. Mengalahkan Gadis Part 9 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 9

0
250

Mengalahkan Gadis Part 9

The Good Comes To Bad

Kepalaku berkunang-kunang, rasanya sakit sekali seluruh badanku. Pandanganku gelap, hari memang sudah malam sih. Setelah berguling-guling entah berapa kali, rasanya memang aku sekarang berada di dasar jurang. Ah sialan, badanku tak bisa kugerakan. Aku merasa kesadaranku mulai menipis. Suntikan tadi, dan hantaman-hantaman yang kudapatkan, ditambah lagi aku di lempar ke jurang. Bedebah kalian semua, aku lengah, tak menyangka akan berakhir seperti ini.

Sekilas aku melihat bayangan-bayangan di depan mataku. Mungkin ini yang sering aku dengar, ketika orang sedang menjemput ajalnya, maka kilasan-kilasan masa lalunya akan muncul, seperti trailler sebuah film. Dan saat ini aku sedang melihat kilasan-kilasan itu. Nampak seorang wanita anggun tersenyum kepadaku. Wanita yang sangat aku cintai itu. Ah sayangku, sepertinya aku akan segera menyusulmu.

Kilasan-kilasan itu muncul secara berangkai. Ini seperti perjalanan kehidupanku. Baiklah, akan kunikmati di sisa-sisa nafasku.

Namaku Marto Sutrisno, saat ini usiaku 37 tahun, atau mungkin hanya akan berusia 37 tahun saja hidupku ini. Aku berasal dari keluarga sederhana di sebuah desa di Jawa Tengah. Sejak kecil aku sudah bercita-cita untuk menjadi penegak hukum. Semua itu karena ayahku yang hanya seorang petani, harus meregang nyawa di tangan perampok yang merampas motor butut kami. Ya, hanya demi sebuah motor butut aku harus kehilangan ayahku. Dan sialnya lagi, para perampok itu tak pernah tertangkap.

Aku ingin menjadi polisi, agar aku bisa menegakkan keadilan, agar aku bisa menangkap penjahat seperti mereka dan menjebloskannya ke penjara. Aku tidak ingin orang-orang seperti itu mengotori lingkungan yang damai. Membuat nyawa orang lain seperti tak ada harganya, membuat orang lain jadi susah hidupnya.

Aku menjalani masa kecil yang berat. Ditinggal ayah dengan warisan yang tak seberapa, membuatku dan ibuku harus bekerja keras banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Aku cukup beruntung memiliki tetangga-tetangga yang baik, selalu ada saja pekerjaan yang diberikan untuk aku dan ibuku, sehingga kami masih bisa hidup, dan bahkan aku bisa sekolah sampai lulus SMA.

Aku tak pernah melupakan cita-cita masa kecilku, dan betapa beruntungnya aku diterima di akademi kepolisian di negeri ini. Aku belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh, hingga aku akhirnya terpilih menjadi siswa terbaik di angkatanku. Sifatku yang supel membuatku memiliki pergaulan yang luas, banyak teman-temanku yang merupakan anak jenderal.

Lulus dari pendidikan aku dikembalikan untuk mengabdi di daerahku. Senang sekali rasanya, bisa bertugas di tempat asal, dekat dengan ibuku, dan juga dekat dengan seorang gadis yang merupakan teman mainku dari kecil. Astri Setyani namanya, kami berteman sejak belum mengeyam bangku sekolah hingga lulus SMA.

Karena prestasiku yang cemerlang, aku dipanggil untuk mengikuti tes menjadi pasukan khusus. Aku pikir itu seperti brimob, densus atau kopasus, ternyata bukan. Ini adalah sebuah pasukan yang secara khusus dibentuk untuk melakoni tugas-tugas yang sifatnya besar dan sang rahasia, hampir seperti badan intelejen. Pasukan inipun juga sifatnya sangat rahasia, seperti halnya para intelejen yang merahasiakan identitas mereka, bahkan pada keluarga mereka sendiri, begitu juga dengan kami.

Dan sekali lagi keberuntungan memihak kepadaku. Aku diterima dengan nilai yang sangat baik, hanya kalah dari seorang temanku yang bernama Rio, yang usianya masih di bawahku. Tapi aku tak mempersoalkannya, sudah terpilih masuk ke dalam satuan rahasia ini saja sudah merupakan sebuah kehormatan buatku. Dan memang pada akhirnya aku merahasiakan semua ini dari semua orang. Hanya kami sesama anggota dan orang-orang tertentu di kepolisian yang mengetahui adanya pasukan ini.

Aku mulai menjalani pelatihan yang sangat berat. Kami dilatih di berbagai macam medan, dilatih untuk bisa, dan wajib bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun. Aku bahkan pernah dilepas sendirian di sebuah hutan belantara dengan hanya dibekali sebilah belati dan sebuah peta buta, aku diwajibkan untuk bisa bertahan hidup dengan semua yang ada di hutan itu. Dengan semua yang ada di hutan itu aku berjuang, apa saja kumakan, dan akhirnya aku bisa keluar dari hutan itu dengan selamat.

Aku dan beberapa rekanku juga pernah dikirim untuk berlatih di luar negeri. Disana, selain mendapatkan pelatihan kemiliteran aku juga mendapatkan pelatihan yang lain, termasuk penggunaan teknologi yang rasanya belum ada di negaraku. Aku bersyukur sekali dengan semua yang aku dapatkan ini, karena ini adalah kesempatan langka yang tak didapat oleh semua orang.

Akhirnya aku kembali ke negaraku dan resmilah kami satu tim dinobatkan pasukan elit di negeri ini, meskipun sifatnya sangat rahasia. Tim kami tidak punya nama, lebih tepatnya tidak diberi nama, tapi kami menamai diri kami Vanquish. Kami memiliki identitas berupa sebuah tattoo berbentuk huruf Q di lengan kiri kami. Pernah aku ditanya apa maksudnya tattoo itu, aku hanya menjawab entahlah, yang penting keren ada tattoonya, hehe.

Hidupku semakin sempurna setelah akhirnya aku menikahi Astri. Dia adalah cinta pertamaku, begitupun aku baginya. Seorang gadis alim yang selalu menjaga penampilannya. Mungkin bukan gadis paling cantik di dunia, tapi sepertinya dia yang paling cantik di daerahku, haha, entahlah, yang penting aku sudah menyuntingnya dan resmi menjadi istriku.

Kehidupan kami berjalan dengan penuh kebahagiaan. Astri adalah seorang istri setia, yang selalu mendukung semua pekerjaanku. Dia tak pernah berhenti memberiku dorongan dan semangat. Dia juga selalu bisa memenuhi segala kebutuhanku lahir dan batin, tak pernah sekalipun aku kecewa dibuatnya. Sungguh wanita yang sempurna buatku, dengan penampilan yang selalu terjaga seperti itu siapa yang tahu kalau ternyata di dalamnya tersimpan keindahan luar biasa yang hanya dipersembahkan untukku, suaminya.

Sayang tak lama setelah itu ibuku harus pergi selama-lamanya menyusul ayahku, karena komplikasi penyakit yang sudah lama dideritanya. Aku sangat bersedih karena belum sempat memberinya seorang cucu sampai akhir hayatnya. Namun istriku selalu berada di sampingku menguatkanku, memberikan ketenangan dan ketentraman dalam hidupku.

Pada akhirnya aku dipindah tugaskan ke ibukota. Dengan setia istriku mengikutiku. Kami mengontrak sebuah rumah disana, karena belum mampu untuk membeli rumah sendiri. Kehidupan kami masih berjalan dengan bahagia, meskipun kadang aku sedih karena sering harus meninggalkannya sendiri di rumah hingga larut malam. Tapi keakraban istriku dengan para tetangga membuatku sedikit tenang, paling tidak dia ada teman untuk mengusir kesepiannya.

Setelah sekitar setahun berada disini, aku menerima kabar bahagia dari istriku, dia positif hamil. Aku langsung melompat kegirangan ketika mendengarnya, membuat para tetanggaku tersenyum geli melihat tingkahku. Namun mereka memaklumi saja, mereka tahu, hal ini memang sudah kami nanti-natikan, kehadiran buah hati di tengah-tengah kami.

Hari-hari kujalani dengan lebih bersemangat lagi. Bayangan akan menjadi seorang ayah sangat memberikan dukungan moral yang luar biasa kepadaku, mood booster istilah kerennya sekarang. Aku semakin memperhatikan dan memanjakan istriku. Aku selalu mengusahakan bagaimana caranya agar lebih cepat sampai ke rumah.

Hingga saat hari itu tiba, hari yang menjadi titik balik dalam perjalanan hidupku. Saat sedang berada di kantor, aku ditelepon oleh tetanggaku, mengabarkan kejadian buruk menimpa istriku dan tetanggaku itu. Dia memintaku untuk segera datang ke rumah sakit. Tanpa banyak bicara lagi aku langsung tancap gas menuju rumah sakit.

Sesampainya disana tak kudapati istriku. Aku semakin panik, hingga akhirnya aku bertemu dengan tetangga yang tadi meneleponku. Dia baru saja keluar dari ruang ICU dengan perban di tangan dan kepalanya, wajahnya pun terlihat lebam.

“Mbak Yeni, apa yang terjadi? Dimana istriku?” tanyaku.

“Mas, hiks, istrimu diculik orang mas,” jawabnya sambil menangis.

“Diculik? Siapa mbak? Tolong cerita yang jelas mbak,” aku semakin panik.

Kemudian diapun bercerita, bahwa tadi pagi berangkat ke pasar berdua dengan istriku. Sepulangnya dari pasar, tiba-tiba mereka berdua dipepet oleh sebuah minibus, hingga motor yang dikendarai Mbak Yeni oleng dan terjatuh. Tiga orang pria keluar dari mobil itu, mereka memakai topeng semua.

Dua orang langsung menarik istriku masuk ke mobil dan seorang lagi menghajar Mbak Yeni hingga pingsan. Setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. Kejadian itu berlangsung cukup cepat sehingga tidak ada yang sempat menolong.

“Mbak masih inget ciri-ciri mobilnya?” tanyaku.

“Mobilnya minibus warna hitam mas, tapi aku langsung dihajar sampai pingsan dan setelah itu nggak tahu apa-apa lagi mas.”

Setelah menanyakan dimana kejadiannya akupun segera menuju daerah itu, setelah sebelumnya mengabari kantorku untuk meminta bantuan. Sesampainya di lokasi penculikan istriku aku segera menanyai orang-orang di daerah itu. Tapi sayangnya sangat sedikit informasi yang kudapatkan. Tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan karena kejadian itu berlangsung sangat cepat.

Aku pusing, pikiranku kalut. Berkali-kali aku ditenangkan oleh atasanku tapi tetap tak bisa membuatku tenang. Akhirnya aku sendiri yang ditunjuk untuk memimpin tim mencari istriku. Aku bahkan meminta Rio, salah satu rekanku di Vanquish yang kebetulan bertugas di Jakarta untuk membantuku.

Namun setelah tiga hari melakukan pencarian sama sekali tidak ada hasil yang didapat. Penculik itupun sama sekali tidak menghubungiku untuk meminta tebusan atau apapun. Tapi aku menolak untuk berputus asa. Aku berusaha mencari apa motif para penculik itu. Apakah mereka menculik untuk mendapatkan sesuatu dariku? Atau ada yang punya dendam padaku sehingga menculik istriku? Tapi aku merasa tak punya masalah dengan siapapun disini, selama ini aku merasa selalu bersikap baik kepada orang-orang. Apakah mereka sindikat perdagangan perempuan yang melakukan penculikan wanita secara acak, untuk kemudian diperjual belikan?

Semakin lama tak mendapat hasil semakin membuat pikiranku menjadi kalut. Aku sama sekali tidak bisa fokus dalam bekerja. Bekerja? Oh come on, aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sama sekali tidak ada petunjuk, sama sekali tidak ada jejak.

Tepat seminggu setelah hilangnya istriku, aku mendapati kabar yang tak mengenakkan. Ada seorang pemulung menemukan jasad seorang wanita muda, dalam kondisi yang sangat mengenaskan, tanpa busana dan bersimbah darah. Aku segera bergegas menuju ke lokasi ditemukannya jasad itu, sambil berdoa dan berharap itu bukanlah jasad Astri istriku.

Sesampainya di lokasi aku langsung berlari menuju kerumunan orang-orang. Mereka yang melihat kami berpakaian dinas langsung menyingkir memberikan jalan. Sesosok jasad sudah tertutup koran bekas. Aku mendekatinya perlahan, dengan tangan gemetaran aku membuka koran penutup jasad itu.

“Astriiiiiiii,, tidaaaaaaaakkk.”

Aku berteriak histeris, jatuh terduduk, yang langsung dipegangi oleh rekan-rekanku. Jasad bersimbah darah tanpa busana ini, wajahnya dipenuhi luka hingga hampir tak bisa dikenali, tapi ciri-ciri di tubuh jasad ini, aku sangat hapal, ini adalah Astri Setyani istriku, dan ada calon anakku yang masih berada di dalam kandungannya.

Aku menatap jasad itu, masih tak percaya. Jasad perempuan telanjang bersimbah darah ini adalah istriku. Istriku yang anggun, yang sehari-harinya berpenampilan santun dan tertutup, kini tubuhnya telanjang penuh lebam dan luka sayat. Matanya melotot, wajahnya menyiratkan ketakutan dan penderitaan yang luar biasa di akhir hidupnya.

Petugas medis datang dan segera membawa jasad istriku ke rumah sakit untuk di visum. Aku mengikutinya dengan pandangan kosong. Aku hanya ditemani Rio. Rio meminta tim forensik untuk mencari kemungkinan ada sidik jari di tubuh istriku agar kami bisa melacak si pelaku, namun nihil, sama sekali tidak ditemukan.

Hasil visum mengatakan bahwa istriku mengalami pemerkosaan sebelum dianiaya hingga tewas. Dia mendapatkan perlakuan yang kasar, terlihat dari lubang kemaluan dan anusnya yang menganga lebar. Juga terdapat bekas ikatan entah tali atau rantai di sekujur tubuhnya. Istriku benar-benar disiksa hingga kehilangan nyawanya.

Dalam waktu sekejap aku telah kehilangan istri dan calon anakku dengan cara yang sedemikian keji. Aku bersumpah, bila aku bisa menemukan orang yang telah membuat istriku seperti ini, akan kuhancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping. Akan kubuat dia merasakan penderitaan lebih dari yang istriku alami.

“Sabar bang, yang kuat, relain Mbak Astri pergi. Kita nggak akan tinggal diam bang, kita akan cari siapa pelakunya. Aku akan kumpulkan teman-teman Vanquish. Kita bakal habisi orang-orang yang ngebuat Mbak Astri kayak gini bang,” ucap Rio, seolah dia mengerti benar dendam yang kurasakan saat ini.

Lebih dari seminggu aku tidak masuk kerja setelah kejadian itu. Aku masih berinteraksi dengan rekan-rekan Vanquish, namun sama sekali tidak ada petunjuk. Sialan, bahkan pasukan selevel kamipun tidak bisa mengungkapnya, siapa sebenarnya yang sudah membunuh istriku ini.

Hari berganti, minggu berganti. Tak terasa sudah setahun lebih sejak peristiwa itu dan sama sekali tidak ada perkembangan, membuatku semakin depresi dengan keadaan ini. Aku yang semula dikenal periang, terlebih setelah istriku hamil, kini menjadi pribadi yang pendiam, sangat tertutup. Beberapa kali aku melamun, pandangan kosong, hingga ditegur oleh rekan dan atasanku. Mereka selalu memberi dukungan sebenarnya, tapi sama sekali tidak mempengaruhiku. Rasa kehilangan, dan dendam ini terlalu dalam.

Suatu ketika aku menjadi gelap mata. Saat aku bertugas berdua saja dengan seorang polwan rekanku, entah dorongan darimana, aku memperkosanya. Wanita itu menjerit histeris ketika aku merobek selaput daranya. Teringat bahwa istriku diperkosa dengan kasar, akupun menggenjotnya dengan kasar, entah mengapa aku senang sekali melihat ekspresi kesakitan darinya, hingga membuatku kesetanan. Tangisnya tak berhenti hingga aku menumpahkan spermaku yang sudah berbulan-bulan tak tersalurkan ke dalam rahimnya. Aku mengancamnya agar tak melaporkan ke siapapun atau aku akan membunuhnya.

Aku menjadi ketagihan, hingga beberapa kali wanita itu aku setubuhi. Tak puas dengan satu orang saja, aku mulai mengincar orang lain. Kali ini istri temanku sendiri yang menjadi sasaranku. Saat suaminya piket patroli malam, aku menyusup ke rumahnya. Dengan berbekal keahlian yang kudapat dari pelatihan rahasia dulu, rumah yang terkunci rapat itu bisa kumasuki dengan mudahnya.

Aku melihat wanita itu sedang menonton tv, hanya mengenakan daster terusan selutut yang tipis. Pemandangan yang langka tentu saja karena selama ini dia selalu berpenampilan tertutup. Malam itu aku memaksanya melayani nafsuku hingga kupaksa dia menelan maniku. Dengan ancaman yang sama aku beberapa kali menikmati tubuhnya. Aku bahkan pernah bermain bertiga dengan kedua korbanku itu, membuat mereka lemas tak berdaya memuaskanku.

Tak berhenti sampai disitu, tetangga sebelah rumahku pun menjadi korbanku. Mbak Yeni, yang bersama istriku saat istriku diculik, sedang mengantarkan makanan ke rumahku, karena hari ini memang ada acara syukuran di rumahnya dan aku tak sempat datang karena cukup sibuk. Sebelumnya aku melihat wanita ini biasa-biasa saja, tak ada ketertarikan, namun malam ini rasanya beda. Setelah aku berhasil menikmati dua orang wanita, kini pandanganku ke dia berubah.

Aku mulai mengamati tubuhnya yang masih terbalut pakaian layaknya ibu-ibu pengajian. Wajahnya cukup cantik, kulitnya kuning, badannya mungil, tapi tonjolan di dadanya cukup menantang, juga didukung dengan pantat yang membulat indah. Baru aku sadari ternyata Mbak Yeni ini cukup menarik. Akupun langsung mendekapnya dan kuseret dia ke kamarku.

Dia berontak namun tentu saja tenaganya kalah kuat denganku. Dia menangis tanpa mengeluarkan suara karena mulutnya masih kudekap. Kutarik lepas celana dan celana dalamnya sekaligus, dan langsung kumasukkan penisku yang besar ke vagina sempitnya. Sekali lagi aku begitu menikmati ekspresi kesakitan dari wanita itu. Kugarap dia habis-habisan hingga tengah malam. Aku tahu suaminya yang seorang satpam masuk malam hari ini, sehingga kupuas-puaskan menikmati tubuhnya. Sejak saat itu dia sering kupaksa menemani malam-malamku tiap kali suaminya piket malam.

Dengan tiga orang wanita yang menjadi pelampiasan nafsuku ini aku sangat terpuaskan, tapi tak membuatku berhenti. Kini aku mengincar seorang rekan kerjaku yang baru saja dipindahkan ke kantorku. Masih muda, dia baru saja menikah. Saat suasana kantor sudah sepi, aku memanggilnya ke ruangan yang biasa dipakai untuk interogasi, disana aku berhasil memperkosanya. Tapi sayang kali ini nasib sial menghampiriku. Saat sedang asik-asiknya aku ketahuan oleh rekan kerjaku.

Akupun disidang, dan diberikan sanksi tegas. Aku dimutasikan ke Jogja. Aku bahkan dicoret dari anggota Vanquish. Aku hanya menerima semua hukumanku itu dengan tersenyum, tak ada sama sekali tersirat penyesalan. Pikirku, di tempat yang baru justru aku akan mencari pengalaman yang baru, wanita-wanita baru.

Dan benar saja, belum lama di Jogja aku sudah mendapatkan korban lagi. Tapi kali ini aku lebih bermain aman. Aku mempersiapkan semua rencanaku dengan matang sehingga tak pernah ketahuan oleh siapapun.

Disini aku beberapa kali dipindah bagian, mulai dari lalu lintas, kriminal hingga yang terakhir bagian narkoba. Aku tak terlalu mempedulikannya, karena bagiku yang terpenting adalah petualanganku di dunia lendir. Aku ketagihan, semakin ketagihan. Sudah beberapa wanita baik itu rekan kerjaku sendiri, istri-istri rekan kerja dan juga tetanggaku yang menjadi korbanku.

Selama bertugas di bagian kriminal dan narkoba inilah aku mulai akrab dengan dunia hitam. Aku banyak berkenalan dengan preman-preman dan bandar narkoba, bahkan menjadi pengguna narkoba. Aku, Marto Sutrisno, yang sebelumnya adalah seorang polisi dengan prestasi cemerlang, dan anggota dari pasukan elit, kini masuk ke dalam lingkaran hitam. Hal ini tentu saja tanpa sepengetahuan rekan-rekanku yang lainnya.

Dari sini aku mulai berkenalan dengan bandar-bandar besar, sampai akhirnya aku bertemu dengan bossku sekarang, si Mr-X. Dia menawarkan sesuatu yang menggiurkan buatku. Aku diminta untuk menjadi mata-matanya, dengan imbalan diberikan posisi yang cukup berpengaruh di jaringannya di Jogja, dengan kata lain aku akan mendapat akses untuk mengatur bisnisnya di Jogja, dan tentunya bisa mendapat barang haram itu sesukaku. Dengan tawaran ini langsung saja aku mengiyakan.

Sejak saat itu aku makin menjadi, makin terseret ke dunia yang dulu justru ingin aku berantas. Perlahan aku mulai melupakan kepergian istriku. Ya, sama sekali tidak ada perkembangan kasusnya hingga sekian lama, serta masuknya ke dunia hitam ini, membuatku lupa segalanya. Akupun lupa dengan tujuan cita-cita masa kecilku. Aku lupa dengan sumpah dan komitmenku selama ini. Aku sudah benar-benar masuk ke dunia hitam. Aku bahkan mulai menjadi orang kepercayaan si boss.

Bisnis ini bergerak pada bidang obat-obatan terlarang, bukan hanya narkoba, tapi termasuk juga termasuk obat-obatan ilegal lainnya, obat bius hingga obat perangsang. Yang terakhir yang membuatku tertarik, tentu saja, siapa juga yang mau melewatkan kesempatan ini. Berkali-kali aku manfaatkan obat perangsang untuk mendapatkan wanita incaranku, mulai dari rekan kerjaku, hingga siapapun yang menarik bagiku, aku tak peduli.

Seringnya aku memberikan dosis yang rendah saja untuk para korbanku, karena aku masih menikmati sekali mendengar jeritan dan melihat ekspresi kesakitan mereka ketika kuperkosa. Aku masih ingat bagaimana merdunya jeritan rekan kerjaku yang baru masuk, ketika penisku memerawani kemaluannya. Bukan hanya seorang, tapi dua orang, yang menurutku paling cantik di kesatuanku.

Bersama Ramon, seorang pegawai bank, kami mengelola dengan baik bisnis ini. Dia yang lebih banyak mengatur bagaimana manajemen bisnis kami, aku bagian operasionalnya, tak masalah bagiku karena aku memang tak mengerti masalah manajemen. Dengan peranku itulah aku semakin banyak bergaul dengan para kriminal.

Mereka cukup segan padaku, karena memang aku adalah orang kepercayaan boss, sehingga merekapun turut menjadi anak buahku yang patuh, kecuali dua orang, yang bisa dibilang kepala preman yang sulit untuk didekati. Namun sesulit apapun akhirnya mereka menyerah juga pada wanita, ketika kuberikan kepada mereka dua orang asetku yang paling cantik, siapa lagi kalau bukan Intan dan Via, polwan cantik yang kuperawani.

Aset? Yah, aku menyebut para korbanku sebagai aset. Karena selanjutnya mereka kugunakan untuk memuluskan berbagai macam deal yang aku buat untuk bisnis ini. Dan aku sangat menikmati segala yang aku dapatkan ini.

Kedua dedengkot preman itu aku undang ke rumahku, dimana aku menunggu bersama Intan dan Via yang masih memakai seragam dinasnya. Kuperintahkan Intan dan Via melayani kedua preman itu, tanpa obat perangsang atau apapun. Aku tersenyum puas melihat bagaimana kedua rekanku itu menderita seharian melayani kedua preman itu.

Dengan berbekal ‘aset-aset’ yang kumiliki itulah, berkali-kali kugunakan untuk memuluskan rencanaku. Bahkan, atas perintah bossku aku menyuruh seorang aset terbaikku untuk menggoda atasanku Pak Wijaya. Entah untuk apa, aku menurutinya saja, paling tidak aku bisa memegang kartu as bossku kan?

Hingga suatu hari, ada seorang polwan baru di tempatku. Bukan baru lulus, tapi mutasi dari daerah lain. Dia dimutasi setelah menikah dengan salah satu rekanku yang bernama Guntur. Pertama kali aku melihatnya, aku terpana. Bukan karena kecantikannya, karena Intan dan Via masih lebih cantik darinya, tapi karena dia mirip, sangat mirip bahkan, dengan mendiang istriku Astri. Wanita ini bernama Safitri Rahmadianti.

Kehadirannya membuatku tersihir, kembali teringat akan kenangan bersama istriku. Aku mulai mengamatinya, membandingkannya dengan istriku. Usianya lebih muda jika sekarang istriku masih hidup. Selain wajahnya yang sangat mirip, penampilannya memang sedikit berbeda dengan istriku. Jika istriku berkerudung, dia tidak. Tingginya hampir sama, kulitnya sama-sama putih, dadanya lebih kecil dari istriku, tapi pantatnya kelihatan sedikit lebih menggoda.

Aku menjadi terobsesi dengannya, tapi memang agak sulit mendekatinya. Kalau selama ini aku berhasil menaklukan istri rekanku karena mereka hanya di rumah, Safitri juga bekerja disini dengan suaminya, membuat mereka hampir sepanjang waktu bersama. Terlebih lagi saat itu Safitri dalam kondisi hamil. Ah, nanti pasti ada kesempatan untuk bisa membuatnya menjadi salah satu asetku.

Aku kembali mengalihkan fokus ke bisnisku, sambil tetap memperhatikannya dari jauh. Dengan mendekati Guntur secara tidak langsung aku menjadi dekat dengan istrinya. Lama-lama kamipun semakin akrab. Aku semakin terobsesi dengan wanita ini. Sekian tahun menunggu akhirnya kesempatan itu datang juga. Kali ini dewi fortuna kembali khilaf, karena memilih memihak kepadaku.

Saat Guntur mendengar anaknya sakit, dan meminta Safitri untuk melihatnya di rumah, tapi dia tak bisa mengantar karena ada pekerjaan, dan dengan bodohnya meminta bantuanku untuk mengantar Safitri. Aku yang sudah menunggu kesempatan tentu tak menyia-nyiakannya, dan segera mengantar Safitri yang nampak panik.

Sesampainya di rumah, dia segera melihat kondisi Andin, ternyata hanya demam biasa, dan sudah diberikan obat oleh pembantunya sehingga sekarang sudah tertidur. Aku hanya menunggu saja di ruang tamu, saat pembantunya membawa dua gelas minuman. Dengan dalih ingin ke kamar mandi aku minta diantar oleh si pembantu, yang langsung kubekap dengan sapu tangan yang sudah kubasahi dengan obat bius hingga dia pingsan.

Segera aku kembali ke ruang tamu dan memberikan sedikit obat perangsang di minuman Safitri. Tak lama wanita itupun datang.

“Gimana si Andin Fit?”

“Untunglah nggak papa mas, cuma demam biasa aja, sekarang udah tidur anaknya.”

“Oh, syukurlah kalau begitu, kau sudah mengabari suamimu?”

“Iya sudah mas, habis ini kita langsung balik ke kantor ya mas.”

“Ngapain buru-buru, itu minumlah dulu, kamu masih kelihatan pucat gitu,” ucapku sambil mengambil gelasku dan meminum habis isinya.

Diapun menghela nafas untuk mengurangi ketegangannya, kemudian meraih gelasnya dan meminumnya hingga habis tanpa curiga. Setelah itu aku pamit dulu ke kamar mandi, mengulur waktu agar obat itu bekerja. Setelah beberapa saat aku mengintip kondisinya, dia mulai nampak gelisah dan mengipaskan tangannya sendiri nampak kegerahan. Aku tak segera menghampirinya, tapi diam-diam masuk ke kamar anaknya, dan menempelkan sapu tangan berkloroform itu di hidungnya, hanya untuk memastikan saja dia tidak terbangun oleh teriakan mamanya nanti.

Setelah itu aku tak kembali ke ruang tamu, tapi segera duduk lesehan di ruang keluarga dan menyalakan tv. Safitri yang mendengarnya langsung menghampiriku, dengan wajah yang agak memerah dan peluh mulai membasahi keningnya.

“Lhoh mas kok malah nonton? Ayo balik ke kantor.”

“Aduh bentar lagi lah Fit, duduk dulu sini temani aku.”

Dia tak membantah dan justru duduk di sebelahku. Aku diamkan saja dia, membiarkannya semakin gelisah merasakan obat perangsang itu bekerja. Aku melihat wajahnya, ah benar-benar mirip dengan Astri. Dia nampak semakin gelisah, berkali-kali menelan ludahnya sendiri. Oke Marto, it’s our time.

“Kamu kok kelihatan pucat Fit? Berkeringat gitu, kamu sakit juga?”

“Nggak tahu ini mas, jadi nggak enak badan gini aku.”

“Sini biar aku pijitin aja,” aku langsung mendekatinya, lalu memutar tubuhnya membelakangiku.

“Eh nggak usah mas, eehm,” dia mencoba menolak namun tanganku sudah memijit pundaknya.

Dia diam saja nampak menikmati pijitanku. Tanganku dengan lincah memijit pundak, lengan dan punggungnya. Sesekali ke leher dan daerah di bawah telinganya, membuatnya sedikit bergetar bila bagian itu tersentuh. Tanganku memijit punggung hingga pinggangnya, lalu naik melalui kedua sisinya dan berhenti di samping dadanya, membuatnya sedikit menggelinjang.

“Gimana udah rileks?”

“Iyaah mas lumayan,” jawabnya sedikit mendesah, membuatku semakin bernafsu padanya.

“Enak pijitanku Fit?”

“Iyaah mas enaaa aahhh, mas ngapain?” tanganku tiba-tiba saja meremas kedua buah dada mungilnya.

“Mass stop, ahhh jangan mass, aaaahhhh hentikaaaan.”

Aku menubruk tubuhnya, hingga kami berdua tengkurap, dengan dia ada di bawahku. Dia mencoba meronta namun pengaruh dari obat perangsang yang kuberikan membuat rontaannya lemah saja. Kusingkap roknya ke atas dan kutarik celana dalamnya, terasa vaginanya sudah agak basah. Segera kukeluarkan penisku yang sudah keras, kuusapkan ke bibir vaginanya.

“Ouhh mas, jangan mass aaaaaarrrhhh.”

Dengan satu sentakan keras aku masukan penisku dan langsung menggoyangnya dengan kasar. Wanita ini berteriak bercampur dengan desahannya. Ouh, ini nikmat sekali, aku merasakan penisku diremasi lubang sempitnya, apalagi dengan posisi seperti ini. Aku meraih kepalanya dan memalingkannya. Kuciumi habis bibirnya yang ranum. Dia menutup rapat bibirnya, tapi kubuka dengan paksa dan kemudian kulumat lidahnya yang menggemaskan itu. Sodokanku yang kasar ini ternyata membuat vaginanya semakin basah, dan tak lama kemudian dia mengerang, orgasme.

Aku membalikan badannya, ingin melihat ekspresinya. Air matanya mengalir deras, matanya tajam menatapku, tapi juga tersirat ada kepuasan disana. Tak menunggu lama aku kembali merojok vaginanya dengan kasar. Dia berteriak lagi, kepalanya menggeleng-geleng, tangannya meremasi karpet, matanya terpejam, namun pinggulnya bergerak mengikuti goyanganku.

Aku tahu dia dilema, antara menolak dan menikmati. Pengaruh obat perangsang membuat birahinya naik, ingin dituntaskan, tapi kenyataan bahwa saat ini bukan suaminya yang sedang menyetubuhinya membuat batinnya menolak. Tapi tubuh kami terlanjur menyatu, kemaluan kami terlanjur bertaut, sudah terlanjur terjadi. Teriakan, tangisan dan desahannya bercamur, itulah yang begitu aku nikmati, terlebih wajahnya yang mirip dengan istriku, aku ingin menikmatinya sepuasku.

Dua kali dia mencapai orgasme lagi tapi aku tak menghentikan genjotanku. Hingga akhirnya badanku dan badannya mengejang bersama, air maniku keluar disambut cairan cintanya. Tubuhku ambruk menindihnya. Hanya isak tangis yang tersisa darinya. Aku menciumi wajahnya, membayangkan sedang menciumi wajah istriku.

Kami sempat melakukannya sekali lagi, kali tanpa busana sama sekali. Dia masih belum bisa menerimaku. Kesetiaan pada suaminya kuacungi jempol, tapi kenikmatan tubuhnya lebih membiusku. Dia sempat menampar pipiku, sebelum akhirnya menunggangi tubuhku dengan liarnya menjemput orgasmenya sendiri. Kami terus bergoyang dan akhirnya kucabut penisku, kumasukkan ke mulutnya dan ejakulasi disana.

Kamipun kembali ke kantor tanpa terlebih dahulu membersihkan tubuh kami. Aku membayangkan bagaimana dia bertemu suaminya dengan vagina dan mulut yang mungkin masih tersisa sperma lelaki lain disana. Entah mau bikin alasan apa dia ke suaminya kenapa lama sekali, tapi yang jelas aku sudah mengancamnya dengan berbekal foto-foto persetubuhan kami, seperti yang kulakukan dengan wanita-wanita lainnya.

Sejak itu dia sering kupaksa melayani nafsuku, tanpa kuberi lagi obat perangsang. Aku mulai menyukainya, entah mungkin karena wajahnya yang mirip dengan istriku. Aku bahkan semakin jarang menyentuh aset-asetku yang lain. Dan Safitri ini adalah satu-satunya asetku yang tak pernah kubagi dengan orang lain. Dia memang tak pernah rela melayaniku, tapi tak bisa melawan keinginanku, bahkan berkali-kali orgasme, meskipun selalu berkata bahwa dia tidak menikmatinya.

Tapi rupanya dewi fortuna ada bosannya juga dekat denganku. Saat aku sedang memaksa Safitri untuk melayaniku di kantor, atasanku Pak Wijaya malah memergokiku. Sialnya, kali ini aku harus dibuang lagi, dan dibuang jauh ke luar jawa. Aku tak terima, aku ingin membuka kartunya yang sudah melakukan affair dengan beberapa orang yang memang merupakan setinganku.

Tapi aku mengurungkan niatku, aku merencanakan sesuatu yang lebih menarik lagi untuk Wijaya. Tidak sekarang, tunggu saja saatnya nanti, ini akan menyenangkan.

Gara-gara peristiwa itu bossku marah-marah padaku, karena dengan aku yang saat itu bertugas di bagian narkoba dibuang dari sana, akan sulit mendapatkan informasi kapan akan diadakan operasi ataupun razia. Dan benar saja, sebulan setelah kepergianku markas kami di razia. Terjadi baku tembak yang menewaskan semua anggota kami, kecuali Ramon, karena waktu itu dia masih bekerja di kantornya.

Aku tak tahu berapa korban dari pihak kepolisian, namun beberapa bulan setelah itu baru aku mendengar bahwa Guntur suami Safitri turut menjadi korban. Aku tersenyum, bagus sekali, aku akan mengejarnya dan benar-benar menjadikannya milikku. Aku tak peduli, dia harus menjadi milikku, dia harus menggantikan Astri mendampingiku.

Di tempat baruku, aku mendapat kesialan lagi. Setelah berhasil membangun jaringan bisnis baru untuk bossku, bahkan hingga bisa membuat pabrik disini, sekali lagi aku ketahuan saat sedang memperkosa seorang gadis. Kali ini aku harus menerima hukuman berat, dipecat dengan tidak hormat. Sialan, seorang mantan anggota pasukan elit, dipecat dengan tidak hormat, bahkan diusir dari daerah ini.

Dendam, itu yang kurasakan. Ke siapa? Semuanya, semua yang telah membuatku seperti ini, kecuali Safitri. Aku rasa aku mulai mencintainya, dan aku akan benar-benar mengejarnya kali ini.

Tawaran dari bossku datang lagi, untuk mengembalikanku ke Jogja, dengan tugas yang baru tentu saja. Aku dipanggil ke Jakarta dan diberi tahu detail rencananya. Hmm, benar-benar menarik, terlebih kami memiliki target yang sama. Oke, aku menerimanya, karena Safitri juga ada disana.

Aku sudah menjalankan peranku dengan baik. Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keluarga Wijaya, bahkan akupun sempat menikmati keindahan tubuh kedua kakak ipar anak Wijaya. Tapi aku masih tetap pada tujuanku untuk mencari Safitri, untuk menjadikannya milikku selamanya. Aku mencari cara bagaimana agar Safitri tidak jatuh ke tangan bossku. Kalau wanita lain terserah, tapi aku tak rela kalau Safitri, aku ingin memilikinya sendiri.

Tapi aku benar-benar lengah, tak kusangka bossku hanya memanfaatkan keahlianku saja. Setelah semua akses dia dapatkan, dia membuangku seperti ini. Bukan, bukan membuang, tapi menghabisiku. Kenapa? Apa jangan-jangan dia tahu apa yang kuperbuat terhadap Safitri? Dia pernah memperingatkanku untuk tak menyentuhnya, tapi kulanggar. Tapi seharusnya dia tak tahu itu, karena aku sudah memastikan tak ada yang mengetahui itu.

Lalu kenapa aku disingkirkan? Apakah memang hanya sampai disini saja peranku? Bangsat, dulu aku yang sering melakukan ini, menyingkirkan orang-orang yang sudah tak berguna, tapi kini justru aku yang disingkirkan.

Aku sudah banyak membantunya, aku sudah begitu loyal kepadanya, tapi dia malah menyingkirkanku. Aku tak terima ini, aku tak bisa menerima ini boss. Boss? Tidak, dia bukan lagi bossku. Ya benar, aku sudah tak perlu lagi memanggilnya boss.

Ah sial, pandanganku semakin gelap. Terakhir yang kulihat adalah Astri dan Safitri, mereka berdiri berangkulan, apa maksudnya itu? Sebentar dulu, aku belum, ah kenapa semakin gelap? Apakah sudah saatnya aku menemui Astri? Oh, aku tidak rela mati seperti ini, aku tidak rela kau perlakukan seperti ini, Baktiawan Mahendra!

***

Ramon tersenyum menerima instruksi dari sang boss. Kini wilayah Jogja sepenuhnya dalam kendalinya. Dan untuk melanjutkan rencana dari bossnya, dialah nahkodanya sekarang. Dia dan kedua anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu. Kedua anak buahnya membawa mobil Marto, sedangkan Ramon membawa mobilnya sendiri, menuju rumah Nadya.

Tak salah dia memilih tempat ini. Jurang itu cukup dalam, dan banyak batuan. Dilemparkan seperti itu dalam kegelapan, apalagi dengan tubuh yang babak belur dan sudah disuntik obat penenang, siapapun tak akan bertahan hidup, termasuk Marto. Lokasi ini juga sangat sepi, tak akan ada yang menemukan mayatnya dalam waktu dekat.

Dia tak tahu alasan Baktiawan menyuruhnya menyingkirkan Marto. Selama ini dia melihat Marto tak ada masalah, bahkan melakukan tugasnya dengan cukup baik. Dia berhasil mengorek banyak sekali dari target boss, bahkan orang-orang di sekitarnya. Dia mencurigai si boss takut kalau Marto lebih tertarik untuk mengejar wanita itu daripada melaksanakan rencana boss, sehingga menyingkirkannya. Ah sayang sekali, padahal dia masih ingin belajar banyak dari Marto.

Tapi wanita yang membuat marto tergila-gila ini cukup mengusik rasa penasaran Ramon. Dia akan mencarinya, seperti apa sebenarnya polwan itu. Dia merasa mungkin si boss tak terlalu menginginkan wanita itu, jadi Ramon bisa menjadikannya selingan sementara, sebelum dia menaklukkan dan menyerahkan Nadya dan Lia untuk bossnya.

Ramon sudah berada di depan rumah Nadya. Dia kesini bukan untuk langsung mencari Nadya, tapi suaminya. Lewat suaminya ini dia akan mendekati Nadya, dan selanjutnya Lia. Dia sudah mendapatkan instruksi dari bossnya untuk bergerak perlahan setelah kematian Dede, agar tak terlalu menarik perhatian. Waktu dua bulan rasanya lebih dari cukup kalau hanya untuk menaklukan mereka berdua.

Tok tok tok. Tak lama pintupun terbuka. Seorang wanita berjilbab berdiri di baliknya. Wanita itu tersenyum manis. Tunggulah Nadya, tunggulah sampai kamu menjadi salah satu boneka kami, batin Ramon.

“Malem Nad, Hendri ada?”

“Oh Mas Ramon, ada mas, silahkan masuk.”

Ramonpun masuk, Nadya lalu menutup pintunya.

***

“Hallo, assalamualaikum Re.”

“Waalaikumsalam mbak, ada apa

“Ada suamimu disitu?”

“Nggak ada mbak, gimana

“Kamu sudah dapat pesan dari si boss?”

“Iya, udah mbak, dua bulan lagi kan

“Iya Re, dua bulan lagi.”

“Hiks, mbak, apa jadinya kita nanti mbak

“Mbak juga nggak tahu Re, kita nggak bisa apa-apa sekarang.”

“Hiks, aku kepikiran anakku mbak, gimana kalau dia tau sekarang mamanya nggak lebih dari seorang pelacur.”

“Hush, jangan ngomong gitu Re.”

“Gimana nggak mbak, tubuh kita udah kayak nggak ada harganya lagi, apa lagi yang kita punya sekarang mbak, udah nggak ada, hiks

“Udah udah, semoga semua ini cepat selesai Re, kita berdoa saja.”

“Iya mbak, hiks

“Ya udah kalau gitu, pesen mbak, tetep layani suami kamu seperti biasa, jangan bikin dia curiga, oke?”

“Iya mbak, aku usahakan

“Ya udah, nanti kita sambung lagi, assakamualaikum.”

“Iya mbak, waalaikumsalam

Filli meletakkan ponselnya. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tak ingin adiknya mendengarnya menangis. Dia sama hancurnya dengan Renata. Pernikahan yang selama ini berjalan bahagia, hancur sudah. Kesetiaan dan kehormatan yang dia miliki sudah tak ada lagi.

Tubuhnya dan Renata sudah kotor. Tubuh yang seharusnya hanya milik suami mereka, kini bisa dipakai dengan bebas oleh beberapa orang. Dia teringat saat dipaksa melayani empat orang bersama adiknya, setelah sebelumnya melayani si boss dan temannya. Dia bahkan diperawani lubang anusnya oleh si boss. Paginya terbangun, dia mendapati tubuhnya dan Renata telanjang bulat, penuh dengan bekas sperma yang sudah mengering.

Penderitaannya belum berakhir hari itu. Setelah disuruh mandi, dia dan adiknya diperlakukan seperti budak di rumah itu, melayani siapa saja yang berada di rumah itu, tanpa sehelai benangpun boleh menutupi tubuh mereka. Tiga hari berada di rumah itu rasanya seperti tiga tahun. Dia dan adiknya diperkosa dimana saja, tak kenal tempat, tak kenal waktu. Dia pernah dipaksa melayani tiga pria sekaligus dengan ketiga lubangnya, sedangkan adiknya yang berada tak jauh darinya juga mengalami hal serupa.

Dan baru saja si boss mengirimkan pesan untuk mempersiapkan diri, karena dua bulan lagi ada pesta. Entah pesta apa yang dimaksud. Bisa jadi seperti kemarin, atau bahkan lebih parah lagi. Dia tak bisa membayangkan. Kini dirinya terbaring tanpa busana di tempat tidurnya. Sendirian, sang suami belum pulang dari luar kota. Matanya terpejam tanpa bisa terlelap, hanya air matanya yang terus mengalir membasahi pipi hingga bantalnya.

***

POV Mr-X aka Baktiawan

Aku cukup puas dengan kerja Ramon. Aku menyuruhnya untuk menyingkirkan Marto, membuatnya hilang tanpa bisa ditemukan oleh siapapun, terserah caranya mau seperti apa, yang penting Marto lenyap. Sayang memang anak buah yang memiliki kemampuan seperti Marto harus aku lenyapkan. Tapi perannya sudah selesai, pionku yang satu itu sudah tak terpakai lagi di permainan selanjutnya.

Setelah mendapatkan info pelengkap dari para targetku, dan menyuruhnya memasang beberapa kamera tersembunyi untuk memantau mereka, Marto memang sudah tak berguna lagi. Kalau tidak segera disingkirkan dia bisa menjadi batu sandungan lagi untukku nantinya. Sudah beberapa kali aku tahu Marto kembali mendekati wanita itu. Aku khawatir dia akan lebih mengutamakan mengejar wanita itu dibandingkan menyelesaikan rencanaku.

Meskipun masih ada kendala sebenarnya, sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan gambaran yang jelas dari kamera yang dipasang di rumah anak Wijaya, tapi untuk memeriksanya lagi sekarang susah. Wijaya sekarang sudah menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi rumah itu 24 jam, orang seahli Martopun pasti akan terlihat jika menyusup kesana, karena aku yakin Wijaya pasti tidak akan mengerahkan sembarang orang.

Kini tanpa Marto semua kupercayakan pada Ramon, dengan bantuan pengawasan dari Tata. Ramon tak akan tahu dia diawasi oleh Tata. Ramon memang sudah cukup lama bekerja untukku, lebih lama dibandingkan Marto. Keahliannya dalam mengatur manajemen bisnis gelapku di Jogja sudah terbukti, dan selama ini aman-aman saja tanpa kecurigaan pihak yang berwajib. Tapi hobinya kepada wanita juga agak merisaukanku, meskipun aku tahu dia tidak akan berani bertindak yang aneh-aneh. Dia tahu aku seperti apa, yang tak akan ragu menyingkirkan siapapun yang ingin ku singkirkan, bahkan bila perlu, anakku sendiripun akan kusingkirkan jika membuat masalah denganku.

Aku berikan kepada Ramon waktu dua bulan untuk mempersiapkan semuanya, lokasi pesta kami berikut peralatannya, termasuk para wanita-wanita itu. Mereka hanya pemanis saja sebenarnya, karena sasaran utamaku adalah anak Wijaya saja, yang tentunya akan benar-benar menyiksa batin Wijaya sebelum kuakhiri hidup mereka. Menantu Wijaya? Ah sayang sekali nak kamu menikahi gadis yang salah, mau nggak mau kamu harus ikut menyaksikan istrimu kami siksa, dan kamu juga akan menemani keluarga mertuamu di neraka sana.

Sekarang saatnya aku memainkan salah satu pionku. Pion yang mungkin cukup dekat dengan Wijaya, yang selama ini selalu loyal padanya. Dengan memaksanya menjadi anak buahku, aku akan semakin mengendalikan permainan ini.

“Hallo, malem om

“Malem sayang, gimana? Udah kamu jalanin rencana kita?”

“Beres om, aku udah bikin janji kok sama dia, akhir pekan ini om

“Hmm bagus, tapi kamu nggak usah buru-buru ya Ta, kamu harus hati-hati.”

“Iya om tenang aja, Tata tahu kok harus gimana, dia orang yang loyal sama Wijaya kan

“Iya, loyal banget, makanya pelan-pelan aja, waktu kamu satu bulan.”

“Oke om, asal subsidi lancar, apa sih yang nggak buat om, hehe

“Haha, tenang aja sayang, aman itu.”

Aku menutup teleponku, mengakhiri pembicaraanku dengan Tata. Lalu aku menghubungi seseorang lagi.

“Hallo, siang pa

“Disini udah malam Bas.”

“Haha, sorry dad, di London masih siang

“Jadi kapan kamu selesaikan kuliahmu?”

“Soon dad, next year i’ll coming back to Indonesia

“Alright son, can’t wait for your coming.”

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part