. Nafsu Citra Part 15 | Kisah Malam

Nafsu Citra Part 15

0
245

Nafsu Citra Part 15

Side Story 2 | Anissa si Gadis Mungil

“Yuk Papah saayaaang… Buruan masukin kontol besarmu ke bo’olku…” Pinta Anissa Rumina (22) kepada suami tercintanya. “Udah gatel banget nih bo’olkuuuu…. Aku udah nggak tahan pengen disodok-sodok…”
“Yaaah Mamah mah kebiasaan banget sih…. Bentaran lagi dooong, jangan ke bo’ol mulu aaah… ” Tolak Seto Maryadi (24)
“Kenapa sih emangnya Paah….?”
“Kalo aku maen di bo’ol kamu….Kontolku cepet moncrotnya Maaahh…” Jelas Seto, “Khan aku pengen ngentotin kamu lam-lama Maaah….”
“Laah… Kontol Papah kalo lemes khan masih bisa ngaceng lagi…Iya khann…?”
“Hmmmm… Iya juga sih….”
“Lha yaudah…. Ayo gih… Buruan masukin kontolmu ke boolku…” Pinta Anissa sambil menunjukkan muka manyun andalannya.
“Hhhhh… ” Jawab Sego sambil menghela nafas panjang. “Udahlah…. Suka-suka kamu aja mah…” ucap lelaki kurus itu sambil berdiam diri, membiarkan penisnya tertancap erat didalam vagina Anissa. Memang semenjak awal pernikahan mereka, Seto merasa susah sekali untuk menolak permintaan istrinya yang manja itu. Jikapun ia berhasil menolak, pasti Anissa bakal manyun lama.

“Hihihi… Gitu dong saaayaaang…. Dijamin enak deh… Hihihi…. ” Ucap Anissa yang lalu mendorong tubuh Seto menjauh guna melepas tusukan penis besar suaminya dari vaginanya.

PLOP

“Uuuhhh… ” Lenguh Anissa sambil merem melek, “Aku paling suka Pah sensasi kontolmu ketika tercabut dari memekku… Hihihi…”. Kata Anissa, yang kemudian duduk dipaha suaminy, “Enaknya kontolmu… Selalu bisa bikin aku merinding Pahh…. Hihihi….”
“Merinding…? Emang aku setan….?”
“Hihihi… Iya…. Setan mesum….” Tawa Anissa ,”Eh Pah… Kayaknya kontolmu makin besar ya…?” Tanya Anissa yang kemudian menempelkan batang penis suaminya didepan perutnya, mengukur setinggi apa penis besar itu ke tubuh mungilnya.

“Hmmm… Masa sih…? Aku nggak pernah merhatiin….”
“Iya loh….. Nih lihat…. Ujungnya aja sampe melewati puserku…” Jelas Anissa, ” Berarti kalo kontolmu nyodok memekku… Bisa tembus sampe ke lambungku kali ya….?”
“Enggak…. Nembus sampe ke mulut mungilmu….”
“Hihihi… Apaan sih….?” Tawa Anissa sambil mengurut-urut batang kebanggaan suaminya itu, “Udah ah… Mending sekarang kamu tiduran aja yaaa… Telentang… Biar aku sekarang yang menggoyang kontol jumbomu ini… Hihihi…..”

Tanpa basa-basi lagi jemari kecil Anissa segera dan menuntun penis besar suaminya itu ke lubang anusnya. Dengan perlahan, wanita mungil itu mulai menurunkan pantatnya dan menduduki penis Seto.

SLEEEEEPPPP

“Huuuooohhh… Sayaaaannnng… Pelan-pelan aaahhh… Bisa patah nanti batang kontolku…”Pekik Seto keras-keras ketika Anissa menurunkan pantat bulatnya terlalu cepat. Membuat penis kebanggaannya itu meliuk-liuk bengkok karena kesulitan menembus sempitnya liang anal istrinya.
“Habisan… Kontolmu gedhe banget sih sayang… Jadi susah masuknya…Hihihi…” Kata Anissa yang lalu melepas tusukan penis Seto dari pantatnya, lalu meludahi penis suaminya hingga licin basah, “Juuh Juuhh…Juuuhhh…. Biar gampang masuk Pah.. .. Hihihi… Juhh….”

Lagi-lagi, Anissa itu mencoba menjejalkan penis Seto kedalam liang anusnya. Berulangkali, wanita mungil itu mencoba membiasakan dirinya menghadapi besarnya penis suaminya. Walau ia sudah sering melakukan seks anal bersama Seto, tetap saja, lubang pantat semoknya itu selalu mengalami kesulitan setiap akan dimasuki penis besar suaminya.
“Uuuhhh…Uuhhh… Turunin teruuuss Mmaaahh… ” Ucap Seto keenakan karena gerakan pantat Anissa..

Hingga akhirnya, Pantat semok Anissa mulai bisa beradaptasi dengan penis jumbo suaminya.

“Uuuuhhhh… Kontolmu enak banget paaah… Boolku berasa penuh bangeeett..”
“Ooooouuuhhh Maaah…. Memekmu juga legiit… ” Kata Seto sambil merem melek menikmati rasa hangat yang menyelubungi sekujur batang penisnya. Terlebih ketika lubang anus Anissa mulai mengempot batang kemaluannya, dan semakin membuat Seto kesulitan menahan gelombang birahinya. “Enak banget Maaahh….”

“Hihihi… Makasih sayang….” Ucap Anissa, “Kamu memang suami idaman setiap wanita…”
“Halah…. Gombaaal….”
“Beneran kali Saaayaaang…. Kontolmu memang hebat…” Puji Anissa, ” Udah ya Paaah…. Sekarang aku goyangin pantatku yaaah… Biar kamu bisa cepet moncrot… Hihihi…”
“Ooouuhhh… Maaah… Mantaap…. ” Seru Seto ketika merasa batang penisnya merasakan sesuatu yang sangat rapat, lembut, hangat dan basah pada liang anus istrinya mulai mengurut-urut penisnya. “Boolmu emang juaraaaa Maah…. Bikin kontolku selalu aja senut-senut keenakan…”

“Kamu bisa aja Pah…Khan kamu juga udah sering aku kasih liang anusku buat kamu entotin… Hihihi..”
“Tapi kali ini beneran Maah.. Rasanya beda … Sumpah… Kali ini boolmu lebih berasa empotannya… Enaak bingiits … ” Tambah Seto sambil terus melenguh-lenguh keenakan ketika istri tercintanya itu menggesekkan seluruh pantat semoknya kebawah sehingga seluruh batang kemaluan Seto terhimpit dan tertanam masuk kedasar dubur Anissa.

“Hihihihi… Nikmatin aja Paaah.. Nikmatin goyangan pantatku istrimu ini… ” seru Anissa lirih.

Tak lama kemudian, wanita mungil itu mulai menaik turunkan pantatnya, keluar masuk menggasak batang penis suaminya yang tertancap erat di liang analnya itu.
“Iiiyyaaa… Terus gitu Maaah… Goyangin pantat bulatmu sayaaang…. ” Ucap Seto sambil menggigil keenakan karena kepala dan batang penisnya seolah dijepit dan diurut oleh sebuah lubang yang amat ketat.
“Ssshhh… Ehhmm… Ngentoooott… Enak bangeeet Maaahh… Enaaakk….” Racau Seto setiap kali Anissa menggerakkan pantatnya. “Terus Maah… Entot kontolku teruuuss… Yang kenceng Maahh….”

Merasa ikut terhanyut dalam rasa enak, Anissa juga sepertinya tak mampu mengontrol dirinya. Wanita semok itu lalu mempercepat goyangan pantatnya, memilin dan meremas penis besar suaminya itu dengan dinding lembut anusnya.

Hingga pada akhirnya, Seto benar-benar tak mampu lagi menahan gelombang orgasmenya yang telah tiba dengan cepat.

“Ehhh…. Maaah.. Aku nggak kuat lagi Maah…. Shhh… Oouuuhh… ” Lenguh Seto
“Nggak kuat Paahh…?”
“Iya sayaaang… aku mau moncrooot niiihhh…. Ngeeentooootttt….”

CROT CROOT CROOOOOT

Semburan benih-benih panas Seto seketika meledak hebat dan menyembur-nyembur di dalam liang dubur Anissa. Saking banyaknya sperma itu sampai meluap keluar dan mengotori pangkal kemaluan Anissa.

“Enak ya Paaah…?” Tanya Anissa tersenyum sambil menatap suaminya yang sedang terengah-engah keenakan. “Sampe merem-melek gitu.. Hihihihi…”
“Huenak banget saaayaaang….” Jawab Seto
“Masih keras khan kontolnya…?”
“Hehehe.. MASIH dooong…. Kenapa….? Mau lanjut….?”
“Hihihi… Pastinya Paaahhh… ” Canda Anissa manja sambil mencabut penis Seto dari anusnya, lalu dengan santai, wanita mungil itu melesakkan batang penis itu kedalam vaginanya.

SLEEEEPPP

“Sekarang giliran aku ya Paaah… Papah kudu puasin aku…. Aku juga pengen keluar…” kata Anissa yang tanpa menunggu jawaban suaminya, langsung menggoyang pinggulnya keras-keras.
“Hmmmpppffff.. Pelan-pelan sayaaang…. Masih ngilu niiihhh… Ssshhh….”
“Ngilu-ngilu enak ya Paah… Hihihi….” Canda Anissa yang tak mengacuhkan Seto.
“Ampuuunnn…. Pelan-pelan saaayaaaannggg… Huuuoooohhh…..”
“Hihihi…. Biarin…. Anggep aja ini hukuman buat kontolmu yang tadi nggak langsung nyodomi boolku…. Hihihi….

“Ampun Maaahhh…. Ngiluu….”
“Huuu…. Ngilu-ngilu tipuuu….” Celetuk Anissa genit, ” Kalo ngilu kenapa meringis-meringis keenakan gitu Pah…?”
“Hehehe… Abisan lucu melihat wajah cantik istriku kalo lagi sange…. ”
“Kamu emang nggak pernah ada matinya pah… Apalagi kontolmu…Ngaceng terrruusss… Hihihi…”
“Ya kalo mati… Ntar nggak ada yang ngaduk memek istri aku lagi dong…”
“Hihihi… Iya ya… Udah ah…Ayo pah… Aku mau keluaar nihh….Buruan goyangin pinggulmu juga… Biar makin enaaak… ” Pinta Anissa, “Nanti setelah aku keluar… Kamu harus entotin bo’ol aku lagi loh yaaa…”

“Bo’ol mulu Mah… Ntar boolnya ndower loh kalo terus-terusan aku entotin..” Kata Seto yang kemudian bangkit dari tidur telentangnya, “Ayo mah… Sandaran di tepi kepala dipan… Aku mau ngentotin memekmu dari belakang…”
“Hihihi… Pengen doggy ya sayang…?”
“Yukkk… Aku udah gatel nih… Pengen ngentotin istri lonteku kenceng-kenceng…”
“Hihihi… Kalo aku lonte kamu apanya dong…?”
“Aku germonya…. Hahahaha…” Kata Seto sambil memulai menyodokkan penis besarnya kevagina Anissa kuat-kuat. Membuat kepala dipan tempat mereka bercinta bergerak-gerak menabrak dinding

DUK DUK DUK DUK

Memang, wanita mungil perpantat semok itu lebih menyukai anal setiap kali ia bersetubuh dengan suaminya yang memiliki penis super besar itu. Pagi, siang, malam, tak henti-hentinya Anissa meminta suaminya untuk terus menyetubuhinya. Terlebih, Seto juga memiliki stamina yang sangat kuat, sehingga kapanpun istrinya minta untuk disetubuhi, ia sanggup meladeninya.

“Terus Paaaah…. Teruuussss… ” Desah Anissa ” Teruuusss…Entotin aku saayaaanggg… Entotin istri lontemu ini….” Lenguh Anissa tak henti-hentinya. “Aku mau keluar paaaah… Aku maaau keluaarrr..”

CREET CREET CREEETTT…

Pagi itu, entah berapa kali Anissa rumina mendapatkan orgasmenya. Mengejat-kejat keenakan sambil melenguh panjang. “Paaahh…. Enaaaak baaaangeeeet memekkuuu Paaaahhh….” Lenguh Anissa, “Rasanya seperti senut-senut kesemutan…. Tapi enaaaak baaangeeettt…”
“Hehehe… Puas-puasin deh sayang… Puas-puasin….”
“Abis gini entot boolku lagi ya paaaahh….”
“Hehehee…. Ga ada puasnya mah….Dasar tikus hutan…”
“Biarin aja… Tikus hutan khan lucu…”

Tikus hutan. Sebutan yang selalu Seto panggil pada Anissa setiap kali mereka bersetubuh. Tikus hutan. adalah sejenis hewan pengerat yang ketika becinta, tak pernah merasa puas..

Tikus hutan, sejenak, ingatan Anissa kembali ke 9 tahun lalu, kepada orang yang pertama kalinya memberikan julukan tikus hutan padanya. Dan dari sebutan itu,Anissa juga teringat akan petualangan cinta birahinya yang sudah terjadi semenjak ia masih berumur 13 tahun. Masih duduk di bangku smp, masih berpakaian putih biru, bersama paman kandung tercintanya, Lik Leman.

Anissa, yang merupakan anak bontot dari 2 bersaudara. Kakaknya, Aminah Rumini yang berusia 15 sudah kelas 1 SMA. Sejak kecil Anissa adalah anak yang cukup dimanja oleh kedua orang tuanya. Pak Salim (32) dalah seorang pengusaha perkebunan yang cukup ternama dan Lestari (30) adalah seorang Ibu rumah tanga yang sekaligus merangkap sebagai pengusaha toko kelontong didepan rumah.

“Pagi Lik Leman…. “Sapa Anissa yang menenteng sepatu kemudian duduk di dekat bale-bale. “Serius amat baca korannya…?” Tambah gadis mungil itu sambil memakai sepatu berwarna putih kesukaannya.
“Wwuidiiihhh… Ada sayangnya aku… ” Kata Lik Leman dengan nada sok unyu, “Makin ayu aja kamu Chaaa…. Segeeerrr… ” Tambahnya ladi sambil becanda. ” Mau berangkat sekolah yaaa…?” .

“Iya Lik… ” Kata Anissa singkat, “Agak kesiangan nih…” Katanya lagi sambil mengikat tali sepatunya.
“Ehhhh… Kamu mau Lik anterin …?”
“Ah nggak usah Lik… Icha berangkat bareng Menik kok.. Bentar lagi juga dia bakal datang…

KLONENG KLONENG KLONENG.
Suara lonceng sapi terdengar nyaring dari pintu belakang.

“Waah… Panjang umur tuh orang… ” Kata Anissa yang buru-buru membukakan pintu belakang rumahnya.
“Udah siap berangkat Cha…?” Tanya Menik.
“Bentar… masih ngiket tali sepatu…” Jawab Anissa, “Masuk aja dulu sini…”
“Oke…” Kata Menik singkat ambil melangkahkan kakinya masuk ke halaman belakang, “Eh… Ada Lik Leman Cha…?”
“Iya… Emang kenapa…?”
“Hai Liiikk Leeemaaan… ” Sapa Menik genit sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Lik Leman.

“Eh Menik…. Mau berangkat sekolah juga ya…?” Balas Paman Anissa sopan, “Duduk dulu dulu sini… Kita ngobrol-ngobrol bentar sembari nunggu Anissa siap-siap….. ”
“Heeeh…. Udah-udah… Ga usah kesana… Aku udah siap kok…”
“Yaaah… Chaaa… Bentaran dikit napa… Aku pengen ngobrol ama Likmuu…”
“Udah ahh… Kapan-kapan aja ngobrolnya… Kita udah makin telat nih…
“Chaa… Kalo mau… Kita naek motor aja bertiga… Pasti lebih cepet sampe sekolahnya…. Yuk…” Kata Lik Leman kembali menawarkan.
“Hihihi… Iya Lik… Bener itu… Gimana Cha…? Mau ya dianter Lik Leman…?” Tanya Menik histeris.

“Nggak ahh.. Icha kayaknya naek angkot aja Lik… Lebih seru… Hihihi…” Tolak Anissa halus sambil mendorong tubuh Menik yang hendak masuk kedalam rumahnya.
“Yaaah… Chaaa… Bentar aaahh… Aku khan mau ngobrol-ngobrol bentar ama Likmu…”
“Udah-udah… Nanti aja ya… Daaah Liikkkk..
“Yaudah deh kalo gitu…” kata Lik Leman sambil melipat korannya dan mempersilakan keponakannya pergi sekolah.

Namun begitu Anissa melangkah keluar rumah, tiba-tiba Paman Anissa itu memanggilnya keras. “Cha… Icha…. Tunggu sebentar….”
“Kenapa Lik…?”
“Ini… Buat kamu….” Kata Lik Leman sambil merogoh sesuatu dari kantong celana kolornya “.. Nih… Buat beli-beli es…” Tambahnya lagi sambil memasukkan tangannya kedalam saku baju seragam Anissa.
“Waaahh… Makasih ya Lik… Aku berangkat dulu…. Muuah….” Kata Anissa sambil mengecup kedua pipi pamannya lembut.

Leman (27), biasa dipanggil Lik Leman, adalah adik kandung ibu Anissa, single dan tinggal bareng bersama keluarga Anissa. Lebih tepatnya Lik Leman tinggal dirumah tambahan yang ada bagian belakang rumah Anissa. Kerja Lik Leman hanya sebagai mandor buruh tani, yang sering jual beli hasil panen dari para petani. Karena ikut tinggal dirumah Anissa, Lik Leman seringkali memberikan laba penjualan panennya kepada ibu Anissa untuk dijadikan tambahan modal jualan. Dan sebagian lagi ia gunakan untuk kebutuhan hidupnya setiap bulan.. Singkatnya, walau bukan keluarga inti, Lik Leman sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh keluarga Anissa.

Lik Leman bekerja sebagai mandor buruh tani. Karena pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan hasil bumi, membuat tubuhnya sedikit terbentuk. Dadanya bidang, lengannya berisi, perutnya ramping dan ototnya kekar, mirip seperti Ayah Anisssa. Dengan tinggi badan sekitar 160 cm dan kulit putih bersih, tak heran jika Menik tergila-gila dengan sosok Paman Anisa itu.

“Ohhh.. Ichaaa…. Senyum Likmu memang menawan bangeeet…” Ucap Menik yang tak henti-hentinya tersenyum lebar, “Cakep banget Likmu Chaa… Pasti kamu sering mbayangin Likmu ya…?” Tambahnya lagi.
“Mbayangin gimana…?”
“Ya mbayangin lah… Tangannya yang kekar, dadanya yang bidang… Pasti enak tuh dipeluk-peluk…”
“Iiiidiiiiihhh…. Meniiikkk… Apaan sih… Biasa aja kaliii… ”
“Aaaahhh… Nggak kenapa-napa kali Chaa… Ngaku aja …. Pasti kamu sering khan nghayalin Likmu kaya aku tadi… Ya khaaann….? ” Tanya Menik menyudutkan,
“Iiiihhh… Enggak….Kamu aja tuh yang mesum… Kebanyakan baca cerita-cerita stensilan sih… Hihihi..” Jawab Anissa
“Yeeee…Kaya kamu nggak pernah pinjem aja…. ”

“Bedalah…. Kalo aku khan minjemnya cuman buat selingan aja… Sedang kamu… Pasti buat bahan ngusel-usel memekmu… Hihihi….”
“Hehehe… Abisan enak sih… ” Jawab menik malu-malu, “Apalagi kalo ngusel-uselnya dibantuin ama Lik Lemanmu… Pasti makin uuuuhhhhh…. Ennaaakkk… Hehehehe…”
“Dasar cewe mesum…. Hihihi… ” Kata Anissa sambil tertawa lebar.

“Eh.. Eh… Cha… Jangan marah yaaa….” Ucap Menik dengan nada misterius.
“Hmmm…Marah kenapa Nik…?”
“Janji dulu jangan marah…”
“Iyaiya… Aku janji… Emang ada apa sih…?”
“Hmmmm…. Tentang Lik lemanmu itu…..”
“Emangnya kenapa ama Lik Leman…?”
“Eemmm…. Lik Lemanmu itu….” Tanya Menik sengaja memutuskan kalimatnya, “Lik Lemanmu itu…. Nggak pernah pakai celana dalam ya…?”

Mendadak, jantung Anissa seperti berhenti berdetak. Ia menatap dalam-dalam mata Menik sambil mencoba mencerna pertanyaan teman dekatnya itu di dalam hati. “Lik Leman nggak pernah pake celana dalam…? Kok bisa..? ”

“Nggak pake celana dalem gimana Nik…?” Tanya Anissa penasaran, ” Emang kamu tahu darimana…?”
“Yaelah…. Anissa… Kita udah temenan berapa lama sih…?” Balas Menik dengan pertanyaan.
“Dari kecil sih…”
“Trus sejak kapan aku udah sering maen kerumahmu… ?” Tanyanya lagi, “Daaaaan tiap pagi juga kamu berangkat bareng siapa…? Jadi… jangan tanyain aku tahu darimana…” Jawabnya ketus, “Karena aku udah sering kali melihat hal itu….”

“Lihat Lik Leman nggak pake celana dalem….?” Tanya Anissa dengan nada penasaran.

Sambil tersenyum, Menik hanya mengangguk angguk. “Kamu tahu nggak…?”
“Kenapa…?”
“Kontolnya besar juga loh Chaa… Hihihi…”
“Hush… Apaan sih…” Jawab Anissa kaget, “Kaya kamu pernah ngelihat kontol beneran aja…”
“Hihihi… Pernah dong… Aku bahkan pernah megang kontol asli….”
“Halaaahh… Kalo kontol Arman mah nggak masuk hitungan kali Nik… “Ejek Anissa, “Dia khan adikmu…”
“Bukan bukan… Kontol asli Chaaaa… Kontol lelaki seusia kita…”
“Haaa… Emang kontol siapa yang pernah kamu pegang Nik….?” Tanya Anissa dengan nada cukup keras.
“Sssssttt.. jangan keras-keras tanyanya cumii….”
“Hihihi Maaf… ” Jawab Anissa sambil nyengir kuda, “Emang kontol siapa yang pernah kamu pegang…?”

Segera saja, Menik mengeluarkan hapenya dari saku rok seragamnya. “Hihihi… Kontol Mas Japri…”
“Haaaah…? Dia khan cowo yan sering maen ama mas Ardhimu itu khan…?”
“Hehehehe… Yup… Betul sekali…”Sahut Menik sambil tersenyum senyum sendiri. “Tapi emang sih… Kontol Likmu kelihatannya jauh lebih besar dari kontol Mas Japri…”
“Tahunya…?” Tanya Anissa penasaran, ” Emang kamu pernah liat dari deket…?”

“Hehehe… ” Kekeh Menik menggoda, “Pernah dong… Malahan aku punya photonya…”

Segera saja Menik memperlihatkan beberapa foto selangkangan Lik Leman pada Anissa.
“Astaga….” Jerit Anissa tak percaya.
“Tuh liat… Gedhe khaaan…? Ini kontol terbesar yang pernah aku liat seumur hidupku…” Jelas Menik sambil memperlihatkan photo-photo di hapenya dengan semangat. ” Panjang banget khan Cha…? Lihat… Kepala kontolnya aja sampe sering keluar-keluar dari lubang celana kolornya…”
“Wuihh….”
“Kalo ditusuk ama kontol segedhe itu… Pasti rasanya…. Uuuuhhhh….”
“Masa itu photo kontol Likku Nik…? Bohong ahh…”
“Niiiihhh… Lihat aja kalo nggak percaya….” Kata Menik sambil menyodorkan hapenya.

Buru-buru, Anissa menyambar hape Menik dan mengamatinya lebih dekat.
“Benar… Ini rumah dan pekarangan belakangnya…. Ini bale-bale tempat Lik Leman sering duduk… Ini photo Lik Leman… Dan ini… Benar-benar photo batang kelamin Lik Leman….” Kaget Anissa setengah tak percaya. “Astaga Nik… ”
“Hihihi… Benar khaaan…. Aku nggak bohong tauk…”

Mendadak, muka Anissa memerah. Mendengar apa yang dikatakan Menik, membuat dirinya merasa malu sekaligus penasaran. Malu karena teman dekatnya memiliki photo-photo mesum pamannya, dan penasaran karena seumur hidupnya Anissa belum pernah melihat kebiasaan pamannya ketika berpakaian dirumah.

“Mengapa aku tak pernah melihat kontol Lik Leman ya….?” Tanya Anissa dalam hati. “Kok malah Menik yang mengetahui semua hal mesum ini…?” Tambah Anissa menyadari semua ketertinggalannya.

“Eeeh…Eh Nik…. Sekolah kita kelewatan…”
“Waduh… Pak Supir…. Pak… Kiri paakk… Kiri….”

***

TENGTENGTENG
Suara bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Begitu nyaring, begitu merdu.

Hari ini, Anissa sama sekali tak mampu mencerna segala materi pelajaran yang diberi oleh guru-gurunya. Pikirannya melayang tak tentu arah. Memikirkan tentang apa yang ia dan Menik obrolkan tadi pagi.

“Menik harus menceritakan secara detail tentang photo-photo tadi… ” Kata Anissa sambil mencangklong tas sekolahnya, dan buru-buru keluar kelas. Dengan langkah cepat, gadis mungil itu segera bergegas ke gerbang sekolah, lokasi yang biasanya dijadikan tempat berkumpul sebelum ia dan Menik pulang.
“Tuh dia… ” Kata Anisa dalam hati setelah celingukan mencari dimana sohibnya berada.
“Niikk… Meniiiikkkk…” Panggil Anissa sambil melambaikan tangannya.

“Heeeeiii… Chaaa….” Sahut Menik sambil berjalan mendekat. “Tumben udah sampe duluan…. Biasanya aku yang nungguin.. ”
“Menik… Kemana aja sih tadi jam istirahat ga keliatan….? Disamperin di kelas nggak ada… Dicari dikantin juga nggak nemu… Disms ga dibales….?” Berondong Anissa dengan berbagai pertanyaan.
“Ehh… Tadi ada kok… Cuman….”
“Cuman apa….?”
“Cumaaan… Tadi aku lagi ada perlu dengan mas Japri… Trus hapeku lowbat…Hehehehe….”
“Huuuu… Yaudah yuk pulang… Ntar angkotnya keburu penuh loh…” Ajak Anissa pulang.

“Hmmm… Chaa… Kayanya kamu pulang sendirian deh… Gapopo yaa…?”
“Emangnya kenapa Nik….? Kamu ada janji….?”
“Eemmm…. Ini… Aku ada perlu ama Mas Japri….Dia ngajak pulang bareng…”
“Ooohhh… Gitu… Iyadeh gapopo…”

Tak lama, Mas Japri datang menghampiri. Dengan motor 2 tak kebanggaannya ia lalu menyerahkan helm untuk Menik pakai.
“Nik… Yuk….” Ajak Mas Japri.
“Eehh… Yaudah ya Chaaa.. Aku jalan dulu… Keburu ujan nih…”
“Iya deh Nik… Ati-ati di jalan…”

Dengan wajah lesu, Anissa segera beranjak keluar halaman sekolahnya, menuju halte yang tak jauh dari seolah guna mencegat angkot.

Dan benar saja, tak lama kemudian, hujan mulai turun, membasahi bumi. Termasuk Anissa yang sedang menunggu angkot. Buru-buru gadis mungil itu mencari pohon guna berlindung, walau ia tahu jika hal itu tak banyak menolong.

Biarpun hujan turun tak terlalu deras, namun tetap saja, mampu membasahi baju seragam putih biru Anissa sekuyup-kuyupnya.

***

“Loooh… Chaa… ? Kok bajumu basah gitu nduk…?” Tanya Ibu Anissa begitu melihat putri bungsunya masuk halaman rumah.
“Tadi disekolah ujan Bu… Trus aku lupa bawa payung…”
“Wealaaah…. Yaudah sana.. Buruan ganti baju trus makan ama istirahat… Makanannya udah ibu siapin di meja makan…”
“Iya Bu… Aku masuk dulu ya…”
“Eh iya Cha… Tolong nanti mintain uang recehan toko ama Likmu ya… Udah ditukerin apa belum… Uang recehan tokonya udah pada abis nih…” Pinta Ibu.
“Emang Lik Leman nggak kerja bu…?”
“Tadi sih Likmu bilang lagi meriang… Jadi ga berangkat ke koprasi…. Oh iya… Sekalian deh tolong kamu bawain makan siang buat Likmu juga yaaa…”
“Hmmm… Baik Buuu…”

Anissa segera masuk kerumah dan mengganti pakaiannya. Sebuah tanktop dan kolor pendek. Pakaian andalannya. Setelah itu, ia mengambil makanan dan meletakkan diatas nampan. Lalu ia pergi kekamar Lik Leman.

Kamar Lik Leman ada di bagian belakang rumah, didekat gudang sembako dan kamar mandi. Lik Leman memang sengaja memilih kamar di situ karena ia tak ingin mengganggu jika ingin keluar rumah. Dan lagi, di samping kamar Lik Leman, terdapat sebuah pintu belakang yang langsung tembus ke jalan raya.

Lewat pintu belakang itulah Anissa sering menggunakannya ketika akan berangkat sekolah.

“Liikk… Lik lemaan… ” Panggil Anissa, “Lik… Icha mau ambil uang receh…. ” Panggil Anissa lagi setibanya dihalaman kamar pamannya itu.

Hening. Tak ada jawaban,

“Lik…?” Panggil Anissa lagi yang langsung aja membuka pintu kamar pamannya dan melongokkan kepalanya kedalam.

Gelap dan pengap. Itulah kesan pertama ketika Anissa memasuki kamar pamannya. Mungkin karena pamannya sedang sakit, jadi ia sengaja membiarkan tirai beserta jendela kamarnya tertutup rapat.
“Likk…Lik Leman… ” Panggil Anissa sambil menyesuaikan matanya didalam keremangan kamar, “Liik… Kamu dimana Lik…?”

Setelah menyesuaikan diri, Anissa pun masuk kedalam kamar pamannya dan meletakkan nampan berisi makan siang di meja samping temoat tidurnya. Ternyata Lik Leman sedang tidur. Dari dengkurannya, Anissa dapat langsung mengetahui jika tidur paman tampannya begitu pulas.

“Lik…?” Panggil Anissa lirih. “Nyenyak sekali tidurnya. Sampai ngorok gitu…. ” Batin Anissa dalam hati sambil memperhatikan tubuh paman kesayangannya.

Mendadak, pikiran Anissa kembali percakapan tadi pagi bersama Menik.
“Lik Leman punya kontol besar…”

Sambil memicing-micingkan mata, Anissa mencoba untuk dapat memperhatikan sosok tubuh pamannya itu. Dalam tidurnya, Lik Leman hanya mengenakan singlet dan sarung.
“Kira-kira… Lik Leman pake celana dalam nggak ya..?” Tanya otak ngeres Anissa.

Sambil bergerak ke bawah tempat tidur, Anissa berusaha melihat ke arah selangkangan pamannya lebih dalam lagi. Melihat betisnya yang ramping, lututnya yang mengotak, pahanya yang gempal, dan…..

ASTAGA… Ternyata benar apa yang ditanyakan Menik… Lik Leman nggak pake celana dalam… ” Batin Anissa sambil mengamati sebuah tonjolan daging bulat yang terlihat mengintip dibalik kain sarung pamannya. “Itu pasti kepala kontol Lik Leman…” Tanya Anissa dalam hati sambil terus memperhatikan lebih dekat lagi kearah selangkangan pamannya. “Benar… Itu kepala kontolnya…”

Entah kenapa, seketika itu dada gadis muda itu berdebar begitu cepat. Memompa darah mudanya ke sekujur tubuh, membawa rasa hangat yang aneh ke seluruh pembuluh darah birahinya.

“Kepala kontol Lik Leman…. ” Batin Anissa, “Mmm…. Kira-kira… Gimana ya bentuk keseluruhan batang kontolnya….?” Tambah Anissa penasaran.

Walau Anissa sudah sering melihat penis lelaki dewasa di buku-buku stensilan, namun tetap saja, penis pamannya itu adalah penis pertama yang ia lihat seumur hidupnya. Perlahan-lahan, Anissa mendekat kearah pamannya tidur dan melihat lebih dekat lagi kearah juntaian batang kelamin itu.
“Wwwwoo… Menik… Kamu benar lagi…. Kontol Lik Leman besar sekali…” Girang Anissa.

Dengan dada berdebar-debar, Anissa semakin maju dan mendekatkan tubuhnya. Lalu, entah mendapat keberanian darimana, gadis cantik itu kemudian menyingkap bagian bawah kain sarung penutup aurat pamannya dengan perlahan.

“Oooohhh…” Jerit Anissa tertahan. Sambil mengucek-ucek matanya, gadis belia itu semakin menaikkan ujung bawah sarung Pamannya. “Tebal sekali batang kontolmu Lik…. ” Kata Anissa sambil terus mengamati penis pamannya sambil mendekat dan duduk di tepian kasur.

Buru-buru, Anissa segera mengeluarkan hape dari saku celana kolornya, lalu mencoba mengambil gambar penis pamannya.

CKRIK CKRIK CKRIK

Belasan photo tertangkap dan langsung tersimpan di hapenya. Semakin banyak photo yang ia ambil, semakin banyak pula rasa penasaran yang timbul dihatinya.

“Lik… Permisi yaaa…. Gara-gara tidurmu nggak rapi, aku jadi penasaran ama kontolmu nih…. ” Kata Anissa lirih sambil kembali menyingkap kain sarung pamannya hingga setinggi pusar

“Wuuoohh Liiik…. Itu kontol apa ulaaar…?” Kata Anissa yang pada akhirnya dapat melihat penis panmannya secara penuh “Aastaagaaa Liiikkk…. Panjang banget…”

CKRIK CKRIK CKRIK

Lagi-lagi, Anissa mengambil photo-photo penis pamannya dari segala arah.

Tiba-tiba muncul sebuah ide gila di otak mesum Anissa. “Gimana ya rasanya kontolmu Lik …?” Tanya gadis belia itu sambil lalu mengulurkan tangannya, mendekat kearah daging yang tumbuh diantara paha pamannya.

Pertama, Anissa menyentuh kepala penis Lik Leman dengan jari telunjuknya. “Hangat….”

Lalu, ditambah dengan jari jempol dan jari tengahnya, gadis manis itu mencoba mengangkat ujung penisnya, “Hhmmm…Berat…”

Dan yang terakhir, Anissa coba menggenggam batang penis pamannya dengan sebelah tangannya. “Wow… Berdenyut-denyut…” Desah Anissa lirih sambil terus membolak-balik penis pamannya dengan gerakan super pelan.

Tiba-tiba, entah karena merasa keenakan atau memang penis pamannya terlalu sensitif, paman Anissa lalu menggeliat dan menggerakkan tubuhnya. Dan setelah itu, penis Lik Leman lama-lama membesar dan memanjang dengan denyut dibatang penis yang semakin keras terasa.

“Loh loh loh… Kok kontolnya jadi begini… ??” Heran Anissa yang buru-buru meletakkan kembali penis pamannya itu pada posisinya semula.

“Aaneh… Kok itu kontol bisa jadi besar dan panjang gitu ya…?” Tanya Anissa heran, “Besok aku tanyain Menik… Kali aja dia tahu… ” Tambah gadis manis itu sambil meneruskan mengambil gambar penis pamannya.

CKRIK CKRIK CKRIK

“Hhmmm… Eeehhhh….. ” Lagi-lagi Paman Anissa menggeliatkan badannya, lalu,

DUG

Lik Leman menendang tubuh Anissa yang ada di ujung bawah kasur dengan tak sengaja

“Zzz…zzz.. Hmm… Ehh….eh. ” Lik Leman terbangun, ” Looh… Ada kamu toh Cha…??”
“Ehh…Ehh… Udah bangun Lik…??” Tanya Anissa sambil buru-buru memasukkan hapenya ke dalam kolornya lagi.
“Hoooaaahhhmmmm… Ono opo Chaaa..?” Tanya Lik Leman sambil menguap lebar.
“Eeehhhmmm… I… Ini Lik… ” Jawab Anissa agak kelagepan, karena kaget mendapati paman kesayangannya itu yang mendadak bangun. ” A… Aku bawain makan siang… Nih buat Lik…”
“Eeee.. Hoooooaaaaaaahhhmmmmm….. Makasih yaaa… ” Sahut Lik Leman sambil lagi-lagi menguap dan meregangkan tubuhnya.

“Eh iya Lik… Tadi ibu nanya duit recehan toko… Ada dimana ya…?”
“Ooowww.. Recehannya ada di lemari baju… ” Jawab paman Anissa sambil tiba-tiba ia menggaruk-garuk buah zakarnya dengan santai.

KRUK KRUK KRUK…

“Paman mungkin masih ngelindur… ” Pikir Anissa pendek, “Jadi ia tak sadar jika batang kontolnya bisa terlihat jelas olehku,
“Ada nggak Cha duit recehannya…?” Tanya Lik Leman yang masih terus menggaruk kantung zakarnya.

KRUK KRUK KRUK…

“Ini masih dicari Lik… ” Jawab Anissa yang terus berpura-pura mencari sambil tak henti-hentinya melirik kearah selangkangan pamannya.
“Yaudah… Kamu ambil aja sendiri yak… Lik masih lemes… Mau tidur dulu…”

“Chaaaaa….. Mana uang recehannya…” Tanya Ibu dengan suara super lantang, dari pintu dapur diseberang taman belakang.
“iya Buuu… Ini udah dapet kok… ” Jawab Anissa sambil bergegas mengambil dompet uang receh dari lemari pamannya, lalu melangkah keluar kamar.

“Likkk…makannya jangan lupa dimakan… Biar cepet sembuh…” Saran Anissa.

“Zzzz… ” Balas paman Anissa yang rupanya sudah tertidur kembali. Tertidur pulas dengan bawahan sarung yang masih tersingkap tinggi. Memamerkan batang penisnya ke keponakan tersayangnya.

Tiba-tiba, ide nakal muncul lagi di otak Anissa. Sambil mendekatkan diri, gadis manis itu lalu mencium Pamannya, “Icha pamit dulu ya Lik… ” Bisik Anissa di telinga Lik Leman, “Dan… Makasih ya Lik…. Buat pemandangan kontolnya…. Besar banget…”

***.

Bersambung,

Daftar Part

Cerita Terpopuler