. Nirwana Part 38 | Kisah Malam

Nirwana Part 38

0
184

Nirwana Part 38

Don’t Stop Me Now

“Tonight I’m gonna have myself a real good time
I feel alive and the world it’s turning inside out Yeah!
I’m floating around in ecstasy
So don’t stop me now don’t stop me
‘Cause I’m having a good time having a good time
”

Semalam Ava bercinta dengan dua orang wanita sekaligus, dua ronde pula. Gila, sungguh-sungguh gila, batin sang pemuda. Hingga pagi ini pahlawan kita menuruni tangga kayu gazebo dengan bangga. Senyum lebar menghias wajahnya yang dirimbuni brewok tebal, seolah tak mau kalah dengan matahari yang mulai menampakkan cahaya. Entah kekuatan apa yang menggerakannya untuk bangun pukul 5 pagi dengan badan segar bugar, sehat walafiat.

Ava membasuh wajahnya dengan air dingin, dan bergidik-gidik tidak jelas. Dingin pagi yang menusuk tulang dilawannya dengan jumper Converse warna kelabu. Telinganya tersumbat earphone yang mengumandangkan lagu Don’t Stop Me Now-nya Queen, menemaninya mengikat sneakers, bersiap untuk lari pagi.

Enam bulan yang lalu dirinya hanyalah tokoh yang tidak memiliki signifikansi berarti pada jalan cerita: dituduh teroris secara biadab, menjadi kacung di galeri, merelakan Indira jatuh ke pelukan pangeran setampan Dewa, dan terlibat baku hantam dengan preman-preman buas bersama Sheena.

Namun hari ini semesta membolehkan Ava untuk berdiri gagah di bawah langit pagi yang mulai bersinar. Sepasang kakinya melangkah cepat, berderap mantap di jalan tanah yang membelah sawah yang baru disemai. Dingin kabut menyapa kulitnya, tapi Ava tidak peduli, kali ini ia merasa tidak ada yang dapat menghentikannya lagi. Hari ini Ava merasa keluar sebagai pemenang!

“I’m a rocket ship on my way to Mars… On a collision course / I am a satellite, I’m out of control // I am a sex machine ready to reload / Like an atom bomb about to… Oh oh oh oh oh… explode!”

Bibir Ava berkomat-kamit menirukan suara Freddie Mercury, pinggulnya maju mundur saat menyanyikan lirik di bagian ‘sex machine‘. Hingga tanpa terasa dirinya sudah memasuki areal perumahan warga desa. Sang pemuda terus berlari sambil bernyanyi, hingga di salah satu sudut, di dekat sebuah Pura kecil, seseorang berlari kecil dari arah berlawanan.

“Hoi!” Refleks, Ava menyapa perempuan berambut pendek itu.
Sheena nampaknya agak terkejut dengan Ava yang tahu-tahu muncul di hadapannya.

“U-uit”! Ia membalas cepat.

“Eh, Sheena… Ngapain?”

“Ke pasar, hehe..”

“Jayus, ah…”

“Hehe… Lari, lah… hehe…lho eh, ng-ngapain kamu malah ngikutin aku?” kata Sheena, melihat Ava berbalik arah mensejajarinya.

“Ya udah, aku balik ke arah sana, ya…”

“Eng- eh.. nggak apa-apa… nggak apa-apa…” Sheena menukas cepat.

Ada sedikit rasa kikuk karena insiden semalam, namun keduanya masih bisa terkekeh-kekeh mengingat betapa kombinasi asap kanabis dan arak Bali dapat membuatmu berubah menggila dalam semalam.

Mereka berlari kecil sambil menyusuri jalan desa yang dipenuhi hiasan penjor. Di dekat Bale Banjar mereka berpapasan dengan beberapa warga yang berangkat ke sawah atau ke pasar, tak lupa menyapa ramah.

Mereka memutar kembali ke arah persawahan, sambil bercakap-cakap diselingi tawa kecil dari bibir Sheena tiap Ava melontarkan guyonan.

Sampai akhirnya, berdua mereka terengah, duduk di dangau bambu di pinggir sawah.

“Eh, Sheena… aku nanya, boleh nggak?”

“Apa?”

“Tato-mu.” Ava melirik lengan kiri Sheena.

Wajah Sheena mendadak sedikit menegang. “Kenapa?”

Ava menarik nafas, berkata hati-hati. “Itu… katanya inspirasinya dari mimpi?”

Otot wajah Sheena benar-benar tegang kali ini. “Iya…”

“Sama, ya… kaya lukisanku.”

Keduanya sama-sama memaku beku, sampai seorang warga mengendarai motor bebek menggendong sesaji melintas di depan mereka, tersenyum ramah.

“Memang… kamu… ingat… mimpi… kamu…?” Sheena berkata, terbata.

Ava terkekeh. “Indira kemarin nanya juga, tahu. Kujawab aja, kalau mimpiin hal sama selama 6 bulan terus menerus, ya pasti ingat, lah!”

Tanah yang dipijak Sheena seketika terasa limbung, namun ia berusaha sekuatnya agar bisa tegak berdiri. Sheena mencoba merangkaikan kata-kata ‘6 bulan’ dengan peristiwa yang terjadi selama ini. Dimulai dari pertemuannya dengan Indira di saat ditato, perkelahian di Pub Crossing Fate, dan juga perjumpaan pertamanya dengan Ava…

Semuanya dimulai tepat enam sebulan yang lalu…

Sheena terhenyak, tiba-tiba Ava menggenggam tangannya. Mata Ava nampak serius melihat tekstur dan gambar di lengan kirinya. Sheena mendadak menahan nafas, karena tangan Ava yang satunya menyentuh punggung tangannya, mulai dari tulisan ‘Paradiso‘, kemudian menyusur naik ke gambar sisik naga yang terbuat dari gambar orang-orang yang terpanggang. Sampai di tulisan ‘Purgatorio‘, Ava menemukan bekas luka yang memanjang di lengan kiri Sheena.

Sekelompok burung gereja melintas di atas mereka, membuyarkan seribu pertanyaan di benak keduanya. Untuk sesaat hanya ada hening dan angin pagi sebelum pandangan keduanya beradu. Dan Sheena mendapati lagi tatapan yang begitu teduh, seolah ingin memayunginya dari panas matahari yang menyeruak dari pekat kabut pagi.
Sheena mungkin terlambat menyadari, yang pasti tempo detak jantungnya seperti bertambah satu ketukan, dan makin lama makin cepat.

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best
I wasn’t looking but somehow you found me
It tried to hide from your love light
But like Heaven above me
The spy who loved me
Is keeping all my secrets safe tonight

= = = = = = = = = = = =​

Dingin pagi dan sinar mentari yang menyusup dari sela jendela membangunkan Indira dari alam mimpi. Gadis cantik itu mengerjapkan mata, tersenyum-senyum sendiri teringat mimpinya barusan. Huuaah, bagaimana bisa ia memimpikan Ava menjadi suaminya? Terdengar tawa kecil dari bibir Indira yang belum juga berhenti tersenyum.

Anak itu masih bergelung dalam selimut tebal. Perpaduan hangat dan dingin yang membekap, membuatnya enggan beranjak turun dari peraduan. Indira mengguling ke kiri, sebelum bergelung ke kanan. Ke kiri, sebelum ke kanan lagi dengan senyum yang makin lama makin mengembang, seolah ingin lebih cerah dari sinar matahari pukul tujuh yang menyerbu masuk dari jendela kayu berukir yang dibiarkan terbuka.

The way that you hold me
Whenever you hold me
There’s some kind of magic inside you
That keeps me from running
But just keep it coming
How’d you learn to do the things you do?

= = = = = = = = = = = =​

Dhuuuar! pret! pret! pret! preeeet!” suara keras yang terdengar familiar membuyarkan lamunan Indira.

Skuter butut Kadek terkentut-kentut memecah keheningan desa yang damai. Knalpotnya mengeluarkan asap hitam bercampur cipratan oli. Indira tak habis pikir kenapa motor keparat itu tidak dilego saja ke pedagang besi tua daripada menimbulkan polusi suara, baru saja ia berpikir demikian, sedetik kemudian sudah terdengar ledakan keras hingga ayam jago piaraan ayahnya melompat dan berkokok ketakutan.
Indira mendengus kesal, segera mengintip dari balik daun jendela. Kadek dan ayahnya nampak berbincang serius di teras.

Gadis remaja itu melongok lebih jauh lagi, dan ia menemukan sosok brewok yang berjalan terengah, tengah memasuki candi bentar.

“Ava!” Indira berseru riang sambil tersenyum cerah, namun segera menghambar begitu melihat Sheena berjalan di belakang Ava dengan wajah tak kalah cerah dan tengah bercanda riang dengan pemuda itu.

Mendadak senyumnya terasa garing.

Bersambung

Daftar part