. Nirwana Part 36 | Kisah Malam

Nirwana Part 36

0
162

Nirwana Part 36

Dancing In The Moonlight

“We get it on most every night
When that moon is big and bright
It’s a supernatural delight
Everybody’s dancing in the moonlight”

Sepasang mata Sheena mengawang ke arah Ava yang duduk bersama Indira di beton pemecah karang. Ujung-ujung tungkai mereka tercelup di permukaan air yang bercahaya redup, memantulkan sinar pucat bulan sabit yang berpendar di langit gelap.

Setelah berdansa pelan, mereka bertiga memutuskan berjalan-jalan menyusuri bibir pantai. Malam minggu masih bersisa cukup panjang untuk menghabiskan beberapa bungkus rokok lagi. Ujung utara pantai Kelan adalah areal Bandara Internasional Ngurah Rai yang dibatasi dengan pagar kawat tinggi, namun menurut Bob, justru disitulah spot terbaik untuk menikmati pantai tersembunyi ini. Yakni beton pemecah gelombang yang memagari Bandara Ngurah Rai yang menjorok ke laut. Cocok untuk berkontemplasi, kata Bob sambil terkekeh.

Malam ini mereka bertiga menikmati waktu yang sesaat seperti dihentikan Tuhan untuk mereka. Sheena yang diburu masa lalu, Indira yang tersesat di jalan kehidupan, Ava yang memburu masa depan, dan kali ini mereka menikmati saran Bob untuk menikmati saat ini.

Ketiganya kini duduk di beton pemecah gelombang tepat di samping landasan pacu. Di depan mereka terbentang laut yang berwarna perak-kehitaman, sementara di belakang mereka pesawat lalu lalang yang hendak tinggal ataupun lepas landas.

“Yakin kita boleh nongkrong di sini?” Ava tersenyum kecut. Pesawat Jumbo Jet melintas cepat tepat di atas kepala. Suaranya meraung keras, disusul decit ban yang bergesek pada aspal landasan pacu.

“Ya elah, ditanyain pada diem… ” Ava melotot ke balik pagar alumunium yang mengelilingi komplek bandara Ngurah Rai. Di kejauhan pesawat yang baru saja mendarat menimbulkan asap yang melayang tipis di atas lapisan aspal.

“Nggak apa, kali. Ini kan di luar areal bandara. Lagian, kalau sore-sore banyak orang yang nongkrong di sini. Romantis,” imbuh Sheena, memandangi pantulan wajahnya di permukaan air yang bercahaya.

“Cie cie, emang kamu pernah nongkrong sama siapa di sini?”

“A-apaan, sih? kepo, tahu,” dengus Sheena kesal, menonjok Ava kuat-kuat.

= = = = = = = = = = = = = = = =​

6 bulan mereka tinggal berdampingan, namun hanya saling sapa ala kadar, seolah ada dinding tebal yang dibangun Sheena untuk membatasi diri dari orang yang selalu berhasil mengingatkannya pada Awan.

Namun kali Ava tidak menyahut lagi, hanya tersenyum lebar ke arahnya sambil terkekeh-kekeh. Sheena segera membalas, tersenyum kecil, sebelum memalingkan wajah ke arah lampu di kejauhan yang berpendar malu-malu, berupaya memungkiri bahwa tembok tebal yang dibangunnya selama 6 bulan terakhir perlahan runtuh, satu persatu.

Deburan air menciprat ke udara sebelum kulit wajahnya sempat berubah warna. Ava dan Sheena segera menoleh ke asar suara dan mendapati Indira sedang berenang sambil tertawa-tawa. Dress putih dan flat shoes-nya sudah terlipat rapi di atas beton pemecah ombak, dan si gadis kecil kini sedang asyik menampari permukaan air dengan tungkai-tungkainya.

“Ava! Kak Na! Ayo ikutan! Seru, tahu!” Dalam balutan bikini, Indira menjerit sambil tersenyum-senyum sendiri. Kenaikan kadar alkohol ditambah efek psikotropika kanabis agaknya memicu produksi dopamin berlebihan sehinga memutus urat-urat malunya.

“Indira! Kamu ngapain?!”

“Kapan lagi bisa berenang di samping landasan pacu!” jeritan Indira ditenggelamkan gemuruh mesin jet di atasnya.

“I-iya! Tapi, kan…”

Tak mempedulikan protes Ava, Indira malah tertawa-tawa lalu berenang menjauh.

“Na, gimana nih?” Agak panik, Ava menoleh ke arah Sheena.

Lawan bicaranya hanya mengangkat bahu lalu tersenyum. “Hidup ini pendek, Va. Kapan lagi kita bisa berenang di samping landasan pacu?”

Ava tak bisa berkata apa-apa lagi, karena Sheena kini malah sibuk melucuti sepasang sepatu converse-nya. Di detik berikutnya, celana jins belel sudah menyusul terlipat di sebelah tumpukan baju Indira. Ava memandang tak berkedip, cahaya bulan dan lampu bandara menerangi lekuk tubuh Sheena yang hanya dibalut celana dalam hitam dan tank top ketat.

Perempuan berambut pendek itu mengerling ke arahnya. “Kalau elu nggak ikutan, Indira buat gue aja, ya, haha…”

Senyuman menantang di bibir Sheena adalah yang terakhir dilihat Ava sebelum pandangannya dikaburkan oleh deburan air yang menyembur keras bersama dengan tubuh bertato yang mencebur menyusul Indira.

Sang pemuda menyeka wajahnya. Bulan sabit yang kini berada sedikit di bawah titik zenith memancarkan cahaya keperakan. Mengilatkan bulir-bulir air yang membasahi tubuh sensual berambut pendek itu. Air laut yang merendam hingga sebatas payudara membuat tank top ketat yang membebat dada Sheena menampakkan sepasang benda menakjubkan berikut tajuk-tajuk yang menapak jelas dari baliknya. Dan Ava tak bisa untuk tidak terkesima.

“Ava! Ayo! Kak Na aja ikutan!” Indira menjerit dari kejauhan, terkekeh-kekeh lucu sambil berenang-renang riang ke arah Sheena yang merentang menyambutnya. Dua carik pakaian renang minimalis seolah tak mampu membungkus tubuh ranum Indira. Payudara mungilnya timbul tenggelam diikuti lekuk pinggul yang membayang indah di bawah gelombang. Indira tersenyum menggoda, membiarkan cahaya bulan melakukan tugasnya: menguaskan aksentuasi erotis pada lekuk-lekuk tubuh remaja yang menanti untuk dijelajahi.

Kali ini Ava tak bisa lagi menahan diri. Bayangan pagar kawat menggelapkan pandangan, dan laut yang temaram menjadi tabir alami bagi ketiganya dari pandangan orang-orang yang masih ada di darat.

Everybody here is out of sight
They don’t bark and they don’t bite
They keep things loose, they keep it tight
Everybody’s dancing in the moonlight

Hanya menyisakan secarik cawat, pemuda brewok itu melompat ke laut, menyusul sepasang bidadari yang bersorak menyambutnya. Rasa asin menyerbu indera pengecap, dan indera pengelihatannya segera dibuat mengerjap-ngerjap, beradaptasi dengan kandungan garam yang menimbulkan rasa perih di selaput kornea.

“Yeeeeey!” Indira menjerit girang.

“Gitu dong, jadi cowok,” Sheena menonjok pelan pundak Ava dengan lengan kiri yang dipenuhi tato.

Mesin pesawat menderum di atas kepala mereka, diikuti sinar bulan yang menyinari rangkaian lukisan magis yang dirajah di atas kulit manusia: kobaran api yang membentuk tulisan ‘Inferno’, tulang punggung naga yang membentuk tulisan ‘Purgatorio’ yang mengular hingga punggung tangan.

“Paradiso…” gumam Ava tanpa sadar, ketika pandangannya tertumbuk pada sepotong kata di penghujung. “Dante? Divina Commedia?”

Sheena mengekeh bangga. “Kamu tahu, Va?”

“Surga. Tempat kembalinya anak-anak Adam yang terusir…”

Sheena mengangguk. “Tapi Paradiso bisa juga berarti akhir yang bahagia.”

Ava terkekeh. Indira tersenyum. Mereka semua mencari akhir bahagianya.

“Bagus, ya…,” Indira mengomentari lagi tato naga bersisik api neraka yang memenuhi lengan kiri Sheena.

“Iya, kan…” imbuh Ava. “Udah kubilang, tato-nya cakep banget! Kok bisa sih, kamu bikin tato kaya gitu, magis, bisa bikin aku merinding,-…”
“Mimpi,” Sheena menjawab pendek.

“Hah?”

“Ini mimpi yang kulihat selama 10 tahun terakhir,” Sheena berkata, kali ini suaranya begetar. Getir.

Kali ini giliran perasaan Ava yang mendadak tidak karuan begitu mendengar kata ‘mimpi’ dari bibir Sheena. Benaknya menerka-nerka, namun sebuah tangan halus yang mendarat di pundaknya membuyarkan pertanyaan sang pemuda. Terdengar deru pesawat dan gemuruh gelombang yang memecah ketika tangan Indira merentang, mengundang Ava untuk masuk ke dalam dekapannya.

“Udah, jangan deh ngomongin yang sedih-sedih lagi…” Indira merangkul keduanya. “Kita hidup di saat ini… dan yang penting sekarang Dira bahagia, bisa ketemu Ava dan Kak Na.”

Air laut merendam ketiganya hingga sebatas dada. Indira menyandarkan kepala di pundak Sheena yang memeluknya dari belakang, memandang langit yang penuh bintang. Menikmati belaian Sheena di rambutnya, juga lengan Ava yang melingkar di pinggangnya.

Ava menatap Indira yang tersenyum, indah. Sheena memandang Indira yang menoleh ke arahnya, mempesona.

Zwassssssh….” Ombak berdebur pelan. Angin malam berhembus, dingin. Namun entah dari mana asalnya perasaan hangat yang memenuhi dada ketiganya.

“Ingat di mana kita bertiga ketemu?” tanya Indira.

“Pub, kan?” kata Ava.

The Crossing Fate,” Sheena menambahkan.

Indira tersenyum. “Tuhan jahil ya? Entah kebetulan atau apa…”

Sheena terkekeh. “The Crossing Fate… takdir yang bersilangan, ya…”

Ava ikut tersenyum. “Mungkin kita sudah ditakdirkan ketemu, kali…”

“Ditakdirkan untuk saling melengkapi…,” bisik Indira. Ombak berdebur, mengamini.

Dalam sepersekianmilisekon muncul memori kolektif di benak Ava dan Sheena. Ingatan Sheena saat mereka mandi sore, ingatan Ava saat mereka dilukis. Ingatan tentang tangis dan tawa Indira, semua berputar seperti tayangan film 8mm. Memori yang menggerakkan alam bawah sadar mereka untuk mendekatkan wajah masing-masing.

NGGGGIIIIIIIIIIIIING…..” Pesawat mendarat dan menderu, mengiringi sepasang ciuman yang mendarat di pipi Indira.

Indira tersenyum, pipinya yang lembut semakin merekah, menikmati ciuman yang datang dari dua arah. Dirangkulnya kepala keduanya, dibenamkannya kedalam wajahnya, menikmati sepasang kecupan yang bertemu di bibirnya.

Tiga bibir saling berpagut dalam gelap. Ombak berdebur mengiringi senyap dan degup jantung dan birahi yang mulai berdesir.

“Mmmmh…” Indira melenguh, menikmati remasan-remasan kecil pada dadanya. Entah tangan Ava atau Sheena. Indira hanya menggeliat geli, karena pahanya sekarang sedang dijamah dan dibelai, dan… “Ooh…” atau lekuk lepit di bawah sana yang kini diusap… pelan… perlahan… “Mmmmh….” Indira melengguh pelan… menikmati…

Indira memejam, terkadang menatap nanar, namun yang dilihatnya hanyalah laut yang berkilau dan langit yang penuh bintang. Sementara tubuh ranumnya dibelai sedemikian rupa, dan Indira tidak peduli, siapa yang sedang menciumi lehernya, atau menjilati tulang selangkanya. Indira hanya kembali memejam, meresapi.

Perpaduan antara ganja dan arak yang diminum di tempat Bob, belaian di selangkangan, dan Sheena yang tak henti menciumi dadanya, membuat Indira semakin dimabuk birahi. Remaja blasteran itu mengerang, dan kewanitaannya semakin meremang. Sesuatu di dasar jiwa Indira semakin menggelegak, bergolak-golak seiring desah-rintihnya yang ditelan deru ombak. Dan Indira tahu, nafsu paling hewani bernama birahi tak akan puas hanya dengan remasan-remasan belaka….

Ombak datang menghempas dan membuat tubuh ketiganya timbul tenggelam di atas permukaan air yang keperakan. Awan perlahan menyisih dan menampakkan bulan terang yang menyinari bulir-bulir air yang berkilauan di leher Sheena, juga sepasang tonjolan kecil yang menapak jelas, mengeras dan menegang dari balik tank top ketat sang gadis tomboy yang selalu berhasil membuatnya terpesona.

Dan kali ini, Indira tidak perlu menahan diri….

Remasan gemas segera mendarat di atas payudara Sheena, disusul pagutan lembut pada bongkahan kenyal yang meruah di belahan tank-topnya yang rendah. Lengguhan pelan hadir sebagai jawaban, membuat Indira semakin berani menyibak penutup tubuh atas Sheena, membebaskan sepasang payudara bulat yang berukuran cukup besar itu dari kurungan yang mengungkungnya. Cahaya bulan jatuh ke atas buliran air dan keringat, menimbulkan kilatan-kilatan erotis pada lembah dan bukit, juga sepasang tajuk yang mengacung tegak menantang.

Sheena menggeliat, menjambak rambut Indira yang asyik menyusu di payudaranya. Kali ini ia hanya perlu memejam, memasrahkan semua pada hasrat dan gelombang. Sheena hanya mampu merintih ketika tajuk-tajuk payudaranya dilumat dan dikulum, juga ketika daerah intimnya mulai dirambah dan dijamah…

Sheena berusaha menepis, namun lidah Indira yang bergemeletar di putingnya membuat otot-ototnya lemas seketika. Birahi yang sudah membakar, membuat gadis berambut pendek itu pasrah saja ketika celana dalamnya dilolosi –entah oleh siapa-, hingga Indira bisa leluasa menyusupkan tangan ke belahan kemaluannya yang ditumbuhi bulu halus. Sheena menggeliat, segera dirasakannya hangat tangan Indira membelai labianya, berputar-putar, sebelum memijat pelan klitorisnya.

Pinggul Sheena terangkat seirama pijatan Indira. Matanya memejam kuat-kuat, berusaha menikmati belaian jemari belia yang mulai menguak belahan kewanitaannya. Satu jari masuk. Dua jari. Lalu dirasakannya Ava turut andil memainkan klitorisnya dari luar. Berputar-putar. Memiijat pelan.

Sheena mendesis pelan, menikmati pusaran birahi yang menghujam di selangkangannya, pelan-pelan memusar di perut, ke tajuk-tajuk yang sedang dihisap Indira, ke kerongkongannya -hingga ia menjerit-, lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Gelombang birahi yang datang berguruh-guruh membuat sekujur ototnya tiba-tiba mengejang dan menegang tanpa bisa dikendalikan lagi. Mulut Sheena mengangga seperti kehabisan udara. Otot-ototnya berkedutan tak terkendali, dadanya membusung-busung hingga payudaranya timbul tenggelam di atas permukaan air.

Indira yang tahu Sheena segera mencapai puncak, segera melumat bibirnya dan menohokkan kuat-kuat jemari ke g-spot.

“MMMMMH… OOOHMMHHHH… MMMMHHH!” Sheena mengerang, menjerit sejadi-jadinya. Namun jeritannya seolah terbenam dalam derum dan decit pesawat yang mendarat tepat di ubun-ubunnya.

Hal terakhir yang diingatnya adalah gemuruh gelombang orgame yang datang berguruh-guruh bersama orgasme paling menakjubkan sepanjang hidupnya. Sheena hanya mampu memeluk tubuh kekar Ava erat-erat sambil membiarkan Indira melumat habis bibirnya. Dan yang terjadi setelahnya adalah hening, dan otot-ototnya seolah kehilangan daya untuk bahkan untuk menjejak permukaan pasir. Sheena tersenyum bahagia, membiarkan wajahnya diciumi Indira dan tubuhnya yang kehilangan tenaga digendong Ava ke tepian.

We like our fun and we never fight
You can’t dance and stay uptight
It’s a supernatural delight
Everybody was dancing in the moonlight
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

“Di sini?” bisik Sheena lemah. Ketika tubuhnya tersandar di beton pemecah karang.

Setengah telanjang, perempuan berambut pendek itu mengangkang di bawah pesawat jumbo jet yang melintas rendah di atas kepala. Celana dalamnya sudah tercampak entah di mana, dan tanktop ketatnya sudah naik hingga sebatas dada, menampakkan sepasang payudara ber-cup c yang dipenuhi kilatan air dan bekas cupangan.

“Kenapa enggak?” Indira tersenyum nakal, segera ikut melepas sepasang bikininya hingga telanjang bulat, tanpa tabir apapun selain rambut yang tergerai sampai dadanya yang ranum.

Ava menelan ludah. Threesome coy! Otak mesumnya menjerit kegirangan.

Di atas beton pemecah ombak. Indira menindih tubuh Sheena, hingga sepasang payudara mereka saling berhimpit. Sheena terpana melihat wajah Indira yang bersemu merah dengan latar belakang langit malam yang dipenuhi bintang, namun sedetik kemudian matanya sudah terpejam menikmati lumatan bibir Indira yang memagut bibirnya.

Perlahan tapi pasti, pinggul keduanya mulai bergerak seiring debur ombak. Maju-mundur, dan saling menggesek, hingga kewanitaan Sheena yang berbulu lebat beradu dengan kewanitaan Indira yang polos. Klitoris mereka yang saling menggerus, menebarkan rasa geli bercampur gatal yang meremang, mulai dari selangkangan hingga ke sekujur tubuh keduanya, membuat sesama wanita itu mengeluarkan desahan erotis seirama angin malam.

Dalam badai kenikmatan, Indira melirik ke arah Ava yang sudah telanjang bulat sambil mengurut kejantanannya -melihat sesama jenis itu saling cumbu. Ava mengerti isyarat Indira, segera mengarahkan kejantanannya yang sudah menegang dari belakang, tepat di belahan kewanitaan Indira yang sudah dilelehi cairan kenikmatan.

Perlu sedikit usaha bagi Ava untuk mengepaskan kejantanannya tepat di liang senggama Indira yang tengah sibuk mengadu kelamin dengan Sheena.

“D-diem, dulu…” bisik Ava, sambil menampari pantat Indira.

Gelap dan ditambah Indira tak berhenti bergerak, membuat kejantanan Ava hanya bisa meluncur-luncur di antara bibir kewanitaan dan belahan pantat Indira. Sepasang wanita yang tengah asik bercumbu itu langsung melenguh dan mengerang ketika ujung kejantanan Ava menyundul-nyundul daerah sensitif mereka.

Terjebak antara birahi dan situasi, membuatnya memikirkan alternatif kedua: Ava berlutut di antara kedua paha Sheena yang membuka. Sedikit ragu, Ava menempatkan kejantanannya di belahan kewanitaan Sheena yang (juga) sudah dibanjiri lendir.

“Ava…. jangan… ssssh…..” rintih Sheena cemas, berusaha menepis batang berurat yang kini menggerus selangkangannya.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Dirinya masih perawan. Begitu setidaknya yang diingat Sheena. Selaput daranya koyak semasa kuliah, entah oleh siapa. Dirinya terlalu mabuk untuk mengingat satu di antara 5 anak-anak pecinta alam yang menyetubuhinya di dalam tenda. Trauma. Setelah itu, tak pernah lagi ia bercampur dengan lawan jenis. Tidak sepanjang yang diingatnya. Namun kali ini, sang gadis tomboy harus merelakan himpitan rapat dinding-dinding kewanitaannya dibelah oleh batang berurat yang tengah bergerak mencari jalan masuk.

“Ooooh… uuungggh.. A-ava! K-ka-kamu… mau… ap- ooooouuuuuh….” Sheena tidak menyelesaikan kalimatnya, karena dalam satu kali dorongan, batang kejantanan Ava sudah melesak memenuhi lubang sempitnya, membuat cewek tomboy itu memejam dan mengejang kuat-kuat akibat geli dari penetrasi kelamin lawan jenis yang sudah lama tidak ia rasakan. “Ava… aaaaaaaah… jang… janganh…. aaangghhhh…”

“Sssssst….” Indira membungkam Sheena dengan ciuman pada bibir. Cewek tomboy itu termegap-megap, mengejang hebat akibat kewanitaannya tidak terbiasa dipenetrasi oleh batang berurat sebesar itu. Lembut, Indira membelai wajah Sheena yang nampak kesakitan. “Nggak apa-apa…” bisik Indira di telinga Sheena, “nggak apa-apa…”. Segera dikecupnya bibir Sheena pelan, sambil dipeluknya tubuh Sheena yang sedikit memberontak.

Sheena mendesis dalam pagutan Indira, karena kejantanan Ava yang padat dan berurat terasa panas dan berkedut-kedut di dalam liang kawinnya, masuk-keluar dan menggelitik kerat-kerat kenyal yang dipenuhi syaraf-syaraf erotis. “Ssssssssh….. sshhhhh….. nnnnggggh……” Indira tersenyum melihat mata Shena mulai membeliak dan memejam seiring gerakan kejantanan Ava yang tengah menyetubuhinya. Perlu beberapa jenak, hingga akhirnya gelombang birahi mulai memenuhi tubuh Sheena seiring pinggul Ava yang bergerak mengayun.

“Enak?” bisik Indira sambil menciui wajah Sheena yang mulai merona.

Sheena hanya menjawab dengan senyum sayu.

Menikmati. Bibir Sheena yang eksotis mulai mendesis erotis, yang segera disambut Indira dengan lumatan buas, memagut pelan disertai sapuan lidah yang menguas dan remasan-remasan di sekujur payudara sang gadis tomboy.

Malam ini, desah rintih harus rela disamarkan oleh debur gelombang. Air laut bergerak membelai tiga tubuh telanjang saling berpelukan dan mencari kepuasan surgawi. Temaram cahaya bulan dan bulir-bulir air membuat tubuh ketiganya berkilat-kilat dan mengeluarkan rona-rona sensual yang hadir bersama dengan ombak birahi yang kian meninggi…

Ava terus memompa dan memompa. Sheena terus mengejang dan menggelinjang, melingkarkan pahanya di pantat sang pejantan alfa. Sekilas mata Sheena bertatapan dengan Ava, saling menatap di bawah ribuan bintang. Suatu dorongan di alam bawah sadarnya membuat Sheena menjangkau punggung Ava, direngkuhnya kekar otot-otot punggung Ava hingga Indira terhenyak di antara dua tubuh yang saling peluk.

Ava menatap mata Sheena yang nanar dicumbu Indira di lehernya. Ada suatu dorongan tak kasat mata dari alam bawah sadar yang memerintahkan untuk membelai wajah Sheena, lembut, yang segera disambut dengan ciuman pelan pada punggung tangannya.

“Ava…. aaaaah…. Ava… nnngggh….” Sheena membisikkan nama Ava di telinga Indira yang semakin terhimpit oleh dua tubuh yang saling memeluk.

Indira tersenyum. Menikmati sepasang tubuh telanjang yang menghimpitnya; payudara Sheena yang kenyal di depan, juga dada Ava yang bidang di punggungnya yang melengkung-lengkung menahan nikmat. Tubuh keduanya saling melengkung dan menghenyak Indira dalam badai kenikmatan yang datang bergulung-gulung, silih berganti bersama gerak pinggul yang tak henti menggelinjang.

“Ava… aku…. aku…. nyampe…. auuhh… auuuuuhhh…… “ Sheena memejam kuat-kuat ketika seluruh tubuhnya gemetar hebat. Dinding-dinding kewanitaan Sheena segera berkontraksi, menyemburkan cairan cinta yang melumeri buah zakar Ava beserta paha ketiganya. Sheena merintih. Mengerang. Menggelinjang. Jeritan orasmik tenggelam dalam debur ombak….

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​
Dancing in the moonlight
Everybody’s feeling warm and bright
It’s such a fine and natural sight
Everybody’s dancing in the moonlight

Perlu menunggu beberapa saat, hingga tinggal hening, desir ombak, dan nafas yang terenggah. Sheena tergeletak pasrah, menikmati sisa hempasan badai orgasmenya dalam pelukan Indira yang tak henti menciumi wajahnya.

“Kak Na cantik banget kalau orgasme,” bisik Indira, yang disertai kecupan ringan pada bibirnya. “Iya, nggak Va?” Indira mengerling ke arah Ava, disertai gerakan pantat yang mengundang, pertanda ia menginginkan perlakuan yang sama dari sang pejantan Alfa.

Cahaya bulan dan lampu bandara membiaskan kilauan sinar pada bongkahan pantat mulus Indira yang diliputi keringat dan bulir-bulir air. Cairan cinta yang sudah membanjir, nampak meleleh-leleh dari belahan kewanitaan belia yang sudah berkedut-kedut ingin segera disetubuhi.

“Ayo….” rengek Indira pelan, menguak kewanitaannya dengan jari.

Hati-hati, Ava menempatkan ujung kejantanannya di belahan pantat Indira yang menungging tinggi-tinggi, bersiap menyambut batang kenikmatan yang diidam-idamkannya sedari tadi. Kali ini, cairan pelicin memudahkan batang berurat itu mempenetrasi liang belia Indira

“Sssssshhhh…..” kali Ini Indira yang mendesis di telinga Sheena ketika Ava menyodoknya dari belakang. “Avaaaa enak… bangeetthh… Ooooh! Oooooh!” ceracau Indira sambil membenamkan wajah di leher Sheena.

Sheena yang terenggah, mendadak naik kembali birahinya melihat wajah Indira yang sedang disetubuhi tepat di atas tubuhnya. Diremasnya payudara Indira yang menggantung di depan wajahnya, pelan hingga memuntir keras pada putingnya yang dipenuhi titik-titik erogen, hingga membuat Indira melengguh penuh nafsu.

Sementara Ava mencengkeram pinggul Indira, memompa kuat-kuat pingulnya ke dalam liang Indira dengan kecepatan tinggi sambil menahan geli karena sesuatu yang hampir meledak di bawah perutnya.

Indira memejam. Kewanitaannya dipenuhi oleh nikmat yang berkedut-kedut, keluar masuk, berputar-putar, menggesek dinding kewanitaannya yang penuh cairan kenikmatan. Indira melolong, nikmat itu kini menjalar sampai ubun-ubunnya, membuat kepalanya terasa ringan dan sekujur tubuhnya mendadak menggigil. Kedua pahanya melemas seketika dan ia ambruk dengan sukses di atas dada Sheena yang kenyal dengan pantat yang masih menungging.

“AUUUUH! AUUUUUHH! IIIIIH!” Indira menjerit-jerit heboh dan berkelojotan di dalam pelukan Sheena, karena posisi ini malah membuat kejantanan Ava menukik tajam menghujam tepat pada g-spot-nya. Pantanya melejang, tertungging-tungging dihantam perkakas impor dari jazirah arab Cairan cinta kian membanjir, memberikan efek suara berkecipak mesum ketika batangan Ava bergerak mengawini liang belia Indira. Sementara di bawahnya, Sheena yang sudah dijangkiti birahi kembali menggesek-gesekkan klitorisnya di tubuh Indira.

Ketiganya larut dalam nafsu birahi, hingga tak mempedulikan pesawat yang tinggal landas dan menggetarkan dada ketiganya. Karena sungguh, getaran birahi itu lebih dahsyat dari suara pesawat Concorde sekalipun!

“Ava… a-a-aku udah… uuuuuuunggg!… aku sudah hampiiir! oooouuuuuh… ooouuuuuuuh! Iiiiiiiih!” Wajah Indira seperti orang kesakitan, mengejan dan memerah di dalam pelukan Sheena.

“I-indira, a-a-aku juga….. uuungggh…. udah… hampir…” suara Ava bergetar, karena dinding-dinding kewanitaan Indira nampaknya mulai berkontraksi dan meremas-remas kejantanannya.

“Tahaaaaan… auh! Auh! Auh! Uuuuungggg! Indira juga bentar lagiiiii!” Indira menggeleng panik.

“Enggak… bis~ oooh…”

Tubuh Indira mendadak mengejang, selangkangannya terasa gatal dan semakin menyebar sekujur tubuhnya, membuatnya semakin erat mendekap tubuh Sheena. Indira memejam kuat-kuat bersiap menggapai puncaknya, namun apa lacur, tinggal satu langkah ia mencapai oragasmenya, sang pemuda buru-buru menarik kejantanannya dan berguling di samping Indira. “Time-up! Time-up!” Ava terenggah menghadap laut.

Sama terenggah, Indira menatap Ava dengan wajah yang memerah, agak kesal karena orgasme yang digantung di ubun-ubuh. “ Ava… ih! nggak… seru…”

“Gila… dua lawan satu… gitu… gimana… nggak….” Ava berkata terbata, nafasnya naik turun.

Indira memberengut. Ava tidak peduli, ia memilih telentang melihat laut dan langit yang penuh bintang, mengatur kembali nafas dan staminanya. Ava tidak membayangkan, tidak pernah ada dalam mimpi-mimpinya sekalipun untuk meladeni dua wanita dalam semalam.

“Indira!” Sontak Ava tersentak, karena tahu-tahu sajaIndira sudah berjongkok menduduki perutnya sambil cengar-cengir. “Indira.. j-jangan… be-bentar dulu… aduh… auuuh… auuuh..”

Indira tidak tak ambil peduli, ia mengangkat pinggulnya, meraih kejantanan Ava yang masih diliputi cairan cinta, dan…

Ava mengerang pelan sambil memejamkan matanya, karena sedetik kemudian yang ia rasakan hanyalah ruang hangat dan lembab yang menelan bulat-bulat kejantanannya, bergerak berdenyut-denyut seiring dada Indira yang naik turun, memburu.

Indira menjerit pelan saat ujung kejantanan Ava terbenam penuh di ujung rahim. Matanya memejam nikmat, dirasakannya batang padat itu menyesaki liangnya, menimbulkan geli yang teramat, membuat bibirnya bergetar tipis sambil tersenyum ke arah Ava.

Seperti gelombang laut, pinggul Indira mulai mengayun. Sepasang tangannya bertumpu pada dada Ava.

Indira menggigit bibirnya, berusaha mengejar kembali orgasmenya yang tertunda.

Pinggul Indira berputar, kadang mengayun ke depan dan ke belakang. Matanya memejam, berusaha menghayati gerakannya yang lebih mirip tarian. Ava mengerang pelan, dirinya seperti tersedot ke dalam tubuh Indira, kewanitaan Indira seperti hidup, mengunyah-ngunyah kejantanannya ke dalam pusaran nikmat yang seluas jagat raya.

Kali ini Ava tak bisa bersuara. Bibirnya hanya terbuka sedikit, dan matanya menatap nanar ke arah Sheena yang berbaring di sampingnya.

Sheena tak berkedip menatap sepasang mata Ava, juga bibir pemuda itu yang mengerang pelan karena Indira yang meliuk ganas di atas perutnya.

“ZWAAAAAAAASSSSSSHHHHH!” Ombak berdebur, dan membias ke udara.

Sheena tidak tahu, kenapa saat ini bibirnya menempel di bibir Ava. Dan Sheena juga tak pernah tahu, kenapa alam bawah sadarnya memerintahkannya membelai pelan bibir sang pemuda, mendekap lehernya, dan~ “Mmmmh….” Ava menikmati lumatan Sheena, seperti ia menikmati kewanitaan Indira yang seperti hendak menelan sekujur tubuhnya.

Pinggul Indira naik turun, maju mundur, dan berputar-putar seperti angin ribut. Indira memejam, merintih, mengerang, entah apalagi, karena suara yang keluar dari bibirnya begitu sulit di deskripsikan. Dadanya membusung, dan diremas-remasnya sendiri bongkahan ranum lembut sambil terus merintih-rintih binal.

“AUUUUH… UUUNGGGH! IIIIH! IIIIH!”

Namun sedetik kemudian, rintihan Indira mendadak berhenti seperti juga ciuman Sheena, karena cahaya putih terang tahu-tahu menyinari tempat mereka.

Ava menahan nafas. “Hah… hh… hh… sudah kubilang, kan,” bisiknya.

“Sssstt! ” Sheena mengintip dari balik batu, sebuah mobil pick up putih berhenti di dekap mereka. ada tulisan AVSEC (Aviation Security) terbaca samar dibawah lampu mobil. Dua orang berpakaian seragam keluar.

Indira cepat bertiarap di atas dada Ava. Nafasnya memburu, perpaduan antara nafsu dan ketakutan.

“Saya tadi liat di CCTV, ada sekilas di daerah sini…”

= = = = = = = = = = = = = = = =​

“Saya tadi liat di CCTV, ada sekilas di daerah sini…”

“Ah, perasaan kamu saja, Tut! Nggak keliatan CCTV di daerah perifer gini!”

“Sekilas, Man.. sekilas…”

Suara dua orang petugas berseragam semakin dekat. Suara percakapan itu terdengar sayup-sayup.

Ava menahan nafas. Kejantanannya berkedut-kedut seiring arterinya yang berdenyut kencang. Pemuda itu melenguh pelan, Indira diam-diam menggerakkan pinggulnya.

Deja vu. Indira pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Sensasi berdebar-takut ketahuan-ini benar-benar membuatnya terangsang dan meradang. Persis seperti sensasi yang pernah dirasakanya ketika dilukis dengan Ava dulu. Hingga birahi yang ditahannya sekuat tenaga membuat sekujur bergetar-getar menahan nikmat.

“Indira… kamu mau ap-… mmmh…” Indira membungkam mulut Ava dengan ciuman, pinggulnya mulai bergerak lagi sambil mengkotraksikan otot-otot kegelnya, berusaha menggapai kembali puncaknya yang digantung kentang oleh sang pemuda.

Tubuh Indira gemetar hebat, ujung kejantanan Ava menggesek tepat di g-spotnya, namun mati-matian remaja birahi itu menahan diri agar tidak merintih dan mengerang, karena dua orang petugas AVSEC itu semakin mendekat. Jantungnya berdentum-dentum seperti juga birahinya. Perasaan tegang ini mensekresikan hormon epinefrin yang memicu jantungnya untuk semakin berdebaran, sementara coitus yang sedang terjadi mensekresikan hormon endorfin, hormon cinta dan kenikmatan. Kombinasi dua hormon ini menyebab rasa nikmat yang datang bertambah berkali-kali lipat, membuat Indira tak ingin berhenti menggerakkan pinggulnya!

Sheena melotot melihat kelakuan Indira. Sementara telinganya ditajamkan untuk mendengar percakapan dua petugas yang kian mendekat.

“Udah, salah lihat kamu! Balik, yok!”

“Saya yakin tadi ada!” Petugas itu bersikeras.

Ava makin pucat-pasi melihat dua petugas melangkah mendekat sambil menyalakan senter. Kejantanannya menciut seketika di dalam tubuh betinanya, sementara Indira yang birahinya sudah ubun-ubun, mencoba menghentak pinggul kuat-kuat, berharap kejantanan Ava akan kembali ereksi. Namun usahanya sia-sia, batang pusaka sang pejantan sudah kadung kehilangan tenaganya.

“Nah, ketemu!” petugas itu berteriak tepat di atas kepala ketiga orang yang bertiarap. “Sialan, ada saja orang yang main layangan dekat bandara, kalau kena pesawat bagaimana!” dia mengomel, mengambil layangan yang menyangkut di atas pagar dengan ekor panjang yang berkibaran ke udara.

“Hahaha… iya… iya…” Yang satunya terkekeh, sebelum menstarter mobil patrolinya, meninggalkan Ava yang pucat pasi dan Indira dengan orgasme yang menggantung di ubun-ubun.

To Be Continude