. Milf At School Part 1 | Kisah Malam

Milf At School Part 1

0
505

Milf At School Part 1

Pagi yang cerah. Mendung yang selama dua hari ini menggelayut di langit, hilang entah kemana. Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik pepohonan, membangunkan burung-burung dan manusia yang berniat untuk sekedar lari pagi atau jalan kaki. Di pelataran, kutunggui cucuku yang sedang bermain bersama teman-temannya. Santai kunikmati kesegaran pagi ini sambil melirik ke kiri dan ke kanan, bahkan kadang-kadang melotot apabila melihat pemandangan yang sedikit agak menarik. Entah itu baju yang terlalu ketat, atau rok yang terlalu pendek. Yang jelas, dua-duanya membuat air liurku menetes deras.”Cantiknya!” batinku saat melihat seorang perempuan melintas menggandeng anaknya. Tanpa menoleh, perempuan itu terus berlalu. Cuma goyangan pinggulnya saja yang tertinggal, memanjakan mataku yang agak sedikit juling. Hilang perempuan itu, datang segerombolan ibu-ibu muda yang berjalan beriringan sambil bersenda gurau. Goyangan dada mereka yang sentosa membuat mataku terpana. Tiba di sampingku, ibu-ibu muda itu tersenyum. Mereka heran melihat lelaki tua yang menunggui cucunya di TK. “Ibunya kemana, Kek?” tanya salah satunya, yang berjilbab merah. “Ibunya sibuk,” aku menjawab. “Lagian, cucu saya itu lebih dekat sama saya, dia malah nggak mau kalau diantar ibunya.” “Ooo, begitu ya,” mereka menyahut serempak. Setelah basa-basi sejenak,
mereka pun berlalu. Semakin siang, suasana menjadi semakin ramai. Dan semakin banyak juga ibu-ibu cantik yang kutemui. Rata-rata masih muda dan berusia belasan, hanya sedikit yang umurnya lebih dari 30 tahun. Kutaksir mereka mengantar putra pertamanya ke sekolah ini, satu hal yang mestinya juga dilakukan Furi kalau saja dia tidak sibuk. Aku sih tidak keberatan disuruh mengantar Rangga, karena selain aku
memang sayang pada cucuku itu, aku juga bisa memanjakan mata di sini. Bayangkan, dua jam dikelilingi puluhan ibu-ibu cantik dan seksi, siapa yang tidak mau coba? Apalagi banyak dari ibu-ibu itu yang ternyata ramah dan baik hati. Ramah karena mereka tak sungkan mengajakku ngobrol. Dan baik hati karena mereka tak risih mempertontonkan keindahan tubuhnya kepadaku. Sebagai lelaki normal, sering jantungku dibuat kebat-kebit oleh mereka. Yang ujung-ujungnya terpaksa kutuntaskan dengan onani di rumah karena istriku sudah meninggal
dua tahun yang lalu. Di antara beberapa ibu-ibu itu, aku paling suka dengan Riana. Dia yang menurutku paling cantik. Sehari-hari berjilbab, tapi tak sungkan memakai pakaian ketat yang sedikit mempertontonkan keindahan tubuh sintalnya. Suaminya kerja di luar kota, pulang seminggu sekali. Jadi tak heran kalau dia agak-agak gersang, satu hal yang nantinya akan bisa kumanfaatkan. Selain Riana, juga ada Devita. Gadis berhidung mancung ini lebih pendiam, tapi tubuhnya lebih montok dibanding Riana. Kalau mengantar ke sekolah sering telat, hingga harus berlari-lari masuk ke kelas. Dari situlah puas kunikmati goyangan payudaranya yang memantul-mantul indah begitu dia berlari. Devita ini memiliki sobat karib, namanya Cecil. Katanya sih teman sejak masih kuliah. Mereka kini tinggal bertetangga. Cecil berbodi bongsor—perabot atas bawahnya gede. Wajahnya lumayan cantik meski tidak mulus karena beberapa jerawat menjajah bagian kening dan pipinya yang cukup berisi. Ia bermata sipit, beralis tebal, dan berbibir sensual. Pipinya tembem. Cecil selalu mengikat rambutnya dengan gaya kucir kuda. Jika diurai, rambutnya hanya sebatas pundak. Selain Cecil, juga ada Dearani yang melengkapi geng tiga sekawan ini. Dearani paling kalem di antara mereka bertiga. Juga paling pintar. Bercandanya
selalu cerdas. Meski langsing, tapi badannya lumayan padat. Aku sering melirik ke arah bulatan pantatnya yang bulat dan tebal, bergerak-gerak indah kalau ia berjalan. Sama seperti Riana, sehari-hari dia berjilbab. Empat sudah kusebutkan, masih ada beberapa lagi. Untuk sisanya kusimpan buat nanti saja, karena hari ini ada sebuah percakapan menarik yang cukup menyita perhatianku. Kejadian itu terjadi dua minggu sejak aku mengantar cucuku ke sekolah.
Dari puluhan ibu-ibu yang mengantar, hampir separoh masuk ke dalam kriteriaku. Cantik dan montok, itulah yang aku cari. Dan rata-rata mereka bisa memenuhinya. Hari ini, si montok Jelita yang membuatku menoleh. Nampak diasedang berusaha menenangkan bayinya yang menangis. Tapi semakin berusaha untuk diredakan, semakin tangis anak itu pecah. Jelita mulai kewalahan untuk membujuknya.
”Cup-cup, Nak. Iya, sebentar lagi kita pulang. Nunggu kak Rani dulu.” rayu ibu muda itu sambil menimang-nimang si kecil dalam gendongannya. Rani adalah nama putri sulungnya, teman Rangga di TK A.
”Mungkin dia lapar, Mbak.” seru Riana.
“Iya mungkin,” Jelita membenarkan.
”Kalau begitu cepat aja disusui.” usul Dearani.
”Dia nggak mau minum ASI saya.” jelas Jelita.
”Botol susunya mana?” tanya Cecil yang ikutan mendekat.
”Emm,” Jelita nampak berpikir.
“Mbak lupa nggak bawa?” tebak Dearani.
“Lho, kan jadi kasihan si kecil. Dia lapar.” Devita berkata.
Jelita menggeleng, tak ingin disudutkan. “Bukannya aku lupa, tapi… jatah
yang beli kemarin sudah habis tadi pagi.”
”Maksud, Mbak, sekarang sudah nggak ada susu lagi.” Dearani menebak
lagi. Jelita mengangguk sambil menelan ludah yang terasa kian hambar di lidahnya.
”Kasian Dodie, mbak.” Cecil mengusap kepala bayi itu. ”Kalau saja aku bawa uang, ingin aku meminjamkannya ke mbak buat beli susunya si Dodie.”
”Ini aku bawa, pakai ini saja dulu.” Devita membuka dompetnya. Tapi saat lembaran uang diulurkan, Jelita malah menolaknya.
“Jangan, nggak usah. Biar nanti aku beli setelah mas Irfan pulang,”
“Kita lapar masih bisa nahan, Mbak. Tapi anak kecil kan nggak bisa.” Devita berkata, kembali mengangsurkan uangnya.”Iya, aku juga tahu. Tapi…” Jelita masih nampak berat. Rupanya dia tipe
orang yang tak ingin dikasihani.
“Trus si Dodie mau dibiarkan kelaparan?” Devita terus mendesak.
”Ya enggak lah, biar kukasih air gula aja.”
”Mana ada gizinya, mbak.” Dearani ikut mendukung. “Sudahlah, ini terima saja.” Jelita terdiam, nampak berpikir keras. Riana memeluk pundak sahabatnya itu. ”Kami selalu disini kalau Mbak butuh sesuatu.” Jelita mengangguk dan balik memeluk pinggul Riana. ”Iya, terima kasih ya.” Dan akhirnya, dengan terpaksa tangannya terulur, menerima uang dari Devita. Semua orang tersenyum. Termasuk juga aku yang hanya melihat sedari tadi, sambil sebuah rencana mulai terbentuk di dalam otak mesumku. Sepulang sekolah, sambil pikiranku mengembara membayangkan tubuh montok Jelita, aku terus melangkah menyusuri jalan. Rumahku sudah tidak jauh lagi, bahkan pagarnya pun sudah kelihatan. Terus melangkah menembus debu tipis yang melayang-layang di atas tanah, terasa angin yang berembus lirih menerbangkan dedaunan yang rontok di penghujung musim kemarau. Rangga kusuruh pulang duluan, sementara aku berbelok, singgah ke sebuah rumah yang sudah sering kulewati, tapi luput kuperhatikan padahal penghuninya cantik sekali. Aku melirik ke dalam dan tersenyum begitu melihat pemiliknya berdiri dalam balutan baju kurung. Jelita sedang melepas baju anaknya ketika aku datang.
“Assalamualaikum.” Aku mengetuk pintu, perlahan. Dia menoleh dan langsung kaget saat melihatku. “Eh, Pak Bakri. Kukira siapa.”
Aku tersenyum. Kupandangi ibu muda itu tanpa berkedip. Jelita nampak cantik di usianya yang menginjak tiga puluh tahun. Tapi bodinya masih seperti remaja. Sekal dan padat. Terutama tonjolan buah dadanya, yang seperti mau tumpah karena penuh berisi air susu. Aku teringat enam bulan silam, saat Jelita datang ke rumah bersama suaminya untuk menemui menantuku. Mereka ingin meminjam uang buat biaya persalinan. Dengan penampilannya yang menawan, mudah saja bagi dia untuk menarik simpati dan akhirnya bisa pulang dengan uang lima juta tergenggam di tangan. Hari ini aku berniat untuk menagihnya meski menantuku tidak menyuruh. Ini adalah bagian dari rencana mesum yang sudah kususun sejak pagi.
“Mari masuk, Pak. Silakan duduk dulu,” sambut Jelita dengan nada riang dan terkejut yang dibuat-buat. “Saya buatkan minum.”
“Ah, nggak usah, Mbak. Aku cuma mampir sebentar kok,” Dengan tangan bertumpu di pintu, aku merunduk dan menatapnya.Jelita langsung salah tingkah, dia pasti tahu maksud kedatanganku. Gugup dia menyuruh si kecil Rani agar bergegas, lalu menggigit bibir, dan meminta
anaknya main di luar. Keberadaanku ibarat malaikat kematian baginya yang siap mencabut nyawanya kapan saja.
“Rangga mana, Pak?” tanyanya, tak berani menatapku.
“Dia kusuruh pulang duluan.” Aku menguap lelah.
“Wah, kan bisa di sini dulu main sama Rani.” dia berkata.
“Maunya sih begitu, tapi Rangga-nya nggak mau.” Kukuak pintu rumahnya dan aku masuk selangkah.
“Nggak capek ngantar cucu tiap hari, Pak?” tanyanya lagi sambil mundur.
“Mau gimana lagi, menantuku sibuk mengurus butik. Bisnisnya makin ramai.” Aku bergeser lagi. Kini jarak kami tinggal dua meter. Jelita tidak bisa mundur lagi karena di belakangnya adalah tembok. Kalau mau menyingkir, dia harus berjalan melewatiku. Merasa tak memiliki jalan keluar, Jelita menatapku dan tersenyum, siap untuk bernegosiasi sampai peluangnya yang terakhir.
“Bapak nggak berniat nagih, kan?” tanyanya pura pura. “Kan saya hutangnya sama Mbak Furi, bukan sama Bapak,”
Aku tersenyum. Kupaksa diriku untuk tetap berpikir jernih saat menatap tubuhnya yang sintal itu. “Iya, aku tahu. Tapi Furi yang menyuruhku nagih hari ini. Katanya mau buat tambahan beli kain.” aku berbohong. Jelita menggeleng lemas. “Tapi uangnya masih belum ada, Pak. Berilah saya waktu lagi”.
“Sudah enam bulan, Mbak. Padahal dulu janjinya cuma dua bulan. Kami
sudah cukup berbaik hati,”
“Iya, saya tahu. Tapi masalahnya, saya benar-benar nggak ada uang, Pak.”
katanya memelas.
“Mbak kan bisa usaha, pinjam ke saudara atau siapa gitu.”
Jelita terdiam sejenak. “Nggak ada yang bisa saya andalkan, Pak. Semuanya juga hidup kekurangan seperti saya.”
Gantian aku yang terdiam, antara kasihan dan nafsu. “Mungkin kita bisa mengatur kesepakatan,” tawarku kemudian. Kuperhatikan dia dengan tatapan terkunci pada dadanya yang bernapas cepat, kutebak ukurannya 35B. Lumayan membanggakan tapi tidak berlebihan
untuk tinggi badan Jelita yang 160 cm. Dia mengenakan celana panjang spandex hitam dan atasan biru longgar. Bukan jenis busana yang layak disebut menggoda, tapi toh aku tetap membelalak juga. Tersenyum, Jelita kemudian berkata, “I-iya, Pak. Beri saya kesempatan.”
Aku terdiam sejenak. Dalam benakku langsung terbayang adegan di salah satu film JAV, dimana seorang istri rela memberikan tubuhnya untuk digunakan melunasi hutang-hutangnya. Aku nyaris tersedak saat membayangkan itu. Tersenyum, aku berbisik perlahan.
“Mungkin bisa kupertimbangkan kalau mbak mau…” kuutarakan apa yang ada di kepala. Dia langsung menatapku dengan alis terangkat, terkejut dengan keberanianku. “Bapak bercanda, kan?”
Aku menggeleng penuh percaya diri. “Aku serius, mbak.”
“Bapak sungguh tega!” katanya dengan ekspresi sedih di wajahnya yang cantik.
“Sekarang terserah Mbak Jelita. Penuhi permintaanku, maka akan kuberi waktu satu bulan lagi. Kalau nggak mau, yah terpaksa Mbak harus membayar saat ini juga.”
“Apa nggak ada cara lain, Pak?” Dia menatapku.
“Ini cuma ngocok, Mbak. Nggak lebih. Sepertinya itu cukup layak buat mengganti waktuku yang terbuang sia sia disini”.
Jelita mendesah berat. “Tapi suami saya akan membunuhku jika sampai tahu.”
Aku memutar mata ke sekeliling. “Dia nggak ada kan sekarang? Jadi kita aman!”
“Tapi, Pak…” Dia melirik memelas, lalu kembali menatap. “Gimana kalau begini saja; Saya ijinkan Bapak melihat payudaraku. Sepertinya Bapak tertarik, saya perhatikan dari tadi Pak Bakri terus memandanginya. Gimana? Saya rasa ini lebih baik daripada saya harus menyentuh penis Bapak.”
Aku menyeringai saat mendengar apa yang ia katakan. Boleh juga, pikirku.
“Silakan, kalau memang Mbak maunya begitu.”
Jelita ragu-ragu sesaat, tapi kemudian dia berjalan ke pintu dan menutupnya. “Sepuluh detik. Bapak bisa melihat payudaraku selama sepuluh detik, sesudah itu Bapak harus pulang dan pura-pura ini tidak pernah terjadi. Pak Bakri mengerti?”
“Ok, sepakat.” Aku mengangguk setuju.
Dia mendesah, dan sesaat kemudian mulai membuka kancing bajunya, memperlihatkan sebuah bra merah berenda yang sangat seksi. Di baliknya terdapat bulatan daging segar yang berwarna putih, yang terlihat hampir tumpah karena tak rela untuk dikurung. Saat Jelita bernapas cepat, payudara itu pun ikut bergerak turun naik, indah sekali.
“Ini, Pak. Silakan dilihat!” Tanpa senyum, Jelita meraih ke belakang dan melepas kaitan bra-nya, membebaskan dua tonjolan payudara yang sungguh sangat sempurna itu. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi ekspresi wajahku sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan apa yang sedang kurasakan sekarang. Tak berkedip aku menatap bulatan daging kembar itu. Selain putih, ternyata payudara Jelita juga sangat padat sekali. Sama sekali tidak kendur apalagi kusut, kulitnya begitu kencang dan halus, dengan tonjolan puting mungil kemerahan menghias di puncaknya yang mengacung indah ke depan.Ingin aku berjalan lebih dekat untuk memegangnya, tapi perjanjian tidak memungkinkan hal tersebut terjadi. Terpaksa aku harus puas hanya dengan menontonnya dari jauh. Tapi itu pun sudah cukup membuat air liurku menetes deras. Benar-benar beruntung si Irfan yang tiap malam bisa meraba dan menetek di payudara seindah ini. Terus aku mengaguminya, sampai tak terasa hitungan sepuluh detik berlalu.
“Sudah ya, Pak.” Jelita berusaha melingkarkan tangan kanannya di depan dada.Namun sesaat sebelum benda itu tertutup, aku mengambil ponsel di saku baju dan memotretnya. Masih sempat tiga kali ceklikan.
“Hei, Pak! Jangan!” Jelita memprotes, tapi sudah terlambat. Dia ingin merebut hapeku, tetapi menyadari kondisi tubuhnya yang telanjang, niat itu jadi tak terlaksana. “Cepat hapus, Pak. Bapak nggak boleh ambil fotoku!”
“Buat jaminan, Mbak.” aku berkilah. “Kalau ternyata Mbak ingkar janji lagi, akan kusebarkan foto ini.” kataku sambil mengantongi hape.
“Kumohon, Pak! Hapus sekarang. Saya pasti akan melunasi hutang-hutangnya.” dia meminta.
“Nanti, Mbak. Kalau uang dari Mbak sudah kuterima!” Tersenyum sadis, aku memutuskan untuk menggodanya sedikit, “Dan kalau ternyata meleset lagi, aku nggak segan-segan untuk meminta lebih dari sekedar di foto ini.”
“Oh, Bapak kejam!” Dia terisak. “Tolong mengertilah, Pak!”
“Mbak yang nggak mau mengerti. Jadi, maafkan kalau aku sampai berbuat seperti ini.” kataku sambil berbalik dan berjalan ke arah pintu. Dia menggeleng, tapi tidak berkata apa-apa lagi.
“Sampai ketemu di sekolah besok, Mbak.” Aku menoleh sebelum keluar dari rumahnya. Jelita menatapku. “Tahu nggak, susu Mbak benar-benar indah, nggak kalah dengan milik menantuku!” kataku sambil menyeringai.
“Diam, Pak!” hanya itu yang ia katakan, dan selanjutnya tidak kudengar lagi suaranya karena sambil tersenyum puas, aku lekas pergi meninggalkan rumahnya. Kupandangi tiga foto yang kudapat selama aku melangkah pulang. Segera kupindah ke folder rahasia agar tidak sampai ada yang tahu.
Aku sedang mengamati beberapa ibu yang lagi asyik ngerumpi, mencoba membandingkan kecantikan mereka, ketika mendadak terdengar bunyi riuh. Disusul suara jerit yang berisik, dan langkah kaki yang bergesekan dengan lantai. Aku mengerjap terkejut. Lantas mataku menangkap berpuluh-puluh pasang mata polos dan bening, berebutan keluar dari luar kelas. Ternyata bunyi riuh tadi berasal dari murid-murid TK yang bubaran sekolah. Bocah-bocah mungil berseragam itu dengan penuh semangat bersalaman pada Ibu Guru. Awalnya memang tertib, tetapi toh akhirnya berebut juga saling dahulu mendahului. Aku yang kebetulan duduk di seberang pintu, sampai tertabrak oleh salah seorang murid. Si penabrak, tanpa minta maaf, kemudian ambil langkah seribu ke arah ibunya. Aku menyeringai pada Riana, ibu murid tersebut.
“Yah. Lagi musimnya tabrak lari!” ujarku, lalu meneruskan dengan kalem,
“Coba kalau yang menabrak tadi, ibunya!”
“Bisa keterusan, dong,” Riana menanggapi.
Kami tertawa bersama, kemudian mulai berjalan pulang. Riana melangkah duluan, kuiringi dari samping. Sementara Rangga dan Sinta, putri Riana, berlari duluan di depan. Aku tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Riana, karena sejak di sekolah tadi kuperhatikan dia lebih banyak diam. Maka sambil jalan berdampingan, Aku bertanya penuh minat, “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Oh. Enggak!”
“Atau belum?”
Riana tertegun.
“Ah. Hanya ucapan iseng belaka!” jawabku menambahkan, sambil tertawa.
“Ayolah. Jangan sampai terlambat pulang ke rumah. Nanti suamimu menyangka, kau sudah ada yang menggoda!” Riana tersenyum. Kecut.
Kami meneruskan langkah menuju rumah Cecil. Dia mengundang kami menghadiri pesta ultah anaknya. Di sana, sudah banyak ibu-ibu yang berkumpul. Sedangkan anak-anaknya ramai bermain di ruang tengah. Pesta ulang tahun itu berlangsung seru. Acara buka kado dilakukan di
depan tetamu cilik teman-teman sekelas putri Cecil. Pernik-pernik kado unik menyembul dari kertas kado yang disobek beringas oleh Calista, si gadis kecil yang berulang tahun.
“Wui, boneka Barbie!” teriak Calista.
“Itu dari aku. Bagus ya?” celetuk seorang bocah, bangga.
“Yang dari aku juga keren. Buka yang ini dulu,” seorang bocah meraih kado dari meja dan menyodorkan pada Calista. Calista meladeni temannya. Ia sobek kertas kado itu. Membundar matanya melihat boneka alligator berwajah imut. Dan selebihnya, Calista sukses memenuhi lantai dengan sobekan-sobekan kertas kado. Tiga puluh satu kado ditumpuk di meja.
“Ini dari Mama,” Cecil mengangsurkan kado terakhir. Calista menyambutnya dan seberingas sebelumnya, ia membetoti kertas pembungkus.
“Asyik. Ini tas yang aku mau!” heboh teriakan Calista menimang tas plastik produk impor bergambar tokoh-tokoh Frozen. “Terimakasih, ya, Mah.” Dan pesta dilanjutkan dengan acara makan bersama. Meja prasmanan dengan berbagai hidangan menarik siap untuk disantap. Aku mengikuti pesta itu dengan duduk siaga seperti seekor elang yang sedang mengintai
mangsanya. Bagaimana tidak? Sepanjang acara itu aku disuguhi banyak paha yang terkangkang lebar, atau belahan dada yang hampir jatuh, serta kerlingan-kerlingan nakal saat mereka menatap celanaku yang menonjol malu-malu.
“Wah, sepertinya Pak Bakri menikmati pesta ini,” Cecil menoleh ke arahku.Aku hanya bisa tersenyum. “Sering-sering begini, aku bakal awet muda!”
“Sudah kelihatan kok,” Mereka tertawa cekikikan.
Kurang ajar nih, aku dikerjai! geramku dalam hati. Awas ya! Pesta terus berlanjut, meskipun masih terdengar cekikikan yang sayup-sayup. Dasar para ibu muda. Mentang-mentang berkelompok, aku yang laki-laki sendirian jadi bahan olok-olok. Bahkan ada seorang ibu yang menodongku,
“Pak Bakri, bagi pulsanya dong.” wajahnya tak mau lepas dari ponselnya. Karena niatnya usil, maka kujawab dengan tak kalah usilnya juga. “Okey tapi kasih dulu nomor ponselmu.”
“Nggak jadi!” jawabnya ketus. Ia melengos dan pergi membelakangiku. Rambutnya agak bergelombang, ditata dengan jepit kecil di depan. Aku pun mengacuhkannya tanpa beban karena dia memang bukan tipeku. Sudah gendut, nggak cantik lagi, batinku. Mataku lebih terfokus pada Dearani, perempuan yang sedang berbincang dengan Riana. Wajah ayunya tampak bercahaya. Dan ditunjang dengan tubuh bohay, jadilah dia tambah bersinar. Di pojok ruangan, kulihat Jelita duduk memelas. Sesekali melirik ke arahku. Gara-gara wajahnya yang mellow itu, aku jadi agak merasa bersalah sudah mengerjainya kemarin. Tapi, gara-gara dia sendiri sih. Punya tubuh kok sebagus itu. Aku kan jadi kepengen!
Dan rasa kepengen itu menemukan muaranya kala kutatap Cecil, Devita dan Dearani yang cekikikan membicarakan sesuatu. Mereka bertiga memang kompak. Kalau jajan, suka makan dengan tema yang sama. Bakso pedas, dan minumannya juga serempak. Hmm, apakah mereka memakai daleman yang warnanya sama? Aku menduga-duga dengan pikiran nakal.
Aku melirik sekilas ke arah arloji. Pukul 12:00. Sudah siang rupanya. Beberapa tamu—lebih dari separoh—pamit untuk pulang. Begitu pula dengan Riana. Tapi saat akan melewatiku, dia menyempatkan berbisik sebentar. “Pak, saya bisa minta bantuan?”
Aku mendongak, menatapnya. “Iya, Mbak. Tentu.”
“Tapi tidak sekarang.” Riana berbisik lagi. “Besok atau lusa akan kukabari,
atau setelah waktunya saya anggap pas.”
“Terserah Mbak aja, pokoknya saya siap!”
Jujur saja, aku sangat mengagumi kecantikan perempuan satu ini. Kalau memang bisa membantunya, dan akhirnya bisa dekat dengannya, kenapa tidak? Sering aku onani sambil membayangkan tubuh Riana. Payudaranya memang tidak terlalu besar, namun gundukannya cukup jelas terlihat di balik jilbab lebar yang selalu ia kenakan, dan bentuknya tegak bukan kendor! Perut Riana begitu rata dengan pinggang ramping, namun pantat sedikit besar. Tinggi badannya 160 cm, lebih pendek dariku yang bertinggi 170 cm. Kulitnya putih bagai pualam. Riana pulang, dan aku masih menunggu Rangga. Tak lama, aku pun turut pamit. Cecil dan Devita mengantarku ke pintu depan. “Hati-hati, Pak! Jangan sampai kesasar ke rumah tetangga,” kata mereka menggoda.
“Yang ada, aku kesasar masuk ke kamar kalian,” sahutku tak kalah nakal. Lalu mencolek pipi mereka masing-masing. Usia mereka jauh di bawahku, hampir selisih separoh. Tapi untuk urusan nafsu, tidak memandang umur, bukan?
Tiba di rumah, kulihat mobil anakku sudah ada di garasi. Seperti biasa, mereka pulang untuk makan siang. Tapi tidak kujumpai mereka di ruang makan, juga di ruang tengah dan halaman belakang. Berarti mereka berada di kamar. Kalau siang-siang begini sudah ngumpet, bisa kupastikan mereka akan melakukannya. Apalagi melihat pintu dan jendela kamar yang tertutup, aku jadi makin yakin. Aku sudah hafal kebiasaan itu. Maka cepat aku beranjak ke tempat biasa aku mengintip, setelah sebelumnya kusuruh Rangga main PS di ruang keluarga.Dari sebuah celah sempit di antara daun pintu yang retak, kulihat anak dan menantuku sudah dalam keadaan bugil, tidak memakai baju sehelai pun. Nampak Ijang sedang menindih tubuh molek Furi dengan penuh nafsu. Dia memeluk erat sehingga tubuh Furi jadi tidak terlihat jelas. Kedua tubuh mereka penuh oleh keringat. Kepala Ijang rapat sekali menempel di dada montok Furi, mungkin lagi nenen di sana, sambil pantatnya bergerak naik turun. Nampak kontol Ijang yang tidak terlalu besar tengah menumbuki liang senggama Furi.
“Memekmu legit, Bun. Enak. Kamu enak tidak?” Ijang menggeram. Mulutnya penuh oleh payudara montok Furi.
“Iya enak, Bang. Teruskan saja. Enak!” Furi menggelinjang. Aku dapat mendengar suara mereka dari tempatku mengintip. Anakku terdengar sangat antusias dan penuh nafsu. Namun, suara menantuku hampir terasa datar di telinga. Jauh sekali dengan apa yang kubayangkan. Biasanya saat menyetubuhi perempuan, suara wanita yang kusenggamai jauh lebih bernafsu, jauh lebih manja dan jauh lebih antusias. Mungkin karena Furi tidak terpuaskan, aku berpikir. Atau memang watak Furi sudah begitu. Toh, selama ini memang menantuku itu terkesan pendiam dan tidak banyak tingkah. Anggun, kata orang-orang. Tak lama Ijang mengejang dan menghentikkan hujamannya yang bertubi-tubi, pantatnya ditekan keras ke bawah. Laki-laki itu melenguh. Lalu setelahnya, Ijang membalikkan badan untuk rebah di samping Furi. Kali ini aku dapat melihat tubuh menantuku dengan utuh. Furi yang langsing itu memiliki payudara yang bulat dan mancung. Bulatannya hampir sebesar buah pepaya, dengan puting susu berdiameter sebesar tutup botol kecap dan panjangnya setengah ruas jari kelingking. Kedua payudara itu menempel
dengan manisnya di atas tubuh Furi yang ramping dan langsing. Walaupun tidak memiliki otot perut seperti bintang sinetron, perut Furimenunjukkan kalau sama sekali tidak ada lemak di sana. Dihiasi oleh pusar yang terlihat hanya sebagai lubang kecil gelap. Sementara, selangkangannya ditutup oleh bulu-bulu keriting halus yang dicukur rapi, melingkari bibir kemaluan yang tampak sedikit saja merekah karena habis dientot. Sperma Ijang nampak mengalir perlahan keluar dari lubang memek itu.
Melihatnya membuatku makin bergairah. Ingin sekali aku dapat merasakan kenikmatan menggauli tubuh menantuku yang seksi itu, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Aku hanya dapat kembali ke kamar dan melakukan onani sambil
menatap rekaman persetubuhan mereka di layar hape.

Bersambung

Daftar Part