. Mengalahkan Gadis Part 20 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 20

0
262

Mengalahkan Gadis Part 20

Arrival

Marto kembali melihat kalender yang terpasang di dinding kayu rumah yang sudah beberapa hari ini dia tinggali. 30 Desember 2014, itu artinya besok adalah malam pergantian tahun. Belum lagi ada kabar dari Rio setelah kepergiannya 3 hari yang lalu. Dia semakin gelisah, apakah rencana yang sudah mereka susun akan gagal? Apakah sampai besok Rio juga tak akan datang menjemputnya?

Seharusnya hari ini dia sudah ada disini untuk menjemput Marto, dan mereka sudah harus berpindah posisi untuk lebih mendekat ke tempat dimana Fuadi dan Baktiawan akan melaksanakan rencana jahat mereka. Namun hingga saat ini Marto masih duduk manis di teras rumah milik Yani, tanpa ada kepastian, bahkan kabar sama sekali dari Rio. Semua akan terlalu mendadak jika dilakukan esok hari, dan kemungkinan akan lebih sulit lagi untuk menyusup ke tempat yang sudah mereka persiapkan, karena Marto yakin hari ini pun anak buah Ramon pasti sudah mulai berjaga disana.

Selain mengkhawatirkan tentang rencananya, Marto juga semakin mencemaskan kondisi Safitri, wanita pujaannya yang kini telah masuk ke dalam jerat Ramon ini. Marto khawatir jika saja nantinya Safitri akan menjadi bagian dari rencana Fuadi dan Baktiawan, sebagai salah satu korban tentu saja. Jika hal itu sampai terjadi, Marto tentu tak akan bisa memaafkan mereka. Tapi bagaimana dia bisa melindungi Safitri jika sampai saat ini saja Marto masih tak bisa beranjak dari rumah ini.

Di tengah lamunan dan kecemasannya, mendadak dia tersadar oleh kehadiran Yani. Wanita yang sudah beberapa hari ini menampungnya, bahkan merawatnya dengan sangat baik. Wanita yang entah asal usulnya darimana ini, telah berperan besar terhadap pemulihan fisik Marto setelah hampir mati dilempar ke jurang oleh Ramon dan anak buahnya. Wanita yang sempat sesaat mengingatkan Marto pada mendiang istrinya yang sudah pergi sepuluh tahun yang lalu.

Yani meletakkan secangkir kopi hitam kental di meja. Sudah menjadi kebiasaan bagi Marto memang menghabiskan sore harinya dengan secangkir kopi hitam yang hanya diberi sedikit sekali gula, Yani sudah hapal dengan selera Marto ini. Kali ini Yani menemaninya duduk setelah tadi sempat sebentar memperhatikan Marto yang melamun dan seperti gelisah, tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Pada awal pertemuan mereka, memang tak pernah menghabiskan waktu untuk mengobrol. Kalaupun ada pembicaraan hanya sekedarnya saja, setelah keperluannya beres, tak ada lagi yang mereka bicarakan. Namun dua hari terakhir Yani mulai sedikit terbuka dan mau lebih banyak bicara dengan Marto. Dia mulai bisa menceritakan banyak hal, yang sebelumnya sama sekali tak pernah dia lakukan dengan siapapun.

Rumahnya yang memang agak terpencil, dan sifatnya yang pendiam membuatnya tak banyak bergaul dengan para penduduk desa terdekat. Kini setelah menghabiskan beberapa waktu dengan Marto ada di rumahnya, dia mulai berani untuk bicara, dan bahkan menceritakan kegiatan sehari-harinya kepada Marto. Tentang kesehariannya yang kadang membantu beberapa penduduk desa untuk mencucikan pakaian mereka, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa dia lakukan asal bisa menghasilan uang baginya.

Yani bercerita kepada Marto bagaimana kadang dia mendapatkan godaan dari bapak-bapak penduduk desa ketika dia sedang bekerja di rumah mereka. Kebanyakan memang hanya sebatas ucapan berupa ajakan untuk berbuat hal yang tak senonoh, namun ada juga beberapa yang dengan iseng mencuri kesempatan untuk bisa memegang bagian tubuhnya.

Namun Yani bukanlah perempuan yang bisa menerima begitu saja ketika dilecehkan. Beberapa orang yang mencoba dan berhasil menyentuk bagian tubuhnya itu selalu berakhir dengan bekas merah di pipi mereka, dan selalu dia laporkan kepada para istri mereka, yang memang terkenal galak di desa itu, sehingga kini tak lagi ada yang berani menggodanya lagi.

“Diminum dulu mas kopinya.”

“Eh iya, makasih Yan.”

“Kok ngelamun aja tho mas dari tadi?” tanya Yani.

“Ini Yan, nunggu kabar dari Rio, udah tiga hari ini nggak ada kabarnya sama sekali,” jawab Marto sambil menyeruput kopinya yang masih panas.

“Bukannya Mas Marto kemarin dikasih henpon sama dia? Ya ditelepon aja tho mas.”

“Iya sih dikasih henpon tapi nggak dikasih nomernya. Lha aku nggak tahu nomernya Yan gimana mau nelpon, yowes lah nunggu aja ini. Zainal mana mbak?”

“Oh itu lagi main-main di belakang mas.”

Mereka kembali melanjutkan obrolan saat Yani kembali menceritakan kegiatannya hari ini. Ada seorang warga desa yang memintanya membantu membersihkan rumah karena mereka baru saja mengadakan hajatan. Namun saat sedang bersih-bersih sendiri dia kembali mendapat godaan dari si tuan rumah. Karena hanya berupa kata-kata yang menurut Yani masih cukup wajar maka dia tak bereaksi berlebihan.

Marto mendengarkan sambil memandangi wajah Yani. Sebenarnya Marto tak benar-benar mendengarkan Yani dengan seksama, justru lebih memperhatikan wajah Yani yang sedang bercerita. Wanita ini sebenarnya cukup cantik, meskipun kini wajahnya sedikit kusam dan berkerut, tapi masih terlihat bahwa pada dasarnya wanita ini cantik. Mungkin jika lebih terawat, kecantikannya akan lebih terpancar lagi.

Pakaian yang membalut tubuhnya pun cukup sederhana dan tak terlalu menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya, namun sekali waktu Marto pernah melihatnya dengan pakaian yang cukup memperlihatkan tubuhnya, dan menurut Marto tubuh Yani sebenarnya juga cukup bagus. Sekali lagi, kalau misalnya tubuh Yani lebih terawat, dan pakaiannya lebih modis, bisa jadi wanita ini bakal lebih menarik daripada Safitri.

Suaranya merdu, sedikit banyak membuatnya teringat kepada suara mendiang istrinya karena memang terdengar hampir mirip. Pantas saja jika dia sering digoda oleh bapak-bapak di desa, karena dengan penampilan apa adanya seperti ini saja, tanpa perawatan dan polesan di wajah dan tubuhnya, dia masih lebih menarik daripada istri-istri mereka, yang juga terkenal galak-galak. Apalagi jika Yani ini dirawat dan dipoles, serta diberikan pakaian yang modis, jangankan bapak-bapak penduduk desa, dia sendiri pun mungkin akan sangat tertarik pada wanita ini.

‘Eh loh, kok aku malah berpikiran yang nggak-nggak gini sih, haduuuh,’ batin Marto.

Menggeleng-gelengkan kepalanya, Marto berusaha mengusir pikiran-pikiran jeleknya tentang Yani. Untuk saja Yani tak memperhatikan Marto, dan malah masih dengan asyiknya bercerita sambil pandangannya lurus ke depan, entah apa yang dilihatnya.

Dari beberapa hari terakhir ketika Yani sudah mulai terbuka untuk bercerita dengan Marto, sudah berulang kali Marto berusaha mengorek informasi tentang masa lalu Yani, dari mana asal usulnya, bagaimana dia bisa berada dan tinggal di tempat terpencil seperti ini, hingga siapa suami dan ayah dari Zainal serta kemana sekarang perginya lelaki itu. Namun sayangnya Yani tak bisa mengingat satupun.

Dari tatapan mata Yani, Marto bisa tahu dan yakin kalau Yani berkata jujur. Namun hal itu justru semakin membuatnya penasaran, tentang masa lalu Yani dan apa yang membuatnya bisa seperti ini, bisa benar-benar lupa pada masa lalunya.

Obrolan mereka sempat terhenti ketika Zainal datang dan meminta makan kepada ibunya. Yani kemudian pamit kepada Marto dan beranjak ke dapur menyiapkan makan untuk anaknya, juga untuk makan malam Marto nanti. Marto tersenyum melihat Zainal yang melangkah mengikuti ibunya menuju dapur. Anak lelaki itu adalah anak yang sangat cerdas sebenarnya, hanya saja kondisi saat ini yang membatasinya untuk bisa lebih berkembang lagi.

Kondisi yang membuat Marto menjadi iba. Dia berkeinginan suatu saat nanti harus bisa membantu Yani dan anaknya ini. Entah bantuan seperti apa, tapi yang jelas dia tak ingin melihat mereka berdua hanya terkurung saja di lingkungan ini, terlebih Marto meyakini ada sesuatu yang menarik dari masa lalu Yani. Meskipun saat ini dia dan bahkan Yani sendiri tak mengetahuinya, namun dia akan berusaha membantu Yani agar bisa mengingat lagi masa lalunya, dan berharap itu bisa merubah kehidupan Yani dan Zainal kedepannya.

Hari semakin beranjak sore, tak lama lagi senja akan datang menyapa. Kegelisahan kembali mendatangi Marto. Kegelisahan terhadap Safitri, apakah saat ini dia sedang baik-baik saja? Atau justru sedang dalam masalah? Juga kegelisahan terhadap Rio dan terhadap rencana-rencana mereka. Apakah Rio akan datang menjemputnya? Atau justru pada akhirnya Rio tak jadi datang dan mereka tak bisa berbuat apapun untuk mencegah Fuadi dan Baktiawan?

***

“Boss, ini saya udah di stasiun sama Renata, tinggal nunggu Filli,mungkin setengah jam lagi sampai
“Oke, nanti langsung bawa ke Kaliurang aja, ke villanya Risman.”

“Oke boss. Oh iya, satu hal lagi boss
“Apa lagi?”

“Hmm, malam ini mereka boleh dipake nggak boss
“Pakai aja sepuasnya, kamu sama Risman, tapi malam ini aja ya, mulai besok pagi jangan ada yang nyentuh mereka, siapin mereka buat besok malam.”

“Wah oke, Siap boss

Ramon kembali meletakkan ponselnya, dan mengarahkan kembali tangannya mengelusi kepala wanita cantik yang kini sedang mengoral penisnya. Dia membelai rambut pendek wanita itu, yang terlihat begitu telaten menjilat dan mengemuti penis Ramon meskipun dengan kondisi yang amat terpaksa.

“Ohh, sepongan kamu makin mantap Fit, bikin nggak kuat aja, ooohh.”

Safitri tak menjawab, mulutnya sudah sedari tadi tersumpal oleh penis besar Ramon yang sudah semakin tegang. Dia masih memakai pakaian dinasnya, lengkap. Dia baru saja selesai mengikuti razia lalu lintas besar-besaran bersama dengan rekan-rekannya tadi ketika mendapat SMS dari Ramon yang menyuruh menemuinya di suatu tempat. Safitri yang memang sudah berada di genggaman Ramon tentu saja tak bisa menolak dan bergegas menuju ke tempat dimana Ramon sudah menunggunya.

Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil MPV milik Ramon. Ramon duduk di jok tengah sedang menikmati bagaimana polwan cantik ini memberikan servis pada penis kebanggannya. Tangannya sesekali menekan kepala Safitri agar penisnya masuk semakin dalam di mulut Safitri, yang tentu saja membuat wanita itu beberapa kali tersedak.

Safitri masih melanjutkan kulumannya pada penis itu saat tangan Ramon mulai meraba daerah dada Safitri. Diremas kedua dada mungil itu bergantian. Terasa oleh Ramon bahwa Safitri tak memakai branya, sesuai dengan perintah dari Ramon. Tangan Ramon kemudian bergerak untuk melepas beberapa kancing baju seragam Safitri hingga kini payudaranya yang tak tertutup bra itu nampak menyapa dirinya.

Segera saja kedua tangan Ramon meraih kedua bukit kembar Safitri. Tidak terlalu besar memang, masih kalah jika dibandingkan dengan beberapa wanita yang pernah dinikmati oleh Ramon. Namun sensasinya jelas berbeda, apalagi dengan kondisi Safitri yang masih memakai pakaian dinasnya itu.

“Eeeummphhhh,” lenguh Safitri tak jelas karena mulutnya masih tersumpal oleh penis Ramon.

Jari-jari Ramon yang memuntir-muntirnya, kadang menarik dan meremasi kedua buah dadanya membuat tubuh Safitri menggelinjang kegelian, karena memang area itu adalah salah satu titik rangsangan baginya.

Ramon tersenyum puas melihat bagaimana Safitri masih menuruti apa yang dia perintahkan, yaitu untuk tidak lagi memakai pakaian dalam apapun di balik seragam dinasnya itu. Untung saja baju seragam memiliki bahan yang cukup tebal, dan juga bentuk payudara Safitri yang sama sekali tak kendor, sehingga tidak menampakan kalau dirinya tidak memakai pakaian dalam.

Ancamannya terhadap Safitri yaitu keselamatan anak dan mertuanya ternyata sangat ampuh untuk bisa menaklukan wanita ini. Dan kini, dengan patuhnya dia memberikan pelayanan mulut untuk penisnya. Setelah kejadian meninggalnya pamannya akibat dibunuh oleh seseorang, Ramon memang melampiaskan semuanya kepada Tata dengan menyetubuhinya habis-habisan. Tapi dia masih ingin melampiaskan sisa-sisa amarahnya dengan menyebutuhi Safitri.

Setelah sekian menit penisnya mendapat kuluman dari bibir mungil Safitri dan kini sudah begitu keras, dia menarik badan Safitri dan memposisikan wanita itu menaiki tubuhnya. Dia ingin merasakan pelayanan dengan lubang surgawi Safitri.

“Sekarang giliran memek kamu yang muasin kontolku Fit, ayo kamu masukkan,” perintah Ramon.

Safitri tak banyak membantah, dia langsung meraih penis Ramon yang sudah tegang dan mengarahkannya ke bibir kemaluannya. Lubang vaginanya masih belum terlalu basah sebenarnya, tapi dia ingin segera mengakhiri permainan ini dan pulang ke rumah.

“Uuuugghhhh,” lenguh Safitri ketika kepala penis Ramon menyeruak masuk ke dalam vaginanya.

Terasa sedikit perih, namun dia paksakan untuk menurunkan pinggulnya perlahan, hingga akhirnya penis Ramon terbenam seluruhnya di lubang vagina sempitnya. Didiamkan sejenak penis itu untuk memberikan waktu pada vaginanya beradaptasi. Ramon hanya diam saja tak bergerak, dia ingin Safitri yang aktif melayaninya.

Setelah dirasa vaginanya terbiasa dengan penis besar Ramon, dia pun perlahan mengangkat tubuhnya, lalu menurunkan lagi, mengangkatnya lalu menurunkan lagi, begitu terus berulang-ulang hingga kini cairan pelumas mulai membasahi dinding kemaluannya.

Gerakan Safitri mulai dipercepatnya, membuat mobil yang mereka tumpangi ini terlihat bergoyang dari luar. Beruntung mobil itu terparkir di sebuah halaman gedung kosong yang cukup tersembunyi dari jalan sehingga tak akan ada yang memperhatikannya.

Tangan Ramon mulai bergerak ke arah dada Safitri yang terbuka, meremasi dan memilin putingnya untuk memberikan rangsangan lebih pada wanita itu, agar semakin liar gerakannya. Dan benar saja, disentuh pad area-area sensitifnya, membuat birahi Safitri perlahan mulai naik tak terkendali.

Gerakan naik turun pinggul Safitri semakin cepat, dan kini dikombinasikan dengan gerakan maju mundur. Matanya terpejam, bibirnya dia tutup rapat-rapat, ingin menahan sebisa mungkin agar tak mengeluarkan desahan sehingga tak terkesan dia juga menikmati persetubuhannya ini.

Ramon tersenyum melihat bagaimana Safitri mati-matian menahan desahannya, tapi dia punya cara lain. Dimainkannya lidahnya di kedua puting payudara Safitri, menjilatinya dengan lembut, terkadang menariknya dengan kasar, sambil kedua tangannya meremasi kedua buah dada itu. Sesekali Ramon menjelajahkan lidahnya ke leher Safitri, mengecup dan menjilatinya, lalu kembali lagi ke dada mungil Safitri.

“Hhmmmpp,, aaagggghhhhh,, aaaaaagghhhh,,”

Rupanya apa yang dilakukan Ramon berhasil memaksa Safitri membuka mulut dan mengeluarkan desahannya. Serangan kenikmatan di vagina dan buah dadanya membuatnya tak mampu lagi bertahan. Dia bahkan kini memeluk erat kepala Ramon yang masih bermain di kedua payudaranya, dan meremasi rambut pria itu.

Gerakan pinggulnya pun bahkan semakin liar, berusaha mengejar klimaksnya sendiri. Entah sudah berapa hari vaginanya tak diisi oleh batang kejantanan milih Ramon ini, terlebih dia baru saja selesai mengalami datang bulan, yang entah mengapa lebih panjang masanya daripada biasanya.

Masih tersisa rasa tak rela dari Safitri, sehingga dia tak mempedulikan Ramon, namun kini dia hanya ingin mengejar klimaksnya sendiri, sehingga gerakan pinggulnya semakin dipercepat. Terasa sesuatu yang begitu nikmat mulai menjalari seluruh tubuhnya, dan berpusat di pangkal pahanya.

Vaginanya sudah semakin basah, hingga bunyi kecipak terus terdengar saat penis Ramon keluar masuk di lubang vaginanya. Ramon sendiri sudah mulai menggerakkan pinggulnya, hingga setiap pertemuan kedua kelamin itu terasa sekali hingga menyentuh dinding rahim Safitri. Hal ini tentu membuat vagina Safiri semakin basah, dan dia merasakan puncak kenikmatan yang sedang dia kejar mulai mendekat.

“Aaaahhh,, Ouuhhh,, Aaaahhh,,”

“Aaahh memekmu nikmat banget Fit, ayo terus goyangin Fit, puasin kontolku.”

Dinginnya AC di dalam mobil ini seolah tak terasa. Badan kedua insan ini telah dibasahi oleh keringatnya masing-masing. Gerakan mereka semakin tak terkendali, sama-sama ingin mengejar klimaksnya sendiri-sendiri, hingga akhirnya,

“Aaaaaaaaaaaaaaaarghhhhhh.”

Safitri melenguh panjang, dibarengi dengan tubuhnya yang menegang dan pelukannya yang semakin erat di kepala Ramon. Dia sudah mendapatkan klimaksnya. Terasa dinding vaginanya berkedut-kedut memberikan pijatan nikmat pada penis Ramon, yang diam saja membiarkan Safitri menimati dulu sisa-sisa orgasmenya.

Tak berapa lama badan Safitri melemas, nafasnya tersengal-sengal. Tubuhnya lunglai dalam pelukan Ramon. Dia masih belum bergerak, begitu juga Ramon, masih mendiamkan saja penisnya yang masih tegang di dalam vagina Safitri, setelah tadi disiram oleh cairan hangat dan kini menikmati pijatan dari kedutan dinding vaginanya.

Dengan penis yang masih menancap di lubang vagina Safitri, Ramon memiringkan dan merebahkan tubuh wanita itu ke samping. Dia atur lagi posisi kedua kaki Safitri hingga berada di pundaknya, lalu dengan tiba-tiba kembali menyerang Safitri dengan kecepatan penuh.

“Aarrgghhh,, eemmpphh aaahhhhhh.”

Safitri yang tak siap menerima serangan mendadak itu terpekik. Meskipun vaginanya sudah sangat becek, namun mendapat serangan tiba-tiba yang begitu kencang dari penis sebesar itu tentu saja membuatnya kaget dan sedikit sakit. Namun setelah berhasil menguasai dirinya, dia kembali menahan sebisa mungkin agar tak banyak mengeluarkan desahan lagi, karena kini dia tahu Ramon hanya ingin mencari klimaksnya sendiri.

Gerakan pinggul Ramon memang semakin cepat dan cepat, membuat Safitri meringis dan tangannya menggapai-gapai mencari apa saja yang bisa dia pakai sebagai pegangan. Matanya tertutup dan kini bibirnya mengeluarkan sedikit rintihan yang nyaris tak terdengar, akibat perlakuan Ramon yang sedemikian kasar.

“Aaahhh,, Aaahhh,, Aaahhh,, memek kamu emang mantep Fit, aaaahhh.”

Ramon terus menggerakkan penisnya dengan kasar menyetubuhi Safitri. Dia menarik penisnya hingga menyisakan kepalanya saja, lalu mendorong kembali hingga seluruh penisnya habis tertelan oleh vagina Safitri. Begitu terus dia lakukan berulang-ulang dengan kecepatan yang tinggi.

Perlakuan kasar dari Ramon ini, selain membuat sakit pada pangkal pahanya, namun disisi lain ternyata kembali membangkitkan birahi Safitri. Dia ingin memungkirinya namun tubuhnya tak bisa bohong, hingga akhirnya dia kembali melenguh panjang, mendapatkan orgasme dari permainan kasar Ramon.

Namun kali ini Ramon tak menghentikan gerakannya untuk memberi waktu Safitri menikmati orgasmenya, tapi dia terus menggoyangkan pinggulnya dengan kasar, karena dirasa tak lama lagi orgasmenya sendiri yang akan datang. Semakin lama gerakan Ramon semakin cepat dan kasar, hingga akhirnya dia tusukkan penis besarnya itu sedalam-dalamnya ke lubang vagina Safitri, membuat mata Safitri membelalak dan mulutnya terbuka lebar membentuh huruf O.

Croott,, Croott,, Croott,, Croott,, Croott,,

Lebih dari lima kali semprotan sperma mengenai dinding rahim Safitri. Rasa geli nan hangat itu nyatanya mampu membuat Safitri juga kembali mendapatkan orgasme, meski tak sedahsyat yang sebelumnya. Dia masih merasakan penis Ramon berkedut, sepertinya sedang mengeluarkan sisa-sisa spermanya ke rahim Safitri.

Setelah beberapa saat penis Ramon mulai lemas dan mengecil lalu dia keluarkan dari lubang kemaluan Safitri. Wanita itu segera mengambil tissu untuk membersihkan kemaluannya, yang baru saja menampung begitu banyak cairah sperma. Setelah itu Safitri tahu dia masih memiliki satu tugas lagi, yaitu membersihkan penis Ramon dengan mulutnya.

Beberapa saat kemudian keduanya telah berpakaian rapi, namun masih duduk di jok tengah mobil Ramon. Ramon membelai lembut kepala Safitri, sesekali memainkan rambut pendeknya, sedangkan Safitri hanya terdiam saja, masih mengatur nafasnya sebelum meninggalkan mobil ini.

“Kamu siap-siap ya Fit, beberapa hari lagi aku ada tugas buat kamu.”

“Tugas apa?”

Ramon terdiam, membuat Safitri penasaran lalu menatap wajah Ramon yang masih membelai rambutnya. Safitri menanti dengan cemas, jangan-jangan Ramon akan menyuruhnya melayani laki-laki lain, suatu hal yang sudah lama sekali dia takutkan.

“Aku mau kamu melayani seseorang.”

DEG! Benar, Ramon benar-benar menyuruhnya untuk melayani orang lain. Matanya terbelalak, dia tak bisa mempercayai ini. Apa yang selama ini dia takutkan akhirnya keluar juga dari mulut Ramon.

“Nggak, aku nggak mau! Kamu pikir aku pelacur? Seenaknya memberikanku pada orang lain?”

Tangan Ramon yang sedari tadi membelai rambut Safitri bergerak ke belakang kepalanya dan langsung menjambak rambutnya, membuat Safitri meringis kesakitan dan kedua tangannya bergerak ke belakang kepalanya untuk menghentikan tangan Ramon.

“Heh dengar ya, sejak memek kamu dimasuki sama kontolku, sejak itu kamu udah jadi pelacurku. Aku nggak butuh persetujuan kamu. Yang ada kamu harus nurutin semua perintahku, atau aku bakal nyelakain anak dan mertuamu, mengerti?!” bentak Ramon.

Air mata Safitri perlahan turun. Selain karena rasa sakit akibat jambakan Ramon, juga rasa sakit di hatinya karena Ramon menyuruhnya untuk memberikan tubuhnya kepada orang lain lagi. Kalau itu terjadi, lalu apa bedanya dia dengan wanita-wanita penghibur yang selama ini dia tangkap dan dia beri pembinaan tentang norma-norma kesusilaan?

“Hiks, aku mohon mas, hiks jangan jual aku,” pinta Safitri dalam isaknya.

“Aku nggak menjual kamu, aku hanya menyuruhmu untuk melayaninya, sebagai balas budiku kepada Toro dan anak buahnya.”

“To,, Toro??” tanya Safitri terkejut.

“Iya, Toro. Sudah sekarang kamu turun, aku mau pulang. Oh iya, karena kamu udah nurut, setelah ini kamu boleh pakai daleman lagi. Sudah sana!”

Ramon dan Safitri kemudian turun dari mobil. Ramon berpindah ke belakang kemudi, lalu menyalakan dan menjalankan mobilnya meninggalkan Safitri yang masih berdiri terbengong. Dengan tatapan mata yang kosong, Safitri berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ.

Masuk ke dalam mobilnya, Safitri tak segera menyalakannya. Dia masih terbengong tak percaya. Toro? Dia harus melayani Toro? Dan kemungkinan juga bakal melayani anak buah Toro? Ini tidak mungkin. Toro adalah seorang pimpinan preman yang sangat ditakuti di daerah ini. Dia orang yang sangat lihai, beberapa kali kepolisian gagal menangkapnya karena begitu pandainya dia berkilah.

Toro sudah beberapa tahun ini menjadi incaran kepolisian, namun tak pernah bisa ditangkap. Selain lihai, dia juga dilindungi oleh beberapa pejabat daerah karena berjasa pada oknum-oknum pejabat itu. Bahkan kabarnya, Toro juga memiliki sekutu dari pihak kepolisian, hanya saja belum diketahui siapa oknum polisi yang bekerja sama dengan Toro.

Safitri teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, ketika Marto masih bekerja satu kantor dengannya. Marto saat ini juga bekerja sama dengan Toro, dan bahkan memberikan dua orang polwan angkatan baru yang menjadi korban Marto untuk dinikmati oleh Toro dan anak buahnya. Menurut cerita dari mereka berdua, mereka dipaksa melayani nafsu binatang Toro dan anak buahnya dengan berbagai macam permintaan. Bahkan mereka juga disiksa secara seksual.

Setelah peristiwa itu hampir seminggu keduanya tak bisa masuk bekerja karena masih mengalami trauma dan juga sakit di sekujur tubuhnya. Beruntung saat itu keduanya tak sampai hamil akibat perbuatan Toro dan para anak buahnya, namun siksaan yang mereka terima membuat trauma berkepanjangan bagi keduanya, karena setelahnya mereka masih sering diminta datang untuk melayani Toro maupun anak buahnya, dan mereka tak bisa menolak karena berada di bawah ancaman. Untungnya kini mereka berdua sudah dipindah tugaskan sehingga tak perlu lagi berurusan dengan komplotan bandit itu.

Tapi kini justru dirinya yang akan dilemparkan ke sarang Toro. Dia tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi padanya nanti jika benar-benar masuk ke dalam genggaman Toro. Bagaimana nasibnya? Nasib anaknya? Memikirkan itu membuat air matanya turun dengan begitu derasnya.

Dalam kegelisahannya itu dia teringat pada Marto. Dimana dia sekarang? Saat ini Safitri benar-benar ingin Marto hadir dan menyelamatkannya dari situasi ini. Dia ingin Marto bisa mengeluarkannya dari semua penderitaan ini. Dia ingin Marto bisa mendampinginya melewati setiap waktu kedepannya. Dia berharap Marto segera datang. Dia berharap, sangat berharap.

Tak berapa lama kemudian Safitri menyalakan mobilnya, mengemudikannya meninggalkan tempat ini, menuju rumahnya, pulang. Tanpa dia sadar sama sekali, sepasang mata rupanya sedari tadi mengamatinya dari balik semak-semak. Bahkan sudah sejak tadi sepasang mata itu mengamati apa yang dia lakukan bersama Ramon. Meskipun kaca mobil Ramon sangat gelap dan tak nampak apa yang terjadi di dalam, namun orang itu sangat yakin bahwa di dalam mobil goyang itu sedang terjadi pergumulan yang panas, apalagi beberapa kali dia dengar teriakan dari Safitri.

Selepas Safitri pergi meninggalkan tempat ini, baru dia keluar dari semak-semak. Orang itu tersenyum, lalu memasukkan kembali ponselnya, setelah mengatur video yang baru saja dia rekam, dan sekarang dia simpan satu folder dengan sebuah video lainnya. Video wanita yang baru saja meninggalkan tempat ini tadi, sedang menunggangi seorang pria paruh baya di malam pernikahan putri dari pria itu, yang dia ambil beberapa bulan lalu di tempatnya bekerja.

***

“Hai Re.”

“Hai mbak, gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana?”

“Baik juga mbak.”

Kedua wanita kakak beradik itu berpelukan erat. Orang-orang di stasiun yang melihatnya beranggapan mungkin keduanya sudah sangat lama tak bertemu sehingga berpelukan begitu erat untuk melepas kerinduannya. Namun sebenarnya, arti pelukan itu sangat jauh berbeda dengan yang dipikirkan orang-orang. Hanya mereka berdua yang tahu, dan seorang pira kurus yang sedang berjalan mendekati mereka sambil tersenyum mesum.

“Udahan kangen-kangenannya? Yuk berangkat,” ujar pria itu sambil membantu membawakan tas milik Filli.

Setelah memasukkan tas ke dalam bagasi, pria kurus itu kemudian masuk ke dalam mobilnya dan segera menyalakan mesinnya. Kedua wanita itu duduk di jok belakang. Mobil itu kemudian melaju meninggalkan parkiran stasiun menuju ke tempat yang diperintahkan bossnya tadi.

Ketiga orang itu hanya terdiam sepanjang perjalanan. Filli dan Renata berpegangan tangan, namun mereka tak saling pandang, tapi sedang melihat pemandangan sepanjang jalan dari kaca mobil itu. Hari sudah senja, matahari sudah turun ke peraduannya. Genggaman kakak beradik itu begitu erat, seolah sedang menguatkan masing-masing. Mereka saling memahami perasaan masing-masing meskipun tanpa harus dikatakan.

Perjalanan mereka tempuh hampir setengah jam, ketika akhirnya mereka sampai di sebuah villa di kawasan Kaliurang. Begitu membuka pintu dan turun dari mobil, hawa sejuk yang cenderung dingin langsung menyapa kulit halus mereka. Sementara pria kurus itu mengambil barang di bagasi, terlihat di pintu villa itu seorang pria paruh baya dengan perut buncitnya menunggu mereka.

Renata dan Filli berjalan mengikuti pria kurus itu menuju ke pintu villa menemui pria yang sudah sedari tadi menunggu mereka.

“Malem Pak Risman,” sapa pria kurus itu.

“Malem juga Tito, mereka berdua yang dibilang sama Ramon?” jawab Risman.

“Benar pak, gimana? Yahud kan? Hehe.”

“Mantep bener To, hehe.”

“Ini namanya Mbak Renata, ini kakaknya Mbak Filli. Mbak, dia pemilik villa ini, namanya Pak Risman,” Tito memperkenalkan kedua wanita itu pada Risman.

Setelah bersalaman, Risman lalu mengajak mereka bertiga masuk dan langsung menuju ruang makan. Rupanya dia sudah mempersiapkan makan malam untuk mereka berempat. Renata dan Filli masih merasa kikuk namun tak terlalu dipedulikan oleh kedua pria itu. Keduanya asyik menyantap makanan yang telah disiapkan sambil ngobrol. Sementara Renata dan Filli makan sekedarnya saja.

Setelah selesai makan, Risman memanggil seorang wanita muda untuk membereskan semuanya, dan mereka pun menuju ruang tengah. Sambil menonton TV, kedua pria itu melanjutkan obrolan tanpa mempedulikan Renata dan Filli. Kedua wanita ini pun merasa begitu jengah dengan suasana ini, hingga akhirnya Risman mengajak mereka ngobrol juga.

“Mbak Renata dan Mbak Filli ini asalnya dari mana?”

“Saya dari Solo pak, kalau kakak saya dari Surabaya,” jawab Renata.

“Oh, sudah berkeluarga?” tanya Risman, yang dijawab dengan anggukan oleh keduanya.

“Mbak Filli anaknya udah berapa?” tanya Risman lagi.

“Anak saya dua pak,” jawab Filli.

“Kalau Mbak Renata?”

“Kalau anak saya baru satu pak,” jawab Renata.

“Udah lama kenal sama Tito dan Ramon?”

“Eehhm, baru beberapa bulan pak,” jawab Filli ragu-ragu.

“Iya pak, baru 7 bulan yang lalu mereka kami entotin pak,” ujar Tito blak-blakan, membuat terkejut kedua wanita itu.

“Haha, mulutmu ini lancang bener To,” jawab Risman, sedangkan kedua wanita itu hanya menunduk saja.

“Oke, jadi gini Mbak Filli sama Mbak Renata, saya cuma nyiapin satu kamar buat kita berempat malam ini, jadi kita mainnya barengan nanti ya,” ujar Risman.

“Main, maksud bapak?” tanya Filli terkejut. Meskipun sudah mengetahui apa maksud Risman, tapi tetap saja dia tak menduga bakal seperti ini jadinya.

“Mbak Filli ini beneran nggak tahu apa pura-pura nggak tahu? Emang Tito tadi nggak ngomong pas di mobil?” tanya Risman.

“Haha, saya nggak ngomong apa-apa tadi pak,” sahut Tito.

“Woo pantesan mereka kaget, hehe. Jadi gini mbak, malem ini kalian berdua ngelayanin kami sampai besok pagi. Saya rasa mbak berdua tahu maksudnya kan? Dan saya rasa mbak berdua tahu kalau nggak bisa nolak kan?” tanya Risman, sambil beranjak mendekati Filli.

“Eh, saya,, kami nggak paham pak,” jawab Filli gugup, terlebih saat Risman telah duduk di sebelahnya.

“Belum paham ya? Nggak papa, nanti juga paham sendiri kok, yang jelas, malam ini kita nggak akan tidur mbak sampai besok pagi,” ujar Risman sambil tangannya dia letakan di paha Filli yang masih terbungkus celana jeansnya.

Tito pun tak hanya diam melihat, dia juga mendekat dan duduk di sebelah Renata, lalu meletakkan tangannya di paha Rena yang juga masih terbungkus celana panjang. Kedua wanita ini begitu gugup dengan kondisi ini. Mereka sudah tahu apa yang dimaui oleh kedua pria itu, dan mereka juga tahu kalau tak bisa menolaknya. Mereka memang sudah pernah disetubuhi oleh Tito, namun dengan Risman? Bertemu saja baru kali ini, sehingga itulah yang membuat jengah kedua wanita itu.

Tangan Risman bergerak mengelus paha Filli yang terbungkus celana, begitu pun tangan Tito di paha Renata. Kedua wanita itu masih menunduk, rasa malu dan tak rela disentuh oleh pria lain masih begitu mereka rasakan, meskipun pada akhirnya nanti mereka tahu harus kembali menyerahkan tubuhnya kepada kedua pria itu.

“Mmmmphhh sluurrpp.”

Filli menengok ke samping saat dilihatnya Renata sudah diciumi dengan rakus oleh Tito, bahkan tangan Tito sudah bermain-main di payudara Renata. Tangan Renata terlihat sempat menahan tangan Tito namun pelukan Tito membuatnya tak bisa berbuat banyak. Saat sedang melihat adiknya dicumbui oleh Tito, tanpa dia sadari tiba-tiba tangan Risman juga sudah berada di payudaranya dan langsung meremasnya.

“Aaahhh paak jangaammmpphhh, sluuurphh,” belum selesai penolakan Filli bibirnya sudah disambar dan dilumat dengan rakus oleh Risman.

Lidah Risman menyeruak masuk mencari-cari lidah Filli, setelah ketemu dikaitnya lidah itu dan ditariknya menuju ke bibir Risman, lalu dihisapnya dengan gemas. Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada Renata yang kini mulai melayani lumatan bibir Tito. Tangan Tito yang begitu aktif kemudian merangsek masuk melalui bagian bawah kaos Renata, lalu tangannya menyusup ke balik bra dan langsung memilin puting Renata yang mulai mengeras.

Tito sudah cukup lama tak bertemu dengan Renata sehingga begitu merindukan tubuh wanita yang ketiga lubangnya sudah pernah dia nikmati itu. Malam ini dia ingin habis-habisan menikmati ketiga lubang Renata lagi. Selain itu, dia juga ingin merasakan satu lubang dari Filli yang belum pernah dia rasakan karena waktu itu dilarang oleh Ramon.

Kini kaos yang dipakai Renata sudah dilepaskan dan dilempar begitu saja oleh Tito. Branya pun tak bertahan lama setelah dengan terburu-buru Tito melepaskannya. Melihat kedua buah dada Renata yang sudah terbebas itu tak menunggu waktu lama bagi Tito untuk mencaploknya. Lidahnya dia mainkan di kedua putingnya bergantian. Tangan kiri Tito meremasi payudar kanan Renata, sedangkan tangan kanannya turun untuk melepas kancing celana Renata.

Tak butuh waktu lama bagi Renata untuk telanjang bulat, saat celana dalamnya ikut terengut bersama celana panjangnya. Tito pun tak menunggu lebih lama untuk menelanjangi dirinya sendiri. Sekilas Renata melihat keadaan kakaknya Filli. Nampaknya Risman lebih sabar daripada Tito. Mereka berdua masih berpagutan dengan panasnya, sementara tangan Risman baru membuka seluruh kancing baju Filli, dan membukanya ke kanan kiri tanpa melepasnya. Bra Filli pun hanya diangkat belum dilepaskan.

Renata tak bisa lagi melihat kondisi kakaknya karena tiba-tiba Tito meraih kepalanya dan memaksanya untuk mengulum penis pria kurus itu yang telah berada tepat di hadapannya. Renata langsung membuka mulutnya dan masuklah penis yang cukup panjang itu. Renata memaju mundurkan kepalanya memberikan pelayanan kepada pria yang bukan suaminya itu, pria yang dengan beberapa temannya yang lain telah memaksanya mengkhianati suaminya saat malam pernikahan adik kadungnya.

Sementara itu Filli mendapat perlakuan yang sedikit berbeda. Meskipun bibirnya dilumat dengan ganas, tapi tangan Risman memperlakukan buah dadanya dengan cukup lembut, tidak ada remasan kasar disana, begitu lembut, yang mau tak mau perlahan membangkitkan birahi Filli sehingga tanpa dia sadari dia membalas pagutan Risman tak kalah ganasnya.

“Pak Risman, pindah ke kamar aja gimana?” ujar Tito membuyarkan pagutan Risman dengan Filli.

“Ya udah, ayok.”

Risman sempat terpana melihat tubuh Renata yang sudah ditelanjangi oleh Tito. Tito mendahului masuk kamar dengan menuntun Renata. Risman pun berdiri, dan menarik Filli untuk berdiri juga. Namun sebelum melangkah Risman kembali mencium bibir Filli, tapi kini tangannya sambil menelanjangi Filli. Dia lepaskan kemeja dan bra Filli, lalu tangannya bergerak turun, melepaskan celana panjang sekaligus celana dalam Filli.

Risman kembali terpana melihat tubuh wanita yang sudah memiliki 2 anak ini. Tubuhnya masih begitu sempurna. Sambil menikmati keindahan tubuh Filli Risman pun menelanjangi dirinya sendiri, membuat Filli jengah dan melemparkan pandangannya ke arah lain. Lamunan mereka terhenti saat mendengar suara pekikan Renata dari dalam kamar. Sepertinya Tito sudah memulai permainan ini. Risman pun menatap Filli sambil tersenyum, lalu menggandeng tanggannya menuju ke kamar yang sudah dia siapkan. Malam ini akan menjadi malam yang melelahkan bagi kedua wanita ini, dan malam yang menyenangkan bagi Tito dan Risman.

***

Sebuah mobil sedang mewah keluaran pabrikan asal negeri Ratu Elizabeth itu nampak memasuki gerbang perumahan elit di kawasan ring road utara Jogja, menuju ke sebuah rumah mewah di bagian tengah kawasan perumahan itu. Seorang pria turun dari mobil itu, disambut oleh pria baruh baya yang perutnya sudah membuncit.

“Selamat datang Bakti.”

“Apanya yang selamat datang? Ini rumahku Ad, kamu aja yang datang duluan.”

“Haha, nggak papa kan sesekali tamu menyambut tuan rumah,” gelak Fuadi.

Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah nampak sudah ada Ramon dan Tata. Keduanya sedang berbincang, namun terhenti ketika melihat kedatangan Baktiawan.

“Malem boss, selamat datang,” sambut Ramon.

“Malem oom, selamat datang yaa,” berbeda dengan Ramon, Tata langsung memeluk Bakti menyambut kedatangannya.

“Iya, malem juga.”

Bakti kemudian duduk, masih dipeluk oleh Tata, sedangkan Fuadi duduk di seberang mereka.

“Bagaimana persiapan untuk besok Mon?”

“Untuk lokasinya udah beres boss, saya udah ngirim orang kesana buat nyiapin dan jaga disana. Saya juga udah hubungi Toro, dia menyanggupi mengerahkan anggota-anggota terbaiknya. Dan kata boss Fuad, bantuan tambahan juga udah siap, mereka bakal datang besok siang dan langsung menuju lokasi,” terang Ramon.

“Hmm oke, lalu masalah penjemputan korban kita gimana?”

“Saya udah bagi-bagi tugas. Renata dan Filli sekarang udah diurus sama Tito, mereka sedang di villanya Risman sekarang. Untuk Wijaya, istrinya, anak dan menantunya, juga dua teman Ara yaitu Lia dan Nadya sudah saya tugaskan orang-orang kita boss, sudah siap semuanya.”

“Satu lagi Mon.”

“Apa itu boss?”

“Kamu sekalian siapin orang buat menjemput Sakti.”

“Sakti? Sakti anak boss? Dia dijemput juga boss?” tanya Ramon kebingungan.

“Iya, dia juga akan ikut pesta kita. Udah kamu nggak usah bingung, besok kamu juga bakal tahu.”

“Oke boss, saya siapkan dulu orangnya,” Ramon pun beranjak keluar dan memanggil anak buahnya, menyusun ulang rencana karena ternyata ada korban tambahan.

“Dia kamu kamu ikutkan juga Bakti? Apa udah cukup?” tanya Fuadi.

“Ya, udah cukup buat dia. Udah waktunya dia tahu,” jawab Baktiawan.

“Haha, sepertinya akan lebih menarik lagi ya besok,” ujar Fuadi.

“Maksudnya apaan sih om?” tanya Tata yang tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Fuadi dan Baktiawan.

“Nggak papa sayang, besok kamu juga tahu kok. Kamu kok sendirian aja sih? Kami kan berdua ini, kamu kuat emangnya?” tanya Bakti.

“Hehe, tenang aja om, bentar lagi bakal ada yang datang kok, spesial deh buat Om Bakti sama Om Fuad,” jawab Tata dengan nada manja.

Saat Ramon sedang berada di depan rumah mendiskusikan rencana penculikan untuk korban-korbanya besok, tiba-tiba masuklah sebuah mobil ke halaman rumah ini. Ketika pintu belakang terbuka, nampak dua orang wanita dan seorang pria keluar dari mobil itu. Si pria tak lain adalah anak buah Ramon yang memang dia tugaskan untuk menjemput kedua wanita ini.

Seorang wanita berpenampilan modis dengan memakai gaun sepanjang lutut tanpa lengan berwarna biru tua, sedangkan wanita yang satunya lagi berpenampilan lebih tertutup dengan kerudung di kepalanya. Ramon tersenyum melihat kedua wanita yang dari wajahnya nampak gugup ini. Dia segera mendekati mereka, lalu menggandeng tangan keduanya dan mengajak masuk ke dalam.

“Ayok, boss udah nunggu di dalem, jangan pasang tampang kayak gitu, senyum ya.”

Kedua wanita itupun mencoba untuk tersenyum, setelah itu mereka mengikuti Ramon yang menariknya masuk ke dalam rumah. Nampak di dalam ruang tengah itu Baktiawan yang masih dipeluk oleh Tata dan Fuadi sedang bersenda gurau, lalu terdiam melihat Ramon masuk menggandeng dua wanita cantik.

“Boss, teman main kalian berdua udah dateng nih,” ujar Ramon.

“Wah wah, bener-bener spesial rupanya. Barang yang istimewa ini Mon, haha,” ujar Fuadi yang langsung berdiri menyambut kedua wanita ini.

Ramon pun menyerahkan kedua wanita itu kepada Fuadi, lalu memberi kode kepada Tata untuk mengikutinya meninggalkan kedua bossnya. Tata pun tersenyum, lalu mengecup pipi Baktiawan, berpamitan dan mempersilahkan bossnya untuk berpesta. Bakti pun segera berdiri menghampiri kedua wanita itu, lalu menggandeng wanita yang berkerudung, mengajaknya duduk, begitu pula Fuadi mengajak duduk wanita bergaun biru tua itu.

Kedua wanita itu masih nampak kikuk. Mereka tahu malam ini akan bekerja keras untuk melayani kedua boss ini, dan harus siap jika disuruh untuk melakukan apapun, karena menurut informasi dari Ramon kedua boss ini kadang memiliki permintaan yang aneh-aneh ketika berhubungan seks.

Sedangkan Baktiawan dan Fuadi tersenyum-senyum saja melihat wajah kedua wanita yang terlihat gugup itu, itu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka bukanlah wanita nakal. Ini yang disukai oleh Baktiawan dan Fuadi, menyetubuhi wanita baik-baik dan membuat mereka menjerit antara keenakan dan kesakitan ketika penis besar mereka mengobrak-abrik ketiga lubang yang dipunya wanita-wanita ini, seperti yang akan mereka lakukan sebentar lagi.

***

“Eeeeuummmmhhh, aaaaahhhhhh maaasssshh, aaahhh.”

Terdengar desahan dari Ara saat suaminya menciumi dan menjilati lehernya. Salah satu daerah paling sensitif Ara yaitu di bagian leher di bawah telinga kirinya, yang kini sudah diketahui oleh Budi, selalu saja menjadi sasaran Budi ketika mulai mencumbui istrinya seperti saat ini. Baru disentuh sedikit saja pasti tubuh Ara akan bergetar-getar, menandakan percikan birahi dalam dirinya mulai keluar.

Budi perlahan membuka piyama yang dipakai oleh Ara, sambil menciumi bagian dada Ara yang terbuka. Ara membantu suaminya dengan mengangkat punggungnya ketika Budi hendak melepaskan kait bra yang terletak di belakang, lalu meloloskan piyama dan bra itu dari tubuh Ara. Sesaat Budi terdiam melihat ada sesuatu di dada Ara, di dekat putingnya.

“Dek, ini apa e dek? Kayaknya bukan bekas mas deh?” tanya Budi sambil menunjuk bekas tanda merah di dada Ara.

“Apa mas? Oh itu, adek juga nggak tahu mas, masak sih digigit semut? Adek kan rajin mandi,” jawab Ara.

“Haha, gara-gara kamu terlalu rajin mandi kali dek, semut jadi gemes terus gigitin kamu gini,” kelakar Budi.

“Ih mana ada ceritanya kayak gitu mas, masak gara-gara rajin mandi malah digigit semut?” ujar Ara cemberut.

“Beneran deh dek, nih mas aja jadi makin gemes, cup, sluuurpphh,” ucap Budi yang langsung dilanjutkan mencumbui dada istrinya.

“Aaaahhh maaasshhh nakaaaalll.”

Budi terus mencumbui istrinya, namun pikirannya memikirkan hal lain. Dia selama ini memang sering meninggalkan bekas cupangan baik di leher maupun di dada Ara, kadang juga di bagian lain dari tubuh istrinya. Dia tak khawatir akan hal itu karena keseharian Ara yang tertutup sehingga tak mungkin akan dilihat orang lain.

Namun seingat Budi, dia belum pernah meninggalkan jejak seperti itu di dekat puting istrinya. Lalu kenapa bisa ada tanda seperti itu? Dia tahu persis tanda itu bukan bekas gigitan semut, tapi bekas gigitan orang. Kalau bukan dia yang membuat tanda itu di dada istrinya, lalu siapa?

Sedang asyiknya mencumbui dada istrinya, sambil memikirkan siapa yang membuat tanda lain di dada istrinya, tiba-tiba ponsel Budi berbunyi.

“Haduuuuh siapa sih ini ngganggu aja deh ah,” ujar Budi.

“Angkat dulu mas, siapa tahu penting,” ujar Ara.

“Iya dek, bentar yaa.”

Budi pun beranjak mengambil ponselnya yang dia letakan di meja samping ranjang. Ternyata sahabatnya Sakti yang menghubunginya. Ada apa malam-malam begini?

“Assalamualaikum. Hallo Sak, ada apa nih?
“Waalaikumsalam. Lagi sibuk nggak Cing

“Yaa lumayan sih, ada apa emangnya?”
“Wahaha, lagi ehem ehem ya, sorry Cing ganggu bentar

“Iya nih gangguin aja kamu. Ada apaan emangnya?”
“Nggak sih, gua cuma pengen ngabarin aja, ini gua baru nyampe Jogja, tapi nginep hotel dulu, besok siang atau sore gua ke rumah lu ya Cing

“Oh gitu, iya gampang, Ara juga udah beli ikan sama jagung tuh, besok kita bakar rame-rame Sak.”
“Wah pengertian banget deh kalian, haha. Oke deh, lu lanjut aja Cing ehem ehemnya, gua juga mau nyari cewek dulu lah, jadi ikutan pengen gua

“Haha, dasar gendeng kamu itu Sak, ya udah sana, besok aku kabari lagi.”
“Haha, oke my broo

Budi kembali meletakkan ponselnya di meja, lalu mendekati istrinya kembali yang masih bertelanjang dada.

“Siapa mas? Mas Sakti ya?”

“Iya dek, dia udah di Jogja ternyata, baru nyampe, dan besok sore baru mau kesini,” jawab Budi.

“Oh gitu, kalau gitu besok malem jadi acara disini mas?” tanya Ara.

“Ya jadi dong sayang.”

“Terus, cuma kita bertiga doang? Aku belanjanya kebanyakan dong mas kalau cuma bertiga.”

“Hmm, entar deh kita pikirin lagi kira-kira siapa yang mau diajak lagi.”

“Oke deh mas kalau gitu, biar nggak mubazir juga belanjaan adek, hehe.”

Sesaat kemudian ponsel Budi kembali berbunyi, kali ini notifikasi pesan masuk. Apa mungkin dari Sakti lagi ya? Pikir Budi. Dia pun mengambil ponselnya lagi dan membuka pesan wasap yang ternyata dari nomor asing.

‘Besok bakal jadi hari yang sangat berat Cing, lu harus bener-bener hati-hati, sangat hati-hati

Budi terpana sesaat. Lagi-lagi peringatan dari nomor asing. Sudah cukup lama dia tak mendapat pesan misterius lagi setelah kematian Pak Dede, dan kini tiba-tiba orang misterius itu mengiriminya pesan lagi. Apa yang bakal terjadi besok? Kenapa pula dia harus sangat berhati-hati?

“Kenapa mas?” tanya Ara menangkap ada yang tak beres dari wajah suaminya.

“Oh nggak papa dek, ini si Sakti ngewasap lagi, nanyain urusan besok,” jawab Budi berbohong.

“Oh kirain ada apaan,” ujar Ara, melihat suaminya kembali meletakkan ponselnya.

“Bukan apa-apa kok sayang, nggak usah dipikirin, yuk lanjutin lagi,” ujar Budi.

Ara hanya tersenyum saja melihat tingkah suaminya ini. Dia kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mengundang sang suami untuk segera menjamah tubuhnya. Ara tahu suaminya tadi berbohong, ada sesuatu yang dia tutupi dan membuatnya gelisah, karena itulah malam ini dia akan melayani suaminya sebaik mungkin untuk mengurangi rasa gelisah sang suami.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part