. Milf At School Part 5 | Kisah Malam

Milf At School Part 5

0
384

Milf At School Part 5

“Mau langsung pulang, Bu?” aku menyapa.
Hari ini sekolah bubar lebih pagi karena ada lomba mewarna di kecamatan. Rangga cucuku termasuk salah satu murid yang ikut. Dengan diantar dua orang guru, mereka berangkat naik mobil. Di sekolah hanya tersisa Bu Irda, perempuan yang sekarang kusapa. Wanita itu berpakaian dinas batik berwarna coklat. Usianya belum terlalu tua, mungkin sekitar 35 tahun. Tubuhnya mungil namun wajahnya manis. Bu Irda mengenakan kacamata berbingkai tebal sehingga menambah aksen manisnya. Hidungnya mancung dan ia memiliki alis yang lebat. Rambut hitamnya terurai hingga menutupi pundaknya. Benar-benar terawat!
Bu Irda mengangguk. “Iya, Pak.” jawabnya dengan intonasi yang cukup jelas. “Kalau Pak Bakri, nggak pulang juga?” tanyanya kepadaku, yang sedari tadi tersenyum menatap kecantikannya. “Masih nunggu Mbak Nanda, katanya tadi minta ditemani.” aku berkata. Kami tertawa kecil berdua. Buru-buru, sebelum hari beranjak semakin siang, Bu Irda mengangguk kikuk dan lekas mengucapkan pamit. “Kalau begitu saya duluan ya, Pak!” Dia mengerling, lalu naik ke atas motornya. Meninggalkanku yang hanya bisa melongo menatap kesintalan tubuhnya.Bu Irda sebenarnya belum cocok jadi kepala sekolah. Ia bahkan terlalu manis untuk menjadi seorang kepala sekolah. Tapi biarlah. Seragam batiknya malah membuatnya tampak anggun. Di bawah gemerisik pohon jambu, aku terus menunggu. Wajah keriputku sudah berminyak karena gerah. Bajuku lusuh dan berdebu. Hampir aku mengira Nanda membatalkan janji ketika sesaat kemudian kudengar suara merdu menyapa dari belakang.
“Sudah lama menunggu, Pak?”
Aku mendesah lega. Menoleh, menatap wajah cantik yang tersenyum kepadaku. “Eh, e-enggak kok, Mbak. Barusan aja,”
“Kita ke rumahku dulu, Pak!” katanya dengan wajah pias, “Mbak Shella nanti menyusul.”
“Dia mau?”
Nanda mengangguk. “Lima ratus ribu, Pak Bakri ada uangnya?”
Kutepuk dompetku sebagai jawaban.
“Beres kalau begitu. Ayo cepat, Pak!” Nanda berjalan duluan, aku mengikutinya dari belakang. Jarak dari sekolah ke rumahnya sekitar seratus
meter. Sebentar saja kami sudah sampai. Nanda membuka kunci rumahnya, lalu mengajakku masuk, membiarkan aku dan dan dirinya tersekap berdua di dalam. Merasa aman, langsung kupepet dia ke sofa ruang tamu. Nanda tidak menolak, tapi juga tidak membiarkan saat aku mencoba mencium bibirnya.
“Jangan, Pak. Sebentar lagi Mbak Shella datang!” dia mengingatkan. “Tidak apa-apa, kita pemanasan sebentar.” Harum tubuh Nanda yang walau sudah seharian sibuk membuatku sangat terangsang. Juga kukagumi paras manisnya dengan bibir menggiurkan yang nikmat untuk dilumat rakus. Ini adalah persetubuhan ketigaku dengannya. Yang kedua terjadi dua hari yang lalu, ketika dia butuh uang lagi. Tidak seperti yang pertama—dimana kesintalan tubuhnya harus kutebus dengan biaya satu juta rupiah—yang kedua cukup kubayar tiga ratus ribu. Murah karena aku sedikit jual mahal. Tahu kalau dia benar-benar butuh, kupatok tawaranku di kisaran dua ratusan ribu. Dan akhirnya deal di tiga ratus ribu. Nanda tampak oke-oke saja. Tiga ratus ribu sudah terlalu banyak untuknya. Bayangkan, hanya modal mengangkang sambil mendesah, dia dapat melunasi semua hutangnya di toko kelontong Mpok Atik. Padahal kalau bekerja jadi
buruh cuci, baru sebulan dia mendapatkannya. Hutang lunas dan juga dapat enak, siapa yang nggak mau coba? Itu rupanya bikin Nanda ketagihan, karena hari ini dia mendatangiku lagi. Dengan alasan butuh uang buat beli beras, dia rela menjual tubuhnya seharga dua ratus ribu. Lebih murah lagi, padahal aku belum lagi menawar. “Pak Bakri mau, kan?” bisiknya di saat kami bertemu di sekolah. Aku menatapnya. “Mbak serius?”
Dia mengangguk singkat.
“Mbak manis sekali. Saya suka kalau Mbak lagi serius begini, makin manis dan seksi.” bisikku di telinga kanannya sambil meraba payudara perempuan itu dari luar baju.
“Jangan, Pak. Kita lagi di sekolah!” Nanda menggeliat. Namun tanganku semakin nakal meremasi pelan kedua bulatan payudaranya, bergantian kiri dan kanan. Hingga akhirnya dia mulai mendesah, seperti mencoba mengalihkan rangsangan yang ia terima.
“Mbak, buka ya kancing kemejanya?” pintaku dengan nafsu memburu. Nanda hanya mengangguk pelan, seakan tak peduli dengan permainan nakal yang sedang kami lakukan. Wali murid lain lagi pada sibuk mengatur anak-anaknya masuk ke dalam mobil, jadi tak sempat memperhatikan apa yang kami lakukan. Rangga sendiri sudah dari tadi kusuruh duduk dekat sopir, membuatku jadi bebas melakukan apa saja. Pelan-pelan kancing kemeja Nanda kubuka satu demi satu, begitu hati-hati karena aku tak mau menarik perhatian. Setelah kancing kemeja Nanda terbuka hingga paling bawah, aku yang tadinya duduk agak menyamping, kini mengambil posisi benar-benar berada di belakang perempuan cantik itu. Lembut tanganku meremas buah dada Nanda yang hanya tinggal tertutup beha. Benda itu terasa bulat dan padat sekali. Kuremas pelan, kutangkup keduanya.
“Sshh… ahhh… nanti ada yang melihat, Pak!” desah Nanda seraya memejamkan mata, menikmati kelembutan pijitan dan remasan tanganku yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Maaf, Mbak! Saya sudah nggak tahan! Ini saya lepas juga ya, Mbak?”
kataku diikuti sentakan keras pada pengait bra-nya. Nanda hanya dapat menghela napas panjang, pasrah ditelanjangi olehku di pojok halaman sekolah. Terlindungi oleh mainan perosotan dan jungkat-kungkit, aksi kami aman dari pandangan orang.
“Saya sering membayangkan Mbak pergi ke sekolah sambil telanjang dada begini.” kataku pelan sambil menarik bra Nanda ke atas. “Cantik dan seksi.” Udara panas yang menerpa dada telanjangnya membuat puting susu Nanda mengeras dengan cepat. Kurespon dengan langsung menangkupkan kedua tangan ke arah kedua payudara itu sambil meremasinya perlahan.
“Sshh… jangan lupa, Pak! Dua ratus ribu!” bisiknya menghadapi rangsangan yang kuberikan.
“Beres, Mbak! Kutambah dua ratus ribu lagi kalau Mbak bisa mencarikanku wanita lain!”
Dia langsung menoleh. “Apa maksud Pak Bakri?”
“Yah, empat ratus ribu akan menjadi milik Mbak kalau bisa mengajak
perempuan lain—ibu-ibu di sini—untuk kuentoti.”
Dia terdiam. Permintaanku memang tidak mudah, namun Nanda tampak dengan serius mempertimbangkannya. Selama dia berpikir, tubuh montoknya terus kuraba, kuremas, kuelus, dan kuusap-usap. Sampai akhirnya Nanda berkata, “Mungkin ada seseorang…”
“Siapa saja boleh, Mbak. Yang penting cantik dan seksi kayak Mbak. Jangan yang gendut, aku nggak suka!”
“Shh… ahh… jangan keras-keras cubit putingnya, Pak!” kata Nanda sambil menggeliat. “Bapak kenal Mbak Shella?” dia berkata sambil mendesah.
“Shella?” Aku sedikit menurunkan serangan, memperlakukan putingnya dengan lebih lembut.
“Ya, Mbak Shella ibunya si Dio. Yang rumahnya di ujung jalan. Berjilbab seperti Mbak Riana.”
“Kenapa dengan dia?” Kuusap-usap pelan payudara Nanda, terasa begitu hangat dan menggemaskan. Nanda menyandarkan kepalanya di pundakku. “K-kemarin dia cerita kalau lagi butuh uang. Bapak tahu kan kalau suaminya lagi sakit, sudah seminggu ini opname di rumah sakit.”
Aku mengangguk. “Berapa aku harus bayar?”
“Nggak tahu. N-nanti coba kutanyakan kepadanya!” jawab Nanda.
“Yah, dia juga boleh. Tubuhnya montok dan semok kayak Mbak. Katakan, kubayar tiga ratus ribu untuk satu kali ngentot. Nanti tinggal mengalikan saja.” ujarku.
“Kok, dia lebih mahal?” Nanda tampak tersinggung.
“Ah, Mbak juga sama. Tiga ratus ribu!” Terpaksa kunaikkan tarifnya. Tidak apa-apa, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih. Nanda langsung tersenyum manis. “Berarti total saya dapat lima ratus ribu ya?”
Hmm, pintar juga dia. Meski lagi kukerjai, otaknya masih bisa bekerja. “Ya, lima ratus buat Mbak—kalau berhasil mengajak si Shella!” Aku mengangguk mengiyakan. Nanda menggeliatkan tubuhnya. “Kalau begitu tunggu di sini, Pak. Akan kukatakan kepadanya sekarang, mumpung dia belum pulang!” Dengan kontol masih mengacung keras, terpaksa kulepaskan dia. Nanda segera membenahi bajunya dan pergi melangkah menuju ke kerumunan ibu-ibu yang sedang melambai melepas kepergian anak mereka. Kulihat Nanda menggandeng lengan seorang perempuan berbaju hijau-jingga untuk diajak berdiri sedikit menjauh. Tak kupungkiri, meski tidak secantik Nanda, Shella cukup seksi. Payudaranya lumayan menonjol, dengan bokong bulat yang terlihat menggoda meski sehari-hari tertutup baju kurung panjang. Aku agak kurang akrab dengannya karena Shella jarang-jarang hadir di sekolah. Kalau dibandingkan dengan Riana, tentu dia kalah jauh. Tapi apalah arti semua itu. Yang penting dia mau kuentoti! Maka disinilah aku sekarang. Sambil menunggu kedatangan Shella, kumanfaatkan waktu dengan mendekap tubuh molek Nanda—agar uang lima
ratus ribu-ku tidak terbuang sia-sia. Nanda yang senang karena misinya sukses, tak sadar jika aku sudah bugil di belakangnya. Buru-buru kutekan dia ke bawah dan perempuan bersuami itu pun terpekik pelan sambil menutup matanya secara spontan begitu kontolku menamparnya telak di pipi.
“Aduh! Kontol Bapak…”
Aku hanya tersenyum sambil tanganku menggerayang masuk ke dalam rok span yang Nanda kenakan. Perlahan aku mengusap paha mulus perempuan cantik itu yang terasa mulus dan hangat, sambil jariku terus merangsek masuk untuk berusaha melepaskan celana dalamnya.
“Susah, Mbak. Roknya buka dulu,” keluhku sambil menatap wajahnya dengan mesum. Nanda mengangkat tubuhnya sebentar, membiarkanku membuka restleting roknya di belakang, serta membukanya bersamaan dengan cd yang ia kenakan.
“Ahh… Mbaak… indah sekali tubuhmu!” pujiku melihat lekukan pinggang Nanda yang ramping, juga pinggulnya yang tak seberapa besar namun begitu menggairahkan. Nanda kembali berjongkok menghadap kepadaku yang berdiri tepat di depannya. Kontolku yang sudah menegang berada searah pandangan matanya. Tanpa ragu Nanda segera meraih, lalu mengocoknya menggunakan jari-jari tangannya yan mungil untuk membuatnya semakin keras dan menegang.
“Yahhh… terus, Mbak! Uhm… enak!” erangku menikmati. “Mbak memang paling pintar bikin enak laki-laki.” Nanda tersenyum mendengarnya. Serta merta ia melahap kontolku yang sudah menegang keras. Begitu lembut bibirnya menyentuh kepala kontolku, dan begitu hangat rongga mulutnya membekap di batang. Kontolku jadi kian mengacung perkasa karenanya. Aku menikmatinya sambil memegangi kepala Nanda. Kupilin-pilin rambutnya hingga jadi berantakan, berusaha mengontrol hisapannya pada batang penisku agar tidak keburu keluar duluan.
“Sshh… ahhh… sudah dulu sepongannya, Mbak!” aku merintih. “Nanti saya malah muncrat di mulut Mbak!” Buru-buru aku menarik keluar penisku dari mulut Nanda yang masih asyik mengulum dan menjilat. Lalu kubantu dia agar berdiri. Kini kami menatap saling berhadapan, dengan tubuh sudah setengah telanjang.
“Mbak cantik,” Kupeluk erat tubuh bugil Nanda seraya memagut bibir manisnya dengan lembut. Tubuh kami yang bersentuhan langsung kulit dengan kulit membuat nafsuku semakin meninggi. Kuusap-usap bokong telanjang Nanda dengan lembut dan mengejutkannya dengan remasan kuat di pantat bulat nan sekal itu. Terhimpit oleh perut rata miliknya yang hangat, penisku tak kuasa lagi ingin memasuki lubang kenikmatan sempit wanita cantik itu. Lekas kaki kiri Nanda kunaikkan ke atas kursi sehingga lubang kemaluannya terpampang bebas, siap untuk dinikmati.
“Sshh… Mbak, sempitnya memekmu! Errgghh… ahhh…” desahku, yang diikuti erangan pelan Nanda ketika memeknya mulai kumasuki. “Kenapa, Mbak, sakit ya?” tanyaku saat melihat dia agak sedikit meringis.
“Uhm… enggak, Pak! Lanjutkan saja. Kontol Pak Bakri kegedean!” ujar Nanda polos dan kini menikmati genjotan penisku yang mengoyak-ngoyak liang memeknya. Aku senang menusuk dalam-dalam hingga menyentuh dinding rahim. Dan sekarang kulakukan, membuat Nanda terpekik antara sakit dan nikmat. “Pak, ughh… saya mau sampai. Kontol Bapak bikin memekku geli… ahhh!” racaunya sambil mengalungkan tangan ke leherku. Tak berapa lama, tubuhnya menggelinjang dan ia pun menjerit kecil.
“Ahhhhh… Pak Bakrii!” Cairan kenikmatan terasa hangat membasahi batang penis milikku yang masih meluncur keluar-masuk. Karena pegal terlalu lama berdiri, aku pun membaringkan Nanda di sofa. Kuposisikan miring sambil kembali menyodoki lubang senggama perempuan cantik itu. Kuremasi juga bulatan pantatnya yang sekal selama aku menyetubuhinya.
“Ahh… memek Mbak nikmat sekali. Saya gemas sama yang ini,” racauku sambil mengusap kelentitnya, lalu mencubitnya.
“Auw!” Nanda pun terpekik, “Sakit, Pak!” Dan memukul bahuku, manja. Aku tertawa. Tak hanya mengocoki liang memeknya keluar masuk dengan penis, aku sebentar-sebentar juga mendiamkan kontolku di dalam dan memutar-mutarnya dengan menggoyangkan pinggul sehingga membuat Nanda semakin mendesah-desah tak karuan. Perempuan itu kembali menggelinjang sambil menggigit bibirnya sendiri
untuk menahan jeritan. “Oughhh… Paakk!” Dia kembali orgasme.
“Duhh… Mbak sudah sampai dua kali. Saya belum.” Aku gemetar merasakan penisku yang kembali disiram cairan hangat.
“Habisnya, kontol Bapak enak sih,” Nanda tersenyum, membiarkanku menyusu sebentar di kedua bulatan payudaranya.
“Mbak masih kuat? Kita lanjut ya?” tanyaku menggoda, yang hanya dijawab anggukan kepala olehnya. Wajah cantik Nanda terlihat memerah, begitu merangsang birahi. Kali ini aku mengambil posisi duduk di kursi. Kuminta Nanda agar berdiri membelakangi dan mengarahkan pantat untuk duduk di pangkuanku. Nanda segera mengatur vaginanya yang masih berkedut-kedut pelan, mengarahkannya tepat ke kontol besar milikku yang masih dipenuhi oleh cairan putih.
“Blessss!” Kembali kemaluanku memenuhi rongga kewanitaannya begitu Nanda menurunkan pantat. Nanda yang agak kaku dengan posisi ini, kubantu dengan menggoyangkan pinggul perlahan sehingga dia bisa bergerak lebih bebas. Kedua payudaranya yang terpantul-pantul indah, kuremas dengan kuat dari belakang.
“Enak, Pak?” Nanda bertanya, khawatir aku merasa tidak nyaman.
“Ehm… enak, Mbak. Bohong kalau bilang nggak enak.” sahutku jujur.
“Uhmm… Pak! S-sakiit… putingku perih!” jerit Nanda mendapati putingnya kupelintir dengan gemas. Namun itu justru malah membuatnya kembali orgasme, untuk yang ketiga kalinya.
“Aah… stop dulu, Pak! Berhenti sebentar!“ Nanda hendak bangun, namun dia terkejut ketika melihat seorang wanita tersenyum dari balik pintu yang terbuka.
“M-maaf kalau a-aku mengganggu,“ kata wanita tersebut, yang ternyata adalah Shella.
Aku tidak menampakkan keterkejutanku, malah tersenyum menatap. “Tutup pintunya, Mbak. Masuk sini!”
“Iya, buruan. Nanti ketahuan orang!” dukung Nanda. Shella dengan ragu maju ke depan dan menutup pintu di belakangnya. Dia terlihat jengah menatap kami yang masih tetap asyik bercinta, sama sekali tidak merasa malu ataupun risih. Matanya tertuju ke penis besarku yang menancap di liang senggama Nanda, pandangannya seperti tak percaya.
“Gimana, aku nggak bohong kan?” Nanda berkata, sifat nakalnya muncul.
“Gedean mana kontol suami Mbak sama kontol Pak Bakri?”
Shella mengangguk malu. “Iya. Gede punya Pak Bakri!”
“Tunggu sampai Mbak merasakannya,” Nanda berkata, membuat wajah Shella kian memerah. “Tapi nanti ya, setelah aku selesai. Mbak tunggu aja di kamar, atau Mbak mau menunggu di sini sambil nonton?” Shella menarik napas panjang. “Emm… a-aku tunggu d-di kamar a-aja!”
Selama percakapan itu, aku terus menghentakkan pinggul, menyetubuhi Nanda. Sengaja aku tidak berhenti untuk menunjukkan keperkasaanku. Kontolku kupamerkan kepadanya agar Shella jadi tambah terangsang. Dan sepertinya itu berhasil. Kuperhatikan dia yang melangkah ke dalam kamar dengan wajah berkeringat dan badan gemetaran.
“Ayo, Pak. Lagi! Genjot lebih keras!” Nanda meminta. Kontolku serasa disedot dari dalam dan dipilin dengan gemas. Terus kulakukan gerakan naik turun itu. Kutindih tubuh montok Nanda di sofa dan kupeluk serta kuhujani dengan lumatan demi lumatan. Nanda melingkarkan kedua kakinya di pinggangku, memberi ruang agar aku semakin leluasa dalam menikmati tubuh sintalnya. Aku sadar, waktu bagi diriku juga hampir tiba. Sensasi jepitan dan kehangatan memek sempit Nanda akan aku akhiri sebentar lagi. Cepat kuminta dia agar berdiri dan berlutut di hadapanku. Penisku kugenggam dan kukocok sendiri, sementara tangan kiriku memegangi kepalanya agar tidak bergerak kemana-mana.
“Sakit, Pak!” rintih Nanda yang rambutnya kujambak. Namun aku tak peduli. “Mbak, buka mulutmu! Yah, begitu!” pintaku terengah-engah sambil mengocok kontol semakin cepat, lalu… “Arrggh… telan, Mbak! Minum semua pejuhku!”
Kontolku meledak, menyemburkan sperma kental yang begitu deras dan panas. Banyak sekali. Sebagian masuk ke mulut Nanda yang menganga lebar, sebagian lagi mengenai wajah, leher, serta payudara perempuan cantik itu. Nanda terkejut hingga memejamkan mata, ia merasakan semburan cairan kental nan lengket menerpa wajahnya. Sebagian yang masuk ke mulutnya terasa asin, dan sebagian tertelan saat dia berusaha mengambil nafas.
“Pak, ehhmm… asin!” ujarnya, terlihat menggemaskan dengan wajah penuh oleh sperma.
“Iya, Mbak. Enak kan?” balasku dengan senyuman lebar. Sementara Nanda membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel di wajah dan tubuhnya, kesempatan itu kupakai untuk menggoda. Gemas kucubiti kedua puting payudaranya, juga sesekali menusuk celah kemaluannya menggunakan jari.
“Sudah, Pak! Geli tau!” Nanda protes sambil mengelak dari cubitan nakalku di biji kelentitnya. “Tuh, sudah ditunggu sama Mbak Shella di kamar!”
“Ah, iya. Hampir saja lupa.” Aku berdiri dan berjalan menuju kamar. “Tolong jaga pintu depan ya. Ini mungkin akan lama, aku nggak ingin ada yang mengganggu!”
“Beres, Pak!” Nanda mengangsurkan jempol kanannya. “Tapi ngomong-ngomong, apa Bapak masih kuat? Itunya mengkerut gitu,” Dia menunjuk penisku yang melembek di antara paha. Aku menepuk dada. “Jangan panggil Bakri kalau aku tidak bisa meladeni kalian berdua!”
Nanda tertawa mendengarnya. Tak lama, aku sudah berada di depan pintu kamar dimana Shella berada. Pintunya tidak tertutup rapat, jadi pasti dia bisa mendengar semua erangan Nanda tadi—atau malah dia mengintip? Tanpa repot mengetuk, aku mendorong. Membukanya. Maju selangkah, aku langsung terpaku melihat pemandangan yang tersaji di dalam kamar. “Ahh…” tanpa sadar aku sedikit mendesis sambil perlahan menutup pintu. Di depanku, Shella sedang berdiri, hanya memakai jilbabnya, tanpa penutup tubuh lain. Badannya sangat seksi; kulitnya putih, dengan payudara yang sangat besar dan bulat, juga vagina tembem tanpa bulu, serta pantat molek yang disangga oleh sepasang paha jenjang. Penisku seketika tegak maksimal, kembali ke ukuran yang sebenarnya. Shella mendekat ke arahku dengan melangkah malu-malu. Aku menelan ludah berkali kali menatap tubuhnya, terutama ke kedua bulatan payudaranya. Setelah berhadapan, Shella merangkul pundakku, kemudian menciumku lembut tanpa perlu kuminta.
“Hhmm…” Aku mengimbangi ciumannya. Suara hisapan bibir kami terdengar begitu jelas. Shella mendesah pelan saat tanganku reflek memegangi payudaranya. Terasa penuh di dalam genggaman. Dengan gemas aku remas agak kuat. Rasanya lembut dan kenyal. Kedua putingnya yang mungil tak lupa aku pilin-pilin pelan.
“Ahh…” Shella beberapa kali melepas ciuman ketika dia tak kuat merasakan remasanku yang semakin ganas. Setelah beberapa menit, Shella menciumi leherku bagian samping, dan terus ke atas sampai ke telinga. Dia jilat sebentar telingaku, lalu berbisik,
“Cepat saja ya, Pak. Saya nggak mau suamiku curiga!”
“Ahh…iya!” aku mendesah menikmati jilatannya.
Adrenalinku meningkat dengan pesat ketika tangan Shella tiba-tiba meremas selangkanganku. Dia mengusap, lalu mengocoknya pelan. Kuimbangi dengan turut meremas-remas tonjolan payudaranya yang mengganjal di dada. Kunikmati sebentar keempukannya sebelum kupegangi kedua pundaknya dan kutekan ke bawah supaya dia berlutut.
“Ah, gila!” Shella mendesah melihat keperkasaan batang kontolku.
“Kenapa, Mbak?” Bangga rasanya berdiri dengan penis mengacung seperti ini, di depan wanita yang berlutut siap untuk melayani, memuaskan setiap nafsuku. Tidak menjawab, Shella segera menggenggam penisku dengan mantap. Tak berkedip dia menatap ujungnya yang tumpul, yang sudah mulai mengeluarkan cairan precum. Sisa-sisa pejuhku yang masih tersisa ia usap-usap pelan, diratakannya ke seluruh batang, sebelum kemudian mulai mendekatkan ke wajah dan menjilatnya.
“Ssshh…” desahku keenakan.
“Pak Bakri mau ini?” tanyanya polos.
“Iya, ahh… terus! Teruskan!” jawabku mengerang. Shella kembali menjilati kepala penisku. “Telan kontolku sampai habis!” perintahku. Dan sepertinya itu bukan permintaan yang sulit karena Shella terlihat santai mendengarnya. Haap! Dengan sekali caplok, dia melahap penisku, dimasukkan ke dalam mulutnya. Dia tidak nampak kesulitan walau sepertinya rahangnya sampai terbuka maksimal. Shella terus mendorong kepalanya supaya penisku masuk semakin dalam, tapi ternyata sudah mentok di sekitar dua pertiga batang. Aku menyambut dengan menggerakkan pinggul, menggenjot dan menyetubuhi mulutnya. Tanganku memegangi kepalanya yang masih tertutup jilbab. “Ini kok nggak dilepas juga?” aku bertanya.
“Hhmmph… k-kata Mbak Nanda… hegmphh… P-pak Bakri suka… hmphh… s-sama wanita yang b-berjilbab!” jawabnya di sela-sela jilatan.
“Iya, terutama yang teteknya gede kayak kamu ini.” Kuremas-kuremas belahan payudaranya sambil aku menikmati rasa nikmatdan hangat mulut Shella, juga suara gesekan dan benturan penisku di dalam mulutnya. Kutekan kuat kepalanya sambil aku menekan pinggul juga, memasukkan sedalam yang aku bisa. Tak kusangka perempuan berjilbab lebar seperti dia ternyata pintar ngemut kontol. Cukup lama kontolku diemut, sebelum kemudian aku cabut sebentar. Terlihat penisku belepotan ludah Shella. Kalau Nanda seperti kehabisan napasgara-gara mengulum penisku, bahkan sempat batuk-batuk dan tersedak; kali ini Shella sepertinya sudah berpengalaman, aku bisa mencabut dan memasukkan kembali penisku secepat yang aku mau. Dan itu sangat nikmat.
“Ahh… enak sekali hisapanmu, Mbak!” aku memuji. Dia terlihat senang, tangannya meremas payudaranya sendiri dan aku juga melihat dia
menstimulasi biji klitorisnya. Karena pegal, aku ingin pindah, ingin duduk di atas ranjang. Segera aku bergerak perlahan tanpa membiarkan mulut Shella terlepas dari penisku. Kupegangi kepalanya sambil melangkah, dan sepertinya Shella pun tidak berniat untuk melepas kulumannya. Dia mengikutiku bergeser dengan kontolku masih tetap berada di dalam mulutnya. Benar-benar binal! Seorang wanita berjilbab—dengan tubuh hampir telanjang—merangkak mengejar penisku. Hingga aku terduduk gemetar di atas ranjang.
“Mbak nakal!” kataku terengah.
“Pak Bakri suka?” tanyanya sambil berlutut di bawah selakanganku, terus menjilati batang penisku. “Lebih dari suka!” Aku menikmati sensasinya. Kubiarkan Shella berkreasi sendiri, dia menghisap penisku kuat-kuat, lalu menjilati seluruh bagiannya, termasuk juga dua biji zakarku yang menggantung keriput. Aku pun tak mau tinggal diam. Kutampari bokong Shella yang semok cukup kuat sampai dia mengerang. “Ahhh… Pakk!”
Berkali-kali aku ulangi tamparan di bokongnya, semakin keras, dan erangan Shella pun semakin nyaring juga. Entah karena nikmat atau karena sakit. Tapi kulihat dia semakin gencar mengocok klitorisnya sendiri. Jadi menurutku dia menikmatinya. Selain menampari bokong, satu tanganku juga meremas-remas bukit payudaranya. Kutekan cukup kuat. Kujepit putingnya yang mungil bergantian, kuputar-putar, kadang kutarik ke depan dengan cukup keras. “Uuuh… Paak!” Shella menggelinjang, namun tak berhenti mengulum batangku dan mengocok klitorisnya sendiri. Semakin lama semakin keras,
dan… ”Ahh… hhh… hhh…” jeritnya di sela-sela hisapan. Kulihat ada cairan bening yang memancar deras dari lorong vaginanya. Rupanya Shella sudah orgasme. Luar biasa, tidak kusangka wanita pendiam yang sehari-hari berjilbab seperti dia, bisa mengalaminya tanpa perlu repot-repot kurangsang. Shella terkejat-kejat sebentar, lalu melemas mengatur nafas. Dia tersenyum sayu menatapku, kembali terlihat malu.
“Tidak apa-apa, Mbak. Saya bisa mengerti kok,” kataku menenangkan. “Mbak pasti kesepian karena ditinggal sakit sama suami. Lampiaskan semua, Mbak. Saya siap membantu melepaskannya!” Dia mengangguk, perlahan. “I-iya, Pak. Terima kasih. Ini adalah persetubuhan pertamaku selama hampir lima bulan ini. Sejak sakit, suamiku nggak bisa lagi memberi nafkah batin.”
“Kasihan sekali kamu, Mbak.” aku menggumam, kembali meremas-remas tonjolan buah dadanya. Karena wajah Shella tidak begitu cantik, jadi kulampiaskan nafsuku kepada bulatan yang sangat besar itu. “Dan saya yang beruntung bisa mendapatkan Mbak!”
“A-aku juga merasa beruntung, Pak.” Shella berujar. “Pak Bakri perkasa dan baik hati.”
“Baik hati?” Aku mengerutkan kening.
Shella tersipu malu. “Benar kata Nanda tadi; selain dapat uang, sepertinya aku juga bakal dapat enak!” Antusias tangannya membelai-belai batang penisku yang masih berdiri kokok bagai batu. Tak memberinya waktu lama, langsung saja kuarahkan penisku ke dalam mulutnya. Dan Shella pun paham, dia kembali melayaniku dengan penuh semangat. Semua teknik oral yang dia kuasai, ditunjukkannya kepadaku. Hingga membuat merasa begitu nikmat. Bahkan tidak berapa lama, aku merasa hampir mencapai puncak.
“Mbak, s-saya mau keluar… ahh… ahh… hhh…”
Kucabut penisku, lalu aku arahkan ke mukanya. Seperti air mancur, spermaku keluar banyak sekali, padahal baru saja muncrat bersama Nanda. Cairan kental itu menyembur membasahi hidung, mata, dan pipi Shella, tapi lebih banyak yang menetes di mulut. Aku tidak tahu reaksi Shella karena mataku memejam, namun kemudian…
“Ahhh…” Kurasakan dia menjilati batangku, membersihkan spermaku yang berceceran. Shella menghisapnya, menelan semuanya sampai bersih, tanpa rasa jijik sama sekali.
“Hihi…” Dia tertawa ketika selesai. Untuk pejuh di mukanya tetap ia biarkan.
“Pak Bakri maunya gimana, ini aku telan juga atau tetap dibiarkan begini?
Kalau suamiku sih, sukanya dibiarkan sampai kering. Katanya aku lebih terlihat menggairahkan dengan muka belepotan sperma!”
Memang, siapa yang bisa tahan saat melihat wanita berjilbab tersenyum dengan muka penuh sperma. Aku saja jadi bergidik dibuatnya. Maka kuminta Shella agar meratakan cairan itu ke seluruh wajahnya, biar jadi tambah menggairahkan. Tapi meratakannya dengan menggunakan ujung kontolku.
“Ah, Pak Bakri memang paling bisa deh!” Shella tanpa keberatan melakukannya. Dipeganginya batang penisku yang… “Masih berdiri ya? Hebat!”
katanya takjub. Kontolku memang masih kaku walau tidak penuh, hanya sekitar 60 persenan. Pelan dia meratakan sperma ke seluruh wajahnya menggunakan batang itu.
“Hmm…” Rasanya nikmat saat ujung penisku digesek-gesekkan, walau agak geli juga karena baru saja ejakulasi. Beberapa kali Shella mencium dan menjilatinya hingga tak lama batangku berangsur kembali menegang sampai
maksimal.
“Wah, wah…” dia kembali takjub. “Kayak perjaka aja, baru sebentar sudah bangun lagi!”
Kuremas jilbabnya dan kuangkat wajahnya sehingga menghadap ke arahku. “Memang Mbak pernah merasakan punya perjaka?” aku bertanya.
Dia tersenyum malu, tidak menjawab. Tapi aku tahu kalau dia memang pernah melakukannya. “Ayo naik sini, Mbak. Aku pengen merasakan jepitan memekmu!”
Shella yang masih bergairah, segera berdiri lalu naik ke atas pangkuanku. Ia arahkan lubang vaginanya tepat ke arah penisku. “Ehmm…” Shella menurunkan pinggul, penisku mulai masuk secara perlahan. Lebih lancar dan mudah daripada saat masuk ke vagina Nanda maupun Riana.
“Uhh…” Tidak berapa lama, bokongnya sudah menempel di pahaku, tanda bahwa penisku sudah sepenuhnya menancap di dalam lorong vaginanya.
“Ahh… hhh… hhh…” Shella mulai menggoyangkan pinggul maju mundur. Memeknya tidak sesempit punya Riana, tapi tetap masih terasa penuh dan cukup mencengkeram. Aku memegang erat bulatan bokongnya, kuremas-remas kuat, kadang
kubantu menarik dan mendorong bokong itu. Tepat di hadapan wajahku, dada montok Shella seakan menantang, membulat kencang dengan puting yang cukup besar. Lekas aku caplok putingnya yang kanan, kuhisap kuat-kuat, lalu aku gigit dan aku tarik-tarik.
“Ahh… Pak!” Shella mendesah seperti kesakitan, tapi dia tidak menolak. Bahkan goyangannya menjadi semakin binal dan kencang.
Aku menggigiti pelan seluruh bagian dada montoknya, kadang aku jilat-jilat
juga. Goyangan Shella menjadi semakin liar; tidak hanya maju mundur, kadang
ke kanan dan ke kiri, juga berputar seperti mau ngebor. Dan itu nikmat sekali.
“Ahh… enak nggak, Pak?” tanyanya terengah.
“Enak! Teruskan!” Goyangannya sungguh membangkitkan gairah. Belum lagi bulatan dadanya yang terus terpantul-pantul indah. Seandainya Riana yang seperti ini, aku pasti bakal senang sekali.
“Kontol bapak juga enak!’ Shella merintih. “Ahh… aku mau keluar, Pak!”
Seketika dia mengejang. Vaginanya terasa menyedot dan menyembur secara bergantian, dan karena penuh oleh penisku, dia tidak bisa squirt, hanya muncrat sedikit-sedikit. Nikmat sekali. Aku langsung menggulingkan badan, sehingga posisi Shella sekarang di bawah. Tanpa memberi waktu istirahat, langsung kugenjot kembali lorong vaginanya dengan kecepatan tinggi.
“Ahh… ahh… pelan-pelan, Pak! Jangan keras-keras!” Shella berteriak kaget.
“Memekmu enak, Mbak!” hanya itu yang kuberikan, dengan pinggulku terus mengayun cepat. Shella tidak membantah lagi karena tahu aku berbuat seperti itu karena sudah hampir mencapai puncak. Hampir bersamaan dengan dia yang selesai orgasme, aku pun turut meledak. Kutekan pinggulku kuat-kuat, kutancapkan kontolku seluruhnya—meski tidak bisa masuk semua—dan kusemburkan seluruh sisa spermaku. Kali ini hanya sedikit karena sudah terkuras habis. Aku sudah muncrat tiga kali dalam satu jam ini. Tubuhku rasanya lemas, namun sangat puas. Aku ambruk, lemas menindih tubuh molek Shella yang masih terbaring pasrah. Kami sama-sama berusaha mengatur nafas. Hening, dengan penisku masih berada di dalam liang vaginanya dan mulai mengecil.
“Tadi Mbak teriak kencang sekali. Kalau ada yang dengar, bagaimana?”
kataku setelah menciumi kedua putingnya.
“Biar aja. Paling yang dengar cuma Mbak Nanda.” Dia terkapar, lemas.
“Oh ya? Ada ibu-ibu lain yang butuh duit, nggak? Saya siap, dengan tarif tiga ratus ribu untuk sekali main.” tanyaku iseng.
“Pak Bakri masih pengen yang lain?” Shella mengernyit.
“Ya pastilah!” kataku nyengir, memamerkan sebaris gigiku yang mulai ompong. “Tapi ingat ya, harus yang montok kayak Mbak. Kalau gendut, tarifnya kuturunkan jadi seratus ribu aja.”
“Semakin cantik semakin mahal, begitu maksud Bapak?”
“Yah, boleh juga!”
Shella nampak berpikir. “Nanti akan kucari tahu. Sepertinya ada beberapa.”
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Kupastikan dulu. Nanti kalau sudah oke, Pak Bakri kukabari.”
“Kalau Mbak sendiri, suka nggak main sama aku?” tanyaku menggoda. Shella menggangguk. “Suka lah, puas! Hehe…”
“Mbak beda sekali kalau di ranjang.” kataku sambil mencabut penis, lalu berbaring di sebelahnya.
“Beda gimana?” Shella melirik ke arah penisku.
“Lebih liar. Lebih nakal.”
“Ya kalau di luar kan harus jaim, Pak.” Dia tersenyum. “Kontol Bapak memang jantan. Sudah tidur tapi masih saja gede.”
“Mau lagi?” tawarku menggodanya. Shella mengangguk malu-malu.
“Kalau saya lagi nggak punya uang, gimana? Kan saya jadi nggak bisa bayar Mbak.” kataku berspekulasi. Di luar dugaan—meski sudah kuperkirakan—Shella tersenyum.
“Gampanglah, Pak. Soal uang bisa kita diskusikan belakangan.”
“Yang penting kita sama-sama puas, begitu?” tanyaku nyengir, yang dijawab dengan anggukan kepala olehnya. Siang itu, kami melakukannya sekali lagi. Kusemprotkan pejuhku di liang memek Shella yang sempit, sambil aku tak bosan-bosan menyusu di bulatan payudaranya yang padat dan sintal. Nanda yang kembali segar, turut bergabung tak lama kemudian. Jadilah aku harus melayani keduanya hingga mereka sama-sama puas. Aku sendiri terkapar kelelahan, dan baru pulang ketika hari sudah beranjak petang.

Bersambung

Daftar part