. Milf At School Part 7 | Kisah Malam

Milf At School Part 7

0
425

Milf At School Part 7

“Masa kamu cemburu?” kataku.
“Ya nggak tahu juga sih, Pak. Tapi sama kontol sebesar dan seenak ini, siapa yang nggak cemburu coba?” kata Shella nakal sambil mengelus penisku.
“Sepertinya Mbak Nanda juga lagi cemburu tuh!” tambahnya.
“Nanda?” Aku mendesah saat penisku kembali menegang karena rangsangannya.
Saat itu kami masih berpelukan mesra sehabis melakoni ronde kedua. Sepulang sekolah tadi, Shella mengundangku ke rumahnya. Katanya ada ibu-ibu lain yang siap untuk kuentoti. Aku senang bukan main. Setelah dua hari puasa, aku ingin lekas melepas dahaga. Namun nyatanya, begitu tiba di sana, si Ibu itu berubah pikiran dan mendadak memutuskan untuk pulang. Jadilah aku hanya bisa garuk-garuk kepala, sange berat. Shella yang melihatku nelangsa—dan didorong juga oleh rasa bersalah karena tidak berhasil menjerat mangsa—akhirnya menawarkan diri untuk menggantikan. Kebetulan juga suaminya lagi tidur di kamar, lelaki itu terlihat sangat lemah karena sakit.
“Maaf ya, Hen. Kupakai dulu istrimu!” bisikku dalam hati pada laki-laki itu sambil kuikuti Shella masuk ke kamar lain yang kosong. Di sana kami bergumul panas hingga tidak terasa sudah jam empat sore ketika Shella meledak untuk yang entah keberapa kalinya, sedangkan pejuhku sudah menyembur dua kali di dalam tubuhnya. Kami hanya break sebentar waktu asar untuk makan, lalu kami kembali bergumul ria di atas ranjang. Tidak hanya seks, tapi kami juga bercanda dan membicarakan banyak hal layaknya sepasang suami istri—padahal usia Shella jauh di bawahku, dia lebih pantas menjadi anakku.
“Ya, Mbak Nanda kesal karena Pak Bakri nggak pernah lagi mengunjungi dia.” Shella berkata.
Aku mengangguk. “Ya, sudah hampir dua minggu sejak terakhir aku menidurinya. Tapi, aku memang lagi sibuk belakangan ini.“
“Sibuk menggilir ibu-ibu lain ya?”
Aku hanya tertawa. “Nantilah, mungkin besok atau lusa aku akan pergi ke rumahnya. Sekarang, kita mandi dulu yuk!” ajakku.
“Mau dilanjut di kamar mandi, Pak?” Shella terkikik geli. Kulumat bibirnya yang tipis sebagai jawaban. “Kamar mandinya di mana?”
tanyaku. “Itu, pas di depan kamar.” Shella menunjuk.
“Keluar kamarnya nggak usah pakai apa-apa ya?” ajakku iseng. “Siapa takut? Hihi,” timpal Shella menggoda. Sebenarnya aku hanya bercanda, tapi ternyata Shella malah setuju. Aku jadi antusias jadinya. “Ya udah, yuk!” Shella bangkit dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu. Melihat tubuh seksinya, gairahku kembali meninggi. Sebelum sampai di pintu, aku keburu menyergap dan memeluknya dari arah belakang. Aku remas-remas dadanya dan aku gesekkan penisku di belahan pantatnya yang sintal. Aku ciumi juga pundaknya yang mulus.
“Ahh… katanya mau mandi, kok jadi begini?” protes Shella.
“Iya, sebentar!” kataku tanpa menghentikan aksi.
Shella membuka pintu, lalu kami berjalan bersama-sama dengan posisi yang tidak berubah. Aku terus menikmati kesintalan tubuhnya dengan meremas, mengusap, memeluk, dan mencium-cium. Shella yang cukup kerepotan kuperlakukan seperti itu, sama sekali tidak menolak. Bahkan dia tertawa-tawa sepanjang jalan menuju kamar mandi.
“Pak Bakri nakal!” Dia merasa geli tubuh telanjangnya kugelitiki.
“Salah sendiri, punya tubuh kok montok begini,” Kami berciuman sesaat setelah aku menyelesaikan kata-kata itu. Aku masih memeluknya dari belakang, tanganku tidak berhenti merangsang bagian-bagian sensitif di tubuhnya. Vagina Shella yang gundul terasa sudah kembali basah.
“Eh, saya punya tantangan buat Bapak!” Shella berkata tiba-tiba
“Apa?”
“Pak Bakri berani nggak jalan-jalan keliling rumah ini sambil telanjang?”
“Kamu duluan, gimana?” jawabku.
“Kalau saya sih sudah sering, Pak. Ini kan rumahku sendiri.”
“Memang apa untungnya buatku?”
“Nanti saya kasih hadiah!”
“Hadiah apa?”
“Ada deh,” Shella tersenyum misterius. “Pokoknya Bapak jalan aja dulu, muter-muter. Cepetan, keburu ada orang, Pak!”
“Oke, siapa takut!”
Aku pun melepaskan pelukan. Saat itu penisku sudah hampir tegak maksimal. Walaupun sepertinya rumah ini sepi, tapi siapa tahu tiba-tiba ada orang yang datang. Aku mulai berjalan pelan mengelilingi ruangan. Dimulai dari dapur, lalu ke ruang tengah, dan terakhir ke ruang tamu. Kamar dimana suami Shella berada sama sekali tidak kumasuki, gila apa!
“Ceklek!” Tiba-tiba kudengar suara pintu ditutup dan dikunci.
“Eh, Mbak!” Aku segera berbalik menyusul Shella yang sepertinya baru saja masuk ke kamar mandi. Kucoba membuka pintunya, ternyata terkunci dari dalam. “Mbak, kok dikunci sih? Mbak sengaja mengerjai aku ya?!” aku berbisik setengah berteriak sambil mencoba membuka pintu, tapi sia-sia. Aku berbalik ke arah kamar di mana tadi kami bersetubuh, ternyata dikunci juga. Sialan! “Mbak, nanti kalau ada orang bagaimana? Buka dong!” aku mulai panik.
“Sebentar, Pak. Sepuluh menit, saya mau BAB dulu!” jawab Shella dari dalam sambil cekikikan
“Ah, jangan bercanda dong, Mbak. Nanti ada orang bagaimana? Awas ya…” ancamku.
Shella tak menjawab. Karena panik, penisku mulai layu; tinggal setengah saja tegangnya. Kucoba menenangkan diri dengan bersandar di tembok luar kamar mandi. Mau pulang juga tak bisa karena semua bajuku berada di dalam kamar yang terkunci tadi. Dia saat bingung itulah, tidak berapa lama aku seperti mendengar ada orang yang masuk ke ruang tamu.
“Mbak…” sapa seorang wanita. “Mbak Shella ada di rumah?”
“Mungkin dia lagi keluar, Dik!” sahut suara laki-laki. Mereka masuk ke dalam, dan semakin dekat dengan tempatku berada.
“Waduh, bagaimana ini?” Tanpa pikir panjang, aku buru-buru setengah berlari ke arah dapur. Ruangan itu tidak berpintu, tapi banyak tempat yang bisa kugunakan untuk bersembunyi. Setelah merasa aman, aku sedikit mengintip untuk melihat siapa yang datang. Rupanya Riana bersama sang suami. Mereka mau menjenguk suami Shella yang dikabarkan sakit. Melihat Riana yang sore itu memakai jilbab kecil, kaos lengan panjang agak ketat, dan celana panjang gombrong, aku yang tadinya panik langsung berubah jadi tenang. Apalagi saat kulihat mereka masuk ke dalam kamar di mana suami Shella berada. Bahkan tiba-tiba saja muncul ide gila di kepalaku, entah darimana datangnya. “Krompyangg!” Kujatuhkan salah satu alat masak untuk menarik perhatian Riana. Rencanaku berhasil karena tak lama kemudian kulihat Riana keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, mencari keberadaan Shella. “Mbak? Mbak Shella?” dia memanggil, tak sadar kalau sudah masuk ke dalam perangkap. Tepat saat dia masuk ke dapur, aku langsung keluar dari tempat persembunyian dan menyergapnya. Riana yang kaget, kontan memberontak, tapi hanya sebentar karena dia langsung mengenaliku
“Eh, Pak Bakri. Kok Bapak ada di sini?” tanyanya, terlihat grogi dan sedikit menundukkan wajah begitu menyadari keadaanku yang telanjang. Tapi sempat kulihat matanya melirik ke arah selangkanganku walau hanya sebentar.
“Iya, saya sengaja menunggu Mbak di sini.” Aku bersikap tenang, santai. Kupojokkan dia ke dinding, kusandarkan punggungnya tepat di sebelah pintu dapur. Posisi kami saling berhadapan, dengan penisku menekan kuat di perutnya. Riana menunduk seperti buruan yang disergap oleh pemangsanya. Merasa tidak ada perlawanan, aku sentuh lembut dagunya dan aku angkat sedikit, lalu kucium bibirnya. Dia tidak terlalu merespon ciumanku. “Hhm… mmm…” Riana mendesah tertahan. Entah dia sadar atau tidak, tapi setelah itu tangannya seperti reflek memegang penisku dengan lembut.
“Kangen ya sama iniku?” tanyaku sedikit bercanda setelah aku melepas ciuman.
“Ahh… Bapak kok nggak pakai baju?” Riana tidak menjawab pertanyaanku, dia menatap penisku sambil sedikit menggigit bibir.
“Gara-gara Shella tuh, saya dikerjai. Katanya mau mandi bareng, eh dia malah mengunci pintu kamar mandi dari dalam!” jelasku sambil menciumnya kembali. Kali ini dia merespon ciumanku dengan lembut.
“Mandi bareng?” Riana tampak terhenyak. “Memang kalian habis ngapain?”
“Masak harus dijelaskan, Mbak,” Aku tertawa.
Riana berjengit saat aku mulai membelai-belai tubuh sintalnya. “Ah, j-jangan, Pak. Suamiku ada di luar. Kita nggak boleh…” Dia berusaha melepaskan diri. “Saya lihat mantera dari Dukun Jukardi sepertinya ampuh. Suami Mbak sudah mau pulang. Sekali lagi kita melakukannya, saya yakin dia bakal sepenuhnya kembali ke pelukan Mbak.” aku berkata.
“I-iya, tapi…” Riana menepis tanganku yang mencoba merambat di dada.
“Ayolah, Mbak. Sebentar saja. Saya lagi sange nih,” Kutunjukkan penisku yang lagi ngaceng kepadanya.
“Lakukan saja sama Shella, a-aku…”
“Sebentar saja, Mbak. Secelup dua celup. Saya sudah kangen sama tubuh Mbak Riana!” Lagi-lagi aku mencium bibirnya.
“Hmm… i-ini nggak boleh, Pak. Tolong lepaskan aku!” Permintaan yang lucu karena sebenarnya aku tidak melakukan apapun terhadapnya kecuali mencium, kedua tanganku ada di dinding di samping kanan dan kirinya. Malah dia yang dengan erat memegangi penisku. Sadar akan kehilafannya, cepat Riana melepaskan. Wajah cantiknya memerah. “J-jangan sekarang, Pak! Nanti malam saja,”
“Bener ya, nanti malam?”
Dia mengangguk, lalu bergegas pergi ke kamar mandi. “M-Mbak! Mbak Shella! T-tolong buka pintunya, biarkan Pak Bakri masuk.” Ketuknya perlahan.
“Iya, bentar. Aku lagi cebok,” jawab Shella santai. Dia memang sudah tahu petualanganku dengan Riana, jadi tak kaget lagi.
“Cepetan, Nanti keburu suamiku datang ke sini,” Riana kembali berkata.
“Iya, iya!” Terdengar suara kunci dibuka.
Riana menyingkir ketika aku melesat ke kamar mandi. “Terima kasih, Mbak,” Kukecup pipinya sebelum menutup pintu. Di dalam, Shella menyambutku dengan memeluk mesra. “Hihi, maaf ya, Pak.”
“Uhh… Mbak bikin saya deg-degan aja.” Kutatap matanya. Dia tersenyum kemudian kami saling berciuman mesra.
“Tapi senang kan, bisa ketemu sama Mbak Riana?” godanya di sela-sela ciuman. Aku mengangguk dan kembali memagut bibirnya ganas. “Hhmm… hmmm…” Kami berciuman sangat panas. Lidah kami saling membelit, saling hisap, saling bertukar ludah. Kuremasi bokong bulat Shella dengan gemas, dia pun meremasi penisku.
“Hhh… sambil mandi yuk!” ajaknya kemudian. Kami melanjutkan aksi di bawah guyuran air. Dingin, tapi sangat nikmat. Hangat tubuh Nisa sanggup membakar gairah tuaku. Puas berciuman, aku menekan pundak Shella ke bawah. Dia yang mengerti, langsung memposisikan diri berlutut dengan wajah tepat berada di depan selangkanganku. Tanpa perlu kuminta, dia langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya, kemudian mulai menghisap dengan sangat keras.
“Ahh… enak, Mbak! Hisap yang keras! Ahh… yah begitu! Ahh…” Kuberikan intruksi kepadanya. Shella menatapku dengan mulut terus sibuk menjilat. Aku mulai menggerakkan pinggulku menyetubuhi mulutnya. Kuremasi juga bahu dan tonjolan buah dadanya yang sintal. Tidak lama-lama, kucabut penis dari mulutnya dan mengangkat dia supaya berdiri
“Nungging, Mbak. Pegangan ke sana!”
Kubalikkan badannya, memposisikan dia menghadap tembok. Tangannya berpegangan di dinding kamar mandi. Kuusap-usap bokong seksinya beberapa kali, sebelum kemudian blesssss…!! Tanpa basa-basi langsung kutusukkan penisku ke dalam lorong memeknya, lalu menggerakkan pinggulku dengan cepat
“Ahh… kontol Pak Bakri memang enak! Kontol gede… kontol enak… ahh… terus, Pak! Yang keras!” Shella menjerit-jerit keenakan, punggungnya sampai menekuk ke belakang akibat sodokanku. Vaginanya terasa agak kesat tanda lendir vaginanya belum terlalu banyak.
“Ahh… hhh… hhh…” kami mendesah bersahut-sahutan. Semakin lama memek Shella juga terasa semakin licin. Kurang puas, aku memegangi rambutnya dan aku jadikan tali kekang. Satu tanganku juga tak henti meraba-raba bulatan payudaranya yang terayun-ayun liar akibat hentakanku.
“T-tadi… h-hadiah apa y-yang Mbak j-janjikan?” tanyaku sambil mengelusi bulatan bokongnya.
“Hmm… Pak Bakri p-penasaran ya?” tanyanya nakal. Melihatku mengangguk, dia menarik tanganku ke arah lubang anusnya yang terlihat masih rapat. Kucoba membuka lebar-lebar kedua bongkahan pantatnya, lubang anus itu terlihat sedikit menganga. Aku semakin bergairah, karena jujur anal seks bukanlah hadiah yang kukira akan ia berikan.
“I-ini, Mbak?” tanyaku gembira.
“Ahh… Pak Bakri mau?” Shella mengerang keras ketika kumasukkan telunjuk kananku ke lubang anusnya. Ternyata cukup mudah. Bahkan ketika aku tambah jari tengah, juga tidak begitu susah. Malah erangan Shella terdengar semakin keras.
“Ughh… e-enak, Pak. Terus! Tusuk yang dalam! Saya mau keluar!”
Mendengar permintaan itu, kugenjot tubuhnya semakin keras, dan dua jari di dalam anus Shella kudorong semakin dalam.
“Ahhh… aku keluar, Pak! E-enak banget!” Vagina Shella terasa meremas-remas, nikmat sekali. Tapi aku tidak berhenti karena gairahku semakin
meninggi. Kami mencapai puncak hampir bersamaan, tubuh kami terkejang-kejang sebentar lalu berhenti. “Shhh…” desahku dengan cairan sperma menyembur di relung memek Shella. Kuangkat tubuhnya, lalu kupeluk. Dia menolehkan wajahnya ke samping, mengajakku untuk berciuman. Lembut kupagut bibirnya, dengan penisku masih berada di dalam lorong vaginanya—sebelum akhirnya terlepas begitu
ukurannya menyusut.
“Pak Bakri mau mengambil hadiahnya kapan?” tanya Shella setelah napas kami mulai teratur.
“Besok saja. Aku mesti mempersiapkan diri buat pergi ke rumah Riana nanti malam.”
“Berani amat! Suaminya kan lagi ada di rumah!”
“Nggak tahu juga.” Aku mengidikkan bahu. “Lha dia bilangnya begitu. Mungkin Riana sudah punya rencana.”
“Hmm, seperti dia sudah ketagihan sama kontol Bapak!”
“Masak sih?” tanyaku basa-basi sambil menggerayangi puting susunya. Shella menggeliat sebentar. “Semua perempuan yang pernah tidur sama Bapak, pasti akan ketagihan.”
“Termasuk kamu, ya?” Kukecup batang lehernya.
Shella menggelinjang manja dalam pelukanku. “Sudah ah, mandi yuk!”
Akhirnya kami lanjutkan mandi selama beberapa menit, kemudian aku keluar setelah Shella memastikan tidak ada orang di luar ruangan. Riana dan suaminya sudah balik barusan. Aku berusaha untuk tidak terlalu peduli dan langsung pulang saja, aku lebih tertarik membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.
***
Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika hapeku berdering. Tidak langsung kuangkat ketika melihat nama yang muncul di layar. Kubiarkan sampai tiga kali missed call. Baru di panggilan yang keempat, aku menerimanya.
“Halo, Mbak. Ada apa?” suaraku kubuat berat seakan baru bangun dari tidur.
“Pak Bakri di mana, kok belum datang?” tanya Riana.
“Masih di rumah Shella.” jawabku berbohong.
“Lho, kok belum pulang?”
“Lagi tanggung, Mbak!” seruku serak. “Nih Shella mulai minta lagi.”
“A-apa! Memangnya kalian nggak capek?”
“Enggaklah, Mbak.” Aku tertawa. “Shella selalu sanggup bikin saya bergairah!”
Riana terdiam. Mungkin sedang bingung harus ngomong apa. Akhirnya dia berkata, “Pokoknya Pak Bakri sekarang harus ke rumah!”
“Malas ah, malam ini saya mau menginap di rumah Shella.”
“Apa! Gimana kalau Bapak dipergoki sama suaminya?”
“Kalau ke rumah Mbak, saya juga bisa dipergoki sama suami Mbak!”
“Nggak bakalan. Suamiku lagi jadwalnya ronda sekarang!”
“Tapi…” aku tetap jual mahal. “Saya masih malas, Mbak.”
“Pak Bakri nggak mau bantu aku?” suaranya mulai terdengar bergetar. “Pak Bakri tega!”
“Bantu apa, Mbak?”
“Jangan berlagak bodoh, Pak! Kita harus melakukan ritual kalau ingin mantera itu sempurna!”
“Maksud Mbak, kita ngentot lagi, gitu?”
“Jangan kurang ajar ya, Pak!”
“Lho, tapi benar kan… ritualnya memang ngentot. Memangnya ngapainlagi?”
“Pak Bakri!“ dia menjerit.
“Ya sudah. Kalau begitu nggak usah aja. Buat apa pergi ke rumah Mbak kalau nggak ngentot. Lebih baik saya tetap di sini, bisa menyetubuhi Shellasepuasnya!”
Riana terdiam. Ada jeda beberapa saat sebelum dia berkata. “Bapak tega ya! Pak Bakri senang ya kalau aku jadi janda?”
Aku berlagak terdiam sebentar, lalu tertawa. “Tentu saja senang! Saya jadi bisa bebas mengencani Mbak Riana kapan pun!”
Kudengar dia terisak mendengar jawabanku. “J-jadi begitu ya…”
“Mmm… maaf, Mbak!” aku sedikit menyesal. “Bukan maksud saya seperti itu. Tapi…” Aku menarik napas panjang.
“Tapi apa, Pak?” Riana mengejar.
“Buat ngentot sama Mbak, rasanya nggak enak aja.”
“Maksud Bapak?”
“Begini,” aku mulai menjelaskan. ”Setiap kali kita ngentot, masa masih pakai baju. Terus saya juga nggak boleh cium, nggak boleh raba, nggak boleh pegang. Pokoknya, saya merasa nggak nyaman ngentot sama Mbak. Rasanya nggak asyik.”
“Lalu, mau Bapak apa?”
“Kalau ngentot sama Shella, saya bisa ciuman dan pegang-pegang sebebasnya. Tapi kalau sama Mbak, sama sekali nggak ada kebebasan.”
Riana terdiam agak lama. Lalu berkata perlahan, “Ya sudah, Pak Bakri ke rumah sekarang. Terserah nanti Bapak mau ngapain.”
“Tapi, saya lagi nanggung ini, Mbak!” aku pura-pura keberatan.
“Harus sekarang!” Riana sedikit menjerit. “Soalnya besok sudah ganti bulan.” Dia lalu menutup telepon. Ah, iya. Aku sampai lupa kalau hari ini tanggal tiga puluh. Pantas dia ngebet sekali. Dalam hati aku bersorak kegirangan. Buru-buru aku berpakaian dan pamit pada Furi yang sedang menonton televisi. Menantuku itu hanya mengangguk saja tanpa curiga sedikit pun. Aku bergegas pergi ke rumah Riana dengan memacu langkah secepatnya. Mumpung suaminya lagi ronda, akan kuentoti istrinya yang menganggur di rumah. Aku sampai di rumah Riana pukul sembilan. Ruang tamu sudah gelap. Aku bergegas masuk ke dalam. Sesuai sms dari Riana, pintu depan tidak dikunci. Kulihat lampu di kamarnya masih menyala. Kubuka pintu kamar itu perlahan dan kaget melihat Riana sedang tertidur tanpa selimut dengan memakai gaun tidur tipis berenda yang sangat mini. Pemadangan itu langsung membuatku sedikit berkeringat meski udara malam itu cukup dingin.
Gaun tidur Riana tampak hanya sebatas paha, namun karena posisi tidurnya yang miring maka bagian bawahnya tertarik sampai di bawah pinggul. Pantat bulatnya jadi menyembul, menunjukkan ia yang tidak memakai apa-apa. Bagian bawah tubuh Riana polos begitu saja. Telanjang, tanpa celana dalam. Dari pintu masuk, aku hanya bisa melihat bagian belakang tubuhnya. Namun itu pun sudah cukup membuatku gemetar dan ngaceng tak karuan. Segera aku menutup pintu lalu membuka seluruh bajuku. Setelah telanjang, aku beringsut menghampirinya di tempat tidur. “Baru datang, Pak?” tanya Riana perlahan. Ternyata dia belum tidur. Aku tidak menjawab, melainkan memeluk tubuhnya dari belakang. Kontolku kutekan di belahan pantatnya yang sintal. Riana menengok ke belakang.
“Bapak mau cium aku?” tanyanya sambil mengangkat badan dan berbalik, kini posisinya telentang menghadapku yang sedang tidur miring. Posisi kepalaku tepat berada di hadapan pundaknya. Kulihat sekujur tubuh Riana sudah berkeringat sehingga membuat kulitnya mengkilat bak batu intan yang sangat indah. Aku mendekatkan hidung ke batang lehernya. “Saya mau mencium seluruh
tubuh Mbak!”
“Terserah Bapak mau ngapain. Tapi aku kasih tahu ya, aku hari ini belum mandi. Gosok gigi cuma tadi pagi saja.”
Rupanya Riana berusaha membuatku mengurungkan niat untuk mencumbu dengan cara ini. Namun anehnya, aku menjadi kepincut bau tubuhnya yang belum mandi ini. Aku tidak menjawab, melainkan segera menubruknya dari
samping dan membenamkan wajahku ke belahan payudaranya yang bulat dan indah. Aroma tubuh Riana yang tajam memasuki hidungku, dadanya yang lembab membasahi ujung mulutku. Riana tampak kaget dan menarik nafas perlahan saat aku mulai menjilati tubuhnya. Sementara, tanganku juga mulai menyusup dari bawah gaunnya dan merayap ke atas. Tangan kananku menemukan tonjolan payudaranya yang kanan, empuk dan hangat sekali. Gerakanku membuat gaun Riana terangkat sampai ke tengah tubuhnya. Riana juga membantu dengan sedikit mengangkat badan sehingga gaun tidurnya secara mudah tertarik ke atas. Setelah asyik menjilati belahan dada, aku segera duduk dan menarik gaun tidur Riana ke atas sampai terbuka. Riana duduk agar memudahkanku dalam melucuti gaun tidurnya. Kini kami berdua sama-sama telanjang bulat dan duduk saling berhadapan. Tubuh Riana yang berkeringat dan mengeluarkan aroma perempuan yang begitu tajam membuatku tak dapat menahan diri lagi. Lekas aku gumuli dia, kutindih lalu aku sergap bibirnya yang tipis dengan sangat buas.
“Ahhh… Pak!” Riana mengerang kaget.
Awalnya aku merasa seranganku tidak ada perlawanan. Leluasa aku menjilat, mengecup dan menyedoti bibir Riana dengan rakus, sementara kedua

tanganku memeluk tubuhnya yang telanjang dan basah itu. Kedua kaki Riana
yang tadinya rapat, kubuat mengangkang sehingga kini aku berada di antara
kedua kaki jenjangnya. Tangan kananku kutarik untuk mengelusi paha kirinya
yang mulus. Selama itu, Riana belum membalas ciumanku. Dia tetap terdiam, pasif. Maka aku menyedoti bibirnya agar bibir itu membuka. Begitu berhasil, segera kuputar kepalaku lalu mulai menjilat ke dalam mulutnya. Sementara tangan kananku mulai mengelusi pantat Riana yang sedikit kutarik ke atas. Dengan tangan kiri memeluk, kuubah posisi kami sehingga jadi sedikit menyamping. Kuatur agar Riana miring menghadapku. Sampai saat itu, dia masih belum membalas ciumanku. Namun aku tetap rajin menjelajahi mulutnya. Kujilati bibirnya yang diam itu sementara aku meremasi pantat kirinya dengan tangan kanan, sembari pahaku kugesek-gesekkan di bibir memeknya. Lama kelamaan memek itu mulai berubah menjadi basah. Riana tidak melenguh dan juga tidak melarang, hanya tangannya memegangi lenganku perlahan. Kemudian aku mulai mendorong pantatnya ke bawah sambil terus meremas-remas pantat. Gesekan pahaku di celah memeknya juga jadi bertambah keras. Memek Riana kurasa semakin basah dan akhirnya dia membuka mulut untuk mendesah, sambil pegangan tangannya menguat di lenganku.
“Aaaahhhhh…” Mulut Riana membuka dan dengan sigap aku menjulurkan lidah memasuki mulutnya. Serta merta lidahku menempel di lidahnya. Aku jilati lidah Riana sambil sesekali mengecupi bibirnya yang sensual. Dia memejamkan mata. Aku lalu menciumi leher. Riana tetap hanya mendesah tanpa membuka mata. Kucupangi lehernya dan kujilati juga. Lalu aku kembali mengarahkan mulut ke bibirnya yang kini sudah terbuka walau tidak terlalu lebar.
Riana mendesah kala kujilati lidahnya. “Ssshhh… Pak!!”
Kemudian aku mengecupi pipinya sambil menjilat sekali-sekali. Kubasahi juga seluruh wajah Riana yang cantik dengan air liurku, sebelum kembali aku menjilati bibirnya. Riana mendesah lagi dan membuka mulutnya. Aku kembali dapat menjilati lidahnya. Kemudian aku menarik kepala dan sedikit mendorong tubuh Riana dengan kedua tangan. Penuh nafsu keperhatikan kedua bukit payudaranya yang berukuran besar, dengan bulatan yang begitu indah dan menggairahkan. Dengan cepat aku mulai menciumi dada kirinya. Kujilat dulu seluruh gundukannya sebelum beralih ke putingnya yang sudah mancung dan mengeras tajam. Kuberikan cupangan di sekeliling puting itu. Terkadang aku
juga lama mengenyotinya sampai Riana meminta agar aku berpindah ke yang satunya.
Kurasakan payudara kanan Riana lebih lembut dibandingkan yang kiri. Dia menawarkan sensasi bola yang memantul, atau bisa dibilang sofa yang empuk namun berpegas keras, sehingga memiliki cita rasa yang berbeda dengan yang satunya. Setelah payudara itu penuh oleh air liur, aku mulai mengenyot-ngenyot putingnya yang mungil kemerahan. Kunikmati rasa menjepit puting di antara langit-langit mulut dan lidahku. Kubelai-belai puting itu dengan gerakan memutar, kadang juga dengan gerakan menjilat. Saat ini Riana mulai mendekap kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah.
“Ehm… ahhh… shhh… hhh…”
Aku ingin menguji pendiriannya. Kembali aku menjilati bibirnya sampai dia membuka mulut. Tapi saat akan menjilati lidahnya, aku berbisik, “Julurkan lidah
Mbak! Masih kurang ini!” kataku diselingi desahan penuh nafsu. Riana tetap memejamkan mata, namun perlahan lidahnya keluar. Segera aku mengenyoti dan menjilati lidah itu. Kupegang kepalanya sehingga agak tegak, lalu aku mulai meludah tepat ke lidahnya yang terjulur. Riana membuka mata, melihat ketika aku meludah untuk yang kedua kalinya.
“Telan, Mbak!” aku meminta.
Dia menatapku dengan tatapan aneh, lalu menutup mulutnya. Terlihat sejenak dia mengulum-ngulum lalu menelan ludahku. Aku menjilati bibirnya lagi dan Riana otomatis membuka mulut lalu menjulurkan lidahnya, mengajakku berciuman. Sambil melumat, kuraba di bagian bawah. Kurasakan celah memeknya sudah sangat basah kuyup, siap untuk dimasuki. Maka aku menghentikan aksiku untuk sejenak. Kuposisikan dia tiduran dan kutaruh kontolku di depan lubang memeknya. Kemudian aku menghentak, menyetubuhinya.
“Ughhh… Pak Bakrii! Hhh… hhh… shh…” Riana mengerang-erang. Ketika kupeluk tubuhnya, dia balas mendekapku. Pelan mulai kukocok kemaluannya yang sempit dengan batang kontolku. Riana terus mengerang-erang selama persetubuhan itu. Nikmatnya gesekan alat kelamin kami membuatnya melayang, tak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Aku mencium bibirnya dan kali ini dia membalas! Dengan gembira aku terus melumat bibirnya penuh nafsu, dan Riana pun mengimbangi dengan ciuman yang tak kalah ganas. Akhirnya, pertahanan dia sebagai istri yang setia jebol juga! Kamar tidur kini dipenuhi oleh suara selangkangan yang beradu, ditingkahi suara kecipak ciuman dan juga terkadang erangan dan desahan dari kami berdua. Bau tubuh kami berpadu menjadi satu, mengisi segenap penjuru
kamar. Keringat di tubuh kami sudah tidak jelas lagi dari pihak yang mana, karena sudah menyatu seperti halnya tubuh kami yang sudah lengket satu sama lain.
“Auw!” dengan jeritan kecil Riana mencapai orgasmenya yang entah kedua atau ketiga, yang kusambut dengan memuntahkan sperma di lorong rahimnya. Kami berciuman lama sekali, lalu tertidur dengan tubuh tetap berpelukan telanjang. Selepas dini hari baru aku pulang, itu pun setelah Riana memberitahu kalau suaminya sebentar lagi akan datang.
“Bapak ternyata pengecut. Berani meniduriku, tapi tak berani menghadapi suamiku.” dia berkata.
Aku hanya bisa nyengir. “Buat apa membikin masalah, Mbak, kalau bisa melakukannya dengan diam diam” aku menjawab.

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler