. Mengalahkan Gadis Part 21 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 21

0
276

Mengalahkan Gadis Part 21

Night Minus 1

Hari sudah gelap, tetesan gerimis sejak beberapa menit lalu sudah turun membasahi tanah. Tidak deras, hanya gerimis saja, yang membawa kesejukan. Suasana yang syahdu seperti inilah yang disukai oleh Safitri. Kalau sudah begini, biasanya dia akan membuka sedikit jendela kamarnya, mencium aroma yang sejak kecil begitu disukainya, aroma tanah yang tersiram air.

Anaknya sudah tidur dari tadi, setelah seharian ini cukup lelah beraktivitas, begitu juga ibu mertuanya yang seharian menemani anaknya. Safitri kasihan sebenarnya dengan ibu mertuanya ini. Semenjak suami Safitri meninggal, lalu ayah mertuanya meninggal tak lama setelah itu, membuat sang ibu mertua harus tinggal bersama dengan Safitri dan sehari-harinya mengurusi Andin.

Mendiang suami Safitri sebenarnya masih punya adik laki-laki, namun karena pengaruh buruk dari perempuan yang kini menjadi istrinya, adik iparnya itu kini sudah pergi entah kemana dengan membawa hampir semua harta peninggalan ayah mertua Safitri. Termasuk rumah dan tanah-tanah milik mereka pun semua dijual. Bahkan adik iparnya tak lagi mengakui ibunya.

Safitri kadang terpikir dalam hatinya, seperti apa sebenarnya pengaruh yang diberikan oleh wanita itu sehingga membuat adik iparnya menjadi seperti sekarang ini, padahal menurut cerita dari ibu mertuanya, adik iparnya ini dulu adalah seorang anak yang sangat baik, penurut dan begitu menghormati orang tua. Namun semua itu kini telah berubah. Meski begitu, ibu mertuanya masih selalu mendoakan adik iparnya, dan berharap suatu saat nanti adik iparnya berubah, dan mau untuk menemuinya kembali.

Kehilangan suami dan anaknya Guntur dalam waktu yang tidak berselisih jauh, membuat ibu mertua Safitri sedikit terguncang. Dan kini hanya Safitri saja keluarga yang dia miliki. Dia sudah menganggap Safitri itu anak kandung, bukan sebatas menantu saja. Dia juga kadang merasa sedih dengan kesendirian yang dilalui Safitri setiap hari, karena itulah beberapa kali dia meminta Safitri untuk mencari suami lagi, terlebih dengan kondisi perkembangan Andin, mungkin dia juga sekarang ini sangat memutuhkan sosok seorang ayah.

Safitri menghela nafasnya, bukannya dia tidak mau. Sebenarnya dia sudah merasa menemukan orang yang cocok menurutnya, tapi dia masih sulit untuk menjelaskan kepada ibu mertuanya. Terlebih orang itu sekarang hilang entah kemana selama hampir sebulan ini. Dia sangat merindukan pria itu, bukan hanya kehadiran dan sentuhan-sentuhannya, namun juga perlindungan kepada dirinya dan keluarganya, terutama sejak dia berada dalam cengkraman Ramon seperti saat ini.

Dia kembali teringat kata-kata Ramon tadi sore setelah menyetubuhinya di mobil. Beberapa hari lagi dia harus kembali melayani pria asing, yang tak dia kenal sama sekali. Bukan tidak kenal sebenarnya, Safitri memang sudah sering mendengar nama Toro, namun dia belum pernah tahu seperti apa pria yang bernama Toro itu. Dia hanya tahu reputasinya begitu buruk di mata kepolisian.

Tapi beberapa hari dari sekarang akan menjadi saat dimana dia harus menyerahkan tubuh dan kehormatannya untuk dinikmati dan diinjak-injak oleh pimpinan preman itu. Dan dari yang pernah dia dengar juga, Toro ini orangnya sangat royal kepada anak buahnya, apapun yang dia miliki jika dia berkehendak dan sedang berbaik hati, akan diberikan begitu saja kepada para anak buahnya.

Itu pula yang dulu pernah dialami beberapa rekannya sesama polwan yang pernah diserahkan oleh Marto kepada Toro. Setelah dinikmati habis-habisan oleh Toro, kedua rekannya itu diberikan kepada para anak buahnya, yang akhirnya digilir semalam suntuk hingga tak sadarkan diri. Entah berapa orang yang menikmati tubuh mereka berdua dalam semalam itu.

Tapi tak berhenti disitu saja, karena pada akhirnya anak buah Toro berbuat semena-mena pada rekannya itu, dengan mendatangi dan meminta dilayani kapan saja mereka mau dengan membawa berbagai ancaman jika kedua rekannya itu menolak. Kini keduanya sudah pindah tugas sehingga tak perlu lagi berurusan dengan preman-preman itu. Tapi itu artinya, jika sampai dia benar-benar diberikan kepada Toro dan anak buahnya, mereka pasti akan dengan senang hati menjadikannya mainan mereka, karena pasti sudah lama mereka tak merasakan bagaimana menyetubuhi seorang polwan seperti dirinya.

Memikirkan dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan itu membuat perasaan Safitri campur aduk. Takut, cemas, jijik, gelisah, ingin menolak dan lari, tapi lagi-lagi takut jika terjadi sesuatu pada anak dan ibu mertuanya. Kalaupun dia tak lari, bagaimana pula nasibnya kedepan, jika harus menjadi budak bagi Toro dan kelompoknya. Benar-benar tak bisa dia bayangkan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya nanti.

Tetesan gerimis dan aroma tanah tersiram air yang biasanya bisa menenangkan Safitri kini gagal menjalankan tugasnya. Beban yang dipikul wanita itu terlalu berat. Dia butuh untuk membaginya dengan seseorang. Sayangnya, satu-satunya orang yang bisa dia percaya untuk berbagi beban ini sedang tidak ada. Entah dimana, tapi Safitri berharap pria itu akan segera datang.

***

“Aaahhh aaahhhh pelaaannn maasshh.”

Suara desahan yang terdengar ketika Risman yang menggandeng Filli memasuki kamar yang telah dipersiapkan oleh Risman. Nampak Renata sedang menungging dan Tito sedang memasuki lubang analnya. Gerakan Tito terlihat cukup kasar hingga membuat tubuh Renata terlonjak-lonjak. Kedua payudara Renata nampak diremasi Tito dari belakang.

“Hadeeeh kasar banget mainmu To, santai aja lah, waktu kita masih panjang, iya kan Mbak Filli,” ujar Risman sambil mengerling ke Filli.

Namun Tito tak mendengarkan perkataan Risman, dia lebih berkonsentrasi untuk merasakan kenikmatan jepitan lubang anus Renata. Lubang ini memang sudah beberapa kali dimasuki oleh penis, bahkan penis besar kedua bossnya pun sudah pernah memasukinya, namun karena sudah cukup lama tak terpakai, sehingga membuatnya sedikit menyempit, dan ini sangat nikmat untuk Tito.

Melihat kedua orang itu bersetubuh tak lantas membuat Risman terburu-buru untuk segera menikmati tubuh Filli. Dia kemudian duduk di kursi yang terletak di samping ranjang besar itu, kemudian meminta Filli untuk duduk bersimpuh di hadapannya. Filli mengerti apa yang dimaui oleh pria itu, sehingga dia pun segera duduk dan meraih penis Risman yang belum tegang sempurna.

Penis Risman tak terlalu besar sebenarnya. Tidak lebih panjang dari penis Tito, namun sedikit lebih gemuk. Filli menggerakkan tangannya naik turun di penis Risman, membuat pria itu tersenyum puas. Lama kelamaan penis itu mulai menegang. Lalu Risman memberikan kode kepada Filli untuk menggunakan mulutnya.

Filli tak menjawab, namun kepalanya bergerak mendekati penis itu. Diciumnya kepala penis Risman, lalu dengan ujung lidahnya dia sapukan ke lubang kencing di ujung Risman. Sebentar saja, lalu lidahnya menyapu permukaan kepala penis Risman, kemudian kembali ke lubang kencingnya, lalu kembali menyapu kepala penisnya. Semua itu dia lakukan dengan cukup lembut, membuat penis Risman semakin menegang.

Tak cukup kepala penisnya, kini lidah Filli turun hingga mencapai pangkal penisnya, lalu menyapukan kembali ke atas. Begitu terus hingga seluruh bagian permukaan penis Risman merasakan sapuan lidahnya. Setelah itu Filli mulai memasukan penis itu ke dalam mulutnya.

Masih tersisa rasa jijik dan tak rela sebenarnya di hati Filli, namun mengingat besok malam dia akan diperlakukan dengan sangat buruk, membuatnya memilih untuk menikmati momen persetubuhannya malam ini, karena dia merasa Risman akan memperlakukannya dengan lembut, entah dengan Tito nantinya. Tapi sekasar-kasarnya mereka malam ini, dia meyakini apa yang akan dia terima besok bersama adiknya, dan mungkin ada juga wanita lainnya akan jauh lebih buruk lagi.

Filli memasukan dalam-dalam penis Risman dengan perlahan, lalu menarik lagi kepalanya hingga tersisa kepala penis saja yang masih berada di dalam mulutnya. Dia memainkan lidahya sebentar, lalu memasukan kembali penis itu ke dalam mulutnya. Kali ini ditahan sebentar sambil lidahnya bermain-main di permukaan penis Risman.

Mendapat perlakuan sedemikian lembut dari Filli membuat penis Risman semakin keras. Belum pernah rasanya dia mendapatkan servis oral seenak ini setelah lama tak lagi diservis oleh Beti, istri Ramon.

Merasa dirinya tak akan mampu bertahan lebih lama lagi jika terus diperlakukan Filli seperti ini, Risman pun mengangkat kepala Filli, menuntun dan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Risman kemudian membuka lebar-lebar kedua paha Filli, dan kemudian dengan lembut mengecup area pangkal paha wanita beranak 2 ini.

Mendapat serangan yang begitu lembut di pangkal pahanya tak ayal membuat Filli mendesah lirih. Matanya terpejam saat dia rasakan sesuatu yang terasa hangat dan basah membelai bibir kemaluanya. Lidah Risman sedang menjilati bibir vagina Filli dari atas hingga ke bawah, naik lagi kemudian turun lagi, begitu seterusnya hingga lidah itu menemukan tonjolan kelentit Filli.

“Aaaaaahh paaakkkhhhh.”

Filli kembali mendesah panjang ketika lidah Risman bermain-main dengan kelentitnya. Diciuminya biji kecil itu, lalu dijilati dan kadang-kadang dihisap, membuat tubuh Filli makin menggelinjang dan vaginanya semakin basah oleh cairan pelumasnya. Jari Risman tak tinggal diam, dengan menjelajahi bibir vagina Filli, dan sesekali mencolok-colok ke dalam liang vagina itu, membuat vagina Filli semakin becek akibat rangsangan-rangsangan yang diberikan oleh Risman.

Sayangnya Filli tak dapat sepenuhnya menikmati rangsangan Risman karena ranjang ini bergoyang semakin kencang lantaran adik kandungnya yang sedang menungging di sampingnya sedang disodomi dengan ganasnya oleh Tito. Renata hanya bisa mengeluarkan desahan-desahannya sembari menahan sakit di lubang analnya, karena memang sudah cukup lama tak lagi dimasuki oleh penis, lagipula saat Tito melakukan penetrasi tadi lubang itu masih dalam keadaan kering.

Filli merasakan permainan lidah dan jari Risman di vaginanya berhenti. Dia memandang Risman ternyata sedang mengarahkan penisnya yang sudah sangat tegang ke vagina Filli yang juga sudah sangat basah. Digesek-gesekan dulu kepala penisnya itu ke bibir vagina Filli, hingga kemudian, blesss, penis itu dengan perlahan membelah kewanitaan Filli hingga tertancap seluruhnya.

Risman dan Filli terdiam sejenak, saling beradaptasi dengan kemaluan masing-masing. Setelah itu Risman langsung menggerakan pinggulnya perlahan, mencoba meresapi pijatan yang diberikan oleh dinding vagina Filli. Gerakan Risman perlahan mulai dipercepat, seiring dengan respon dari Filli yang juga menggerakan pinggulnya mengimbangi gerakan Risman.

Kedua pasang manusia itu kini sedang terlibat persetubuhan yang panas. Renata yang dikerjai bagian belakangnya dengan kasar oleh Tito, dan Filli yang disetubuhi liang senggamanya oleh Risman. Hawa dingin khas pegunungan yang tadinya begitu terasa di kulit mereka kini kalah panas dengan suasana di kamar ini. Desahan-desahan kedua wanita ini terdengar hingga keluar kamar, bahkan terdengar juga oleh pembantu Risman yang sedang membereskan sisa-sisa makan malam mereka.

Gadis muda yang belum lama bekerja sebagai pembantu di villa ini tentu cukup terkejut dengan apa yang terjadi malam ini. Dia memang sudah beberapa kali menjadi tempat bagi Risman untuk melampiaskan nafsunya, dan dia juga pernah melihat Risman beberapa waktu yang lalu mengendap-endap masuk ke dalam sebuah kamar yang digunakan oleh seorang wanita muda berkerudung yang kebetulan sedang beristirahat saat menunggu kedatangan teman-temannya yang menyewa villa ini untuk sebuah acara.

Bukan hanya mengendap-endap, namun Risman sempat dengan nakalnya menyingkap rok panjang yang dipakai oleh wanita berkerudung itu. Namun tak sampai lebih dari itu karena pada akhirnya seseorang datang dan mereka pun berbincang di ruang tamu sekaligus menunggu wanita tadi terbangun dan bergabung dengan mereka.

Hanya sebatas itu saja yang diketahui oleh si pembantu itu. Makanya dia sangat terkejut ketika mengetahui majikannya ini sedang berpesta birahi dengan panasnya bersama ketiga orang lainnya. Dia sempat mengintip sejenak saat dilihatnya sang majikan sedang menyetubuhi seorang wanita, dan seorang wanita lagi sedang menungging disetubuhi oleh teman majikannya itu. Tak tahan melihatnya si pembantu ini pun segera pergi ke belakang untuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya.

Di kamar yang kini semakin panas ini, nampak Renata sudah cukup kepayahan meladeni permainan kasar dari Tito, hingga tubuhnya tertelungkup lemas sedangkan Tito masih dengan kasar menyodominya. Di saat yang sama posisi Risman dan Filli kini sudah berbalik. Risman berbaring di ranjang sedangkan Filli menungganginya.

Filli kembali menggerakkan pinggulnya ingin menuntaskan birahi yang kini sudah menguasai tubuhnya. Gerakannya yang cepat namun masih teratur, tidak menampakan kesan liar sama sekali. Dia bergerak maju mundur, naik turun dan bergerak memutar, membuat Risman semakin blingsatan, dan setengah mati menahan diri agar tidak segera orgasme.

Filli yang sedang asyik bergoyang di atas tubuh Risman tiba-tiba dikejutkan dengan dorongan pada tubuhnya sehingga kini kedua buah dadanya menempel di dada Risman, sedangkan tangan orang yang mendorongnya tadi masih menahan tubuhnya agar tak bergerak. Filli menoleh, ternyata Renata sudah tertelungkup terlihat begitu lemas. Itu artinya yang saat ini berada di belakang tubuhnya adalah Tito, jangan-jangan dia mau,,

“Aaaaah pelaaaaaan maaashh, saakiiiiiitttt.”

Pekik Filli saat merasa lubang analnya dimasuki oleh penis Tito. Merasakan kedua lubang di pangkal pahanya dimasuki secara bersamaan terasa menyakitkan bagi Filli. Dia memang sudah pernah mengalami ini sebelumnya, namun itu sudah cukup lama. Terlebih lagi tanpa memberinya waktu untuk beradaptasi, Tito langsung menggenjot dengan kasar lubang anusnya.

Sementara itu di bagian bawah, rupanya Risman terpengaruh dengan permainan Tito dan mulai menggerakan penisnya keluar masuk di vagina Filli. Kedua pria itu bergerak begitu cepat pada tubuh Filli, menyebabkan wanita itu sangat kewalahan.

Sekitar 5 menit dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba dia rasakan gerakan kedua lelaki yang sedang menyetubuhi dan menyodominya ini semakin cepat. Sepertinya kedua pria itu akan segera mencapai orgasmenya. Dan itu artinya dia dan adiknya bisa mendapatkan istirahat yang cukup jika kedua pria ini keluar bersamaan.

“Aaaaahh Mbak Filliiii, memek kamu super sekali, aku nggak kuat lama-lama.”

“Boolnya juga mantep Pak Risman, habis ini deh sampeyan rasain pak.”

“Aaahh oke To, nanti bakal tak coba liang anus wanita ini, hahaaaahhhh.”

“Aaahhh aaahhh, Mbak Filli, aku kangen banget sama boolmu ini mbak, aku nggak tahan, aku keluaaaaarrr.”

“Aku juga To, memek wanita ini enak banget, nggak tahan, aaaku keluaaaaaarrr.”

Kedua lelaki itu akhirnya berejakulasi bersamaan pada tubuh Filli. Tito menyemprotkan seluruh spermanya di lubang anus Filli, sedangkan Risman mengeluarkan semua spermanya di dalam vagina Filli.

Mereka bertiga ambruk tak lama setelah mereka mencapai klimaks yang hampir bersamaan. Begitupun Renata yang terpaksa menyudahi pertempurannya lebih awal karena meladeni Tito yang kasar dan membuatnya merasakan perih di lubang analnya.

Keempat orang ini tergeletak mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Filli dan Renata terpejam merasakan hal yang sedikit berbeda. Renata belum mendapatkan klimaks tetapi badannya sudah sangat lemas dan kesakitan, sedangkan Filli sudah cukup puas meskipun di akhir pertempurannya tadi diganggu oleh permainan kasar Tito.

Kini mereka beristirahat sejenak. Filli dan Renata untuk saat ini sama sekali tak terpikirkan suami dan anak mereka di rumah. Ada hal lain yang lebih mengganggu pikiran mereka saat ini, yaitu hal yang akan mereka hadapi besok malam. Karena itulah, untuk saat ini mereka lebih memilih untuk menikmati momen dan melayani kedua pria ini sepuas mereka.

Kedua wanita ini tahu kalau permainan belum berakhir, bahkan ini baru awal untuk malam ini. Malam yang sangat panjang bagi mereka, sebelum besok istirahat seharian penuh, dan malamnya mungkin akan menjadi malam terburuk bagi mereka.

***

“Tampaknya boss Fuad sama boss Bakti bakal seneng banget malem ini Ta,” ujar Ramon.

“Iya dong, barang baru itu, masih fresh, kinyis-kinyis, hehe,” jawab Tata.

“Emang kamu dapet darimana mereka berdua?” tanya Ramon.

“Mereka itu klienku mas. Yang pakai kerudung itu namanya Asti, yang satunya Eva. Mereka baru dua bulan ini nikahnya,” jawab Tata.

“Terus, kok bisa jadi anak buahmu gitu? Dari tampang kayaknya cewek baik-baik deh, tadi aja masih kayak grogi banget gitu kan?”

“Haha, mas Ramon ini kayak nggak tahu aja, ya dijebak dong mas. Mereka itu emang cewek baik-baik kok, jadi ya mana mungkin mereka nurut gitu aja sama aku, kalau nggak ada apa-apanya, haha.”

“Dijebak gimana?”

“Beberapa waktu lalu, satu persatu mereka aku jebak. Awalnya si Eva, dia aku suruh datang ke rumah buat ngeberesin sisa-sisa urusan sama Wedding Organizer, tapi begitu sampai di rumahku, nggak lama dia diperkosa sama si Tito, dan itu semua aku rekam. Terus dua minggu kemudian gantian si Asti, kayak gitu juga.”

“Wah enak betul si Tito. Jadi kamu pakai rekaman itu buat ngancem mereka?”

“Sebenarnya waktu itu aku mau ngajakin Mas Ramon, tapi kan kalau nggak salah Mas Ramon lagi sibuk sama Nadya kan. Yaa begitulah. Tapi sebelumnya pernah dites lagi lho sama si Tito. Dia datangi ke rumah mereka masing-masing dan diminta buat ngelayani, mereka udah mulai nurut, gara-gara video itu, malah akhirnya dapat video lagi, hehe.”

“Wah, kalau gitu kapan-kapan aku mau cobain deh, haha.”

“Diih, masih kurang apa mas? Koleksimu kan udah banyak banget itu.”

“Ya jelas lah kurang lah Ta, apalagi mereka udah kena sama Tito, masak dia dapat tapi bossnya malah nggak dapat. Lagian barang bagus gitu sayang banget kalau nggak dirasain, haha,” ujar Ramon.

“Yah suka-suka mas aja deh kalau yang itu. Terus, rencana buat besok gimana mas?” tanya Tata.

Ramon pun menjelaskan secara singkat bagaimana pelaksanaan rencana mereka besok. Setelah tempat untuk acara sudah dipastikan siap, tinggal bagaimana membawa korban-korban mereka kesana, baik itu Wijaya dan istrinya, Ara dan suaminya, kedua kakak ipar Ara maupun teman kerja Ara, Lia dan Nadya. Termasuk juga Sakti, anak dari sang boss yang Ramon sendiri juga bingung, dia belum tahu apa tujuannya bossnya menyuruh menculik Sakti dan membawanya ke lokasi pesta.

Ramon memang telah mengatur semuanya. Sedangkan untuk pengamanan acara besok malam, dia juga mendapat bantuan dari Fuadi. Ramon sendiri belum mendapatkan penjelasan dari Fuadi bantuan apa yang akan dia terima, tapi Fuadi sudah mengatakan bahwa itu urusannya dan tidak akan memusingkan Ramon, termasuk pemberian imbalannya sudah diurus oleh Fuadi.

Dalam benak Ramon sebenarnya dia masih bertanya-tanya tentang semua ini. Dia masih belum mengetahui benar alasan kedua bossnya membuat rencana seperti ini. Mereka hanya bilang kalau mereka punya dendam kepada Wijaya, tapi dendam yang seperti apa sehingga harus membuatnya jadi kerepotan seperti ini, dia belum mendapatkan penjelasan baik dari Fuadi maupun Baktiawan.

Kalau memang ada dendam kenapa tidak langsung menghabisi Wijaya saja? Ini malah membuat rencana yang ruwet sekali bagi Ramon. Apalagi harus berurusan dengan orang-orang dari dunia hitam. Mereka memang bukan orang yang asing bagi Ramon, namun selama ini Marto lah yang lebih sering berurusan dengan orang-orang itu, dia hanya bermain di permukaan saja agar tak terlihat terlalu mencolok.

Sekarang Marto sudah disingkirkan, dan dia sendirilah yang menyingkirkannya atas perintah dari Baktiawan, sehingga kini dia yang memegang kendali pelaksanaan rencana kedua bossnya itu. Rencana yang semula lancar namun menjadi berantakan, bahkan dia harus kehilangan pamannya akibat dibunuh oleh seseorang. Tapi mau bagaimana lagi, Ramon juga sudah hafal tabiat sang boss, kalau sudah ada maunya, entah bagaimanapun caranya harus terwujud.

Tak lama kemudian Tata berpamitan untuk pulang, masih ada hal yang harus dia urus. Sedangkan Ramon kembali masuk ke ruangan dimana tadi kedua bossnya dia tinggal bersama dengan dua wanita mangsa baru mereka. Tujuan Ramon sebenarnya untuk mengambil kunci mobilnya, namun dia melihat ruangan itu sudah kosong.

Dilihatnya kamar sang boss yang tak jauh dari ruangan itu belum tertutup sempurna pintunya, terdengar suara-suara desahan dan pekikan wanita dari sana. Ramon pun melangkah perlahan untuk mengintip apa yang terjadi. Dan begitu melihat ke dalam kamar matanya langsung membelalak karena ada pemandangan yang begitu erotis di kamar itu.

Bukan pemandangan yang aneh dan asing bagi Ramon, karena dia sudah beberapa kali melihat kedua bossnya menyetubuhi wanita seperti ini. Tapi karena korbannya malam ini masih terhitung baru sehingga Ramon sendiri pun tertarik untuk melihat pemandangan ini sedikit lebih lama.

Wanita yang dia tahu bernama Eva sedang mengernyit menahan sakit. Dia bahkan sampai menggigit bantal untuk menahan suaranya agar tak sampai terdengar keluar. Karena saat ini dia sedang telanjang bulat dalam posisi menungging, dan dari pengelihatan Ramon nampaknya dia sedang dimasuki lubang anusnya oleh Fuadi.

Sedangkan wanita berkerudung yang bernama Asti itu, kini juga hanya tinggal memakai kerudungnya saja, semua pakaiannya telah tanggal. Dia sedang bersimpuh di hadapan Baktiawan yang terduduk di sofa. Kepalanya naik turun dipegang erat oleh Baktiawan, sedang susah payah mengulum penis besar itu. Nampak air matanya mengalir deras dari matanya yang tertutup, sepertinya halnya dengan Eva.

Ramon mengamati tubuh kedua wanita ini. Asti lebih tinggi daripada Eva. Berparas cantik dengan hidung mancung menghiasi wajahnya. Rambutnya seperti apa Ramon belum tahu karena meskipun sudah telanjang namun kerudungnya masih terpakai. Dari wajahnya Ramon tadi memperkirakan bahwa kulit tubuh wanita ini sangat putih, dan ternyata benar, putih bak pualam. Buah dadanya terlihat sedikit lebih kecil dari Eva, tetapi masih terlihat kencang. Pantatnya bulat dan kencang, sepertinya terlihat lebih menggoda dibanding Eva.

Sedangkan Eva sendiri tingginya hanya sebatas pundak Ramon. Badannya cukup berisi, bisa dibilang montok. Buah dadanya lebih besar daripada milik Asti, dan kelihatan begitu sekal. Kedua payudaranya terlihat bergoyang indah saat tubuhnya menungging dihajar Fuadi dari belakang. Kulit Eva juga putih meski tak seputih Asti. Rambutnya sedikit di bawah bahu, hitam dan lebat bergelombang. Wajahnya juga cantik meskipun hidungnya tak semancung Asti, namun memiliki lesung pipi yang menambah kesan manis pada wajahnya.

Tak lama kemudian Ramon melihat Baktiawan mengangkat kepala Asti menyudahi kuluman pada penisnya, lalu menggiring Asti ke ranjang dan memposisikannya menungging sama seperti temannya Eva. Dari tempat Ramon mengintip nampak sekali pantat Asti begitu menggodanya, dan terlihat sepertinya lubang anusnya masih begitu sempit. ‘Hmm, satu lagi lubang anus bakal diperawani si boss nih,’ batin Ramon.

Seketika pengelihatan Ramon pada Asti tertutup oleh Baktiawan, namun tak lama kemudian terdengar pekikan memilukan dari Asti. Tubuhnya terlihat mengejang, dan dari sudut pandang Ramon wanita muda itu terlihat begitu kesakitan, bertolak belakang dengan Baktiawan yang mendesah keenakan.

Beberapa saat Ramon menikmati pemandangan bagaimana kedua bossnya itu begitu menikmati keperawanan anus kedua korban barunya itu. Berbanding terbalik dengan Asti dan Eva yang begitu menderita dengan air mata yang belum berhenti mengalir dari mata mereka.

Kedua wanita ini memang sama-sama cantik dan menggoda bagi Ramon, pantas saja tadi Tata mengatakan bahwa barang yang dibawanya malam ini spesial, rupanya benar. Namun jika dilihat lagi memang keduanya masih kalah jika dibandingkan dengan wanita yang sudah sempat dia telanjangi namun gagal disetubuhinya. Ya, Ara. Meskipun semua foto telanjang Ara di ponselnya telah hilang, namun dia masih ingat betul bagaimana indahnya tubuh wanita muda itu.

Saat teringat Ara kembali dia teringat peristiwa yang merenggut nyawa pamannya, dan kembali rasa dendam pekat menyelimuti dadanya. Besok dia harus bisa membalaskan dendamnya ini. Dan besok dia akan meminta waktu untuk bisa menikmati tubuh Ara sebelum sang boss memutuskan apakah akan menghabisinya atau tidak.

Gara-gara teringat akan hal itu membuat Ramon tak lagi berselera untuk menonton persetubuhan bossnya, toh suatu saat nanti dia juga bisa ikut menikmati kedua wanita itu. Dia pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.

***

“Uuuuuhhhh,, Aaaaahhhhhh maaaassshhhh.”

Penis itu nampak pelan sekali memasuki vagina yang masih sempit, namun sudah sangat becek. Tempo yang dimainkan memang sangat pelan, namun itu sudah berhasil membuat sang wanita merem melek menikmati setiap gesekan antar kulit kelamin mereka.

“Terruuusss maasshhh, adeeekkk mau keluaaarrrr.”

“Keluarin deekh, semuanyaaahh.”

“Aaaahhh maaassshhh, Ara keluaaaaarrrrhhhh.”

Tubuh Ara mengejang, matanya tertutup rapat dan mulutnya terbuka lebar. Untuk sesaat, Budi mengagumi keindahan dan kecantikan istrinya yang sedang orgasme ini. Dia memang suka sekali ketika melihat Ara orgasme, bukan karena berhasil menaklukannya, tapi melihat reaksi orgasme sang istri membuatnya kian bernafsu untuk menyetubuhinya.

Ini sudah kali ketiga Ara orgasme dengan posisi misionaris seperti ini. Padahal Budi sama sekali tak mempercepat tempo genjotannya, karena dia masih sedikit takut akan mengganggu kehamilan istrinya yang belum genap satu bulan itu. Akhirnya dia pun mencabut penisnya, ketika dilihatnya Ara sudah kembali rileks badannya.

“Loh kok dicabut mas? Mas kan belum keluar?”

“Iya nggak papa sayang. Bantuin mas ya?”

“Bantuin apa mas?”

“Bantuin biar keluar, hehe.”

“Ooh, hehe. Mau pakai ini?” tanya Ara sambil menunjuk bibirnya.

“Hu’um sayang,” jawab Budi menganggukan kepala.

“Sini.”

Ara pun segera meraih penis suaminya yang masih sangat keras. Satu-satunya penis yang pernah dia pegang dalam keadaan sadar, yang telah merobek selaput daranya ketika malam pertama. Meskipun pernah melihat penis lain ketika dia mengintip bagaimana mendiang Pak Dede menyetubuhi Nadya saat di villa waktu itu, namun sepertinya penis itu tak lebih besar jika dibanding milik suaminya ini. Tapi entah dengan penis yang tempo hari menumpahkan cairan sperma ke wajahnya saat dia tak sadarkan diri di rumahnya sendiri. Jangankan sebesar apa penis itu, pemilik penis itupun Ara tak tahu siapa.

Mengusir pikirannya tentang kejadian misterius yang menimpanya tempo hari, Ara segera saja memanjakan batang kebanggaan suaminya ini. Dikocoknya perlahan penis yang telah basah oleh cairan orgasmenya yang sudah tiga kali melandanya itu, hingga kini tampak mengkilap.

Dengan telaten Ara mengocok penis suaminya meskipun dirinya sudah cukup letih, namun dia tahu harus tetap melayani suaminya hingga terpuaskan. Kocokan Ara yang lembut mampu membuat Budi mendesah tak karuan, tapi dia menginginkan lebih, sehingga saat sedang dikocok dia memaju-majukan penisnya.

Ara yang mengetahui maksud suaminya itu tersenyum kegelian. Tak ingin membuat suaminya menunggu lebih lama, dia pun mengangkat badannya sehingga kini penis itu berada tepat di depan wajah ayunya. Masih dalam kocokan tangannya, Ara mendekatkan wajahnya, lalu mengecup ringan kepala penis Budi. Ditarik lagi kepalanya, lalu didekatkan lagi untuk mengecup ujung kepala penis Budi. Beberapa kali seperti itu membuat badan Budi gemetaran seperti tersengat listrik.

Lalu tiba-tiba saja Ara memasukkan penis besar suaminya ke dalam mulutnya. Hanya kepala penisnya saja, mengulumnya, lalu memainkan lidah di dalam kulumannya. Seluruh permukaan kepala penis yang menjadi titik kelemahan Budi tak lewat dari jilatan lidah Ara. Saat lidah nakal Ara sampai di lubang kencing suaminya, dia pun memainkan lidahnya disana, membuat Budi benar-benar menggelinjang tak tahan dengan tingkah lidah istrinya.

“Aaahhh adeeekk, lidah kamu nakal banget sayaangg, aahhhh.”

Ara menatap wajah Budi yang matanya terpejam. Senang sekali rasanya melihat sang suami bisa terpuaskan dengan permainan lidahnya. Ara tahu suaminya tak akan bertahan lama jika seperti ini, namun dia juga masih belum ingin berakhir. Dia menghentikan lidahnya, lalu memasukkan penis suaminya lebih dalam lagi di mulutnya.

Sudah lebih dari separuh penis suaminya masuk, namun Ara masih mencoba untuk memasukkan lebih dalam lagi. Setelah dirasa tak muat, dia menarik lagi kepalanya hingga sebatas kepala penis Budi yang masih berada di dalam mulutnya. Kemudian Ara kembali memasukkan penis suaminya lagi. Sambil bergerak seperti itu lidah Ara ikut bermain-main juga menjilati permukaan penis suaminya.

Tangannya pun tak ketinggalan. Bagian penis yang tak sampai masuk ke mulutnya dia kocok pelan. Tangan satunya memainkan kedua bola zakar Budi. Mendapat servis sedemikian nikmat dari sang istri membuat Budi terus mendengus keenakan. Sepertinya sang isrti sudah semakin jago dalam memuaskannya menggunakan mulut.

Tak lama kemudian Ara melepaskan penis suaminya dari mulutnya untuk mengambil nafas. Tangannya masih mengocok penis suaminya. Nafasnya terlihat terengah-engah, namun matanya tetap melirik nakal sang suami.

“Enak nggak mas pakai mulut adek?”

“Uuh nikmat banget dek, kamu makin jago aja ngisepnya, belajar dimana? Hehe.”

“Belajar disini dong, hehe.”

“Aaaaaahh teruss sayang, bikin mas ngecrot di mulut adeekh.”

Kembali Ara mengulum penis suaminya. Kali ini dia mempercepat tempo kulumannya. Budi mulai memegang dan meremasi rambut Ara yang tergerai tak karuan. Dia merasa sepertinya sang suami akan segera mencapai klimaksnya. Penis itu terasa berkedut-kedut di dalam mulutnya.

Bagian yang tidak sampai masuk ke mulutnya pun dia kocok semakin cepat. Bola-bola zakar Budi pun dia mainkan semakin cepat. Sesaat sebelum suaminya orgasme, Ara menarik keluar penis suaminya itu, dia ingin merasakan penis sang suami berejakulasi di wajahnya. Budi tak terlalu mempermasalahkan itu, dia masih fokus dengan puncaknya sendiri, hingga akhirnya,

“Aaaaahh sayaaang mas keluaaaarrrhhhh.”

Croot,, Croot,, Croot,, Croot,, Croot,,

Ada sekitar delapan atau sembilan kali penis Budi menembakkan cairan spermanya ke wajah Ara, membuat wajah ayu sang istri dipenuhi oleh cairan kental berwarna putih itu, yang langsung diratakan oleh Ara menggunakan penis suaminya yang masih dia pegang.

Setelah tubuh suaminya mulai mengendur dan dirasa cairan sperma sudah merata di wajahnya Ara kembali memasukkan penis itu ke mulutnya untuk dibersihkan, dan dia telan sisa sperma yang masih menempel di penis Budi, hingga dirasa penis itu mulai mengendur dan mengecil baru dia lepaskan.

“Kok dikeluarin dek? Nggak boleh nembak di dalem ya?”

“Bukan nggak boleh mas, adek lagi pengen facial aja, hehe.”

“Hah, facial? Haha, dasar kamu dek masak facial pakai pejuhnya mas?”

“Nggak papa mas, biar kinclong, hehe.”

Budi menggelengkan kepalanya tersenyum geli mendengar celetukan istrinya barusan. Mereka pun beristirahat sejenak. Ara berbaring telanjang di samping suaminya. Mereka berdua masih mengatur nafas masing-masing. Tak ada kata yang terucap dari keduanya, hanya tangan Budi yang masih mengelusi kepala Ara, membuat mata sang istri perlahan meredup.

Tiba-tiba Budi bangkit dari ranjangnya dan mencari celananya. Dia memakai celana itu tanpa celana dalam dan bergegas ke kamar mandi. Sekembalinya Budi dari kamar mandi, dia melihat istrinya masih terjaga, lalu mendekatinya dan berbisik.

“Dek, mas keluar dulu ya, mau ngerokok, boleh ya? hehe.”

“Hadeeh mas mas, habis enak-enakan masih aja ngerokok ya, ya udah sana, tapi entar habis itu gosok gigi lagi ya.”

“Iya sayang.”

Sebelum beranjak Budi pun mengambil ponselnya, mematikannya dan memasukkan kabel charger lalu menaruhnya kembali di meja sebelah tempat tidurnya. Setelah itu Budi kemudian keluar dari kamar menuju meja kerjanya untuk mengambil rokok dan korek apinya dari dalam tas kerjanya, beserta sebuah ponsel.

***

Sudah lewat jam satu dini hari, hawa di daerah ini serasa dingin menusuk tulang. Marto yang sedang tertidur lelap pun tak ketinggalan menutupi dirinya dengan selimut yang cukup tebal. Dia masih asyik dengan mimpinya, saat dia merasakan tubuhnya digoyang-goyang oleh seseorang. Menyadari hal itu Marto langsung sigap dan terbangun dari tidurnya.

“Rio?”

“Malem bang, sorry ya lama, hehe.”

“Kamu baru datang? Kok dari kemarin nggak ngabarin?”

“Iya bang, baru banget ini datangnya. Kemarin ternyata aku juga lupa nyimpan nomor abang, makanya nggak bisa ngabarin.”

“Terus, gimana urusan di Jakarta sama Komjen Baskoro?”

“Udah beres bang, kita bisa langsung ke TKP sekarang.”

“Hah, sekarang?” tanya Marto melirik jam dinding, jam 02.15.

“Iya bang, mumpung para penjaga yang disana juga lagi tidur, abang bisa aku bawa dulu ke pos abang. Tenang aja, semua disana udah aku siapin, termasuk makanan juga.”

“Anggota yang lain gimana?”

“Doni sama Karim sekarang lagi istirahat di dekat TKP sana. Kalau kami kan bisa bergerak bebas, kalau abang kan nggak bisa, makanya aku antar abang duluan, sekalian ngenalin medan dan membiasakan diri dengan gelap.”

“Ya udah, tapi pamit Yani sama Zainal dulu.”

“Nggak usah bang, aku udah ninggalin pesan kok. Semuanya udah aku packing, tinggal berangkat aja bang. Oh iya, abang pakai ini dulu, aku tunggu di ruang tamu.”

Rio menyerahkan sebuah bungkusan plastik kepada Marto kemudian pergi meninggalkannya. Marto membuka bungkusan itu, ternyata berisi sebuah seragam yang sudah sangat lama sekali tak pernah dia pakai. Seragam pasukan khusus Vanquish. ‘Oh iya, kenapa aku nggak ngeh ya, padahal Rio tadi juga pakai seragam ini,’ batin Marto.

Vanquish memang memiliki beberapa set seragam, seperti halnya satuan-satuan khusus lainnya. Dan yang dipegang oleh Marto saat ini adalah salah satunya. Hanya pakaian serba hitam, namun di bagian dada sebelah kiri terdapat simbol bordiran yang berbentuk sama dengan tatto yang mereka miliki. Seragam ini biasanya dipakai jika melakukan operasi di malam hari. Terbuat dari bahan sintetis, tipis namun sangat kuat dan cukup hangat saat dipakai.

Marto pun bergegas mengenakan pakaian itu, lalu dia berdiri di depan cermin. Teringat kembali memori 10 tahun yang lalu ketika dia masih memakai seragam ini saat sedang menjalankan misi. Ya, mereka memang akan segera menjalankan misi, dan nampaknya Rio ingin membuat Marto menuntaskan misi sebagai seorang anggota Vanquish.

Selesai memakai pakaian itu, marto beranjak ke ruang tamu. Rio sedang menunggu disana dengan sebatang rokok yang sudah beberapa kali dia hisap nikotinnya. Nampak secarik kertas di meja di hadapan Rio. Marto sempat meliriknya, singkat saja isi pesan tersebut. ‘Kami berangkat. Ttd, Marto dan Rio.’

“Gini doang pamitannya?”

“Iya lah bang, kita ini kan pasukan rahasia, ya masak mau pamitan ala-ala drama korea?”

“Bukan gitu Yo, Yani dan Zainal itu kan udah berjasa banget buat aku, masak aku nggak ngucapin terima kasih ke mereka.”

“Nanti setelah semua beres, abang kan bisa kemari lagi, nggak cuma buat ngucapin terima kasih aja, mungkin bisa ngasih yang lebih daripada itu bang.”

“Oh gitu yaa, ya udah deh.”

“Yup, berangkat kita bang.”

Kedua pria itu melangkah mantap pergi keluar meninggalkan rumah ini, meski Marto masih terlihat sedikit terpincang-pincang. Rumah yang telah sebulan lamanya menjadi tempat tinggal bagi Marto. Rumah yang menjadi saksi dirinya berjuang untuk tetap hidup. Rumah yang menyaksikan bagaimana Marto berikrar untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Rumah yang telah menghidupkan kembali semangat positif di dalam tubuh Marto.

Dan sekarang Marto meninggalkannya, mungkin untuk sementara, atau mungkin tak akan kembali lagi, tergantung bagaimana hasil pertempuran mereka nanti. Dia belum sempat berucap pamit kepada Zainal, seorang anak lelaki yang selalu menemaninya selama latihan, yang selalu menghiburnya dengan celotehan lugu khas anak kecil.

Dia juga belum sempat berpamitan dan berterima kasih kepada Yani yang telah merawatnya selama ini. Wanita yang memberinya ijin untuk tinggal di rumahnya tanpa batas waktu, tanpa menanyakan ini itu sehingga membuat Marto lebih tenang menjalani masa penyembuhannya. Namun entah kenapa rasanya dia berat sekali meninggalkan rumah ini tanpa berpanitan kepada Yani mapun Zainal. Dia bahkan tak sempat melihat Yani sebelum pergi.

Tapi sepertinya itu lebih baik. Karena mungkin jika melihat kondisi Yani saat ini Marto akan sangat terkejut. Ya, wanita itu sedang berada di kamarnya, dengan kondisi tanpa busana dan kesadarannya yang tinggal setengah-setengah, serta organ kewanitaan yang dipenuhi oleh cairan sperma. Dalam baringnya dengan posisi kaki yang terbuka lebar, akan terlihat pula kedua lubang di pangkal paha itu masih terbuka lebar, seperti baru saja dimasuki oleh sebuah organ kejantanan lelaki yang berukuran lumayan.

Namun bukan hanya itu saja yang akan mengejutkan Marto. Ada sesuatu, seperti sebuah tanda lahir, yang ada di bagian tubuh Yani yang selama ini tak pernah dilihat Marto karena selalu tertutup oleh pakaian Yani. Jika saja Marto sempat melihat tanda lahir itu, mungkin akan membuatnya mengingatkan sesuatu. Sesuatu tentang masa lalunya yang pahit, yang membuatnya menjadi limbung dan berubah drastis.

Tanda lahir itu saat ini hanya diketahui oleh Yani sendiri, dan juga seorang lelaki yang selama ini sering menyetubuhinya saat Marto dan Zainal pergi berlatih, atau pada malam hari saat semua terlelap tidur seperti malam ini. Dan kini, setelah menyetubuhi Yani dengan diam-diam tanpa membangunkan orang lain, pria itu, Rio Argiantono, pergi bersama Marto untuk menyongsong pertempuran mereka.

***

Sesampainya di luar rumah, Budi menuju ke sebuah gazebo kecil yang baru beberapa hari ini dibuatnya untuk bersantai sore-sore bersama istrinya. Dia menyalakan sebatang Sampoerna Mild, lalu menyalakan ponselnya yang sudah dia matian sejak kemarin. Nampak ada dua pesan wassap dari dua nomor berbeda. Dia pun membuka pesan pertama, dari sebuah nomor yang dia beri nama, E-coli.

‘Mas Budi, ada info. Persiapan mereka sudah mencapai tahap akhir, ready for tomorrow
‘Yup, ready. Mas Jaka udah dikasih tahu?’

Tak lama kemudian masuk lagi pesan balasan dari nomor yang sama.

‘Sipp mas, udah dikasih tahu, tadi katanya udah bilang Mas Budi juga
‘Iya, ini baru aku buka juga. Tadi ada yang wassap aku ke nomor satunya, apa masih orang yang sama?’

‘Iya mas, masih orang yang sama. Dia belum sadar aja kalau kita udah tahu siapa dia
‘Nggak papa, biar gitu aja.’

‘Oh iya, infonya mereka bakal nambah orang lagi, apa kita cukup sama Mas Jaka aja
‘Kata dia sih cukup. Kita percaya saja sama dia. Toh ada Rio, Marto dan teman-temannya. Sisanya baru urusan Mas Jaka.’

‘Oke deh mas. Ada yang lain nggak
‘Sementara itu dulu Ko, makasih buat semuanya ya.’

‘Anytime mas Bud. E-coli sign out

Budi tak lagi membalas pesan dari E-coli. Dia kemudian membuka satu pesan dari orang yang mereka bicarakan tadi.

‘Bud, aku udah dapat pesan dari Eko, aku juga udah liat TKP. Kalau dari perkiraanku, nggak akan terlalu sulit menghadapi mereka kalo Rio dan tim bisa tiba tepat waktu
‘Iya mas. Tapi bener mas nggak butuh back up lagi? Kan Rio belum balik kesini.’

‘Dia udah jalan kesini kok, ke tempat Marto. Si Eko nggak ngasih tahu kamu? Yang lainnya juga langsung ke TKP. Si Baskoro udah diberesin sama Rio
‘Wak gawat juga orang itu. Komjen aja bisa diberesin, haha. Aku belum dikasih tahu Eko tadi mas.’

‘Yaa begitulah, as you know him
‘Tapi beneran dia belum tahu keberadaan Mas Jaka?’

‘Tenang aja, dia belum tahu kok. Sampai masalah ini beres pun, dia nggak akan tahu siapa aku. Oke, istirahat saja dulu, biar besok kami yang tangani
‘Oke mas makasih, mas juga istirahat.’

Setelah memastikan tak ada lagi pesan dari kedua orang itu, Budi pun menghapus semua percakapannya itu lalu mematikkan kembali ponselnya. Hampir setengah jam Budi berada di gazebo ini sampai habis dua batang rokok, akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sebelumnya dia simpan dulu ponselnya tadi ke dalam tas kerjanya, tas yang tak pernah diusik oleh istrinya, begitu pula dirinya tak pernah mengusik tas kerja milik istrinya itu meskipun tahu apa yang ada di dalamnya.

Saat masuk ke kamar terlihat Ara sudah tertidur, masih dengan wajah yang belepotan sperma Budi. Dia hanya tersenyum dan bergeleng-geleng saja melihat istrinya itu, sepertinya Ara memang benar-benar berniat ingin merawat wajahnya menggunakan cairan spermanya. Dia kemudian berbaring di sebelah Ara. Terdengar dengkur halus sang istri yang sudah terlelap, dan dari bibirnya nampak sedikit menyunggingkan senyum.

Budi tak tahu pasti makna dari senyum itu, namun dari percakapannya di wassap tadi dia bisa sedikit berasumsi apa makna dibalik senyum manis istrinya itu. Memang tanpa sepengetahuan Budi, saat dia sedang keluar tadi, Ara juga mengambil sebuah ponsel yang selama ini dia sembunyikan dari suaminya. Dia sempat berbalas pesan wassap dengan seseorang di ponsel itu, hingga kemudian mematikan kembali, menyimpannya dan kemudian tertidur, sambil tersenyum.

Sebelum memasuki alam mimpinya, Budi menyalakan dulu ponsel yang sedang dia charge di meja samping tempat tidurnya. Dia sempat termenung, bisa-bisanya memiliki ponsel satu lagi yang sama sekali tak diketahui oleh istrinya. Ponsel yang tak diketahui oleh siapapun selain dia dan kedua orang tadi. Bahkan di dalam ponsel itu juga hanya ada dua nama yang ada di buku kontak sebagai sekutu yang membantunya beberapa bulan terakhir ini. Di ponselnya, mereka berdua diberi nama E-coli dan Den Jaka.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part