. Nirwana Part 48 | Kisah Malam

Nirwana Part 48

0
143

Nirwana Part 48

Manis Galungan di Pegayaman

Hanyalah lantun kidung, yang bercengkok dan meliuk merdu di antara pucuk-pucuk cemara. Sinar senja menyeruak dari sela dedaunan, membentuk garis-garis jingga di udara -seperti kilauan ribuan lampu sorot- yang menerangi gerak lincah beberapa penari.

Ava berdiri tak berkedip, memandang takjub ke arah penari yang meliuk, melirik-lirik, dan menggerakkan jemari. Sementara beberapa lelaki bersila khusyuk, melantunkan nyanyian yang mirip tembang kidung Wargasari –lagu pujaan yang biasa dilantunkan umat Hindu.

Ava tercenung lama, sebelum menyadari bahwa syair kidung tersebut disampaikan dalam bahasa Arab, bukan bahasa Bali atau Jawa Kuno. Malah lamat-lamat Ava bisa menangkap bahwa yang tengah dilantunkan itu adalah Shalawat, puji-pujian untuk Rasulullah SAW. Juga tak ada tetabuh gong atau gamelan, hanya rebana yang dibunyikan bertalu-talu.

“Ini tarian apa, pak?” Ava bertanya pada bapak-bapak di sebelahnya.

Bapak-bapak berpeci itu tersenyum, sebelum menjelaskan. Inilah Burde, kesenian khas Desa Pegayaman, desa kecil yang terhampar di lereng Bukit Gitgit, satu di antara jajaran pergunungan yang memagari Bali Utara dengan daerah selatan.

Sehari setelah hari raya Galungan yang biasa disebut dengan Manis Galungan, umat Hindu di Bali biasanya berkunjung ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan selamat, sekaligus mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu. Maka berangkatlah Ava menemani Lucille dan Indira, menginap semalam di Pegayaman, kampung halaman Pak De yang berhawa dingin dan dikelilingi hutan hujan tropis.

Hari ini, di antara kerumunan manusia dan dua budaya yang membaur menjadi satu padu, Ava berdiri, merenungi. Memulai sebuah babak baru dalam perjalanan panjang menuju: Paradiso.

Fragmen 49
Manis Galungan di Pegayaman

Desa Pegayaman terletak di ketinggian 900 m di atas permukaan laut, membuatnya berudara sejuk dan cocok ditanami cengkeh dan kopi. Wilayah ini ditinggali 5.600 jiwa dengan 90% di antaranya beragama Muslim, dari 10% penduduk yang beragama Hindu, salah satunya adalah keluarga besar Dewa Gede Subrata, alias Pak De, Sang Maestro.

Sore itu Indira sedang duduk di balai kayu yang dipenuhi kue kering dan sesaji, sisa perayaan Galungan sehari yang lalu. Lucille menemaninya bersantai di rumah tradisonal Bali yang masih tampak asli, terdiri dari banyak kompartemen, bale-bale, dan Pura kecil yang terpisah-pisah dan dihubungkan dengan jalan tanah.

“Gimana kabar Ajik?”

“Sehat, tadi pagi nelepon, suaranya sudah segar banget, hehe…” Indira tersenyum, memandangi hamparan hijau pohon kopi dengan bunga-bunga putih yang bertaburan di atasnya, membentang luas mengitari rumah sampai bukit kecil di ujung sana.

“Syukurlah.” Lucille, menghela nafas lega, hendak beranjak ketika beberapa anak perempuan berjilbab bunga-bunga memasuki pekarangan, berjalan takut-takut karena seekor anjing yang tak berhenti menyalak dirantai di pohon.

Indira menghampiri, anak-anak itu tersenyum lega menyodorkan sekeranjang ketupat yang masih hangat. “Kami mau ngejot, dari Pak Wayan Muhammad.” kata seorang anak yang paling lucu.

Warga Muslim menetap di sini semenjak abad ke-15, saat Raja dari Solo (Mataram Islam) menghadiahkan seekor gajah dan 80 prajurit kepada Raja Buleleng sebagai tanda persahabatan. Para prajurit dari Jawa Tengah ini kemudian ditempatkan di Desa Pegayaman untuk membentengi Puri Buleleng dari serangan raja-raja Bali Selatan. Mereka kemudian menetap dan berbaur dengan penduduk desa lainnya. Mengadopsi nama Bali, seperti ‘Wayan, Made, Ketut.’ dan juga menyerap kebudayaan Bali dalam berbagai bentuk, termasuk budaya ngejot yaitu kebiasaan membawakan makanan ataupun buah-buahan kepada pemuka masyarakat, tetangga ataupun para sahabat terutama yang beragama lain supaya ikut menikmati kebahagian dalam merayakan hari raya tertentu.

“Waaaaah… Makasiiiih…” Indira tersenyum tak kalah cerah, mencubit pipi anak itu. “Titip salam buat Pak Wayan, ya.” Indira berkata, sebelum anak-anak itu berlarian riang.

Lucille tersenyum, “Kamu berubah, Gek,” kata Lucille kepada Indira yang asyik menimang-nimang ketupat itu.

“Maksud tante?”

“Baru kali ini, tante lihat kamu tersenyum sama mereka, semenjak…”

Indira berdehem, menarik nafas panjang. “Bukan salah mereka, kan? Mereka nggak pernah meminta buat dilahirkan sebagai orang Selam[SUP](1)[/SUP]. Seperti juga kita. Orang bilang ini takdir, samsara, tapi bisa apa kita dengan itu semua?”

Lucille terlongo sejenak mendengar perkataan Indira, sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Kamu bener-bener berubah, that’s my girl!” Lucille memeluk Indira gemas.

Indira terkikik lucu, meronta jenaka dalam dekapan Lucille.

“Pasti karena Ava, makanya kamu jadi tambah dewasa…”

“Tante apaaa siiiih!” Pipi Indira memerah, namun matanya mendadak cerah melihat sosok yang tiba-tiba nampak dari kejauhan.

Ava berjalan bersama Oom Mantra, adik Pak De dan sepupu-sepupu Indira, baru saja pulang menonton latihan Burda dari Sekaa[SUP](2)[/SUP] Tari di Bale Banjar[SUP](2)[/SUP]. Oom Mantra nampak bangga melihat sosok Ava yang gagah dan nampak menonjol di antara yang lain.

Ava berjalan tegap, memasuki candi bentar batu bata yang penuh lumut dan ukiran. Sementara langit senja di belakangnya perlahan meredup, berganti langit petang yang diiringi Adzan Maghrib dari Masjid kecil di samping Bale Banjar.

(1) Selam: Islam
(2) Sekaa: Kelompok/perkumpulan
(3) Bale Banjar: Balai Dusun/dukuh, tempat berkumpul warga untuk mengadakan pertemuan-pertemuan atau latihan kesenian
= = = = = = = = = = = =​

Malam harinya, Ava ikut makan malam bersama keluarga besar Indira. Asap hangat mengepul dari wadah nasi yang terbuat dari bambu, sementara di sebelahnya ada piring besar berisi ayam yang disuwir dengan bumbu merah dan minyak yang menetes di pinggirnya. Di piring lain ada sambal bali yang hanya cabai dan bawang putih dicincang dan disiram minyak panas, aromanya menelusup begitu saja ke hidung Ava, membuat air liurnya menetes.

Kehadiran Lucille dan Ava di kampung Indira membawa warna tersendiri pada Manis Galungan di kampung Indira kali ini. Terlebih lagi, setelah Lucille memperlihatkan foto lukisan Ava dari i-phone-nya. Ava dianggap sebagai The Next Maestro, Mesias yang akan melanjutkan kedigdayaan dan nama besar Pak De, pewaris yang diharapkan bisa melanjutkan garis keturunan Dewa Gede Subrata, setelah beliau kehilangan istri dan anak lelaki-nya dalam serangan teroris 10 tahun yang lalu.

Saat ini Ava hanya bisa salah tingkah karena dirinya ditatap belasan pasang mata. “Beh, Kak Gede kok nggak pernah bicara tentang kamu?” tanya Oom Mantra.

Ava cuma cengar-cengir mendengarnya, sibuk menyuap nasi dengan suwiran ayam beserta sambal bali, menikmati sensasi pedas bercampur gurih yang seketika menyebar di lidahnya.

“Kamu mengingatkan saya dengan Kak Gede, bakat alami, padahal keluarga kami nggak ada yang keturunan pelukis…”

“Ah, Oom bisa saja…” Ava terkekeh pelan.

“Sing Kengken[SUP](4)[/SUP], yang jelas saya ikut bangga kalau seniman berbakat seperti kamu yang jadi tunangannya Indira, hahaha…” Oom Mantra berkata, jumawa.

“Uhuk! Uhuk!” Ava sontak tersedak dan cepat-cepat menenggak air dari kendi tanah liat.

Indira yang sibuk menyuapi Ivo dan Ony =sepasang sepupu kembarnya-, mendadak menegang, ia melirik ke arah Ava, takut-takut, menunggu seperti apakah reaksi Ava.

“Ehm… tiang[SUP](5)[/SUP] yang turut bangga… kehormatan buat tiang, oom… bisa jadi tunangannya Indira,” Ava berkata.

(4) Sing Kenken: Nggak apa-apa
(5) Tiang: Saya

Seketika belasan mata semakin menatap takjub, karena sungguh diperlukan kerelaan hati yang besar bagi seorang pemuda untuk bersedia nyentana.

Ava hanya bisa tersenyum, mencoba membalas kehangatan dari keluarga besar Indira, namun sudut matanya menangkap raut Indira yang perlahan meredup.

Wajah Indira tetunduk ke bawah, lidahnya terasa kelu. Nafsu makannya hilang sudah.

Bersambung

Daftar Part