. Nirwana Part 35 | Kisah Malam

Nirwana Part 35

0
163

Nirwana Part 35

The Rastafarian Pilgrims

Bulan sabit pucat menggantikan jingga senja di Pulau dewata. Malam ini, dia bercahaya malu-malu dibalik tirai awan tipis, memantul ragu di riak gelombang yang membelai teluk itu.

Dalam semesta seorang Bob, tidak ada yang lebih mendamaikan bumi selain selinting ganja dan segelas arak Bali. Juga ombak yang berdeburan diselingi irama reggae yang mengalun pelan dari speaker murahan di pojokan.

“When the night has come… And the land is dark… And the moon is the only light we’ll see…” Bibir kurusnya komat-kamit, matanya mengawang melihat langit gelap dengan bulan sabit yang bersinar pucat.

Dalam semesta seorang Bob, hidup hanya berada pada satu titik: saat ini. Tak ada mimpi yang dicari, tak ada masa lalu yang membuntuti, yang ada hanyalah detik ini. Detik yang dianugerahkan Tuhan dengan cuma-cuma padanya -dan Bob tahu cara menikmati setiap detik dalam hidupnya.

“No, I won’t be afraid… no, I won’t be afraid… Just as long as you stand, stand by me..” Bob menenggak segelas arak di bar-nya yang sepi. Pahit arak segera dinetralisirnya dengan hisapan asap kanabis yang membuatnya terbang menuju nirwana.

Satu-satunya yang mengusik kedamaiannya malam itu hanyalah suara mobil VW safari yang berderu di tempat parkir “The Rastafarian Pilgrims.” Bar reggae murahan yang terletak di pantai Kelan di pinggiran Jimbaran.

“Kampret, gue kira tamu…” kata Bob, saat melihat yang datang. Seorang wanita berambut pendek dengan celana skinny jeans dan tank top putih ketat, lengan kirinya dipenuhi tatoo, Sheena.

Sheena mengendus. “Anjrit, lu nyimeng ya?”

Bob nyengir dan terkekeh, namun sedetik kemudian pandangannya sudah tersita oleh bidadari mungil yang mengintil di belakang Sheena.

“Eh, kenalin… Indira…” kata Sheena cepat.

Bob melongo seperti orang bego ketika bersalaman dengan Indira. “B-bob.”

“Ini Ava…”

Ava yang berjalan paling belakang menyodorkan tangan. “Ava.”

“B-bob.” Bob bersalaman, mengucek-ngucek mata sejenak. “Fuck, man… gue mabuk…” katanya sambil menenggak satu gelas arak langsung tandas.

“Sepi banget.” Sheena duduk di barstool di samping Bob, melihat bar yang lengang.

“Bulan ini sudah terhitung Low season,” Bob menyahut pendek.

Sheena menyalakan sebatang rokok. Membuka dompetnya, dan mengeluarkan 5 lembar uang 100 ribuan.

Bob menggeleng. “C’mon. man… kan udah gue bilang nggak usah dibalikin.”

Sheena menyumpalkan lembaran uang itu ke tangan Bob. “Thanks, bro…”

“Apaan sih! No man, no!” Bob protes.

Sheena malah merebut cimeng Bob, menghisapnya sekali sebelum mengembalikannya. “Kamu bener, Bob. Everything is gonna be alright..

Kali Ini Sheena menyumpalkan uang itu di rambut gimbal Bob, membuat rastafarian itu hanya bisa terkekeh-kekeh. Dari hasil menjadi model telanjang di rumah Pak De (total 5 lukisan) dan menjadi asisten di galeri, pagi tadi Sheena menerima gaji pertamanya. Dan hal paling pertama yang dilakukannya adalah membayar hutangnya pada Bob.

“Na, mending buat lunasin hutang lu ke siapa itu?“

“Boss Jaya… “ Sheena menelan ludah, teringat pada preman-preman penagih hutang itu. Perlu sedikit keberanian bagi Sheena (juga Ava) untuk keluar sarang, kembali ke keramaian di sekitar Kuta setelah peristiwa The Debt Collector tempo hari.

Sekarang Indira kegirangan karena diajak ke bar yang terletak di pinggir pantai. “Ava, sini!” jerit Indira saat keluar ke arah pantai, dressnya berkibar-kibar ditiup angin.

Ava bergegas menghampiri, berdiri takjub melihat saat melihat pesawat melintas begitu dekat. “Wuih, dekat bandara, yah…,” komentar Ava, benar-benar dibuat takjub dengan deretan lampu yang berjajar tepat di depannya.

“Siapa dia?” tanya Bob kepada Sheena.

“Indira… kenapa, naksir? Dia bagianku.” Sheena terkekeh.

“Bukan, satunya.”

“Oh, naksir juga?”

“Kampret lu!”

Sheena terkekeh lagi.

“Mirip, ya… atau cuma perasaan gue aja,” gumam Bob sambil menenggak segelas arak, sebelum ikut terkekeh.

Kali ini Sheena yang terdiam, tenggelam dalam suara pesawat yang menderu di langit, sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. Bar itu memang terletak di bilangan Jimbaran, namun tidak di leretan kafe-kafe ikan bakar yang mewah itu, melainkan sedikit ke utara, di antara Pasar Ikan Kedonganan dan Bandara. Sheena terus diam, menatap Indira yang menggandeng tangan Ava, menjauh ke arah buih ombak yang memecah pelan.

“Ava, lukisanmu,” kata Indira.

“Hehehe… kenapa? Bagus?”

“Jelek!”

“Gini deh, gara-gara lagi ngelukis diganggu.”

“Ngeles…”

“Hehe…”

Indira tersenyum kecil. “Itu lukisan apa sih? Biar jelek, tapi aku sampai merinding dan nangis ngelihatnya tadi pagi, tahu.” tambah Indira.

“Mimpi, hehe… aneh ya…”

“Iiiih… Ava aneeeh…. memang kamu bisa inget mimpi kamu?”

“Kalau selama 6 bulan mimpiin yang sama terus, inget lah!”

Indira bergidik melihat lukisan yang penuh taksu itu. Bidadari Bersayap Satu, Ksatria Tertusuk Pedang, dan Iblis Bertopeng. Mimpi apa yang dilihat Ava? batin indira, sebelum akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan. “Ava, kamu pasti kebanyakan main DOTA.”

Ava tertawa mendengarnya. “Maksudmu Knight Davion, Rylai Crestfall, Banehallow…”

“Iiiih, bener kan? suka main DOTA juga, ya?”

“Hahaha… nggak tahu, deh…”

Mereka tergelak-gelak, diselingi debur ombak.

“Bli, ke sini dulu!” Bob berteriak setengah teler dari dalam Bar.

“Yuk…” Ava menggandeng tangan Indira ke arah Bob. Sheena menenggak segelas arak melihat dua orang itu bergandengan tangan.

Bob mencampur arak dengan sirup lemon, soda, dan sejumput garam, kemudian dihidangkannya di atas meja. “Bob’s favourite.” katanya. “Special compliment, buat temannya Sheena.” Mata Bob terus-terusan memperhatikan Ava, menganalisis setiap gestur tubuhnya.

Ava terkekeh. “Suksma, Bli.”

Indira langsung menyambar dan menenggak habis gelas itu.

“Eh, anak kecil nggak usah ikut-ikutan!” jerit Ava yang dibalas juluran lidah Indira.

Bob terkekeh melihatnya. “Ndak papa, Saya bikinkan lagi.” Kali ini Bob membuat satu pitcher.

“I remember when we used to sit
In the government yard in Trenchtown
Observing the hypocrites
As they would mingle with the good people we meet”

Lagu mengalun, gelas diangkat. Mereka makin larut dalam perbincangan, diselingi tegukan arak dan sesekali lelucon bodoh dari Ava dan celetukan polos Indira.

“Bob Marley.” kata Bob setengah teler, sambil menunjuk foto Bob Marley yang dipajang di samping foto Mbah Surip. “Bermimpi menciptakan perdamaian dengan menginfeksi manusia dengan virus musik dan cinta.”

Sheena terkekeh. “Tapi sayangnya keburu mati.”

“Manusia bisa mati.” Ava menenggak arak. “Tapi mimpi dan idealisme? Enggak,” Ava berkata mantap. Sheena membatu.

“Good friends we have had,
oh good friends we’ve lost…
along the way….

In this bright future
you can’t forget your past
So dry your tears I say
”

Bob hidup untuk saat ini, tidak untuk masa lalu, tidak untuk mimpi-mimpi. Namun kali ini Bob dihadapkan dengan anomali yang bernama Ava, paradoks yang mendadak menjungkirbalikkan prinsip hidupnya dalam semalam.

Cara Ava berbicara, caranya bergerak dan tertawa. Juga benak Ava yang dipenuhi mimpi-mimpi, membuat Bob sadar, tak akan ada ‘saat ini’ tanpa ‘masa lalu’. In this bright future, you can’t forget the past, batinnya.

Malam ini, Bob seperti menemukan kembali sahabatnya dalam tubuh yang berbeda. Malam ini, kenangannya bersama Awan dan Sheena bergulir tanpa bisa dihentikan lagi. Semua bergulir deras, seperti sebutir air yang tahu-tahu bergulir di sudut matanya -dan buru-buru diusap. Anjrit, kenapa gue sentimental gini, batin Bob.

“Kenapa, Bli?” Ava memperhatikan riak wajah Bob yang mendadak mendung.

“Enggak… enggak apa-apa, hehe…” Buru-buru ia menenggak segelas arak.

“Beh, pasti gara-gara warungnya sepi… sante aja, bli… Everything is gonna be alright, kalau kata Bob Marley…”

Bob tergelak, teringat ucapannya sendiri. “Hahaha… iya.. apa kata Bob Marley nanti.”

Lagu berganti. “Hey, ini lagunya Souljah, kan?” Indira memecah hening, melompat turun ke lantai dansa, berkacak pinggang dan memamerkan senyumnya. “So, who want to dance, with me

Dua orang pria dan satu orang wanita terpaku, seperti anak SD yang disodori pertanyaan oleh gurunya.

Sedetik kemudian, satu langkah menyusul: Ava. Tangan Indira merentang, menyambut Ava yang datang ke dalam pelukannya. Sesaat kemudian terdengar cekikik tawa mereka berdua.

Indira menyandarkan punggungnya ke dada Ava. Membiarkan pemuda itu melingkarkan lengannya di perutnya. Indira tertawa kecil, mendekap lengan Ava memasrahkan tubuh mungilnya direngkuh lembut dari belakang. Indira memejam, menikmati hangat tubuh Ava dan sejuta kenyamanan yang tahu-tahu menyergap.

“Di setiap sudut kota
Kutemukan dirimu ada
Dan melambaikan tangan
Menghantar kehangatan…

Ke dalam hatimu, sayang
Kucoba tuk berikan sejuta kenyamanan
Dan tetaplah ada…”

Sheena memilih membelakangi mereka, berbincang dengan Bob.

“Kak Na!” Indira berseru dalam dekapan Ava.

Sheena menoleh, melihat Indira yang tersenyum kepadanya. “Sini!” Indira berseru.

Sheena menarik nafas panjang, menggigit bibir bawahnya.

“Go on…” bisik Bob.

Sheena tersenyum sebelum menyusul turun, yang disambut tawa Indira yang merekah, disusul sepasang tangan yang merentang meyambutnya, membuat Sheena tanpa ragu melangkah ke dalam pelukan Indira. Indira tersenyum dan melingkarkan lengan mungilnya di leher Sheena, membuat senyum kecil terbit dari bibir Sheena.

“Ava, Kak Na… makasih ya…”

“I-ya..” dua orang itu menjawab hampir bersamaan.

Indira terkikik, menyandarkan wajahnya di pundak Sheena.

”Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati wangi cinta dan matahari

Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati pelangi saat badai pergi”

“Makasih, ya… nggak terasa sudah 10 tahun sejak…” Indira terdiam sejenak. “Aku nggak tahu aku bakal jadi apa, kalau nggak ketemu kalian… kalau nggak ada Mama…”

“Semua orang pernah kehilangan…” bisik Sheena, membelai rambut Indira.

“…dan menemukan,” tambah Ava.

Sheena melirik ke arah Ava yang berada di belakang Indira, dan didapatinya sepasang mata menatap teduh, seperti sekumpulan uap air di biru langit yang dulu menaunginya dari panas matahari.

Sepasang tangan melingkar di pinggangnya, lengan Ava menjangkau hingga memeluk lembut tubuh Sheena, membuatnya terhenyak, sesuatu dari alam bawah sadar Sheena menggerakkan tangannya untuk melingkar di leher Ava, membelai pelan rambut ikal pemuda itu.

Indira tersenyum, terlarut dalam hangat sepasang tubuh yang makin erat menghimpitnya. Musik mengalun pelan, tiga pasang langkah mengayun perlahan, di sela deru ombak dan jantung yang berdeburan.

Tiga bayangan menari di dalam gelap: Sheena yang diburu masa lalu, Indira yang tersesat di jalan kehidupan, Ava yang memburu masa depan. Bersama mereka saling melengkapi, saling menggenapi, meniti jalan panjang menuju: Paradiso.

”Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati wangi cinta dan matahari

Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati pelangi saat badai pergi”

To Be Continued

Cerita Terpopuler