. Nirwana Part 27 | Kisah Malam

Nirwana Part 27

0
197

Nirwana Part 27

Wonderlust

Fosil, Ava hanya bisa terngangga melihat barang antik di hadapannya. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana motor Honda CB-200 produksi tahun 1977 itu masih bisa distarter. Sepasang knalpotnya menderu jernih, tidak terbatuk-batuk seperti skuter butut Kadek. Jok kulitnya tanpa cacat. Spion, speedometer, lampu, semua mengkilap seperti baru saja disepuh krom. Mau tak mau Ava berdecak kagum.

“Vintage,” Sheena berkata jemawa, mengusap tangki warna hitam mulus. “Sayang, kayanya nggak seberapa lama lagi bakal gue jual.”

“Serius? Sayang banget.”

Senyum getir membayang di wajah Sheena. “Mau gimana lagi.”

Ava menemani Sheena mengambil beberapa barang di kost-nya. Cewek berambut pendek itu kini sudah siap dengan jaket army penuh emblem band punk, sepatu boots kulit, dan ransel carrier besar berisi seluruh baju-bajunya. Kaca mata hitam retro bertengger di wajah Sheena, menggenapi dandanan serba antik itu.

“Buset, emang kita mau nonton Woodstock

Tawa sinis segera menyembur. “Just in case. Elu nggak pernah tahu apa yang bakal dilakuin sama Boss Jay setelah anak buahnya dipermalukan kaya tadi.”

“Boss Jay?”

“Udah, ah! Yuk!” Sheena menyodorkan helm ke arah Ava.

“Siap!”

= = = = = = = = = = = = = =​

Dewa mengarahkan kemudi memasuki pelataran villa mewah yang terletak di gigir bukit kapur. Di sampingnya Indira hanya bisa tergolek lemah, terengah dengan wajah yang basah dan memerah.

“Yuk, dah sampai nih…” kata Dewa saat memasuki garasi Villla-nya

“Piiiip.” Mobil dikunci otomatis. Dewa menggandeng Indira menuju bangunan utama Villa mewahnya, namun remaja yang tengah dimabuk birahi itu hanya mampu berjalan terhuyung dengan baju acak-acakan dan ekspresi sayu menahan rasa gatal di selangkangannya yang semakin menggila.

Adalah gairah yang membakar keduanya. Entah siapa yang menyulut lebih dulu, tahu-tahu saja sepasang insan itu kembali berpagutan, dengan nafsu yang jauh lebih membara dari dua percumbuan sebelumnya. “Mmmmh…” Lidah mereka saling membelit, saling mempertukarkan saliva sekaligus kenikmatan melalui tangan yang saling membelai titik-titik sensitif masing-masing. Indira terbakar, selangkangannya berkedut-kedut membara, menuntut untuk segera disetubuhi!

Indira menatap sendu namun penuh gairah ke arah Dewa yang tengah membelai selangkangannya dari luar rok abu-abu. “D-di sini…?” Suara Indira bergetar, berusaha mengkonfirmasi.

“Kenapa enggak? Nggak ada siapa-siapa, kan?”

Indira tersenyum, mengusap tonjolan di celana sang pemuda. “Kinky

“Tapi kamu suka, kan?”

Perkataan Dewa tadi seperti membuka sumbat birahi Indira yang dipendamnya sedari tadi. Segera Indira menerkam tubuh Dewa, melumat habis bibir pemuda tampan itu. Seolah tak mau kalah, Dewa membalas dengah hisapan yang tak kalah sadis, disertai remasan-remasan liar pada dada dan selangkangan Indira.

Sambil saling melumat, Indira melepas satu demi satu kancing baju kekasihnya. Sang pemuda membantu dengan mengangkat kedua belah tangannya, mencampakkan kemeja kotak-kotak ala Jokowi[SUP](1)[/SUP] itu ke lantai. Indira tersenyum kecil, melihat dada bidang kekasihnya. Feromon[SUP](2)[/SUP] yang menguar, membuat Indira tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menghujani kulit mulus kekasihnya dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas kemerahan.

Dewa meringis pelan, balas meremas pantat remaja yang sedang sibuk menelanjangi dirinya. Dua tahun menjalin hubungan, membuat keduanya semakin piawai dalam bercumbu dan bercinta. Lihai, kedua tangan Indira bergerak cepat membuka sabuk dan reitsleiting kekasihnya.

(1) Catatan: Cerita ini ditulis pada tahun 2012. Waktu itu Jokowi sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan berkampanye dengan kemeja kotak-kotaknya yang khas dan sempat menjadi trend mode tahun itu.

(2) Feromon: sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual pada jantan maupun betina

“Kamu ngegemesin banget sih, sayang,” rengek Indira manja sambil menguaskan lidahnya di puting sang pemuda. Dewa hanya bisa mengerang pelan, hisapan serta gigitan-gigitan kecil itu membuat birahinya kian menggila! Apalagi jemari Indira kini menyusup ke balik celana dalamnya, mengusap dan membelai sebatang lingga[SUP](3)[/SUP] yang sudah mengeras dan berdenyut-denyut menuntut segera disarungkan ke dalam yoni[SUP](4)[/SUP]-nya.

(3) kejantanan
(4) kewanitaan

Indira tersenyum nakal. Remaja yang masih mengenakan seragam putih-abu itu beringsut turun, berlutut di hadapan kekasihnya. Gigitan dan jilatan kini beralih ke arah perut six-pack sang pemuda yang tak luput ditandai Indira dengan berkas kemerahan. Semakin gemas, Indira menggigiti otot-otot lembut kekasihnya, sambil tangannya bergerak membebaskan kejantanan yang sudah mengeras dari balik kungkungan pakaian dalam.

Kejantanan putih yang tak berkhitan itu segera mengacung tegak di depan mata Indira, Aroma kelaki-lakian bercampur feromon yang menguar membangkitkan hasrat sang gadis remaja untuk menciumi sekujur batang kesayangannya itu dengan gemas bak seorang anak kecil yang menemukan mainan yang telah lama hilang. Penuh kasih, diciuminya batang keras yang sudah berdenyut-denyut itu. Dilipatnya kulit khatan Dewa yang utuh ke belakang hingga menampakkan ujung kejantanan yang sudah menitikkan cairan precum pada lubang kencingnya. Indira menjilatnya hingga tandas. Rasa geli seketika menyebar ke seluruh tubuh Dewa ketika Indira mulai memasukan kepala kejantanannya sambil tersenyum lucu bak mengemut lolipop!

Dewa menggelinjang. Bibir lembut Indira membuat sekujur tubuhnya merinding menahan geli. Otot-otot tubuhnya mendadak lemas, memaksa sang pemuda berpegangan pada kap mesin agar tungkai-tungkainya bisa tetap tegak menjejak bumi.

Dengan telaten, Indira menjilati batang kejantanan Dewa. Bibir mungilnya melumat batang keras itu dari ujung hingga bawah, bergerak lincah dan memijat-mijat lembut di sepanjang batang yang sudah berkedut-kedut. “Ooooh……” Dewa memegangi kepala Indira yang bergerak maju-mundur, menelan kejantanannya sampai dasar tenggorokan, sementara lidah Indira yang hangat bergerak membelai, terkadang bergetar di dalam sana, menimbulkan badai kenikmatan yang membuat pinggul Dewa ikut begerak maju mundur seolah ingin ikut menyetubuhi wajah cantik Indira.

“Mmmmhhh… enthothim….mmhh… mhulut….. Indhira... hhhmmmhppph….” Indira melenguh tak jelas, karena bibir manisnya kini sedang disesaki oleh kejantanan sang kekasih.

Dewa termenggap-menggap, pantatnya terangkat-angkat. Pemuda blasteran itu hanya bisa mengangkang setengah telanjang di atas kap mobil New Beetle-nya. Celana bahannya sudah lolos sampai mata kaki, sementara celana dalamnya kini dilorotkan Indira sebatas lutut. Adalah sepasang buah zakar sang pemuda yang mendapat giliran dikulum oleh bibir imut Indira, sembari batangnya tetap dikocok dan diremas-remas dengan gemas oleh remaja blasteran yang kini sedang berlutut di bawahnya.

Badai kenikmatan membuat mata sang pemuda bugil itu memejam setengah, namun Dewa masih bisa menangkap kelebata siswi SMA kelas III yang masih berseragam putih abu yang semakin membenamkan wajah dia antara dua pahanya. “I-I-Indira! K-k-ka-kamu mau apa?!” Dewa tergagap panik. Selangkangan dan lubang anusnya kini tak luput dari jilatan Indira, bahkan gadis kecil itu kini menusuk-nusukkan jarinya ke lubang anus Dewa yang kini mengkeret keenakan.

Erangan panjang segera keluar dari bibir Dewa. Gengsi muncrat duluan, ia mendorong kepala Indira, mengangkat dagu Sang Bidadari ke arahnya.

“Enak, kan?” Indira bertanya, sambil melingkarkan tangannya di leher Dewa.

Dewa mengangguk, dan disambut senyum lucu Indira, dan… “Umh!” Indira mengernyit, karena tangan Dewa tiba-tiba meremas pantatnya, lebih kasar dari yang biasa

Ego penjantan alfa yang dibakar, ditambah birahi yang sudah dikobarkan oleh sang bidadari liar, membuat pemuda bugil itu mendorong kasar tubuh Indira ke atas atas kap mesin yang masih hangat. Dewa menghimpit tubuh mungil itu dari belakang, menjambak rambut Indira, sambil balas meninggalkan tanda kemerahan di tengkuk remaja yang berbulu halus itu. “Nnggggggh…. sakit…. nnngggghhh…” Indira mengerang pelan, dan kian menikmati tangan Dewa yang meremas-remas payudara mungilnya dengan kasar.

Rasa sakit bercampur gairah membuat pipinya yang bulat semakin merona. Indira merasakan rok abu-abu-nya tahu-tahu disingkap naik, hingga belahan pantatnya terasa dingin diterpa angin. “Dewa… Kamu mau ap… ummmh…” Indira menoleh, dan segera dilumat Dewa. Lambang OSIS-nya diremas keras, dan belahan kewanitaannya dipijat dan diputar-putar kasar, membuatnya mengaduh parau.

Dalam sekali gerakan, Dewa menyingkap kain thong Indira yang tipis, dan Indira merasakan kejantanan Dewa yang hangat bergerak-gerak, meluncur-luncur di selangkangannya yang membasah. “Uuuuuuh…” Indira merengek, bibir kewanitaannya gatal bukan main, geli membuat tubuhnya menggeliat-geliat tidak karuan dalam pelukan sang kekasih.

Berpegangan pada kap mobil, Indira membuka paha lebar-lebar dan menunggingkan pantatnya hingga bibir kemaluannya yang halus mulus nampak mengembang, merekah, sekaligus memberi isyarat, bahwa sang betina sudah tidak tahan lagi untuk segera disetubuhi oleh pejantannya.

“Sshhhhh…. ayoh…. hhh… h-h…. entotin… Indira…. sayang…” Indira merengek-rengek manja, hingga tanpa diduga-duga, Dewa menusukkan kejantanannya cepat, menghentak sampai ujung rahim Indira. Indira mengejan panik, berteriak tanpa suara. Seluruh otot tubuhnya menegang seketika, seolah ikut menghayati batang keras yang tiba-tiba datang menyeruak dan kini berkedut-kedut di dalam tubuhnya.

Dewa melengguh panjang, liang kewanitaan Indira terasa begitu sedap dan menghisap-hisap! Segera ia menyorongkan badannya ke depan, hingga tubuhnya yang telanjang menghimpit tubuh belia Indira yang masih terbungkus seragam sekolah –lengkap. Rok abu-abu sang gadis remaja sudah tersingkap sampai pinggang, menampakkan tungkai halus yang sungguh sedap dipandang.

Sejenak mereka terdiam, saling tatap, dan meresapi kenikmatan yang berdesir di selangkangan masing-masing, sebelum membuat kesepakatan untuk saling memompa.

Dewa meremas bokong Indira yang putih ranum, sebelum mulai menggenjot pinggulnya. “Nggggggh….. ngggggggh!” Indira mulai mengaduh sambil memejam-memejam. Kejantanan Dewa terasa sungguh nikmat menghujam saraf-saraf sensualnya, keluar masuk, bergerinjal dan menggeseki liang kenikmatannya yang makin terasa panas membara! “Dewa… Sayaaaaanggh… Aaaaaah… aaaaaah…..” Indira merintih erotis, menikmati tangan Dewa yang meremas kasar payudaranya dari luar kantung seragam sekolah.

Di kaca depan, Indira melihat pantulan wajah binalnya yang disetubuhi dari belakang. Birahi hadir dan semakin membakar sang bidadari liar. Indira ikut menggerakkan pinggulnya, menyambut kejantanan sang pejantan alfa yang datang menghentak.

“Auuuuh! Uuuunggggghhhhhh” Ceracau binal makin membahana. Indira mendecap-decap keenakan, dinaikkannya sebelah tungkainya ke atas bemper hingga kejantanan Dewa dapat lebih tepat mengorek-mengorek dinding kewanitaannya. “Dewaaah… aaaah… iyaaah… di situuuh… oooooh…” Indira mengerang binal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, karena Dewa kini dengan sengaja memutar-mutar pinggulnya, mengorek kewanitaan Indira hingga g-spotnya, membuatnya makin menggila!

“E-e-enaaaak…?” Dewa bertanya, tak kalah parau. Namun Indira yang tengah berkelojotan hanya bisa menggap-menggap seperti kehabisan nafas. Dan itu sudah bisa menjawab pertanyaan sang pejantan alfa. Dewa tersenyum, egonya dipuaskan. Ia meraih paha betinanya, mengangkatnya, hingga membuat kejantanannya semakin menohok g-spot Indira.

Indira seketika membeliak panik. “Aauuuuh! Aauuuuuh! Dewa! Dewa! Sayaang! Oooooh… Ooooooh…” Teriakan bidadari itu semakin binal, semakin menggila! Cairan cintanya sudah berleleran, merembes dan menetes-netes di lantai. Pinggul sang betina dihenyak ke atas sebelum diputar-putar kasar oleh pejantannya. “Uuuuuuh.. uuuungggggghhh….” Indira menyadari sensasi merinding yang tiba-tiba menyeruak dari selangangannya, membuat sekujur tubuhnya menggigil nikmat… “Dewa… Sayang… Aku sudah hampir… a-aku u-udah.. oooooh… uuuuuuuh!” pinggul Indira mengejang beberapa kali, sebelum Dewa tiba-tiba mencabut kejantanannya. Membuat Indira gelagapan dengan puncak yang tergantung kentang di ubun-ubun.

Tanpa banyak kata Dewa membalik tubuh Indira. Tubuh ranum yang masih terbalut seragam SMA itu diangkat dan dibalik, dihempaskan telentang di atas kap mesin mobil VW New Beetle.

Indira hanya bisa terengah, menatap pasrah dengan bibir basah dan membuka setengah. Rok abu-abunya sudah terangkat sampai batas perut, dan hanya dibutuhkan sedikit usaha dari sang kekasih untuk menarik lepas thongs-nya. Dibakar nafsu, Indira ikut melepas seluruh kancing seragamnya, hingga payudaranya yang ranum seperti hendak melompat dari bra hitam berenda pink.

“Ayo… sayang hhh…h…” Indira tersenyum nakal, lalu membukanya kakinya lebar-lebar, hingga belahan kewanitaannya nampak semakin merekah, mengundang kejantanan Dewa kembali menancap di antara belahannya.

Dewa balas tersenyum. Menjambak rambut Indira, sebelum menancapkan kembali kejantanannya. “Mmmmmh…” Indira menggigit bibir bawahnya, saat batang tebal itu kembali membelah rekahan dinding-dinding kenkimatannya, melesak ke dalam liangnya yang basah dan hangat. Matanya menatap nanar pada kekasihnya, pipinya yang bundar basah dan merona merah, “Uuuuuuuuh…” Indira menggeliat sensual, merengek manja sambil melingkarkan pahanya ke pinggul Dewa.

Suara suspensi mobil berkeriut riuh, mengiringi persetubuhan kedua insan itu. Indira mengerang saat kejantanan Dewa datang menghentak, menghenyak tubuh mungilnya ke atas mobil yang bergerak naik turun seiring pinggul Dewa yang mengayun terus, menggenjot dan memompa, turun naik, ganas. Membuat suspensi mobil VW itu kian berderit-derit.

“Ummmh… enak bangeth… Ooooooh…” Indira menggeleng-geleng heboh, menggigiti ujung jarinya. Sekujur tubuhnya menggelinjang merasa keenakan dikasari seperti ini! “Sayang… Enaak… Oooooh… terus…. entotin Indira…. entotin Indira…” Indira mengerang pelan sambil menjambak rambut Dewa saat putingnya digigit kasar.

Dan pinggul Dewa terus mengayun, hingga sepasang tubuh itu -yang satu telanjang, dan yang satu berseragam putih-abu- saling himpit, saling lumat, naik-turun buas di atas suspensi mobil yang seakan ikut menggelinjang. Sepasang tubuh yang penuh peluh itu berpadu dalam nafsu yang membara dan desah nafas yang semakin menggelora. Suara lenguhan dan erangan sensual bergaung bersahutan, sambil diselingi suara suspensi mobil dan lendir yang saling berkecipak.

“Auuuuhh… uuu-uuuh…. Sayang…. Lebih kenceng! Lebih kenceng! Lebiih kenceeeeeeng… auuuuuhhh….”

Dewa mempercepat ayunannya, membuat payudara Indira berguncang-guncang dan jeritan Indira makin heboh. “Terus, Wa…. uuuuhhh… kontolin Indira…. uuuuu-uuuuh…..”

Dan Dewa tidak bisa menahannya lagi, wajah Indira yang memerah dan rintihanya yang semakin binal, membuat kejantanannya berkedut-kedut ingin memuncratkan laharnya.

“Indiraaa…” aku sudah hampir… ooooh…” Dewa berkata, parau.

“Umh… beeentar, aku sudah hampir nyampeeeh… Ooooh… Ooooh…” Indira memejam-mejam, berusaha mengapai puncaknya yang tinggal beberapa langkah.

“Ummmh! Indira! Aku keluar di dalem nih!” Dewa mengingatkan, dengan wajah hampir menyerah.

“TAHAAAAN… AAAKU UDAH.. UDAH… OOH… OOOH… OOH! OOOOOOOH!” Ceracau nikmat mencelat dari bibir Indira, nadanya meninggi dan kian meninggi sampai akhirnya bibirnya membuka dan kehilangan suara. Indira terhentak, dan pinggulnya menyentak-nyentak. Matanya membelalak hingga tinggal putih di tengah wajah yang merona merah.

“AIH! AIH! AIIIIIH! SAYAAAANG….. INDIRA…. INDIRA…. NYAMPEEEEEEHHHH!” pekikan penuh kenikmatan terdengar membahana. Punggung Indira melengkung naik, sebelum terhempas, mengejang tiga kali sebelum merosot turun sampai ke bemper.

“NGING! NGUING! NGUING!”

Alarm mobil berbunyi saking kencangnya goyangan terakhir.

Kejantanan Dewa segera dicabut dan disambut Indira yang segera melumatnya tanpa ampun. Tak sampai tiga sedotan, Dewa sudah mengerang dengan otot-otot yang mengejang. Pemuda tampan itu berteriak saat pinggulnya menyentak, saat itu juga cairan cintanya menyemprot kencang ke dalam mulut Indira. Remaja imut itu sedikit tersedak hingga sisa cairan kental menyemprot ke wajah dan rambut Indira.

“Uhuk!” Indira terbatuk, namun masih bisa tersenyum lucu dengan wajah merona dan pipi yang dipenuhi sperma. “Asin…” Indira menyeletuk, sambil menjilat cairan putih di bibirnya, menelannya bulat-bulat.

Dewa terduduk lemas dengan tubuh telanjang bulat, disusul Indira yang menggelendot di dadanya. Tubuh lengket penuh keringat dan lelehan cairan cinta itu membuatnya ingin segera membersihkan diri!

Bersambung

Daftar Part