. Nirwana Part 23 | Kisah Malam

Nirwana Part 23

0
180

Nirwana Part 23

Divina Commedia

“Haduh! Haduh! Dewa Ratuuuuu![SUP](1)[/SUP] Apa karma titiang[SUP](2)[/SUP] sehingga harus mengalami kejadian seperti ini!” Kadek mengacak-acak rambutnya sendiri dengan putus asa. Terang saja, mendadak pemuda itu jadi harus mengurusi dua orang pingsan sekaligus, siapa yang tidak frustasi?

Sebenarnya rencana Kadek hari ini sederhana saja, mendapatkan model untuk lukisan Pak De, dan menerima pujian dari gurunya. Alih-alih tanda jasa, Kadek malah ikut terlibat baku hantam dengan preman-preman haus darah.

(1) Kira-kira artinya sama dengan: “OMG!”
(2) saya

Ava tengah mengompres matanya yang biru dengan es batu, sementara Sheena yang sudah siuman kini hanya bisa menggeletak lemas di atas sofa panjang sambil memegangi kepalanya. Kadek sendiri harus sibuk menjawab pertanyaan dari pihak berwajib. Beberapa wisatawan yang melintas di Jl. Poppies II nampak melambatkan langkahnya sejenak untuk melongok ke dalam studio tato yang kini menjelma bak kapal pecah akibat diobrak-abrik para penagih hutang. Pecahan beling memenuhi lantai, reclining seat terguling, botol-botol berisi tinta pecah berserakan. Ava menghela nafas prihatin melihat itu semua.

“Kamu nggak apa-apa?” Pemuda itu melirik ke arah Sheena yang tergolek dengan lengan menutupi wajah.

“Gue nggak apa-apa,” Sheena menyahut ketus.

“Ayolah, tiba-tiba pingsan kaya gitu. Kamu yakin nggak gegar otak?”

“Nggak.”

“Kami antar pulang, ya…”

“Nggak usah.”

“Yakin, bisa pulang sendiri?”

Sheena mendengus kesal. “Bisa nggak sih, elu diem sebentar aja! Kepala gue pusing, tahu!”

“Tapi…”

“Huaaaah! Stress gue!” Sheena ingin menyumpal mulut bawel Ava dengan majalah. Namun baru saja ia hendak membuka mata, dirinya sudah mendapati Ava berjongkok tepat di depan wajahnya.

Ada kebisuan yang seketika menyergap manakala keduanya kembali bersitatap. Sepasang manusia dengan wajah dipenuhi lebam biru itu kini hanya bisa saling pandang tanpa mampu berkata-kata. Dunia disulap senyap, dan bibir keduanya seolah kehilangan kemampuan untuk berbahasa. Sheena tak pernah bisa melupakan tatapan itu, sepasang mata yang dahulu senantiasa menatapnya teduh, namun terpaksa direlakannya ke haribaan Hyang Mahakala.

Senyum pahit membersit di hati Sheena. Tuhan rupanya penulis naskah yang memiliki selera humor tinggi. Dipertemukan-Nya kembali dirinya dengan sepasang mata teduh itu. Hanya saja, kali ini berada dalam tubuh yang berbeda.

Bersambung

Daftar Part