. Nirwana Part 50 | Kisah Malam

Nirwana Part 50

0
162

Nirwana Part 50

Puteri Kembar, Pelukis, dan Bayang-bayang

“Ivo! Ony! Ayo tiduuuuur! Eh, Kak Ava sama Mbok[SUP](1) [/SUP]Dira jangan diganggu!”

(1) Mbok= Sebutan untuk kakak prempuan

Terdengar teriakan Oom Mantra yang tergopoh-gopoh mengejar sepasang anak perempuan kembar berusia pra-TK, yang berlari menghambur ke arah bale-bale di mana Ava dan Indira duduk.

Dua anak kembar itu bergerandul begitu saja di kaki-kaki Ava dan Indira, berlindung dari kejaran ayahnya.

“Haduuuh… haduuuh… maafken anak saya… bikin repot saja…” Oom Mantra menarik jari Ivo yang kini mendekap Indira erat-erat. “Eh, Ivo… ayuk, sudah ditunggu tidur sama Mama dan Kak Prana.”

“Ivo mau tidur bareng sama mbok Dira aja! Kan udah lama nggak ketemu!”

“-sama Tante Lulu juga! Ony mau diceritain dongeng sama Tante Lulu!” Dua anak itu saling menambahkan, membuat ayahnya menghela nafas putus asa.

= = = = = = = = = = = =​

Ivo dan Ony namanya, sepupu Indira, anak-anak Oom Mantra. Semenjak Ava dan Indira tiba di Pegayaman, dua anak itu seolah lengket tidak mau dipisahkan dari mereka berdua. Tahun ini Ivo dan Ony baru akan masuk Taman Kanak-kanak. Semenjak kecil, mereka sudah dekat dengan Indira, terlebih karena mereka tidak memiliki kakak perempuan. Apalagi dengan kehadiran Ava dalam Galungan tahun ini, membuat mereka seperti memiliki ‘mainan’ baru.

“Ivo! Ony! Hayo, kasihan Kak Ava-nya…” Indira berseru sambil terkikik melihat Ava berjalan terhuyung, tubuhnya limbung ke sana kemari. Ava agak sulit melangkah, karena di pundaknya bergelayut seorang anak perempuan lucu, menarik-narik jenggot dan rambutnya, sementara kakinya di tarik-tarik oleh sorang anak perempuan lagi, minta giliran menunggangi Ava.

Ada beberapa kompartemen di rumah keluarga besar itu. Keluarga besar Pak De termasuk adik dan sepupu-sepupunya yang berkumpul saat perayaan Manis Galungan masing-masing mendapat jatah satu pavilliun.

“Titip anak-anak saya, ya Gek.” Oom Mantra berkata kepada Lucille. “Ivo, Ony, jangan nakal, ya!” kata Oom Mantra sebelum pamit pergi, namun tidak dipedulikan oleh Si Kembar, karena mereka keburu berlarian ke arah Lucille yang tengah membentangkan beberapa lembar bed cover dan bantal besar bercorak Indian warna-warni.

“Sudah siap dengar dongeng dari Tante Lulu?” Lucille berkata dan segera disambut dua pasang mata yang mendadak membeliak berbinar, bersiap menyaksikan Lucille si Juru Dongeng yang memulai ceritanya.

= = = = = = = = = = = =​

 

“Dua orang puteri kembar…
Keduanya begitu mirip hingga sulit dibedakan.
Hingga Pangeran yang datang, pun kebingungan…

Namun Sang Pangeran hanya bisa memilih satu
untuk dijadikan permaisurinya…

Maka diadakanlah undian dengan sekeping mata uang…

Namun di saat terakhir, kedua putri itu saling bertukar peran,

Karena Sang Kakak lebih mencintai Pelukis dari kalangan jelata daripada Pangeran Tampan….”

Lucille bergerak lincah, tangannya mengawang-awang seperti dongengnya. Kaki-kakinya melangkah seperti menari, hilir mudik sambil sesekali ditimpali senandung dari bibirnya yang tak henti berseri-seri.

Ivo dan Ony merapatkan tubuh mereka ke hangat tubuh Ava dan Indira, membiarkan tubuh mereka didekap, dan khayalan keempatnya diterbangkan jauh ke angkasa.

“Aku tak mau jadi bayang-bayang, aku tak mau Pangeran mencintai bayang-bayang…” Lucille belum menyelesaikan ceritanya, karena perlahan satu persatu dari mereka terlelap tidur.

Pandangan Ava tertumbuk pada Ivo yang bergelung kalem dalam pelukan Indira. Sejenak Ava terpana, menatap Indira yang mendadak nampak keibuan, memeluk erat dan memainkan poni Ivo, sebelum Ava akhirnya juga menyelimuti Ony yang tertidur lucu di pangkuannya.

Lucille hanya bisa tersenyum melihat polah keempat orang itu. “Cocok,” Lucille berkata, pendek.

“Hah?”

“Keluarga kecil bahagia.”

Komentar Lucille membuat wajah keduanya memerah seketika. Namun saat saling tatap, mereka mengetahui, ada kekosongan yang perlu saling diisi, dilengkapi.

Bersambung

Daftar Part