. Mengalahkan Gadis Part 23 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 23

0
316

Mengalahkan Gadis Part 23

It’s Time To Party

Hari sudah beranjak petang ketika terlihat tiga orang pria dengan pakaian serba hitam bergerak dengan sangat cepat dan lincah menyusuri semak belukar. Bukan sepenuhnya belukar yang rimbun karena sebagian sudah ada yang rebah, seperti pernah dilewati sebelumnya. Tujuan mereka adalah mengampiri seseorang yang sudah dari pagi tadi berada di rumah pohon itu. Ruman pohon? Yah, sebuah rumah-rumahan alakadarnya yang dibuat di atas sebuah pohon.

Rumah pohon itu cukup tersembunyi karena dedaunan yang cukup rimbun dari pohon itu sendiri sehingga tidak akan diketahui oleh orang jika tidak benar-benar memperhatiannya. Rumah pohon itulah yang saat ini digunakan oleh Marto untuk beristirahat sejenak sebelum memulai pertempuran malam ini. Namun meskipun cukup tersembunyi, tempat ini memiliki sudut pandang yang sangat bagus ke arah gudang tempat pelaksanaan rencana Baktiawan cs. Saat pintu gudang itu terbuka, Marto bisa melihat ke dalam gudang meskipun tidak secara keseluruhan.

Marto sendiri heran, bagaimana bisa Rio mempersiapkan tempat seperti ini. Dan jika mengingat lagi kapan Rio menyampaikan padanya bahwa dia sudah mengetahui lokasi ini, rasanya tidak mungkin dia mempersiapkan semuanya dalam waktu secepat ini. Apalagi jarak tempat ini ke gudang itu tak sampai 500 meter. Jika memang gudang itu sudah cukup lama dipersiapkan oleh Ramon dan anak buahnya, yang artinya mereka akan sering hilir mudik di sekitar sini, kenapa sampai tak ada satupun dari mereka yang memperhatikannya.

Tapi untuk saat ini Marto tak ingin terlalu larut dalam pemikirannya itu meskipun diakui atau tidak pemikirannya itu memunculkan sebuah kecurigaan tersendiri. Marto sudah sempat mengamati keadaan dari teropong di senapan SPR-3 miliknya. Ternyata cukup banyak orang yang berjaga disana, dan sepertinya mereka semua membawa senjata api. Namun jumlah mereka sepertinya masih tak jauh dari prediksi Rio, yaitu di bawah 100 orang, meskipun yang Marto lihat dan dia kenali, bahwa mereka yang berjaga-jaga ternyata bukanlah preman-preman kelas teri, tapi dengan kemampuan rekan-rekannya dia yakin semua itu bisa teratasi.

Sesaat Marto terkesiap, instingnya mengatakan ada seseorang yang sedang mendekat, sehingga dia bersikap waspada dengan mengeluarkan pistolnya, bersiap untuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak dia inginkan. Namun wajahnya berubah lega setelah tahu siapa yang datang.

“Wow wow, udah nodongin pistol aja bang?” ujar Rio terkejut melihat posisi siaga Marto.

“Haha, kalian rupanya,” jawab Marto menurunkan senjatanya.

“Ya emang siapa lagi yang tahu tempat ini bang, haha,” kilah Rio.

“Wah bang Marto, udah lama nggak ketemu, gimana kabarnya bang?” sapa Doni.

“Hai Don, Rim, gimana kabar kalian?” tanya Marto.

“Baik nih bang. Kaki gimana, udah sembuh itu?” tanya Karim.

“Yaa lumayan lah, tapi jalan masih pakai tongkat,” jawab Marto.

Doni, Karim dan tentu saja Rio sudah sampai di tempat ini. Mereka bertiga memakai seragam sama seperti yang dipakai oleh Marto. Keempatnya kini melepas kangen, bersenda gurau sebelum nantinya akan bertempur mati-matian dengan taruhan nyawa mereka. Semua itu tentu saja selain membantu keluarga Wijaya, juga untuk mengungkap dan menumpas kejahatan lainnya.

Mereka masih bercanda sambil sambil merokok dan menikmati cemilan yang dibawa oleh Doni, saat Rio mengambil sebuah peti dan membukanya, lalu mengeluarkan isinya. Beberapa alat radio komunikasi, rompi anti peluru, senapan serbu, pistol dan ratusan amunisi berbagai kaliber. Pembicaraan pun menjadi lebih serius.

“Jadi rencana kita nanti seperti apa Yo?” tanya Marto.

“Nggak ada rencana khusus bang, kami bertiga menyerang mereka, abang lindungi kami dari sini,” jawab Rio sekenanya.

“Hey ayolah yang serius,” desak Marto, diiringi senyum Doni dan Karim.

“Oke, gini bang. Kami nanti akan menyerang bersamaan, nggak terpisah, supaya memudahkan abang melindungi kami. Kalau pada akhirnya sampai kepisah-pisah ya lihat perkembangan di lapangan aja. Nah kami akan menyerang dari sisi belakang gudang, disana aku lihat penjagaan nggak seketat di sisi yang lain, mungkin mereka berfikir kalaupun ada serangan pasti dari depan,” Rio mulai menjelaskan rencananya.

“Nah serangan kami nanti pasti akan menarik perhatian yang lainnya, dari situ abang tembakin satu-satu deh tuh bandit, tapi dari depan, biar mereka kira musuh datang dari dua arah. Nah saat mereka kebingungan itu bakal memudahkan kami untuk melumpuhkan mereka. Doni dan Karim bawa amunisi yang banyak ya, kita hindari pertarungan jarak dekat tangan kosong seperti kebiasaan kalian, karena jumlah lawan kita cukup banyak hari ini,” ujar Rio kepada Doni dan Karim dan mereka manggut-manggut saja.

“Bang Marto nanti nyerangnya dari sisi depan ke sisi utara, kami dari belakang ke sisi selatan, kita sapu bersih mereka, baru kita masuk dari pintu depan dan membereskan sisanya yang ada di dalam.”

“Sapu bersih? Maksudnya dibunuh?”

“Iya lah bang masak dikerokin sih,” jawab Rio.

“Semua?”

“Iya semua, matiin semua, kecuali dedengkotnya yang di dalam, si Fuadi,” jawab Rio.

“Kok dimatiin semua? Dan kenapa menyisakan Fuadi?” tanya Marto lagi.

“Mereka ini bandit-bandit yang udah sangat meresahkan di Jogja ini bang. Lagian yang ada disini bukan bandit kelas coro, semuanya hebat dan terlatih. Dengan kita habisi mereka semua, yaa anggap aja kita membuat kedamaian di bumi Jogja lah. Kalau masalah Fuadi, dia harus diambil dulu keterangannya bang, untuk membersihkan kepolisian dari orang-orang macam dia, karena aku yakin anak buahnya yang menyimpang kayak dia pasti banyak,” terang Rio.

“Hah, menyimpang? Suka cowok gitu? Atau suka anak kecil?” tanya Karim.

“Asuu, serius cuk. Maksudnya oknum polisi yang nggak bener, yang kerja sama dengan bandit-bandit itu,” jawab Rio kesal, namun mengundang tawa geli Marto dan Doni.

“Lalu Baktiawan gimana?” tanya Marto.

“Lha katanya abang yang pengen bunuh dia? Sekalian si Ramon kan? Sisanya yang ada di dalam nanti kami bereskan, khusus untuk dua orang itu silahkan abang yang habisi. Dari jarak segini bisa kan?” tanya Rio.

“Jaraknya masih ideal sih, tapi kalau mereka ada di dalam gudang gimana aku bisa nembaknya Yo?”

“Abang udah coba tes belum senapannya? Untuk melihat kesana maksudku.”

“Udah sih, tapi kan nggak bisa tembus pandang,” jawab Marto.

“Kalau itu tenang aja, nanti kita robohin itu pintunya yang segede gaban biar abang bisa melihat ke dalam.”

“Hmm, gitu yaa, oke deh kalau gitu,” ujar Marto, karena memang dia tadi sempat mencoba dan ternyata bisa melihat sampai ke dalam gudang ketika pintu itu terbuka.

“Oh iya bang, itu korban-korban udah dibawa kesini kan?” tanya Rio.

“Udah dari tadi lah, Ramon juga udah kesini. Ada beberapa mobil yang bawa orang-orang yang aku tahu pimpinan preman dan mafia disini, si empat mata angin, udah datang, tinggal nunggu big boss mereka aja kayaknya,” jawab Marto.

Rio kemudian menjelaskan secara detail rencana mereka malam ini, dan ketiga temannya itu mendengarkan dengan seksama. Mereka pun menyiapkan perlengkapan masing-masing setelah Rio selesai dengan penjelasannya. Terlihat oleh Marto wajah teman-temannya ini begitu bersemangat. Yah karena akhirna mereka menghadapi pertempuran yang sesungguhnya lagi.

Marto tidak tahu apakah setelah dia keluar dari Vanquish mereka pernah ditugaskan untuk misi berbahaya seperti ini lagi atau tidak, namun baginya ini adalah pertempuran pertamanya setelah lebih dari 10 tahun. Meskipun perannya hari ini adalah sebagai sniper yang tidak harus berhadapan langsung dengan musuh, tapi tak bisa dipungkiri ada rasa gugup melanda dirinya.

“Oke, semua perlengkapan udah siap?” tanya Rio.

“Sip,” jawab ketiga temannya bersamaan.

“Bagus. Kita tunggu sampai kedua big boss datang, dan itu tak akan lama lagi. Kita bergerak setengah atau satu jam setelah sang boss masuk arena. Kita lakuin sesuai rencana. Semoga hari ini kita diberkahi,” ujar Rio.

“Ya, aku semangat banget ini, udah lama nggak perang,” ujar Karim.

“Yoi, udah lama nggak menumpahkan darah, iya nggak bro?” ujar Doni.

“Iya, udah lama nggak ngerasain adrenalin ini, adrenalin ngebunuh orang, haha,” sahut Marto.

“Haha, tenang kawan-kawan. Malam ini kalian boleh membunuh sepuasnya kok, asal sesuai rencana aja. Ini bakal menyenangkan, it’s time to party bro,” ujar Rio.

***

“Wah wah wah, rupanya kalian mempersiapkan ini dengan sangat baik yaa.”

“Eh, bang Toro, baru datang bang?” sambut Ramon.

“Iya Mon, lagipula pesta kan belum dimulai, jadi aku belum terlambat kan, haha,” jawab Toro.

“Haha iya bang, masih nunggu si boss, tapi yang lain udah datang kok,” ujar Ramon.

“Siapa aja emang yang mau ikut pesta kita?” tanya Toro.

“Tamu VIP sih cuma 4 orang aja termasuk abang, yang lain Markus, Ali dan Joni,” jawab Ramon.

“Haha, dari 4 penjuru rupanya?”

“Iya bang, 4 mata angin kita undang semua. Lagipula cewek kita kan cuma 4.”

“Lalu, bagaimana yang kamu janjikan tempo hari?”

“Santai aja bang, beres itu. Setelah semua ini beres, abang bisa dapatin itu polwan,” ujar Ramon.

“Haha bagus bagus, udah lama nggak ngerasain jepitan polwan, sejak anak buah si Marto itu pindah. Ya sudah, ayo kita masuk,” ujar Toro.

Toro pun mengedarkan pandangannya, mengamati gudang bekas penggilingan padi itu kini telah diubah bagian dalamnya. Gudang ini cukup luas, seukuran dua kali lapangan voli. Dibagi menjadi tiga bagian dengan dipisahkan oleh dinding kaca. Bagian pertama tidak terlalu besar, dan hanya berupa ruang kosong tanpa diisi apapun.

Bagian kedua, di sebelah kiri dari pintu masuk gudang, terlihat sebuah ruangan yang terdapat 4 buah kasur, dimana di masing-masing kasur itu tergeletak seorang wanita. Siapa lagi mereka kalau bukan Filli, Renata, Nadya dan Lia. Keempat wanita itu terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri serta terikat kaki dan tangannya.

Sedangkan bagian ketiga yang terletak di sebelah kanan pintu masuk, sebuah ruangan yang lebih luas. Disana terdapat sebuah kasur, dimana Ara sedang terbaring tak sadarkan diri juga dengan tangan dan kaki yang terikat. Sedangkan di kira-kira 2 meter dari kasur itu, ada empat buah kursi yang disusun berjejer dengan jarak antar kursi sekitar 1,5 meter. Masing-masing kursi terisi oleh Wijaya, Aini, Budi dan Sakti.

Keempat orang yang berada di kursi itu semua tak sadarkan diri. Kaki mereka diikat dengan kaki kursi, sedangkan tangannya juga diikat pada pegangan kursi. Kaki kursi itu sendiri terlihat tertanam di lantai beton sehingga tak akan bisa digerakkan kemana-mana jika orang-orang yang diikat disana berontak.

“Hey Mon, siapa wanita cantik itu?” tanya Ramon.

“Oh, ya itu targetnya boss Fuad yang bikin kita sampai repot-repot ngurusin acara beginian bang,” jawab Ramon.

“Oh, anak si Wijaya itu? Cantik banget Mon, dikasih sisa juga mau aku, haha,” ujar Toro.

“Haha, iya kalau nggak dihabisin bang.”

“Aku yakin dia nggak akan dihabisin. Terlalu sayang lah, mending buat kita-kita aja dijadiin gundik, haha.”

Toro dan Ramon pun menuju ke ruangan dimana empat orang wanita cantik berada disana. Juga sudah ada 3 orang pria berperawakan tak kalah sangar dengan Toro disana, menunggu aba-aba dari sang boss untuk bisa menikmati keempatnya. Mereka sudah punya incaran masing-masing, tapi akan mengalah jika Toro juga mengincarnya.

Meskipun sama-sama berstatus kepala wilayah, namun mereka sangat segan dan hormat kepada Toro, karena dulunya mereka anak buah Toro, dan sampai sekarang pun masih memanggilnya boss. Karena itulah apapun yang diminta dan diperintahkan oleh Toro, tak pernah sekalipun mereka bantah.

“Wah kalian ini, mendahului yang tua ya, dasar anak muda, haha,” ujar Toro mengagetkan ketiganya.

“Loh boss, baru datang?” sapa Ali.

“Iya nih. Jadi gimana? Kalian udah punya incaran kan?” tanya Toro.

“Udah sih boss, tapi kan kami tetep nunggu perintah dan pilihannya boss Toro,” jawab Joni.

“Haha bagus bagus. Hmm, yang mana yaa,” Toro nampak mengamati keempat wanita ini.

Semuanya cantik dan menarik. Badannya pun juga sepertinya cukup mengundang gairah. Toro terlihat kebingungan memilih satu dari keempat wanita yang akan dia gauli untuk yang pertama malam ini, sehingga dia pun meminta saran dari Ramon.

“Mon, aku bingung nih, menarik semua, kamu ada saran?” tanya Toro.

“Kalau yang ini namanya Lia, udah punya dua anak dia, saya juga belum pernah ngerasain bang. Kalau yang kerudungan itu namanya Nadya, anaknya satu, masih lumayan rapet boss. Lia dan Nadya ini belum pernah dipakai sama boss Fuad ataupun boss Bakti, jadi boolnya masih kesegel. Kalau yang dua itu, Renata dan Filli, mereka kakak iparnya Ara, udah pernah dipakai boss jadi yaa pantatnya udah bobol,” terang Ramon.

“Hmm, oke, aku pilih yang kerudungan aja kalau gitu, kayaknya mantap ini,” ujar Toro.

Markus yang sedari tadi diam mencelos karena dari awal dia sudah mengincar Nadya. Sedangkan Ali yang sudah memilih Lia tak terpengaruh, begitu juga dengan Joni yang memilih Filli. Tinggal tersisa Renata yang akan menjadi mainan Markus, dan sepertinya Renata akan menjalani malam yang berat sebagai pelampiasan Markus yang gagal mendapat Nadya. Meskipun malam ini mereka bebas untuk bertukar mangsa, namun jika bisa mendapat giliran pertama pasti lebih memuaskan bukan jika harus menerima sisa dari orang lain?

“Lho, lha jatahmu mana Mon?” tanya Toro.

“Ah saya gampang bang, yang penting pengamanan dulu, haha,” jawab Ramon.

“Hmm, jangan-jangan kamu mau minta sisanya si boss ya? Atau kamu mau main-main sama polwan itu aja?” tanya Toro.

“Wah, ada polwan juga bang? Mana orangnya?” ketiga rekan Toro ini nampak antusias.

“Heh, ikut-ikutan aja kalian, yang itu jatahku,” sahut Toro.

“Wah kok gitu bang? Tapi nanti kita dapat juga kan bang?” tanya Ali.

“Haha kalian tenang aja, kayak nggak kenal aku aja,” jawab Toro dibarengi dengan senyum ketiga rekannya, namun senyum kecut dari Ramon. Ramon sebenarnya tidak ingin memberikan Safitri kepada mereka, tapi dia sudah terlanjur berjanji.

Tak lama kemudian terdengar dering ponsel Ramon, sang boss meneleponnya.

“Hallo boss.”
“Hallo, gimana disana

“Udah siap boss, 4 mata angin udah kumpul, tinggal nunggu boss berdua.”
“Oh baguslah. Pengamanan gimana

“Orang kita udah stand by semua boss, on potition.”
“Hmm, baiklah, pastikan semuanya ya Mon, ditambah orangku pasti aman

“Oke boss.”
“Ya sudah, sejam lagi kami berangkat. Tapi kalau 4 mata angin mau mulai duluan, silahkan aja

“Oke boss, disampaikan.”

Hubungan telepon pun tertutup. Tapi masih ada yang mengganjal di pikiran Ramon, siapa sebenarnya bantuan yang disiapkan oleh Fuadi. Dan kenapa sampai jam segini belum juga ada tanda-tanda kehadirannya, padahal ini sudah hampir jam 8 malam.

“Ada apa Mon?”

“Eh nggak bang, ini, hmm, saya masih penasaran dengan orang bantuan yang dibilang sama boss Fuad. Dia bilang bakal ada bantuan lagi, tapi kok sampai sekarang belum ada kelihatan ya?”

“Lho, kan udah pada stand by mereka, emang kamu nggak tahu? Nggak dikasih tahu Fuadi?” tanya Toro.

“Eh masak sih? Saya nggak dikasih tahu, emang siapa sih bang?” jawab Ramon.

“Haha, gimana sih kamu kepala keamanan kok nggak tahu siapa aja anggotanya? Bossmu itu nyiapin 2 orang sniper, mereka masing-masing ada di sebelah utara dan selatan gudang ini,” terang Toro.

“Ooh gitu, kok boss nggak ngomong-ngomong ya,” ujar Ramon.

“Yaa nggak tahu. Terus apalagi dia bilang?” tanya Toro seperti mengharapkan sesuatu.

“Oh iya lupa, kata boss, kalau kalian mau mulai duluan silahkan aja.”

“Nah gitu dong, ayo kita mulai, haha,” ujar Toro pada ketiga rekannya itu.

Keempat orang pimpinan wilayah bandit di Jogja ini pun mendekati calon mangsa mereka masing-masing. Dengan senyum tersungging di bibir mereka, mata mereka jelalatan menatap tubuh para wanita yang masih tergolek tak berdaya itu. Ramon yang melihat itu hanya tersenyum kemudian meninggalkan mereka yang sudah mulai menelanjangi dirinya masing-masing.

Ramon menuju ke ruangan yang satunya, mendekati Ara yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ramon mengelus-elus wajah Ara yang halus. Dia tersenyum, dalam hatinya bertekad bahwa malam ini dia harus bisa meniduri wanita cantik yang sempat hampir saja dia setubuhi tempo hari.

Tunggu saja Ara, nggak lama lagi kontolku bakal bersarang di memek kamu, batin Ramon.

***

Beberapa jam sebelumnya

Suasana di kantor kepolisian daerah Yogyakarta yang awalnya tenang siang itu berubah menjadi heboh ketika ada laporan perkelahian di jalan lingkar utara sebelah selatan perempatan Monjali yang menyebabkan kemacetan yang luar biasa panjang. Laporan itu didapatkan oleh seorang polantas ketika dia mendapat pengaduan tentang kemacetan itu.

Jika hanya sebuah perkelahian biasa tentu saja tidak akan seheboh ini, tetapi polanatas itu mengenali salah seorang diantaranya yaitu Budi, menantu dari Wijaya, salah satu petinggi di kepolisian daerah. Dan lagi, Wijaya sedari pagi sampai saat ini belum terlihat sama sekali, bahkan dihubungipun tidak aktif ponselnya. Menindak lanjutin laporan ini Kompol Arjuna memimpin langsung tim untuk menuju ke TKP, karena dia memiliki firasat buruk tentang perkelahian ini.

Tiga buah buah mobil patroli berisi masing-masing 6 anggota bersenjata lengkap langsung mengarah ke TKP. Namun sayang kemacetan yang sangat parah membuat laju mereka melambat, dan ketika sampai disana perkelahian sudah berhenti, dan menyisakan mobil Budi serta dua orang berseragam sebuah bank tempat Budi bekerja sedang terkapar tak sadarkan diri, namun keduanya masih hidup.

Kompol Arjuna segera memerintahkan anggotanya untuk memanggil ambulance dan membawa kedua korban ini, yang dari kartu identitasnya bernama Candra dan Dipta. Saksi mata yang ditemui di tempat kejadian memberikan keterangan langsung kepada Kompol Arjuna bahwa dia melihat orang-orang berpakaian serba hitam mengeroyok pengemudi dan penumpang mobil dan membawa dua diantaranya, yang diyakini salah satunya adalah Budi.

Para saksi mengatakan kedua orang itu dibawa menggunakan dua buah mobil SUV warna hitam tanpa plat nomor, dan melaju ke arah selatan dengan kecepatan sangat tinggi. Kompol Arjuna memerintahkan beberapa anggotanya untuk mencari jejak kedua mobil itu, sedangkan dia beserta sisa anggotanya kembali ke kantor.

Sesampainya di kantor baru dia menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan ini semua. Wijaya tak ada di tempat dan tak bisa dihubungi, menantunya terlibat perkelahian, atau lebih tepatnya dikeroyok dan diculik. Dia pun memanggil dua anggotanya yaitu Fadli dan Safitri, memerintahkan mereka untuk pergi ke rumah Wijaya memeriksa apakah Wijaya sedang berada di rumah atau tidak. Atau untuk mencari informasi dimana Wijaya dari orang-orang di rumahnya.

Tak berlama-lama Fadli dan Safitri pun bergegas menuju rumah Wijaya. Namun dalam perjalanan terlihat Safitri seperti mengkhawatirkan sesuatu, dia pun memiliki firasat yang buruk tentang ini, meski begitu berharap tidak terjadi apa-apa dengan orang yang dulu pernah memiliki affair dengannya itu. Rupanya kekhawatirannya itu ditangkap oleh Fadli yang sedang mengemudi.

“Fit, kamu kenapa? Kok kayak cemas gitu?”

“Nggak mas, kok kayaknya aku punya firasat yang kurang enak ya.”

“Firasat kurang enak gimana Fit?”

“Entahlah mas, kita ke rumah Pak Wijaya dulu aja. Moga-moga nggak ada apa-apa.”

Mereka pun sampai di rumah Wijaya. Setelah menunggu beberapa saat nampak pintu gerbang dibuka oleh pembantu Wijaya. Pembantu itu heran melihat ada dua orang polisi yang datang ke rumah.

“Selamat siang bu,” sapa Safitri.

“Selamat siang bu polwan, ada apa ya bu?” tanya si pembantu.

“Maaf, Pak Wijayanya ada?”

“Wah belum pulang bu kalau jam segini.”

“Hmm, kira-kira tadi pergi kemana ya? Ibu tahu nggak?”

“Lha ya ke kantor tho bu, tapi pagitadi bareng nyonya berangkatnya, mungkin ke butik dulu ngantar nyonya.”

“Oh ya sudah, makasih kalau gitu bu, kami permisi dulu.”

“Iya bu silahkan.”

Safitri dan Fadli pun kembali masuk ke dalam mobil.

“Gimana Fit? Pak Wijayanya nggak ada nih.”

“Hmm, tadi pembantunya bilang nganter Bu Wijaya ke butik, apa kita kesana aja ya mas?”

“Iya kayaknya, mending kita kesana aja, nanya sama Bu Wijaya aja.”

Keduanya pun kini menuju butik Aini. Safitri memang pernah beberapa kali datang ke butik itu untuk membeli pakaian sehingga mengetahui dimana lokasinya, yang kebetulan tak begitu jauh dari rumah Wijaya. Akhirnya tak lama berselang mereka pun sudah sampai di depan butik itu, namun suasana sepi. Butik itu seperti tak ada penghuninya di dalam.

“Kayaknya tutup Fit butiknya, kita balik aja ya?” tanya Fadli.

“Eh tunggu dulu mas. Fitri kok punya firasat buruk, kita coba cek dulu aja gimana mas?” ujar Safitri.

“Cek gimana? Mau masuk kesana?” tanya Fadli lagi. Dalam hati sebenarnya Fadli memiliki kecemasan yang sama dengan Safitri. Instingnya sebagai seorang polisi mengatakan ada sesuatu di dalam butik itu.

“Ya kita lihat dulu aja, kalau emang terkunci ya udah kita balik ke kantor,” jawab Safitri.

“Ya udah deh kalau gitu.”

Akhirnya Fadli menuruti Safitri untuk memeriksa butik itu terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke kantor. Safitri dan Fadli mendekati butik itu, namun sepertinya memang tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, sepi sekali. Mencoba melihat dari jendela kaca pun tidak bisa karena tertutup oleh korden yang cukup tebal. Namun rasa penasaran Safitri belum hilang, dengan berhati-hati dia mencoba untuk membuka handle pintu, siapa tahu tak terkunci, dan klek, pintu terbuka.

Safitri cukup terkejut karena pintunya tidak terkunci. Perlahan dia membuka pintu itu, namun bersama itu dibarengi dengan detak jantungnya yang kian cepat. Dia tak tahu kenapa, namun perasaannya benar-benar tidak enak. Dan setelah pintu itu terbuka, terjawablah mengapa saat membuka pintu jatungnya begitu terpacu.

“Astagfirullah. Mas Fadli, itu..” Safitri tak mampu melanjutkan ucapannya, hanya menunjuk ke dalam butik, membuat Fadli melongok ke dalam.

“Astaga. Fit, cepat hubungi markas minta bantuan,” ujarnya pada Safitri.

Safitri sempat mematung tak bergerak. Dia, dan Fadli tak mempercayai apa yang mereka lihat di dalam butik. Rupanya benar, ada empat orang gadis tergeletak tak bernyawa, dengan luka tempat tepat di dahi mereka. Dua orang dalam keadaan terikat, sedangkan yang dua lagi tidak terikat. Melihat Safitri yang begitu syok membuat Fadli mengambil tidakan cepat dengan menghubungi markas untuk meminta bantuan anggota dan juga mobil jenazah.

Fadli kemudian menarik Safitri untuk mendudukkannya di sebuah kursi yang terdapat di depan butik. Safitri memang belum pernah mengurusi hal-hal seperti ini. Ini adalah untuk pertama kalinya dia melihat langsung korban pembunuhan yang darahnya saja masih mengalir dari lubang di kepala mereka dan menggenang di lantai, sedangkan untuk Fadli memang bukan hal yang baru melihat pemandangan seperti ini, dia sudah sering, bahkan pernah beberapa kali melumpuhkan pelaku kejahatan yang berusaha untuk melawan ketika akan ditangkap.

Setelah bantuan datang, mereka mereka pun mengevakuasi korban dan memeriksa setiap bagian di butik itu. Namun tidak ada hal lain yang mencurigakan. Tidak ada uang yang hilang ataupun barang yang hilang, namun yang pasti mereka tidak bisa menemukan si pemilik butik, yang tak lain adalah istri dari atasan mereka.

Tiba-tiba Safitri terhenyak seperti tersadar akan sesuatu. Ara. Satu nama yang terpikirkan olehnya. Suaminya baru saja dikeroyok dan dibawa orang. Ayahnya hilang entah kemana, dan kini ibunya juga tidak diketahui keberadaannya sementara di butik sang ibu ditemukan mayat keempat karyawannya. Buru-buru Safitri menghubungi ponsel Ara, namun tidak aktif. Safitri pun segera menarik Fadli ingin mengajaknya mencari Ara.

“Eh eh ada apa Fit kok narik narik gini?”

“Mas, kita cari Ara mas. Suami, ayah dan ibunya menghilang, jangan-jangan terjadi sesuatu juga sama dia.”

“Oh iya, ayo kalau gitu.”

Namun sebelum beranjak Fadli meminta salah seorang rekannya untuk memeriksa kantor Ara, siapa tahu dia masih ada disana, sedangkan dia bersama Safitri bergegas ke rumah Ara. Sesampainya di rumah Ara, mereka berdua pun mendapatkan jawaban yang sama seperti yang mereka dapat di rumah Wijaya, Ara belum kembali. Sedangkan rekannya yang mencari ke kantor Ara mengabarkan bahwa kantor sudah sepi dan semua pegawainya sudah pulang. Dia juga mendapat keterangan dari satpam kantor itu bahwa semua sudah meninggalkan kantor sebelum jam 12, itu artinya sudah lebih dari dua jam.

Keduanya termenung, larut dalam prasangka mereka masing-masing. Ada apa ini? Kenapa satu keluarga tiba-tiba menghilang, dengan cara yang seperti ini? Karena masih bingung dengan semua ini mereka pun kembali ke kantor dan segera menemui Kompol Arjuna untuk melaporkan semuanya, termasuk kasus pembunuhan di butik Aini.

“Aneh, kenapa satu keluarga bisa menghilang semua ya?” Kompol Arjuna bertanya-tanya.

“Kalau menurut saya mereka bukan sekedar diculik ndan. Entah untuk motif seperti apa sampai-sampai menghilangkan nyawa orang yang sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan keluarga ini,” ujar Safitri.

“Ya, saya juga berfikir seperti itu. Besar kemungkinannya adalah motif dendam. Tapi siapa dendam kepada siapa, itu yang masih membingungkan, setahuku Pak Wijaya nggak punya musuh yang berpotensi memiliki dendam luar biasa hingga melakukan hal sekejam itu,” terang Kompol Arjuna.

“Oh iya, saya juga mendapat laporan bahwa anggota yang melakukan pelacakan menemukan dua mobil SUV warna hitam tanpa plat nomor terparkir di sebuah SPBU, tapi tidak ditemukan petunjuk lain selain bercak darah disana, mungkin bercak darah Budi,” lanjut Kompol Arjuna.

“Nggak ada sidik jari ndan?” tanya Fadli.

“Nggak ada, tadi udah diperiksa dan nggak ada petunjuk apa-apa lagi,” jawab Kompol Arjuna.

“Ponselnya gimana ndan? Nggak bisa dilacak?” tanya Safitri.

“Udah dicoba juga, tapi masih belum ketemu,” jawab Kompol Arjuna.

Ketiga orang itupun terdiam, larut dalam pikiran dan hipotesa mereka masing-masing. Dan ketiga orang ini memiliki pemikiran yang sama bahwa ini bukan kasus penculikan biasa, karena bisa sampai menghilangkan nyawa empat orang yang tak memiliki hubungan langsung dengan keluarga Wijaya. Jika ini memang murni balas dendam, siapa orang yang mendendam kepada keluarga ini?

“Oh iya ndan, tadi kan katanya selain Budi ada satu orang lagi yang dibawa. Sudah diketahui siapa orangnya ndan?” tanya Safitri.

“Belum Fit. Tapi menurut keterangan teman kerja Budi, mereka pergi dari kantor hanya bertiga, bersama Candra dan Dipta. Sedangkan Candra dan Dipta sekarang posisinya lagi kritis di rumah sakit. Entah siapa yang seorang lagi, mungkin kalau kita bisa tahu siapa dia, kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk,” jawab Kompol Arjuna.

“Kalau gitu saya ijin dulu ndan, mau ke rumah sakit. Siapa tahu kedua orang itu segera sadar dan bisa memberikan informasi,” ujar Fadli, yang dijawab dengan anggukan oleh Kompol Arjuna.

Fadli meninggalkan ruangan terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Safitri. Namun sesaat sebelum keluar dari pintu ruangan Kompol Arjuna, mendadak Safitri menghentikan langkahnya. Dia terdiam sejenak, memikirkan sebuah kemungkinan yang bisa saja menjadi petunjuk untuk kasus ini, dan menurut keyakinannya kemungkinan itu sangat besar.

“Ada apa Fit?” tanya Kompol Arjuna yang heran melihat sikap Safitri.

“Hmm, saya rasa, saya tahu seseorang yang bisa jadi petunjuk kasus ini ndan,” jawab Saftiri.

“Siapa?”

“Seseorang bernama Ramon. Saya tidak bisa memastikan, tapi feeling saya mengatakan dia terlibat kasus ini,” jawab Safitri.

“Ramon? Siapa dia? Coba duduk dulu dan kamu ceritakan apa yang kamu tahu.”

Safitri pun kembali duduk. Dia terlihat ragu-ragu, bingung harus memulai darimana untuk menceritakannya, karena jika bercerita tentang Ramon maka dia harus bercerita apa yang terjadi padanya. Safitri masih terdiam menunduk, membuat Kompol Arjuna terheran. Tapi dia yakin ada sesuatu yang tidak beres dari sikap Safitri ini. Dia yang sudah sangat berpengalaman tahu bahwa ada sesuatu yang mungkin sulit untuk diceritakan oleh Safitri, mungkin sebuah rahasia, atau mungkin sebuah, aib.

“Kalau kamu merasa yakin orang itu terlibat dengan kasus ini, maka serahasia apapun itu tolong kamu ceritakan ke saya. Pilih saja mana yang menurut kamu bisa diceritakan dan mana yang tidak. Kalau itu menjadi sebuah rahasia bagi kamu, saya akan sebisa mungkin untuk menutupinya. Dan bila memang terbukti orang itu terlibat, saya akan benar-benar menjaga rahasia kamu, bahkan bila itu membahayakan jiwa kamu ataupun keluarga kamu, saya janji akan memberi perlindungan semaksimal mungkin.”

Safitri terhenyak mendengar kata-kata Kompol Arjuna barusan. Dia menatap atasannya itu, mencoba mencari keyakinan bahwa apa yang dikatakan oleh Kompol Arjuna bisa dia percayai. Safitri berpikir dia harus cepat mengambil keputusan, karena bisa saja terlambat bila dia ragu-ragu seperti ini. Akhirnya setelah mempertimbangkan baik buruknya, Safitri mulai bercerita kepada Kompol Arjuna.

Kompol Arjuna mendengarkan dengan seksama cerita Safitri. Beberapa kali dia terhenyak ketika Safitri bercerita tentang Ramon yang memperdayai bahkan mengancamnya, lalu Safitri yang pernah mendengar Ramon membicarakan keluarga Wijaya saat dia sedang menghubungi seseorang. Yang lebih mengagetkan lagi adalah ketika Kompol Arjuna mendengarkan Safitri menyebutkan nama Toro, orang yang sudah menjadi target nomor satunya.

Safitri mengakhiri ceritanya dengan linangan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Berat memang untuknya menceritakan aibnya sendiri, namun jika itu bisa menyingkirkan Ramon dari hidupnya, rasanya akan lebih baik. Terlebih dia cukup mengenal Kompol Arjuna sehingga bisa menceritakannya. Jika toh kedepannya Kompol Arjuna akan memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan dari Safitri, itu bisa dipikir belakangan, karena jika Wijaya selamat, mungkin dia bisa meminta perlindungan kepada Wijaya, batin Safitri.

“Lalu, kamu tahu siapa Ramon itu yang sebenarnya?” tanya Kompol Arjuna.

“Terus terang saya tidak tahu ndan. Saya tidak tahu dia tinggal dimana, kerja dimana, bahkan saya tidak tahu nama lengkapnya,” jawab Safitri menggelengkan kepalanya.

“Hmm, agak susah juga kalau gitu Fit, bisa makan waktu lumayan lama ini. Dan saya takutnya itu akan terlambat nanti untuk kita bisa menyelamatkan Pak Wijaya dan keluarganya,” ujar Kompol Arjuna menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, mendapati satu lagi petunjuk yang buntu.

“Eh ndan, saya ada nomor telepon Ramon, kalau kita lacak mungkin kita bisa tahu keberadaannya pak,” ujar Safitri.

“Nah itu. Cepat kamu ke bagian cyber crime, temui Gavin, minta bantuan sama dia. Hasilnya secepat mungkin kamu lapor ke saya!” perintah Kompol Arjuna.

“Siap ndan!”

Safitri segera keluar dari ruangan Kompol Arjuna setelah sebelumnya menyeka air matanya, dan memastikan tidak ada bekas yang terlihat kalau dia baru saja menangis. Tingkahnya jelas saja membuat Kompol Arjuna tersenyum geli. ‘Hmm, Safitri, boleh juga kelihatannya,’ batin Kompol Arjuna melihat pinggul Safitri bergoyang saat berjalan meninggalkan ruangannya.

***

± 2 jam kemudian

Tok.. Tok.. Tok..

“Ya masuk.”

“Sore ndan.”

“Oh Fitri, gimana? Udah ketemu lokasinya si Ramon itu?” tanya Kompol Arjuna.

“Sudah ndan. Lokasinya menunjukkan di sekitar Kulonprogo, dari citra satelit kita simpulkan itu sebuah bangunan, semacam gudang ndan, agak jauh dari jalan raya,” jawab Safitri.

“Hmm, gudang? Bisa diketahui berapa jumlah orang disana?”

“Kalau dilacak titik-titik sinyal seluler tidak terlalu banyak, tapi kemungkinan jumlah yang sebenarnya lebih dari itu ndan.”

“Oke kalau gitu, kita kirim intel dulu kesana untuk memantau situasi. Dan disini kita siapkan pasukan, begitu dapat info dari intel kita langsung bergerak.”

“Siap ndan, saya siap-siap dulu.”

“Loh, kamu disini aja nggak usah ikut, saya nggak mau ambil resiko.”

“Tapi ndan,”

“Udah nggak ada tapi-tapian. Kamu stand by saja, nanti kan juga bisa dapat info dari anggota yang kesana, biar tim dari Densus 88 aja yang berangkat.”

“Densus 88?”

“Iya, setelah saya dengar nama Toro, saya jadi memiliki dugaan kalau kita membutuhkan tim khusus. Kalau udah urusannya sama kepala mafia, dan yang menjadi incaran itu petinggi kepolisian, pasti yang bersama mereka bukan orang-orang sembarangan.”

“Baik kalau gitu ndan. Hmm, dan untuk, hmm,” ucapan Safitri menggantung.

“Kenapa? Masalah yang kamu ceritakan tadi?” tanya Kompol Arjuna.

“Ii, iya ndan,” jawab Safitri terbata.

“Udah kamu tenang aja, nggak usah dipikirin, yang penting kita selamatkan Pak Wijaya dulu. Saya kan udah janji tadi, kamu bisa pegang kata-kata saya Fit.”

“Terima kasih ndan. Kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Safitri yang mendapat anggukan dari atasannya itu.

Safitri cukup lega sekarang. Dia yakin Ramon benar-benar terlibat kasus ini. Dan dia juga telah berhasil membantu kepolisian menemukan lokasi Ramon. Safitri berharap Ramon bisa tertangkap, atau bahkan terbunuh dalam operasi ini, sehingga dirinya akan bisa terlepas dari cengkramannya dan bisa lebih menikmati hidup. Dia juga percayakan rahasianya kepada Kompol Arjuna yang akan menjaga tak sampai ketahuan orang lain. Namun Safitri tak tahu bagaimana pandangan mata atasannya itu ketika dia meninggalkan ruangannya. Dia juga tak tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh atasannya itu sekarang.

***

Present
Di Markas Marto

Dengan penerangan seadanya karena memang untuk menghindari tempat ini diketahui oleh musuh, Marto dan ketiga rekannya sedang mempersiapkan diri mereka masing-masing. Waktu sudah menunjukkan jam 19.40, sebentar lagi kedua orang yang mereka tunggu-tunggu akan datang ke gudang yang telah mereka persiapkan.

Marto yang tidak akan kemana-mana hanya memeriksa kembali senapan SPR-3 yang sudah menemaninya selama beberapa minggu ini. Dengan senapan yang cukup ringan ini tentunya akan memudahkan dia dalam bergerak membidik targetnya. Senapan ini dilengkapi dengan night vision pada teropongnya sehingga akan memudahkannya mencari dan menembak targetnya. Tak lupa dia memasang peredam suara untuk menghindari musuh menemukan lokasinya. Marto juga mempersiapkan amunisi yang juga telah disiapkan oleh Rio. Semua sudah siap untuk Marto.

Berbeda dengan Marto, ketiga rekannya sedikit lebih repot untuk mempersiapkan diri mereka. Masing-masing dari mereka membawa sebuah senapan serbu SS2-V5 Kal 5,56 mm beserta beberapa buah magazine. Senapan ini dipilih salah satu alasannya adalah karena cukup ringan tak sampai 4 kg, sehingga akan memudahkan dalam bergerak.

Selain itu mereka juga menyiapkan masing-masing dua buah pistol G2 Combat Kal 9 mm lengkap dengan beberapa magazine. Melihat jumlah musuh mereka beranggapan bahwa senjata yang mereka bawa ini sudah cukup, karena juga akan mendapatkan bantuan dari Marto. Doni dan Karim memiliki kemampuan tempur jarak dekan yang sedikit lebih baik ketimbang Rio, namun menurut Marto, ketiganya tetap lebih baik ketimbang para anak musuh-musuh mereka.

Tak lupa pula ketiga rekan Marto ini membungkus badannya dengan rompi anti peluru untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka juga menggunakan penutup kepala, dan night vision goggle karena meskipun di dalam gudang terang benderang, namun di luar sama sekali tidak ada penerangan, hanya beberapa cahaya saja yang keluar menembus celah-celah di dinding gudang.

Tak lupa mereka memasang alat komunikasi di telinga mereka untuk saling berkomunikasi terutama dengan Marto yang bisa melihat secara lebih luas di medan pertempuran nanti. Kini mereka sudah siap bertempur, saat tak lama kemudian Marto melihat sebuah mobil sedan pabrikan Inggris masuk ke area gudang. Sang boss telah datang, itu artinya waktu mereka untuk bergerak sudah dekat.

“Yo, boss mereka udah datang tuh, kalian udah siap?” tanya Marto.

“Oke, semua sudah siap, kita tunggu dulu beberapa menit, baru bergerak,” ujar Rio.

“Oke boss,” jawab Karim.

Roger that,” jawab Doni.

Marto masih mengamati pergerakan musuhnya melalui teropong yang ada di senapan runduknya. Terlihat olehnya kini Fuadi dan Baktiawan keluar dari mobil, disambut oleh Ramon. Ingin sebenarnya Marto segera menarik pelatuknya untuk menghabisi Baktiawan dan Ramon, namun dia harus menahan diri atau rencana yang sudah mereka buat dengan matang jadi berantakan. Sekitar 15 menit kemudian Rio memberikan aba-aba kepada Doni dan Karim untuk bersiap.

“Oke, sepertinya cukup, kita bisa bergerak sekarang,” ujar Rio.

“Lha katanya nunggu setengah sampai sejam?” tanya Karim.

“Ya kan kita harus bergerak memutar ke belakang gudang mas, entar juga jadinya setengah jam akhirnya,” jawab Rio.

“Haha iya iya boss, gitu aja sewot. Yuk ah bergerak, udah gatal ini tanganku,” ujar Karim.

“Sip. Sebelum berangkat kita berdoa dulu, semoga misi kita kali ini sukses. Dan ingat, mereka aja yang mati, kita jangan ya.”

Mereka pun hening sejenak, berdoa menurut keyakinan mereka masing-masing, meminta kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan dan keselamatan, dan juga kemudahan dalam menjalankan misi ini. Setelah selesai, mereka memandang satu sama lain sambil tersenyum. Tak terasa adrenalin mereka mulai terpacu, sudah sangat lama mereka tak merasakan hal seperti ini.

“Wah, semangatku jadi berlipat-lipat ini, udah nggak sabar pengen ledakin kepala mereka,” ucap Doni.

“Iya nih, udah lama nggak numpahin darah para bandit,” sambung Karim.

“Baiklah teman-teman, let’s get the party started,” ujar Rio.

Mereka pun menyatukan tangannya di tengah. Saling melihat satu sama lain, saling tersenyum, saling meyakinkan, saling memberi dorongan dan semangat, saling menguatkan. Dan dalam hitungan ketiga, empat pria itu mengangkat tangannya dan serentak berteriak, “Vanquish!”

***

“Malam boss,” sapa Ramon.

“Malam. Wah gelap sekali Mon?” tanya Fuadi.

“Ya biar nggak terlalu mencolok dari jauh boss, kalau di dalam terang kok itu. Mari boss masuk,” ajak Ramon.

Bagi Baktiawan tempat ini memang sudah tidak asing lagi, meskipun sekarang memang sudah dirubah bagian dalamnya untuk keperluan acara mereka malam ini, namun paling tidak gudang ini pernah menjadi saksi dia memulai bisnis haramnya. Dikamuflasekan sebagai tempat penggilingan pagi, namun selain itu ada aktivitas lain, yang perputaran uangnya tentu saja jauh lebih besar, karena itulah bangunan ini bertahan cukup lama.

Begitu Ramon membukakan pintu untuk kedua bossnya itu, langsung saja terdengar desahan dan teriakan wanita, yang mau tidak mau turut mengundang perhatian para anak buah mereka yang berjaga-jaga di luar gudang. Beberapa sempat mengintip sebelum Ramon kembali menutup pintu gudang, sebagian lagi lebih beruntung karena bisa benar-benar melihat adegan yang terjadi di dalam meskipun hanya sesaat.

Namun begitu pintu ditutup, para penjaga itu mulai berusaha untuk fokus kembali kepada pekerjaannya. Memang tak bisa dipungkiri apa yang baru saja mereka dengar, dan bagi sebagian yang lain sempat melihat apa yang terjadi di dalam, tentu saja terngiang di benak mereka bagaimana jika mereka sendiri yang mengalaminya, pasti menyenangkan. Namun mereka harus bersabar, menunggu selesainya urusan kedua boss besar mereka, karena Toro dan Ramon sudah menjanjikan bonus kepada mereka semua.

Bonus itu tentu saja bukan nominal uang, tapi berupa barang haram yang sudah menjadi bagian dalam keseharian mereka, dan tentu saja, wanita. Ada beberapa wanita yang dijanjikan kepada para penjaga itu, dan yang paling mereka tunggu-tunggu tentu saja seorang polwan yang akan diberikan kepada Toro, yang nantinya akan jatuh ke mereka juga.

Sementara itu di dalam, begitu masuk ke dalam gudang Fuadi dan Baktiawan tersenyum puas dengan hasil kerja Ramon dan para anak buahnya. Tempat ini sudah dibuat persis seperti permintaan mereka. saat ini mereka disuguhi dengan pemandangan erotis dimana keempat dedengkot preman anak buah mereka sedang menggumuli empat orang wanita cantik dengan kasarnya, hingga membuat keempat wanita yang sudah tersadar dari pingsannya itu berteriak kesakitan.

Ali saat ini sedang menancapkan penis besarnya di lubang anus Lia yang sebelumnya masih perawan. Lia dalam posisi menungging, rambutnya dijambak oleh tangan kanan Ali, sedang payudaranya diremas dengan kasar oleh tangan kiri pria itu. Lia yang sebelumnya tak pernah diperlakukan sekasar ini berteriak histeris merasakan liang anusnya terasa begitu perih, juga buah dadanya terasa begitu sakit. Air matanya mengalir tak tertahankan, sakit di sekujur tubuh dan juga sakit hatinya akibat pelecehan ini.

Nasib Nadya juga tak jauh berbeda, berteriak kesakitan setiap dirasakan penis besar Toro menerobos merobek lubang anusnya. Berbeda dengan Lia yang sudah telanjang bulat, Nadya masih memakai pakaiannya, meskipun sudah terbuka disana sini. Kerudung masih membalut kepalanya karena memang Toro sangat menyukai menyetubuhi seorang wanita yang memakai kerudung. Perlakuan yang diterima Nadya dari Toro tak kalah kasarnya dengan apa yang diterima Lia, apalagi penis Toro lebih besar daripada punya Ali.

Sedangkan Filli dan Renata, yang lubang anusnya sudah beberapa kali dimasuki penis tak terlihat sesakit Nadya dan Lia. Namun tetap saja dengan perlakuan kasar dari Joni dan Markus menjadikan persetubuhan ini terasa menyakitkan bagi kedua wanita kakak beradik yang kini juga tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh indahnya.

Keempat pimpinan bandit ini sempat melihat kedatangan Baktiawan dan Fuadi, dan mereka hanya menyapa dengan senyuman saja karena memang Fuadi memberikan isyarat untuk melanjutkan permainan mereka saja. Kini Fuadi dan Baktiawan menuju ke ruangan satunya dimana keempat orang yang terikat di kursi dan seorang wanita muda cantik jelita tergolek di kasur, masih tak sadarkan diri.

Fuadi yang dari awal memang sudah mengincar Ara, langsung mendekati wanita itu. Sedangkan Baktiawan lebih memilih untuk sedikit bersantai sambil menyalakan rokoknya. Fuadi sebenarnya sudah tak tahan ingin segera menikmati tubuh Ara, namun dia tahan dulu karena ingin melakukannya di depan kedua orang tua dan suaminya dalam keadaan mereka sadar.

“Ramon, coba bangunkan mereka,” perintah Baktiawan.

“Oke boss,” jawab Ramon.

Segera Ramon menuju ke kursi mereka satu persatu. Di masing-masing kursi itu telah disiapkan sebuah ember berisi penuh air untuk membangunkan mereka. Ramon memulainya dengan membangunkan Budi, kemudian, Wijaya lalu Aini dan Sakti. Ketika disiram air, mereka masih mengerjapkan mata, mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu yang cukup terang setelah hampir seharian mata mereka tertutup.

Budi yang pertama kali mendapatkan kesadarannya, mengedarkan pandangannya ke penjuru gudang ini, lalu terhenti pada kedua orang perencana acara malam ini. Namun tak terlihat reaksi terkejut darinya, karena dia sudah tahu bahwa kejadiannya akan seperti ini. Namun pemandangan yang membuatnya emosi tentu saja saat melihat kedua kakak kandungnya disetubuhi dengan brutal oleh Joni dan Markus.

Wijaya yang kemudian tersadar, dan disusul Aini tak lama berselang, begitu terkejut dengan situasi ini. Tangan dan kaki mereka terikat erat di kursi sedangkan mulut mereka dibekap dengan lakban. Melihat adegan panas yang tersaji di ruang sebelah membuat hati mereka bergolak, terutama Wijaya, yang mengenali dua wanita diantaranya adalah kakak kandung dari menantunya. Aini pun tak kalah syok, bahkan langsung menangis tersedu menyadari apa yang sedang terjadi.

“Hallo Wijaya, gimana kabarmu sobat?” ledek Baktiawan.

“Mmmmppphhh, mmmppphhh,” hanya itu suara yang didengar Baktiawan karena mulut Wijaya yang masih tertutup.

“Mon, buka itu mulut mereka sekalian,” perintah Baktiawan kepada Ramon.

Tanpa menjawab Ramon pun membuka penutup mulut mereka, dimulai dari Wijaya dan Aini, yang langsung mendapat makian dan cacian dari mereka berdua.

“Bakti, Fuad, apa-apaan ini? Bangsat kalian! Lepaskan kami!” hardik Wijaya.

“Haha, lepaskan? Nanti Wijaya, setelah nyawa dan tubuh kalian berpisah, haha,” jawab Baktiawan.

“Huks Bakti, apa yang kamu lakukan, huks. Lepaskan kami, huks,” pinta Aini dalam tangisnya.

“Sabar dulu sayang, nanti ada pertunjukan dulu sebelum kalian kami lepaskan, haha,” ujar Baktiawan.

Saat kedua suami istri ini masih terus memaki dan menangis, Ramon melihat Budi yang mulutnya masih tertutup, tatapannya tajam sekali, namun sikapnya sangat tenang, seperti tidak sedang dalam emosi ataupun tertekan. Agak curiga sebenarnya Ramon dengan Budi, apakah selama ini kecurigaannya benar bahwa Budi selama ini yang membantu, atau setidaknya meminta bantuan seseorang untuk mengawasi dan melindungi istrinya sehingga terlampau sulit untuk ditaklukan.

Sementara itu terlihat tubuh Ara mulai menggeliat, pengaruh dari obat biusnya mulai menghilang. Melihat itu perlahan Fuadi mendekatinya, kemudian duduk di samping tubuh Ara. Tangannya mengelusi kepala Ara yang masih terbungkus kerudung dengan rapi, sambil sesekali mengusap wajah Ara dengan tangan gemuknya.

“Hei bajingan, jangan sentuh putriku!” bentak Wijaya, yang hanya ditanggapi dengan senyuman sinis oleh Fuadi.

Pada saat tubuh Ara makin menggeliat, terdengar rintihan halus dari bibir mungilnya, tangan Fuadi bahkan semakin kurang ajar. Kini tangan itu turun dan hinggap tepat di payudara Ara yang masih terbungkus bra dan pakaian kerjanya.

“Anjing, hentikan Fuad! Biadab kau!” makian Wijaya semakin keras beriring emosinya yang semakin meninggi.

Saat itu kembali Ramon memperhatikan bagaimana reaksi Budi, dan masih sama seperti tadi, seperti tidak ada pergolakan emosi disana. Atau apakah Budi memang pandai menyembunyikan rasa emosinya itu? Meskipun tatapannya masih tetap tajam, namun nafasnya terlihat masih normal, benar-benar tenang.

Bersamaan dengan itu terbangunlah Sakti dari pingsannya. Dia melenguh seperti merasakan kembali sakit akibat perkelahiannya tadi siang. Wajahnya masih penuh dengan luka lebam, sama seperti Budi. Saat kesadaran Sakti pulih, dia benar-benar terkejut melihat apa yang terjadi. Dia terikat, tangan dan kakinya, begitu juga Budi di sampingnya, juga ada Wijaya dan istrinya, kondisi mereka sama persis terikatnya.

Lalu di kasur tak jauh dari kursi mereka, terlihat Fuadi sedang mengelusi dan sesekali meremas dada Ara yang masih belum pulih benar dari pingsannya. Terlebih lagi dia mendengar teriakan wanita dari ruangan sebelah, dan matanya terbelalak melihat empat orang wanita yang pernah dikenalnya dulu saat pernikahan Budi, sedang dalam keadaan telanjang bulat kecuali Nadya. Keempat wanita itu nampak begitu menderita dan kesakitan karena hujaman penis besar di lubang anus mereka masing-masing.

Melihat papanya dan juga Fuadi justru tersenyum puas dalam situasi seperti ini membuat emosinya membuncah. Dia yang sudah mengetahui rencana papanya bersama dengan Fuadi itu memang sudah beberapa kali memperingatkan Budi melalui pesan wassap yang dia kirimkan dengan berbagai nomor seluler yang selalu berganti, namun tak pernah terpikir akan seperti ini, separah ini kejadiannya. Dia pun mencoba untuk meronta namun ikatan di kedua kaki dan tangannya begitu erat, hingga hanya biasa mengeluarkan suara tertahan saja.

“Mmmpppphhh, mmmppphhh,” suara teriakan tertahan Sakti terdengar sambil dirinya mencoba untuk meronta.

“Haha, sudah bangun kau nak? Mon, buka sekalian mulut anak itu,” ujar Baktiawan melihat Sakti.

Saat itu lah Ara pun terbangun dari pingsannya, merasakan payudaranya diremas lembut oleh seseorang. Matanya terbelalak saat melihat wajah yang pernah dilihatnya saat pernikahannya dulu, kini berada tak jauh dari dirinya, dengan senyum yang terasa begitu menjijikan bagi Ara, dan tangan pria itu sedang meremasi payudaranya. Ara mencoba meronta namun tangan dan kakinya terikat, tak bisa digerakan.

“Oom, apa-apaan ini, lepasin Ara! Ara nggak mauuu!” teriak Ara.

“Hehe, nikmati aja sayang, jangan berontak gitu ah, nggak enak dilihat sama ayah ibu dan suamimu,” ucap Fuadi yang membuat Ara tersentak, lalu melihat ke sekitar.

“Bajingan kau Fuad, jauhkan tanganmu dari putriku cepat! Kubunuh kau Fuad!” ancam Wijaya yang belum sempat dijawab oleh Fuadi saat terdengar Sakti berteriak.

“Papa, apa yang papa lakukan?! Hentikan semua ini!” bentak Sakti dengan emosi.

“Diam saja kamu Sak, dan nikmatilah bagaimana adikmu itu akan diajari oleh Om Fuadi menjadi wanita dewasa, haha,” ujar Baktiawan.

“Aa, apa? Adik?” tanya Sakti tak mengerti.

“Ya, kamu harus melihat apa yang akan kami lakukan terhadap adikmu Ara, Saktiawan Wijaya.”

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler