. Nirwana Part 34 | Kisah Malam

Nirwana Part 34

0
164

Nirwana Part 34

The Maestro’s Apprentice

Kadek berulangkali melihat jam dinding tua di pojokan, sementara tangannya sibuk memencet-mencet tombol di HP. “buruan woy! harus dikirim siang ini!” –SEND.

Kadek menoleh, terdengar suara mesin menderu, tapi bukan itu yang ditunggunya. Sebuah mobil VW safari berhenti di depan Galeri. Seorang laki-laki gendut tergopoh memasuki ruangan yang penuh lukisan, Pak De.

“Kadek, ini sebelum saya pergi…” Pak De mengangsurkan sebuah amplop putih kepada Kadek. ”Gajimu, sekalian THR.”

“Oh, Suksma, Pak De.”

“Ava dan Sheena mana?” Pak De memegang dua amplop lagi.

“Nah itulah, Jik. Mereka lagi beli silinder buat ngirim lukisan, tapi kok belum balik juga…”

“Wah, terlalu anak itu…” Pak De menyulut cerutu yang dikeluarkan dari saku kemeja

Kadek menelan ludah, khawatir melihat gurunya menggeleng-geleng gusar. “Mungkin jalanan macet, jik…”

“Bukan, bukan masalah itu… kamu harus lihat lukisannya….” Pak De terbatuk-batuk hingga asap putih mengepul-ngepul dari hidungnya. “Oh iya, Lukisannya ada di jok belakang mobil saya. Coba kamu ambil!”

Kadek melangkah ragu. Hatinya menebak-nebak.

= = = = = = = = = = = = =​

Deru vespa butut memecah keheningan Ubud yang damai. Membuat beberapa turis yang berjalan di trotoar di jalan tukan Campuhan terkejut karena suara knalpot yang seperti kentut.

“Ya elah… kok dari tadi diem aja… aku ada salah ya?” kata Ava sambil memarkir vespa di belakang VW Safari Pak De.

Sheena tak menjawab.

“Na, kalau ane ada salah maafin ane, ya…”

“Dasar cowok nggak sensitif.” Sheena melengos ke dalam.

“AVA! SINI KAMU!” suara Pak De menggelegar dari dalam, begitu Ava menampakkan batang hidungnya.

Ava melangkah takut-takut, seharusnya tadi ia tidak mampir makan dulu. Wajahnya makin pucat begitu melihat lukisannya berdiri di pojokan.

Pak De menghisap sebatang cerutu, duduk menyilangkan kakinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi uban. Matanya tidak bisa lepas dari lukisan Ava.

Melihat Sang Maestro sedang memandangi lukisannya, membuat wajah Ava pucat pasi seperti banci yang digaruk satpol PP.

“SIAPA YANG MELUKIS INI?”

“S-s-s-saya, Pak De…”

Pak De menatap Ava tajam. “Apa judulnya?”

“B-bidadari dan Pelukis Mimpi.” Ava menjawab ragu, meski sudah menyiapkan judul yang (menurutnya) paling mantap semalaman.

“Ini bidadarinya. Mana pelukis mimpinya?” Jari Pak De menunjuk-nunjuk kanvas.

“Ehm…” Ava berdehem, ragu-ragu menjawab. “Sudut pandang orang pertama, Pak De…”

“Lukisanmu jelek. Masih perlu banyak belajar.”

Wajah Ava sontak makin mengkerut mendengarnya.

“Tapi tenang saja, dibawah bimbingan saya, kamu akan jadi pelukis top.” Pak De mengacungkan jempolnya. “Kamu punya potensi.” Pak De menghembuskan asap ke udara, sambil terbatuk-batuk. “Hei Kadek, kayak gini seharusnya lukisanmu. Ada taksu, ada jiwanya!”

Kadek masih terlongo-longo menyaksikan lukisan Ava. “Bener ini Ava yang buat? soalnya waktu kuliah lukisan dia unyu banget.”

Pak De terkekeh. “Yah, tekniknya jangan kamu contoh,” disusul dengan tawanya yang menggelegar. “Ava, kamu juga harus belajar skill sama Sheena!”

“M-makasih Pak De.” Dalam hatinya akhirnya Ava bersorak riang. Akhirnya aku naik pangkat dari kacung jadi murid!

“Ngomong-ngomong… kamu melukis apa? Ah, maksud saya inspirasinya dari mana?”

“Nggak tahu, Pak De… tiba-tiba saja nongol… seperti….”

“Wangsit?”

Ava menggeleng. “Mimpi,” jawabnya pelan.

Jantung Sheena seperti melompat mendengar kata ‘mimpi’.

Pak De berdecak. “Pasti bukan sembarang mimpi, sampai bisa jadi lukisan magis seperti ini.”

Ava menelan ludah mendengar pujian Sang Maestro.

“Coba kalau skillnya lebih, lukisanmu pasti sudah ikut berangkat ke Paris.” Pak De menggeleng-geleng, membelai janggutnya. Dalam hatin Sang Maestro, ia tak henti-henti mengagumi Lukisan yang membuat bulu kuduknya tidak henti-hentinya merinding dari tadi. Jiwa apa yang dimasukkan ke dalam kanvas? batin Sang Maestro.

Sheena terpaku tak berkedip. Memandangi lukisan yang menggambarkan seorang bidadari sedang tersungkur di tengah kobaran api, lengan kirinya berdarah, sayapnya putus sebelah. Di sebelahnya ksatria berbaju besi berlutut dengan dada yang tertembus pedang. Dari langit, di antara awan yang berwarna merah darah, iblis bertopeng melirik, menjulurkan tangan ke arah sang bidadari.

“Inferno

To Be Continued

Cerita Terpopuler