menyelesaikan kalimatnya, suaranya berakhir dalam erangan tanpa suara bersamaan dengan pinggulnya yang mengejang, dan cairan cintanya yang meledak dalam mulut Indira.

“Umm!” Agak terkejut, namun Indira tetap menyedot kejantanan Ava, hingga cairan putih kental nampak meleleh di sela bibir mungilnya.

Untuk sesaat, hanya ada suara nafas memburu dan air hujan yang kian menderu dan bertumpahan di lantai bilik mandi.

Ava tak henti terpana dengan pemandangan di hadapannya, berlutut seorang remaja blasteran dengan wajah secantik bidadari yang sedang sibuk menelan benihnya. Bibir Indira yang mungil lucu nampak belepotan cairan putih kental yang dijilatnya sesekali.
Indira mendongak, memberikan ekspresi terimutnya kepada Ava; sepasang mata yang membeliak berbinar-binar, sehingga membuat hati sang pemuda meleleh seketika.

Ava menggamit Indira ke dalam pelukannya, mengecup bibir Indira yang masih belepotan cairan cinta. “Uuuumh…” Indira tersenyum girang, menyambut ciuman Ava dengan pagutan lembut di sekujur bibir pemuda itu.

Sepasang Insan itu saling berpagutan liar di sela suara air hujan yang kian menderu, memburu. Indira membiarkan tubuhnya direngkuh ke dalam pelukan Ava, hingga dadanya yang kenyal ranum terhimpit ke dada Ava yang bidang, dan kejantanan Ava yang menegang terasa panas di atas perutnya.

Indira mendadak tersenyum, mengikik lucu.

“Kenapa?” Ava mengernyit, bingung.

“Kok masih tegang aja, sih…” Indira berkata sambil memainkan kejantanan Ava yang masih keras berdiri.

“Hehehe…” Ava hanya cengar-cengir mesum.

Indira membalas senyum Ava, sambil berjinjit dan menggesekkan selangkangannya di kejantanan Ava.

“Boleh?”

“Hu-uh…” Indira mengangguk dengan wajah penuh harap. Segera, Ava memposisikan kejantanannya menuju liang kenikmatan Indira.

Indira melingkarkan sebelah kakinya di paha Ava, sementara sepasang lengannya bergelantungan di leher Ava. Pinggulnya menandak-nandak, berusaha agar kejantanan Ava segera memasuki liangnya yang berkedut-kedut tidak sabar lagi untuk disetubuhi.

Sang pemuda menurunkan posisi tubuhnya sedikit, agak sulit melakukan penetrasi dalam posisi berdiri di lantai bilik mandi yang licin. Berulang kali kepala kejantanan Ava tergelincir menggesek klitoris Indira saat berjuang mencari jalan masuk. Sang pejantan memberikan usaha terbaiknya untuk menempatkan ujung kejantanannya pada posisi seharusnya. “Auuuh!” Hingga akhirnya sepasang mata Indira membeliak dan bibirnya menggangga tanpa suara.

“Udah pas?” Ava berbisik, nyaris tak bersuara.

“Hu-uh…” Indira mengangguk cepat dengan wajah sayu. Kejantanan Ava yang panas membara itu kini sedang bergerak membelah labianya.

Ava mendorong perlahan. Dan Indira terpaksa menutup bibirnya dengan tangan, karena kejantanan Ava segera melesak, memenuhi liang kenikmatannya dengan kejantanan yang panas dan berurat. Remaja blasteran itu mengerang nikmat, sekujur tubuhnya menegang seketika saat kejantanan Ava terbenam sepenuhnya.

Nafas Indira semakin memburu, wajahnya sayu, menikmati kejantanan yang terasa panas dan berkedut-kedut di dalam tubuhnya.

Guruh menggelegar, Ava mendadak terdiam sejenak. Deja Vu

Lama, hingga Indira bertanya, “Ava? Kok diem?”

“Enggak… enggak apa…”

Perlahan , Ava menyorongkan pinggulnya, mulai memompa dalam riuh hujan yang bercipratan. Ava melingkarkan lengan kirinya di pinggul Indira, sedang lengan kanannya meremas payudara Indira, pinggulnya maju mundur perlahan, memompa tubuh betinanya dalam posisi berdiri, menikmati lorong kenyal dan hangat, juga sensasi ngilu-nikmat yang menjalar di ujung kejantanan sampai buah zakarnya.

“Uuuh… hh… hh…” Indira mengerang pelan, erotis, namun nyaris tanpa suara. Kejantanan yang berurat itu terasa amat nikmat, bergerak masuk keluar dan bergerinjal di kewanitaannya yang kian membanjir. Indira melingkarkan sebelah kakinya lagi di pantat pejantanannya, agar batang sakti yang kini tertancap dapat menggesek tepat di titik-titik sensitifnya.

“Uooooh… uuuuh…. Enak… banngeth… dikontolin kamu…. Aaaah…” Indira menjerit heboh, dan bergelantung di tubuh Ava seperti memanjat, dengan pinggul yang ikut naik turun, menyambut kejantanan kekasihnya. Mata Indira menatap sayu, kadang membeliak, kadang memejam, berusaha menggapai puncak kenikmatan duniawi.

Sedikit sempoyongan, Ava menghenyak tubuh Indira ke dinding dengan pinggulyang menandak-nandak, ikut menyambut tubuh Indira yang bergelinjangan di pelukannya.

“Uuuuuh… Gituu… Va… iyaaaah…” Indira menjerit histeris sambil menjambak rambut sang kekasih.

“Gini?”

“Iyaaah… aaaah…”

Ava melenguh, menikmati kewanitaan Indira yang hangat dan menyedot-nyedot sedap. Sekujur tubuhnya seperti dipenuhi dengan rasa geli dan ngilu, membuat pahanya perlahan melemas, dan tubuhnya beringsut, berlutut di lantai bilik mandi.
Indira melingkarkan sepasang pahanya yang putih mulus di pinggang Ava, sebelum kembali menggenjot tubuh ranumnya, turun naik dan berputar-putar seperti hendak melubangi perut Ava yang berlutut di bawah tubuhnya.

Ava menoleh ke atas, dan segera mendapati wajah sang bidadari merona merah, bibir mungilnya membasah dan mendesah dengan wajah yang penuh gairah di bawah langit kelabu dan ribuan butir air yang membasahi tubuh telanjang mereka.
Indira segera menyergap Ava, menciumi wajah dan bibir pemuda itu.

Dua Insan itu saling pompa dan saling lumat. Setiap ciuman dan belaian diberikan dengan penuh gairah dan kasih, hingga desah nafas membaur dalam suara air, tenggelam dalam nafsu yang semakin berkecamuk.

Indira merengkuh wajah kekasihnya, membenamkannya ke dalam kenyal payudara yang ranum. Segera Ava menciumi dan melumat payudara remaja yang putih dengan puting berwarna pink itu, membuat si bidadari mungil semakin meradang, dan gerakannya semakin liar, semakin binal!

“Enaak… bangeeeth… Sssh…” Indira menceracau binal, menikmati setiap lumatan di dadanya, juga kejantanan Ava yang menohok-nohok di dalam sana.

Tak butuh waktu lama bagi Indira yang tengah dimabuk birahi untuk mencapai puncak kenikmatannya. Dalam sekejap saja, sekujur tubuhnya sudah menegang, dan bibir mungilnya mengap-menggap seperti kehabisan udara. Indira mendesis erotis, mendesah penuh gairah. “Ava… aku sudah mau… aah… aah… aaa…” Tubuh remaja blasteran itu bergerak ritmis, bergetar kencang, dengan pinggul yang menghentak-hentak ke arah kejantanan Ava. Hentakan terakhir diamini oleh lenguhan tanpa suara dan cairan squirt yang menyembur kencang membasahi kejantanan Ava.

Indira terkulai lemas, tergeletak di lantai bilik mandi dengan mata memejam dada yang naik turun, namun ia menyadari bahwa kejantanan Ava masih tegak dan bergerak-gerak di dalam sana.

“Hah… hh… hh… Ava… ah… hh… kamu… belum ya…?”

Ava tersenyum kecil, sambil terus memompa perlahan. Kekasihnya tersenyum lemah, membalas senyum Ava. Sekujur tulang Indira terasa copot, kehilangan tenaga. Dia hanya bisa pasrah, saat tubuhnya dibalik perlahan, hingga Indira berlutut dan menungging.

Indira melenguh tertahan saat kejantanan Ava kembali membelah kewanitaannya yang basah, dan pemuda itu kembali memompa tubuh telanjangnya dalam posisi menungging.

“Uuuuh… oooh… Ava… kamu… kuat… bangeth… siiih…” Indira kembali memejam dan menikmati kejantanan Ava yang masuk keluar, menggesek liar di dinding kewanitaannya yang banjir.

“Ng-nggak tahu… uhh… umh…” Ava sibuk memegangi pinggul Indira yang mantap, dan terus menghentak tubuh ranum di hadapannya. Kejantanannya terasa geli dan ngilu, namun ada sedikit perasaan mati rasa, mungkin karena orgasme pertamanya saat di-oral tadi. Ava tidak ambil peduli, ia hanya terus memompa ke dalam tubuh Indira yang tak henti berkelojotan.

“Shhh… ooouhh…. Ssssh…” Indira mendesis heboh, dibiarkannya Ava meremas-remas payudaranya dari belakang, sambil menciumi lehernya. Sengaja ditunggingkan pantatnya lagi, agar kejantanan Ava pas menggeseki tepat di atas g-spot nya.

“UUUUH… MMMMH…” Indira semakin meracau di bawah guyuran hujan, kewanitaan Indira sudah berkedut-kedut, dan ia tahu tak seberapa lama lagi dirinya akan mencapai puncak.

Hujan semakin mederu deras, dan ditingkahi erangan dan desisan erotis Indira yang berkumandang penuh gairah. Indira memejam-mejam, berusaha menghayati puncaknya yang hampir tiba.

“Ava… a-aku… nyampee… lagi… ssssh…” Indira berkata terbata dengan nafas yang tersengal. Sedetik kemudian tubuhnya menggigil nikmat, dan kewanitaannya kembali menyemburkan cairan cinta, kali ini lebih banyak dari sebelumnya hingga meleleh di buah zakar dan paha Ava.

“Sssssssh… Uuuuoooooh…” Indira mendesis, menikmati setiap desir orgasme, tubuhnya serasa remuk, tengkurap di lantai bilik mandi, namun Ava terus memompa dari belakang, menindih dan tak henti mencumbunya.

“Ummh… uh… uh…” Dinding kewanitaan Indira yang berkedut hebat, seperti menghisap sekujur tubuh Ava ke dalam pusaran kenikmatan tiada tara, paduan rasa ngilu serta geli yang datang menyeruak membuat dirinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. “Indira… aku sudah mau… nih…”

“Uuh… hh… hh…” Indira tak menyahut, bibirnya megap-megap keenakan.

“Keluarin di manaaaah?”

“Ke-keluarin di… dalam… aja… umph… ah…. Aaa…” Indira berkata, sambil mengkontraksikan dinding kewanitaannya.

“Indira! J-jangan.. nanti… ooooh…” Ava mengerang, karena kewanitaan Indira seperti mencoba melahap kejantanannya.

“Enggak apa… aah… aaah…” Indira semakin kencang mengkontraksikan otot-otot kegelnya, membuat Ava melenguh tertahan, dan pinggulnya sontak menegang, menghentak ke dalam tubuh Indira, memancarkan cairan cinta yang memenuhi rahim Sang Bidadari.

Tubuh Ava menindih, menghenyak tubuh Indira di lantai bilik mandi. Sementara hujan menderu deras, membasahi sepasang tubuh telanjang yang terengah menikmati sisa puncak kenikmatan sambil saling belai, saling kecup lembut diiringi ribuan butir air yang turun dari puncak langit.
Tubuh Ava menindih, menghenyak tubuh Indira di lantai bilik mandi. Sementara hujan menderu deras, membasahi sepasang tubuh telanjang yang terengah menikmati sisa puncak kenikmatan sambil saling belai, saling kecup lembut diiringi ribuan butir air yang turun dari puncak langit.


Yesterday, and days before,
Sun is cold and rain is hard,
I know; Been that way for all my time.
‘Til forever, on it goes
Through the circle, fast and slow,
I know; It can’t stop, I wonder.
Bersambung