. Nirwana Part 44 | Kisah Malam

Nirwana Part 44

0
157

Nirwana Part 44

The Bohemian Healer

Kadek menghambur ke dalam rumah Pak De, matanya berkaca-kaca.

“Ava! Ava! Ajik! Ajik nggak apa-apa!” ia bertanya pada Sheena yang melihat dari luar ruangan. Dari dalam Ava melotot, memberi isyarat agar Kadek tutup mulut, sambil sibuk menggosok punggung dan dada Pak De dengan minyak kayu putih. Sementara nafas Sang Maestro masih kembang kempis berusaha menghirup oksigen yang terasa makin tipis.

Bagaikan bom waktu, nikotin dari yang mengendap di paru-paru Pak De mulai menampakkan pengaruhnya. Perlahan tapi pasti, racun yang disamarkan sebagai lambang kelaki-lakian itu menggerogoti kesehatan lelaki tua itu.

“Ajik, sih… kan sudah sering dibilangin, kurangin rokok!” mulut Indira mengomel, tapi matanya bercucuran air mata. “Ajik… nggak usah dah ya… berangkat ke Paris…”

“Nggak bisa… uhuk… ajik harus… …”

Lucille berdiri di bibir pintu di samping Sheena, berkali-kali menghela nafas melihat kakak iparnya yang keras kepala. Pak De melirik sekilas ke arah Lucille, memberi isyarat untuk mendekat.

Wanita berkulit putih itu mendekat, duduk di pinggir dipan. “Kak Gede, sekarang kita ke dokter, ya. Nanti saya yang bicara ke Mister Piere.” Lucille berkata sambil menggenggam punggung tangan Pak De.

“The show must go... on...”

“Ajik!” Indira protes keras.

“Ajik nggak apa-apa… ini.. cuma.. hah.. h… sesak nafas biasa…”

Lucille dan Indira saling pandang, sebelum sama-sama menghela nafas, putus asa.

Lucille menggigit bibirnya, matanya bergerak-gerak seperti berpikir keras, sebelum akhirnya berkata.“Kak, saya nggak bisa janji, ini manjur atau tidak… tapi kalau boleh… saya…” Lucille berkata ragu, “mau membagi energi… Reiki…”

Kadek, Sheena, Ava, dan Indira saling berpandangan begitu mendengar kata-kata asing itu. Mereka belum memahami, bahwa Lucille mempelajari Reiki Tummo. Seni Penyembuhan Alternatif yang berasal dari Tibet. Prinsipnya bahwa seluruh alam semesta dialiri energi kosmik, termasuk tubuh manusia. Seorang praktisi Reiki belajar untuk menyerap energi kosmik dari alam semesta, untuk kemudian dialirkan menuju tubuh pasien untuk mengobati berbagai macam penyakit.

“Nggak apa… apa…”

“Tapi habis itu kita ke dokter, ya,” bujuk Lucille.

“Saya juga nggak… janji…”

Lucille menghadapi batu. Tidak boleh sama-sama keras dalam menghadapi batu, maka Lucille tersenyum, menepuk-nepuk punggung tangan Pak De. “Saya mulai, ya…”

Pak De mengangguk, Lucille memejamkan mata, membuka telapak tangannya ke atas, seperti hendak menyerap sesuatu yang tak terlihat.

Untuk beberapa detik cuma ada hening diselingi suara nafas Pak De yang memberat, membuat Indira dan Ava saling menggenggam tangan, tegang.

Lucille meletakkan tangannya di atas dada Pak De tanpa menyentuh langsung. Matanya tetap memejam, takzim dan khusyuk. Pelan-pelan Pak De merasakan panas yang memancar dari telapak tangan Lucille, padahal tangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Energi yang tak terlihat itu berpusar keluar dari cakra telapak tangan Lucille. Gelombang panas itu menyebar pelan, membelai kulitnya. Panas, namun tidak mengancam, melainkan hangat yang menenangkan.

Perlahan dada Pak De dipenuhi oleh gelombang panas nyang berpusar-pusar seperti gulungan ombak. Merasuki setiap alveolusnya, melegakan bronkhiolus-nya, membuat nafasnya mulai teratur. Naik-turun, tenang, seperti anak bayi.

Pak masih memejam, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh sensasi nyaman yang sepertinya pernah ia rasakan.

“Julia… is it you?” Pak memegang tangan Lucille yang hangat.

Lucille menggigit bibirnya sendiri, konsentrasinya buyar sudah.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler