. Nirwana Part 13 | Kisah Malam

Nirwana Part 13

0
201

Nirwana Part 13

On The Night Like This

Apa istimewanya seorang mas-mas brewokan bernama Mustava Ibrahim? batin Indira berusaha memungkiri. Dewa dan mantan-mantannya yang lain jauh lebih tampan daripada pemuda itu!

7 hari sudah berlalu, tapi Indira terus mencoba memahami teka-teki di hatinya sendiri, pun demikian hati wanita memang sulit dimengerti. Tidak hanya bagi laki-laki, tapi juga si wanita itu sendiri. Kehadiran Ava dalam hidupnya benar-benar mengubah tone hidup-nya menjadi lebih berwarna. Berwarna seperti pelangi! Berwarna seperti lukisan! Marah, sedih, benci, bahagia, bercampur seperti palet-palet warna cat minyak yang dibaurkan ke dalam sanubarinya!

Indira tertawa mengingat bagaimana ia pertama berjumpa Ava di air terjun, betapa tengik dan menyebalkannya anak itu! Huh! Tapi juga… remaja itu tersipu sendiri hingga pipinya perlahan bersemu.

Dalam keheningan malam, Benak Indira kembali mengenang. Bagaimana saat Ava membelanya di Pub minggu lalu. Bagaimana saat Ava menampung isak tangisnya di taksi. Bagaimana hangat punggung Ava. Bagaimana saat ia berboncengan di jalan yang membelah sawah dengan Ava. Semuanya begitu sederhana, namun dari kesederhanaan itu, semua jadi begitu… Indah?

“Aku tahu aku ganteng, tapi nggak usah sampe sebegitunya kali.” Tahu-tahu saja sang pemuda tengik sudah berjongkok di depan matanya.

Gelagapan, Indira segera mencubit Ava keras-keras hanya agar gengsinya tidak jatuh di hadapan titisan wiro sableng itu.

“Geer banget sih jadi orang! Siapa juga yang mikirin kamu!” Delik Indira bengis, tapi Ava tahu wajah bersemu kemerahan sang gadis menunjukkan fakta yang berkebalikan dengan ucapan di bibirnya.

“Lagian nyebelin banget, nongol nggak bilang-bilang. Kalau mau ngerecokin jangan sekarang! Indira lagi belajar! UN udah deket!”

“Belajar apa ngelamun?”

Buku paket melayang ke wajah Ava.

“Pergi sana!”

“Eng-enggak….”

“Apa? Kalo ada perlu, buruan ngomong!”

“A-anu… aku…”

Indira mengernyit, karena saat ini Ava justru menggaruk-garuk rambut gondrongnya. Tak butuh ilmu penerawangan batin untuk tahu bahwa pemuda itu juga dihinggapi rasa grogi yang sama.

“Indira… mau nggak kamu…”

Indira terpaksa menahan senyum, ekspresi bodoh Ava ketika mengajaknya lari pagi benar-benar membuat sudut-sudut bibirnya sudah ingin tertarik ke atas. Tapi gengsinya tidak boleh luntur begitu saja. Huft! Indira menggembungkan pipi, memasang ekspresi judesnya yang selalu.

“Jadi…” Ava mengerjap was-was.

“Jam 6 pagi. Jangan telat,” pungkas Indira, mati-matian menahan senyum lebar yang tak sabar ingin membersit!

Satu malam berselang, dua orang itu kini sudah saling berkejaran riang di antara sawah yang menguning. Indira tertawa-tawa tak mau disusul Ava, sementara padi di sekeliling mereka merekah seperti hamparan beludru yang membentang sejauh mata memandang. Sampai di ujung, nafas keduanya sudah terengah-enggah. Indira tersenyum cerah, menyeka keringat yang mengilat di rona-rona wajahnya.

Ava tidak mampu untuk tidak terkesima. Sinar matahari yang mengintip dari balik cakrawala memberikan latar belakang menakjubkan bagi sang bidadari.

Kan kujalin lagu
bingkisan kalbuku
bagi insan dunia
yang mengagungkan cinta…

Betapa nikmatnya,
dicumbu asmara…
Bagai embun pagi
Yang menyentuh rerumputan…​

Mereka berjalan beriringan, berpapasan dengan beberapa petani yang menyapa ramah.

“Minggu lalu… aku udah keterlaluan…. Maaf, ya…”

“Hehe.. nyante aja lagi, aku aja sudah lupa,” jawab Ava sambil tersenyum.

Indira ikut tersenyum, digandengnya tangan Ava.

Sebentuk tangan mulus itu menimbulkan debaran di jantung Ava, apalagi di tengah pemandangan indah seperti ini. Terbit matahari memendarkan sinar indah di wajah Indira yang tersenyum-senyum bahagia. Udara dingin merambati udara, namun dibuat sirna oleh rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Ava yang digenggam Indira. Hangat. Meriap-riap di dada keduanya.

“Duh, grogi nih!” kata Indira sambil memalingkan wajahnya yang mulai tersipu.

“Grogi? Sama, dong… hehehe…”

“Ih, emang kamu grogi apaan, Ava?”

“Lah, emang kamu grogi apa?”

Mereka bertatapan dengan awkward-nya, sampai akhirnya Indira paham apa yang dipikirkan Ava.

“Idiiih! Ava ge-eeerrrr!”

Ava mengekeh salah tingkah. Lagi-lagi ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“E-emang kamu grogi kenapa?”

“Grogi yang buat besooook, tauuuk!”

“Lho, emang besok ada apa?”

“Hah?! Emangnya Ajik belum bilang?”

Ava menggeleng.

“Huh, nyesel ngomong!” Indira langsung cemberut.

“Serius nih, besok ada apa memangnya?”

“Nggak usah! Nggak jadi, deh!”

“Yeeee, ngomong nggak jadi.”

“Biarin! Wek!” Indira menjulurkan lidahnya.

“Huu…” Ava meyenggol-nyenggol badan Indira sambil bergandengan, dan segera dibalas Indira dengan terkikik-kikik. Akhirnya mereka saling bersenggolan sampai mereka
tertawa-tawa berdua di sepanjang jalan tanah itu.

Beberapa wisatawan melintas menaiki sepeda gunung di samping mereka. Indira mempercepat langkahnya, mensejajari telinga Ava. “Besok itu…” bisik Indira.
Dan yang dikatakan berikutnya sungguh membuat jantung Ava seolah berhenti.

“Aku tahu apa yang kamu bayangin.” Indira mengerling genit. “Tapi besok bakal lebih dari yang ada di pikiranmu,” pungkas sang gadis sambil tersenyum penuh misteri, berlari meninggalkan Ava dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.

Matahari menyembul dari balik kabut pagi, dan Ava tidak sabar menunggu kelanjutan kisah hidupnya esok hari.

Bersambung

Daftar Part