. Nirwana Part 51 | Kisah Malam

Nirwana Part 51

0
147

Nirwana Part 51

Ebony and Ivory

Ebony and ivory
live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard,
oh Lord, why don’t we?

Sudah hampir jam 2 dini hari, namun Indira tak juga bisa tertidur. Kehadiran Ava di kamar itu membuat jantungnya tak henti berdebaran dan matanya tak juga terpejam. Sebenarnya Ava sudah berkeras undur diri tadi, namun Lucille berkeras agar Ava tinggal di situ, menemani Ivo dan Ony.

“Uhuk… Uhuk…” Ava terbatuk.

“Ava?” Indira berkata, setengah berbisik, karena di ujung satunya Lucille sudah tidur berselimut bedcover tebal.

Tak ada jawaban, hanya ada suara jangkrik diselang-selingi suara dengkuran yang terdengar sesekali, masuk bersama cahaya lampu taman melalui celah jendela ke dalam ruangan yang gulita.

“Ava…?” Indira berbisik tertahan sambil menggeliat, karena tiba-tiba ia merasakan ada nafas hangat yang menghembus di tengkuknya.

“Nyem… nyem…” Hanya itu jawaban yang diberikan Ava.

Indira berusaha kembali memejamkan matanya, sebelum mendadak sepasang tangan membelai pinggulnya, pelan, kemudian melingkar di perutnya. Jantungnya mendadak berdetak satu tempo lebih cepat, dan benaknya menebak-nebak apa gerangan yangsedang direncanakan si pemuda.

“Ava… ngapain… kamu…”

“Nyem… nyem… nyem…” Ava menjawab, namun tangannya yang kini melingkar di dada Indira, membuat Indira tahu Ava hanya pura-pura tidur.

“Iiiiih… Ava nakal, yah…”

Hanya ada tawa yang mengekeh sangat perlahan, dan tengkuknya dikecup pelan.

“Belum bobok?” Indira bertanya, pelan.

“Udah.”

“Kok bisa ngomong?”

“Ngelindur.” Ava menjawab asal, membuat Indira terkikik pelan, sambil mencubit pundak pemuda itu.

“E, eh! Sakit!” Ava memberontak, hingga Ony merengek, merasa terganggu. “Ssssst… nanti bangun! Ih, gimana sih..” Ava ngedumel tertahan, sedang Indira terkikik tak kalah pelan.

“Jadi gini ya, rasanya punya anak?” Indira tersenyum, membelai Ivo yang cemberut dalam tidur.

“Pengen?”

“Hu-uh,”

“Hehe..” Ava membelai rambut Indira, membuatnya tersenyum dalam gelap.

“Ava.”

“Apa?”

“Peluk dong, aku nggak bisa tidur, nih…”

“Hehehe… Sini…”

“Acik.” Indira segera beringsut ke dalam pelukan Ava, yang kemudian membungkus tubuhnya dengan kehangatan yang sangat nyaman. Indira memejam, membiarkan rambutnya diusap pelan, dan keningnya diciumi.

Dalam kegelapan, Indira mendapati lagi kebahagiaan yang dulu pernah ia dapati bersama Dewa, saat dulu ia bersama kekasihnya saling merenda mimpi dan harapan.

Pelukan Ava menggali kembali kenangan yang berusaha dikuburnya dalam dalam. Malam itu, tanpa bisa diantisipasi, nostalgia bergulir seperti air bah, dan Indira hanya bisa menempelkan bibirnya di bibir Ava, lembut, pelan.

Sedikit tersentak pada awalnya, Ava kemudian menyambut ciuman Indira yang tiba-tiba mendarat itu. Perlahan dan penuh kesungguhan Ava membelai bibir Indira yang hangat dengan bibirnya, mendekap Indira erat hingga dua insan itu saling berpagutan di kegelapan.

“Mmmmh….” Kemudian hanyalah nafas yang harum dan hangat, yang menari di wajah Ava. Pelan, dan perlahan bertambah cepat seiring lumatan dan belaian yang saling didaratkan di lekuk tubuh keduanya.

Setiap pagutan, seperti melepas simpul-simpul birahi di dada keduanya, hingga tanpa bisa dihindari, pelan tapi pasti ciuman penuh kemesraan itu menjelma menjadi lumatan dan remasan yang saling bergelut di kegelapan, di antara sepasang anak kembar yang tertidur pulas.

“Uuuuuh….” Ivo menggerung dalam tidur, membuat Ava terhenti sejenak namun kembali bergerak tatkala Indira yang ganti aktif melumat bibirnya dan meraba dadanya yang bidang.

Indira mengakrabi sensasi ini. dua orang anak kembar, serta tantenya yang tidur didekatnya membuat semua ini terlalu beresiko, namun sensasi nikmat-takut ketahuan membuatnya hanya bisa menahan nafas, menggigil nikmat saat Ava terbawa suasana dan mulai meremasi dadanya.

“Oh…” Indira menelan ludah, Ava pasti sadar kalau malam itu ia tidak mengenakan bra, hanya kaus dibalut sweater putih tebal, dan pasti…

“Menyadari itu, Ava segera merogoh ke balik sweater Indira, menjamah bukit kenyal itu.

“Ummh…” Indira memejam, menikmati tangan Ava yang hangat saat menangkup bukit ranumnya. Bidadari itu menggigit bibir bawahnya, dan mengerang pelan saat jari Ava mulai bergerak, memilin sambil terus meremas. “Ava…. Ssssh…” Indira mendesis erotis, menikmati remasan Ava, juga ciuman dan jilatan yang mendarat di telinganya.

Suara dengkuran Lucille di seberang sana, juga Ivo yang menggeliat di pelukannya membuat sensasi ini terasa beratus kali lipat di selangkangan Indira saat tangan Ava yang kini menyibak celana dalamnya, Dan ia hanya bisa menahan nafas, menutup bibirnya kuat-kuat saat Ava memijat pelan labianya, berputar-putar dan membelai lembut klitorisnya, berharap ia tidak menjerit.

Indira menggigit jarinya, matanya membeliak dan meejam, menikmati jari Ava yang kini menjelajah di liangnya yang membasah. “Sleph… sleph…” Suara lendir berkecipak sangat pelan, terdengar di sela suara dengkuran, dan desah nafas yang semakin memburu.

“Uuuh… hh… hh…” Indira mengerang pelan, erotis, namun nyaris tanpa suara. Jari Ava yang hangat itu terasa amat nikmat, bergerak masuk keluar dan bergerinjal di kewanitaannya yang banjir.

Indira terpaksa menutup bibirnya dengan telapak tangan agar erangannya tidak sampai ke telinga Lucile, sementara Ava membenamkan bibirnya di leher Indira yang basah dan kian lengket oleh keringat, mendekap Indira erat, seperti hendak melahap tubuh Bidadari itu ke dalam lumatan dan cumbuannya. Sementara Ony yang tak henti bergerak, juga Ivo yang mengingau membuat segalanya terasa begitu liar, brutal.

“Mmmh…”

“Sleph… sleph…”

“Umh… hh… hh… hh…”

Di dalam kamar yang gelap, dua Insan itu saling cumbu dan saling lumat. Setiap ciuman dan belaian diberikan dengan penuh gairah, suara nafas yang terengah membaur dalam suara dengkur, tenggelam dalam nafsu yang semakin berkecamuk.

Tubuh Indira mengejang pelan, sambil meremas selimut, pinggulnya merinding seperti mati rasa, indira bergerak erotis, menikmati puncaknya yang hampir sampai…

“Kak Indira, ngapain, sih…?” Ivo yang dipeluk Indira terbangun, mengejap-ngejap bingung, menatap wajah Indira yang memerah dan sayu.

“Enggak… enggak apa… apa… sayang… enggak apa… apa… a… a… hhhhhhh… “ Indira memejam tanpa suara, sensasi dilihat saat hendak orgasme itu melesakkan birahinya ke langit ke delapan. Membuat sekujur tubuhnya menggigil nikmat. Ia hanya bisa menggigit jarinya, sambil meremas selimut-erat-erat, agar tak menjerit dan membangunkan Lucille.

Dan Ivo hanya bisa kebingungan melihat wajah Indira yang kesakitan dan melenguh tertahan, juga wajah Ava yang pucat-pasi mengetahui tindakannya dipergoki.

Terengah-engah, Indira mengatur nafasnya, dan di antara sisa orgasme-nya Indira berkata pada ivo, “Ng-ngak- apa… apa… ng-nggak apa…” sambil membekap Ivo erat dalam pelukannya, membelai rambut anak itu agar kembali tertidur.

Indira menghela nafas, memeluk Ivo erat-erat. Sementara Ava menunggu was-was, Birahinya segera meredup, berganti rasa takut dan waspada.

Butuh berapa lama, hingga Ivo kembali terlelap, dan kedua orang itu bisa menghela nafas lega.

Indira memejamkan matanya, membiarkan Ava memeluknya dari belakang. Desir-desir orgasme yang mengalir di darahnya itu membuat perasaannya menjadi begitu nyaman, juga pelukan Ava yang mendekapnya penuh kasih….

Semuanya begitu hangat… begitu nyaman…

Dahulu ia memimpikan hal ini bersama Dewa, mungkin malam ini ia bisa kembali bermimpi…

We all know that people are the same where ever we go
There is good and bad in ev’ryone,
We learn to live, we learn to give
Each other what we need to survive together alive.

Ebony and ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, oh lord why don’t we?

= = = = = = = = = = = =​

Pagi itu Indira terbangun oleh usapan lembut di pipinya “Met Pagi…” Ava berbisik, serak karena baru terbangun.

“P-pagi…” Indira menjawab, mencoba membalas senyum Ava.

Ony menggelendot manja dipelukan Ava, sementara Ivo melungker lucu di dekapan Indira. Ava dan Indira terkikik melihat tingkah keduanya, dan Indira hanya bisa memejam saat rambutnya dibelai lembut.

Ava membuatnya berani bermimpi, bermimpi tentang rumah mungil dengan anak-anak yang berlarian mengitari pekarangan yang penuh dengan bunga, sementara dirinya menuangkan kopi untuk suaminya yang tengah asyik melukis.

Pagi itu Indira mencoba kembali bermimpi, meski ia tahu: mimpi akan berakhir pada suatu pagi yang pasti akan tiba. Indira hanya bisa memejam, sedapatnya menikmati hangat tangan Ava yang terus membelainya.

“Kita jalani sama-sama, ya…” Ava berkata.

“Sama-sama?”

“Iya… Semua butuh waktu.”

Indira tersenyum, “Kamu benar, semua butuh waktu…”

Pagi itu, suara penyeru kembali melantun dari balik langit Subuh…

“Asholatu Khoiru Minanna’um!”

Entah kenapa, kali ini suara adzan terdengar lirih, perih…

Melantun pelan dan kian memilukan…

Seperti hendak berucap selamat tinggal…

= = = = = = = = = = = =​

Puluhan kilometer dari tempat itu, Suara penyeru berkumandang dari menara Masjid Al Muhajirin di sebuah perkampungan padat di bantaran Tukad Badung, sungai yang membelah kota Denpasar.

Udara pagi yang dingin menyelinap bersama suara adzan ke dalam kost-kostan kecil di depan Masjid, membangunkan seorang wanita berambut pendek dengan tato di lengan kirinya: Sheena.

Sheena menggeliat, mengintip keluar jendela. Biasanya jam-jam segini ia sudah melihat Ava berjingkat-jingkat, melakukan pemanasan di bawah gazebo, namun pagi ini hanya ada tali jemuran dan antena yang menyeruak dari balik atap rumah yang berbaris padat, rapat.

Sheena memandang langit subuh yang berwarna hitam dengan gradasi putih samar. Helaan nafasnya membentuk kabut di jendela kusam, namun Sheena tetap membuka jendela, seperti membuka sebuah babak baru dalam perjalanan menuju Paradiso.

Pagi ini Sheena mencoba tersenyum, menggenggam erat benda kecil yang dipeluknya sepanjang malam:

Sebuah roll film.

~A word can hold the secret of the universe
and silence is the hardest thing for us to unveil~

To Be Continued