. Merindukan Kesederhanaan Part 1 | Kisah Malam

Merindukan Kesederhanaan Part 1

0
323

Merindukan Kesederhanaan Part 1

Prolog

“Bulus bulus…”

“Yang bulus yang bulus, Lebak bulus abis…”

Sayup sayup aku mendengar suara kernek bus AKAP itu memberitahukan pada penumpang kalau bus yang aku tumpangi ini sudah sampai tujuan akhir terminal, terminal lebak bulus.

Dini hari ini aku akan menginjakkan kaki ku ke ibu kota lagi. Ya, aku memang bukan sekali ini datang ke ibu kota yang terkenal dengan segala kemacetan dan kesemrawutannya ini. Terhitung sudah empat kali ini aku ke sini. Tujuannya sama, datang ke rumah kakak pertama ku. Bedanya, kalau sebelunnya hanya untuk liburan atau main, kali ini aku datang berniat untuk melanjutkan kuliah. Dan mungkin kerja juga bantu-bantu usaha milik kakak ipar ku. Oiya, aku baru saja lulus SMA. Umur ku jalan Sembilan belas, dan aku orangnya biasa saja, apa adanya.

Suasana pagi ini masih sangat gelap. Aku lihat jam, baru jam empat lewat. Sayup-sayup juga aku bisa mendengarkan suara adzan yang berkumandang. Sudah subuh rupanya. Aku lalu bergegas mempersiapkan barang bawaan ku yang hanya sebuah tas ransel yang berisi baju saja, dan sebuah kardus kecil yang aku lupa isinya apa, yang jelas beberapa makanan khas kampung ku, titipan dari kedua orang tua ku, untuk keluarga kakak ku.

“Hap”, aku menapakkan kaki ku di terminal ini lagi. Mulai hari ini semuanya akan dimulai. Aku sudah bukan anak sekolah lagi. Aku harus sudah bisa merubah pola pikir ku. Apalagi karena sekarang aku akan tinggal bersama kakak ku. Meskipun dia kakak kandung ku, tapi bagaimanapun juga dia sudah menikah, dia sudah membangun keluarga sendiri, dan bisa dibilang aku ini akan menumpang di rumah nya. Aku tidak boleh malas-malasan lagi. Aku harus bisa membantu apapun yang bisa aku bantu. Begitulah pesan yang selalu disampaikan oleh ibu ku sebelum aku berangkat kemarin.

Berat sebenarnya untuk meninggalkan kampung ku. Tapi mau bagaimana lagi, di sana aku tidak bisa apa-apa. Peluang kerja sangat kecil. Paling paling menggarap sawah milik bapak. Tapi itu tidak mungkin karena orang tua ku tidak mau aku melakukannya. Mungkin sudah menjadi kebiasaan dan pola pikir orang tua di kampung. Mereka tidak ingin anak nya menjadi seperti mereka yang hanya seorang petani. Padahal, kalau rajin dan pintar, petani pun juga bisa menghasilkan uang banyak. Atau mungkin yang mereka harapkan adalah gengsi nya? Entahlah.

Berbekal pentunjuk yang dikirimkan melalui SMS kemarin, aku lalu mencari angkot yang menuju rumah kakak. Mudah-mudahan sih tidak nyasar. Terakhir kesini aku bareng dengan kakak ku, tapi sekarang aku hanya sendiri. Seorang diri. Merantau ke ibu kota. Untuk mengadu nasib.

Setelah melalui perjalanan sekitar 30 menit, aku tiba di rumah kakak ku. Suasana masih agak gelap meski matahari sudah hampir menampakkan wujudnya. Aku mengabari kakak ku kalau aku sudah di depan gerbang rumah mereka. Untungnya kakak ipar ku sudah bangun.

Namanya Rizal Zulkarnaen. Punya darah campuran Sumatera, Sumatera barat dan lampung. Seorang wiraswasta. Dia adalah salah satu panutan ku selama ini. Orangnya asik, tapi kadang suka rese. Tapi yang pasti orangnya sangat ulet dan tekun. Meskipun hanya seorang lulusan SMA, sama seperti istrinya yang tak lain adalah kakak kndung ku, tapi bisnisnya sekarang cukup berhasil dengan relasi dimana-mana.

Kakak ku sendiri, seorang ibu rumah tangga. Namanya Endang Ayuningtyas. Sangat bawel dan cerewet, khas ibu ibu rumah tangga masa kini. Tapi sangat sayang dan perhatian dengan adik adiknya. Umur mereka berdua sekarang sama-sama dua puluh delapan tahun.

Aku sebenarnya empat bersaudara, dan aku anak nomer tiga. Kakak ku yang ke dua laki laki, tinggal di kampung. Sama seperti kakak ipar ku, dia juga punya jiwa bisnis. Bedanya kakak ku ini lebih ke dunia peternakan. Dia beternak bebek dan ikan lele. Alhamdulillah sekarang menjadi supplier tetap untuk beberapa rumah makan di kampung. Namanya Prayoga Restu Kusuma.

Awalnya aku heran kenapa mas Yoga boleh tetap tinggal di kampung dan berbisnis di sana. Dan tidak ada yang protes ketika dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Sedangkan aku, orang tua ku dan mba Endang ngotot aku harus melanjutkan sekolah di sini. Tapi ucapan mba endang beberapa waktu lalu telah menyadarkan ku. Aku dan mereka berdua berbeda. Karakter dan sifat kami berbeda. Mas yoga sekarang berusia dua puluh tiga tahun.

Sedangkan aku sendiri, Alfian Restu Kusuma. Seorang anak muda biasa biasa saja berumur Sembilan belas tahun. Benar-benar biasa. Hanya memiliki sedikit keunggulan di bidang akademis. Serius, selain itu aku tidak punya keterampilan apa-apa. Bahkan, cenderung agak malas. Dan hanya akan melakukan hal hal tertentu saja yang menurut ku menyenangkan.

“Kamu harus lanjut sekolah ian, kamu berbeda dengan aku dan mas mu Yoga. Aku hanya beruntung bisa dapat suami seperti mas Rizal yang pekerja keras. Mas mu Yoga, tidak lebih pinter dari kamu, tapi dia punya keterampilan dan ketekunan. Dia mau berusaha. Sedangkan kamu, otak mu jauh lebih pinter dari kami berdua, sayang kalau kamu tidak lanjut sekolah. Tapi males mu itu juga harus dikurangi. Masalah biaya, ga usah dipikirin. Aku bisa bantu, tapi kamu juga harus belajar cari duit juga, kamu bisa bantu bantu mas Rizal selama di sini nanti”.

Itu lah pesan dan petuah yang selalu diucapkan mba Endang menjelang kelulusan kemarin. Inget betul aku bagaimana reaksinya yang tidak setuju ketika aku tidak ingin melanjutkan sekolah dan langsung kerja saja. Mba ku yang satu itu memang sangat perhatian.

Terakhir, adik ku satu-satunya. Cewek, namanya Binar Ayuningtyas dan sekarang berumur enam belas tahun. Baru masuk SMA. Di kampung juga. Sama seperti ku, di antara kami berempat kecerdasannya yang paling lumayan. Orangnya periang, mudah bergaul, sedikit manja, tapi paling susah dibilangin alis ngeyel.

Oiya hampir lupa, kedua orang tua ku, Kusuma dan Hernaningtyas, sepasang suami istri paruh baya yang selalu berusaha membahagiakan dan mencukupi segala kebutuhan anak anaknya. Merakalah penyemangat kami. Tujuan hidup kami. Tidak banyak yang bisa aku tuliskan untuk mereka berdua. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku bisa segera sukses dan bisa membahagiakan mereka suatu saat nanti. Aamiin.

***

Setelah dibukakan pintu dan masuk, aku langsung meletakkan tas ku di kamar yang memang telah disediakan untuk ku. Rumah ini punya satu kamar tidur utama, dan dua kamar tidur anak. Sedangkan mba Endang dan mas Rizal baru memiliki satu orang anak perempuan, namanya Tiara Zulkarnaen. Umurnya sekarang lima tahun dan baru masuk TK. Jadi pas tuh kamar satu buat aku.

Rumah mas rizal ini cukup besar untuk lingkungan sini. Eh salah, bukan rumahnya, tapi tanahnya. Ada halaman depan dan samping juga. Nah halaman samping inilah yang biasa digunakan untuk mengerjakan usaha sampingannya. Mas rizal punya usaha sampingan berupa jasa pengepakan dan pembuatan hardcase untuk barang barang pecah belah. Tapi kadang tidak terbatas pada barang itu saja, semua barang yang bisa di “duit” in, pasti akan dia kerjakan.

“Gimana perjalanan semalam? Bisa tidur di bus?”, tanya mas Rizal saat aku tiba di ruang keluarga. Aku melihat sudah tersedia teh hangat dan beberapa macam kue yang di hidangkan di meja makan. Ruang keluarga dan ruang makan memang menjadi satu dalam sebuah ruangan besar.

“Bisa sih mas, tapi tetep aja berasa juga capeknya, pegel, hehehe.”

“Ya udah, hari ini kamu istirahat dulu aja, mulai bantu bantu kerjanya besok aja. Oiya diminum dulu tuh teh manis dah di buatin tadi sama mba mu.”

“Iya mas, eh mba endang mana mas?”

“Tuh di kamar Tiara lagi bangunin bocahnya, dibiasain bangun pagi tapi susah”

“Ya wajar sih mas, anak kecil hehehe.”

Aku lalu duduk di meja makan dan meminum teh manis serta makanan kecil yang ada.

“Gimana? Udah tentuin belum mau lanjut dimana?” tanya mas Rizal lagi.

“Hehe, belum mas. Tapi nyari yang murah murah aja, yang terjangkau.”

“Ya jangan yang murahan juga, lihat kualitasnya juga, masalah biaya tenang aja ga usah dipikirin, yang penting kamu rajin di sini.”

“Iya tuh, dengerin mas mu, masalah biaya kamu ga usah mikirin. Yang penting kamu rajin dan mau bantu bantu di sini,” ucap mba endang yang baru keluar bareng tiara. Aku pun hanya tersenyum mengiyakan ucapannya.

“Eh ada om iaaaan”, teriak Tirara. Tiara yang melihat aku langsung berlari ke arah ku dan duduk di pangkuan ku.

“Eh tiara udah bangun. Mau sekolah ya? Sekolahnya pinter ga?”, tanya ku.

“Pinter dong om, dapet bintang 5 terus, hehehe,” jawabnya membanggakan diri.

“Wuiiih, ponakan Om ini memang hebat,” puji ku kepada nya sambil mengusap lembut kepalanya. Anak ini selalu membuat ku gemas. Terakhir ketemu lebaran tahun lalu.

Akhirnya setelah berbincang bincang dan bercanda dengan tiara sebentar, aku dipersilahkan untuk istirahat. Aku pun ke kamar. Mas Rizal sepertinya juga akan segera pergi untuk cari objekan. Mba Endang juga seperti biasa akan melakukan pekerjaan rumah tangganya termasuk menyiapkan keperluan sekolah tiara.

Aku merebahkan badan ku di pembaringan. Akhirnya, jadi juga aku merantau ke kota ini. Aku harus kuat. Ga boleh males lagi. Harus bisa bantu-bantu apapun yang bisa aku bantu. Pekerjaan rumah pun akan aku lakukan. Aku tidak mau hidup gratis di sini. Begitulah tekad ku pagi ini. Sekaligus menyemangati diri ku sendiri.

Pandangan ku menerawang ke atas. Melihat langit langit kamar. Tiba tiba terbayang wajah seseorang. Seseorang yang selama ini mengisi hati ku. Yang selalu menyemangati ku. Bahkan ketika aku harus meninggalkannya, dia tetap memberikan dukungan kepada ku, karena dia sadar ini adalah demi masa depan ku, dan mungkin masa depannya juga, bila kami berjodoh tentunya. Selain kedua orang tua ku, dia lah salah satu alasan ku berat meninggalkan kampung halaman ku.

Lagi apa ya dia. Kabarin sekarang apa ntar ya? Entar aja deh. Mata ku sudah terlalu capek. Tak sadar aku pun terlelap dalam tidur ku. Tapi sebelum itu aku masih sempat membatin, berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Engkau memudahkan segala jalan yang aku tempuh. Aamiin.

[Bersambung]

Daftar Part