. Nirwana Part 43 | Kisah Malam

Nirwana Part 43

0
141

Nirwana Part 43

The Old Maestro

-Pak De-

Tak Jauh dari tempat itu, Ava sedang berjalan bersama Pak De melewati jalan desa dengan pagar rumah yang masih nampak asli, dengan hiasan Penjor yang mencuat indah. Ava melihat di kejauhan sekumpulan pemuda desa sedang memegangi seekor babi berukuran gigantis. Babi itu memekik histeris, meronta sejadi-jadinya hingga membuat kewalahan orang-orang yang memegangi badannya yang besar kekar.

Beberapa ekor lainnya menunggu dalam kurungan bambu, sabar menanti ajal.

Ava harus melewati anak-anak kampung yang berkerumun dari kejauhan, penasaran menonton acara Penampahan, yakni penyembelihan ayam atau babi dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan. Pak De menjelaskan, bahwa penampahan itu sebagai simbol untuk menyembelih sifat-sifat serakah dan suka bertengkar, seperti sifat buruk dari ayam, dan sifat-sifat malas pengotor seperti babi. Ava hanya manggut-manggut mendengarkan.

Seorang pemuda menyeruak kerumunan, membawa parang berkarat, Kadek. Ava hendak menyapa, namun diurungkannya, karena Kadek nampak sibuk meletakkan ujung parang yang tajam di urat leher si Babi.

Babi malang itu menatap iba kepada Kadek, tapi Kadek tidak peduli. Ava bergidik ngeri, mendengar jeritan si babi saat parang Kadek memutus urat lehernya. Ia meronta sejenak, sebelum mengelepar dengan darah segar yang mengucur ke dalam baskom.

“Ava! Ajik!” Kadek sumringah melihat Ava dan Pak De. Ia melambaikan tangannya yang berlumuran darah.

“Ui!” Ava hanya melambai dari kejauhan.

Pak De berjalan mendekat mengucapkan selamat Hari Raya dan berpamitan dengan warga desa, banyak yang berkata minta oleh-oleh. Pak De hanya tertawa terbahak, sambil menyulut cerutunya.

“Menurutmu gimana Indira? Uhuk… uhuk…” kata Pak De sambil melewati sekumpulan pemuda yang sedang mecacah daging, ngelawar: proses membuat Lawar yakni sejenis makanan olahan khas orang Bali yang biasanya terbuat dari cincangan atau potongan daging dengan campuran kelapa beserta sayur tertentu.

“B-baik… anaknya baik…”

“Cantik, nggak?” Pak De berkata sambil menghisap cerutunya.

“Ava tersenyum. “Nggak cantik, sih… tapi jegeg[SUP](1)[/SUP]…”

Pak De terbahak-bahak mendengarnya sampai terbatuk-batuk. “lengeeeeeh sajan, gus neeee![SUP](2)[/SUP]” kata Pak De sambil tergelak, dan mengacak-ngacak rambut pemuda itu. Lalu ia meranggkul pundak Ava, seperti ayah dan anak.

“Jeg jelas[SUP](3)[/SUP], Indira cantik, siapa dulu cetakannya!”

(1) Cantik
(2) Ada-ada sajaaa kamu ini
*lengeh itu arti harafiahnya: “teler” tapi dalam konteks kalimat pakde adalah “ngaco”
(3) Jelas, dong!

“Hahaha… cetakan? Ajik gitu, maksudnya.” Ava memandangi lelaki gemuk yang dipenuhi brewok di sampingnya.

Senyum Pak De semakin melebar, mendengar Ava memanggilnya ‘Ajik

“Haha saya bersyukur Indira lebih mirip Almarhumah istri saya, Julia…” Lalu Pak De mulai bercerita, di mana ia bertemu dengan istrinya, ibu Indira untuk pertama kali.

= = = = = = = = = = = = =

Those were such happy times
And not so long ago
How I wondered where they’d gone
But they’re back again
Just like a long lost friend
All the songs I loved so well….

Sementara itu di ruang keluarga Villa Pak De, Lucille membolak balik album foto tua. Bibirnya tersenyum-senyum kecil melihat foto Indira waktu bayi yang sedang digendongnya. Ia membalik halaman lagi, kali ini senyumnya semakin lebar hingga lesung pipi-nya tercetak jelas.

Mata Lucille yang biru tak henti-henti menandangi foto bergambar seorang pemuda brewok telanjang dada, yang diapit oleh sepasang cewek bule yang nampak bagai pinang di belah dua. Cowok brewok itu Pak De semasa muda. Waktu itu Pak De masih kuliah di The Art Institute of New York, seniman muda jenius yang dikirim belajar ke luar negeri oleh kedua orang tuanya, -yang masih memiliki darah bangsawan.

Kebetulan Pak De dan mereka bertemu di konser musik legendaris bertajuk Woodstock Reunion 1979 di Madisson Square Garden.

Dari satu kebetulan, mereka berkenalan. Kemudian kebetulan ini bermuara menjadi kebetulan-kebetulan lain, meski tak ada yang namanya kebetulan dalam konstelasi alam semesta.

= = = = = = = = = = = = =

Lookin’ back on how it was
In years gone by
And the good times that I had
Makes today seem rather sad
So much has changed…

“The two sisters, Julia and Lucille…” kata Pak De dengan pandangan mengawang. “They were hot…”

“M-maksud Pak De?”

Pak De tergelak. “Ayolah, Va… jangan pura-pura polos seperti itu. Waktu itu tahun 70-an, jamannya Generasi Bunga! Flower Generation! Ganja, alkohol, dan rock and roll! Waktu itu benar-benar gila! Dua lawan satu! Coba bayangkan, Va, dua lawan satu!” Kata Pak De berapi-api, sebelum menyampaikan FR-nya yang sudah berusia 3 dekade lebih.

Ava menelan ludah.

“Hahahaha… mantap kan? Tapi buat generasi milenium seperti kamu, saya yakin kamu juga sudah pernah…”

Dua lawan satu? Dua hari yang lalu, jik. Sama Indira dan Sheena, batin Ava. Namun ia menggeleng, gugup.

“Saya pikir kamu sudah pernah sama Sheena dan Indira… hahahaha…”

Wajah Ava mendadak pucat. “Ah Ajik… n-ngomong apa sih… ha… ha… ha…”

“Haha, saya cuma bercanda….” Pak De terbahak melihat Ava salah tingkah. “Ava… Ava… terus terang, saya lebih ikhlas Indira sama kamu, daripada sama si Dewa itu.”

“Ah, Ajik… s-saya sama I-indira ng-nggak ada apa-apa… B-bener.” Ava menjawab, terbata.

Pak De hanya terkekeh-kekeh, mengajak Ava duduk di pinggir bale, melihat Ibu-ibu yang sedang menyusun buah-buahan sebagai sesaji yang akan dihaturkan dalam sembahyang Galungan esok hari.

“Ava, kamu itu berbakat, kamu orangnya baik, ganteng, dan yang paling penting…” Pak De menepuk dada Ava. “…kamu punya mimpi.”

Ava tersenyum, tapi senyumnya terasa agak berat kali ini, karena sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Dalam konstelasi alam semesta, nggak ada yang namanya kebetulan, yang ada hanyalah sudah digariskan, dan kedatanganmu ke rumah saya seperti sudah ditakdirkan oleh Hyang Widhi

Ava tidak menjawab, perasaannya campur aduk.

“Sudah kamu pikir-pikir yang saya bilang waktu itu?”

Senyum Ava perlahan terasa kecut. “Saya… masih perlu waktu… Jik.” Ia memandang sesaji buah-buahan yang ditumpuk tinggi. Juga ibu-ibu berkebaya yang sedang menyiapkan dupa dan bunga untuk persembahyangan esok hari.

Mengubah arah kiblat jauh lebih rumit daripada menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’.

“Jangan lama-lama mikir-mikirnya. Waktu saya nggak banyak, Va.” Pak De terkekeh pelan, sebelum terbatuk-batuk. “Apapun jawabanmu, saya mohon jangan bawa kabur Indira… Apalagi waktu saya ke Paris, hahaha…”

“Ah, tuh kan, Ajik makin lama makin ngelantur ngomongnya ah…”

Pak De tersenyum. “Ya… ya… saya percaya sama kamu kok.” Pak De menepuk pundak Ava. “Saya malah takut dulu Indira dibawa kabur sama Dewa…”

Suara Pak De yang tadinya tegas lamat-lamat berubah menjadi getir. “Makanya, daripada Indira dilariken orang nggak jelas, lebih baik Indira sama kamu saja. Bener, Va… serius! saya ikhlas… Tapi… yah… kamu sudah tahu, kan… apa konsekuensinya? Uhuk huk ehhm..”

Ava tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Paru-parunya penuh oleh asap dupa yang dibakar di Pura Kecil di pojok Bale Banjar. Gendang telinganya bergetar oleh alunan mantra dan gemerincing lonceng yang tak henti berdenting.

Mengubah kemana kau menyembah, jauh lebih rumit dari sekedar anggukan atau gelengan kepala.

Kemudian Pak De kembali berjalan dan bercerita tentang sulitnya tidak punya pewaris laki-laki, sambil sesekali ditimpali batuk yang keluar dari kerongkongannya.

Kali ini tak sampai sepuluh langkah Pak De kembali terduduk, memegangi dadanya. Nafasnya perlahan mulai memburu, hingga meninbulkan bunyi “nggiiiik…” panjang setiap ia menarik dan menghembuskan nafas.

“Eng.. Ajik nggak apa-apa? Udah Jik, nggak usah dipikirin lagi.”

“Hah.. iya..” Pak De terengah, mengatur nafasnya yang kini tinggal setengah.

= = = = = = = = = = = = =​

Lucille sampai di sebuah halaman album foto. Ada foto Julia dan Pak De yang mengenakan busana khas Bali, foto pernikahan Julia dan Pak De. Indira datang membawakan teh hangat untuk bibi-nya. Sekilas ia menyadari air muka Lucille, yang perlahan berubah mendung.

“Tante… ini teh-nya…”

“Oh iya, mana ini, Kak Gede? Kok jam segini belum siap-siap? Awas nanti ketinggalan pesawat.” Lucille berkata, buru-buru tersenyum.

“Iya, ya…” Indira ikut cemas, sambil keluar ke teras. “Nah, itu mereka.”

Pak De berjalan di samping Ava sambil terbatuk-batuk. Melihat Lucille muncul dari balik punggung Indira, membuat mata Pak De mendadak menyala cerah.

“Ada Gek Lucille, ya… kapan… datang…?”

“Barusan, haduh… haduh… Kak Gede ini masih saja gila-gilaan ngerokoknya…”

Wajah Lucille berseri, perpaduan antara girang dan sebal, melihat Pak De malah mengeluarkan sebatang cerutu.

Pak De tersenyum. “Cuban Cigar, just like the old time and you.”

“Kak, udah deh nggak usah ngerokok lagi! Nafasnya udah kaya gitu!” Lucille agak khawatir, melihat nafas Pa De yang kembang-kempis.

“Nggak apa-apa… Cuban Cigar itu… obat batuk… uhuk.. uhuk…”

Tangan Pak De bergetar, menyelipkan cerutu di bibirnya, dan menyalakan Zippo. Namun tak sampai sedetik, Zippo beserta cerutunya sudah terjatuh di tanah. Disusul tubuhnya yang berdebam keras dan pekik panik semua orang.

To Be Continued