. Nirwana Part 32 | Kisah Malam

Nirwana Part 32

0
164

Nirwana Part 32

Konsepsi

“Ngiiiiiiiing…” teko itu berdenging dan mengepulkan uap ke udara, pertanda air yang dijerang sudah mencapai titik didih.

Indira bergegas ke asal suara, mematikan kompor kemudian menyendok Kopi Bali cap Kupu-kupu Bola Dunia ke dalam cangkir: dua sendok kopi dan satu sendok gula pasir seperti kesukaan ayahnya.

Indira berjalan sambil membawa nampan, menyusuri jalan setapak yang diterangi lampu taman menuju Studio yang terpisah dari rumah utama. Pak De dan Ava ada di sana, sudah sejak petang tadi dua orang itu asyik melukis di studio di sebuah bangunan batu kali dengan tiang kayu dan atap rumbia.

= = = = = = = = = = = = =​

“Nah, yang diomongken dateng… panjang umur…” kata Pak De begitu melihat Indira datang.

“Ih, Ajik apaan, sih!” Indira memberengut lucu, meletakkan nampan berisi kopi di meja kecil di samping ayahnya.

Pak De hanya terkekeh melihat tingkah sang anak.

“Ah Indira, iya sekalian kamu ada di sini… minggu depan habis Galungan, Ajik berangkat ke Paris, kamu baik-baik ya jaga rumah, ya… uhuk! uhuk! uhuk! ehm,” Pak De menyeruput kopinya hingga tandas.

“Yang saya bilang dipikirkan saja dulu, hahaha… uhuk! ehem.. oh,” kata Pak De pada Ava. “Saya tinggal istirahat dulu. Kamu ngobol-ngobrol aja dulu sama Dira biar tambah akrab hahaha…” Pak De berlalu sambil terkekeh-kekeh dan terbatuk-batuk, yang dibalas juluran lidah Indira.

Indira duduk di bangku kecil di samping, dan pandangannya segera tersita pada kanvas Ava. “Tadi Ajik emang ada bilang apa?”

“Ah.. e-enggak… cuma.. em.,. ehem… ngasih petuah-petuah untuk pelukis nan galau ini.”

Indira terkekeh, memperhatikan pemuda itu melukis.

“Tumben ngelukis?”

Ava nyengir. “Ya iya lah, aku belum cerita ya, kalau aku lulusan S1 Seni Murni?”

“Hmm, Kak Sheena juga… ya, kalau nggak salah?”

Ava hanya manggut-manggut sambil terus menguaskan warna di atas kanvas.

“Ava ngelukis apa, sih?” Indira mengernyitkan dahi memandangi kanvas Ava yang masih tidak jelas itu.

“Lukisanmu aneh banget tauk! nggak kaya punya Kak Na.”

Ava mendengus kesal. “Pak De sama Sheena itu aliran realis. Aku mau bikin aliran sendiri macam Warhol atau Dadaisme, namanya Tampanisme….” jawab Ava asal, merasa sedikit tersinggung karena hasil karyanya dilecehkan.

“Pasti nanti jadinya lukisan alay…. Sama kaya pelukisnya! Hihihi…”

Ava melirik sebal ke arah Indira. “Sekarang sudah bisa ketawa-ketawa, ya… hmm.. hmm… tapi sayangnya balik lagi jadi Indira yang super nyebelin ck ck ck ck….”

“Ih, apaan sih!” Indira mencubit lengan Ava.

“Eh, jangan nyenggol… yah… mencong deh…” Ava sontak memberengut karena garisnya melenceng sedikit.

Indira terkikik-kikik. “Maaf… maaf…”

Ava akhirnya ikut tersenyum, setelah melihat Indira akhirnya bisa tertawa lagi setelah hampir 6 bulan ini murung akibat putus dengan Dewa.

“Makasih… hehehehe…” bisik Indira tiba-tiba.

“Makasih napa?”

“Kalau nggak ada kamu aku udah bunuh diri kali ya, hehe…”

Ava hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya kikuk.

“Makasih… juga… hehe…,” jawab sang pemuda. Itu adalah respon terbaiknya, hanya agar dialognya tidak menjurus ke arah klise.
“Hehehe… makasih? Buat apa?” Indira mengerjap lucu, tepat di depan wajah Ava.

“Meski lebih seringnya ngerecokin… jujur… kamu yang bikin aku terus melukis… walau aku tahu… aku nggak punya bakat kaya Sheena… atau Kak Raka…”

Senyum Indira melebar mendengarnya. “Siapa bilang kamu nggak punya bakat? Kamu berbakat kok, Va… jadi gigolo.”

“Gubrag!”

“Canda-canda, hehehehe,” Indira mengekeh lucu.

“Murid-muridnya Ajik yang lama juga nggak langsung jago ngelukis, loh!”

“Oh, ya?”

“Semua butuh waktu. Kamu kira Ajik langsung jadi kaya sekarang? Dia kepengin biar murid-muridnya mengerti proses bagimana lukisan diciptakan, diberi ruh, dilahirkan ke dunia. Ini bukan tentang tujuan akhir… it’s about the journey…”

Ava seketika terdiam. Perkataan Indira menyulut sebuah arus listrik dalam otaknya. Bagaikan sebuah batu yang dilemparkan ke dalam air, permukaan yang tadinya tenang kini mulai bergerak. Riak demi riak, gelombang beranak gelombang, kini menjadi badai inspirasi yang bergemuruh.

“Semangat! Pak Pelukis Muda!” Indira tersenyum melihat mata Ava yang medadak menyala-nyala.

Ava menenggak segelas kopi, yang menurutnya adalah kopi terenak yang pernah ia rasakan. Perpaduan antara kafein, senyum Indira, dan gemuruh inspirasi malah membuat jantungnya semakin memburu, membuatnya tak bisa berhenti melukis sepanjang malam.

Sepeninggal Indira, Ava terus melukis dan melukis, di benaknya terus terngiang-ngiang ucapan Pak De tadi.

Skill itu bisa dipelajari seiring waktu, yang paling penting adalah Jiwa. Sekarang Ava mau memberi Jiwa lukisan itu dari mana? Dari apa? Dari siapa? Konsepsi. Seperti penciptaan manusia pertama. Seperti penciptaan alam semesta!

Ava tersenyum, karena kini benaknya penuh dengan inspirasi dan mimpi-mimpi yang ia tumpahkan di atas kanvas, dan ia sudah siap memberi judul untuk lukisannya, Bidadari dan Pelukis Mimpi!

= = = = = = = = = = =​

Pagi itu Indira harus berangkat ke kampusnya, namun ia menyempatkan diri menghaturkan sesaji di pelangkiran –altar kecil di studio Pak De, sebelum matanya tiba-tiba tersedot oleh lukisan baru di pojokan. Ia menyelesaikan meletakkan sebatang dupa dan menghaturkan sembah takzim, sebelum mendekati lukisan itu.

“Apa ini? Lukisan Ava?” batinnya memandangi lukisan itu, lukisan yang sungguh berbeda daripada yang dilihatnya selama ini, berbeda dari yang dibuat oleh ayah maupun kakaknya dulu.

Sepasang mata Indira tak berkedip, jiwanya disedot ke alam mimpi oleh lukisan itu. Indira tak tahu, dan dirinya tak pernah tahu, kenapa dari tadi sibuk ia mengusapi matanya yang tiba-tiba berair.

“Indira! Dicariin sama ajik…” Sheena berseru dari luar studio, melangkah tiba-tiba dari balik bahu Indira. “Ah.” Nafasnya pun tercekat melihat lukisan magis yang kini berdiri di hadapannya.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler