. Nirwana Part 30 | Kisah Malam

Nirwana Part 30

0
177

Nirwana Part 30

Dua Langkah Kecil

6 bulan kemudian…

Adalah kicau burung yang pertama terdengar ketika Sheena membuka mata. Dingin pagi masih membuat gigi bergemeletuk, dan kanvas langit masih diwarnai dengan ungu gelap dan sedikit gradasi keemasan.

Enam bulan sudah berlalu semenjak kepindahannya ke kediaman Maestro Lukis bernama Dewa Gede Subrata. Dalam rentang waktu itu, banyak hal sudah terjadi.

Berkat bantuan Sheena, Sang Maestro berhasil menyelesaikan ke-12 Mahakaryanya yang akan diberangkatkan ke Perancis dalam minggu ini. Lukisan ke-13 yang menyertai, adalah buah karya murid kesayangan Pak De.

Sang Prodigy, Pak De sendiri yang menyematkan julukan itu pada Sheena. Tato di lengan kirinya lah yang memulai pertama. Sang Maestro tidak bisa untuk tidak menggeleng-geleng takjub sambil mendecak-decak, mengagumi rerajahan yang memenuhi lengan kiri cewek berambut pendek itu.

“Dewa Ratu, Baru dua orang pelukis muda yang saya tahu bisa membuat gambaran seperti ini; Kamu, dan mendiang anak saya.” Lagi, pria tua itu berkata, “kamu ndak usah mikirken masalah model, kamu untuk seterusnya bisa tinggal di rumah saya. Mau, ya,” kata Pak De setengah memaksa. “Biar Indira punya kakak lagi,” pungkas Pak De, kali ini sambil menyusut air mata yang menggenang di pelupuknya.

Sementara Indira. Sheena harus menghela nafas berat, ketika dipaksa mengingat tentang apa yang terjadi pada anak itu.

Waktu itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Indira diantar pulang oleh kekasihnya. Indira tak banyak bicara, langsung mengurung diri hingga keesokan harinya. Tidak kepada ayahnya, Kadek, ataupun Ava Indira mau bercerita. “Kenapa? Kamu diapaken sama Dewa!? Kalau perlu Ajik lapor polisi!” murka Pak De waktu itu. Namun Indira hanya menggeleng sambil terus menangis.

Barulah kepada Sheena, Indira mau membuka hatinya. Kepada perempuan berambut pendek itu Indira akhirnya bercerita, meskipun terbata, tentang dirinya, tentang Dewa, dan tentang orang-orang yang terjebak dalam labirin takdir.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar dalam memperjuangkan sebuah hubungan. Tentangan orang tua, cibiran dari teman-teman dan keluarga, Dewa dan Indira harus berjuang menghadapi itu semua. Sampai akhirnya labirin takdir menghadapkan keduanya pada jalan buntu. Cul de sac.

Yesterday you were here with me
But today you are gone my dear
I will paint new these walls to green
Wipe the stains that we have seen

I’ll never get inside of it
This security…
Insecure…

I’m on this train of need
I’m begging you to promise me
This security…
Insecure….

I have walked in the storm in the storm with you
Share your eyes, oh that crystal blue
Sing you songs I don’t even know
And you dance in one-man show

I’m on intensity
I’ll never get inside of it
This security…
Insecure…

I’m on this train of need
And begging you to promise me
This security
Insecure 

Desa itu mulai semarak dan berwarna-warni. Dari depan tiap-tiap rumah kini mencuat penjor, yakni sebuah batang-batang bambu tinggi dengan yang dihias sedemikian rupa dengan untaian janur, daun plawa, hasil-hasil bumi, dan kain warna kuning-putih. Dari ujungnya menjuntai untaian janur kuning yang melengkung ke Bumi, sebagai wujud syukur terhadap Sang Pencipta.

Sudah beberapa hari ini, seluruh warga disibukkan dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang akan tiba sebentar lagi. Yakni peringatan terhadap terciptanya alam semesta sekaligus kemenangan kebaikan melawan kejahatan. Tak terkecuali kediaman Pak De. Riuh rendah terdengar mewarnai, meski hari sudah mulai beranjak senja.

“Pak De… ini… menghadap… ke mana…?” Ava nampak kepayahan menggotong batang bambu panjang, sementara lelaki tua yang ikut menggotong di belakang juga nampak kembang kempis dadanya.

Nafas Pak De terlalu sesak hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan pemuda itu.

Susah payah, mereka berdua berusaha memasukkan batang bambu ke dalam lubang yang telah disiapkan di tanah. Butuh usaha yang cukup keras agar penjor itu bisa berdiri tegak, usaha yang disambut gelak bahagia dari Pak De dan Ava ketika penjor itu akhirnya menjulang gagah di bawah naungan Hyang Surya yang perlahan meredupkan cahayanya.

“Makasih… Ava…,” kata Pak De sambil terbatuk-batuk, dan menghempaskan pantatnya ke tanah.

Ava tidak menjawab, hanya tersenyum lebar di balik wajahnya yang berpeluh.

Senyum kecil terbit dari bibir Indira memperhatikan kekompakan Ava dan ayahnya dari kejauhan. Remaja itu dan Sheena nampak sedang sibuk merajut janur menjadi wadah sesaji berbentuk kotak. Tangannya bergerak lincah memotong janur, melipat, dan menyatukannya dengan semat– bambu yang dipotong menyerupai lidi.

“Kamu… duluan, Va… saya… masih…” Pak De mencoba berdiri, namun kembali terjatuh akibat tungkai-tungkainya tak mampu menopang berat badannya yang ditarik gravitasi. Sigap, Ava segera memapah gurunya menuju bale-bale.

“Ajik! Ava! Minum dulu!” seru Indira. Segera dituangnya air dingin dari kendi tanah liat ke dalam gelas sambil tersenyum-senyum sendiri. Entah kenapa.

“Haha… beginilah… balung tua…,” Pak De tergelak, menertawakan kerentaannya sendiri. “Memang sulit di Bali kalau ndak punya anak laki-laki.”

“Ah, jangan bilang begitu, Pak De,” potong Ava cepat, begitu melihat air muka Indira yang seketika berubah setelah mendengar perkataan ayahnya.

Ava merasa tak enak hati dengan situasi ini. Lekas-lekas ia menenggak segelas air putih guna menghilangkan rasa jengah yang tiba-tiba ikut memenuhi wajahnya. Tak tahu kenapa.

“Haha… jangan panggil Pak De, panggil Ajik saja… sebentar lagi kamu kan mau jadi anak saya… hahahaha… uhuk! uhuk! uhuk!”

Ava ikut terbatuk sampai-sampai air yang sedang diminumnya menyembur keluar dari lubang hidung.

“Atau kalau Ava ndak mau, biar Sheena saja yang jadi menantu-nya saya…. ah… tapi dia perempuan ya…. hahahahaha!”

Giliran Sheena yang ikut terbatuk-batuk.

“Ajik! Yang bener dong kalau ngomong!” Indira langsung mendelik, melayangkan protes keras, namun ayahnya malah tergelak-gelak.

Indira mendengus kesal, karena yang diajak bicara pun sepertinya tidak serius dengan ucapannya. “Yuk, Kak Na… pergi aja… daripada ngurusin orang lengeh![SUP](1)[/SUP]” Indira menggandeng tangan Sheena. Melengos sebal, meninggalkan ayahnya yang masih terbatuk-batuk.

(1) Lengeh arti harfiahnya ‘mabuk’ / ‘teler’. Tapi dalam konteks kalimat Indira, digunakan untuk mengekspresikan kata “ngaco”.

Ava menepuk-nepuk tengkuk Pak De sambil memperhatikan Indira dan Sheena yang menghilang di balik candi bentar. Pemuda itu menghela nafas berat, tidak mengerti kenapa ia bisa sampai ikut dilibatkan dalam urusan domestik rumah tangga orang lain.

= = = = = = = = = = = = =​

“Dasar nggak peka!” Indira menggerundel kesal, melangkahkan kaki menjauhi rumahnya. Dua langkah kecil itu berjalan beriringan di pematang sawah. Menyusuri saluran irigasi yang memanjang di antara bentangan padi yang baru disemai.

“Kenapa Ajik Indira? Ajik-nya Indira, kan… baik?” sahut Sheena yang kini mengenakan kain batik dan selendang yang membebat pinggul dan pinggangnya, membuat perempuan tomboy itu kini menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Sheena tentu tidak bisa melupakan saat itu, ketika Pelukis Tua itu menerimanya dengan tangan terbuka.

Waktu itu keadaannya kacau, dikejar-kejar penagih hutang, dikejar-kejar masa lalu. Sheena seperti seorang pengungsi Suriah yang meminta suaka pada Turki, namun Pak De dengan tangan terbuka menerimannya, tidak peduli sekelam apapun masa lalunya.

“Memang baik, sih…” Indira mendengus kesal, “…tapi nggak peka!”

Sheena belum menjawab, karena harus menjaga keseimbangan saat menuruni pematang yang licin dan berundak. Indira berjalan mengikuti, melangkahkan kakinya dalam-dalam sambil sesekali memetiki bunga kumitir dan dedaunan liar yang tumbuh memagari areal persawahan itu.

Sudah enam bulan berlalu semenjak hari itu, namun dada Indira masih saja terasa sakit jika mengingatnya.

Hampir sebulan anak itu hanya bisa menangis dan mengurung diri dalam kamar. Sampai akhirnya kepada Sheena dan Ava, Indira bisa menumpahkan segala tangis dan rasa sakitnya.

“Tapi yang paling bikin Indira sakit hati, tuh… kayanya yang dipikirin sama Ajik cuma kehilangan calon pewaris gara-gara Dewa nggak jadi nyentana…” Indira menunduk, nada bicaranya berubah getir. “Kayanya dia sama sekali nggak peduli sama perasaan Indira…”

“Ajik Indira… sepertinya ndak bermaksud demikan…”

Indira membuang nafas ke udara. “Yah… mau digimanain lagi… memang nasibku sudah jadi anak cewek satu-satunya,” pungkasnya getir.

“Apa aku aja kali ya, Kak Na… yang mimpinya ketinggian?”

Sheena mempererat genggaman tangannya. “Aku ngerti kok perasaan Indira…” Sheena menarik nafas, ada selarik pedih yang mendadak ikut menyelinap di hatinya. “Waktu sadar mimpi kita nggak bakal terwujud, rasanya… ”

“… -perih,” sambung Indira.

“Iya… perih…”

Pegangan tangan mereka semakin erat, seolah ingin membagi nasib yang menyusup dari sela-sela jari tangan.

“Makanya aku cuma hidup untuk hari ini, bukan untuk masa lalu, bukan untuk masa depan,” tandas Sheena mantap.

“Oh, ya? Apa itu ‘saat ini’ Kak Na?”

“Saat ini? Saat ini aku sama kamu, kan?” tukasnya pendek, tersinyum simpul ke arah Indira yang makin erat menggenggam tangannya.

Ada senyum terbit dari wajah Indira yang tadinya memberengut.

Penuh kasih, perempuan bertato itu merangkul tubuh mungil Indira. Anak itu begitu rapuh, mengingatkan Sheena pada sisi lain dirinya yang masih terperangkap di dalam Limbo.

“Makasih… Kak Na…. Aku nggak tahu aku akan jadi apa kalau nggak ada Kak Sheena…”

Indira hanya tersenyum dirangkul seperti itu, lengannya balas melingkar memeluk perut Sheena erat-erat.

“… dan Ava,” tambah Indira. “Aku nggak tahu, kalau nggak ada Ava aku bakalan jadi apa, hehehe,” Indira berkata tanpa beban, tak menyadari bahwa senyum Sheena mendadak berubah kecut begitu mendengar nama itu disebut.

= = = = = = = = = = = = =​
Dua langkah kecil bersama menapak​
Dua langkah kecil bertemu
Dua langkah kecil menyusuri waktu,
Menuruni lembah
melewati sungai
berhenti sejenak
menghapus dahaga…

Gunung Batur bertahta gagah di sebelah utara dengan kaldera raksasa berisi jutaan galon air yang mengalirkan puluhan anak sungai yang melewati lembah berisi persawahan bertingkat-tingkat. Salah satu sungai kecilnya mengalir di ceruk kecil yang mengalirkan gemericik air, memenuhi indera pendengaran Sheena dan Indira. Mereka berdua harus melangkah hati-hati ketika melewati jembatan bambu kecil yang dirimbuni pepohonan.

Dua langkah kecil itu berjalan tanpa arah. Sepanjang langkah-langkah itu Indira selalu bercerita, menumpahkan segala keluh kesahnya, dan Sheena selalu di situ, menjadi tempat sampah yang baik bagi segala kotoran hati Indira seperti yang ia lakukan selama 6 bulan terakhir ini, seolah-olah dua orang itu sepasang kakak beradik di kehidupan lampau yang baru saja bertemu.

Sheena dan Indira terus berjalan mengikuti ke mana kaki melangkah. Menuruni jalan setapak yang sedikit curam, menuruni tebing yang diteduhi tanaman paku-pakuan. Harum rumput. Aroma pepohonan yang melapuk. Sheena membiarkan paru-parunya dipenuhi dengan segala bebauan di sekelilingnya. Sheena memejam, menajamkan panca inderanya. Terdengar suara decit burung, daun-daun yang begesekan dihembus angin, juga gemericik air dari kejauhan. Tangan Sheena menyibak helai demi helai daun pisang yang menutupi jalan.

Tahu-tahu mereka disambut oleh pemandangan yang eksotis. Sungai kecil yang dipenuhi batu dan dirimbuni pepohonan. Airnya mengalir jernih, sehingga dasar sungai yang dipenuhi batu tampak jelas.

“Kok sudah sampai sini aja, sih?”

Sheena terkekeh. “Kebanyakan curhat sih.”

Belum seberapa ramai, hanya ada beberapa ibu-ibu yang sedang mencuci baju dengan payudara kendur yang menjuntai ke perutnya. Indira mengangguk, sekedar sopan santun ketika melintasi batu di dekat mereka. Dua langkah kecil itu kini berkecipak di dalam air setinggi mata kaki.

“Kak Na, manjus [SUP](2)[/SUP] yuk! Gerah, nih…” Indira mengibas-ngibas bajunya yang basah oleh keringat.

“Hah? Serius?”

(2)manjus = mandi

Indira menjawabnya dengan kerlingan mata penuh arti. Digandengnya tangan Sheena menuju ceruk kecil yang sedikit tersembunyi di bagian hulu.

Sheena harus mengangkat ujung kainnya agar tidak basah, karena untuk menuju sana harus melewati bagian sungai yang agak dalam. Tempat itu terletak 20 meter dari jalan setapak, agak terpisah dari sungai tempat biasa warga mandi. Ada batu besar, dan beberapa batu datar yang diselingi aliran air. Sementara di atasnya berpayung pohon pakis dan paku-pakuan yang menjuntai memenuhi tebing yang penuh lumut.

“Baru pertama mandi di sungai?” tanya Indira, melihat Sheena yang nampak ragu untuk melucuti pakaian di tempat seterbuka ini.

Sheena tersenyum masam. Rikuh, karena Indira dengan polosnya melepas celana pendeknya. Cawat kecil warna hitam menyusul, dilipat rapi di atas batu. Pantat remaja yang membundar itu kini mengintip malu-malu dari kaus ujung kaus putih yang menjuntai sampai atas paha.

“Hihi… jangan bengong, ah!” kata Indira santai, sambil duduk menyilangkan kakinya di atas batu besar. Sepasang tungkai putih itu kini menjuntai, bermain-main riang dengan permukaan air. Hingga belahan kewanitaan Indira yang tembem diam-diam mengintip saat anak itu menekuk-nekuk tungkainya.

Sheena memandang tanpa berkedip. Ia sudah pernah membuat nude tattoo pada tubuh Indira, ia pernah dilukis dalam keadaan telanjang bersama Indira yang membuatnya tidak tidur semalaman setelahnya. Bahkan lebih dari itu, ia sudah tahu luar-dalam Indira, namun tetap saja pesona gadis setengah bule itu demikian menyita perhatian alam sadar dan alam bawah sadarnya.

“Kak Na…”

Merasa tak mendapat jawaban, Indira menoleh ke arah Sheena.

“Ndak buka baju? Masa manjus pakai baju lengkap?”

Sheena menelan ludah mendengar Indira memintanya untuk ikut bertelanjang. Perempuan berambut pendek itu kemudian menarik nafas panjang, memasrahkan semuanya pada arus sungai yang mengalir di kaki-kakinya kini. Sheena lalu membalik badan, melepas satu demi satu penutup tubuhnya. Diawali dengan kain yang membebat pinggulnya, hingga tak ada satu benang lagi di atas kulitnya. Kulit tubuh Sheena berwarna sawo matang dengan tan line berbentuk bikini akibat kegiatan rutinnya surfing setiap minggu. Rambut pendek bak seorang lelaki, rangkaian otot atletis, tato magis yang dirajah di lengan kirinya, seolah saling menggenapi keindahan yang demikian liar.

Sebentuk yoni yang menggunduk indah tak sengaja mengintip di antara kedua paha ketika Sheena menunduk untuk melipat baju.

Dada Indira berdesir.

Merasa rikuh diperhatikan, Sheena menutup payudaranya dengan lengan kanan dan bagian terpenting tubuhnya dengan telapak tangan kiri. “K-kenapa? Turun, yah?”

“Eng-enggak! nggak apa-apa!” Cepat-cepat Indira memalingkan wajahnya yang bersemu, rambut kemaluan Sheena nampak menyemburat dari sela-sela jari.

Tentu ini bukan kali pertama Indira melihat Sheena bertelanjang bulat, tapi tetap saja, kemaluannya selalu berdesir jika melihat sepasang payudara indah berukuran cup c itu.

“B-bagus, kok…” jawab Indira dengan wajah tersipu.

Terbit senyum kecil di bibir Sheena, entah kenapa ia senang mendengar pujian Indira barusan.

Indira cepat-cepat melepas kausnya, menampakkan sepasang bukit indah yang terbungkus rapi di balik sepasang cup warna hitam yang ditali di leher. Bukit putih itu menyembul indah, seperti hendak meloncat ke dalam mata Sheena yang tak hentinya terpana. Dan tatoo mawar itu tentu masih ada, mencuat dari belahan sempit di antara paha sampai pinggulnya dan membayang ke dalam retina Sheena.

Kemudian, yang meyusul lepas adalah simpul di lehernya. Menampakkan sepasang payudara ranum yang tak sampai seperempat ukuran Sheena. Namun Sheena tahu, tak ada payudara yang membulat sesempurna itu.

“Imut yah,” gumam Sheena polos. Indira tercengir kecil mendengarnya. Ia senang sekali dipuji seperti itu!

Tangan Indira mengangkat ke atas, mengikat rambutnya agar tidak basah, namun posisi ini membuat payudaranya tertarik ke belakang hingga makin membusung dan mencuatkan putingnya yang berwarna merah hati.

Sama-sama telanjang bulat, buru-buru sepasang perempuan menceburkan diri ke dalam cerukan agak dalam di pojokan, menghilangkan panas yang makin lama makin menerpa wajah keduanya.

“Dinggiiiin!”

Suhu air yang berada di bawah rata-rata membuat keduanya berlonjakan dan berkecipak sambil menjeritkan teriakan primitif yang tidak jelas bunyinya. Payudara Sheena yang lumayan besar itu berdentam dan berguncang-guncang seiring geraknya menghindari semburan air Indira. Indira histeris, mengejar-ngejar Sheena hingga ia terpeleset dan terjatuh ke dalam air.

“Bwuuuuah! Hahaha…” Indira tergelak sambil muncul kembali ke permukaan. Tubuh mungil putihnya berkilat-kilat basah oleh butiran air.

Sheena tiba-tiba terdiam. Duduk di pinggiran batu besar, dengan lutut yang masih terendam di air.

“Kenapa, kak?” Indira menyusul duduk di sampingnya.

Sheena tersenyum. “Entah kapan terakhir kali aku tertawa kaya gini.”

“Nah senyum gini, dong. Kan jegeg,” kata Indira. “Kak Na tuh, benernya cantik, tahu! Cuma gara-gara murung terus-terusan aja, jadinya kelihatan kucel!”

“A-apa, sih…” Sheena langsung merundukkan kepala, namun rona-rona kemerahan di wajahnya malah menguarkan kesan feminim di atas wajah yang dibingkai rambut pendek bak seorang lelaki.

“Masa Kak Na mau terus-terusan galau…”

“Siapa yang galau? Indira lagi yang galau mulu…”

Indira manyun, tapi masih bisa tersenyum. “Ih, kaya nggak pernah diputusin aja, wek.” Indira menjulurkan lidahnya.

“Pernah, kok!”

“Emang kak Sheena pernah pacaran?”

“Pernah, lah! Cewek aku cakep-cakep, lagi.”

Indira menelan ludah, dadanya berdesir menyadari orientasi seksual lawan bicaranya.

Sementara air sungai terus mengalir, mengalunkan orkestrasi yang lebih menenangkan dari CD relaksasi manapun. Dua pasang kaki itu bergerak riang, berkecipak dan sesekali memainkan permukaan air sambil bercanda-canda. Indira menyemburkan air ke arah Sheena, yang segera dibalas dengan semburan air yang sama. Hingga akhirnya sepasang wanita itu tak lagi rikuh untuk saling mendekat, duduk bersisian di tepi tebing batu. Air sungai bergerak pelan, membelai tubuh telanjang keduanya.

Sheena nampak terkesiap ketika merasakan telapak tangan Indira menyentuh punggungnya. Ia menoleh dan mendapati Indira hanya tercengir lucu sambil menggosok-gosok bagian belakang tubuhnya. Tetes-tetes air mengalir ketika Indira membasuhkan air ke kulit telanjang Sheena. Disusul sensasi dingin dan belaian hangat yang mengusap di sepanjang tulang punggungnya.

Indira mendekatkan wajahnya ke tengkuk Sheena. Cewek tomboy itu menggeliat pelan, merasakan hangat nafas Indira membelai bulu-bulu halusnya.

“Boleh?” bisik Indira.

Sheena tak menjawab, hanya mengangguk perlahan. Indira tersenyum. Tangan lembutnya mulai bergerak sirkular, memijat punggung Sheena. Berputar turun sepanjang tulang punggung menuju pinggul, untuk kemudian naik menyusur lekuk tubuh Sheena.

“Enak?” kata Indira saat memijat tengkuk Sheena.

Sheena mengangguk.

“Pasti capek ya, disuruh bantu-bantu di rumah,” kata Indira sambil terus memijat.

“Nggak papa, aku udah banyak dibantu juga, kan.. umh…” Sheena melengguh, karena pijatan itu memang nikmat sangat. Namun dalam hatinya ia merasa bahagia, belum pernah ada yang memperhatikannya seperti ini.

Indira terkikik. “Emang beneran enak, yah?”

Sheena tak menjawab, hanya melengguh sambil mengeliat pelan. Sheena tak menyadari, bahwa lenguhannya itu membuat darah Indira berdesir-desir dan jantungnya berdebar-debar tatkala Sheena mendesis dan melengguh saat titik-titik erotisnya ditekan.

Tangan Indira kembali turun menyusuri pinggul Sheena. Kali ini Indira menguleni bongkahan pantat Sheena, memijat pelan sampai menjangkau ke belahan pantat Sheena hingga lubang anusnya, membuat si empunya pantat menggeliat geli.

“Geli, ah!” Sheena terkikik dan berguling. Menceburkan diri ke dalam air. Wanita berambut pendek itu lalu menyandarkan punggungnya di tebing batu, membiarkan air merendam tubuh telanjangnya hingga sebatas payudaranya.

Indira mengekeh lucu, ikut beringsut duduk di samping Sheena. Tangan Sheena merentang, menyambut tubuh telanjang Indira ke dalam rangkulannya. Indira hanya tersenyum malu-malu, merebahkan kepalanya di pundak yang dipenuhi tato itu.

Keduanya kembali terdiam, memberikan waktu bagi indera pendengaran keduanya untuk menghayati bebunyian yang mengalun pelan, gemericik air, serta gemeresek daun pakis yang berdesir memenuhi udara. Lama. Hingga tanpa sadar perlahan lembayung senja mulai membayang di atas permukaan air.

“Indah, ya…”

“Iya…”

“Dulu waktu aku kecil masih banyak loh yang manjus di sungai,” kata Indira polos. “Aku sama mama selalu diajak ke sini…” remaja itu tersenyum sendu memandangi larik-larik cahaya yang jatuh di antara daun bambu.

“10 tahun aku merasa sebagai orang yang paling menderita di seluruh dunia…” Indira terdiam sejenak, teringat perkataan Ava. “What can i say? Orang bilang ini takdir… samsara… tapi bisa apa kita dengan itu semua…?”

Selembar daun jatuh di permukaan air, dihanyutkan arus menuju hilir.

“Yang kita bisa hanya mengikuti…”

Sheena mengusap pundak Indira pelan. Perasaan mereka, perasaan senasib itu mengalir seperti aliran sungai. Dan tidak ada satupun yang dapat menebak ke mana aliran sungai, tidak juga mereka. Tidak ada yang tahu sejak kapan Indira berada di pangkuan Sheena. Remaja itu hanya bisa memasrahkan tubuh mungilnya direngkuh dari belakang, lembut. Sang gadis menyandarkan punggungnya di dada Sheena, membiarkan perempuan berambut pendek itu melingkarkan lengan di perut dan dadanya, seperti yang dahulu selalu dilakukan mendiang ibunya…

Indira makin menghenyakkan punggungnya ke dalam kenyamanan yang membungkus. Memasukkan dirinya dalam di antara paha telanjang Sheena yang memeluk erat perutnya… Semuanya terasa begitu hangat, begitu nyaman, hingga menyamarkan desiran-desiran ganjil di kewanitaan masing-masing…

“Kak… ” bisik Indira lemah, menyadari bibir Sheena kini terbenam di lehernya yang dipenuhi bulir air. Sheena menjawab dengan kecupan kecil di tengkuk. Erangan pelan hadir bersama nafas Indira yang memburu ketika tubuh ranumnya diusap dan dibelai penuh kasih. Indira mendesah. Remaja cantik itu memejam pasrah, membiarkan dorongan erotis yang bergolak ramai di bawah sana mengambil alih koordinasi susunan sistem saraf pusatnya….

Jantung keduanya menempel dan membagi degub. Kemudian hanya ada hening yang diselingi gemericik air serta cicit burung di rimbun bambu sana.

Keheningan itu begitu menghanyutkan.

Menghanyutkan kedua pasang untuk saling pandang, lekat dan semakin mendekat. Tanpa bisa ditahan siapapun lagi, kini sepasang bibir itu saling melekat, berpagut, dan menebar rasa hangat ke sekujur tubuh sepasang wanita yang saling membelai dalam ketelanjangan.

Indira melenguh pelan, membiarkan sekujur tubuhnya diremas dan dibelai Sheena, hingga menjangkau ke depan, membelai perutnya yang menegang dan berkontraksi. Nafas Indira tercekat di kerongkongan, geli sekali dibelai di bawah sana. “Nggak… papa…” Indira masih bisa berbisik lemah. Menggenggam punggung tangan Sheena untuk membelai lebih jauh lagi.

Indira mendesis pelan ketika jari Sheena membelai bibir kewanitaannya yang sudah membasah. Matanya memejam, saat Sheena memijit pelan labianya “Mmmmh…” nikmat sekali diperlakukan begitu.

Indira memegang tangan Sheena lembut, menikmati sensasi geli bercampur gatal yang merayap pelan memenuhi otot-ototnya, membuat tubuhnya lunglai, jatuh lemas ke dalam dekapan Sheena.

Kepalanya terasa ringan, tubuhnya terasa melayang dalam ruang anti gravitia. Setiap belaian Sheena, membuat pinggulnya melayang seperti kapas, membuatnya mengerang lembut sambil menggigit ujung jarinya.

Sheena mendekap tubuh itu, melingkarkan kakinya di tubuh Indira agar anak itu tidak hanyut oleh arus sungai. Sheena mengecup kening Indira lembut, dan membisikkan kata-kata yang semakin membuat Indira mengawang dan menempelkan punggungnya lebih erat, dan lebih dekat lagi ke dada Sheena yang kenyal dan jantungnya yang berdegub-degub.

Sheena membenamkan bibirnya ke leher Indira, mengecap dan menjilat kulit Indira yang basah oleh bulir air. Indira merintih pelan, ciuman lembut di lehernya itu seperti setrum yang membuat sekujur sendinya bergelinjangan.

“Ooohh! Sssssh… Ummmh… celek[SUP](3)[/SUP] pepeknya[SUP](4)[/SUP] Indira...sssssh…. ooooh…. ” Indira mulai meracau binal, mendesah penuh gairah. Kakinya sesekali mengejang dan menendang hingga membuat permukaan air bercipratan.

“Kak Na… sssshhh… enakh… celek terus… celek pepeknya Indira….ooouuuhhh… ssshhhh…” desis Indira keenakan.

(3) celek tusuk; dengan menggunakan jari
(4) pepek = kewanitaan (kasar)

Sheena merengkuh tubuh itu, erat dan lebih erat lagi. Tangan kirinya meraih payudara Indira, meremas dan membuainya dalam kenikmatan yang memilin di tajuk-tajuk payudara yang menegang. Mengantar bidadari itu mencapai kenikmatan yang lebih-lebih-lebih lagi.

Indira melolong, bibirnya mangap-mangap seperti kehabisan nafas. Pinggulnya sesekali terangkat, kemudian terhempas lagi, terangkat dan terhempas kembali ke dalam arus sungai yang semakin bergejolak.

Indira menjerit kecil, sambil menjambak rambut Sheena yang tak henti mencumbui lehernya. Sementara jemari Sheena terus menggosok dan membelai, membuat bibir kewanitaan Indira merekah, menampakkan belahan merah muda yang segar seperti strawberry. Semakin berani, jarinya Sheena kini menyibak dan memasuki belahan yang sudah sangat licin itu, menggesek dan mengaduk-aduk birahi Indira, hingga menyentuh sebuah daging kecil yang menonjol.

“Auuuuuhh….. pepeknya Indira diapain… auuuuh… sssssh….” Indira menggeleng-geleng heboh saat Sheena mulai membelai-belai klitorisnya. Jeritan erotisnya terpaksa ditutupinya dengan telapak agar tak terdengar oleh orang-orang di sekitar. Tungkai-tungkai Indira memberontak, bergelinjangan kesana kemari hingga seluruh permukaan air bergejolak seperti gejolak birahi sang remaja yang kian menggila!

Jemari Sheena menjelajah masuk, menelusup ke dalam lorong yang sempit dan hangat. Menggaruk, mengaduk, dan berputar putar di liang kenikmatan yang terasa semakin berdenyut-denyut.

Lehernya dilumat, payudaranya diremas dan dipilin, kewanitaannya diaduk-aduk, birahinya dibawa ke puncak! Membuncah-buncah dalam erangan dan teriakan yang tertahan, bercampur dengan gemericik cipratan air yang bergolak.

Indira hanya merasa kepalanya terasa ringan, dan tubuhnya seolah melayang dalam ruang tanpa gaya berat…. Setiap belaian Sheena membuat pinggulnya melayang seperti kapas… lalu menandak… mengejang… menggelinjang…. Indira mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Puncak kenikmatannya terlalu erotis untuk disuarakan.

Waktu tersadar, Indira mendapati tubuh telanjangnya sedang bergelung dalam dekapan Shenaa. Senyum bahagia mengembang. Wajahnya memerah penuh dengan titik-titik air, dan segera diciumi Sheena, penuh kasih…

= = = = = = = = = = = = =​

Lalungin Ava! Lalungin Ava!” jeritan-jeritan kasar tiba-tiba menyentak keduanya.

Indira terperanjat, mendapati lembah sungai itu mendadak dipenuhi suara laki-laki. Teriakan-teriakan primordial terdengar dari balik batu tempat mereka bersandar. Lebih dari satu orang, saling bercanda dan mengumpat dalam bahasa Bali kasar.

Naskleng ci, Dek! Woi!

(5) lalungin telanjangin
(6) naskleng = semacam kata umpatan
(7) ci; cai = kamu (kasar)

“Byuuuur!” tedengar suara deburan, seseorang dari mereka dilempar paksa ke dalam ceruk air di dekat Indira dan Sheena. Orang itu termegap-megap dalam keadaan bugil. Rupanya ia ditelanjangi paksa dan diceburkan oleh teman-temannya.

“Ava?” Indira mengenali orang itu.

Ava mengusap-usap matanya yang perih oleh air, mencoba mempercayai pemandangan yang ada di depannya: Sepasang bidadari dengan wajah merona merah dan nafas terengah.

Belum sempat otaknya berpikir tentang apa yang dilakukan kedua bidadari ini sampai terenggah-engah, tiba-tiba Kadek dan teman-temannya -yang sudah bugil pula- meyeruak dari balik batu, mencoba membenamkan Ava ke dalam air sambil tertawa-tawa. Indira dan Sheena buru-buru meraih pakaiannya.

“Lho, kalian juga ke sini yah?” Pak De muncul dengan tubuh bugil, ikut memperkeruh suasana.

“Iya… hehehe…” Indira salah tingkah. “Kami… sudah… selesai… kami.. duluan ya…”

Ava terpaku melihat Sheena dan Indira yang mulai berpakaian. Sisa ketelanjangan mereka masih membekas di otak mesum Ava ketika dua perempuan itu melangkah pergi meninggalkannya bersama Pak De, Kadek, dan 5 orang pemuda desa dengan otot dan kejantanan yang melambai-lambai. Ava menghela nafas berat, seolah mengucap selamat tinggal pada tubuh molek sepasang bidadari itu.

Hidup suram, batin Ava. Kini dirinya terpaksa berendam sambil memandangi kumpulan buah zakar. Jika preferensi seksualnya berbeda, tentu ia akan sangat bahagia berada di tempat ini.

“Hei! Ngapain bengong,” kata Pak De sambil duduk di samping Ava. Perutnya yang membuncit menutupi kemaluannya.

“Ah, e-e-e-enggak…”

“Nanti malam, kita ke studio saya,” kata Pak De sambil menepuk paha Ava.

“Mau dilukis lagi Pak De? Sama Indira atau Sheena?” mata Ava langsung berbinar sumringah.

“Kamu sendiri saja.”

Ava menelan ludah.

“Waktu saya nggak banyak,” kata Pak De.

To Be Continude…

Cerita Terpopuler