. Merindukan Kesederhanaan Part 52 | Kisah Malam

Merindukan Kesederhanaan Part 52

0
186

Merindukan Kesederhanaan Part 52

Negeri Di Awan[Epilog]

Aku menatap dua orang yang duduk di depan ku ini datar hampir tanpa ekspresi. Sudah hampir setengah jam kami bertiga duduk di tempat ini dan tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mereka berdua. Doni dan Gita. Iya, mereka berdua adalah Doni dan Gita. Dan sampai saat ini aku masih tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Dua orang ini menghubungi ku dua hari yang lalu, atau beberapa jam setelah kepergian Kiki yang beritanya langsung menyebar ke group angatan. Intinya mereka ingin bertemu dengan ku. Mereka juga ini nyekar ke makam Kiki. Dan hari ini aku baru bisa menemui mereka.

“Dulu Kiki pernah bicara pada ku,” ucap ku tertahan lalu menatap mereka kembali. “Waktu itu kalian berdua sudah pergi.”

Mereka berdua masih tetap diam. Doni menatap lesu pada bekas puntung rokok yang tergeletak di atas asbak, pun begitu juga dengan Gita yang masih tetap menunduk dan aku juga bisa melihat linangan air mata yang masih terus mengalir membasahi pipinya

“Kalau ada mukjizat yang bisa Kiki minta pada Tuhan, maka itu adalah kalian berdua, sayangnya mukjizat itu datang ketika Tuhan lebih dulu memanggil Kiki.”

“Sekarang semuanya aku balikin lagi pada kalian mau bagaimana, sejujurnya aku udah ga peduli sama kalian berdua,” lanjut ku dengan sedikit menahan amarah ku.

“Ian, sebenernya…” Doni mulai membuka pembicaraan. Aku menatap matanya namun kemudian dia malah berhenti. Dan kembali hening.

“Gue nyesel waktu itu…” ucapnya dengan ragu.

“Ini bukan soal nyesel ga nyesel Don, ini soal hati nurani, kalian berdua tega bikin Kiki terus-terusan merasa bersalah bahkan hingga dia pergi, bayangin aja lima tahun dia merasakan tidak enaknya merasa bersalah terus-terusan, aku ga tahu hati nurani kalian ada dimana.”

“Kita bisa jelasin semuanya, kita…”

“Percuma juga di jelasin, Kiki sudah pergi, mau apa lagi? Kita sudah sama-sama tua, bukan anak kuliahan lagi yang tiba-tiba bisa emosi sesaat lalu pergi begitu aja…” potong ku sambil melirik pada gita. Aku jadi teringat bagaimana sikapnya dulu yang marah-marah dan pergi begitu saja. Aku menggeretakkan gigi ku menahan amarah. Jika memang Kiki harus pergi sekarang, aku bisa terima karena itu takdir Tuhan. Tapi yang aku tidak terima adalah Kiki pergi masih dengan perasaan bersalahnya.

“Aku sebenernya udah mau hubungi kamu Ian, hiks…” ucap Gita tiba-tiba sambil tersedu.

“Nyatanya kamu ga ada telpon atau apalah ke aku,” balas ku sinis.

“Aku udah niat mau hubungi kamu, ta-tapi… waktu itu…”

“Apa?”

“Kamu habis nikah sama mba Ayu… a-aku…”

“Telpon tinggal telpon aja, masalahnya dimana?”

“Gue waktu itu juga udah mau hubungi lo, tapi…” ucap Doni tapi berhenti.

“Apa lagi?”

“Lo inget waktu gue ga sengaja lihat lo sama cewek di kafe?”

“Farah? Iya aku inget, apa hubungannya?”

“Gue juga ga tahu kenapa tiba-tiba males aja lihat muka lo asik-asik sama orang lain.”

“Maksud mu aku ga boleh bahagia?”

“Bukan, bukan gitu, gue bingung mau gimana ngomongnya, intinya gue sama Gita sekarang nyesel dan minta maaf sama lo. Gue udah coba mau hubungin elo tapi…”

“Kalian berdua cuma punya rencana buat hubungin aku, tapi aku yang udah nyata-nyata ngehubungin kalian aja ga ditanggepin. Ya sudah lah, ga ada gunanya lagi bahas ini sekarang, seharusnya kalian berdua bilang begitu lima tahun yang lalu, iya lima tahun yang lalu saat mungkin penyakit Kiki belum parah dan kita bisa sama kasih support ke Kiki.”

“Ian… hiks… maafin aku…” ucap Gita sambil menangis.

“Kalian sujud tujuh hari tujuh malam di depan nisan Kiki tidak akan cukup menggantikan perasaan bersalah Kiki selama lima tahun.”

“Ian… kita…”

“Kita sudah berakhir sejak kalian pergi ninggalin aku dan Kiki, kalian berdoa saja semoga Kiki mau maafin kalian berdua,” ucap ku menutup pembicaraan kami bertiga. Aku lalu meraih kunci mobil dan HP ku yang sebelumnya tergeletak di atas meja dan meninggalkan mereka berdua begitu saja. Tanpa salam, dan tanpa pamit. Sudah berakhir. Aku muak. Aku benci. Aku marah.

~~Tiga Tahun Kemudian~~

“Sudah?” tanya ku kepada Tiara yang baru saja selesai merapihkan kerudungnya. Ya, sudah tiga tahun belakangan ini dia memutuskan untuk berhijab. Tiara nampak cantik sekali dengan outfitnya hari ini, atasan warna putih cerah dipadukan dengan kerudung bermotif bunga yang berwarna cerah juga. Mirip dengan Kiki dulu, suka dengan warna yang cerah.

“Udah om, yuk kita nengokin tante Kiki…” balasnya dengan riang.

Aku dan Tiara lalu turun dari mobil. Kami berdua sedang berada di areal pemakanan dimana Kiki di makam kan. Udara khas pedesaan yang sejuk memberikan ketentraman dalam jiwa. Suara kicau burung yang merdu seolah menyambut kedatangan kami berdua. Dan tidak terasa sudah tiga tahun berlalu semenjak kepergiannya.

“Asalamualaikum…” sapa Tiara dengan manis begitu tiba di makam Kiki. Dia lalu duduk di sebelah kiri makam, sedangkan aku di sebelah kanan. Tiara lalu menaruh piala serta piagam kelulusannya yang sengaja dia bawa. Dia adalah tiga besar lulusan terbaik di sekolahnya.

“Tante Kiki lagi apa? Ini aku sama om Ian nengokin tante nih…” ucap Tiara lagi sambil tangannya mengusap-usap dan membersihkan batu nisan di depannya. Sedangkan aku yang tersenyum getir dan hampir menangis lagi, membersihkan beberapa rumput liar yang tumbuh di atas makam.

“Oiya tan, Tiara baru aja lulus loh…ini aku bawain juga nih piala sama piagam nya. Tiara masuk tiga besar terbaik loh…hebat kan? Tante pasti bangga sama Tiara kan? Hehehe…”

Tiara terus mengusap-usap batu nisan itu. Dibersihkannya batu nisan itu dari debu yang menempel. Dia tidak memperdulikan telapak tangannya yang putih dan halus itu jadi kotor akibat debu yang menempel pada nisan.

“Iiihh…tante kok diem aja siih? Diajakin ngobrol juga! Sebel ah Tiara sama tante…hiks…” kesal Tiara dengan raut muka manyun, dan mungkin sebentar lagi dia akan menangis.

“Tiara…” tegur ku kepadannya. Dia lalu menyeka air mata nya.

“Hehehe, maaf om…Tiara kebawa suasana lagi…”

“Iya ga apa-apa…”

“Om Ian kok diem aja? Ngomong dong sama tante, siapa tau tante nya kangen…”

Aku mengela nafas sejenak dan memandang wajah manis Tiara sambil tersenyum.

“Ki, terima kasih ya untuk semuanya. Semua yang pernah kamu lakukan untuk ku. Aku tidak akan pernah melupakannya. Jiwa mu akan selalu hidup di dalam raga ku ini. Aku akan menjadi laki-laki yang kamu inginkan. Karena semangat mu akan ikut tumbuh di dalam jiwa ku. Dan akan terus berada di sana untuk selama nya. Hingga nanti, saat kita dipertemukan kembali di keabadian. Seperti doa yang kamu panjatkan. Semoga. Aamiin.”

Aku lalu mengajak Tiara untuk bersama-sama berdoa untuk Kiki. Semoga arwahnya tenang di alam sana. Diampuni dosa-dosa nya. Dan diberikan tempat yang lapang oleh Allah SWT. Aamiin.

Setelah selesai ‘kangen-kangenan’ dengan Kiki, aku dan Tiara pun balik. Langsung ke Wonosari dan tidak mampir ke rumah Kiki. Sudah tidak ada orang lagi. Bapak Kiki, sudah berpulang menyusul anaknya dua tahun yang lalu atau satu tahun setelah meninggalnya Kiki. Sedangkan mas Riki balik dinas di Jakarta lagi, dan keluarga kecil nya tentu saja mengikuti.

Aku berjalan beriringan dengan Tiara. Gadis manis yang dulu sering aku gendong itu kini telah benar-benar tumbuh menjadi wanita dewasa. Meski usianya kini baru menginjak delapan belas tahun, namun kedewasaannya telah jauh melampaui usia nya. Aku bangga padanya. Anak kecil yang dulu rese itu telah menjelma menjadi seorang gadis remaja yang baik, sabar, periang dan ceria.

Usia ku sendiri sekarang sudah menginjak tiga puluh dua. Dan aku masih menduda selama empat tahun terakhir. Aku seperti sudah tidak memiliki gairah atau hasrat lagi untuk membina hubungan rumah tangga. Dengan adanya Tiara di samping ku, itu sudah cukup bagi ku. Dan, aku tidak mau bila nantinya orang-orang yang ada di samping ku akan pergi dengan cepatnya meninggalkan ku sama seperti dengan yang terjadi sebelum-sebelum nya.

Kedua orang tua ku juga sudah semakin tua. Tetap tinggal bersama dengan mas Yoga dan mba Laras. Sekarang mereka tinggal menikmati masa tua nya saja tanpa harus bersusah payah mencari uang. Semua kebutuhan mereka sudah bisa kami cukupi bertiga. Ya, kami bertiga. Aku, mas Yoga, dan Binar.

Mas Yoga, usahanya semakin sukses. Rumah makannya kini telah membuka cabang di beberapa tempat. Peternakannya juga semakin sukses. Dan mampu menarik tenaga kerja untuk para warga setempat. Tidak hanya sebatas memberikan lapangan pekerjaan, mas Yoga juga tidak pelit untuk membagi keterampilannya dalam berbisnis dan tidak pernah membatasi para karyawannya untuk berkembang.

Sedangkan Binar, dulu dia hanya bertahan satu tahun saja menjadi ibu rumah tangga. Bukan karena Endra tidak mampu mencukupi kebutuhannya, tapi memang pada dasarnya bukan jiwanya dia untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, yang hanya berdiam diri di rumah, menyiapkan sarapan dan makan malam. Tidak akan mungkin bisa.

Tetapi karena Endra tidak mengijinkan Binar untuk bekerja, maka pada akhirnya Binar malah melanjutkan study nya lagi. Setahun yang lalu dia berhasil menyelesaikan paska sarjananya dan langsung menjadi tenaga pengajar di tempat dimana dia kuliah. Aku tidak kaget dengan hal itu karena jiwa nya itu tidak akan pernah cocok bila harus berdiam diri di rumah. Dan satu hal yang berubah dari dirinya adalah dia tidak pernah lagi menyinggung soal Gita semenjak meninggalnya Kiki. Aku tidak tau mengapa.

Ah iya, berbicara soal Gita dan Doni, aku jadi teringat dengan salah satu permintaan dari mendiang Kiki yang belum bisa aku penuhi hingga hari ini. Tidak lama setelah kepergian Kiki waktu itu, pada akhirnya Doni dan Gita menghubungi ku. Dua hari setelahnya Doni dan Gita benar-benar datang. Tapi semua sudah telat. Aku sudah benar-benar muak dengan mereka. Hidup dan mati memang sudah ada garisnya, tapi yang aku sesalkan adalah hingga akhir hayat, Kiki harus menanggung rasa bersalah karena kepergian mereka. Sesuatu yang tidak bisa aku terima waktu itu, mungkin hingga saat ini.

Apa lagi ya? Ah iya, Farah. Dia sudah tidak bekerja lagi di tempat ku bekerja. Setelah melahirkan anak kedua nya, dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan total mengurus kedua anaknya. Tapi aku masih berteman dengannya. Dan kami pun masih sering berinteraksi baik secara langsung dengan beberapa kali jalan bersama, dia dengan keluarga kecil sedangkan aku dengan Tiara tentunya, maupun hanya sebatas melalui media sosial.

Dan pada akhirnya sekarang hanya Tiara yang aku miliki. Aku tahu tahu rencana ke depan nya akan bagaimana. Ya, aku tidak memiliki rencana apa-apa. Tapi paling tidak selama empat tahun terakhir ini aku baik-baik saja. Aku masih sehat. Aku bisa merawat diri ku sendiri, dengan bantuan Tiara tentunya. Aku bahagia. Aku menikmati hidup ku. Dan mungkin hikmah dibalik semua ini adalah aku bisa semakin dekat dengan Allah Tuhan Semesta Alam. Aku menjadi semakin sadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya hanya sementara. Dan satu hal yang pasti, tidak akan pernah maut melupakan kita, meskipun kita sering melupakannya.

~•~•~•~

~~Beberapa Hari Kemudian…~~

Hari ini aku tidak masuk kerja. Bukan karena sedang sakit atau tidak enak badan. Bukan juga karena sedang ada keperluan lainnya. Aku hanya ingin memanfaatkan sisa jatah cuti ku untuk menemani Tiara daftar ulang di kampus nya. Tiara jadi anak kuliahan? Iya. Aku sendiri juga masih belum percaya. Waktu berlalu dengan cepat nya semenjak dia melontarkan pertanyaan konyol tiga belas tahun yang lalu itu.

“Kuliah itu apa?”

Sekarang kamu sudah menjadi anak kuliah. Menjadi seorang mahasiswi di salah satu dari tiga besar Universitas terbaik di negeri ini. Sesuatu yang tidak bisa aku lakukan dulu. Aku benar-benar bangga dengan nya, Tiara Zulkarnaen. Keponakan kuyang akan selalu menjadi kesayangan ku.

“Om, nanti setelah selesai daftar ulang, Tiara ketemuan sama temen Tiara yah? Orangnya keterima juga di kampus Tiara. Tapi dia ngajakin ketemuannya di kampus Om Ian,” tanya Tiara kepada ku saat kami berdua berada di dalam mobil diperjalanan menuju kampus nya.

“Lah bisa begitu?”

“Ga tau om, kayanya sih dia sama sodara nya deh, nah sodaranya itu kayanya satu alumni dengan om Ian. Ada reunian mungkin?”

“Reunian? Ga ada tuh.”

“Beda fakultas mungkin? Atau beda angkatan?”

“Masuk akal sih kalau beda fakuktas atau angkatan. Ini temen satu sekolahan kamu?”

“Bukan sih om…”

“Lalu?”

“Dia anak SMA Negeri 5, anak nya pinter deh om…”

“Cewek?”

“Cowok om…heeheee…” balas Tiara dengan ragu.

“Cowok? Sejak kapan kamu punya temen cowok beda sekolah? Anaknya gimana? Baik? Jangan asal temenan sama orang yang ga jelas lho Ra,” pesan ku mulai bawel. Ya, aku memang sangat protektif kepadanya. Aku tidak mau bila sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Mungkin terlalu berlebihan, tapi aku tidak mau mengambil resiko. Apalagi pergaulan anak muda jaman sekarang yang sangat bebas dan tidak terkontrol. Aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri bila terjadi sesuatu pada nya.

“Tenaang…sedikit banyak Tiara sudah tau kok mana yang baik dan mana yang buruk. Lagi pula Tiara kenal banget kok sama anak ini. Hihihi.”

“Kenal baik? Sedeket apa? Kaliaaan?”

“Enggaaak, iiih…sahabatan aja om…kita dulu kenal waktu sama-sama ikut lomba. Nah waktu itu ada anak yang bikin group di wasap, nah anak-anak itu masih pada komunikasi sampai sekarang, termasuk sahabat Tiara ini. Dan sekarang kita tergabung dalam sebuah komunitas om yang peduli dengan anak-anak jalanan.”

“Oh ya? Keren dong?”

“Ga nyari popularitasnya sih, kita melakukan semuanya ikhlas dari hati semata-mata demi masa depan anak-anak itu…yang nasib nya jauh kurang beruntung dari Tiara, dan temen-temen yang lainnya.”

“Yaaa…yang penting kamu bisa jaga diri, ga boleh lengah. Kamu amanat terbesar dari almarhum mama mu. Hanya kamu yang om miliki sekarang. Om ga tau akan seperti apa jadinya bila kamu…”

“Sstthh…udah…om ga perlu khawatir deh…pokoknya semua aman. Yang penting, nanti ga apa-apa kan kita mampir ke kampus nya om? Ya siapa tau om mau bernostalgia gitu, siapa tau juga bisa ketemu temen lama…”

“Hmm…boleh juga sih…ya sudah…atur aja. Apa kata Tiara deh, yang penting Tiara senang. Om pun bahagia. Hahaha.”

“Hahaha… Oh iya om, Tiara boleh nanya?”

“Apa?”

“Tante Gita apa kabar? Tiara jadi sedih setelah tahu semua cerita persahabatan kalian berempat,” ucap Tiara. Aku memang sudah menceritakan semua perjalanan hidup ku bersama Kiki, Gita, dan Doni. Begitu juga dengan cerita tiga tahun yang lalu dimana Gita dan Doni yang sudah menemui ku tapi waktu itu aku yang marah pada mereka.

“Om ga tau…”

“Jadi setelah waktu itu lost contact lagi selama tiga tahun ini?”

“Ga juga, sesekali mereka menghubungi om, tapi om ga terlalu nanggepin… om masih…”

“Ga terima soal tante Kiki?”

“Mungkin… om masih kaya ga ikhlas gitu tante Kiki pergi masih dengan perasaan bersalah…”

“Maafin aja sih om… kalau om ga maafin itu artinya om sama aja dengan mereka dulu…”

“Akhir-akhir ini om juga kepikiran begitu sih, ga tahu lah Ti.”

“Ya Tiara cuma kasih masukan aja om…”

“Iya… om ngerti kok… semoga nanti ada jalannya, kalau Allah punya kehendak juga pasti kumpul lagi” balas kusambil tersenyum pada nya.

“Ammiin.”

~•~•~•~

Dari kampus Tiara menuju kampus ku hanya perlu berjalan kaki menyeberangi rel kereta. Ya, kampusnya dan kampus ku memang bersebelahan. Sejarah berdirinya kampus ku pun tidak terlepas dari kampus nya. Konon katanya, kalau tidak salah pendiri dari kampus ku ini adalah salah satu dosen di kampusnya dulu. Kalau dalam silsilah keluarga status apa ya? Bapak-anak? Om-keponakan? Hahaha. Entahlah.

Setelah menyeberang rel, aku dan Tiara harus berjalan melewati sebuah jalan penghubung yang menjadi akses dari kampus ku atau dari jalan margonda menuju kampus Tiara. Jalanan ini hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan bersebelahan dengan kali kecil. Suasananya ternyata sudah banyak yang berubah. Jalanannya sedikit lebih rapi meskipun tidak rapi-rapi banget. Yang tidak berubah hanyalah beberapa kios warung makan yang masih eksis, beberapa kios fotocopyan yang semakin besar, serta tukang es kelapa dan tempe mendoan yang rasanya gurih banget. Pulang nanti aku harus mencobanya lagi pikir ku.

“Om, kalau gazebo dekat masjid itu dimana sih?” tanya Tiara sambil memandangi layar HP nya.

“Kenapa mangnya?”

“Ya ini temen ku itu nungguin nya di sana…”

“Owh…ke arah sana. Ya udah yuk ikutin om aja…” balas ku sambil menunjuk ke arah dimana masjid berada. Tiara tidak banyak nanya lagi dan langsung mengikuti kemana arah ku berjalan.

Untuk menuju masjid, kami harus melalui beberapa gedung di antaranya yang kalau aku tidak salah ingat adalah gedung ruang pendaftaran. Ya, betul, itu adalah ruangan pendaftaran mahasiswa baru. Itu artinya disana adalah tempat dimana aku pertama kali berinteraksi dengan Gita dulu. Saat dia dengan juteknya menanggapi pertanyaan tolol ku. Hahaha. Mendadak aku jadi teringat dengan momen itu.

Tidak lama kemudian aku dan Tiara sudah tiba di gazebo yang di maksud. Ada beberapa makhluk hidup yang duduk di gazebo ini. Yang kasat mata, yang tidak aku tidak tau. Tapi setelah memperhatikan Tiara yang tidak mendapati batang hidung temannya itu, sepertinya temannya belum tiba.

“Mana? Belum dateng ya?” tanya ku.

“Udah di sini kok tadi bilangnya…bentar aku tanya lagi…”

“Oke…”

Aku lalu mengambil posisi di salah satu sisi gazebo itu dan duduk di atas nya menghadap sejajar dengan masjid. Tempat ini…aku ingat sekali dulu, saat aku, Kiki, Doni dan Gita sering banget ngerjain tugas di sini. Ya karena di gazebo ini lah tempat dimana spot wifi gratisan yang di provide oleh pihak kampus berada. Maka tinggal bermodal laptop maka bahan-bahan kuliah, tugas, menjadi mudah untuk di kerjakan. Maklum jaman dulu internet masih belum semudah sekarang.

Aku melihat ke sekeliling. Banyak yang berubah tetapi secara umum gedung-gedung yang ada masih sama. Di sana, aku memandang ke arah parkiran mobil, untuk pertama kali nya aku melihat seperti apa sifat Gita yang sebenarnya saat dia dengan ikhlas sepenuh hati membantu anak kecil yang sedang menangis karena uangnya habis di palak preman. Dan disana, aku memandang gedung dimana ruang ujian berada, untuk pertama kalinya aku bertemu dan berkenalan dengan Doni. Hahaha. Sial. Kenapa bayangan mereka berdua yang muncul?

“Naaah…itu dia orangnya…Aldiii…” teriak Tiara cukup keras namun tetap terdengar manja dan…genit ala-ala anak gadis abg yang memanggil teman laki-laki nya. Ah anak itu benar-benar sudah berubah.

“Aldi?” ucap ku pelan. Aku seperti pernah mendengar nama itu. Aku lalu menoleh dan ternyata si anak laki-laki yang dimaksud Tiara sudah berada di dekat kami. Aku lalu memperhatikan anak itu secara detail. Dari atas sampai bawah aku perhatikan secara seksama. Memang terlihat seperti anak baik-baik sih. Rapi, bersih, dan tidak urakan. Anaknya juga sopan saat menjabat tangan ku untuk berkenalan.

“Aldi, om…” ucapnya sambil sedikit membungkukkan badan.

“Alfian, panggil saja om Ian…”

“Ini om aku yang sering aku ceritain itu Al…” ucap Tiara dengan manisnya. Ini anak kenapa sih?

“Salam kenal ya om, saya temennya Tiara. Bukan temen sekolah sih, tapi kita ada group gitu di komunitas pengajar anak jalanan…”

“Oh ya? Keren…” ucap ku memuji nya karena nampaknya anak ini ingin sekali show up di depan ku. Untuk mendapatkan kesan yang baik di mata ku? Mungkin. Dasar bocah. Hahaha. Aku tertawa dalam hati.

“Al, tadi kamu bilang katanya kamu kesini sama sodara kamu yang alumni kampus ini juga? Mana? Om Ian alumni sini juga lho, sapa tau mereka kenal, hehehe…” tanya Tiara memotong percakapan ku dengan anak laki-laki bernama Aldi ini.

“Kakak ku Ra. Kakak angkat sih. Tadi sih bilangnya mau ke toilet Ra, paling bentar lagi juga balik. Aku udah bilang kok kalau kita nunggu di sini.”

“Oh gitu…oke deh…” balas Tiara.

“Toilet mana emangnya? Emang namanya siapa?” tanya ku iseng barang kali aku mengenalnya.

“Di toilet masjid om. Namanya…ah itu dia orangnya…” ucap Aldi sambil melambaikan tangannya ke arah belakang ku yang memang merupakan posisi toilet wanita masjid ini kalau dari posisi ku duduk. Secara sepontan aku dan Tiara membalikkan badan guna melihat saudara atau kakak angkat yang dimaksud oleh Aldi.

“Om Ian…” ucap Tiara sepontan. “I-itu kan…?” lanjut Tiara hampir histeris sambil tangannya menggoyang-goyangkan lengan kanan ku.

Tiara benar. Orang itu…

Mata kami saling beradu untuk beberapa saat. Meskipun cukup banyak orang yang berlalu-lalang di antara tempat ku duduk dan tempatnya berdiri namun itu tidak mengalihkan fokus pandangan ku padanya, begitu juga sebaliknya. Apakah ini jawaban dari pikiran ku yang akhir-akhir ini sering memikirkannya? Tiga tahun yang lalu memang aku marah besar kepadanya, tapi belakangan ini aku mulai berfikir tidak ada gunanya jika terus-terusan seperti ini. Jika aku masih tidak bisa memaafkannya berarti aku sudah tidak punya hati lagi. Aku manusia. Mereka juga manusia. Aku pernah berbuat salah, mereka juga pernah berbuat salah.

Aku masih diam terpaku menatap ke arah wajahnya. Ini pasti bukanlah sebuah kebetulan. Tiga tahun yang lalu aku memang balik marah kepadanya. Tapi aku yakin ada alasan di balik Tuhan mempertemukan ku kembali dengan dirinya. Sebuah alasan yang sangat klasik.

Aku tidak perduli lagi dengan keberadaan Tiara dan Aldi. Aku langsung berdiri dan melompat melewati gazebo tempat ku duduk tadi lalu berlari kearah wanita itu. Wanita itu masih berdiri mematung ditempatnya namun pandangannya tidak lepas dari mata ku. Pandangan ku pun tidak mau lepas dari matanya yang seolah membuktikan betapa rindu nya diri ini dengan diri nya.

Aku tidak perduli bagaimana reaksinya nanti. Apakah nanti dia akan menampar ku lagi? Ataukah akan memaki ku? Atau mungkin malah akan menabrak ku lagi dengan mobilnya? Atau kah dia akan mentertawakan ku karena tiga tahun yang lalu marah kepadanya. Aku tidak perduli. Aku hanya ingin segera memeluknya. Merengkuh kembali jiwa nya. Dan yang paling utama, aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan yang dulu pernah aku perbuat kepadanya.

~•~•~•~

~~Tiga Tahun Kemudian~~

Pov Nyonya Alfian

Siapa yang menyangka kalau ternyata si kecil Tiara, yang dulu rambutnya kriwil, dan agak-agak ngeselin, hehehe, keponakan si tolol itu akan menjadi sahabat karib dari Aldi, adik angkat ku yang dibesarkan di panti, warisan nenek ku, yang dulu di jaga oleh pak Ahmad. Tidak akan ada yang menyangka. Tapi ya begitulah takdir yang digariskan Tuhan pencipta semesta alam kepada kami. Dan dengan persahabatan mereka itu pula lah yang pada akhirnya mempertemukan kembali diri ku dengan diri nya.

Aiiih. Diri ku dan diri nya? Iya. Dirinya, si tolol yang ga pernah peka itu. Ops…gitu-gitu sekarang dia suami gue tau…hehehehe. Ada masalah? Enggak sih.

Ngomong-ngomong soal Tiara dan Aldi, kok aku berharapnya ada hubungan lebih ya di antara mereka? Seru kali ya kalau keponakan suami ku berjodoh dengan adik angkat ku sendiri? Hihihi. Tidak ada hubungan darah di antara mereka, harusnya sih tidak ada masalah dong ya? Harusnya sih tidak. Dan meskipun Aldi lebih mudah dua tahun dari Tiara, aku rasa tidak akan menjadi penghalang bagi mereka.

Eh kok malah aku yang terlalu bersemangat ya? Hihihi. Biarin sajalah mereka menjalani dulu semuanya apa adanya. Kalau jodoh ya sukur, enggak ya pasti itulah yang terbaik.

Ehmm…menurut kalian, apa aku perlu mengenalkan diri? Aku rasa tidak sih ya. Dari cerita suami ku yang panjangnya tiada tara itu…sudah jelas lah ya siapa aku sebenarnya? Hahaha. Malah jadi sok misterius. Pasti kalian sudah tau siapa aku.

Hoaahmm…sebenarnya aku sudah sangat mengantuk mendengarkan ceritanya dari siang tadi. Cerita perjalanan hidup nya dari awal kuliah dulu, saat pertama kali kenal dengan ku dulu, saat…hampir dua kali aku menghilangkan nyawanya.

Tapi yang membuat ku salut adalah tentang kejujurannya, atau kepolosannya? Beda tipis sih menurut ku. Tapi ya sudah lah. Tidak penting. Yang penting dia mau menceritakan semua nya secara detail. Termasuk bagaimana dia menceritakan perbuatannya dengan mba Ayu dulu. Jujur aku sempat merasa cemburu, tapi…yah mau bagaimana? Itukan masa lalu. Tapi yang pasti, seperti apapun bentuk, rupa, sifat dan kelakua nya, aku tetap akan menyayanginya, sekarang, nanti dan selamanya.

“Minggu nanti dateng ke sukurannya papa kan yah?” tanya ku pada suami ku saat kami berdua sudah sama-sama berada di tempat tidur.

Oh iya, papa ku udah dua tahun ini menjadi seorang mualaf. Dan bulan depan akan berangkat ke tanah suci untuk menjalankan ibadah umroh bersama mama tiri ku. Mereka akan berangkat berempat bareng bersama dengan kedua mertua ku. Sedangkan aku sendiri sudah lebih dulu menjadi seorang mualaf. Tepatnya sebulan sebelum menikah dengan suami ku.

“Lah? Lha ya pasti lah, masa papa sukuran kita ga dateng?”

“Hehehe, takutnya kamu ada acara apa gitu…makanya aku pastiin lagi…terus bapak sama ibuk kapan ke jakartanya?” tanya ku merujuk pada mertua ku.

“Bapak sama ibuk mau kesininya seminggu sebelum keberangkatan katanya. Ada urusan lain pun aku pasti masih akan menomorsatukan papa lah bun…”

“Hihihi, makasih ya sayaaang…muaacchh…” balas ku sambil dengan manja mengecup pipi kanannya yang menggemaskan itu.

“Iya. Oiya, nanti pas ngejemput bapak sama ibuk, kamu mau ikut ga? Sekalian ziarah ke makam Kiki, gimana?”

“Boleh-boleh…aku juga udah kangen banget sama Kiki, hehehe. Ajak mas Doni juga yah. Ziarah ke makam mba Ayu, Diah, dan yang lainnya juga boleh.”

“Iya, ajak Doni juga boleh.”

“Oke deeeh…”

“Ya udah sekarang kita bobo ya…aku ngantuk nih. Capek tau disuruh ngomong terus dari tadi…”

“Hihihi, kamu itu ngomong aja capek. Dasar laki-laki.”

“Hehehe…”

Kami berdua lalu memposisikan badan untuk tidur. Ternyata memang sudah malam, jam sebelas. Pantas suami ku mengantuk. Suami ku tidur terlentang sedangkan aku miring ke arah nya dan dengan manja memeluk lengannya yang kekar. Hihihi.

Aku lalu mencoba memejamkan mata ku. Bayangan ku lalu kembali ke kenangan lima atau enam tahun yang lalu. Tiba-tiba aku teringat dengan Kiki. Lima tahun lamanya aku meninggalkan mu dan juga dia. Karena emosi sesaat ku persahabatan kita berempat hancur. Bahkan hingga kahir hayat mu pun aku masih tidak menemui mu. Pantas saja dia marah kepada ku dan juga mas Doni. Tiga tahun lamanya dia mendiamkan ku dan juga mas Doni. Tapi aku menganggap itu bukan lah sesuatu yang berlebihan bila dibanding dengan rasa sakit yang kalian rasakan sebelumnya. Aku dan mas Doni memang pantas mendapatkannya.

Nur Riski Handayani. Sejak awal kenal dekat dengannya, mas Doni, dan juga si jelek itu, aku sudah tau kamu itu punya rasa kepadanya. Sayangnya kamu terlalu pemalu. Dan sayangnya lagi, saat semakin lama hubungan persahabatan kita semakin dekat, dan kamu tau aku juga memiliki perasaan yang sama dengan yang kamu rasakan, kamu justru menjaga jarak dan memberikan jalan untuk ku dan kamu selalu berusaha untuk menutupinya. Tapi kamu lupa kalau kita sama-sama perempuan. Sekuat apapun kamu menutupinya, aku pasti akan tau juga.

Kiki, maafin aku yah. Maafkan aku yang sudah meninggalkan mu waktu itu. Dan aku juga minta maaf untuk satu hal yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidup ku, tidak berada di samping mu disaat-saat terakhir mu. Bahkan aku tidak tahu tentang penyakit mu. Sedangkan kamu tahu hampir semua tentang diri ku. Termasuk rasa cinta ku kepadanya.

Melihat jauh kebelakang, aku justru teringat dengan mba Ayu, aku tidak tau harus berkata apa kepada mu seandainya kita dipertemukan lagi nanti di surga, tapi satu hal aku sangat berterima kasih karena mba Ayu lah wanita pertama yang mampu membuat dia kembali menemukan gairah hidupnya. Dan aku juga berterima kasih karena mba Ayu sudah merawat dan menyayangi suami ku itu dengan sepenuh hati.

Dan Diah, Diah Nawang Wulan. Nama yang sangat indah. Seindah orangnya. Aku tidak terlalu mengenal mu, tapi kamu adalah orang paling sabar yang pernah aku kenal. Dan aku yakin diantara kita semua kamu adalah wanita pertama dan yang paling dicintai oleh nya.

Kiki, mba Ayu, Diah, terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan untuk nya. Terima kasih untuk setiap perhatian dan kasih sayang yang dulu pernah kalian bertiga berikan. Sekarang, untuk sementara ijinkan lah aku yang akan menjaganya, merawatnya, dan menyayanginya di dunia yang hanya sesaat ini. Kalian bertiga, tunggu aku di surga yaah. Maaf ya Ki, aku akan sedikit merubah doa mu, karena aku berharap, semoga kita berempatlah yang kelak akan menjadi bidadari nya di surga nanti. Kita berempatlah yang akan menjadi pemanis istananya nanti.

Untuk dia, orang yang pertama kali mengajari ku akan pentingnya kasih dan sayang. Pentingnya kesederhaann. Yang akan menjadikan kita ratu di istana kedamaiannya. Dengan setiap keluguan hatinya yang selalu mengerti akan keburukan ku.

Iya dia, orang yang sama-sama kita sayangi, yang sama-sama kita cintai, dengan setiap kedamaian yang selalu membuat kita rindu dengan segala kesederhanaannya.

Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Dimasa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

~•~•~•~

Seperti dengan yang sudah aku ceritakan sebelum nya bahwa malam ini kami akan berkunjung ke rumah papa karena akan ada pengajian sebelum papa dan mama berangkat umroh. Kami datang berenam dalam sebuah mobil. Aku, suami ku, Tiara, Aldi, dan…sepasang malaikat kembar ku yang manis ini. Ya, aku sudah memiliki dua anak, dan mereka kembar cowok dan cewek. Umur mereka berdua sudah dua tahun lebih. Hehehe. Dulu, tidak lama setelah menikah suami ku langsung berhasil menghamili ku. Hihihi.

Kalian pasti mau tau kan siapa nama anak-anak ku. Hihihi…penasaran kaaan? Hehehe. Meraka berdua aku beri nama Rama dan Sinta. Sama seperti dengan yang pernah aku cita-citakan dulu. Nama panjangnya Ramadani Restu Kusuma dan Sinta Ratna Puspita. Nama tengah dan belakang mereka sama persis dengan nama belakang ku dan suami ku. Ga kreatif ya? Embeeerr!!!!

Kami tiba di rumah papa sekitar pukul setengah tujuh malam. Belum ada orang karena tamu pengajiannya baru akan datang setelah isya. Tapi beberapa kerabat sudah tiba. Termasuk mba Yohana dengan suami dan anaknya, serta mas Doni dan Istri serta anaknya. Penasaran kan si pria mesum itu menikah dengan siapa akhirnya? Hahaha. Ampun ya mas udah bilang kamu pria mesum. Hihihi. Nanti saja deh lain kali aku ceritakan soal mas Doni. Hehehe.

Begitu tiba kami lalu turun dari mobil. Awalnya Rama digendong oleh Tiara, sedangkan Sinta digendong oleh Aldi. Namun seperti yang sudah aku prekdisikan sebelumnya, dua bocil itu langsung berontak minta turun sesaat setelah melihat papa ku berdiri di teras rumah sambil tersenyum kepada mereka.

Ya, mereka berdua memang sangat dekat dengan kakeknya itu. Dan setelah turun, dengan lucunya layaknya anak usia dua tahunan, kedua anak ku itu berlari dengan riang menghambur menghampiri papa sambil berteriak-teriak menyeru nama kakeknya itu, meskipun dengan suara yang masih belum jelas.

“Oppaaa Ueeeyyiiii…”

~•~•~•~


~•~Aku Rindu Pada Sebuah Kesederhanaan ~ Selesai~•~

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂