. Nirwana Part 16 | Kisah Malam

Nirwana Part 16

0
191

Nirwana Part 16

Liberi Fatali

Sang Surya menyembunyikan diri di balik selimut gelap, memunculkan Sang Chandra yang bersinar temaram. Cahayanya tertutup beberapa awan yang berarak seperti iring-iringan peziarah menuju pekuburan. Cahaya lampu villa yang berleret-leret di kejauhan tak mampu menerangi areal persawahan di depan kediaman Pak De sehingga, tak menyisakan sedikitpun keindahan yang memukau saat pagi ataupun senja.

Sesi nude painting dilanjutkan setelah Pak De pulang dari rapat bersama para koleganya di Museum La Mayeur. Pak De berkata bahwa, nantinya akan ada 5 lukisan baru yang akan menjadi highlight dalam pameran Sang Maestro di Perancis, lukisan erotis Ava bersama Indira ini akan menjadi pembuka. Untuk karya berikutnya, Sang Maestro memerlukan model lain yang tak kalah liar dari si pemuda brewok.

“Saya saja, Jik!” Kata Kadek menawarkan diri dengan penuh pede. Pemuda itu nampaknya ikut meneteskan air liur menyaksikan pose mesra Ava dengan Indira dalam keaadaan tanpa busana.

“Hahahaha! Sayang sekali, Dek, kamu terlalu kurus! Lagipula saya mencari model perempuan! Yang liar! Tapi juga seksi! Tapi maskulin! Pokoknya yang…. RAWWWWR!” kata Pak De sambil terus melukis. “Tolong saya dicariken ya, Dek. Coba kamu hubungi Pak Nico di Seminyak, agensi modelnya biasanya punya model bagus-bagus.”

Kadek mengangguk, meski dalam hati pemuda itu mulai gelisah. Liar? Seksi? Di mana harus mencari model seperti itu? Sang murid segera memutar otak. Banyak memang model cantik dan seksi yang sering menjadi model lukisan Sang Maestro. Tapi model yang seksi namun liar dan maskulin? Kadek bahkan tak tahu dari mana ia harus mulai mencari.

Benak Kadek berputar-putar, sebelum akhirnya memorinya tersangkut pada kejadian di Pub Crossing Fate seminggu yang lalu. Hanya sekilas barangkali ia bisa mengingatnya, namun wajah vokalis cewek berambut pendek dan bertato yang tak segan-segan berkelahi dengan lelaki itu segera berkelebatan di dalam benaknya.

= = = = = = = = = = = = = =​

Seorang wanita berambut pendek duduk resah di sebuah bar di tepi pantai. Tangan kirinya yang penuh tato memegang sebatang rokok kretek yang menyala, sementara pandangannya mengawang memandangi pesawat terbang yang melayang dari arah Bandara Ngurah Rai di kejauhan. Sheena tersenyum getir, membiarkan angin laut membelai rambut pendeknya.

Seorang pemuda ceking berkulit hitam dengan rambut gimbal asyik menggoyangkan kepalanya mengikuti alunan suara Bob Marley di depan Sheena. Kepalanya menggeleng-geleng asyik seolah hanya ada ada lagu itu saja di telinganya. Di bibirnya terselip sebatang rokok kretek, dadanya yang kurus dengan kalung dari tulang belulang tampak kembang-kempis menghisapi nikotin yang dirasakannya seperti nikmat surgawi, meski ia tahu ada asap yang lebih nikmat dari ini.

“No woman, no cry… No, no woman, no woman, no cry… woyo… yo… yo…” mulutnya yang ditumbuhi kumis tipis monyong-monyong tidak jelas, sembari sibuk mencampur berbagai macam minuman di bar panjang yang dilapisi kayu mahoni.

“Udahan deh, Malah nyanyi-nyanyi nggak jelas! Sakit kuping gue.”

“Hey little sister, don’t shed no tears… woyo… yo… yo…” Bob terus cuek bernyanyi, sambil menggaruk-garuk kemaluannya yang gatal, hingga Sheena semakin dongkol dibuatnya.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Pantai Kelan. Sebuah pantai yang tersembunyi di antara Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dan perkampungan nelayan di dusun Kedonganan. Terletak persis di sebelah Pasar Ikan Kedonganan, pantai Kelan nyaris tak terendus hiruk pikuk pariwisata Pulau Dewata yang semakin sesak tiap tahunnya. Hanya ada beberapa kedai ikan bakar, dan sebuah bar reggae suram yang masih mendentamkan musik meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh.

Bar di pinggir pantai itu sudah sepi pengunjung, di pojokan ada beberapa bule kere yang teler setelah menenggak sebotol arak Bali yang dioplos dengan jus magic mushroom. Sementara di sampingnya ada dua sejoli yang sedang asyik berbincang, seorang bule dan kekasihnya yang berkulit eksotis.

Sebenarnya bar ini meniru konsep bar-bar yang ada di Havana atau Jamaika, sebuah bar eksotis dengan dinding bambu di pinggir pantai, lengkap dengan lampu-lampu gantung yang berwarna-warni. Namun kenyataannya Bar itu demikian suram, sesuram bendera besar berwarna merah-kuning-hijau dengan gambar daun singkong di tengahnya, serta foto Bob Marley terpasang menggantikan foto SBY, dan foto Mbah Surip menggantikan Budiono. Melihat bartendernya yang berambut gimbal -Bob- sudah bisa menjelaskan bar ini benar-benar diperuntukkan untuk turis-turis low budget.

“Gimana bisnis?” Sheena akhirnya membuka pembicaraan, basa basi barangkali.

“Yah, begini-begini aja. Makin sepi, namanya juga Low Season,” jawab Bob lesu. “Elu?”

“Bulan ini, kontrak kita habis. Setelah itu gue harus cari tempat baru,” Sheena menyahut tak kalah lesu. “Nggak gampang ternyata kalau nggak punya bekingan kuat di sini.”

“Dari awal kan gue udah bilang, langsung ngibarin bendera sendiri enggak gampang. Gue aja harus mengincar pasar pinggiran kaya gini. Gila aja kalau disuruh bersaing ngelawan bar-bar gede di Legian atau Seminyak. Apalagi elu ? Coba bayangin, Poppies II, men! Diapit Jalan Legian dan Pantai Kuta, kurang keras apa coba persaingannya?”

Sheena memilih menanggapinya dengan melengos, menenggak sebotol arak dingin di tangannya.

“Lagian, kan dulu elu sendiri yang bilang, Studio itu cuma buat batu pijakan. Sekarang Tato-tato elu udah mulai terkenal, seenggaknya di lingkungan Poppies II. Mungkin habis ini elu bisa join dulu sama orang lain… atau…”

“Nggak semudah itu, Bob,” cepat Sheena memotong.

Sheena menjelaskan bahwa, diperlukan modal besar untuk menyewa tempat dan membeli peralatan tato. Bank tidak akan meminjamkan uang begitu saja tanpa jaminan, memaksa dirinya meminjam uang pada seorang pengusaha di Jakarta. Satu tahun sudah Sheena memulai bisnis tatonya, namun mencapai Break Event Point pun sulit dirasa. Hingga masa sewa tempatnya habis dan penagih hutang mulai datang menerornya.

“I’m fucked up,” pungkas Sheena getir.

Bob menuangkan segelas arak ke gelas teman lamanya. “Tapi gue selalu yakin, Na. Semesta bakal kasih jalan. Kaya yang dibilang Bob Marley, Everything is gonna be alright.”

“Everything is gonna be alright kalo ada arwahnya Bob Marley datang terus ngasih gue kerjaan buat ngelunasin hutang gue!” sambar Sheena sinis lalu menenggak arak hingga tandas.

Bob menghela nafas prihatin. “Lagian kenapa elu harus repot-repot balik ke Bali? Padahal gue denger elu udah ada kerjaan mapan di Jakarta.”

“So? Gue nggak boleh pulang ke Bali?”

“Ya, gue nggak nyangka aja, setelah apa yang terjadi elu bakal balik lagi ke tempat ini… padahal…”

Cepat, Sheena menukas ucapan Bob, “Gue nggak bisa lari terus-terusan, Bob.”

Bob menyadari, perkataannya tadi mendadak membuat air muka lawan bicaranya berubah mendung. Pandangan Sheena perlahan mengawang, memandangi laut yang menghitam di kejauhan. Angin laut berhembus memenuhi Bar ‘The Rastafarian Pilgrims’. Dingin menerobos masuk, mencuatkan aroma samudera dan arak Bali ke segala penjuru ruangan Bar yang terbuat dari bambu.

“10 tahun kita nggak ketemu. Elu berubah, Na,” kata Bob sambil menggaruk-garuk rambut gimbalnya.

“People changes…” Sheena menyalakan rokok kedua.

“Man, c’mon… Apa yang dibilang Awan kalau dia ngelihat kondisi elu sekarang?”

Tiba-tiba Sheena menggebrak meja sehingga membuat tamu-tamu lain terperanjat. Wanita berambut pendek itu menatap tajam ke arah Bob, kemudian berucap geram, “Bob! jangan sebut-sebut nama dia! Jangan rusak mood gue!”

Sheena menenggak segelas arak lagi, namun rasa arak itu seperti melipatgandakan pahit di dadanya. “Fuck,” umpat Sheena pelan.

“Apa mimpi mu?”

“Model! Aku mau jadi model!”

“Kalau gitu aku yang jadi fotogafer!”

“Terus?”

“Aku yang motret kamu buat Vogue!”

“Asyik!”

“Kita wujudin mimpi kita!”

“Serius?”

“Serius!”

“Janji?”

“Janji!”​

Sheena mendengus dan membiarkan pahit arak memenuhi tenggorokannya. Betapa manusia itu begitu mudahnya bermimpi, begitu mudah bercita-cita. Namun apa yang tertinggal dari sebuah mimpi? Selain sebuah remah-remah ingatan yang tertinggal ketika engkau terbangun di pagi hari.

= = = = = = = = = = = = = =​

What is the point of dreaming? Ava mendadak bertanya kepada dirinya sendiri. Waktu pertama ia berangkat ke Pulau Dewata, sungguh benaknya dipenuhi dengan ribuan mimpi; Mimpi menjadi Affandi? Mimpi mencintai bidadari? Dan saat ini, pemuda menjadi malu pada dirinya sendiri, menyadari bahwa hidupnya tak lebih dari sebuah omong kosong besar.

Hampir 2 bulan sudah Ava ‘menimba ilmu’ pada seorang maestro lukis, namun yang dijalaninya tidak lebih dari disuruh-suruh ini itu. Kacung. Dan apa yang didapatnya kini? Merintis karir sebagai model telanjang! Kalaupun Tuhan ada, Dia pasti memiliki selera humor yang sangat tinggi, Ava mengutuk dalam hati.

Sudah jam setengah 11 malam, Ava merokok di pinggir pematang sawah, membiarkan tubuhnya ditelan gulita malam. Hanya ada cahaya rokok berwarna merah dan suram LCD ponselnya yang temaram, hingga dari kejauhan Ava yang sedang berbicara di telepon nampak sedang bermonolog seorang diri.

“Baik…. Sehat…. ibu sehat? Rematiknya nggak kambuh? Farah sehat?”

Ava terdiam lama, menghisap asap rokoknya dan menghembuskannya dengan gundah. “Nanti karya Ava juga dijual di sini.” Pemuda brewok itu meremas-remas bungkus rokoknya dengan tidak jelas.

“Iya, lukisan Ava bagus deh pokoknya, Bu!” Ia terdiam dan menghela nafas panjang. “Bener! Nanti Lukisan Ava sampai ke Perancis, kok!”

“Beneeer… Masa Ava bohong?”

“Sholat, lah! Ava sholat, kok!”

Dibiarkannya abu rokoknya memanjang sampai jatuh ditarik gravitasi.

“Nanti deket-deket lebaran Ava pulang.”

“Jaga kesehatan ya, bu. Salam buat Farah.”

Ia terdiam sebentar.

“Wa’alaikum salam…”

Ava menutup telepon sebelum kembali menghisap sebatang Sampoerna Mild-nya. Diketuknya ujung rokok untuk menjatuhkan abu, sebelum dihisap lalu dihembuskannya kembali asap rokok ke dalam kegelapan malam. Tatapannya kosong, memandangi bintang yang berkelip lemah sebelum tersapu awan gelap.

“Kemarin aku kira masa depanku nggak jelas, tapi hari ini aku merasa masa depanku semakin blur,” berkata Ava kepada angin malam yang bersemilir di hadapannya.

“Ngomong apa, sih? Kamu nggak jelas banget sih jadi orang?” omel Indira yang sedari tadi memang sudah berjongkok di samping Ava, menunggunya selesai menelpon. Gadis itu juga menghisap sebatang rokok, dan meniup asapnya ke wajah Ava. “Galau nie…” kata Indira.

“Aku tahu kok, kelihatan kali aura-aura galau… gelap… gelap… benar-benar gelap…” kata Ava sambil menatap kosong ke arah masa depannya yang semakin gelap.

Indira tersenyum kecut sebelum menghembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi, memandangi langit yang semakin hitam tertutup awan.

Ava membuka suara, “Eh, tahu nggak? Kalau galau malem-malem namanya apa? Galau in The Dark!”

“Jayus, ah! Lelucon plagiat!”

“Haha..!” Indira menonjok lengan Ava.

“Emang Dira galau kenapa?”

“Huuuuu.. mau tahu aja.”

“Ya udah, mari kita bergalau ria menikmati gelap malam. Yaaah… Galau in The Dark… dark… dark… dark… gelap… gelap… lap… lap… lap…” Ava menatap kosong, suaranya sengaja diberat-beratkan seolah yang dikatakannya itu suatu yang benar-benar gelap.

Lama mereka bergalau bersama dalam gelap. Cahaya kunang-kunang berpendar di kejauhan menimbulkan kilauan biru keunguan yang menari-nari. Sepasang mata Indira memandangi itu semua.

“Salah ya, Va? bermimpi terlalu tinggi?” Indira akhirnya buka suara, namun lawan bicaranya hanya mengangkat bahu.

“…atau aku aja kali yang terlalu naif, terlalu percaya sama Dewa,” sambung Indira lagi

Ava mendengus gemas, kupingnya agak panas ketika nama itu disebut-sebut.

“Kenapa sih masih ngomongin Dewa? Setelah apa yang dia lakuin, masih aja kamu ngeharepin dia.”

“Kamu nggak bakalan ngerti, Va. Ini lebih rumit dari yang kamu kira!”

“Makanya jelasin, dong!”

“Buat apa? Kamu nggak bakalan ngerti juga!”

Kemudian hening. Lama dan menjengahkan.

“Cuma Dewa yang mau nerima aku, Va…” Indira akhirnya berucap. Pelan dan getir.

“Dira, dengerin aku. Kamu itu cantik, lucu. Masih banyak cowok yang lebih baik dari Dewa yang mau sama kamu!”

“Kamu emang nggak ngerti…,” desah Indira putus asa. “Nggak ada cowok di Bali yang mau nikah sama aku…”

“Aku?”

“Iiiiiiiiiiiiih! Ava ngareeeep!” Indira mencubit Ava dengan wajah tersipu sehingga pemuda itu terkekeh-kekeh salah tingkah.

“Yah, namanya juga usaha,” sahut Ava lalu menggaruk-garuk rambut gondrongnya.

“Klise tahu!” Indira menggembungkan pipi dan memasang tampang judesnya yang selalu, berusaha memungkiri bahwa jantungnya kini berdetak sedikit lebih kencang akibat perkataan sang pemuda. Angin berhembus sendu. Hati-hati Indira melirik mata Ava, mencoba mencari sesuatu di dalamnya.

“Lagian, emangnya kamu mau masuk Hindu, Va?”

Di-skak seperti itu, seketika membuat Ava kehilangan kata-kata. Hingga akhirnya raut antusias di wajah Indira padam dan berganti kecewa. Indira memalingkan wajahnya.

“Kenapa, Va? Kamu takut masuk ‘Neraka’?” sindir Indira agak sinis.

“Kamu nggak bakalan ngerti.”

“Makanya jelasin, dong!” balas Indira sengit.

“Kamu nggak bakalan ngerti. Ini lebih rumit dari yang kamu kira. Nggak semudah itu. Keluarga, lapisan masyarakat, norma adat, kita hidup dalam itu semua. Bisa apa kita?” Nada bicara Ava ikut meninggi. “Kalau sekarang pertanyaan itu aku balikin. Dira mau nyakitin Ajik?”

Bisu kembali membungkus mereka berdua. Desau angin terdengar resah menari di antara rumpun-rumpun padi. Jangkerik dan katak pun seolah enggan menimpali.

“Kenapa ya ‘Tuhan’ membuat aturan yang bikin kita jadi seperti ini…,” lirih Indira berkata, memepetkan tubuhnya ke hangat tubuh Ava. Embun jatuh di tajuk-tajuk padi yang merimbun di hadapan mereka, mengiringi sebuah cerita yang mulai bergulir….

= = = = = = = = = = = = = = =​

Adalah Sang Smara, Sang Dewa Cinta, yang dibakar menjadi abu oleh mataketiga Hyang Shiwa karena mengusik meditasi Sang Mahadewa. “Meski Sang Smara sudah tak mempunya raga, dia akan tetap hidup. Hidup dalam raga mahluk dunia,” berkata Sang Shiwa. Maka, disebarkalah abu Dewa Smara ke Marcapada, dunia fana.

Didorong oleh rasa cintanya, Dewi Ratih, Sang Dewi Asmara ikut menyusul suaminya ke dunia. Smara hidup tanpa wujud dalam hati laki-laki, sementara Ratih bersemayam dalam hati perempuan. Renjana, rasa rindu di hati manusia hadir oleh peran mereka. Mereka yang selalu terpisah dan selalu ingin untuk bersatu, walau kesempatan itu tidak mudah. Terjal dan berbatu…

To Be Continued…

Daftar Part

Cerita Terpopuler