. Milf At School Part 4 | Kisah Malam

Milf At School Part 4

0
375

Milf At School Part 4

Semenjak pengalamanku menyetubuhi Nanda, aku semakin terobsesi untuk mencari sasaran lain guna memuaskan libidoku yang sedikit ugal-ugalan. Jelita masih menolak. Sedangkan Riana yang berusaha kudekati, terus menghindar. Cecil dan kelompoknya, memang centil sih—tapi sepertinya sulit untuk dirayu. Maka aku pun mengalihkan sasaran. Kali ini incaranku adalah Emmi. Emmi adalah seorang ibu satu anak berusia enam tahun. Usianya kutaksir baru sekitar dua puluh limaan. Dia jauh lebih muda daripada Nanda, dan tentu lebih segar. Hal ini terlihat dari tubuhnya yang ramping dengan kulit yang masih kencang. Perawakan Emmi cukup mungil dengan tinggi hanya 150 cm. Rambutnya
pendek sebahu. Namun ada aset milik Emmi yang sering membuatku menelan ludah jika melihatnya. Dengan tubuh semampai, Emmi memiliki ukuran payudara yang cukup besar dengan bentuk bulat sempurna. Hal ini terlihat jelas karena ia sering mengenakan kaus ketat jika mengantar anaknya sekolah. Dan ia pun memiliki bentuk bokong yang sama bulatnya. Intinya, Emmi memiliki bodi yang cukup aduhai, sungguh beruntung lelaki yang mampu meyetubuhinya. Hubunganku dengan Emmi memang tidak terlalu dekat, kami jarang ngobrol. Namun kami tetap saling menyapa apabila berpapasan di jalan. Dan anaknya pun sering bermain dengan cucuku. Ia tipe wanita yang ramah dan supel. Untuk pergi ke sekolah, Emmi menggunakan motor matic miliknya. Karena hari ini hari Jumat, kulihat penampilannya cukup kasual. Dengan setelan celana jeans warna hitam dan kemeja batik sebagai atasan. Meski longgar, namun tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya yang aduhai. Dadanya yang membusung bulat ke depan dan bokongnya yang melenggak-lenggok ke kanan ke kiri, terlihat begitu indah. Kuikuti dia yang menuju ke bangku di pelataran sekolah, kemudian kuberanikan diri duduk di sebelahnya.
“Apa kabar, Mbak?” aku menyapa.
“Eh, Pak Bakri. Baik, Pak. Bapak sendiri gimana?” dia menjawab tanpa curiga. Karena bangkunya kecil, kami jadi harus duduk berdempetan. Tentu saja ini memberikan manfaat tambahan bagiku. Namun rupanya Emmi menyadari, lekas ia menempatkan tasnya diantara posisi dudukku dengan duduknya. Namun tetap saja, sesekali tonjolan payudaranya menyentuh bahuku.
Empuuuk sekali. Santai aku mengajaknya berbincang. Obrolan kami ringan-ringan saja, seputar kegiatan sehari-hari dan kenakalan anak-anak. Sengaja aku tidak nyerempet-nyerempet ke hal-hal yang tabu agar dia tak curiga. Dua jam kemudian, kami pulang bareng. “Gonta-ganti pasangan terus nih, Pak Bakri,” seru Cecil berseloroh saat melihatku. Di sebelahnya, Devita dan Dearani ikut tertawa. Aku cuma tersenyum menanggapi. Biarlah mereka bilang apa, yang penting aku mendapat rejeki hari ini. Manusia memang bisa berkehendak, namun tetap Tuhan yang menentukan. Di rumah Emmi, kulihat ada suaminya yang lagi membenahi saluran air. Gagal semua rencanaku. Padahal niatnya aku akan merayu Emmi seperti yang kulakukan pada Nanda kemarin. Dengan hati kecewa, terpaksa aku pulang.
“Nggak mampir dulu, Pak?” tanya suaminya, yang hanya kutanggapi dengan lambaian tangan.
Di rumah, karena masih kesal, aku tidak memperhatikan sms yang masuk. Pesan itu baru kubuka malam harinya, ketika akan bersiap untuk tidur. Dari Riana. “Pak, bisa telepon saya sebentar?” dia menulis. Yang tentu langsung kulakukan saat itu juga. Di deringan kelima, Riana menjawab telepon itu. Kudengarkan dia yang dengan suara lirih dan tercekat, memintaku agar datang ke rumahnya.
“Sekarang, Mbak?” aku bertanya.
Dia menjawab, “Iya, kalau Bapak nggak repot.”
Biar repot pun, pasti aku akan meluangkan waktu. Apalagi pas lagi nganggur dan sange seperti sekarang. Maka cepat aku berganti baju dan meluncur ke rumahnya. Riana sudah menungguku di pintu depan. Dia langsung membukakan gerbang dan cepat mengajakku masuk. “Tidak ada yang tahu kan, kalau Bapak masuk kemari?” tanyanya, ragu. Aku hanya menggeleng. Kupandangi wajahnya yang cantik dengan hati berdebar, sadar apa yang sebentar lagi akan kami lakukan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Riana menggandengku masuk ke kamar.
“Kukira Mbak nggak akan memanggilku lagi,”
“Niatku awalnya memang begitu. Tetapi…”
“Mbak berubah pikiran?”
Dia mengangguk. “Tapi bukan berarti saya menikmatinya, hanya…”
“Iya, aku mengerti kok. Ini semua demi keutuhan rumah tangga Mbak, kan?”
Riana tak berani memandangku, dia terlihat begitu canggung dan rikuh. Dia menyibukkan diri dengan memilin-milin ujung jilbabnya yang menjuntai di dada. Kuarahkan pandanganku ke sana, dan… aku pun ngaceng menatap dada yang begitu bulat itu. Dalam hati aku tersenyum senang. Selain malam ini, kami akan melakukannya lagi kapan-kapan. Entah besok atau lusa, yang jelas harus di bulan ini sesuai pesan dari Sang Dukun. Hari telah larut dan menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku duduk di kamar Riana dengan hanya memakai celana boxer saja. Jantungku berdetak kacau menunggunya yang katanya ingin berganti pakaian. Tadi Riana mengenakan baju terusan panjang dan jilbab lebar—busananya sehari-hari,
hanya motif dan modelnya yang berganti-ganti. Untuk malam ini, aku penasaran, apa yang akan ia kenakan kok sampai repot-repot ganti baju
segala? Tiba-tiba saja pintu perlahan terbuka, dan Riana masuk ke dalam kamar dengan hanya memakai daster saja. Jilbabnya sudah ia lepas dan rambutnya yang panjang diikat asal-asalan ke atas. Cantik sekali. Juga sangat menggairahkan. Kontolku jadi semakin mengeras dibuatnya. Kunanti dengan jantung berdebar ketika melihat dia naik ke tempat tidur
secara perlahan, seperti tidak ingin mengeluarkan suara. Matanya tak pernah menatap mataku, tapi tangannya memelorotkan celanaku sampai terlepas dan menduduki kontolku seperti sebelumnya—di rumah Sang Dukun. Hanya saja, saat ini aku sedang duduk di tempat tidur dan bukan telentang seperti
sebelumnya. Kini posisi Riana menduduki kedua pahaku dan kemaluannya menempel di batang kontolku yang sudah mengacung ke atas terjepit di antara lubang memek dan perutku sendiri. Lalu Riana memeluk kepalaku sehingga jatuh di
pundaknya. Saat itulah bisa kulihat bulatan payudaranya yang ternyata tidak
ditutupi beha, membuatku menjadi girang tak terkira. Apalagi saat dadaku merasakan buah dada Riana yang hanya berlapiskan daster untuk pertama kalinya. Payudara itu begitu empuk dan kenyal, dengan puting yang menonjol bagaikan pensil. Riana tidak bau sabun. Aroma memeknya yang pernah kucium sedikit terendus ketika ia mulai menggesekkan kemaluannya di batang kontolku. Sedikit lebih cepat daripada yang dilakukannya dulu, dan nafas Riana pun kali ini memburu lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dan lagi, pelukannya jugabegitu erat. Aku pun membalas dengan turut memeluk badannya. Beruntung Riana tampaknya tidak marah dengan tindakanku itu. Apakah dia sudah horny duluan? pikirku dalam hati. Ada kemungkinan begitu, karena aku ingat bahwa suami Riana belum pulang, sementara sudah seminggu yang lalu kami berdua melakukan hubungan seksual. Kemungkinan selama ini Riana merindukan sentuhan seorang lelaki. Tak lama memeknya sudah basah sekali. Kemudian Riana melepaskan pelukannya, lalu sedikit menaikkan pantat, memegang kontolku dan akhirnya menancapkan memeknya ke kontolku yang sudah tegang sedari tadi hingga kepala kontolku memasuki liang senggamanya. Riana lalu menaruh kedua tangannya di pundakku, dan perlahan-lahan merendahkan tubuhnya. Perlahan pula kurasakan dinding-dinding memeknya mulai membungkus batang kontolku.
“Ughh,” nikmat sekali!
Sepanjang perjalanan masuknya kontolku, Riana memejamkan matanya dan melenguh, “Ooohhh… yaahhh!!”
“Mbbakkkk…” kataku tak mau kalah, ”Yaaaaah… aagghhhh…” Ketika kontolku sampai di ujung rahimnya, Riana melingkarkan tangannya di leherku dan dengan satu tangan mendekap kepalaku. Lalu tiba-tiba pantatnya dihenyakkan ke bawah sehingga kontolku menghujam masuk
rahimnya secara cepat. Reaksiku adalah memeluknya erat-erat karena kaget dan sedikit sakit. Rangkulan Riana pun juga semakin erat. Dia mengerang-ngerang dan aku mendesah-desah merasakan sensasi kontolku yang dibungkus dinding memeknya seperti sedang dipijat-pijat halus. Lalu Riana mulai menggoyang pantatnya. Aku merasakan nikmat sekali. Apalagi kini kami dalam posisi duduk dan berpelukan. Rasanya kami adalah sepasang kekasih. Kuingat Riana tidak mau berciuman denganku, namun aku tak tahan dengan keintiman tanpa cinta ini. Aku ingin sekali mencium tubuhnya. Akhirnya masa bodo, aku mulai mengenyot pundak Riana yang telanjang.
“Shhh… ahhh… aghhhh…” Riana mendesis-desis seperti kepedesan. Aku kini menjilati pundaknya dan mengarah ke leher. Kukecupi dan kujilati leher jenjang yang terasa begitu halus itu. Wajahku terbenam di lehernya, rambut Riana menutupi kepalaku. Wangi shampoo dan bau tubuhnya bercampur di hidungku. Ini adalah bau surgawi, pikirku dalam hati. Mulutku tidak pernah tinggal diam. Leher Riana sudah habis aku ciumi, kujilati dan kukenyoti. Dia semakin keras dalam mendesah. Semakin lama Riana semakin mempercepat goyangannya pula. Kedua tanganku kugerakkan ke bawah sehingga meremas kedua pantatnya yang bahenol. Otot pantat Riana sungguh kenyal dan tidak lembek. Kuremas-remas kedua pantat yang masih ditutupi daster itu sambil kutarik-tarik seirama dengan goyangan pantatnya. Suatu saat ketika aku meremas-remas, tak sengaja kain daster Riana tertarik ke atas. Aku baru menyadari ketika ujung jari tangan kiriku menyentuh kulitnya. Aku sontak mendapatkan ilham. Aku mulai meremasi pantat Riana sambil berusaha menyingkap daster itu lebih ke atas lagi. Usahaku perlahan berhasil. Pada akhirnya kedua tanganku berhasil menggenggam kedua pantat Riana tanpa dihalangi sehelai kain pun. Riana masih sibuk menggoyangkan pantat dan mengerang-erang penuh kenikmatan. Aku mengambil kesempatan dengan menyusupkan tangan kananku ke atas sehingga kini tangan kananku sudah berada di dalam daster dan memegang punggungnya secara langsung. Tiba-tiba Riana memelukku begitu erat, sampai aku merasa sedikit sesak. Selangkangannya berhenti bergerak. Dia menekan kontolku keras sekali sambil berseru, “Yaaaahhhhhh… saya sampaai, Paaaakkkk!!” Riana orgasme duluan. Dia melepas pelukannya beberapa saat kemudian. Aku kecewa begitu Riana menarik kedua tanganku sampai terlepas dari tubuhnya. Ia menatapku, lalu berkata, “Bapak itu kurang ajar ya. Kok pakai cium-cium leher segala? Kan saya sudah bilang, kita ini bukan kekasih. Kita melakukan ini hanya demi menuruti omongan Dukun Jukardi. Jadi, jangan berperilaku tidak sopan begitu sama saya!” Aku hanya menunduk saja karena kecewa. Tapi setidaknya tanganku yang menggerepe dia tidak diprotes. Artinya aku boleh lagi nanti. Riana meninggalkan pangkuanku, untuk sementara aku kecewa sekali karena belum sampai orgasme. Namun Riana tidak keluar kamar, melainkan ia merangkak di tempat tidur bagai anjing, hanya saja sedikit menungging karena kepalanya ia
taruh di bantal. Riana lalu menoleh ke arahku yang berada di belakangnya dan berkata, “Bapak masukkan dari belakang saja ya. Biar nggak cium-cium lagi.”
Tanpa perlu disuruh dua kali, aku segera memposisikan diri di belakangnya. Berhubung aku lebih tinggi daripada dia, maka aku hanya sedikit menekuk lutut agar kontolku sejajar dengan liang memeknya. Aku menyingkap daster Riana yang saat itu menutupi pantat. Karena dia tidak bilang apa-apa, aku beranikan diri menyingkap daster itu hingga setengah punggung. Aku belum berani terlalu jauh, takut dimarahi.
Blesssh!
Aku tekan kontolku di depan lubang memek Riana dengan dipandu tangan kananku, sementara tangan kiriku menyibak pantatnya agar lubang itu terlihat. Setelah pas posisinya, kudorong pantatku perlahan demi menikmati sensasi gesekan kontolku yang memasuki liang vaginanya. Suatu sensasi gerakan menggeser dimana gesekan antara dinding vagina Riana dan batang kontolku menyebabkan nafsu birahiku yang sudah tinggi menjadi semakin tinggi lagi.
Gerakanku terhenti ketika kontolku sudah di ujung lubang vaginanya dan mencapai awal rahim. Kini kedua tanganku memegang kedua pinggul Riana. Sambil menghentakkan pantat ke depan, kedua tanganku menarik pinggulnya untuk menambah tenaga tumbukan. Dengan suara plok tanda selangkanganku menampar keras pantatnya, kepala kontolku kini sudah memasuki rahim Riana.
“Ooooooooh…” teriaknya perlahan, ”Penuh sekali rasanya!”
Dalam posisi seperti ini, aku merasakan seluruh kepala kontolku masuk ke rahim Riana, sementara sebelumnya hanya tiga perempat saja yang masuk. Posisi ini ternyata memberikan jarak penetrasi yang lebih jauh lagi. Aku terpaku pada pemandangan indah di bawahku. Tampak Riana yang sudah setengah telanjang dengan daster terbuka setengah punggung, dengan kontolku ambles memasuki liang memeknya. Kutarik pantat semoknya menggunakan kedua tangan agar pemandangan itu jadi lebih jelas. Kulihat anus Riana begitu rapat, tanda dia sedang berusaha mengencangkan otot vaginanya yang membuat kontolku merasa nikmat karena diremas oleh otot vagina itu. Perlahan kutarik kontolku hingga hanya setengah yang keluar dari jepitan memeknya, lalu kudorong lagi sehingga seluruh kontolku terbenam di sana. Kulakukan berulang-ulang, tapi masih dengan gerakan pelan. Pemandangan kontolku yang keluar masuk di lubang kehormatan Riana nampak begitu indah. Saat itulah aku berketetapan dalam hati, bahwa dia harus menjadi milikku. Aku harus menjelajahi tiap senti tubuh seksi ini. Tubuh seorang bidadari yang turun dari surga. Entah berapa menit aku asyik menarik dan mendorong kontolku untuk menggeleser dalam lubang kenikmatan Riana. Aku baru sadar ketika Riana mulai balas mendorong dan menarik pantatnya. Selain itu, suaranya mulai terdengar lagi.
“Yaaah… yaaaaaah… lebih cepat, Pak… lebih cepat… yaaaahhhhh!!”
Maka aku mulai mempercepat gerakan. Di samping tempat tidur ada lemari dengan kaca besar di salah satu pintunya. Aku melihat bayangan kami berdua di cermin itu. Cermin yang menunjukkan seorang lelaki tua sedang mengentoti perempuan muda dalam posisi menungging. Kepala Riana bergerak-gerak dan di wajahnya tampak kenikmatan dalam bersenggama. Kulihat juga dasternya yang terbuka sampai setengah tubuh. Mungkin kalau kudorong sedikit demi sedikit, aku dapat melihat tetek Riana dari cermin itu. Maka aku segera bertindak. Kedua tanganku yang sedang memegangi pantat, mulai kugerakkan untuk meremas-remas pantat bahenol itu. Riana mulai memperkeras suaranya. Kurasa dia tidak sadar, mungkin akibat dorongan kenikmatan yang sudah menguasai pikirannya.
“Yahhhhh… terus! Cepat, Pak! Teruuuuus… yaaaaaaaaahhhh!”
Kedua tanganku kini mulai mengusap-usap pantatnya, diselingi oleh remasan-remasan lembut. Makin lama kedua telapakku bergerak ke atas. Kini punggung bawahnya aku belai. Sebenarnya disebut membelai juga kurang tepat, karena aku mengusap-usap seluruh punggungnya. Dan usapanku makin memanjang, dari bawah ke bagian tengah, tepat di kain daster yang terlipat di sana.
Punggung Riana begitu licin karena dia sudah keringatan. Kulit putihnya mengkilat dijilat oleh cahaya lampu kamar. Begitu erotis, pikirku. Usapan terus kulakukan hingga jari tanganku mulai mendorong kain dasternya sedikit demi sedikit. Namun agak susah meneruskan karena daster itu terlipat. Beruntung aku mendapat ilham lagi. Kembali aku mengusap ke atas,namun kali ini bukan mendorong, melainkan tanganku menyusup. Setelah setengah telapakku menyusup di balik daster di bagian tengah punggung, di antara belikat Riana, aku segera mengusap balik ke bawah dan menunggu reaksinya. Riana tetap hanya mengerang-ngerang. “Yaaaaah… teruuuuuusssss!” Aku susupkan lagi tanganku di bawah daster, namun kali ini ketika jariku hendak masuk, aku menggerakkan kedua telunjukku ke atas dan aku kaitkan kain daster itu di kedua telunjukku, menyebabkan bagian bawah daster Riana terjepit di antara telunjuk dan jari tengah. Lalu kuteruskan mengusap ke atas dengan kedua tangan sehingga kini kain daster Riana ikut bergerak ke atas. Untung saja posisinya sedikit menungging, sehingga daster itu kini berjumbel di dada bagian atasnya dan tidak kembali jatuh ke bawah. Dari cermin kulihat buah dada Riana yang bulat dan mancung menjuntai ke bawah. Yang menakjubkan adalah payudara itu tampak lebih besar daripada yang tersirat ketika dia memakai baju. Aku ingin sekali meraba dada itu, namun takut dimarahi. Maka aku kembali mengusap-usap punggungnya.
Tak terasa, karena aku semakin bernafsu, aku kini menyetubuhi Riana dengan kuat. Selangkanganku menumbuki pantatnya dengan mengeluarkan suara PLOK-PLOK-PLOK yang keras terdengar.
“YAAAH…!!!” tahu-tahu Riana menjerit keras sekali. Dia berteriak hingga suaranya memenuhi seluruh ruangan kamar. ”TERUUUUSS… KOCOK
TERUUUUS, PAAKKK… KOCOK MEMEK SAYA LEBIH KUAAAT… UGHHH,
S-SAYA SAMPAI, PAAAKK…”
Aku kaget. Kemarin Riana tidak seliar ini. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Aku menjadi gelap mata. Kuraih kedua payudaranya dari belakang. Kurasakan bulatan payudaranya melebihi kapasitas genggamanku. Ternyata cukup lebar lingkar payudara itu. Aku remasi payudara Riana yang terasa begitu lembut dan kenyal. Dan aku tiba-tiba saja tak dapat menahan lagi. Sambil turut mengerang, kumuntahkan seluruh stok pejuhku di dalam rahimnya. Kami terkejang-kejang berdua, lalu sama-sama terkulai lemas. Setelah beberapa saat, kucabut penisku dan aku merebahkan diri di samping Riana. Aku merasa begitu puas, dan kuyakin Riana juga begitu karena dia tak menolak meski tanganku terus meremas-remas bulatan payudaranya.
Menjelang tengah malam, baru aku pulang dari rumah Riana. Sebenarnya aku siap untuk mengentotinya sekali lagi, tapi dia menolak.
“Lain kali saja, Pak.” katanya sambil mengenakan dasternya kembali.
“Sebulan tiga kali kan, dan Bapak masih punya jatah sekali lagi.”
Aku mengangguk mengiyakan. Lebih baik tidak memaksa daripada membuatnya marah. Kutinggalkan rumahnya dengan senyum lebar tersungging di bibir.

Bersambung

Daftar part

Cerita Terpopuler