. Milf At School Part 8 | Kisah Malam

Milf At School Part 8

0
405

Milf At School Part 8

Aku sendiri menyebutnya cabe rawit. Memang bentuknya berbeda dengan cabe yang sering dimakan dengan gorengan. Jauh lebih besar. Dan yang pasti, jauh lebih pedas. Di sekolah, cabe ini diberi nama sangat ekstrem karena saking pedasnya : Lombok Setan Dan disinilah aku sekarang, makan rujak bersama tiga ibu-ibu cantik memakai si Lombok Setan.
“Hmm… pedas! Tapi mantab!” kata Dearani sambil membetulkan posisi jilbabnya. Cecil ikut mengangguk, mengibas-ngibaskan tangannya memancing hembusan angin. Keringat tampak berembun membasahi wajahnya yang cantik. Dengan santai dia menghadapkan kaki putih cemerlangnya ke arahku.
“Ini orang, tidak merasa apa kalau di balik roknya ada kain merah muda tipis melambai-lambai?” aku membatin. Sambil terus mencocol rujak, Devita meneruskan obrolan mereka yang tadi sempat terputus. “Eh, beneran ya kalau Mbak Mary lagi galau karena suaminya selingkuh?” dia nyeletuk. Glek! Kudengarkan mereka sambil menelan ludah. Bagaimana tidak, karena sambil menjawab, Cecil sudah mengurai lepas satu buah kancing bajunya yang atas.
“Ah, dasar dia saja yang baper. Suamiku sudah selingkuh dari dulu, aku cuek aja tuh!” katanya sembari sibuk mengibas-ibaskan tangan, menggiring angin ke arah lehernya yang jenjang. “Bagi aku, suami itu ibarat botol kecap. Nggak apalah isinya tumpah dimana-mana, yang penting botolnya kembali pulang!” Cecil tertawa, diikuti yang lain. Aku ikut tertawa juga.
“Eh, tapi nanti pas pulang ke rumah, si botol membawa penyakit kutil lagi.” cetus Dearani.
Devita menimpali. “Suamiku juga selingkuh melulu. Buat aku sih… ya sudah, aku balas saja! Memangnya lelaki saja yang bisa selingkuh? Kita juga punya goyangan kan?” Dagunya ia naikkan ke atas, ke bawah. Kadang kepalanya ia miringkan. Lehernya bersih dan putih.
“Oooh… jadi itu makanya kamu gonta-ganti brondong. Sudah ganti brondong berapa kali kamu?” tanya Cecil. Ketika dia membungkuk untuk menaruh gelas-gelas minuman di meja, aku mengintip cepat ke arah singlet putih yang ia kenakan. Belahan dadanya nampak besar, bulat, padat, dan indah. Devita yang kepedesan, langsung menyerbu minuman itu. Ia meneguknya cepat, sampai-sampai sari jeruk itu meleleh di antara bibirnya dan turun meluncur mengikuti dagu, leher, dan masuk ke balik baju. Aku merasa kalau Devita sangatlah seksi.
“Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku!” Cecil berkata.
“Hah? Jadi kamu tahu ya kalau aku suka mainin brondong?” jawab Devita sambil menaruh gelasnya. “Hihihi… jangan bilang siapa-siapa ya? Brondong tuh bikin ketagihan. Kalian coba deh! Culun, gugup, tapi… tahan lama! Sementara suamiku paling lama tahan lima menit, brondong favoritku bisa tahan hampir
sejam!”
_”Sejam itu kamu ngapain aja?” tanya Dearani histeris. Seperti biasa, pakaiannya yang paling rapi. Gamis panjang dan jilbab lebar membingkai wajahnya yang cenderung oval, sungguh sangat menggemaskan sekali.
“Hihihi… jangan diperjelas ah.” Devita nyengir. “Sejam itu ya… membersihkan ‘perabot’! Dari arah depan, belakang, samping, atas, bawah!
Hahaha…” Dia bahkan tidak peduli, bahwa saat dia menceritakan detil selingkuhnya, aku di situ terus menguping sambil megap-megap.
“Kalau aku ya,” Dearani berkata. “Daripada diselingkuhi suami, mending aku suruh aja si Abang poligami.”
“Wuu…” dua ibu-ibu lain kontan mengeroyoknya. “Gila kamu ya? Bagiku, poligami itu ibarat pakaian.” Cecil mengajukan argumen, “Misalnya nih, aku punya celana dalam. Aku nggak akan sudi kalau sembarang orang ikut-ikutan pakai celana dalam itu. Hiii… jijik! Nah, suami itu ibaratnya celana dalam kita!” Dearani mendebat lagi. “Itulah. Kalau perempuannya nggak jelas memang bikin jijik. Makanya, cari yang jelas. Yaitu siapa? Yaitu istri kedua, ketiga, dan keempat! Mending begitu.”
“No way!”Cecil tetap ngotot.
“Oh, jadi buat kamu; selingkuh oye, poligami noway… begitu?” tanya Dearani.
“Ya, apa boleh buat,” kata Cecil, ragu.
“Pas suamimu selingkuh tadi itu, sama cewek nakal pinggir jalan misalnya… apa kamu pikir itu nggak sama saja membiarkan celana dalammu dipakai oleh si cewek ganjen? Kamu nggak rela celana dalam itu dipakai oleh istri kedua yang jelas kebersihannya, tapi mau aja celana itu dipakai oleh seorang cewek kotor, terus sama si cewek dipakai guling-guling di semak-semak. Gitu?”
“Ya, tapi suamiku kan nggak akan milih cewek sembarangan!” Cecil bersikukuh.
“Kalau bukan cewek nakal, terus siapa? Anak SMA? Mahasiswi? Istri orang? Janda genit? Semuanya itu ya… nakal-nakal juga—kalau hobinya ngelonin suami orang!” Dearani menohok telak.
“Iya sih.” Cecil terdiam. “Eh, tapi… kalau cuma sebatas selingkuh, setidaknya itu celana dalam kan masih milik kita seorang, bukan milik bersama!” Dia beralasan lagi.
“Milik sendiri itu artinya apa?” bantah Dearani. “Kamu yang merawat, kamu yang mencuci, kamu yang menyetrika! Eh, tapi dipakai ramai-ramai! Lower deh!
Cewek selingkuhan suamimu sih enak, tinggal apakai saja, nggak usah merawat. Lha kita? Kalau istri muda resmi, minimal pasti ikut merawat juga, kan?”
Cecil ingin menyanggah, tapi Devita keburu memotong mengajukan teorinya. “Nah makanya, wahai ibu-ibu cantik, ikutilah jejakku!”
“Jejak apa?” Dearani mendongak.
“Pertama, anti poligami. Kedua… biar adil, sementara suami kita—celana dalam kita tadi itu—dipakai gonta-ganti sama wanita lain, kita pun puas-puaslah balas dendam. Kita ganti-ganti juga pakai celana dalam orang! Hahaha…”
“Wuu… dasar penggemar brondong!” Dearani menimpuknya dengan kerupuk. Aku yang terus mendengarkan obrolan tak jelas itu, lama-lama ikut pusing juga. Pingin nimbrung, nanti dikira lancang. Cuma jadi pendengar, nyatanya penisku sudah ngaceng keras karena membayangkan yang tidak-tidak. Apalagi mereka seperti cuek, terus saja ngobrol ngalur-ngidul tanpa mempedulikan kehadiranku sama sekali. Dasar ibu-ibu ganjen!
“Dengarkan ya.” Dearani kembali berkata. “Poligami itu jalan tengah. Mungkin memang tidak sesuai dengan suara hati kecil kita, tapi itulah jalan yang resmi. Celana dalam kita tentu nggak enak dipakai gantian sama orang. Tapi, masih mending karena dipakai sama orang yang ikut merawatnya, oleh orang kedua yang jelas jati dirinya. Daripada dipakai sama orang yang nggak jelas asal-usulnya, dan dia enak-enakan tidak ikut merawat!”
“Tapi…” Devita ingin membantah, tapi langsung dipotong oleh Dearani “Kalau selingkuh dibalas selingkuh, itu juga menjijikkan. Gonta-ganti celana dalam, kalau celana dalam kita sendiri sih, nggak apa-apa. Tapi kalau celana dalam orang, bisa lecet dong! Hihihi…”
Dearani merasa di atas angin. Tapi, Cecil lantas membalikkan situasi. “Jadi menurut kamu, poligami itu jalan tengah yang elegan, begitu?” tanyanya memancing.
“Persis!” Dearani jumawa.
“Mmm… ngomong-ngomong, beneran suamimu jadi meresmikan hubungannya sama gadis penjual kacamata itu?”
“Hah? Kok kamu mengungkit itu sih?” Dearani berubah nada bicaranya. “Cuma nanya saja. Kalau memang jadi, kapan kira-kira tanggal akad
nikahnya? Terus resepsinya dimana? Kita diundang apa enggak? Wow… tentu si gadis beruntung itu bisa enak ya, disanjung-sanjung seperti ratu, terus diajak bulan madu ke Bali atau kemana gitu!”
“Maksud kamu?” Dearani meninggi.
“Eh, ini kan aku lagi mendukung ide kamu tadi, yang menyatakan bahwa poligami itu solusi jalan tengah yang elegan!” kata Cecil.
Hening sejenak, lalu… tiba-tiba Dearani menangis tergugu. “Kamu tuh tega ya! Sudah tahu aku mau diduakan sama suami, malah dibuat bercanda! Dimadu itu sakit, ta’uk! Sementara aku jungkir balik mengurus rumah, mengurus anak, ihiks… bulan depan, dia malah mau enak-enakan membuka ladang baru, yang tanah-tanahnya masih perawan gembur! Ihiks, ihiks… kalian jangan mengungkit-ungkit soal itu!”
“Sssh… ya udah deh. Maafkan aku!” Cecil ujungnya susah payah membujuk Dearani, yang rupanya sebentar lagi suaminya akan menikah dengan istri muda.
“Iya, maaf deh. Habis tadi kamu duluan yang mempromosikan poligami. Kukira hati kamu sudah ikhlas sepenuhnya, tak tahunya, nggak beda jauh sama kita-kita.” Devita ikut membujuk Dearani yang masih tergugu. Sementara itu, aku hanya bisa melihat sambil terbengong-bengong.
Dearani yang mau dipoligami menangis tersedu, kenapa Cecil dan Devita yang sudah jelas diselingkuhi oleh suami mereka malah tenang-tenang saja? Apa ini artinya?
Apalagi selanjutnya kudengar Cecil berbisik-bisik tak jelas kepada kedua sahabatnya sambil melirik ke arahku. Mulutnya dihadang oleh tangannya sehingga aku tak bisa membaca gerakan bibirnya, lalu tawanya berderai. Devita ikut tersenyum. Sepertinya, mereka sedang main rahasia-rahasiaan. Hanya Dearani yang nampak cuek, dengan susah payah dia menghapus lelehan air matanya.
“Ini, Mbak.” Kuberikan sapu tanganku. Dearani menerimanya sambil mengangguk. Di ruang tengah, tempat dimana anak-anak kami tadi berada, kini sudah sepi. Mereka tampaknya sudah pada tertidur setelah capek main. Kami sendiri berada di belakang, berteduh di teras yang berbatasan langsung dengan kolam renang. Cecil termasuk penghuni mapan di kompleks ini, ekonomi suaminya hampir sama dengan anakku.
“Berenang yuk!” kata Cecil sambil beranjak dari kursinya.
“Ayo,” sambut Devita. “Enak berenang siang-siang begini, adem!”
Mataku berbinar, dan jantungku langsung berdetak kencang. Bener nih?
Tapi cepat kuatur kembali agar tidak kelihatan. Kupasang kembali wajah datar seakan perbuatan mereka yang akan pamer tubuh di depanku bukanlah masalah besar. Kulirik Dearani yang tetap duduk santai di kursinya. “Mbak nggak ikut
berenang juga?” tanyaku, penuh harap. Dia menggeleng. “Nanti saja. Kalau Pak Bakri?”
“Ah, nanti saya malah mengganggu!” gurauku. Tapi aku serius, dengan kontol ngaceng seperti ini, bukannya berenang, bisa-bisa aku malah langsung memperkosa mereka bertiga. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinarnya yang sedikit menyengat. Halaman belakang rumah Cecil berpagar tinggi dan seperti terkucil dari tetangga sekitar. Tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi di kolam selama orang itu tidak nekat memanjat pagar. Tempat ini benar-benar steril dan aman—untuk berbuat mesum!
“Pak Bakri!” seru Cecil setengah berteriak, “Ayo sini, ikut berenang juga!”
Aku hanya bisa menggeleng. “Saya di sini saja, menemani Mbak Rani.” jawabku sok jual mahal.
“Nanti nyesel, lho!” goda Devita. Di tepi kolam, mereka mulai saling bercanda. Cecil menjorokkan tubuh Devita, tapi buru-buru ia pegangi kembali. Devita yang terkejut cuma bisa
menyumpah-nyumpah. Sekali dua kali, mereka juga saling menjerit sambil mencipratkan air memakai tangan. Sepertinya, mereka mulai menggila. Sayang masih belum melepas baju.
Aku memutar kursi, mencari sudut pandang yang paling ideal ke arah kolam. Duduk menunggu apa yang akan tersaji di hadapanku. Di sebelahku, Dearani beringsut maju, rupanya mulai tergoda ulah kegilaan dua sahabatnya. Aku tersenyum gembira melihatnya.
“Pak, saya ke sana dulu ya,” dia berkata. Aku hanya bisa mengangguk kencang. Cecil tersenyum melihat kedatangannya. Jari-jari lentiknya mulai mengurai ikatan rambut, membongkarnya sehingga terlepas menutupi lehernya yang jenjang. Di belakangnya, Devita sedang memelorotkan rok biru kembang-kembangnya ke bawah. Jantungku berpacu cepat begitu celana dalam putihnya terlihat. Betisnya benar-benar padat dan sintal. Terlebih-lebih pahanya. Tapi putih sekali.
“Cil, tolongin dong!” pinta Dearani yang berusaha mengotak-atik kaitan bajupanjangnya. Cecil melangkah maju. Tangannya membantu menanggalkan kaitan baju yang menutupi area pribadi Dearani. Dia masih berpakaian utuh. Begitu kaitan baju itu saling tak terkait lagi, diturunkannya ritsliting baju itu.
“Agak macet rits-nya,” kata Cecil, lalu mundur lagi beberapa langkah, membiarkan Dearani menanggalkan bajunya seorang diri. Kuamati paha jenjang perempuan itu dari atas ke bawah. Seperti tak ada cacat. Putih. Dan bahkan lututnya pun memiliki warna senada dengan bagian kakinya yang lain. Indah sekali. Di sebelahnya, Devita hanya melepas beberapa kancing bajunya dari bawah ke atas. Begitu tiga buah kancing sudah dilepas, ia langsung menarik baju itu ke atas seperti sedang melepas kaos. Dalaman berwarna merah pun menggantikan baju putih yang baru saja ia tanggalkan. Dadanya terlihat begitu montok meski belum terlalu jelas. Aku jadi semakin tegang. Penisku mengeras kencang!
“Pak Bakri, titip baju kita ya?” seru Dearani yang masih memakai jilbab, tapi bagian bawah tubuhnya sudah terbuka—memperlihatkan celana dalam putih yang ia kenakan. Ia mengayun-ayunkan roknya, hendak menaruhnya di tanah.
“I-iya, taruh di situ saja.” jawabku serak, karena sambil tersenyum, kulihat Cecil menegakkan punggung dan mulai menarik bajunya ke atas. Gila! Kukira buah dada Devita sudah cukup besar. Ternyata ada yang lebih besar lagi. Payudara Cecil menyembul keluar seakan mau tumpah dari behanya yang kekecilan. Bentuknya bulat, dengan warna putih pudar yang seolah-olah menyatu dengan kulit tubuhnya yang mulus. Ujungnya nampak lancip, menunjukkan kalau puting Cecil sudah lumayan tegang. Beberapa detik lamanya aku memandangi benda itu, sampai kulihat Dearani yang membelakangiku melakukan hal yang sama. Dia menarik bajunya ke atas, menampakkan buah dadanya yang lebih kecil. Dearani memang lebih kurus, tapi langsing. Manisnya wajah Dearani mampu menutupi kecilnya buah dada yang ia miliki. Terus terang, aku suka dengan wajah imut seperti Dearani walaupun tubuhnya tidak ada apa-apanya dibanding Cecil. Ketiganya kini berdiri di depanku dengan hanya memakai beha dan celana dalam saja. Ternyata dugaanku benar. Untuk urusan pakaian dalam pun, mereka kompak bersekutu. Ketiganya sama-sama memakai dalaman berwarna merah, dengan bentuk dan motif hampir sama. Hanya ukurannya saja yang berbeda. Dearani bergidik sedikit, “Brrr… dingin.” serunya ketika menyentuh air. Matanya menyipit, membuat wajahnya jadi semakin imut. Dari arah belakang, Devita beringsut maju dan menjepitkan jarinya ke sela-sela kait beha Dearani. Dengan sedikit sentakan, ia pun menarik kain itu hingga terlepas.
“Auw! Hei!” Dearani tampak kaget, namun tak berusaha mencegah. Mataku langsung membelalak dan penisku mengacung keras seperti tongkat melihat bagian dada Dearani yang kini sepenuhnya telanjang. Lama aku menahan kelopak mata, tak berkedip sedikit pun, enggan melewatkan pemandangan indah itu barang sedetik pun. Dearani terlihat teramat sensual dengan hanya mengenakan celana dalam merah untuk menutupi tubuhnya
yang langsing. Aku tak sabar menunggu Cecil dan Devita melakukan hal yang sama.
“Awas ya!” Dearani melipat tangannya ke arah dada, santai membiarkan payudaranya tak tertutupi. Sesekali ia melirikku sambil menggigit kecil ujung lidahnya. Dia memiliki buah dada bulat seperti buah jeruk. Putingnya merekah merah, nampak sangat lezat. Dengan tubuh kurus seperti itu, bulatan dadanya jadi begitu sempurna.
“Mbak, besok makan yang banyak ya, biar montok mirip Cecil,” kataku setengah berteriak. Suaraku jelas gemetar. Aku benar-benar tak biasa melihat wanita berjilbab yang telanjang dengan penuh percaya diri seperti Dearani.
“Jadi aku gendut ya, Pak?” sindir Cecil, memberengut lucu. “Bukan. Malah, Mbak seksi banget kok,” hiburku. “Benar aku seksi?” Cecil, sambil berdiri menghadapku, mulai melepas behanya juga. Bulatan payudaranya langsung kulihat sempurna. Sangat besar, sesuai dengan postur tubuhnya yang sintal. Ia membungkuk ke bawah sekali dua kali, membuat buah dada yang montok menggemaskan jadi seperti mau tumpah. Dasar usil. Dia sengaja ingin menggodaku. Tinggal Devita yang belum membuka dada. Namun beda seperti teman-temannya, dia malah menurunkan celana dalam—yang tentu membuat hidungku kontan mimisan—hingga sebatas lutut dan mundur beberapa
langkah, lalu jongkok. Cuuurrr… cairan kuning keemasan nampak mengalir dari celah selangkangannya, membasahi rerumputan di tepi kolam renang.
“Hei! Jorok amat kencing sembarangan!” kata Cecil sambil tersenyum geli. Dearani ikut terkikik, sementara Devita dengan santai terus menguras
kantung kemihnya. Air kencing yang keluar dari belahan kemaluannya cukup banyak. Sepertinya, Devita amat menikmati momen ini. Santai dia memerkan belahan kemaluannya kepadaku, sama sekali tidak merasa risih apalagi malu. Aku menikmatinya tanpa berkedip. Memek Devita terlihat indah meski sudah melebar. Mungkin karena kebanyakan dihajar sama brondong. Tapi
kalau misal disuruh untuk mengentotinya sekarang, aku juga tidak akan menolak. Beberapa muncratan kecil mengakhiri pemandangan langka itu. Setelah itu, Devita berdiri kembali, melorotkan celana dalam yang sudah turun setengah itu dan menarik behanya ke atas. Telanjang! Sambil berjalan ke arah kedua temannya yang juga sudah berbugil ria—lho, kapan mereka melepas celana dalam? Keasyikan memandangi Devita membuatku ketinggalan momen indah itu. Tapi tak apalah. Karena sekarang, dengan teriakan heboh khas ibu-ibu,ketiganya mencemplungkan diri ke dalam kolam. Berbeda dengan Dearani yang tetap melipat tangannya menutupi dada, Cecil tampak lebih riang. Ia mengangkat tangannya seperti hendak melompat sambil melangkah-langkah kecil ke dalam kolam.
“Hati-hati, Mbak. Nanti kepeleset!”
Pandanganku tak jauh dari daerah kemaluannya yang plontos namun berbintik-bintik. Tunas-tunas rambut sudah mulai terlihat di daerah selangkangan yang tampak rajin dicukur itu. Belahan vaginanya tak bisa disembunyikan sama sekali karena tak ada rambut yang tumbuh di situ. Sesekali, mereka saling berpegangan supaya tidak terpeleset. Sesampainya di tengah kolam, ketiganya bermain memercikkan air sambil tertawa-tawa riang. Mereka benar-benar seperti anak-anak. Telanjang dan bahagia. Terdengar jeritan-jeritan kecil dari mulut ketiganya. Mereka benar-benar seperti berperang di tengah cipratan air. Dearani, dengan rambut yang masih terkucir, seperti tak mau kalah. Ia menjebak air di dalam tangannya yang mengatup dan menyemburkannya cepat-cepat ke wajah Cecil. Rambut Cecil yang sepundak terkebas-kebas mengikuti goyangan kepalanya. Beberapa kali aku menyentuh kain celanaku, tepat di posisi kepala penis berada, dan menggosoknya pelan-pelan. Enak sekali rasanya. Tapi kulakukan hanya sekali-dua kali. Aku tak mau tampak cabul di depan para wanita itu walaupun aliran darahku sudah begitu deras tak terbendung. Devita memutar-mutar sendi lengannya beberapa kali. Mungkin sendinya agak keseleo karena keasyikan bermain.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku. Aku hendak beranjak berdiri untuk membantu. Mungkin pijatan kecil bisa melegakan otot-ototnya.
Tapi Devita menjawab singkat, “Ohh, cuma pegal sedikit, Pak. Nggak apa-apa kok.” Payudaranya yang lumayan besar bergoyang-goyang mengikuti gerakan tangannya. Putingnya lebih gelap dibanding dua perempuan lainnya. Kecil dan agak menggantung. Kakinya penuh bulu-bulu lembut yang menjalar ke atas. Dugaanku tepat. Wanita yang dipenuhi bulu-bulu tipis di sekujur tubuhnya, pasti memiliki rambut kemaluan lebat. Betul. Rambut kemaluan Devita tampak paling lebat di antara mereka bertiga. Tak teratur, semrawut, tapi sungguh aku nikmati. Rambut paling bawah agak panjang, menjulur ke bawah seperti sulur-sulur pohon beringin, menutupi belahan vaginanya. Devita merebahkan badannya ke dalam air. Ia menenggelamkan diri. Hanya pantatnya saja yang menyembul keluar. Kepalanya keluar masuk air berkal-kali sambil menyemburkan air ke permukaan. Berulang-ulang, dia mendayungkan tangannya ke belakang, dan tubuh telanjangnya menepi ke pinggir kolam.
“Stop-stop-stop!” Setelah puas guyur-guyuran air, Cecil melepaskan diri dari sergapan Dearani. Tubuhnya sudah benar-benar basah. Licin dan mengkilap. Bulir-bulir air meluncur liar di tubuh molek itu. Ia membalik badan, berjalan perlahan ke tepian. Tangannya agak dibentangkan untuk menjaga keseimbangan. Pemandangan yang benar-benar luar biasa, aku berusaha tak berkedip saat melihatnya. Hanya jantungku yang
berdetak sangat kencang, dua kali lebih kencang, dan rahangku mengeras, membuat setetes ludah yang masuk ke tenggorokanku mampu menjungkir-balikkan jakun yang menonjol di dalam leher. Dan… mau tak mau, kontolku menegang semakin keras!
“Oh, Cecil… tubuhmu menggairahkan sekali!” batinku dalam hati. Dearani menyusul dari belakang. Payudaranya yang indah ia biarkan terbuka, tak dihalangi oleh apapun, baik menggunakan tangan ataupun jari. Aku dengan bebas memandanginya. Dia berhenti di belakang Cecil dan kedua tangannya memijat-mijat pundak Cecil. Cecil mendesah keenakan. “Mantab, Ran. Aduh! Jangan keras-keras
dong!”
Dearani tertawa dan mengendurkan pijatannya.
Ketiga perempuan itu berdiri membelakangiku, dengan air hanya sebatas paha mereka, menampakkan tiga variasi pantat yang sangat-sangat berbeda. Cecil memiliki bokong yang paling indah, bulat dan gemuk. Dearani, walaupun kurus, punya pantat yang montok dan kencang. Devita, agak tepos tapi tetap seksi. Mereka semua berkulit putih. Sungguh sangat sempurna! Nafasku tersengal-sengal karena jantungku berdetak sangat cepat. Kenyataan yang kulihat di depan mata jauh melebihi harapanku semula. Awalnya aku hanya ingin berakrab-akrab dengan mereka karena hari ini tidak ada perempuan yang bisa kutiduri. Tapi nyatanya, justru aku mendapatkan rejeki yang tak disangka-sangka. Ah, aku kagum kepada mereka bertiga. Belum selesai aku berpikir, tiba-tiba mereka kembali beringsut ke tengah kolam. Sesekali, mereka melirik ke arahku. Di tengah kolam, mereka membelakangiku dan membentuk formasi lingkaran. Punggung sama-sama dibengkokkan ke depan dan kepala mereka seolah-olah saling menempel. Pantat mereka terdorong ke belakang, memancingku untuk meremas pantat montok mereka satu demi satu. Ketiganya sepertinya tengah berbisik-bisik. Gawat, sepertinya ada rencana jahat—atau malah enak? Selesai berbisik-bisik, mereka pun saling menepukkan tangan. Tosss, seperti anak kecil! Dasar ibu-ibu usil. Devita maju mendekatiku. Tubuh bugilnya menghadapku secara frontal. Rambut kemaluannya nampak layu terkena air. Sepertinya ia dipilih oleh kedua temannya untuk menjadi juru bicara.
“Pak,” kata Devita dengan wajah sayu. “kata Cecil dan Dearani, mereka ingin lihat punya…” belum selesai Devita berbicara, Cecil langsung menghambur maju, mendekap mulut Devita. Sebentar mereka bergumul, membuat payudara keduanya memantul-mantul indah. Dearani tak mau kalah, ia ikut memegangi tangan Devita.
“Tidak, Pak. Bukan itu yang kami bicarakan tadi,” kata Cecil menyela.
“Iya, Pak.” kata Dearani membenarkan sambil meremas payudara Devita keras-keras—mungkin biar sakit dan jadi pelajaran. “Maksud kami, tidak seru juga kalau Bapak nggak ikut mandi. Masak cuma jadi penonton?”
Wah, mereka sudah mulai memancing rupanya. Baiklah. “Tapi, saya nggak bawa baju ganti.” kataku berkilah. Pura-pura jaim lah, masak langsung mau. Padahal, aku sudah ingin sekali terjun ke kolam, menyentuh kulit mereka yang lembut dan bersih satu demi satu.
“Memangnya kita berenangnya sambil pakai baju?” gugat Cecil. Devita dan Dearani tertawa di belakangnya Kembali aku berpura-pura, berpikir sejenak. Kemudian, “Oke deh.” Aku berdiri dan menyambut ajakan mereka. Kaos kulepas dan kakiku kuceburkan ke kolam.
“Lho, Pak, berenang kok bawa hape? Nanti rusak lho.” Cecil menunjuk ke arah celanaku. Devita menahan senyum. Tapi Dearani penasaran dengan objek yang ditunjuk Cecil itu. Sial. Ini bukan ponsel, sodara-sodara! Saking antusiasnya aku pada mereka bertiga, aku sampai lupa kalau penisku sudah mengeras seperti batu, dan sekarang tampak menonjol di balik celana.
“Itu bukan hape, Cil.” bantah Devita. “Masak hape panjang begitu!”
“Terus apa donk?” Cecil bertanya serius. “Apaan itu, Pak? Punya Bapak, ya?” Dia mesem kepadaku. Karena kedinginan, Cecil melipat tangannya ke depan tubuhnya dan berjongkok. Payudaranya yang tertekan paha jadi kelihatan melebar keluar. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala melihatnya. Dearani tetap menatap celanaku dengan sorot mata tajam. Devita membasuh tangannya sambil sesekali melihatku.
“I-ini… b-burung… ku!” kataku tergagap.
“Ooo…” jawab Cecil dan Dearani serempak. “Kok bisa besar sih, Pak?” tanya Cecil setelah terdiam sesaat, senyumnya kian melebar.
“Tuh, kan… Cecil sudah nggak sabaran deh.” sindir Devita, yang langsung dibalas sikutan ringan oleh Cecil. Aku harus menjawab apa? Terdiam sejenak, dan melangkah maju ke depan, aku pun berkata. “I-iya. J-jadi ngaceng gara-gara m-melihat kalian t-telanjang begini,”
“Jadi Bapak senang ya lihat kami bertiga telanjang?” kata Devita cekikikan. Tangannya diturunkan ke pinggul sambil setengah berkacak
pinggang. Ia masih cekikikan sendiri sambil pura-pura sok cuek bulatan payudaranya kupandangi.
Hmm, apa yang mesti kulakukan? Apa aku nekat saja ya mencopot celana? Penisku sakit karena tertahan kain celana. Ketiga perempuan di depanku juga sudah telanjang bulat. Kenapa aku tidak ikutan juga? Mereka pasti tidak akan keberatan. Maka, kuputuskan untuk mengakhiri saja penderitaanku itu. “Boleh saya ikut telanjang?” aku berkata.
Dearani terdiam, tetap menatap tonjolan penisku—dia sama sekali tak berkedip sedari tadi, terlihat begitu penasaran dan mengaguminya. Devita mengangguk. Sedangkan Cecil menjawab, “Silakan, Pak. Siapa juga yang melarang!”
“Iya, nyemplung sini, Pak. Bugil seperti kami.” tambah Devita.
“Tapi kalian jangan kabur ya?” Aku bersiap-siap menurunkan celana. Cecil tersenyum sambil mengacungkan jempol. Dearani memalingkan wajahnya dalam-dalam ke arahku. Devita mengangguk pelan, tanda tampak setuju. Langsung aku luncurkan celana pendekku. Dalam sekejap, sama seperti ibu-ibu itu, aku sudah bertelanjang bulat. Sekarang, penisku mengacung tinggi. Panjang dan besar sekali. Aku berdiri tegap, memamerkan semuanya kepada ketiga perempuan itu, tanpa terkecuali. Aku cukup percaya diri dengan ukuran kontolku yang kaku dan berotot. Kubiarkan penisku berdiri tegak menantang mereka, tanpa kututupi sama sekali.
“Ih, Pak! Kok sama seperti punya Devita sih, rimbun!” kata Dearani mengomentari bulu jembutku yang lama tak tercukur. Dia tak mau melepaskan pandangan dari penisku, terus menatapnya dengan paras ingin tahu.Aku menceburkan diri dan berjalan mendekati mereka. “Iya. Lebih kelihatan garang kalau begini. Betul nggak, Mbak?” tanyaku pada Cecil. Cecil tersenyum kecut dan membiarkanku mencipratkan air ke wajahnya. Aku bersandar di tepian kolam. Kusuruh mereka mendekat. Ketiganya melangkah malu-malu. Setelah Dearani berada dalam jangkauan, kulingkarkan tangan ke arah pinggulnya dan jari-jariku berhenti tepat di pantatnya. Kucubit di dalam belahan pantatnya yang montok dan kenyal. Dearani agak kaget tapi tidak protes. Ia tersenyum kecil. Ingin kucium pipinya karena wajahnya sudah begitu dekat. Tapi belum juga aku mendorong bibirku, Cecil sudah menginterupsi. “Pak, a-aku boleh pegang?”
“Silakan saja. Sentuh kontolku sesuka kalian!” jawabku senang. Jari telunjuk Cecil mendarat tepat di lubang kencingku, dan dengan gerakan halus ia menggesekkan jarinya ke arah bawah, menuju ke testis. Aku sedikit menggelinjang. Jepitan jariku semakin erat menggigit pantat Dearani. Kaget, Dearani melihatku sejenak dan langsung memalingkan wajahnya kembali. Ia melihat penisku yang sudah cenat-cenut ke atas dan ke bawah.
“Lagi, Cil.” kata Devita singkat memberi semangat, “Sepertinya Pak Bakri suka burungnya kamu gitukan!” Dia mengguyurkan air dingin berkali-kali ke atas penisku yang tegak. Dan tiga jari Cecil menggenggamnya, dengan jempol menggosok-gosok bagian bawah seperti tadi. Berkali-kali!
Ah mantab! Aku mulai menggelinjang.
Gara-gara getaran tubuhku, Dearani sampai harus melingkarkan tangannya dan memegang pundakku erat-erat untuk menjaga kestabilan tubuhnya. Jarak bibirku dan bibirnya sudah sangat dekat. Kuberanikan untuk mencium dan
mengulum bibirnya.
“Hmmp!” Dearani tidak protes. Ia diam saja, seperti turut menikmati. Tanganku yang satu menganggur tak mendapat pekerjaan. Karena seluruh tubuhku sudah merasa keenakan, kuraba-raba perut Devita yang sudah mendekat, dan dengan mata tertutup, kujelajahi payudaranya. Dengan menggunakan jari-jariku, kumainkan putingnya. Kujepit lembut, kugosok, kutekan-tekan. Devita mendesah-desah kecil dan membalas perbuatanku dengan cara memelintir putingku lembut. Tiba-tiba aku merasa penisku sangat lembab dan becek, namun tetap seperti sedang digosok-gosok. Aku penasaran, apa yang terjadi? Kulepaskan cumbuanku dari bibir Dearani untuk menengok sejenak apa yang Cecil
lakukan. Astaga! Wanita usil itu sudah memasukkan penisku ke dalam mulutnya tanpa minta permisi. Dearani, yang ciumannya sudah kulepas, ikut-ikutan melirik ke arah penisku dan memelototkan matanya yang sipit sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar.
“Hei, apa yang…” seru Dearani tertahan. Namun Devita, sambil masih keenakan, tak ingin terpancing. Ia menahan punggung tanganku agar aku tak melepaskan jari-jariku. Ia ingin aku tetap
mencubit-cubit putingnya. Karena sudah tidak merangkul Dearani lagi, maka aku putuskan untuk memainkan puting Dearani juga. Dearani tampak keenakan. Kepalanya maju mendekati dadaku, dan dia menjilat putingku dengan lembut. Lidahnya kaku namun sangat hangat. Setelah beberapa saat, Cecil membebaskan penisku dari mulutnya yang lembut. Ia berdiri pelan. Lalu aku maju dan memeluknya serta menciumnya erat-erat. Penisku menempel di perutnya. Aku menaik dan menurunkan pantatku pelan-pelan agar penisku tergesek. Enak rasanya. Kucabut bibirku dari bibir Cecil yang basah karena sekilas kulihat Dearani sudah mau mentas dari kolam. Ia sudah bersiap-siap naik ke permukaan. “Mau kemana, Mbak?” tanyaku heran. Aku berharap Dearani tidak ingin menyelesaikan permainan ini sesegera mungkin.
“Pipis sebentar, Pak. Sudah kebelet!” jawabnya tersenyum. Ia berlari kecil ke arah rumah masih dengan tubuh telanjang, dan menghilang di dapur. Bagian belakang tubuhnya kelihatan indah. Ah biarlah, nanti Dearani pasti kembali lagi. Aku beralih ke Devita. Kupegang tangannya dan kutarik ke bawah. Aku berbaring di dalam air
sehingga Devita sedikit berlutut. Tanganku yang satu mendorong pantatnya maju. Devita mendekatkan badannya ke arah wajah, mengangkangiku.
“Maju lagi, Mbak. Nah, cukup!” perintahku ketika selangkangannya tepat mendarat di atas bibirku. Kemaluannya merekah dan lubang vaginanya yang berwarna coklat muda terbuka di hadapanku. Tanpa banyak komando, kujilat bagian bibir vagina itu dengan liar. Devita menggelinjang hebat. Kupegangi pinggangnya biar badan Devita tetap stabil menunggangiku. Devita sangat menikmati jilatanku. Lidahku menari-nari semakin liar, seluruh lubang dan bagian dalam vaginanya sudah kujilati. Agak asin. Pipiku geli tertusuk-tusuk rambut kemaluannya yang lebat. Cecil merayap di sebelah kiriku. Mengamati seksama gerakan lidahku yang liar menjilati memek Devita. Berkali-kali ia mengusap rambutnya yang basah ke belakang telinganya, terlihat begitu bergairah. Kulepas tangan kiriku dari pinggang Devita dan mengarahkan jari telunjukku ke arah mulut Cecil. Cecil menanggapi tawaranku itu. Ia mengulum kencang jari yang telah kusodorkan. Lewat sela-sela kaki Devita, aku mengintip Dearani sudah menceburkan dirinya lagi ke dalam kolam. Kudorong pelan pantatku berkali-kali ke atas permukaan air. Penisku menyembul dan tenggelam, berusaha memancing Dearani. Sepertinya Dearani memahami isyaratku. Ia jongkok di selangkanganku dan menjebak air menggunakan kedua tangannya yang mengatup. Air pun dikucurkan ke atas penisku. Lalu, mulutnya mendekat. Sempat berhenti sejenak, ia membuka bibirnya yang mengkilat, dan mulai mengulum penisku. Awalnya, hanya kepala penisku saja yang dikulum. Ia memutar-mutar bibirnya dan menggesekkan lidahnya tepat di kepala penis. Setelah puas, Dearani menelan sampai pangkal penis. Naik-turun kepalanya mengulum penisku. Aku berusaha menaikkan pantat agar penisku tak tenggelam. Takut hidung Dearani kemasukan air. Aku berusaha untuk merasakan semua sensasi ini satu demi satu. Devita mendesah-desah hebat. Aku pun sebenarnya ingin mendesah, namun lidahku sibuk memanjakan liang memeknya. Cecil memegang pergelangan tanganku dan menarik jariku keluar dari mulutnya. Lalu dengan pelan, menuntun tangannya ke arah lubang memeknya. Lantas, ia memintaku menempelkan jari-jari itu ke memeknya yang botak.
“Gesek, Pak!” pintanya lirih.
Aku mainkan jariku ke lubang vaginanya yang lembab. Kogosok-gosok tepinya dan sesekali, aku memasukkan sebagian ruas jariku ke dalam celah kemaluannya. Aku menjaga agar sodokanku tak terlalu masuk. Takut membikin
dia sakit. Cecil mendesah-desah dan berkali-kali menggigit bibir bawahnya. “Mantab, Pak. Belum pernah aku seenak ini. Duhh…” ia merintih kecil.
Pengalaman sore itu sungguh luar biasa. Semua wanita sudah tidak ada yang menganggur. Mereka bersatu padu memanjakan aku yang tua ini. Tua namun sangat-sangat jantan!
“Pak,” desah Devita. Ia mengeraskan cengkeraman tangannya ke pundakku. Agak sakit karena kuku Devita yang panjang menembus kulitku sedikit. Dia semakin menggelinjang. Sepertinya mau klimaks. Kumainkan lidahku lebih liar lagi. Tidak hanya tepi-tepi vagina saja yang kuhisap-hisap. Kujulurkan lidahku panjang-panjang ke dalam lubang memeknya yang semakin basah itu. Akibatnya, Devita semakin mendesah dan menjambak rambutku. Berkali-kali ia memanggilku.
“Pak! Enak, Pak! Uuhhhh… Oohhh… enak!!”
Gelinjangannya semakin kuat dan seperti mengejan. Aku menjerumuskan lidahku dalam-dalam, terus menghisap rakus. Sampai Devita menahan lalu… melemas. Napasnya tersengal-sengal. Lidah sudah kucabut dari memeknya. Dengan masih mengatur napasnya yang tak teratur, Devita berdiri dan melangkahiku. Sekarang, bisa kulihat Dearani yang dengan jelas sedang menikmati batang penisku. Aku ingin memuaskan Dearani yang terakhir, karena ia yang paling manis. Juga satu-satunya yang berjilbab bila di sekolah. Jadi, perlakuannya harus yang paling istimewa. Walaupun kocokan Dearani istimewa, tapi aku masih bisa menahan agar tak puas terlebih dulu. Sekarang giliran Cecil. Aku pingin memuaskan perempuan bertubuh sintal itu dulu. Dengan menggunakan satu tangan, kugiring Cecil ke atas wajahku, sama seperti yang kulakukan terhadap Devita yang sekarang sudah duduk di tepi kolam, wajahnya tampak lelah tapi sepertinya ia begitu puas.
“Siap-siap ya, Mbak. Pegangan!” kataku sambil memberinya aba-aba. Cecil mengangguk kecil.
Kedua tanganku meremas buah dadanya yang bulat dan besar, terasa empuk sekali. Ia sudah menggeliat-geliat walaupun lidahku belum kumainkan. Matanya terpejam, berusaha mengonsentrasikan rasa enak dalam pikirannya.
Karena tak tega melihat raut muka yang tak bisa menahan rasa nikmat itu, aku langsung memainkan memeknya yang plontos dengan menggunakan lidah. Diapit oleh paha mulus nan sintal, memek Cecil terasa lebih sempit. Jadi
kugoyangkan lidahku ke kanan dan ke kiri, berusaha membuka lebar-lebar lubang memeknya. Bau keringat wanita yang sedang dimabuk birahi, menyeruak menyentuh hidungku. Tidak wangi tapi membuat sensasi tersendiri. Lidah kugesekkan ke lubang kencingnya. Gara-gara aksiku itu, Cecil menaikkan pantat dan melakukan gerakan maju mundur. Memeknya menyapu wajahku naik dan turun. Gawat nih, Cecil lebih agresif dibanding Devita. Maka aku menjilat apapun yang bisa kuraih dengan lidahku. Tanganku memainkan putingnya.
Dearani menghentikan sejenak kulumannya. Sekarang, ia melirik ke arah bawah dan memegang testisku. Diremas-remasnya benda berbentuk telur itu. Wah, sungguh luar biasa enaknya.
“Sabar, Mbak. Sebentar lagi kamu bakal aku service juga,” teriakku dalam hati.
Tak berapa lama, Cecil menggelinjang hebat, seperti Devita yang hendak orgasme. Satu tangan kuturunkan untuk melingkari pinggangnya. Kubelah pantatnya menggunakan jari telunjuk sampai aku mendaratkan ujung kuku di lubang pantatnya. Kutusuk lubang itu sambil membayangkan bagaimana guratan-guratan lubang pantat Cecil. Cecil semakin menjadi-jadi. Dan tak berapa lama kemudian, ia melenguh keras. “Aahhhh…” seperti jeritan yang tertahan.
Tubuh montoknya berhenti bergoyang. Ia terdiam beberapa saat. Setelah itu, ia menungging sejenak dan payudaranya jatuh di wajahku. Kucium puting payudara itu beberapa saat lamanya sampai Cecil menarik badannya dan berjalan ke tepi kolam, bersandar di sana. Matanya masih terpejam, berusaha menikmati sensasi yang baru saja ia alami. Dearani, sekarang giliranmu! Aku bangun dan Dearani melepaskan tangannya dari area kemaluanku. Ia
ikut berdiri dan tersenyum kecil. Tangannya menyilang di dada. Mungkin ia kedinginan. Aku cium dia dulu dan mengurai tangannya supaya aku bisa melihat payudara kecilnya.
Kucium payudara itu kanan dan kiri dengan liar. Dearani terperanjat. Wanita paling manis ini langsung menaikkan kakinya setengah, lututnya menempel di pinggangku. Kucegah lutut itu agar tidak jatuh ke bawah dengan menggenggamnya erat-erat. Lidahku menjelajahi dada, turun ke perut, dan sejenak berhenti di pusar. Kugoda Dearani dengan cara menghisap-hisap lubang pusarnya. Dearani melenguh-lenguh keenakan.
“Shhh… Pak! Hh… hhh…!”
Lalu, lidahku turun ke arah belahan vaginanya, melewati rambut kemaluannya yang tumbuh jarang. Kujilati memek itu naik dan turun. Masuk
dan keluar. Berkali-kali. Dearani mengaduh. “Ahh… aduh! Aduduh! Hmm… aduh! Ampun, Pak!”
Setelah puas, kubiarkan kakinya turun. Aku menyuruh ia membelakangiku. Kudorong pelan pundaknya ke bawah agar ia menungging. Lalu aku berlutut agar wajahku tepat segaris dengan pantatnya. Kedua tanganku meremas belahan pantatnya, kanan dan kiri. Dan dengan menggunakan dua jempol, kubelah pantat itu. Lubang pantatnya merekah. Guratan-guratan otot menutup lubang itu rapat-rapat. Karena gemas, aku jilat-jilat pelan lubang pantat itu. Dearani menggelinjang kecil setiap kali lidahku mendarat di lubang pantatnya. Sensasinya sungguh luar biasa bisa menciumi pantat Dearani yang terlihat paling montok dibanding kedua ibu-ibu yang lain. Otot lubangnya kerap berdenyut-denyut, membalas rasa nikmat yang kuberikan. Lantas, aku berdiri dan memasukkan penisku ke belahan pantatnya. Tangan kiriku meremas payudara kiri Dearani dan tangan kananku menyusup ke area kemaluannya. Rambut-rambut tipis yang menghiasi area pribadi Dearani, menuntunku untuk menemukan lubang kenikmatan perempuan cantik ini.
Kugesekkan penisku semakin cepat. Dearani merintih-rintih. Punggungku kutekuk ke depan dan kucium batang lehernya. Lubang kemaluan Dearani sudah mulai basah dan berlendir. Jadi, aku lebih bersemangat memainkan jari. Pantatnya menjepit penisku erat-erat.
“Uhhh… Ohhh…” desisku pelan. Dearani tak mau kalah, “Ahhhhhhh… ahhhhhhh… hmmmffpphhh…”
Cecil dan Devita mengamati kami dengan serius. Wajah lelah mereka masih terlihat, tapi mereka tetap antusias menatapku yang sedang sibuk melayani Dearani.
“Kumasukkan ya, Mbak?” aku meminta.
Tapi Dearani menggeleng. “J-jangan, Pak. Begini aja, jangan dimasukkan!”
Ah, baiklah. Dia tidak mau kusetubuhi. Walaupun dikuasai rasa enak yang tak tertahankan, aku jadi harus bisa menahan diri. Setelah puas memainkan pantatnya, kuputar badan Dearani. Kusandarkan ke tepi kolam dan pangkal pahanya kuangkat tinggi. Lubang memeknya sudah merekah dan itu memancingku untuk menjilati bagian ini lagi. Rakus aku menyantap memek Dearani. Dia yang mengangkang tampak pasrah. Dearani memutar kepalanya berkali-kali. Kadang-kadang menatapku sambil terus-terusan menggigit lidahnya dan melipat bibir bawahnya.
Vagina Dearani ranum. Bibir vaginanya berbintik-bintik kecil, dan semakin ke dalam, warnanya semakin memerah. Aku mendaratkan lidahku dari lubang kencingnya, ke arah lubang kemaluannya. Tarian lidahku ini membuatnya
semakin menggelinjang hebat.
Tiba-tiba, satu tangan Dearani mendorong kepalaku. Akibatnya, lidahku semakin menusuk lebih ke dalam. Kali ini Dearani ikut menggerakkan pantatnya naik dan turun. Ia begitu menikmati irama permainanku. Semakin lama semakin kencang, dan akhirnya, sama seperti dua wanita lainnya, ia berhenti sejenak dan otot-otot tubuhnya mengeras. Rambutku pun dijambaknya erat-erat.
“Ahhhhhhhh…” desahnya panjang. “Uuuuhhhhh…” ia menghembuskan nafas setelah menahannya beberapa detik. Lalu ia terkulai dan perlahan-lahan menurunkan kakinya yang mengangkang itu. Tapi permainan belum selesai. Kudorong pundak Dearani ke bawah dan setelah penisku berada tepat di wajahnya, kudorong penis itu masuk ke mulutnya lagi. Dearani, yang masih tersengal, menyanggupi permintaanku. Ia mengulum lagi batang penisku. Kali ini, aku menggerakkan penisku seperti jika aku melakukan penetrasi di lobang vagina.
“Aaaahhhh…” desahku tiada henti. Gigi-gigi Dearani mulai menggigiti penisku. Berkali-kali ia mencabut penisku dari mulutnya dan memasukkannya lagi. Menambah kesan geli plus nikmat yang tiada tara. Tak berapa lama, penisku menegang dan memanas.
“Mbak…” ucapku lirih. “Enak!” kataku bermanja. Dearani semakin semangat menjerumuskan penisku dalam-dalam. Aku tahu sebentar lagi spermaku bakal memancar keluar, tapi kucegah, kutahan sekuat tenaga.
Kulambaikan tanganku ke arah Cecil dan Devita agar mereka merapat ke tempat kami berdua sedang menggelinjang nikmat. Mereka berdua tahu maksudku. Devita dan Cecil berdiri di kanan kiriku sambil mengamati penisku yang timbul tenggelam di balik bibir mengkilap Dearani. Mereka berinisiatif memainkan putingku. Satu wanita memainkan satu puting. Devita di kiri dan Cecil di kanan. Aku jadi bagai Raja yang sedang dikelilingi oleh para selir. Nikmat itu membuatku semakin menggelinjang dan…
“Aahhhhh…” aku mendesah panjang. Napasku tertahan. Jantungku berdetak kencang. Kepala penisku memerah saat meledakkan segala isinya. Kutarik penisku dan kubiarkan spermaku yang putih kental melenting ke sana kemari tanpa arah, menempel di wajah Dearani yang manis. Pipi Dearani yang tirus menjadi begitu lucu karena tercecer tumpahan sperma. Ia seperti bayi yang wajahnya tercurah susu yang tumpah dari botolnya, tapi kali ini susunya begitu kental dan amis. Dearani memandang ke arahku yang masih mengatur napas sambil tersenyum. Ia menjentikkan jari telunjuknya. Sepertinya, ia merasa puas karena berhasil membuatku klimaks. Sedikit sperma masih ada di bibirnya, meleleh seperti susu putih. Ia memainkan ekspresi mulutnya dan berdiri pelan-pelan. Kucium bibirnya untuk membersihkan sperma yang menempel di situ. Gara-gara keenakan, aku tak sadar kalau beberapa milidetik pertama orgasme, spermaku masuk ke mulut wanita yang sehari hari berjilbab ini.
Dari sela gigi-gigi, aku masih melihat lendir itu menggenang di lidahnya. Dearani mengatupkan bibir dan jari telunjuknya menahan bibir itu. Sepertinya, ia sedang berusaha untuk menelan.
“Hmm, Mbak benar-benar sungguh istimewa!” Kusapukan tanganku ke rambutnya yang basah dan berantakan, serta kucium keningnya. Sisa-sisa sperma masih menetes dari ujung penis, menarik perhatian Cecil dan Devita. Tampak mereka ingin menangkap tetesan itu, tapi ragu-ragu. Mungkin merasa geli. Mereka memandang penisku beberapa saat lamanya dengan penuh rasa kagum. Puas. Aku menciumi mereka satu demi satu. Aku bersandar lemas di dinding kolam. Membiarkan rasa nikmat itu menjalar dan hilang perlahan-lahan. Mereka bertiga kini sibuk membersihkan diri. Aku cuma mengamati dengan asyik. Cecil membasuh tubuhnya dengan sesekali menceburkan diri. Dearani menggosok badannya yang bugil. Sesekali, aku menelan ludah ketika dia menyelipkan jari ke sela-sela pantatnya yang montok. Devita menggosok lembut kemaluannya. Ia harus lebih memperhatikan area pribadinya itu karena bulunya tumbuh lebat.
Mereka sudah tidak bercanda lagi satu dengan lainnya. Semuanya sibuk mengurusi diri masing-masing. Hari sudah semakin sore. Sebelum anak-anak kami bangun, aku mentasdan berpakaian. Satu demi satu mereka ikut keluar dari kolam, saling bergandengan, menyisakan bulir-bulir air seperti embun yang membasahi dedaunan.
“Ini,” Cecil mengangsurkan handuk kecil, dan mulai saling menggosok satu dengan yang lain, bergiliran. Kami pun berpakaian dan tak lama, aku melihat tubuh mereka sudah tertutup rapi seperti semula. Tak ada lagi bayangan ibu-ibu nakal yang menggodaku dengan ketelanjangan. Semua kembali seperti semula. Sopan dan formal. Sambil menunggu anak-anak bangun, kami berbincang biasa. Entah masalah sekolah, atau keseharian mereka. Tanpa membahas apa yang baru saja kami lakukan. Tapi aku tahu, jauh di dalam hati, pengalaman itu tetaplah
berkesan.

Sorry kentang…..tapi masih lanjut kok!!

Bersambung…

Daftar Part