. Misi Penghancuran Part 27 | Kisah Malam

Misi Penghancuran Part 27

0
298

Part 27 – Takdir

Aku benar dihadapkan dengan masalah baru yang lebih pelik.. Aku tak mungkin menolak ke enam wanita ini.. Hatiku yang lain mendukung untuk memilikinya mereka semua..

Tia, Hera, Nura dan Fina aku sudah mengenal mereka.. Aku paham luar dalam mereka saat ini.. Tapi Neti dan Henny aku masih meragukan mereka berdua .. Ntah apa itu yang jelas intuisiku memang selalu tepat .. Pasti ada alasan mengapa aku ragu pada keduanya..

Tapi aku memahami masalah Neti.. Sorot matanya seperti aku melihat mataku empat tahun yang lalu.. Aku bisa merasakan aura pembunuh darinya.. Mungkin keraguanku terhadap Neti hanya sekedar kecemasan, aku tak ingin neti sepertiku.. Aku tak ingin wajah yang nan cantik hilang karena dendam seperti ini.. Sedangkan Henny jelas aku harus waspada dia anak salah satu musuhku terbesarku..

 


Tia

Ku panggil Tia .. Yang sedang berbincang-bincang dengan Fina dan yang lain..

“Tia bisa ikut denganku sebentar” ucapku

“Baik tuan.. Apapun yang kau inginkan..” ucapnya meninggalkan para budakku yang lain..

Aku sengaja pergi ke Kamar kedua orang tuaku.. Disini akan Aman untuk kami berbincang-bincang hanya berdua

“Ada apa kenapa tuan memanggilku..” ucap tia Ragu-ragu..

“Aku akan memberikan mu sesuatu yang Spesial..” ucapku..

Tia yang bingung mulai mendekatiku.. Merebahkan kepala menyender di pundakku..

“Aku akan memberimu kebebasan.. Aku tak ingin menyiksamu lagi..” ucapku..

Sontak membuat Tia menatapku.. Dia kaget bukan main dengan ucapan tuannya..

“Apa kau tak membutuhkan ku lagi.. Apa aku tak patuh.. Apa aku kalah cantik dari yang lain..” ucapnya dengan suara parau menahan kesedihan..

“Kau salah.. Bukan itu maksudku.. Aku sangat membutuhkanmu disisiku.. Tapi aku takut tak bisa melindungi kalian semua..” ucap ku..

“Aku tak akan pergi dari sisimu.. Seberat apapun itu aku tetap akan mendukungmu..” ucap Tia

“Bukannya saat pertama kali berada disini kau ingin pergi dari sini.. Bukannya diluar sana ada seorang anak yang menantimu..” ucapku kembali

“Aku tak ingin pergi dari sini.. Disini meskipun tubuhku terkurung dirumah ini.. Tapi aku merasakan kebebasan jiwaku.. Tidak seperti diluar sana ragaku memang bebas.. Tapi jiwaku terkurung.. Aku memang telah memiliki anak yang kurindukan diluar sana.. Tapi untuk saat ini aku ingin tetap disisimu..” jelas Tia dengan air matanya pun mulai mengalir..

“Kau sangat jelek saat menangis” ucapku merangkulnya

“Makanya jangan bahas hal itu lagi..” ucap Tia menatapku

“Kau pasti sudah tahu tentang misiku kan..” ucapku sambil mengusap bekas air mata di pipi Tia

“Misi balas dendammukan..” ucap Tia

“Benar.. Misi ini akan menelan banyak korban.. Aku tak ingin kau, hera, nura, Fina akan dalam masalah yang sama.. Lawan kami adalah perusahaan yang memiliki reputasi mengerikan di dunia kejahatan..” ucapku coba menjelaskan situasi penting ini..

“Aku akan menjaga diriku sendiri.. Menjaga anak kita.. Kau tak perlu terlalu memikirkan ku dan anak ini.. Selesaikan misimu Ayah sebagai pemimpinan keluarga ini” ucap Tia tersenyum sambil mengelus perutnya..

“Ini lah yang membuatku membutuhkanmu..” ucapku.. Memeluknya dengan erat..

“Bolehkah aku memanggil Ayah.. Tuan..” ucap Tia Ragu-ragu mengucapkanya..

“Tentu.. Aku memang Ayah bayi mu.. Nanti setelah aku menyelesaikan misiku.. Kita akan membawa anakmu yang berada diluar untuk tinggal disini juga..” ucapku membelai rambutnya..

“Kau janji ya.. Janji harus kau tepati..” ucap Tia.. Melumat bibirku spontan..

Ku balas lumatan bibirnya.. Cukup lama kami saling bercumbu.. Birahi Tia begitu meledak-ledak saat inu..

“Ayah aku kangen dengan ini mu..” Ucap Tia menyentuh senjata ku.. Dan mengusap-usap kontolku yang langsung mulai bereaksi.. Pelan tapi pasti dia mengeliat dan berdiri tegak..

“Apa kali ini kau akan bertanggung jawab..” ucapku mencubit hidung yang mengemaskan..

“Tapi pelan-pelan ya Ayah.. Aku gak kuat beberapa hari ini aku hanya melihat ayah berhubungan dengan Hera dan Nura..” bisiknya sambil menjilat telingaku

“Ayah tak pernah bermain kasar.. Salahnya sendiri sok kuat..” Ucapku tertawa.. Sambil melepas baju Kaosku untuk memperlihat tubuhku yang berotot

Tia pun bangun dari duduk nya.. Lalu membuka bajunya.. Perut Tia memang belum terlihat membuncit.. Aku pun tak sabar dengan Adegan buka baju Tia.. Aku pun langsung mendekatinya dan membuka kolorku.. Memperlihat gagahnya kontolku..

“Ayah kontolmu makin besar..” ucap Tia dengan mengoda.. Langsung berjongkok di depannya.. Mulai mengelus setiap inchi kontolku dengan tangannya..

*Hunmmcch.. Hmmch.. Ummmph.. Akhhh..

Tanpa aba-aba mulutnya Tia melumat memasukkan kontolku ke mulutnya.. Dan mengocok kontolku dengan cepat..

“Haaa.. Huuu.. Lakukaannn.. Ini sangat nikmat..” Ucap ku yang merasakan sensasi nafsu dari Tia

Tia melakukannya dengan sangat cepat membuat nafasku sulit ku kontrol dengan baik.. Apa lagi saat dia mengulum kantung telurku.. Membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa..

“Terus.. Tiaa.. Terusss..” tubuhku bergetar merasakan servis oral yang luar biasaa.. Kontolku mengeras.. Nafsu hewanku, makin liar dengan rangsangan yang luar biasa.. Apalagi saat ini Tia sedang menjilat ujung kontolku rasanya kontolku akan meledak.. Ku hentikan Tia sebelum aku tak bisa mengendalikan suasana keadaan..

“Naik lah ke kasur sayang..” Ucap ku

Di balas Anggukan.. Aku kangen dengan memek Tia yang telah lama aku tak menjamahnya.. Ku perintah Tia dalam posisi merangkak.. Dan ku tuntun kontol kuu masuk ke dalam memek Tia..

Kali ini tubuh Tia yang kelonjotan menikmati sensasi masuk kontolku ke dalam memek..

“Akhh.. Jahatnya kontolmu ayah..” teriaknya..
Peluhnya mengucur deras.. Memek nya makin basah..

Kulakukan penetrasi berlahan dalam lobang kenikmatan milik Tia.. Lalu mulai mempercepat ritme kocokanku.. Tubuhnya Tia bergetar mencapai klimaks nya lagi.. Tangannya bergetar sambil terus memegang erat kasur ini..

“Ayyyaaaaah.. Akhhh.. Ekhhhhh.. Huuaahhh..” erang Tia saat ku percepat laju kontolku.. Ku gempuran tanpa akhir..

*Hossst.. Hoost.. Hoss..

Deru nafasku berpacu dengan nafsuku yang makin bergolaak..

“Cukuup ayah.. Yeeeahh.. Ukh..ukhhhh.. Tia gak kuat ..” teriakknya kerass.. Langsung rubuh menghempas kasur.. Tangannya yang menopang pun tak mampu bertahan lagi

Tiba-tiba.. Tangan halus memegang pipiku.. Membuatku melepaskan kontolku dari tubuh Tia.. Tia pun terkapar..

[table id=Ads4D /]


Hera

*Muaachh.. Mmuaachh.. Lumatan mulut itu lepas..

“Aku mencari mu.. Dan kau sedang bersenang-senang hanya dengan nya..” wanita dengan raut wajah sedih..

“Hera kau wanita yang tak sabaran ya..” ucapku

“Kali ini jangan pernah bersembunyi dariku..” ucapnya berjongkok dan melumat bibirnya yang seksi ke kontolku.. Sontak membuatnya kembali terpancing mengeras.. Nafsuku yang memang belum tuntas..

“Kau jangan sampai seperti kakakmu ya..” ucapku menikmati emutan di kontolku..

“Nikmaaat kan tuanku..” terus memainkan lidahnya di batang kontol nya

“Hera ku memang binal..” ucapku terus menikmati setiap servis yang di berikan padaku

Lalu Hera menjepitkan kontolku dengan kedua payudara.. Lalu mengesekan dengan cepat.. Ini membuatku mengila batangku keras terus di gapit oleh benda kenyal itu.. Nafsuku sudah mencapai ubun-ubunku..

Ku hentikan gesekan itu sebelum aku mencapai puncak.. Ku jungkirkan tubuh Hera.. Dan memasukkan kontolku.. Kelubang yang sudah sedikit membuka yang terus memuntahkan cairan bening sedikit lengket..

*Blesss ku masukan kontolku.. Berlahan menyusuri tiap rongga vaginannya..

“Tuaaan.. Akhhhhhhh.. Tuaannnnku..” erang Hera merangkul erat pinggangku

Aku mulai mengocok kontol yang mengeras.. Dan ku percepat lajunya..

“Ehhh.. Aku menyukai ini.. Aku mencintaimu sayang..” ucap Hera..

“Ukh.. Lubang mu terlalu hangat.. Heraa.. Trus mengerang.. Suaramu makin seksi..” pujianku mempercepat laju, karena aku sudah akan mengeluarkan lahar ku..

Ku hujam kontolku ke titik terdalam Hera.. Membuat tubuh Hera terangkat.. Merasa kontol hingga jalur rahimnya.. Dan menjerit karena kontolku bergeliat dan mengeluarkan sperma dengan manuver tembakkan terasa di ujuns jalur rahimnya..

“Ku titipkan Calon anakku Hera..” ucapku

[table id=AdsKaisar /]


Hera

Tak mampu membalas.. Tubuhnya masih merasakan kenikmatan di lubang Vagina.. Ku keluarkan kontol ku.. Sambil tersenyum melihat kedua wanitaku terkapar Tak berdaya, keduanya kelelahan tapi kulihat senyuman di wajah kedua wanitaku ini.. Membuat rasa bangga karena membuat mereka menikmati kejantananku..

Aku duduk di sofa.. Untuk mengembalikan tenaga yang terkuras.. Tia berusaha bangun dari ke tidak berdayaannya.. Untuk duduk disampingku sambil menyetel tv yang ada di kamar tidur orang tuaku..

“Tia apa aku bisa melindungi kalian..” ucapku tetap memandang fokus ke televisi..

“Aku percaya kau sanggup..” ucap Tia

“Ukhhh.. Kau Superheroku..” ucap Hera bangun dari tidur dan duduk di sampingku juga..

Ku tatap wajah Hera yang tetap cantik meskipun rambutnya berantakan..

“Seandainya perseteruan ini terjadi dan kita bertemu dalam keadaan pria dan wanita normal.. Sapa yang akan kupilih.. Kalian sama sempurna bagiku.. ” tanyaku gombal kepada kedua Wanita disampingku

“Jika itu terjadi aku tak akan masuk radar pasanganmu” ucap Tia

“Mengapa kau cantik.. Tak ada yang tak suka denganmu..” ucapku

“Aku hanya janda beranak satu..” ucapnya

Ku elus rambutnya.. Aku bukan orang yang melihat dari statusnya.. Tapi Tia mungkin benar aku tak akan melirik jika kejadian pencuri waktu itu tak ada.. Tia akan tetap hidup tertekan di balik bayangan sang kak dan suaminya..

“Mungkin kalau Hera akan masuk radar buruan tuan.. Notabene diakan sangat cantik, tinggi dan dari orang tua yang Baik.. ” ucap Tia melanjutkan..

“Kak Tia jangan bilang begitu.. Jujur sejak dulu aku menyukai tuan kita.. Sangat menyukainya.. Tapi aku tak punya kesempatan untuk mengungkapnya.. Aku tahu posisiku dan tuan seperti apa.. Nasibku juga tak jauh dari kak Tia” ucapnya memeluk erat lengan kananku..

“Almira kan..” ucapku

“Bagaimana kau tahu nama kakak ku tuan..” ucap Hera melihat ke arahku dengan wajah heran khasnya, yang membuat jantung berdenyutt kencang

“Aku bertemunya saat dikantor.. Dia mencari mu.. Wajah panik dan Dia cerita sedikit tentang mu” ucapku

“Dia mencariku.. Kupikir dia akan melupakanku.. Aku hanya anak gagal yang tak berharga apapun.. Di keluargaku prestasi adalah suatu nilai untuk kau dihargai.. Tapi aku tak pernah memberikan itu.. Bahkan saat aku pergi dari rumah tak ada satupun yang mencariku.. Aku beruntung disini.. Aku bisa di puji dan diterima..” jelas Hera mulai tak mampu menguasai emosi nya.. Air matanya keluar..

“Hera di bahkan lebih hebat dariku..” ucap tia dalam hati, dia pun bergerak pindah dari posisi merangkul adiknya itu..

“Kalian berdua sama ya.. Sama tak mampu keluar dari bayangan sang kakak.. Untung aku anak tunggal..” ucapku coba mencairkan suasana yang mulai terasa dingin..

“Aku tak punya keluarga.. Aku tak ingin pergi dari sini.. Karena kalian keluargaku..” ucap Hera memeluk Tia..

“Kau memiliki ku.. Tuan, Nura dan yang lainnya.. Jangan menangis kau tak sendirian lagi.. Mulai sekarang kau bisa katakan uneg-uneg pada ku” bujuk Tia yang sebenarnya berusaha kuat untuk tak menangis juga..

Aku sadar akan satu hal.. Penculikan yang ku lakukan pada Tia dan Hera bukanlah kebetulan.. Tapi cara tuhan mempertemukan kami.. Aku yang memiliki perasaan gelap di hatiku di pertemukan dengan mereka yang juga memiliki perasaan yang sama.. Tia, Hera, Nura dan Fina.. Aku mulai mengerti tentang masa lalu mereka mungkin ini cara tuhan untuk ku menyelamatkan mereka.. Tapi apa aku bisa membuat mereka tersenyum dan menghilangkan perasaan menyakitkan dari masa lalu mereka.. Otak kecil terus berpikir.. Tanpa sadar kedua wanita cantikku sudah menatapku yang sejak beberapa detik yang lalu sat aku Blank..

“Kita cium dia bersamaan..” bisik hera

Di balas anggukan mengerti dari Tia.. Lalu hera mulai menghitung untuk memberi aba-aba.. Sebuah ciuman hangat tepat disisi kiri dan kananku.. Membuatku kaget…

“Tuan tak perlu memikirkan masalalu kami.. Tuan harus fokus pada misi mu..” ucap Tia

“Kami siap membantumu..” ucap Hera tersenyum yang membuat makin cantik..

Ku balas dengan senyuman ..

“Tuan.. Saat semua ini selesai.. Mau kah kau menjadi suamiku..” ucap Hera dengan pipi yang memerah

“Tentu.. Aku mau..” ucapku lugas.. Dan menekan hidung Hera.. Karena aku benar-benar gemas padanya..

“Kau janji padaku.. Kak Tia menjadi saksi janji mu..” ucap Hera tersenyum

“Ya ampun tuhan terima kasih atas kenikmatan yang kau berikan padaku..” ucap syukur ku

Keduanya pun tertawa.. Senang melihat mereka tertawa lepas.. Aku sudah memiliki janji kedua ku pada hera.. Benar apa yang dikatakan mereka berdua aku harus memenangkan perang ini..

[table id=AdsLapakPk /]

#Di tempat yang berbeda…

 


Henny

“Ayah ibu, kak aku akan membalas dendam kalian” gumamnya.

Aku harus sedekat mungkin berada di samping Alex.. Saat dia lengah aku harus membunuhnya.. Membalaskan dendam kedua orangtuaku dan keluargaku..

Melarikan diri dari sini hanya kebodohan.. Kebodohan yang merugikan buat ku .. Disini aku akan bisa menghabisi nyawa musuh-musuhku.. Aku akan dapat penghargaan dari Bos Harun..

Apa harus aku mengorbankan keperawanan ku untuk Alex.. Saat dia tidur kelelahan aku akan membunuhnya dengan ini.. Pisau lipat yang tadi ku temukan di kamar Nura akan aku berguna nanti..

“Sebentar lagi kau akan ku bunuh” ucap ku menatap sebuah foto di dinding..

[table id=AdsTbet /]

#Kembali Ke Posisi Alex​

Kulihat Hera kembali terlelap tidur dipahaku.. Lalu Tia pun tidur menyender denganku.. Ku bangunkan Tia.. Dan mengendong Hera ke tempat tidur..

“Tuan mau kemana..” ucap Tia masih ngantuk

“Istirahat lah.. Aku mau bermain dengan yang lain..” ucapku melambaikan tangan yang di balas dengan bibir manyun Tia..

Aku keluar kamar meninggal keduanya.. Tiba-tiba telpon berdering.. Kulihat dilayar Handphone ku Rafina menelponku..

“Hallo..” ucapku

“Hallo ini Alex kan..” ucap suara laki-laki

“Ya benar aku Alex..” balasku

“Laki bodoh.. Apa kau sekongkol dengan yang namanya Hadi..” ucap nya

“Apa maksud anda dan anda siapa..” ucapku.. Pasti ini berhubungan video si hadi..

“Aku suami Rafina, aku sudah melihat rekaman yang Hadi lakukan.. Ini kriminal dan kau hanya diam saja tanpa tindakan apapun..” ucap nya dengan Nada yang keras..

“Santai saja bos bicaranya..” ucapku yang mulai terpancing kesal..

“Aku akan pergi ke kantor Polisi sekarang juga..” teriaknya

“Ku bilang santai saja.. Kita harus selesai kan ini dengan tenang” ucapku

“Dasar tolol.. Apa orang tuamu tak pernah mengajarin cara mengambil sebuah tindakan.. Dasar anak manja yang mendapatkan posisi dengan uang sogokkan..” hinanya padaku

“Jangan bawa orang tuaku pada masalah ini..” ucap ku dengan nada yang tinggi..

“Kau menantangku anak lemah..” ucapnya

Kututup telpon ku.. Bergerak ke bawah menuju garasiku dengan amarah menguasaiku secara penuh.. Ku start mobil fortunerku.. Tiba-tiba pintu sampingku terbuka..

[table id=iklanlapak /]


Neti

“Neti.. Kau mau kemana..” ucapku kaget melihat wanita yang langsung masuk

“Ikut denganmu tuan..” ucapnya sambil memasang sabuk pengaman

“Ini masalah penting.. Sebaiknya kau tinggal..” ucapku

“Aku tak mau.. Aku ingin ikut..” ucapnya..

“Terserah lah.. Dimana Nura dan Fina..” tanyaku

“Mereka menjenguk Rico di rumah sakit..” ucap Neti

Kupacu mobilku meninggalkan Garasi.. Melesat kencang menuju daerah yang cukup Hening dan sejuk di bawah kaki bukit.. Butuh waktu 45 menit untuk tiba disana.. Mataku mulai mencari sesuatu yang kucari disini.. Sambil mengendarai mobilku dengan santai..

“Apa yang tuan cari..” tanya Neti

“Aku mencari seseorang kemari ku lihat disini..” ucapku

“Siapa dia..” ucap Neti makin heran

“Itu dia..” ku tunjuk seorang yang ku cari pada Neti

“Orang Gila..” ucap Neti heran..

“Untuk misi ku..” ucapku menghentikan mobil..

Aku keluar dari mobil.. Melihat kiri dan kanan untuk melihat situasi.. Secara berlahan.. Tapi tempat ini terlalu sepi.. Ku ulangi pengawasanku.. Benar saja tak ada orang disini.. Kulangkahkan kaki mendekati wanita yang sedang bermain di taman kecil dengan wajah kumuh dan baju berantakan.. Ku dekati dia dan..

*Zreet.. Zreet.. membuatnya langsung tak sadarkan diri aku mengendongnya masuk ke mobil.. Lalu kembali melaju.. Neti terus heran dengan apa yang kulakukan..

Tak ada ucapan sepatah kata pun dari neti saat aku melajukan mobilku kembali.. Tak jauh dari lokasiku melumpuhkan orang gila tadi.. Terdapat warung yang cukup besar..

“Neti belikan aku 3 tabung elpiji..” ucapku sambil memberikan beberapa lembar uang..

“Beli baru tuan..” ucapnya

“Ya beli baru..” ucapku…

Neti keluar dari mobil dan menuju warung tersebut ku lihat dia berbincang dan memberi uang.. Lalu salah satu karyawan toko itu mendekati mobilku.. Ku buka pintu bagasiku.. Lalu karyawan itu memasukan ketiga tabung gas berukuran kecil itu.. Tak lupa neti mengucapkan terima kasih.. Aku pun kembali melajukan mobilku..

“Tuan mau kemana kita” ucap Neti

“Membungkam keluarga yang akan merusak keluarga kita..” ucapku

“Baiklah.. Aku siap..” ucap Neti padahal aku benar-benar gugup.. Keringat Neti mengalir padahal AC mobil Aktif..

“Kalau kau tak ingin ikut, kau bisa kuantar pulang terlebih dahulu..” Ucapku menatapnya yang tetlihat sangat gugup..

“Tuan aku ingin ikut..” sambil mengenggam tangannya yang terus bergetar karena gugup..

Mobil mulai melaju lambat di perumahan.. Aku sedang mengingat lokasi rumah dari salah satu Stafku.. Maklum aku baru satu kali kerumahnya jadi aku agak ragu dimana lokasinya..

Akhir ku temukan rumah berwarna biru muda.. Dengan halaman cukup luas.. Berlantai dua.. Maklum saja suami seorang anggota dewan jadi wajar rumah seperti ini..

“Kita sudah sampai..” ucapku pada neti..

“Yang mana rumahnya tuan..” tanya Neti

“Itu rumah yang mewah itu” jawabku

“Besar juga rumahnya.. Pasti orang kaya.. Lalu rencana seperti tuan..” tanya Nura kembali

Kebetulan dua rumah dari rumah target kami adalah rumah milikku yang ku beli dari salah satu karyawanku.. Jadi ku parkiran mobil masuk ke halaman di rumah milikku..

“Kau tunggu disini saja.. Aku akan masuk kerumah itu” ucapku

“Tuan hati-hati” ucap neti

Diikuti senyumanku dan aku pergi menghilang.. Ku awasi dulu sekitarku.. Ku langkah kan kaki berjalan cepat hingga tiba di depan Rumah Rafina.. Namun pintu depan sudah terkunci gembok padahal ini baru jam 8.00 malam.. Akhir aku menemukan titik dimana aku bisa masuk kehalamannya melalui celah pagar besinya.. Mengendap-endap mendekati rumah, lalu Aku pasang penutup wajahku ku lihat CCTV tepasang di depan rumahnya jadi ku cari jalan di samping rumahnya.. Jendela di teralis besi semua akan lama untuk membongkarnya.. Jadi aku berjalan ke bagian belakang Rumah.. Ku intip ternyata tak ada CCTV terpasang.. Jadi kuputuskan membobol dari pintu belakang saja.. Aku cukup Amatir dalam hal membobol rumah mungkin hadi pasti sudah masuk dari tadi..

Aku mulai mengotak atik pintu belakang.. Cukup lama aku kesulitan membukanya.. Akhir aku bisa membuka pintu itu dengan sedikit kekerasan.. Hehe

Masuk ke bagian dapur rumah.. Cukup rapih dan tertata dapur ini.. Ku temui sebuah pintu.. Seperti itu pintu kamar tidur ..

“Apa Rafina punya pembantu” pikirku ..

Kucoba untuk ketuk pintunya.. Tiba-tiba ku dengar suara seseorang yang bangun dari ranjang tempat tidurnya.. Aku menanti dia keluar.. Saat pintu terbuka aku memukul nya dengan keras hingga ia terpental menabrak kasurnya.. Lalu ku lancarkan serangan keduaku yang telak di punggung leher membuatnya tak sadarkan diri.. Ternyata ini hanya wanita tua.. Aku sedikit menyesal memukulnya.. Aku ringkus wanita ini dengan Lakban dari kantongku, lalu menidurkannya lagi di kasurnya..

Aku tak punya waktu banyak aku mulai menuju ruang tengah.. Aku mendengar suara tv masih menyala.. Mata terus sigap menyapu seluruh ruangan ini dengan sikap waspada.. Ku lihat sesosok wanita kurus tertidur di depan tv.. Itulah salah satu kasubbag ku yang paling cerewet.. Kulihat dia tidur dengan sangat lelap masih menggunakan kacamatanya.. Jadi ku tinggal saja dia karena tujuanku utamaku adalah suaminya.. Jadi aku menuju tempat tidur mereka di lantai dua.. Ku buka pintu kamar yang tak terkunci kulihat pria bertubuh gumpal ada diatas kasur sambil terus mengeluarkan suara raungan hewan..

“Nikmati tidur terakhirmu.. Karena kau tak akan bangun kembali setelah ini..” ucapku penuh amarah.. Ku keluarkan kedua pisauku..

Aku bersiap.. Dan melompat diatas perutnya kutusuk pisau pertamaku di perutnya.. Sebelum dia berteriak kutusuk kembali lehernya.. Tangan yang besar coba memukulku.. Tapi ku tangkis dengan menancapkan pisauku ke tangan.. Ku injak tangan satunya dengan kakiku.. Kaki terus meronta.. Darah makin banyak mengalir..

Ku buka penutup wajahku..

“Akeehggg.. Akhhgggg..” pria buntal coba mengeluarkan suaranya tapi tertahan karena leher terus mengeluarkan darah

“Aku bilang jangan ganggu keluargaku..” ucapku kembali menusukan tetap di jantungnya..

Seketika pria itu kejang-kejang dan semakin lama melemah.. Misi ku telah selesai.. Aku tinggalkan kamar itu.. Pergi ke kembali ke tempat Neti ..

“Tuan.. Tubuh mu penuh darah apa kau terluka..” kagetnya melihat baju penuh darah..

“Hehee.. Aku sudah menyelesaikan misiku.. Sekarang aku mau mengambil wanita gila itu dan 3 tabung gas” ucapku

“Baiklah tuan..” ucap Neti membantuku menurunkan tabung gas

Aku cepat meninggalkan Neti kembali.. Perjalan menuju rumah Rafina kembaliku lakukan untuk meletakkan orang gila itu di kamar tidur Rafina lalu membuka satu tabung gas di kamar.. Ku biarkan gas itu memenuhi ruangan ku tinggalkan keduanya didalam kamar tidur Rafina.. Sekarang aku menuju tempat wanita kurus itu tertidur..

Kulihat sebuah buku diatas payudara yang kecil. Buku berjudul “Langkah Efektif Terjadi Pembuah Sel Telur” Aku tersenyum.. Wanita ini pasti memikirkan cara bagaimana untuk hamil..

[table id=Lgcash88 /]


Rafina

“Baiklah aku akan mengantikan suamimu untuk menghamilimu Rafina..” gumamku sambil membelai rambutnya..

*Creekk.. Ku ambil Lakban dengan cepat ku melakban mulut membuat Rafina sontak terbangun..

“Hmmmmmphh.. Hmmmphhh..” ucap melihat seseorang yang tak di kenalnya mengunakan penutup kepala..

Dia pun langsung mencoba berdiri.. Tapi ku tarik tangan hingga terduduk kembali sambil tanganku yang lain memainkan belati

“Diam cantik..” ucapku

Ku telikung tangannya mulai ku ikat dengan lakban.. Selanjutnya bagian atas payudaranya ku lakban mengitari lengannya.. Kakinya ku lakban di bagian mata kaki dan pahanya agar memudahkanku membawanya.. Bau gas sudah tercium olehku.. Aku mengambil korek api.. Dan membakar salah satu sofa.. Sebentar lagi seluruh ruangan ini akan terbakar dan meledak.. Jadi ku bopong Rafina keluar dari rumah dari rumah sendiri dengan cepat..

Menuju ke neti yang menantiku dengan sangat cemas..

Ku masukkan Rafina yang mengeliat tanpa henti untuk mencoba melepaskan ikatannya.. Tapi apa daya wanita kurus lakukan..

“Misi selesai kita pulang” ucapku dengan santai melepas penutup kepalaku

“Siapa wanita itu..” ucap Neti

“Nanti saja kau tahu sapa dia.. Sekarang kita harus bergegas..” ucapku segera memacu mobilku.. Ketika aku melewati rumah rafina.. Ledakan pertama terjadi.. Api sudah membesar dan membakar ruang tengah.. Neti hanya terpana dengan apa yang dia lihat.. Masih tak percaya apa yang dilakukan oleh tuannya..

Saat tiba di ujung kompleks ratusan orang bergerak menuju rumah Rafina..
Kulihat dari kaca spionku.. Rumah itu sudah seperti obor olimpiade.. Api sangat besar bahkan menyambar ke rumah sekitarnya..

Tiba kami di jalur cepat.. Neti mulai bisa membuka mulutnya setelah tadi terpaku melihat apa yang terjadi di depannya..


Neti

“Tuan apa maksud dari semua kejadian ini..” tanya Neti

“Kau akan tahu nanti.. Yang jelas sms kan.. Kalo aku sibuk jadi aku tak akan pulang kerumah.. Kepada Tia..” ucapku sambil menyerahkan Handphone ku..

Kami melaju ke suatu tempat terpencil jauh dari hingar-bingar kota kecil kami.. Udara dingin khas pengunungan.. Dan atapan bintang yang bertaburan.. Tak ada suara apapun selain laju mobil kami.. Melahap jalan sepi malam ini..

[table id=AdsKaisar /]

#Dirumah Utama​

Ke lima wanita masih dengan kerjaan masing-masing Didalam kamarku..

Tia sibuk dengan menyetrika pakaian kerja tuannya.. Sedangkan Henny hanya duduk membantu menyusun pakaian ke lemari.. Fina dan Nura sibuk dengan belanja online nya.. Sedangkan yang terakhir dengan nyenyak tertidur di kasur tak terusik dengan aktivitas yang lainnya..


Tia

Fina

Nura

Handphone bergetar.. Tia dengan sigap mengecek message tersebut..

“Tuan tak akan pulang malam ini.. Dia sedang bersama Neti..” ucap Tia memberitahu..

“Tuan kemana kak..” ucap Nura mendekatinya..

“Telpon saja..” ucap Fina penasaran.. Jelas dia penasaran Neti bersamanya.. Apa yang dilakukan mereka berdua..

“Mana aku berani Fina.. Dia tuan kita, apa yang akan dia lakukan itu terserah dia.. Kita tak bisa mengatur nya..” ucap Tia memberi pengertian pada Fina

“Tapi.. Kemana mereka berdua..” ucap Nura terlihat kecewa..

“Hahahaa.. Kalian belum mengerti juga..” sahut Hera dari tempat tidur..

“Apa maksud mu Hera..” ucap Fina

“Kita memang saudara disini untuk saling jaga dan membantu.. Tapi berbeda dalam merebut hati tuan Alex.. Kita semua bersaingan.. Kalau kau Fina hanya menunggu kau tak akan pernah mendapat kesempatan bersama tuan.. Lihat saja temanmu.. Dia mencuri start bersama tuan Alex sekarang.. Dan kau Nura jangan terlalu santai karena kau senior disini, fina, henny dan Neti akan segera mengejarmu..” jelas Hera..

“Benar juga yang kau katakan..” ucap Nura

“Heraa.. Heraa.. Kau selalu saja memanaskan suasana..” ucap Tia dalam Hati

“Kau tau Nura.. Laki-laki hanya boleh memiliki empat wanita saja.. Aku dan Kak Tia sudah ada dalam slot pertama, jadi hanya dua slot lagi yang tersisa kan.. Hehehehe..” ucap Hera sedikit mengejek Nura

Tia pun tak bisa menahan tawa.. Tia geleng-geleng dengan ucapan hera.. Tapi Tia tahu maksud Hera baik buat Nura dan Fina.. Karena mereka yang harus melayani tuan kami.. Bukan menunggu untuk dilayani..

[table id=AdsKaisar /]


Anna

[POV Agung]

Ku tarik Anna masuk kembali ke kamarku..

“Anna.. Aku menyukaimu.. Sejak dulu aku menyukaimu..” ucapku menatap penuh matanya..

“Aku juga menyukaimu agung.. Tapi semua terlambat.. Aku baru saja menikah..” ucap Anna menunjukan cincin yang indah melingkar di jari manis nya..

Aku hanya menarik nafsa panjang.. Pupus sudah harapanku..

“Gung, aku ingin pulang.. Biar akan aku pergi dari sini.. Aku akan merahasiakan semua yang kulihat disini..” ucap Anna sambil mengenggam kedua tanganku

“Tapi aku membutuhkan mu.. Kami butuh supportmu..” ucap ku

“Supportku.. Apa tubuhku.. Kukira kau adalah pria yang Baik.. Tapi kau hanya laki-laki mesum yang tak memiliki keberanian” ucapnya memukul dadaku..

“Aku tak akan melepaskan mu..” ucapku

“Agung.. Kumohonnn.. Biarkan aku pergi.. Jangan membuatku makin membencimu..” ucap Anna terus memelas kebebasan..

“Ini sudah malam.. Lebih besok saja kau meninggalkan tempat ini..” ucapku

Sebenar aku menyesal melakukan ini.. Tapi aku tak tahan melihat Anna menangis.. Aku tak tega melihatnya seperti ini.. Ini juga salahku mengapa aku tak memperjuangkan perasaan ku padanya saat kami memiliki waktu lebih bersama..

Anna tetap terdiam.. Aku kembali mendekati nya..

“Tidurlah di ranjangku.. Aku bisa tidur di dikursi..” ucapku meninggalkannya menuju wanita yang masih tertidur di ranjang operasi milikku

“Kenapa kau berubah..” ucap Anna

“Tak ada yang berubah dariku.. Hanya saja aku fokus pada misi terakhirku.. Misi terakhir untuk kelangsungan keluarga ini..” Ucapku sambil fokus mengecek keadaan vital Lariza..

“Misi apa maksudmu.. Misi mengumpulkan banyak budak.. Seperti yang dilakukan saudaramu tadi..” ucap Anna

“Kau tak perlu tahu.. Kebahagian kami saat ini.. Hanya kebahagian semua yang akan bisa hilang kapanpun.. Dan jangan menilai saudaraku buruk jika kau tak mengenalnya langsung” ucapku tersenyum pada Anna

“Apa wanita ini salah satu budak saudaramu” tanya Anna yang sudah duduk di sampingku

“Entahlah aku belum mengenal wanita ini.. Tapi mungkin saja..” ucapku

“Untung saja wanita ini cepat di ambil tindakan.. Jika telat mungkin nyawa tak akan bisa selamat.. Tapi kemampuan operasimu tak menurun..” ujar Anna menepuk pundakku..

“Aku adalah dokter dengan lulusan terbaik.. Jadi jangan remehkan kemampuanku..” jawabku membanggakan diri

“Huuuu.. Baru ku puji sedikit kau sombong..” jawab sambil tertawa

Tawa yang kurindukan.. Akhir aku bisa mendengarnya lagi.. Wanita yang cantik..

“Jangan banyak tertawa.. Kau menyakitiku.. Kenapa kau menikah tanpa memberi kabarku” ucapku menunjukkan muka kesalku

“Kau yang menghilang tanpa kabar.. Ku kira kau memang menjauhiku selamanya..” ucap Anna membela diri..

“Melupakan seseorang dengan mudah dan menikah secepat ini..” ucapku menyudutkannya

“Usiaku sudah tak muda lagi.. Menunggu mu yang entah kemana dan tanpa ke pastian.. Bahkan kau tak mengikatku dengan janji apapun.. Jadi untuk apa aku menunggumu..” ujar Anna

“Itu lah wanita selalu mencari alasan untuk kebaikannya sendiri..” ucapku

“Aku ngantukk.. Aku tidur duluan ya..” ucap Anna.. Dia tak ingin terus memperpanjang perseteruan, akan membuat Anna terbawa ke masalalu yang indah

“Tidurlah..” ucap ku tegas

Kulihat wanita segera naik ke ranjang dan tertidur.. Ku matikan lampu kamarku menyisakan beberapa lampu tidur.. Ku dekati Anna untuk terakhir kalinya sebelum dia kembali ke kotanya

“Aku benar-benar Mencintaimu” bisikku sambil mencium rambutnya.. Dan meninggalkan untuk tidur di Sofa

“Aguuung aku jugaa mencintaimu..” ucap Anna dalam hati, yang terus berpura-pura tidur.. Air mata mengalir tak terbendung..

Halaman Utama : Misi Penghancuran

BERSAMBUNG – Misi Penghancuran Part 27 | Misi Penghancuran Part 27 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 26 ) | ( Part 28 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler