. Nirwana Part 33 | Kisah Malam

Nirwana Part 33

0
193

Nirwana Part 33

Dream Carver, Pain Dreamer

Motor matic lalu lalang di jalan Tukad Campuhan, Ubud. Pagi masih dingin, namun bangunan yang dipenuhi ukiran khas Bali itu sudah membuka pintu. Di atasnya terbentang papan nama De’s Gallery – Fine Art Painting, berdiri gagah di deretan artshop yang berleret-leret memagar sawah.

Kadek duduk di depan meja di ruang kecil di belakang galeri, sibuk dengan berbagai telepon dan pesanan yang dikerjakannya sedari tadi.

“Om Swastyastu… Patra Bali? Buat reservasi minggu depan… atas nama Pak Dewa Gede Subrata… nggih… 300 orang….” Kadek terdiam sebentar. “nggih… bisa di atur… matursuksma…” Kadek meletakkan gagang telepon. Matanya melirik bundaran kecil di kalender, menghela nafas, dan kembali mencoreti buku tulis.

Seminggu lagi Pak De berangkat ke Paris, dua hari lagi ini beliau akan mengadakan semacam perjamuan untuk kolega dan sesama seniman, dan Kadek kebagian jadi seksi sibuknya.

Kadek memutar-mutar tombol sekali lagi. “Om Swastyastu… DHL, benar? Mau tanya, pengiriman paket ke Paris, untuk hari ini terakhir berangkat jam berapa?” Kadek melirik jam tua di dinding. “Jam 12? Nggih… matursuksma, bli.”

Telepon berdering begitu Kadek meletakkan gagang telepon.

“Halo, Om Swastyastu, De Galeri.”

“Kadek? Ava nie… aduh, kok susah sekali di telepon?” terdengar suara di seberang telepon.

“Apa, Va?”

“Silinder plastiknya nggak ada yang ukuran segitu.”

“Cari yang ukurannya mirip-mirip. Lebih besar dikit nggak apa-apa.”

“Oke.”

Telepon ditutup. Kadek menghela nafas.

= = = = = = = = = = = = =​

“Apa kata Kadek?” tanya Sheena yang berdiri di sebelahnya. Memandangi tumpukan silinder plastik yang biasa digunakan oleh anak-anak arsitek untuk menyimpan desain, bersusun-susun di sebuah toko alat tulis di sudut kota Denpasar.

“Yang mana aja. Lebih besar nggak apa.” sahut Ava.

“Tuh kan, gue bilang juga apa.”

“Iye… nyak… bawel, ah.“

Sheena antara cemberut dan tertawa mendengarnya.

“Yang kayak gini 13, Pak.” kata Ava, sambil menepuk silinder plastik yang ditumpuk.

Pagi-pagi sekali, Ava dan Sheena ditugasi Pak De membeli silinder plastik untuk mengirim lukisan ke Paris. Sebenarnya Sheena malas pergi berdua saja dengan Ava. Namun lukisan yang dilihatnya pagi tadi benar-benar mengusik pikirannya, dan kali ini ia tidak bisa lagi diam.

“Eh, Lukisan elu.”

Ava terkekeh. “Oh, sudah lihat? Mantep, kan.. mantep, kan… hehehe…” katanya jumawa, enteng. Sambil membayar ke penjaga toko. “Minta nota, Pak.”

“Ge-er banget,” cibir Sheena. “No skill gitu, kok!”

“Sirik tanda tak mampu,” balas Ava cuek, menyodorkan 5 silinder yang ditali ke Sheena.

“Itu lukisan apa, sih?”

“Aaaada… deh…”

“Gue serius nanya, nih!”

“Aduh, apa ya?”

“Apaan sih?! ngomong nggak jelas.”

“Yah gitu, deh. Tiba-tiba aja…”

“Maksud lu, elu ngelukis tanpa tahu yang dilukis?”

“E-emm… Mungkin?”

“Tolol.”

“Memang.”

Terdengar tawa kecil dari bibir Sheena.

Mereka berjalan ke tempat parkir. Toko alat tulis itu terletak di ruko yang berjajar di sebelah selatan Pasar Kreneng, salah satu pasar tradisional terbesar di Denpasar. Dari kejauhan Ava bisa melihat bangunan tingkat 2 yang kumal dan bau amis yang menyengat.

“Masih aja kaya gini baunya,” gumam Ava.

“Hah?”

“…Bau pasar… di mana-mana sama ya?” imbuh Ava. “Eh, lapar nggak? makan dulu yuk! Belum sempat sarapan, kan?”

“Hem…”

“Udahlah, yuk!” Ava menarik tangan Sheena. “Aku tahu warung sate gule enak di sini.”

Sheena tak menjawab, bukan karena tangannya digandeng begitu saja menyeberang jalan yang penuh dengan lalu lalang angkot, tapi karena perutnya memang benar keroncongan.

= = = = = = = = = = =​

Warung sate itu terletak di area parkir pasar. Di sebelahnya ada dagang es campur, sementara di kanannya ada penjual nasi babi guling. Sheena menyalakan sebatang rokok, duduk di depan Ava yang memesan dua porsi sate gule.

“Minum apa?”

“Es teh,” jawab Sheena pendek.

Segera asap mengepul dari panggangan, menebarkan aroma yang khas ke udara. Pedagang sate yang berkumis sibuk mengipas-ngipas, sambil sesekali meneteskan minyak ke atas daging yang sudah mulai matang, membuat api semakin berkobar, dan asap semakin mengepul.

Ava menyeruput teh sambil melihat Sheena yang sibuk merokok. Wajah manis dibalut rambut pendek seperti laki, keindahan yang liar. 6 Bulan cewek itu tinggal di rumah Pak De, namun baru kali ini mereka makan berdua. Entah kenapa, Sheena terlihat selalu menghindari dirinya.

“Eh, kamu kuliah di IKJ, kan?” Ava mencoba mengakrabkan diri.

“Iya.”

“Kenal sama Sari White Shoes dan suaminya, siapa itu namanya…?” dan meluncurkan pertanyaan standar.

“Bang Rio? kenal.”

“Ah iya, Bang Rio Farabi! Waktu mereka pameran di Jogja, aku jadi panitianya, lho.” Ava mengeluarkan ponsel, dan menunjukkan satu foto ke Sheena.

“Oh.” Sheena menjawab pendek, lempeng.

Ava tidak bertanya lagi, karena 3 pasang piring dihidangkan di atas meja. Piring berisi nasi putih, gule sapi bersantan kental, dan sate daging dengan bumbu petis yang hitam. Aromanya mengepul ke udara bersama uap panas yang mengabut, membuat air liurnya tak henti menetes.

Sheena menyuap ragu, namun ternyata Ava benar, sate gule ini sangat lezat. Ia akan sangat lahap memakan semua yang ada di meja, seandainya Ava tidak memandanginya seperti itu. Dari tadi pemuda itu mencuri-curi pandang melihat ke arahnya, membuatnya sedikit salah tingkah. Apakah kaus Ramones yang dikenakannya hari ini terlalu ketat?

“Semalem akhirnya aku disuruh melukis sama Pak De.” Ava mencari bahan obrolan lagi.

“Lu udah cerita.”

“Oh iya ya, haha… akhirnya aku naik pangkat, nih.”

“Selamat, ya.”

“Buat lukisan berikutnya, aku mau pakai model. Na, kamu mau?” kata Ava, sambil mengunyah sate.

“Hah?”

“Aku serius, kamu mau jadi model? Kamu cocok lho! Kamu lebih natural dari Indira!”

Kunyahan Sheena mendadak terhenti. Kalimat Ava pernah ia dengar, terselip dalam belantara masa lalu. Memerangkapnya dalam sebuah ruang hampa, bernama nostalgia.

“Va, elu ini penginnya apa, sih?” Sheena berkata pelan.

“Aku? Aku pengin jadi pelukis hebat, aku pengin jadi kaya Affandi!”

“Ngimpi.”

“Lho, apa salahnya punya mimpi?” Lalu Ava menjelaskan tentang visi hidupnya. Bahwa hidup manusia harus dipenuhi mimpi. “Kita harus berani bermimpi, tapi jangan hidup dalam mimpi! Kita harus mewujudkan mimpi itu!” jelas Ava panjang lebar.

Sheena tak menjawab, meminum habis es tehnya karena mendadak dadanya terasa panas. Sementara Ava terus berceloteh, dengan mata yang tak berkedip memandanginya.

Ava tiba-tiba mendekatkan wajahnya. “Kalau dilihat dari dekat, ternyata cakep juga, ya…”

Mendadak wajah Sheena terasa panas. “A-apaan sih?” Sheena tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Ava keburu memegang punggung tangannya.

“Tato-nya, cakep banget…” Ava menatap tak berkedip pada rangkaian gambar di lengan kiri Sheena. “Masterpiece… masterpiece… ada jiwanya, bikin merinding…” Ava berdecak kagum sambil terus memperhatikan rangkaian gambar berbentuk naga, dengan sisik-sisik berbentuk tumpukan manusia yang merangkak dibalut nyala api yang membentuk tulisan “Inferno”.

Sheena buru-buru menarik tangannya, melipatnya di bawah meja, dan memilih bungkam sepanjang pagi itu.

Bersambung

Daftar Part