. Nirwana Part 37 | Kisah Malam

Nirwana Part 37

0
169

Nirwana Part 37

Yesterday (Once More!)

Dua jam kemudian,

Pak De berjalan agak terhuyung di ruang kerjanya yang dipenuhi buku dan lukisan. Persiapan pameran, dan pengerjaan bahan selama hampir 6 bulan lebih membuat staminanya terkuras habis,hingga tubuh rentanya terbatuk pelan.

Tangan Pak De sibuk meniti rak yang berisi tumpukan piringan hitam dari berbagai macam judul, sebelum mengambil sebuah piringan hitam bertuliskan The Carpenters- Now & Then.

Agak bergetar, Pak De meletakkan piringan hitam itu di gramaphone dan meletakkan jarum pemutar di atasnya. Piringan hitam berputar, suara Karen Carpenter mengalun memenuhi ruangan itu dengan nostalgia.

Those were such happy times
And not so long ago
How I wondered where they’d gone
But they’re back again
Just like a long lost friend
All the songs I loved so well….

Pak De menyalakan sebatang cerutu yang lalu terselip di antara bibirnya, ia memandangi foto di album tua, ada dirinya semasa muda diapit oleh sepasang wanita bule dengan wajah bak pinang dibelah dua.

Perlahan tapi pasti, mata Pak De nampak meredup, kehilangan cahaya. Asap putih menghembus ke udara, diselingi satu-dua batuk yang tercetus dari paru-parunya. Piringan hitam berputar, membawa benak lelaki tua itu berkelana jauh ke masa lalu. Hingga akhirnya telepon tua di sebelahnya berdering nyaring dan mendamparkan kembali benak Pak De di detik ini.

“Om Swastyastu.”

“Om Swastyastu… Kak Gede?”

Mendengar suara di seberang telepon, mendadak mata Pak De kembali bercahaya.

“Lucille? Kapan sampai di Bali?” Pak De berkata sambil memainkan kabel telepon yang kusam.

“Baru kemaren. Ini saya di rumah di Renon. Kakak apa Kabar? Indira sehat?”

Pak De terkekeh. “Sehat, tambah cantik, makin mirip ibunya.”

Hening sesaat. Terdengar helaan nafas berat di seberang telepon. “I miss Julia.”

“Me too…”

Lookin’ back on how it was
In years gone by
And the good times that I had
Makes today seem rather sad
So much has changed…

“Ah, sudahlah, kenapa kita jadi ngomongin yang sedih-sedih…“ Pak De terkekeh. “Nanti datang ke acara saya, ya. Di Hotel Patra.”

“Haha.. Pasti, saya datang! Selamat ya, pamerannya…”

“Makasih… Oh, iya… yang saya bilang waktu itu. Sekalian saya titip anak-anak saya.” kali ini Pak De yang tercenung, memikirkan kenapa ia menyebutkan bentuk jamak untuk kata ‘anak’. “Nanti saya kenalin sama…” Lelaki tua itu terdiam, menelan ludah.

“Pasti tunangannya Indira.”

“Hahaha…Iya! Eh! Bukan! Bukan!” Pak De segera meralat. “Ah, yang penting anaknya baik… rajin… nanti kamu lihat saja… hahahaha!”

Di seberang telepon terdengar suara tawa terkikik. “Oke, Kak!”

“Makasih ya, Gek.”

Pak De menutup telepon. Matanya mengawang pada foto dirinya di masa muda. Kali ini ia terkekeh-kekeh sampai terbatuk-batuk sendiri.

Every sha-la-la-la
Every wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine…

All my best memories
Come back clearly to me
Some can even make me cry…

Just like before
It’s yesterday once more…

Lamunannya tersentak oleh suara deru VW Safari yang memasuki halaman villa-nya. Terlihat nyala lampu mobil memendar di halaman samping, ketika tiga insan muda itu sudah kembali pulang

= = = = = = = = = = = =​

Indira memberengut saat Ava memasukkan mobil ke dalam garasi. Masih kesal karena orgasmenya digantung begitu saja oleh dua orang itu.

“Uuuuh sebeeeeel! Kok langsung pulang, sih! aku kan masih kentang!”

“Hush! Ngapain ngomongin kentang?! Kita udah sampe rumah, nih! jangan diungkit-ungkit lagi! Ntar ketahuan Ajik!”

“I-ya…” Sheena menambahkan sambil membaui tubuh Indira. Disemprotkannya cologne beberapa kali untuk menutupi aroma alkohol.

“Kan, bukan salah kita-kita juga,” Ava membela diri.

“I-ya… lain kali cari tempat yang aman… iya kan?” Sheena berkata, asal.

“I-iya… lain kali threesome di tempat yang aman kek! Salah sendiri main di tempat aneh!” Ava menambahkan, tak kalah asal.

“Lain kali?” Mata Indira mendadak cerah, sebelum menghambur ke dalam rumah. Ava dan Sheena sontak berpandangan, ada sedikit rasa khawatir di mata keduanya.

= = = = = = = = = = = =​

Ava duduk di bagian bawah gazebo-nya. Sementara Sheena duduk di gazebo kecil di tak jauh dari situ. 6 bulan mereka tinggal bersebelahan hanya sekedar saling sapa alakadar. Sudut mata Sheena melirik ke arah Ava yang memainkan ponsel di kejauhan. Warna merah mulai merona di pipi Sheena, menyadari ia telah menyerahkan bibir dan kewanitaannya pada pemuda itu.

“Awas, jangan lirik-lirik, tar naksir,” sahut Ava sekenanya.

Sepatu melayang sebagai jawaban, namun pemuda tengik itu hanya mengekeh-ngekeh sambil menghindari serangan Sheena yang bernafsu untuk membunuhnya.

“Cie-cie akrab banget nie,” terdengar suara Indira dari arah bangunan utama. Anak itu telah berganti pakaian dengan kaus barong gombrong berukuran jumbo,yang menutup sampai paha. Berjalan riang membawa nampan berisi 3 gelas jeruk hangat dan sepiring singkong kukus yang dilumuri gula merah cair.

“Untuk penghilang capek…” kata Indira lagi

“Hehehe… asyiiik.” Ava segera menyerbu jeruk hangat itu, dan mengunyah singkong tanpa malu-malu.

Indira menggeleng jenaka. “Tadi gimana? enak, yah…”

“Enak sih, tapi hampir ketangkep,” Ava berkata, cuek.

“hehehe… Iya, kamu bener… makanya lain kali kita main di tempat yang aman aja, ya…”

“Uhuk! Uhuk!” Ava langsung terbatuk-batuk. “Lain kali? Lain kali apaan? Nggak!Nggak ada lain kali!” Ava mengomel, menyeruput jeruk hangatnya.

“Huuu… Ava nggak seru. Masa nggak pengen lagi?” Indira mengerling manja.

“Kalau ketahuan Ajik gimana?”

“Tenaaaang… Ajik sekarang lagi denger musik… suaranya kenceeeeeeng banget! nggak bakal tahu!”

Ava dan Sheena berpandangan, mencoba mencerna setiap kalimat Indira. Sementara remaja sedang birahi itu menatap mereka berdua, penuh harap.

“Kak Na juga makan, biar kuat lagi…”

Dan kini semuanya jelas sudah, mereka berhadapan dengan monster seks berwujud bidadari mungil!

= = = = = = = = = = = =​

Ava melangkah ragu ke di atas tangga kayu, mengikuti langkah Sheena yang diseret paksa Indira. Baru kali ini Ava memasuki ruangan gazebo Sheena yang berukuran 3 x 4 meter, sedikit lebih kecil dari punya Ava. Tidak ada kasur, hanya karpet tebal lembut, dan hamparan bantal-bantal besar ala India sebagai alas tidur, di langit langit yang sangat rendah, lampu 15 watt menyala redup, menerangi seisi ruang yang didekor ala India oleh Indira. Di sudut ada meja kecil, di sampingnya ada tas ransel carier besar berisi barang-barang Sheena.

Pandangan Ava tertuju pada silinder mungil dari plastik, terletak di atas meja kecil, di samping charger ponsel.

“Ini kan rol film yang waktu itu! Kamu anak Hipster yah, Na! jaman gini masih pakai kamera analog!” Ava menimbang-nimbang silinder berisi rol film itu, sebelum Sheena merebutnya tanpa banyak kata.

Tiba-tiba lampu dimatikan oleh Indira, mengalihkan perhatian Ava dan Sheena dari rol film. Indira membuka jendela kayu lebar-lebar, hingga cahaya bulan sabit dan langit malam yang keunguan menyerbu masuk, menerangi ruangan kecil itu dengan cahaya temaram yang menenangkan.

Indira berbalik ke arah Ava dan Sheena yang tak henti terpukau melihat sawah yang berwarna keperakan di kejuhan, dan makin terpukau karena Indira menyilangkan tangannya, menarik naik kaus barongnya. Indira tidak mengenakan apapun di baliknya. Sedetik kemudian, kaus itu tergolek di lantai kayu, menyisakan tubuh Indira yang tak tertutup sehelai benang pun.

Indira tersenyum, menutupi dadanya dengan kedua tangannya, tubuhnya yang ranum hanya dibalut oleh cahaya bulan. Bersimpuh di atas bantal besar, remaja belia itu memandang tersipu, namun mengundang.

Angin malam menghambur masuk, membawa keheningan dan suara jangkrik. Melengkapi 3 buah suara jantung yang semakin berdegub, juga suara nafas yang makin memburu. Ketiganya tahu apa yang akan terjadi malam ini, tahu apa yang akan terjadi saat mereka mulai melucuti baju satu-persatu hingga tubuh ketiganya kini hanya dibalut dingin malam.

Kali ini darah Sheena berdesir, entah karena melihat dada Ava yang dipenuhi bulu dan kejantanannya yang mengacung gagah, ataukah karena melihat tubuh Indira yang ranum dan menggoda, atau malah paduan keduanya!

“Kak Na… Ava… sini….” tangan Indira merentang, mengundang Ava dan Sheena untuk segera beringsut memeluknya. Diawali sedikit rikuh memang, namun ketiganya kini sudah berbaring di atas hamparan bantal dan mulai saling menyentuh sambil bercanda kecil.

Ava telentang di atas hamparan bantal, merangkul dua tubuh telanjang yang kini saling berciuman di depan dadanya.

Sheena melumat gemas bibir mungil Indira, menyapukan lidahnya, yang segera disambut Indira dengan hisapan ringan yang menyedot lidah cewek tomboy itu ke dalam rongga mulutnya. “Mmmmmh…” Sepasang lidah itu kini saling membelit, menimbulkan suara bibir yang berkecipak, juga lengguhan pelan karena Ava berpartisipasi dengan meremasi pantat dan dada keduanya.

“Ssssssh….” suara desisan tertahan terdengar, jemari Ava kini menjelajah turun membelai selangkangan Indira.

Remaja blasteran itu melengguh pelan, tubuhnya sedikit mengejang hingga ciumannya terlepas, menyisakan seutas benang saliva yang seksi. “Ava nakal, awas yah!” rengek Indira manja, segera membalas tindakan sang pemuda dengan mendaratkan ciuman ke arah puting Ava dan menggerayangi kejantanannya. Batang berurat yang sudah mengeras itu segera diremas dan diurut oleh telapak mungil Indira, hingga sang pemuda kini hanya bisa mengerang lemah dengan mata yang menatap nanar ke langit-langit yang rendah.

Sedikit ragu sebenarnya, namun Sheena mendekati wajah Ava yang sayu, mengusap keningnya yang mulai berpeluh. Perempuan berambut pendek itu membelai dada Ava, mendekatkan wajahnya pada nafas sang pemuda yang mulai memburu, hangat. Ditatapnya mata Ava, yang kini balas menatapnya: sayu, namun teduh.

Ava balas membelai rambut pendek Sheena, menarik wajah manis itu untuk semakin mendekat hingga menempel di wajahnya. Sheena menahan nafas, mulai menciumi wajah Ava, lembut. Kening, pipi, hingga akhirnya ciumannya mendarat pada bibir Ava yang balas mengecupnya.

Sheena memejam, menikmati ciuman Ava yang membelai bibirnya, juga nafas panas sang pemuda yang kini menderu di wajahnya, semakin erat didekapnya Ava, dibenamkan tubuh telanjangnya ke hangat tubuh Ava. “Mmmmm…” Ava menggigit lembut bibir bawah Sheena, hingga ia membuka mata, dan didadaptinya sepasang mata Ava menatap ke dalam matanya, begitu lembut, begitu teduh, dan Sheena tak mampu lagi menatap.

“Aduh!” Ava menjerit kecil, ciumannya terlepas sudah. Indira menggigit putingnya, dan tercengir polos ke arah Ava. Sheena mendengus kesal, dan memutuskan ikut menurunkan ciumannya menuju leher Ava dan terus turun ke bawah. Tak ingin hanya Indira yang memonopoli, Sheena menciumi puting kiri sang pemuda, sementara Indira menjilati puting kanannya. Tangan Indira bergerak aktif mengurut dan mengocok kejantanan Ava, sedang jemari Sheena memainkan selangkangan dan lubang anus sang pemuda.

Ava mengeliat kegelian. Ciuman Indira kini perlahan turun sepanjang sumbu tubuh Ava, lidahnya menguas pelan di pusar Ava, dan terus turun ke bawah, membuat pemuda itu mengejang, mengerang, mendekap kepala Sheena erat-erat.

Kini Indira mejilati ujung kejantanannya, sambil terus mengocok batangnya. Bibir Indira yang mungil melumat ujung kepala rudal, sebelum menjilat lubang kencing dan turun ke bawah menyusuri batang, dan melumat lagi.

Seolah tak mau kalah, ciuman Sheena kini mengarah ke selangkangan Indira.

Ava melirik turun, dan mendapati kepala Indira maju mundur, menelan kejantanannya, Sementara di sampingnya Sheena dengan lahap mengemut dan mengulum buah zakarnya. Pemuda itu hanya mampu mengerang pelan, lidah Indira bergetar getar membelai batangnya, sementara bibir Sheena melumat habis buahnya. “Ooooh… Ooooh…” Bibir Ava membuka, seperti kehabisan nafas, dadanya melengkung-lengkung, naik-turun dan terbanting-banting setiap kejantanannya keluar, dan terbenam lagi dalam rongga mulut Indira yang bergetar-getar, atau setiap jemari Sheena memijat dan menusuk-nusuk lubang anusnya.

Ava menggelinjang liar. “Udaaah… aaah…” namun dua cewek itu seolah saling bersaing dan tidak peduli dengan siksaan birahi yang diderita Ava. Hingga akhirnya Ava merasa dirinya benar-benar hendak meledak, “Aaaaaah! ush! uhs! ush! Ane keluar ne… ane keluaaaarh… ntar kalian pada nggak dapet jatah!” ancam si pemuda.

Keduanya langsung berhenti, saling tatap dan terkikik-kikik. Ava hanya mampu terenggah mengatur nafas, mengira-ngira dalam hati, mampukah dirinya memuaskan birahi keduanya? Masih terengah, Ava duduk bersandar di bantal besar di atas karpet, memandangi sepasang wanita yang saling tatap, seolah saling membuat kesepakatan siapa yang terlebih dahulu dimasuki oleh kejantanan Ava yang berurat dan tegak mengacung. Sebuah angukan kepala Indira seolah memberi persetujuan agar Sheena beringsut naik ke atas perut Ava.

Ava tersenyum, takjub melihat tubuh telanjang yang atletis namun seksi terpampang indah di depan matanya. Juga sepasang payudara berukuran masif yang menggantung bebas, siap untuk diremas. Sheena agak terpaksa membalas senyum Ava, rikuh ditatapi seperti itu. Ia menggigit bibir bawah merasakan kejantanan Ava menggeliat panas di antara selangkangannya. Agak grogi, Sheena menempatkan kejantanan Ava di bibir kemaluannya yang mulai meremang. Ada sedikit ragu, karena sudah sangat lama ia tidak melakukan hal ini dengan lelaki. Sheena mengangkat pinggulnya, dan membenamkan tubuhnya ke arah batang yang menanti. Sheena menahan nafas saat perlahan liangnya mulai disesaki oleh benda yang padat dan hangat.

“Oooough…” Keduanya memejam, dan mengerang bersama. Meresapi sensasi geli dan ngilu yang tiba-tiba datang menyeruak. Sesaat keduanya tak bergerak, saling menatap dengan nafas yang perlahan mulai memburu. Sheena merasakan kejantanan Ava terasa panas, dan berkedut-kedut di dalam rahimnya. Sedang Ava merasakan liang senggama yang jarang dipenetrasi oleh lelaki ini bahkan lebih sempit dari milik Indira! Basah, licin, dan berdenyut-denyut seperti hidup!

Sejenak keduanya terdiam, memejam, menikmati.

“Ummmh…” Sheena tersentak oleh ciuman Indira tahu-tahu mendarat pada tengkuknya, dan juga payudaranya yang diremas secara tiba-tiba. Indira yang bangkit nafsunya melihat persenggamaan dua orang itu, langsung melumat bibir dan meremas payudara Sheena, sedang jemarinya memilin puting Sheena yang mengeras, membuat wanita itu melengguh dan refleks menggerakkan pinggulnya, mulai memompa.

Ava kini berbaring telentang, memejam dan menghayati sensasi geli yang datang seiring kejantanannya keluar masuk kewanitaan Sheena yang seperti hidup, hangat dan berdenyut denyut. Geli, ngilu jadi satu dan menyeruak dari selangkangannya, membuat pemuda itu berkelojotan sedemikian rupa.

Ava mengerang pelan, matanya membeliak nanar saat kewanitaan Sheena datang menghentak keras, dan Ava mendapati sepasang wanita di hadapannya sedang asyik saling cumbu dengan liarnya.

Indira dan Sheena saling memeluk dan melumat. Sheena meremas dan memilin payudara Indira, begitu juga sebaliknya, sambil disertai lengguhan erotis yang meluncur dari bibir keduanya. “Sssssh…. Ooooh…” Sheena melenguh, tidak jelas apakah itu karena pilinan Indira pada putingnya, ataukah karena kejantanan Ava yang berurat dan menggesek dinding kewanitaannya yang sudah dibanjiri lendir.

“Gregkk… gregk…” Gazebo kayu itu berderit-derit.

Sheena menjerit-jerit, pinggulnya semakin kencang bergerak naik turun dan memutar-mutar, berusaha mendapatkan kenikmatan dari kejantanan Ava yang menyodok-nyodok sampai mentok hingga rahimnya. Sungguh, batang keras itu begitu hangat… begitu padat… begitu nikmat… begitu, “ooooooomh… Ava…” Cewek tomboy mengerang, geli sekali di bawah sana, hingga sekujur tubuhnya merinding penuh kenikmatan. Mata Sheena memejam, wajahnya berubah merah padam, dan segera diciumi oleh Indira yang semakin bernafsu melihat perempuan maskulin itu tengah dimabuk birahi.

Sebuah hentakan keras menyodok tepat di g-spot Sheena, membuatnya mengerang keras dan sekujur tubuhnya mendadak lemas dan rubuh di dada Ava. Ava langsung memeluk Sheena, menciumi lehernya, membuat Sheena semakin meradang dan menggelinjang.

“Mmmmmh…” Sheena yang sudah penuh nafsu langsung membalas ciuman Ava pada bibirnya, kali ini pagutan buas dan lumatan yang penuh nafsu. “Ahhhhh…” Sheena mengerang pelan, Indira ikut mencium lehernya, meremas payudaranya. Sheena menoleh ke arah Indira, dan segar disambut ciuman maut yang kemudian turun ke payudaranya.

Sungguh geli sekali, saat bibir Indira yang lembut dan hangat melumati payudaranya, apalagi saat remaja binal mulai mengulum putingnya, membuat Sheena semakin menggeliat tak karuan, dan pinggulnya semakin kesetanan memompa tubuh Ava, memutar-mutar, naik turun dengan chaos.

“Aaakh…” Sheena berteriak tertahan, mendadak sensasi geli menyebar dari ujung puting ke sekujur, sebelum bermuara di selangkangannya yang mulai dipenuhi rasa geli dan gatal setiap lidah Indira bergetar di ujung putingnya. Getaran yang memenuhi dadanya dengan gejolak birahi yang bergolak-golak, membuat tubuhnya menggelinjang liar, dan semakin liar.

Sheena melengguh lagi, erotis, penuh gairah, sebelum berteriak “Aaaah… Aaah… Aaah… aku udah nyampheee…”

Tubuhnya bergetar hebat, puncak birahinya tuntas dalam satu hentakan keras yang menghempas tubuhnya ke dada Ava bersama cairan kenikmatan yang menyembur deras, melumeri kejantanan Ava sampai buah zakarnya.

“Aaaah hah…hh… hh… hh…” Sheena terengah, meremas dadanya, meresapi sisa-sisa gelombang orgasme yang masih menimbulkan setruman geli di selangkangannya. Nafasnya masih naik turun, dan dibiarkannya kejantanan Ava yang tegang tetap menancap. Sheena tetap terbaring dalam pelukan Ava dan tersenyum, membiarkan wajahnya diciumi Ava. Sampai Indira merengek-rengek, meminta jatah yang sama dari sang pejantan alfa.

Sheena tersenyum melihat tingkah gadis itu, sebelum beringsut ke samping. Indira tersenyum girang, segera naik ke atas tubuh Ava dalam posisi Reverse Cowgirl, namun Ava malah berguling ke samping, hingga Indira terhempas ke atas bantal, dan dipeluk Ava dari belakang.

Indira menggerundel, namun segera kembali tersenyum karena Sheena memeluk, menciumi wajahnya. Ava segera menggesek-gesekkan kejantanannya yang penuh cairan kenikmatan Sheena ke selangkangan Indira, dari arah belakang, dalam posisi Spooning.

Terhimpit oleh pelukan Sheena dan gesekan Ava, Indira melenguh pelan, menggeliat sambil melingkarkan pahanya di tungkai Sheena. “Oooowwwwh…” Indira menggigit bibir bawahnya, “Aaah… aaah… Ava… tega… ih…” ia merengek sambil mengeliat erotis, minta segera disetubuhi, karena Ava hanya menggesek-gesek kejantanannya di selangkangan Indira.

Kepala kejantanan Ava meluncur-luncur di labia Indira, menyundul-nyundul klitorisnya, membuat anak itu semakin berkelojotan penasaran. “Ooooh… Avaa… Ava jahat… uuuuuuh…” Indira yang birahinya sudah diubun-ubun, segera meraih kejantanan Ava, menempatkannya di kewanitannya yang sudah basah dan merekah.

Jantung Indira semakin berdebar, karena kepala kejantanan Ava yang hangat itu pelan-pelan menyeruak ke dalam liangnya. “Uuuungggh…” Indira mengernyit, ada sedikit ngilu di situ, namun Ava terus mendorong maju, perlahan memenuhi tubuhnya dengan benda padat dan hangat, juga nikmat yang berdesir-desir saat kejantanan Ava yang berurat membuat selangkangannya semakin gatal.

Indira memejam, dengan bibirnya membuka yang mengeluarkan jeritan tak bersuara saat kejantanan Ava menyeruak sampai ujung.

“Akh… Ouaaaaah… aaah… haaah… haah… gilak… besar… banget… ummmmh…” kalimatnya tak selesai, karena bibirnya keburu dilumat Sheena yang keburu nafsu melihat wajah Indira yang sayu dan dipenuhi birahi.

“Gilak… ini meki apa… karet… hah… hah… hh… hh…” Ava mendengus sambil menciumi lehernya.

“Hah… hah… hh.. hh… Kuat… nggak…?”

“A-akuuu… usahain…”

Ava mulai memompa, menggerakkan pinggulnya maju mundur, hingga kewanitaan Indira mulai dipenuhi oleh nikmat yang berkedut-kedut, keluar masuk, berputar-putar, menggeseki dinding-dinding kenikmatan yang semakin penuh oleh lendir-lendir cinta

“Ssssh… oooh… Eeemhhh… oooohhhh… ooouuuh….” indira mulai mengeluarkan suara-suara sensual, yang segera dilumat buas oleh Sheena. “Mmmmh…” Indira balas menggigit bibir Sheena, meremas pundaknya, merem melek menikmati sodokan kejantanan Ava yang maju mundur menyetubuhinya dari belakang. “Enak, Va… terus… ohmmm… ohh…” Bibir seksinya mulai mengeluarkan ceracau erotis seiring suara paha dan pantat yang beradu. “Plak! Plak! Plak!”

Indira mendesis, dan mengerang sepuasnya, menikmati sepasang tubuh telanjang yang menghimpitnya, payudara Sheena yang kenyal di depan, juga dada Ava yang bidang di punggungnya yang melengkung-lengkung menahan nikmat.

Indira menggelinjang, menikmati remasan Sheena, sodokan Ava, juga ciuman-ciuman yang mendarat di bibir dan lehernya yang penuh peluh, membuatnya semakin terbang ke awang-awang.

Tiga tubuh telanjang saling berpelukan dan mencari kepuasan surgawi, ketiganya mulai berpeluh hingga tubuh mereka berkilat-kilat dan bersemu merah, sensual!

Indira melingkarkan tangannya di leher Sheena, tersenyum, dengan wajah yang memerah dan basah, yang segera diciumi Sheena yang gemas melihat wajah Indira yang dimabuk birahi. Sheena mecium mata, pipi, bibir, dan lehernya, sambil menggesekkan selangkangannya yang memasah di paha Indira.

Diremas-remasnya pantat dan payudara si bidadari mungil, sampai Indira membalas membelai kewanitaaannya. Sheena mengernyit, kemudian menggeliat geli, karena tahu-tahu jari Indira sudah mencelup ke dalam kewanitaannya yang becek.

Sheena mengerang tertahan saat jari Indira mulai bergerak maju-mundur. Genjotan Ava yang membuat Indira mabuk birahi, menyebabkan jarinya mengocok buas di dinding kewanitaan Sheena yang becek dan semakin membecek. “Sleph… Sleph… Sleph…” suara lendir berkecipak. “Indira! Indira! Aaaah… ooooouh…” Sheena mengerang sejadi-jadinya, merem melek menikmati kocokan Indira berputar-putar dan terus bergerak liar dalam lautan lendir!

“Auuuuuh aauuuuuuh auuuuuuh….” Indira pun tak menyahut, matanya memejam, sekujur tubuhnya menegang, karena Ava semakin erat mendekap dan memompanya dari belakang, sementara Sheena meremas payudaranya dari depan. “Aaaaah! Aaaah! Aaah! Aaah! Aah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah!” Interval jeritan Indira semakin rapat, karena sodokan Ava-pun semakin cepat.

Sementara Ava melengguh-lengguh menahan geli, saking peret dan hangatnya kewanitaan Indira. Pemuda itu menahan nafas, sedapatnya agar tidak jebol duluan. “Aaaaaah…” sedetik kemudian ia mengerang pelan, wajahnya nampak kesakitan. Ava mendekap dan meremas dada Indira semakin erat, membenamkan wajahnya di tengkuk Indira, hingga ayunan pinggulnya makin dalam menancap.

“Akh!” Indira agak terkejut, “Aaah! Aaaah! Aaaah! Aaaaah!” gelora kenikmatan berkumandang, saat kejantanan Ava menghentak sampai rahimnya. Pinggulnya terangkat, dan jarinya menghentak kewanitaan Sheena, membuat cewek tomboy itu makin menghenyakkan dadanya yang kenyal ke tubuh Indira.

“Indira… Aaaaah…”

“Kak Na… Ava… Sssssh… Aaaah! Aaah!”

Begitu terus seperti gelombang yang tak berkesudahan.

“Ummmh…” Ava melengguh lagi, tanggul pertahanannya hampir bobol! Perut bawahnya kini dipenuhi oleh perasaan merinding yang menggelegak, berputar-putar dan hendak meledak!, Tangan Ava menjangkau jauh ke punggung Sheena yang penuh peluh, merapatkan tubuh cewek tomboy itu ke arahnya. Sheena terhenyak, balas melingkarkan lengannya ke leher Ava dan pahanya ke pinggul sang pemuda, mendekap semakin erat, membuat Indira terjepit dalam dua tubuh yang dipenuhi peluh, juga birahi yang kian bergolak dan bergejolak.

“Griiiit…. Griiiiit! griit! Grit!” Gazebo kayu semakin berderit.

Ava terus memompa, dan bertiga mereka saling merintih dan mengerang, dalam gelombang birahi yang semakin mengaduk-aduk dada dan perut mereka. Tubuh mereka menggeliat saling menempel dengan peluh yang berkilat-kilat.

Ava mengerang panjang, pelukannya pada tubuh Sheena semakin erat.

“Ava… Ava… aaaah…” Sheena ikut mengerang, dengan wajah yang memerah sayu.

“Shee… Naaa… aaahahhhh…” Mereka makin erat mendekap dan menatap, hingga Indira yang berada di tengahnya berteriak panjang.

Indira berteriak heboh sambil berkelojotan, tangannya semakin kencang mengocok Sheena, dan otot-otot kewanitaannya mengedut liar, mengunyah kejantanan Ava, membuat keduanya mencapai puncak yang sama.

“Aauuuuuuuh…” Sheena berteriak panjang, meraih kepala Ava, dan melumat bibirnya di pundak Indira. Punggung keduanya saling melengkung dan menghenyak Indira dalam badai kenikmatan yang datang bergulung-gulung, silih berganti bersama pinggul yang tak henti menggelinjang, liar, primordial.

Teriakan kenikmatan diproklamirkan, dan semakin membahana.

= = = = = = = = = = = =​

Angin berhembus masuk, bersama sinar bulan yang temaram, jatuh di atas tiga sosok tubuh yang bersimbah peluh, menikmati sisa-sisa orgasme yang berdesir di dalam darah dan ingatan.

Indira menggelendot manja di dada Ava yang telanjang, sementara Sheena memeluk tubuhnya dari samping. Mata Indira memejam, menikmati kehangatan sepasang tubuh yang menghimpitnya.

Tangan Ava melingkar, merangkul keduanya. Telapak tangannya membelai rambut pendek Sheena, lembut. Sheena menahan nafas, menggenggam telapak Ava, menempelkannya di pipinya, menghayati setiap tekstur jari yang lama ia rindukan.

Angin berhembus masuk, bersama sinar bulan yang temaram. Sepasang mata memejam. Dua pasang mata diam-diam berpandangan. Sheena melihatnya di dalam mata Ava, menemukan keteduhan.

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;

sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

To Be Continued