. Milf At School Part 10 | Kisah Malam

Milf At School Part 10

0
404

Milf At School Part 10

Sesuai janjiku kemarin, siang ini aku pergi ke rumah Dearani. Shella yang sempat membisikkan nama seorang perempuan yang siap untuk kuentoti, terpaksa kutolak. Aku kenal perempuan itu, dan menurutku tidak begitu cantik. Mending pergi ke rumah Dearani, si manis yang berjilbab lebar.
“Kapan-kapan saja, katakan besok atau lusa.” aku berkata tak sabar.
“Tumben nih, lagi banyak orderan lain ya?” dia mengerling nakal, tahu dengan hobiku yang satu ini. Aku hanya bisa tersenyum, lalu bergegas pergi meninggalkannya. Di depan gang, kusuruh Rangga pulang sendiri ke rumah yang jaraknya sudah tidak jauh lagi. Sedangkan aku meneruskan langkah ke daerah ujung perumahan, tempat di mana rumah Dearani berada. Dibanding Cecil maupun Devita, kehidupan Dearani lebih sederhana. Rumahnya mungil namun asri. Tidak berpagar, Dearani lebih memilih menanam bunga melati sebagai pembatas rumahnya dengan jalan umum. Temboknya di cat hijau tua—yang semakin menambah kesan teduh—dan terasnya dilapisi keramik merah bata. Kulihat Nazwa, putri Dearani yang sekelas dengan Rangga, sedang bermain di teras ketika aku datang.
“Hai, Nazwa. Ibu ada?” aku menyapa. Kuberikan permen yang sengaja kubawa kepadanya. Nazwa menerimanya dengan riang. “Ibu di belakang, Paman. Masuk aja!” Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun melangkah masuk. Kuketuk pintunya sejenak, dan Dearani membukakan tak lama kemudian. Ia menyambutku dengan menyung-gingkan senyumnya yang paling manis.
“Maaf kalau Pak Bakri kelamaan menunggu.” Dia menggandeng tanganku.
“Saya baru datang kok,” Kuikuti dia, berjalan sedikit di sebelah kirinya.
Kuperhatikan, dandanan Dearani masih seperti biasa; jilbab lebar membingkai wajah ovalnya, dengan baju lengan panjang untuk menyembunyikan tubuh mulusnya. Sebagai bawahan, dia mengenakan celana leging hitam yang cukup ketat. Dengan jelas mencetak bentuk paha dan pinggulnya yang bulat. Kulitnya yang putih bersih disaput bedak tipis di bagian muka, sedang bibirnya yang merah pucat dibiarkan polos tanpa lipstik. Natural, tapi tetap cantik. Melihatnya membuatku tak sabar untuk segera menelanjangi dan menindih tubuh sintalnya.
Tapi, “Ada Nazwa di luar. Apa nanti nggak mengganggu?” aku bertanya.
“Mengganggu apa, Pak? Memangnya kita mau ngapain?” balasnya menggoda.
Tanganku yang sudah akan menjalar ke dada ranumnya, seketika berhenti.
“Lalu, ada keperluan apa Mbak memanggil saya kemari?”
Dearani mengajakku ke ruang makan. “Jangan sedih begitu dong, Pak. Kelihatan sekali kalau Bapak lagi nafsu.”
Aku hanya bisa nyengir memandangnya.
“Makan dulu, Pak. Baru setelah itu kita…” Dearani tidak meneruskan kata-kata, ”Atau Pak Bakri mau langsung sekarang?” tanyanya dengan senyum manis menggoda. Aku jadi kesulitan menelan ludah, tidak menyangka kalau dia akan menyerang frontal seperti ini. Dearani tertawa tergelak melihat sikapku. “Kukira Pak Bakri sudah jago dengan wanita, tak tahunya masih grogi aja.” sindirnya. Tahu kalau aku tidak berminat untuk makan, Dearani segera mengajakku masuk ke dalam kamar. Saat itulah aku terkejut saat mendapati seorang perempuan sudah telentang di tempat tidur dalam keadaan tubuh telanjang bulat tanpa busana!
“Bu Irda?” panggilku kaget.
Tetapi hanya sekejap aku terkesiap. Dengan dorongan dari Dearani, ditambah senyuman manja Bu Irda, aku buru-buru melepas baju yang
kukenakan dan dengan tubuh sama-sama telanjang, menyergap tubuh mulus Bu Irda yang telentang di pinggiran tempat tidur. Bu Irda membalas, tapi agak malu-mau.
“Pak,” ujar Dearani sembari merangkulku dari belakang, menempelkan buah dadanya yang bulat di punggungku. “Aku kemarin menceritakan tentang Pak Bakri sama Bu Irda. Dan dia terkesan, ingin pula mencicipi kejantanan
Bapak yang perkasa itu!”
“Betulkah itu, Bu?” tanyaku sambil memandangi Kepala Sekolah cantik setengah baya ini.
Bu Irda mengejap-ngejapkan matanya. “Eh, tidak! Eh, iya! Tetapi nggak apa-apa, kan? Bapak bersedia kan memberikan kenikmatan kepadaku!” ujarnya agak tergagap.
“Tentu saja, Bu. Akan kupuaskan ibu hari ini!” sahutku sambil mulai membelai payudara Bu Irda yang bulat menantang. Sangat besar dan sungguhmenggoda. Kupilin-pilin putingnya yang mungil kemerahan dengan dua jari.
”Gimana, Ran? Kamu bersedia kan berbagi Pak Bakri denganku?” kali ini Bu Irda bertanya pada Dearani.
Dearani tertawa. ”Saya nggak keberatan, Bu. Yang penting saya nanti juga dapat enak!”
“Pak Bakri siap memuaskan kami berdua?” Bu Irda memandangku.
”Siapa takut?!” Aku mencium wanita setengah baya yang sekarang berada dalam pelukanku itu. ”Akan kuberikan kenikmatan yang sempurna kepada Ibu!”
Bu Irda tertawa-tawa kecil ketika aku menunduk dan mulai mengecupi bibir dan seluruh wajah cantiknya bertubi-tubi. Lehernya yang jenjang merangsang juga mendapat jatah. Lalu puting-puting susunya yang tegak merangsang. Uh, ternyata menggeluti wanita setengah baya seperti Bu Irda mempunyai keasyikan tersendiri. Buah dadanya lebih besar dan lebih padat daripada milik Dearani. Puting susunya pun lebih besar dan merangsang! Demikian pula bukit kemaluannya. Lebih mencuat. Hanya saja, rambut kemaluannya sangat lebat, tidak serapi milik Dearani!
“Pak! Eghh… auhhh!” Bu Irda menjerit sejadi-jadinya saat kepala penisku yang bengkak dan besar menyeruak masuk menusuk lubang vaginanya yang hangat dan lebar. Dia merasakan nikmat yang amat sangat. “Pak! Geli sekali.” rintihnya kelojotan.
“Tahan, Bu. Tahan!” ujarku sambil memegangi kedua kaki wanita cantik itu.
“Nanti Ibu bakal merasakan yang lebih enak lagi!”
Benar saja. Kalau tadi Bu Irda merasakan geli, lama kelamaan rasa geli itu hilang, berganti dengan rasa nikmat yang sungguh luar biasa. Sudah tentu Bu Irda jadi senang sekali. Gerakan-gerakan memutar pantat dan pinggulnya sungguh romantis, seirama dengan ayunan-ayunan pantatku yang naik turun dan sesekali melakukan gerakan memutar yang aduhai.
“Ough, Pak! Enak! Terus! Terus!” demikian jeritnya berulang-ulang. Aku tersenyum sambil terus juga menyerbu bukit kemaluan Bu Irda yang indah menantang. Dearani yang menyaksikan adegan itu jadi ikut terangsang. Segera dia berdiri, mengangkangi kepalaku. Ditariknya bibirku ke arah kemaluannya yang sudah basah menetes-netes.
“Ayo, Pak! Ciumi punyaku! Aku juga sudah tidak tahan!” ujarnya dengan suara sengau tak menentu. Aku yang mengerti segera menjulurkan lidah. Aku melakukan dua macam kesibukan; sementara kemaluanku menerobos keluar masuk belahan daging Bu Irda, mulutku dengan mesra menciumi bukit kemaluan Dearani yang sudah mekar menantang.
“Pak! Auhh! Terus, Pak! Iyyyyaaahhh!” Bu Irda terus meracau. “Aduh, Pak! Enaknya! Terus! Terus, Pak! Kelentitnya… ya! Yang itu! Jilat yang itu! Hmmm… ugghhhhhh! Gigit, Pak! Gigit yang keras!” Dearani juga meracau, malah lebih parah, sambil tangannya menekan belakang kepalaku sehingga hidung dan mulutku masuk semua ke belahan kemaluannya yang sudah sangat mekar semekar-mekarnya. Berbagai suara terus terdengar mengiringi permainan kami yang semakin memanas. Sambil sesekali diselingi dengan berkecipaknya penisku yang timbul tenggelam, terdengar sangat merdu dan mesra di telinga. Lama kami bertarung mati-matian, sampai akhirnya Dearani yang terlebih dulu kejang. Perempuan berjilbab itu menekan belakang kepalaku sekuat-kuatnya sambil menjerit histeris.
“Pakk! Aku keluar! Sshhh… AARRGGHHHHHHHHH…!!”
Setengah berdiri, tubuh sintalnya meliuk-liuk seperti orang kesetanan. Kepalanya terlempar kesana-kemari. Dengkulnya gemetar kuat sekali.
Punggungnya setengah menekuk bagaikan udang. Tangannya meremas-remas dan menjambak-jambak rambutku sampai aku merasa sakit. Saat itulah, aku merasakan semburan-semburan lahar panas dari dalam lorong vagina Dearani. Banyak sekali. Kental dan licin. Bagaikan orang yang haus, dengan rakus aku meneguk semua cairan itu. Tanpa tersisa sedikit pun. Terasa amis dan sedikit pesing! Dearani segera jatuh bergelimpang dengan lemasnya. Namun terlihat sangat puas! Sementara di sebelahnya, aku masih bertarung dengan Bu Irda. Dua menit setelah kejatuhan Dearani, barulah wanita setengah baya itu menjerit-jerit histeris. Tubuhnya berkelojotan seperti ayam yang baru disembelih. Bu Irda menggelepar-gelepar.
“Oukh, Pak! Aku keluar! Ssshhh, Pak! Ahhhhhh… Enak sekali,” Seketika lahar menyembur-nyembur dari dalam kemaluan wanita cantik berambut panjang itu. Matanya terbeliak-beliak. Cuma kelihatan putihnya saja. Kuku-kukunya yang panjang-panjang itu mencakar-cakar punggungku sampai berdarah. Bu Irda segera lemas setelah mencapai puncak kenikmatannya. Namun aku sendiri belum, aku masih terus menaik turunkan pantat dengan penuh semangat.
“Oukh, Pak! Aku lemas! Letih! Istirahat dulu, Pak!” Bu Irda merintih-rintih.
“Sebentar. Tanggung, Bu! Saya sudah mau keluar! Tahan ya!” ujarku tersendat-sendat.
“Ampun, Pak! Ampunn!” Bu Irda terus merintih. Tetapi mana mau aku mempedulikan rintihan-rintihan itu. Malah aku semakin ganas dan bersemangat menghujamkan batang kemaluan hingga Bu Irda meronta-ronta. Aku menekan tubuh wanita cantik itu dengan tangan agar terdiam. Sementara penisku terus bekerja.
“Ampun, Pak! Ampun!” Bu Irda kembali merintih.
“Sebentar, Bu!” raungku. Dari letih, lemas dan tidak bertenaga, akhirnya Bu Irda jadi bernafsu lagi karena bukit kemaluannya terus menerus diserbu habis-habisan oleh penisku yang perkasa. Dan dia pun mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya, memutar-mutarnya erotis.
“Pak! Uukh… Bapak sungguh perkasa dan pintar. Saya jadi nafsu lagi. Enak lagi.” Bu Irda mengacak-acak rambutku yang beruban. Dan kami pun terus bertarung, mendaki bukit yang terjal. Lima belas menit kemudian, barulah kami berdua mencapai orgasme secara bersama-sama.
“Bu! S-saya keluar, ssshhh… ahhh… ouhhhhh…” aku menggeram hebat bagaikan harimau lapar bertemu lawan. Kedua lenganku memeluk dan menekan tubuh Bu Irda sekuat-kuatnya sehingga wanita cantik itu merasakan tubuhnya remuk seketika.
“Oukh, Pak! Saya juga keluar! Ssssh… akhhhhh…” Banjirlah lorong vagina Bu Irda yang sempit, sehingga sebagian menetes-netes keluar, membasahi sprei. Semprotan-semprotan bertubi-tubi telah menyemburkan cairan yang luar biasa banyaknya, saling bercampur kental, hangat dan licin! Hmmmmmh benar-benar sorga dunia!!
Aku segera turun dari tubuh mulus Bu Irda. Dearani yang sudah mendapatkan istirahat cukup setelah menyemprotkan cairan kewanitaan, kembali bergairah. Tanpa memberikan aku kesempatan untuk beristirahat,
ditariknya lelaki itu dari tempat tidur.
“Ayo, Pak! Kerjai aku sambil berdiri!” ujarnya sambil tersengal-sengal penuh nafsu. Bukan Bakri namaku kalau tidak mampu melayani tantangan perempuan secantik Dearani. Sekalipun tanpa istirahat, aku sanggup untuk bertarung lagi. Dalam keadaan berdiri, kutekan tubuh montok Dearani ke arah tembok. Sebelah pahanya yang putih mulus kuangkat tinggi-tinggi sehingga memperlihatkan belahan kemaluannya yang sudah menganga lebar. Aku lalu mengunjamkan senjata ke belahan yang amat menawan itu.
“Ough, Pak! Enak!” Dearani merintih.
Kami terus berpacu dengan posisi seperti itu, dengan tanganku aktif meremas-remas buah dada Dearani yang membusung padat. “Mbak, punyamu keras sekali mencekik burungku… aku bisa nggak tahan!”
“Awas kalau sampai Pak Bakri keluar duluan!“ ujarnya sambil mencari bibirku. Menit demi menit berlalu dengan begitu cepat, tak terasa sudah lebih dari lima menit aku menyetubuhinya. Dearani yang tampaknya mulai tak tahan, segera mempercepat genjotan, dan aku meladeninya.
“Pak, ahh… a-aku… mau sampai!” ujarnya terputus-putus.
“Tahan sebentar, Mbak!” sahutku.
“I-iya, Pak! Aghh…“ Tak lama kemudian, dia melenguh sangat keras. Tubuhnya melengkung ke belakang sehingga buah dadanya yang bulat jadi membusung padat. Segera kucucup dan kuremas-remas benda itu untuk memberikan sensasi orgasme yang lebih optimal lagi. Penisku juga terus aktif menyodok liang vaginanya dari arah bawah. Kurasakan semprotan air maninya benar-benar dashyat, juga begitu
banyak. Jepitan vaginanya yang semakin kencang serasa meremukkan batangku. Untunglah ada siraman lendir cintanya yang menyejukkan sehingga aku masih bisa mengontrol diri agar tidak keburu menyusul dirinya. Dearani lemas dalam pelukanku, tubuh montoknya lunglai lemas, matanya terpejam rapat, sementara nafasnya terus terengah-engah. Kubiarkan dia menikmati sensasi orgasmenya sebentar.
”Gimana, Mbak, enak?” tanyaku menggoda.
Dearani menjawil hidungku dan tersenyum. ”Enak sekali, Pak! Baru kali ini aku keluar dua kali dalam satu babak permainan. Pak Bakri benar-benar hebat!” pujinya.
Kucium bibirnya dan kuremas-remas payudaranya sebentar sambil kumasukkan kembali penisku ke dalam liang vaginanya. Dearani menerimanya dengan senang hati, dia menjepitkan kedua kakinya di pinggangku agar alat kelamin kami semakin kuat menyatu.Aku mulai bergerak menarik pantat dan mendorongnya perlahan. Dearanimerintih merasakan gesekan alat kelamin kami berdua, “Ohh… enak sekali kontol Bapak! Terus! Setubuhi aku, Pak! Keluarkan mani Bapak di dalam tubuhku! Oughhh…”
Aku pun makin mempercepat sodokan, sambil mulutku mencari bibirnya dan melumatnya rakus. Tak lupa tanganku juga hinggap di atas gundukan payudaranya dan meremas-remasnya lembut. Dearani memeluk punggungku, tampak sangat menikmati sekali apa yang aku lakukan. Tubuh kami telah basah oleh keringat.
“Uhh… enak sekali, Pak!” erangnya lagi. Dia menarik kepalaku dan melumat bibirku gemas. Kembali kami saling berciuman mengadu bibir, sambil bokongku tetap bekerja menyodok-nyodok liang vaginanya. Terus kupacu tubuhku, semakin lama menjadi semakin cepat, hingga tanpa sadar Dearani mulai menjerit dan merintih-rintih tak karuan.
“Pak… aku… aah… oh enaknya!” ucapnya meracau. Pertarungan sengit sambil berdiri itu dimenangkan olehku. Dearani lebih dulu mengeluarkan cairannya dan segera merosot jatuh lemas ke lantai. Aku yang penasaran karena belum mencapai puncak kenikmatan, dengan senjata masih tegak mengacung, mendatangi Bu Irda yang masih berbaring dengan kedua paha terkangkang lebar. Aku segera menubruk dan menggumulinya. Kali ini lebih dahysat dari pada yang sudah-sudah!
Demikianlah berganti-ganti kukerjai kedua perempuan cantik itu. Meski sudah tua, aku benar-benar seperti kuda jantan yang sanggup memuaskan hasrat mereka berdua.

Tamat

Season 2 Menyusul

Daftar Part