. Milf At School Part 6 | Kisah Malam

Milf At School Part 6

0
386

Milf At School Part 6

Bu Irda dan dua orang guru mengarahkan murid-murid keluar dari kelas. Anak-anak yang rata-rata berusia lima tahun tersebut terlihat gembira bernyanyi sambil berjalan membentuk barisan panjang menuju ke ruang tunggu di mana orang tua sudah siap menjemput mereka pulang ke rumah. Seorang ibu muda yang mengenakan rok pendek berwarna putih dengan kaos hijau tanpa lengan melambai ke arah barisan anak-anak. Aku menatap bocah berkepala botak dengan senyum merekah menghiasi pipinya melonjak gembira membalas lambaian tangan mamanya. Aku selalu hafal dengan penampilan ibu muda itu. Penampilan yang sangat nakal dan berani, padahal dia baru saja melahirkan. Rambut pendeknya berkibar setiap kali wanita itu berdiri di barisan terdepan para penjemput. Dia akan melambai kepada anaknya, Nathan, dan memeluk bocah kecil itu sambil bertanya mengenai kegiatan belajar di kelas. Aku suka memperhatikan gerak-gerik kedua ibu dan anak itu, terutama si ibu.
“Mbak Livia, besok ada rapat wali murid. Mulainya sesudah jam sekolah.”
Aku terdiam sejenak ketika merasakan jemari Livia menyentuh ujung jari manisku saat aku menyerahkan kertas undangan.
“Iya, Pak. Lalu?” Ibu muda itu menatapku sambil terus menggandeng anak laki-lakinya yang mulai tidak sabaran.
“Eh, itu… tadi, Nathan muntah sehabis makan buburnya,” Aku berusaha menjaga nada bicara. Jauh di seberang halaman, Shella mengacungkan dua jempolnya kepadaku.
“Nathan! Tadi muntah yah, sayang?”
Nathan menjawab pertanyaan Ibunya dengan anggukan pelan. “Iya. Tapi Nathan maem habis kok buburnya. Lalu si Dhana tuh ngajak Nathan lari-lari. Muntah deh.” bocah kecil itu mulai menjelaskan. “Lalu kena celananya Kakek,”
Nathan menunjuk ujung kemejaku. Aku hanya dapat memasang wajah tersenyum. Sesuai informasi dari Shella, Livia adalah satu dari tiga perempuan yang bisa kutiduri. Dua sisanya masih diusahakan. Tapi khusus untuk Livia ini, Shella sudah memberi lampu hijau. Asal aku pintar dalam merayu, dia pasti mau. Shella hanya memberi satu informasi penting; Livia sedang kesulitan uang. Problem khas ibu-ibu di perumahan ini, yang tentunya bisa kumanfaatkan.
“Aduh, saya benar-benar minta maaf, Pak Bakri.” Livia menundukkan kepala, meminta maaf.
Sedangkan Nathan sibuk menarik tangan Ibunya. “Di sini nih, Mah.” Dia menaruh tangan lentik itu tepat di selangkanganku. ”Celananya Kakek jadi bau deh,” kekeh bocah itu tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sementara itu, aku langsung memasang wajah malu dan salah tingkah saat Livia memperhatikan tonjolan di selangkanganku, dan mengusapnya pelan.
”Aduh, m-maaf ya, Pak. Maafkan anak saya!” kata wanita itu sambil terus mengusap. Kutatap wajahnya yang terlihat grogi, salah tingkah, dan sedikit memerah. Tiba-tiba, muncul keberanianku untuk mengelus-ngelus tangannya, kutekan ke terpedoku yang semakin lama semakin membengkak itu. “Tidak apa-apa, Mbak. namanya juga anak kecil.” Livia tidak berusaha menarik tangannya. Malah, dia terlihat menikmatinya. Tanpa bicara, kuberanikan diri untuk membuka resliting celana. Tampak batang
kontolku yang begitu ketat terbungkus oleh celana dalam, dengan kepala penis sudah menyembul ke atas, seakan berusaha untuk keluar dari sesaknya kain segitiga itu.
“Pak, apa-apaan…” Livia tercekat, tapi tidak menolak ketika tangannya kuselipkan ke balik cd.
“Pegang, Mbak!” aku meminta. Dan Livia melakukannya, genggaman jempol dan jari tengahnya hampir tak saling bertemu karena saking besarnya batang penisku. “Mbak sudah dengar cerita dari Shella kan?” aku bertanya
Dia mengangguk, melirik sebentar batang penisku, lalu berbisik, “Nanti saja Pak Bakri ke rumah. Jangan di sini!” Aku mengangguk mengiyakan. Di saat yang sama, Nathan juga sudah rewel minta pulang. Maka lekas Livia menarik tangannya dan pergi meninggalkanku. Shella yang terus memperhatikan sedari tadi, bertanya dengan gerakan alis ke atas. Kujawab dengan satu anggukan samar dan bergegas menyusul ibu-ibu lain yang mulai beranjak meninggalkan pelataran sekolah.Aku tidak langsung menuju ke tempat Livia. Kuantar Rangga pulang terlebih dahulu agar tidak mengganggu. Baru setelah itu aku bergegas menuju sasaran. Sudah hampir tengah hari ketika aku tiba di rumah Livia. Rumah itu bercat putih. Ini adalah rumah kontrakan, suami Livia menyewanya dengan tarif tujuh juta per tahun, terhitung mahal untuk ukuran perumahan ini. Setelah celingak-celinguk kiri dan kanan, aku segera melangkah menuju pintu. “Mbak… Mbak Livia?” aku memanggil perlahan. Namun tidak ada jawaban dari dalam. “Mbak… Mbak ada di rumah?!” aku mencoba memanggil lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Kucoba membuka gerendelnya, ternyata pintu itu terkunci dari dalam. Setelah duduk sejenak di atas kursi yang ada di teras depan, kucoba lagi ketuk-ketuk pintunya. Namun tetap tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Akhirnya aku putuskan untuk mencoba mengintip dari samping rumah. Aku berjalan memutar hingga menemukan jendela samping yang sedikit terbuka. Kupicingkan mata dan mengintip. Aku langsung tercekat dengan jantung berdetak cepat saat menyaksikan tubuh mulus Livia yang tergeletak di ruang tengah dengan baju setengah terbuka. Payudaranya yang besar dan putih mulus tampak terburai keluar, dua-duanya. Livia tidak menyadarinya karena sekarang dia sedang tidur nyenyak setelah selesai menyusui bayinya. Pantas saja dia tidak bangun saat aku mengetuk pintunya tadi. Di depannya, tergolek sang bayi kecil yang sepertinya juga sudah tertidur pulas. Terus mengintip tanpa berkedip, kunikmati pemandangan yang indah itu. Payudara Livia tampak begitu menggoda: bulat, besar dan putih mulus. Putingnya yang menonjol terlihat mungil kemerahan dan sedikit basah. Ada tetesan ASI yang mengalir keluar dari ujungnya. Melihatnya membuatku jadi terangsang. Aku tak bisa mencegah bahwa tubuh wanita cantik nan molek itusangatlah kuinginkan. Aku segera kembali pintu depan dan mengetuk. Kali ini lebih keras. Aku juga memanggil lebih kencang, “Mbak! Mbak Livia!”
Terdengar ada sahutan dari dalam, “Ya, sebentar.”
Aku menarik nafas panjang, bersiap menyaksikan pemandangan yang bisa memanjakan mata. Dari dalam, Livia memutar kunci dan menarik pintu hingga terbuka. ”Eh, Pak Bakri,” sapanya saat melihatku; seorang lelaki tua yang berdiri cengengesan di depan pintu rumahnya.
“Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat Mbak.” Kulirik bongkahan buah dadanya yang terlihat mengintip malu-malu di sela-sela baju.
“Nggak kok, Pak. Malah, saya sudah menunggu Bapak sedari tadi. Mari, Pak. Silakan masuk.” Livia menyingkir, memberi jalan bagiku untuk masuk.
“Ah, iya.” Aku mendesah merasakan kulit tangan Livia yang begitu halus. Tangannya saja begitu, apalagi tubuhnya!
“Duduk dulu, Pak. Saya ambilkan minum,” ucap Livia lembut.
“Oh, nggak usah repot-repot.” Masih terus menatap tak berkedip, aku duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Sementara Livia berlalu ke belakang, aku mengedarkan pandangan memperhatikan keadaan rumah itu. Kulirik ke ruang tengah, tempat dimana Livia tidur tadi, tampak bayinya masih pulas di situ. Beralih ke kamar, kulihat hanya terdapat sebuah kasur busa tipis dan lemari triplek yang sudah berlubang di sana-sini. Tapi aku tidak mempermasalahkan; beralaskan apapun, kalau menyetubuhi wanita secantik Livia, rasanya pasti akan nikmat sekali. Diam-diam aku menyeringai. Aku harus bisa merasakan tubuh montok itu hari ini. Rencana sudah tersusun matang di otakku, dan melihat sambutan Livia, aku yakin pasti akan berhasil. Tak lama, Livia kembali dengan membawa segelas air putih. Dia meletakkannya di atas meja, ”Silakan, Pak.” tawarnya sambil tersenyum. ”Maaf adanya cuma ini.”
“Ah, tidak apa-apa. Air putih juga enak siang-siang begini,” Aku mengambil dan meminumnya sedikit. “Oh ya, suami Mbak nggak ada, kan?”
“Tentu saja.” jawab Livia malu-malu. “Dia lagi kerja. Mana berani saya mengundang Bapak kemari kalau suami lagi berada di rumah.”
Aku tersenyum. Berarti aku punya waktu seharian untuk mengerjai wanita cantik ini. Aku pun segera menjalankan rencana busukku. ”Mbak tahu kan maksud kedatangan saya kemari?”
Livia mengangguk, tampak takut-takut. ”P-Pak Bakri… m-mau…” Dia tak sanggup meneruskan ucapannya.
“Iya, Mbak. Kita teruskan yang tadi di sekolah!” aku berusaha menekan suaraku agar tetap terlihat tegas.
“Ehm… iya, Pak! Tapi… anu… itu…” Livia makin tergagap.
“Masalah uangnya?” aku terus menekan, suka dengan kekuasaan ini. Livia menunduk makin dalam, ”I-iya, Pak. S-saya butuh uang itu.”
Kuambil tiga lembar ratusan ribuan dari dalam saku, lalu kuberikan kepadanya. “Ini, Mbak, kubayar di muka. Mbak tahu kan artinya?” Tak sabar rasanya. Di dalam otakku sekarang cuma ada pikiran mesum bagaimana bisa cepat menikmati tubuh molek yang ada di depanku ini.
“I-iya, Pak!” Livia mencicit dan mengangkat mukanya. Dia memandang lembaran merah itu. Tiga ratus ribu. Apakah pantas tubuhnya dihargai segitu? Untuk satu kali main, sepertinya itu sudah lebih dari cukup. Dia memandangiku yang tersenyum mesum ke arahnya. Aku menyeringai. ”Ayo, Mbak. Terimalah. Suamimu pasti tidak akan marah, malah dia akan senang karena Mbak sudah bisa membantu meringankan bebannya.”
”T-tapi… bagaimana kalau dia sampai tahu?” Livia masih sedikit bimbang.
“Ya, jangan bilang-bilang. Mbak kan sudah tidak perawan lagi. Kupakai berapa kali pun tidak akan kelihatan.” kataku kurang ajar. Livia terdiam, nampak berpikir keras.
“Bagaimana, Mbak?” aku kembali bertanya. ”Saya tidak punya waktu seharian untuk menunggu jawaban Mbak. Masih banyak ibu-ibu lain yang rela menukar tubuhnya dengan uang ini.” kataku meyakinkan.
Menarik nafas panjang, Livia pun akhirnya membulatkan tekad. Tanpa berani menatap mataku, dia mengangguk.
“Nah, begitu dong. Saya yakin Mbak adalah wanita yang pintar.” sahutku
sambil mendekat dan mencoba merangkul tubuh mulusnya. Tidak berani bergerak, Livia bertanya, ”Nanti cuma sekali kan, Pak?”
“Saya sih cuma sekali,” Kuberikan anggukan kecil sebagai jawaban. ”Tapi nggak tahu kalau Mbak.”
Livia nampak bingung. Dia merubah posisi duduknya dengan makin merapatkan paha, berusaha untuk menyembunyikan vaginanya dari tatapan mesumku. ”Nanti pelan-pelan ya, Pak. Saya baru melahirkan.” bisiknya dengan wajah memerah karena malu. Tanpa menunggu aba-aba darinya, langsung aku sergap dan langsung
kucucup bibirnya yang tipis. Kulumat dengan rakus. Livia nampak terperanjat, tapi sama sekali tak bisa berbuat apa-apa karena aku sudah mendekap tubuhnya. Dia kelihatan bingung harus bereaksi bagaimana. Sedangkan aku sudah meningkatkan serangan dengan menyedot kuat-kuat bibirnya dan mulai memainkan lidah. Terasa sekali jika Livia belum bisa menikmati, karena
responnya masih kaku. Tanganku mulai mengelus rambutnya. Gerakan ini cukup efektif memberi
ketenangan, sehingga gerakannya yang semula ingin berontak jadi melemah.
Secara naluri dia mulai merespon lidahku dan kami berpagutan erat sekali.
Kubiarkan naluri birahiku menuntun ritme ciuman, yang aku yakini juga akan
mengalir di tubuh Livia sehingga birahinya jadi turut terbangkitkan.
Hampir lima menit mulut kami bertemu. Liur tumpah saling menetes. Tidak
jelas ludah siapa yang meleleh, tetapi baik mulutku maupun mulutnya telah
banjir oleh air liur. Livia dengan malu menyandarkan kepalanya ke dadaku sesaat setelah ciuman kami terlepas. Segera kuposisikan dia telentang. Napasnya mulai terlihat memburu, suatu pertanda bahwa nafsu birahinya mulai mencuat. Kuciumi keningnya, pipinya, lalu telinganya kiri dan kanan. Aku kemudian dipeluknya erat sekali. Aku pun merespon turut memeluknya. Tanganku menggapai punggungnya, meraba-raba ringan. Sesaat kemudian pelukannya melonggar dan aku kembali beroperasi menciumi lehernya untuk menjaga agar gairahnya tidak turun. Aku merasa detak jantung Livia berdebar cepat. Untuk menaikkan birahi, aku kembali mencucup bibirnya. Kali ini ia mersepon dengan tepat. Bibirku dan mulutku disedotnya kuat sekali. Kubiarkan saja, kuturuti kemauannya. Meskipun aku ingin lebih dari sekedar ciuman, aku berusaha menahan diri untuk tidak merambah ke lain tempat. Padahal tanganku sudah gatal ingin meremas bulatan payudaranya yang terasa empuk dan cukup kenyal ketika menempel di dadaku. Setelah berciuman seru sekitar sepuluh menit, Livia kembali melepaskan pelukan. Kami berbaring bertindihan di kursi ruang tamu. Beberapa saat kami terdiam, saling memandang. Hanya tangan kiriku yang meremas tangan kanannya dan dia balas meremas juga. Terus terang aku hampir kehabisan napas kala mengimbangi lumatannya. Meski bibirnya tipis, namun enak sekali saat dikenyot. Aku mengambil posisi telungkup, sedang Livia telentang. Tangan kanannya tidak sempat lolos dari tindihan badanku. Ini memang aku sengaja dan dengan gerakan yang seperti tidak sengaja aku menempatkan posisi kontolku yang masih terbungkus celana berada persis di atas telapak tangannya. Dia pasti bisa merasakan betapa keras batangku yang menekan di telapak tangannya. Aku tersenyum saat merasakan telapak tangan itu tidak bergerak. Dengan gerakan yang kembali seolah-olah tidak sengaja, kugoyang-goyangkan kemaluanku menekan telapak tangannya. Livia awalnya terlihat agak ragu, tetapi telapak tangannya mulai bereaksi dengan menggamit dan membelai pelan. Kucoba mengangkat sedikit posisi badanku sehingga tidak terlalu menindih telapaknya, dan Livia mengejar penisku yang bergerak agak menjauh sedikit. Pancinganku berhasil. Livia rasanya sudah tidak ragu-ragu lagi, dia mulai meremas-remas celanaku yang menyimpan benda panjang kebanggaanku. Setelah aku yakin dia tidak lagi malu, kurubah posisiku dengan duduk di sampingnya. Otomatis telapak tangannya terlepas dari selangkanganku. Kubimbing tangan lentik itu untuk hinggap di atas celanaku yang membusung. Livia melemas menuruti arahanku. Begitu berada di atas batang penisku, kuminta dia untuk meremasnya.
“Yah, terus begitu, Mbak!” aku merintih. Sambil aku ciumi pipinya yang halus, tanganku yang satu lagi secara hati-hati membuka celana sampai barangku tinggal terlapisi celana dalam saja. Pembungkus yang tipis dan elastis membuat Livia dengan mudah menemukan bentuk alat vitalku yang semakin jelas. Besar dan panjang. Dia terus meremas dengan semakin keras. Ini berarti aku diperbolehkan membuka celana dalamku. Kugeser ke bawah kain tipis itu sambil kubimbing telapak tangannya untuk menggenggam kemaluanku yang sudah tanpa penutup lagi. Dengan gemetar Livia melakukannya.
“Keras sekali, Pak!” katanya.
Dia terus meremas, sementara aku mulai memelorotkan seluruh bagian celanaku sampai terlepas. Tangannya mengeksplor seluruh kemaluanku. Semua dia jamah, bahkan sampai ke kantong pelir juga ia remas-remas.
“Aduh, jangan keras-keras, Mbak. Bagian itu sakit kalau terlalu keras diremas!” kataku.
Penasaran ingin melihat bentuk yang sesungguhnya, Livia bangkit dari tidurnya dan duduk di sampingku. Kini aku yang gantian berbaring. Kubiarkan dia memperhatikan seluruh bentuk senjata andalanku yang menjulang bebas,
tegak dan kokoh bagai pentungan batu. “Untuk pria seusia Bapak, burung Pak Bakri sungguh luar biasa!” katanya mengomentari pemandangan yang terhidang.
“Bukan hanya bentuknya yang hebat, rasanya juga enak!“ kataku menggoda. Aku minta izin sebentar untuk membuka baju dengan alasan takut kusut. Alasan yang masuk akal itu memberi kesempatan bagiku untuk bertelanjang bulat di hadapannya. Aku kemudian kembali berbaring, sementara Livia terus menggenggam batangku yang semakin keras dan tegak. Dia masih berpakaian lengkap, dengan rok pendek untuk menutupi pahanya yang sintal. Kubiarkan untuk sementara waktu dia menutupi tubuhnya, sampai saatnya nanti dia akan kutelanjangi.
“Kocok, Mbak!” aku meminta, dan Livia melakukannya. Dia menggenggam batangku sambil mulai melakukan gerakan naik turun. Sementara dia melakukannya, aku berpura-pura keenakan sambil mendesis dan mengerang. Rupanya reaksiku itu memancing dia jadi tambah semangat dalam mengocok. Dan ternyata, kocokannya sungguh nikmat. Atau karena aku yang terlalu bergairah? Entahlah. Tapi yang jelas, kalau kubiarkan terus, peluruku bisa melesat keluar. Maka lekas kutahan kocokannya dengan alasan batangku terasa panas dan pedih.
“Ganti cium aja, Mbak.” kataku. “Mbak nggak keberatan, kan?”
“Memang enak ya, Pak, kalau dicium?” tanyanya polos. Aku jadi agak kaget juga. “Memang suami Mbak nggak pernah minta dicium?”
Dia menggeleng. Aku memberitahu kalau dicium di kontol akan menimbulkan kenikmatan yang lebih tinggi lagi. “Lain kali coba praktekkan sama suami, dia pasti suka!” kataku.
Livia hanya mengangguk saja. Perlahan-lahan kurendahkan wajahnya hingga sejajar dengan batang penisku. Selama itu, Livia terus memandangi kontolku tanpa berkedip sedikit pun. Dan berikutnya, dia mulai mencium, pelan. Kunikmati kecupannya dengan mengusap-usap kepalanya, sementara tanganku yang satu lagi mengarahkan agar batangku bisa masuk ke dalam mulutnya—tidak hanya dicium saja, aku mana puas kalau cuma seperti itu? Meski agak lama tetapi akhirnya berhasil juga, sebagian kepala penisku bisa masuk ke mulutnya. Livia mulanya agak ragu dalam mengulum, dia menahan diri hanya di satu titik itu. Aku harus memikirkan cara lain. Dengan ujung penis berada di dalam mulutnya, kutekan kepalanya dan badanku kudorong ke atas sehingga semakin banyak batangku yang masuk ke dalam mulutnya.
“Aduh,” seruku ketika tergerus giginya.
Livia segera bereaksi dengan membuka mulut lebih lebar agar giginya tidak mengenai batangku. Dia mulai melakukan lomotan naik turun. Hanya dalam waktu singkat, dia sudah mahir dalam mengoral. Aku memang guru yang pintar.
“P-pak, sakit!” Livia tiba-tiba komplain karena merasa aku memencet bulatan payudaranya terlalu keras.
“Habis aku gemes, Mbak. Susumu ini montok sekali,” Untunglah dia berhenti, kalau diteruskan aku bisa muncrat. Livia lalu kubaringkan. Aku menindihnya dan mulai kembali menciumimulutnya, dan perlahan-lahan turun ke leher. Sambil mencium, aku berusaha membuka kancing bajunya satu per satu dengan gerakan hati-hati. Begitu behanya terlihat, tanganku mulai menjamah payudaranya yang cukup padat, berukuran lumayan besar, membuatku geram untuk meremas.
“J-jangan, Pak!” Mulanya remasanku dia tahan. Tetapi rasanya Livia menahan dengan tidak sungguh-sungguh. Dengan sedikit dorongan, aku kembali dapat meremas susu yang masih terbungkus beha itu. Rasanya empuk dan kenyal, kupenceti bergantian kiri dan kanan. Berikutnya tanganku mulai menelusup ke bagian belakang tubuhnya untuk mencari kaitan beha, tanganku yang memang sudah terlatih dengan mudah melepasnya. Kusibak penutup susunya dan Livia berusaha menutupi kedua payudaranya dengan menggunakan telapak tangan. Aku terdiam melongo menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Seorang mahkluk cantik yang sangat seksi sedang bertelanjang dada, dengan tubuh putihnya yang indah tampak mengkilat oleh keringat yang memantulkan cahaya.
“Kok jadi bengong, Pak?” Livia bertanya.
“Ehm, i-iya… susu Mbak bagus!”
Tersadar, aku segera mengulurkan tangan dan menyentuh bulatan payudaranya yang membusung indah. Aku meremasnya sedikit sambil berusaha menyingkirkan tangan Livia yang menutupi putingnya. Benda bulat itu pun langsung terbuka lebar, menggantung menantang, dengan permukaan yang halus menggiurkan. Ukurannya lumayan besar, jauh di atas rata-rata Putingnya yang mungil, yang berada tepat di puncaknya, dengan berani menunjuk diriku, seperti meminta untuk dihisap dan dijilat. Tersenyum penuh nafsu, aku segera meraih benda itu dan langsung menghujaninya dengan ciuman dan hisapan. Terutama di kedua putingnya yang mungil kemerahan. Kucucup berkali-kali, bergantian kiri dan kanan. Aku melakukannya dengan begitu kuat dan keras seperti ingin menyedot habis seluruh ASI yang ada di dalamnya.
“Aughh,” Livia merintih saat sesekali aku menggigit-gigitnya sedikit. ”Auw! Geli, Pak!” dan dia menjerit seketika saat mulut nakalku mulai mengunyah-ngunyah ringan. Dengan jilatanku yang terlatih, birahi Livia nampak naik semakin tinggi. Mungkin kesadarannya tinggal setengah sehingga dia tidak merasa ketika tanganku mulai membuka kaitan rok pendeknya. Resliting juga berhasil kubuka. Lalu, tanganku langsung membekap gundukan kemaluannya yang masih
terbungkus celana dalam.
“P-Pak!” Livia agak menahan gerakan tanganku. Tapi karena kesadarannya sudah tersaput birahi, pertahanannya pun tidak terlalu kuat. Begitu tanganku agak bebas, aku mencari jalan untuk menelusup dari atas celana dalam untuk menyuruk ke bawah. Dengan satu gerakan cepat, jari tengahku sudah menemukan belahan kemaluannya yang terasa membanjir. Jari tengah yang terlatih ini dengan mudah menemukan klitoris. Di titik klitoris itulah ujung jariku mulai bermain. Kenikmatan yang dibangkitkan dari
permainan jari tengahku di klitorisnya membuat pinggul Livia bergoyang-goyang. Dia tidak hanya begitu, tetapi sudah mulai mendesis dan mendesah. Rasa malunya sudah lenyap, tinggal nafsu birahi yang tersisa.
“Disitu, Pak… yah… garuk! Ehmm…”
Aku meneruskan mempermainkan klitorisnya dengan target Livia mencapai orgasme. Beberapa saat kemudian tangannya menekan tanganku yang menangkup di kemaluannya. Aku tahu dia mencapai orgasme, maka tarian jari tengahku kuhentikan. Terasa kemaluannya berdenyut-denyut dan belahan memeknya semakin banjir. Aku menunggu sampai denyutannya mereda, lalu kutarik tanganku keluar dari gundukan kemaluan itu. Kini aku tidak ragu lagi. Lekas aku membuka seluruh baju yang ia kenakan, termasuk beha dan celana dalamnya. Livia pasrah, malah ia memberi ruang agar aku lebih mudah dalam menelanjangi. Sedetik berikutnya, kami sudah berpelukan bugil.
“Malu, Pak, kalau telanjang begini.” dia berkata.
“Kenapa malu? Tubuh Mbak bagus kok, aku suka!” sahutku. Tanganku kembali bermain di kemaluannya yang hanya ditutupi bulu agak jarang, sementara kedua putingnya kuserang dengan jilatan lidahku. Livia sudah terangsang berat. Pelan-pelan aku cium ke bawah ke arah perut, lalu perlahan-lahan kulebarkan kedua kakinya. Dia agak menahan, mungkin masih ada sisa-sisa rasa malu yang belum lenyap. Kubiarkan dia bersikukuh begitu, tetapi serangan jilatanku makin ke bawah, sampai akhirnya mencapai belahan kemaluannya.
“J-jangan, Pak. Malu!” Livia berkata.
“Tidak apa-apa. Memek kamu indah meski baru melahirkan!”
Lidahku yang trampil dengan segera mencari titik klitoris. Agak susah juga menemukan karena kakinya kurang membuka. Tetapi jilatan di sekitar lubang kemaluannya membuat Livia mau juga melonggarkan kaki sehingga lidahku bisa menemukan ujung lipatan vagina dimana bertengger biji mungil kemerahan yang sudah mencuat mengeras. Serbuan ke pusat syaraf birahi itu membuat Livia seperti kesurupan. Dia tidak perduli lagi sehingga membebaskan aku membuka pahanya lebih lebar dan menekuknya ke atas.
“Ahhh… hhh… hhh… Pak!”
Livia mengerang-ngerang sejadi-jadinya menimpali kenikmatan yang dia rasakan. Dia tidak bisa bertahan lama, sampai akhirnya mencapai orgasmenyayang kedua. Kepalaku dijepit oleh dua pahanya yang mulusnya minta ampun. Untungnya aku masih punya ruang sedikit untuk bernafas.
“Maaf, Pak. Pasti Pak Bakri susah nafas waktu kujepit. Sudah nggak tahan soalnya.” dia berbisik.
“Santai aja, Mbak. Saya malah senang kok.”
Setelah orgasmenya berakhir, jari tengahku pelan-pelan kusodokkan ke dalam lubang vagina Livia. Tujuanku mencari G spot. Agak sulit juga ternyata aku harus meningkatkan konsentrasi dan kepekaan sampai akhirnya menemukan tonjolan daging agak mengeras di dinding atas vagina Livia, tidak jauh dari lubang kencingnya. Tonjolan itu kugosok halus dengan ritme teratur dan pelan.
“Ohhh… hhh… hhh…” Mulanya dia mengejang setiap kali kugosok. Namun lama-lama Livia bergerak, sehingga aku sering terpeleset dan kehilangan titik incaran. Aku berusaha menahan agar Livia tidak terlalu liar bergerak, sambil aku terus menggosok G spotnya.
“Arrghhhh…!!” Tiba-tiba dia menjerit dan kakinya menjepit kuat. Aku merasakan denyutan orgasme serta banjir cairan vagina yang sampai membasahi sprei. Agak panjang juga jeritannya. Livia lupa diri ketika mencapai orgasme yang terakhir itu. Telapak tanganku ditekan keras ke seluruh permukaan kemaluannya sehingga aku bisa merasakan denyutan-denyutannya. Kutunggu sampai denyutan itu selesai, lalu tanganku kulepas dari gundukan vaginanya. Aku mengambil posisi duduk di sampingnya. Menyadari keberadaanku, Livia lantas memelukku dan bagian kemaluannya ditekankan ke pahaku kuat-kuat. Sesekali aku masih merasa ada denyutan yang ritmenya agak jarang. Mungkin itu sisa-sisa dari orgasmenya.
“Pak, meski aku sudah nggak perawan lagi. Tolong, perlakukan aku sebagai wanita perawan. Aku pingin kelembutan, Pak.” pekiknya memelas.
“Iya, Mbak.”
Livia kemudian menarik badanku agar berada di atas tubuhnya. Kuturuti saja kemauannya. Rasanya dia memposisikan agar vaginanya bertemu dengan batangku. Tapi dia tidak tahu bagaimana selanjutnya. Dia hanya menekan-nekankan kemaluannya ke kemaluanku. Aku paham maunya Livia. Aku bangkit dan mencoba memposisikan ujung alat vitalku tepat berada di depan vaginanya yang sudah licin dan kuyup. Kugesekkan kemaluanku ke atas dan ke bawah sampai akhirnya seluruh ujung penisku terlumuri cairan vaginanya. Kepalanya sudah berada tepat di gerbang kemaluan Livia. Kutekan sedikit, terasa kepala kontolku sedikit terbenam. Aku agak sulit merasakan apakah milikku sudah masuk di dalam liang vaginanya atau baru terjepit bibirnya yang tebal. Untuk meyakinkan, kudorong sedikit. Karena licin, rasanya mudah saja batangku maju. Kini sudah terbenam sebagian.
“Uuuggghhhh…” Livia merintih.
“Sakit, Mbak?”
“Tidak apa-apa. Bapak teruskan saja.”
Namun kuputuskan untuk berhenti dan maju mundur pada batas itu. Rasanya sudah enak karena jepitan kemaluan Livia yang tebal dan kaku. Tangan Livia keduanya berada di pantatku. Ketika aku berhenti bergerak, terasa tangannya menekan pantatku agar maju. Pelan-pelan aku tekan sampai akhirnya jebol juga lubang itu. Kontolku bisa masuk seluruhnya.
“Arhhhh… Pak!” Livia menjerit lirih dan mendesis. Pastinya dia merasa perih, atau mungkin malah enak? Karena air bening mengalir dari kedua ujung matanya. Seluruh kemaluanku sudah terbenam, tetapi aku merasa pembenamannya belum sempurna. Maka kutekuk kedua kaki Livia dan kulebarkan. Pada posisi itu batangku bisa melesak lebih dalam lagi. Aku menggenjot dengan irama lambat. Ia masih terlalu tegang, kontolku terus dijepitnya dengan kuat.
“Santai aja, Mbak. Jangan kuat-kuat. Bisa-bisa saya keluar duluan sebelum ngapa-ngapain Mbak.”
Dia mencoba rileks. Genggaman tangannya mengendur, begitupun memeknya. Kucoba menambah sedikit kecepatan. “Memek Mbak rapet sekali. Seperti menolak kontolku!”
“Saya masih belum terbiasa dengan ini, Pak.”
“Berselingkuh, maksudnya?” Livia mengangguk.
“Mbak nikmati saja, pasti nanti jadi enak sendiri.”
Kuteruskan genjotanku, sementara Livia mencoba mengimbangi dengan memainkan pinggulnya. Jepit-tekan, atas-bawah, kanan-kiri, cepat-keras, membuatku menikmati setiap gerakannya. Sampai akhirnya orgasmeku datang. Lekas kubenamkan batangku dalam-dalam dan kusemburkan kandungan cairan maniku ke dalam vagina Livia. Kuhempaskan badanku menindih dia. Aku merasakan sensasi tubuh hangat yang empuk. Badan Livia yang berselimut lemak, rasanya empuk saat ditindih. Setelah menikmati orgasme, aku menikmati kasur hidup untuk beberapa waktu.
“Pejuh Pak Bakri banyak sekali,” dia berkata.
“Habis, saya nafsu banget sama tubuh Mbak!” Aku lalu duduk di sampingnya.
Livia terlihat sangat lelah, dia tertidur dan tak lama kemudian mulai mendengkur halus. Aku sering memperhatikan, jika perempuan sudah orgasme berkali-kali, maka dia akan mengantuk dan jatuh tertidur lelap. Aku bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dari kamar mandi, aku segera mengeluarkan hape. Berbagai posisi Livia yang sedang mendengkur aku abadikan. Tentu saja tanpa lampu kilat, lampu kamar yang kunyalakan seterang mungkin sudah cukup cahayanya untuk mengambil gambar. Ketika kakinya kutekuk dan kukangkangkan, Livia tidak juga terbangun dari tidurnya. Aku jadi tambah leluasa mengambil foto di bagian vitalnya. Setelah puas, aku kembali menyimpan hapeku dan memakai pakaian. Lalu pulang tak lama kemudian. Kutinggalkan Livia yang masih tertidur dengan tubuh telanjang bulat di kursi ruang tamu.

Bersambung…

Daftar Part