. Nirwana Part 28 | Kisah Malam

Nirwana Part 28

0
171

Nirwana Part 28

Insecure

Suara ombak terdengar menghempas tebing karang tempat villa mewah itu berdiri. Matahari hanya berada segaris tipis dari cakrawala, menguaskan spektrum warna jingga yang berpendar ke bangunan bergaya avant garde itu.

Ruang tengah itu ditata rapi dan minimalis, dengan sofa panjang, TV LED, dan mini bar di pojokan, sementara bagian belakangnya dibiarkan terbuka tak berdinding menampakkan panorama laut dan langit senja.

Setelah membersihkan diri, Indira membenamkan diri dalam pelukan kekasihnya. Tubuhnya yang segar sehabis mandi, ditutup seadanya saja dengan kaus kedodoran tanpa apa-apa lagi di baliknya. Remaja itu duduk di samping Dewa, menyandarkan kepala di pundak pemuda yang sesekali mengusap rambutnya yang basah.

Seorang lelaki paruh baya meletakkan kudapan dan dua gelas jus jeruk di hadapan keduanya.

“Oh, makasih, Pak Wayan,” sahut Dewa.

“Oh iya, tadi Ajik nelepon. Bulan depan baru beliau bisa datang dari Munich, katanya salam buat Bli Dewa.”

Dewa tertawa sinis. “Kenapa nggak telepon saya langsung? Ternyata dia masih ingat punya anak di sini.”

“Jangan begitu, Bli. begitu-begitu beliau Ajik-nya Bli Dewa juga,” kata Pak Wayan sebelum mohon diri.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Ombak berdebur menggempur tebing karang, membaurkan aroma laut yang menguar memenuhi udara. Hyang Surya hendak beranjak ke peraduan, namun Ia masih berbaik hati dengan membagi lembayung jingga pada wajah cantik Indira yang tersenyum sayu dalam pelukan kekasihnya. Dewa membelai rambut Indira, memperhatikan wajah kekasihnya yang nampak damai, entah apa jadinya kalau ia tidak bertemu gadis itu. Ia hanya menghela nafas, berusaha menikmati keindahan yang ia tidak tahu kapan akan berakhir…

Andai aku bisa,
Memutar kembali waktu
Yang telah berjalan
Untuk kembali bersama,
Di dirimu selamanya…

“Kita udah jalan dua tahun ya, Wa…,” Indira berkata pelan. “Dua tahun… Nggak kerasa, ya…”

“Iya… ” Dewa menjawab dengan pandangan mengawang, merunuti ombak yang berkilauan di kejauhan.

“Habis ini kita gimana, Wa…?”

Suara ombak berdesir pelan, membisukan keduanya. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar -terlebih bagi anak SMA seperti Indira- dalam menjalin hubungan. Susah sedih sudah dijalaninya selama ini. Namun semakin Indira menjalani, semakin ia menyadari bahwa di hadapan mereka terbentang tembok tinggi yang menghalang.

Seharusnya tidak ada yang salah dengan hubungan Dewa dan Indira. Mereka berasal dari kasta yang sama, dan sama-sama ber-Tuhan kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Dari fisik pun nampak serasi seirama, yang satu cantik jelita dan yang satunya tampan luar biasa hingga membuat orang-orang iri saat mereka berjalan beriringan.

Permasalahannya, sepeninggal Raka kakaknya, Indira menjadi anak satu-satunya dalam keluarga Pak De. Hal ini akan membawa konsekuensi adat bagi keduanya, yakni: perkawinan nyentana.[SUP](1)[/SUP]

(1) Dalam masyarakat Hindu Bali, kewajiban mengurus Pura Besar (Merajan) jatuh ke tangan anak laki-laki. Dan apabila di suatu keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka kewajiban itu akan jatuh ke tangan menantu laki-laki, dengan konsekuensi si menantu harus kehilangan hak waris dan hak beribadah di Pura / Merajan milik keluarganya sendiri, padahal Merajan adalah tempat besemayamnya arwah para leluhur.

Meski diperbolehkan secara adat. Isu nyentana bagi sebagian pemuda Bali adalah masalah sensitif, karena menyangkut harga diri dan kehormatan keluarga. Maka, begitu tahu Dewa bersedia nyentana demi Indira, maka cibiran datang bertubi-tubi dari teman maupun kerabat, bahkan tidak hanya ditujukan kepada dirinya tapi juga ayahnya yang dicap gagal mendidik anak karena terlalu sibuk dengan bisnisnya di Jerman.

Ponsel Dewa bergetar. Pemuda itu segera menekan tombol merah begitu melihat nama penelponnya.

“Siapa?” tanya Indira. “Kok dimatiin?”

“Ajik saya.”

“Oh iya, Ajik-nya Dewa gimana kabarnya?”

“Ngapain nanya?”

“Maksud Indira, akhir-akhir ini… Ajik-nya Dewa nggak ada bilang apa… gitu?”

Dewa menghela nafas berat. Mengerti ke mana pembicaraan ini akan mengarah.

Merasa perlu mendapat penegasan, Indira kembali bertanya. Kali ini dengan lebih hati-hati. “Keluarganya Dewa…. udah…. ngebolehin Dewa nyentana

Helaan nafas keluar untuk kedua kalinya, kali ini lebih lambat dan berat dari sebelumnya.

Bukan maksud aku,
membawa dirimu
Masuk terlalu jauh
ke dalam kisah cinta
yang tak mungkin terjadi…

“Wa?”

“Ini nggak sesederhana ‘mau’ atau ‘tidak. Kamu nggak bakalan ngerti. Ini lebih rumit dari yang kamu kira. Keluarga, masyarakat, agama, adat, kita hidup dalam itu semua…”

Indira langsung menunduk. Sinar matanya padam bersama dengan jawaban kekasihnya.

“Terus kita gimana, dong…,” tanya Indira getir.

“Yah, jalanin yang ada dulu aja…”

“Nggak bisa kaya gitu, Wa…”

“Aku kira kita sudah sepakat buat ngejalanin ini sama-sama.”

“Ngejalanin apa? Kalau toh, semua ini nggak bakalan ada ujungnya….”

“Udah, deh… nggak usah dibahas dulu,” sergah Dewa. Pemuda itu melengos malas, menyadari pembicaraan ini akan mengarah kepada perdebatan tak berujungpangkal.

“Terus kapan? Ajik terus-terusan nanyain ke aku tiap hari!” cecar Indira. “Biar kamu tahu aja, aku tuh sudah susah payah belain kamu di depan Ajik. Aku nggak mau cuma aku aja yang berjuang buat ini.”

Dewa mendengus kesal. “Kamu kira aku enggak berjuang? Egois.”

“Egois? Siapa bilang Indira egois? Indira enggak egois?! Aku cuma pengen dikasih kepastian!”

“Ah, dari dulu kamu emang ribet!” Dewa mengibas kesal. Omelan Indira dan ponselnya yang tak berhenti bergetar membuat pemuda itu kehilangan kesabaran.

“Ada apa?” Dewa menjawab, ketus. “Tumben nelepon, saya kira sudah lupa punya anak di Bali,” Dewa berkata sinis, kemudian membiarkan lawan bicaranya mengomel beberapa detik.

Dewa harus berjalan agak jauh ke koridor, agar percakapannya tidak sampai didengar Indira.

“Dewa, minggu depan ada piodalan[SUP](2)[/SUP] di kampung kita. Kamu bantu ngayah[SUP](3)[/SUP] ke Pura, ya?”

“Terus, Ajik nggak pulang?”

“Ajik masih ada urusan di Dusseldorf,” ayahnya menjawab singkat.

“Kenapa nggak Ajik sendiri yang ngayah

“Dewa! Keluarga kita sudah beberapa kali nggak ngayah ke Pura, kalau kali ini sampai absen, kita bisa di kasepakang[SUP](4)[/SUP] dari Desa adat! Kamu itu anak laki paling tua, harus bisa diserahi urusan begini.”

“Kenapa harus saya? Kan, Ajik yang kepala keluarga!”

“Kenapa kamu sekarang jadi membangkang begini? pasti karena pengaruh pacarmu, si Indira itu

Dewa langsung terdiam. Raut wajahnya mengeras seketika.

“Memangnya Indira salah apa?”

“Kamu it-…… Sudah! nggak usah pura-pura nggak tahu! Pokoknya Ajik nggak terima kalau kamu sampai nyentana!”

“Kenapa nggak boleh? Sekarang Ajik bilang, di mana ada pernyataan yang bilang orang Bali nggak boleh nyentana

“Kamu itu! Jangan sok tahu kamu jadi anak kecil!”

“Setidaknya saya baca, nggak kaya Ajik!”

“Ini bukan masalah boleh atau tidak boleh! Kalau kamu nyentana, itu artinya kamu ‘diambil’ sama keluarganya Indira!”

“Diambil? Lagipula, apa sih artinya saya buat Ajik? Saya ada atau nggak ada, Ajik nggak pernah peduli, kan?”

“Ini bukan masalah itu! Ini masalah harga diri dan kehormatan keluarga!” ayahnya menjerit di seberang sana.

“Ajik cuma peduli kehormatan keluarga, kan? Nggak pernah peduli sama saya!”

Ayahnya diam, namun terdengar nafas yang berat dari seberang telepon.

Dewa menarik nafas panjang, “Sejak awal, saya nggak pernah merasa dianggap sebagai anak,” nadanya mengeras sekaligus getir. Air mata sudah menggumpal di pelupuknya.

“Dewa!”

“Fuck you, and fuck your German Wife!” Dewa menutup telepon, terduduk lemas di teras.

Indira ternyata berdiri di dekat situ, memperhatikannya dari tadi. Ia beringsut duduk, membelai kepala kekasihnya.

“Maafin Indira ya, gara-gara Dira… Dewa jadi…”

Dewa tidak menjawab, pemuda itu hanya menangis tanpa suara di pelukan Indira. Dalam pusaran arus kehidupan, sepasang insan ini terombang-ambing. Apalah artinya mereka selain sebutir debu berukuran mikron di tengah belantara Semesta, yang tunduk pada rumus-rumus matematis tak terlihat yang mengatur pergerakan setiap elektron dan setiap kejadian. Sebuah rumus matematis Maha Rumit bernama: Takdir.

Dan aku tak punya hati
Untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati tuk mencintai
Dirimu yang selalu mencintai diriku…
Bersambung