. Mengalahkan Gadis Part 16 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 16

0
258

Mengalahkan Gadis Part 16

The Fuck-cation 1

Tiiin Tiiin..
Ara segera keluar rumah saat mendengar bunyi klakson dari mobil Ramon. Setelah berpesan kepada pembantunya untuk menjaga rumah selama dia pergi, dia pun segera mendatangi mobil itu, dimana sudah ada 5 orang di dalamnya. Ramon yang mengemudikan mobil dan Hendri berada di sampingnya, sedangkan Nadya dan Beti berada di bangku tengah, dan Lia berada di belakang. Ara segera naik dan menemani Lia di bangku belakang.

Penampilan Ara hari ini simpel saja, dengan blouse biru muda yang tidak terlalu ketat, memakai celana panjang berbahan kain warna putih, yang juga tak terlalu ketat. Penutup kepalanya adalah sebuah kerudung putih simpel tanpa hiasan macam-macam. Wajahnya juga hanya dipoles bedak tipis saja, sedangkan bibirnya yang secara alami berwarna merah muda tak dia beri apapun.

Penampilan Ara yang sebenarnya biasa ini sempat mempesona Ramon dan Hendri. Ramon yang sedari awal merencanakan untuk berbuat buruk kepada Ara tentu semakin bersemangat begitu melihat penampilan Ara ini. Penampilannya yang sederhana tanpa menonjolkan bagian-bagian tubuhnya tetap membuat dirinya terkagum, karena dengan berpakaian seperti itu saja mata keranjangnya masih bisa melihat lekuk-lekuk indah tubuh Ara.

Sedangkan bagi Hendri, yang sebelumnya sempat terpesona dengan penampilan Lia yang tak lain adalah sasarannya, kini sejenak melupakan Lia ketika ada pemandangan yang lebih indah tersaji di hadapannya. Namun mengingat ini adalah rencana Ramon, dia tak mau mengacaukannya dan tetap pada tujuan awalnya untuk mendapatkan Lia.

“Haiii semuanyaa,” sapa Ara saat hendak masuk ke mobil.

“Haii Ara, duh cantik banget adek kita ini,” puji Beti.

“Ah Mbak Beti bisa aja, kalian bertiga juga cantik-cantik lho hari ini,” ujar Ara tersipu.

“Nah ibu-ibu cantik, udah siap semua kan? Kita berangkat ya?” tanya Ramon menyela.

“Siap boss,” ujar keempat wanita itu bersamaan.

Selama perjalanan mereka asyik dengan pembicaraan masing-masing. Nadya dengan Beti membahas tentang rencana mereka untuk berburu belanjaan di akhir tahun ini, maklum pasti akan ada diskon besar-besaran dimana-mana. Lia dan Ara membicarakan suami mereka masing-masing yang tak bisa menemani liburan mereka kali ini. Suami Ara sudah sejak kemarin malam berangkat ke Jakarta, sedangkan suami Lia pagi ini sudah berangkat ke sekolahnya.

Sedangkan di bangku depan lebih sepi. Ramon nampak berkonsentrasi mengemudi meskipun pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh bayangan Ara. Sedangkan Hendri sesekali menanggapi celotahan istrinya, namun lebih banyak berpikir dan membayangkan rencananya nanti malam. Sudah tak sabar dia untuk segera bermain-main dengan tubuh Lia. Dari keempat wanita itu tentu saja hanya Beti yang mengetahui rencana busuk kedua pria itu untuk para wanita ini. Saat nanti malam Hendri sibuk dengan Lia dan suaminya sibuk dengan Ara, Beti punya rencana tersendiri untuk Nadya. Rencana busuk yang tak disadari oleh ketiga wanita cantik ini.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. Rupanya pagi itu sudah ada beberapa pengunjung yang sampai di pantai itu dan terlihat sedang bermain-main. Keenam orang itu tidak lansung menuju pantai, tapi menuju ke penginapan yang telah dipesan oleh Ramon terlebih dahulu. Nampak disana seorang pria paruh baya yang sedang membersihkan teras penginapan.

“Selamat pagi Pak Yus,” sapa Ramon.

“Eh pagi Pak Ramon, sudah datang tho, saya kira masih nanti siang,” jawab pria itu.

“Iya pak, kami sengaja berangkat lebih awal biar puas main-mainnya, hehe,” ujar Ramon.

“Silahkan masuk pak, bagian dalam sudah saya bereskan kok,” kata pria itu.

“Baik pak, oh iya perkenalkan dulu, ini istri saya Beti, ini teman saya Hendri dan istrinya Nadya. Nah yang dua ini namanya Mbak Lia sama Mbak Ara,” Ramon memperkenalkan rombongannya.

“Salam kenal bapak ibu semua, nama saya Yusri, saya yang ngurusin rumah ini,” ujar Yusri memperkenalkan diri, dan menyalami mereka satu persatu.

“Salam kenal pak,” jawab mereka sambil membalas uluran tangan dari Pak Yusri.

“Saya tinggalnya nggak jauh dari sini, kalau nanti butuh apa-apa tinggal hubungi saya, Pak Ramon sudah punya nomor saya kok,” ucap Pak Yusri.

“Baiklah pak, kami masuk dulu, mau naruh barang-barang sebelum main ke pantai,” ujar Ramon.

“Silahkan pak.”

Mereka berenam pun memasuki rumah penginapan itu. Rumah ini dinding dan lantainya terbuat dari kayu. Untuk fasilitas listrik sudah tersedia dari PLN. Fasilitas air bersih juga sudah tersedia. Di rumah ini ada 5 kamar yang semuanya sama, sedangkan untuk kamar mandi hanya tersedia 2 buah yang terletak di bagian belakang rumah.

“Disini ada 5 kamar, jadi silahkan kalian pilih sendiri kamar kalian ya,” ujar Ramon.

Setelah itu mereka pun masuk ke kamar pilihan mereka. Ramon dan istrinya memilih kamar yang paling depan, sedangkan Hendri dan istrinya memilih kamar persis di samping kamar Ramon. Lia dan Ara memutuskan untuk satu kamar saja, yang terletak di sebelah ruang keluarga. Setelah membereskan barang-barangnya, mereka pun berkumpul di teras lagi, dimana Pak Yusri masih berada disana meskipun pekerjaannya sudah selesai.

“Oke, kalian duluan aja ke pantainya, nanti aku nyusul, masih ada urusan dikit sama Pak Yus,” kata Beti.

“Ya udah, nanti langsung nyusul aja kalau udah selesai ya ma,” ujar Ramon.

“Iya pa.”

Sepeninggal suami dan teman-temannya, Beti pun terlibat obrolan serius dengan Pak Yusri. Terlihat dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan memberikan kepada Pak Yusri. Pria itu tersenyum simpul menerima botol kecil dari Beti itu. Dia sudah mengetahui rencana mereka malam nanti. Ini bukan pertama kalinya Ramon dan Beti kesini, juga bukan pertama kali mereka datang dengan membawa teman-temannya, yang tak lain adalah wanita-wanita cantik untuk diajak ‘berpesta’ dengan panas, dengan bantuan Pak Yusri tentunya.

“Ini om obatnya, jangan lupa nanti malam ditambahkan pas makan malam ya. Saya, Mas Ramon sama Hendri udah nyiapkan penawar untuk kami, jadi yang bakal nggak sadar cuma ketiga perempuan itu,” ujar Beti menjelaskan rencananya.

“Seperti biasa ya nduk? Om dapet jatah kan? Hehe,” ujar Pak Yusri cengengesan.

“Tenang aja om, nanti Beti kasih yang kerudungan itu,” ujar Beti.

“Yang kerudung putih?”

“Bukan om, itu jatahnya Mas Ramon, om nanti yang kerudung biru itu.”

“Haha, suamimu pintar juga ya milih mangsa, oke deh nggak papa, yg biru itu juga cantik kok.”

“Ya udah ya om, saya mau nyusul mereka dulu.”

“Ya udah, makasih sebelumnya ya nduk, kalian emang keponakan om yang paling baik, hehe,” ujar Pak Yusri yang hanya dibalas oleh senyuman dari Beti.

Pak Yusri sebenarnya adalah paman dari Beti. Dia bukan hanya yang mengurusi penginapan ini, melainkan pemiliknya juga. Ramon dan Beti sudah beberapa kali membawa wanita-wanita cantik kemari untuk digauli, dan tentu saja Pak Yusri mendapat bagian dari itu. Dia teringat kembali bagaimana dulu semalaman dia menyetubuhi Tata dan seorang temannya hingga membuatnya kehabisan stamina keesokan harinya. Pak Yusri bahkan merekam beberapa di antaranya dari kamera-kamera tersembunyi di beberapa sudut rumah ini. Rekaman yang dia simpan sendiri untuk bahan colinya, dan beberapa sudah dia upload dan share di forum dewasanya.

Malam ini sesuai rencana, Pak Yusri akan menambahkan ‘bumbu spesial’ pemberian dari Beti tadi di masakanya, yang akan membuat ketiga wanita itu kehilangan kesadarannya. Dan saat itu dia akan datang kembali kesini untuk ikut menikmati tubuh wanita yang sudah dijanjikan oleh Beti, dan tubuh Beti sendiri tentunya. Baru membayangkannya saja membuat celananya sesak. Sudah cukup lama dia tidak menggauli wanita-wanita secantik mereka bertiga. Sudah lama pula Beti tidak menemuinya untuk memanjakan batang kejantanannya. Dan malam ini, sepertinya akan menjadi malam yang indah, tak hanya bagi dia, tapi juga pada kedua orang pria yang menjadi tamunya itu.

***

Pagi ini Safitri membawa anak dan mertuanya untuk berlibur di kawasan Kaliurang. Tujuannya kali ini adalah sebuah museum budaya jawa yang berada di Pakem, Ullen Sentalu namanya. Baru saja mereka sampai dan memarkirkan kendaraannya. Ketika membuka pintu dan keluar dari mobil, hawa sejuk khas pengunungan menyapa mereka. Udaranya masih bersih, segar sekali dihirup memenuhi paru-paru mereka.

Setelah mendapatkan tiket, Safitri beserta anak dan mertuanya segera masuk, dan kebetulan sudah berkumpul beberapa orang disana, dengan seorang pemandu. Safitri bisa saja sebenarnya membawa Andin untuk berlibur di tempat lain, namun dia juga ingin memberikan edukasi kepada anaknya itu, terutama tentang budaya leluhurnya yang tentu saja tak bisa dia dapatkan di sekolah formal.

Disini, sang pemandu memberikan penjelasan-penjelasan mengenai banyak hal. Setiap sampai di satu tempat, mereka berhenti untuk mendengarkan cerita di balik benda-benda yang ada di tempat itu. Diceritakan bagaimana makna-makna dari sebuah pola batik, diceritakan pula tentang makna-makna dari setiap benda dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang jawa secara turun temurun.

Banyak sekali patung-patung, lukisan hingga benda-benda bersejarah yang ada disana. Dari sang pemandu juga para pengunjung mengerti sedikit demi sedikit tentang adat istiadat yang jaman sekarang ini mulai terkikis oleh arus modernisasi yang menguasai anak-anak muda. Anak muda jaman sekarang banyak yang tidak tahu ketika ditanya soal budaya, namun langsung menjawab dengan cepat jika ditanya tentang perkembangan teknologi.

Dari sini para pengunjung mendapatkan pengetahuan yang cukup unik tentang adat dan budaya, yang siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang melestarikan. Kita akan berteriak lantang ketika budaya kita diakui oleh negara lain, namun jika ditanya lebih jauh mengenai budaya itu banyak yang garuk-garuk kepala.

Safitri merasa cukup senang dengan pilihannya kali ini, karena ternyata Andin terlihat begitu antusias mengikuti penjelasan-penjelasan dari sang pemandu. Dia bahkan menanyakan kenapa setiap Sultan Jogja harus bisa menciptakan tarian sendiri, yang dengan senyum manis dijawab oleh sang pemandu, bahwa melestarikan bukan hanya mempertahankan, tapi juga memperkaya, sehingga kelangsungan budaya kita akan terus terjaga sampai seterusnya.

Setelah beberapa jam mengelilingi museum Ullen Sentallu, mereka disuguhi secangkir minuman jahe untuk menghangatkan tubuh mereka. Udara yang sejuk, pemandangan yang asri, kondisi lingkungan museum yang tertata dengan cukup baik mampu memuaskan hasrat berlibur para pengunjung. Akhirnya mereka bisa berfoto ria setelah keluar dari ruangan-ruangan yang memang selama di dalam tidak boleh ada kegiatan memotret. Andin pun beberapa kali berpose lucu ketika sang ibu mengambil fotonya, membuat Safitri dan mertuanya tertawa kegelian. Sebelum keluar dari museum pun Andin masih sempat berfoto dengan patung Ganesha dengan pose lucu.

Namun sebenarnya sejak tiba di museum hingga saat ini, Safitri merasa ada sesuatu atau seseorang yang mengawasinya. Mungkin hanya perasaannya saja, namun biasanya jika merasakan hal seperti itu dia jarang salah, seperti dulu waktu pertama kali kemunculan Marto setelah setahun lebih menghilang. Kalaupun memang benar ada yang mengawasinya, dia jadi berharap itu adalah Marto dan kembali muncul dihadapannya. Namun kali ini, tak ada seorangpun yang menampakkan dirinya.

Safitri jadi berpikir, apa itu justru anak buah Ramon yang mengikutinya, karena dia tahu saat ini Ramon sedang berlibur, sehingga dia bisa mengajak anak dan mertuanya berlibur. Kalau saja Ramon tidak berlibur tentu saja akhir pekan ini dia akan kembali dipaksa melayani nafsu pria jahanam itu, mengingat tamu bulanannya sudah berlalu. Mungkin Ramon mengirim anak buah untuk mengawasinya karena dia tak bisa mengawasinya sendiri.

Namun sepulangnya dari museum perasaannya itu mulai hilang. Dia tak lagi merasa diawasi sekarang. Dia mencoba memastikannya. Ditajamkan indera pengelihatan dan perasanya, mengamati dengan detail kondisi di sekitarnya, dan memang sepertinya tak ada lagi mengikutinya. Ketakutan-ketakutannya belakangan ini memang cukup mengganggu. Mulai dari dirinya yang ditaklukan oleh Ramon, dipaksa melayani Ramon kapanpun dia mau, hingga perasaan selalu diawasi membuatnya tak nyaman menjalani hari-harinya.

Apalagi sekarang permintaan Ramon semakin aneh-aneh. Pernah dia diminta untuk berangkat bekerja tanpa memakai pakaian dalamnya. Meskipun tak ada teman kerja yang menyadari, tapi tetap saja sangat risih bekerja dalam kondisi seperti itu. Dan sewaktu-waktu Ramon bisa mendatanginya untuk memeriksa apakah dia benar-benar menuruti perintahnya atau tidak. Karena pernah sekali melanggar, dia mendapatkan perlakuan yang buruk, bahkan diancam akan dilemparkan ke para anak buahnya yang preman untuk diperkosa beramai-ramai.

Hal itu tentu saja merupakan tekanan mental yang cukup berat buat Safitri sehingga mau tak mau dia harus menuruti perintah Ramon. Dia tak ingin lebih menderita lagi dari ini. Dia tak ingin ada orang lain lagi yang menikmati tubuhnya itu, apalagi diperkosa oleh preman-preman beramai-ramai. Sudah cukup penderitaan batinnya akibat perlakuan Ramon selama ini. Tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau Ramon bertindak lebih jauh dari yang sekarang, bagaimana juga dengan nasib putri satu-satunya itu.

Senyuman dan candaan Andin yang sedang menghabiskan eskrimnya sedikit menenangkan Safitri. Paling tidak dia masih punya alasan untuk bertahan hidup dan berjuang di tengah bencana yang menimpanya, yaitu ingin melihat Andin tumbuh menjadi gadis yang pintar dan baik, dan berharap putrinya itu bisa menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya ketika dewasa kelak.

Mertua Safitri untuk kesekian kalinya menanyakan kepada Safitri apa tidak ada keinginan untuk mencari suami lagi. Kalaupun bukan untuknya, tapi untuk kebaikan Andin juga. Safitri sebenarnya bukannya tak mau mencari pendamping lagi. Saat ini dia sudah jatuh cinta kepada seorang pria sebenarnya, dan dia adalah Marto. Pria yang dulu sangat dibencinya, karena telah berani masuk dan menghancurkan kesetiaannya pada suaminya, namun kini Marto seperti berbeda, Marto tak hanya mendatanginya dengan nafsu saja, tapi ada perasaan sayang yang terbawa di dalamnya.

Tapi sayangnya kini Marto menghilang entah kemana. Beberapa kali dia coba mencari informasi namun nihil. Marto tak meninggalkan nomor yang bisa dia hubungi. Dan kini dia hanya bisa menunggu saja, berharap Marto akan segera kembali. Selain Marto ada pria lain yang kini sedang mendekati Safitri. Seorang rekan dari tempat kerjanya. Umur mereka tak jauh beda, namun pria itu belum pernah menikah sebelumnya.

Namun Safitri sendiri kurang suka dengan pria ini. Dia tahu kelakuan pria ini di luar kantor, bahwa si pria ini memiliki reputasi sebagai seorang playboy. Dalam beberapa kesempatan terlihat pria itu berusaha untuk mendekati Safitri, mencoba mengakrabkan diri dengan menanyakan kabar anaknya, hingga pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi.

Safitri meragukan niat dari pria itu, dia tak yakin pria itu benar-benar tulus mendekatinya karena ingin membina rumah tangga dengannya. Dia curiga pria itu hanya mengincar tubuhnya saja, seperti yang dia lakukan ke beberapa gadis lain. Lagipula, kini Safitri juga masih berada dalam dekapan Ramon. Sehingga dia harus benar-benar menjaga dirinya dari orang-orang yang mendekatinya, menjaga agar jangan sampai ada orang lain yang tahu kondisinya sekarang.

***

Hari sudah beranjak sore ketika Ara menghempaskan pantat indahnya ke pasir. Dia duduk di bawah pohon kelapa, menikmati sebuah kelapa muda disertai dengan hembusan angin yang terasa sejuk. Baju yang dipakainya sudah mulai kering setelah tadi bermain-main air, bahkan oleh Ramon dan Hendri dia diangkat dan dilemparkan ke dalam air. Bukan hanya dia saja, tapi ketiga wanita temannya pun mendapat perlakuan yang sama, hingga mereka berenam basah kuyup jadinya.

Awalnya dia hanya tertawa ketika melihat Hendri dan Ramon mengangkat tubuh Nadya dan dilemparkan ke air. Lalu setelah itu Hendri mengejar dan berhasil menangkap Lia. Dengan bantuan Ramon yang memegangi kakinya, tubuh Lia pun mereka angkat dan mereka lemparkan ke air. Namun dari sudut matanya Ara seperti melihat gerakan tak wajar dari tangan Hendri. Tangan itu berada di dada Lia, dan ketika melempar terlihat ada sedikit gerakan meremas.

Mungkin Lia tidak begitu menyadarinya karena dia sendiri sibuk berontak dari Hendri dan Ramon, dan ketika sudah dilemparkan malah ikut tertawa dengan mereka. Ara yang melihat dari kejauhan sempat tersenyum, sebelum kemudian menyadari pandangan Ramon dan Hendri ke arahnya. Menyadari akan menjadi korban selanjutnya Ara pun berniat untuk menghindar dan berlari menjauh.

Namun sayang gerakan Ara kalah cepat dengan Ramon. Saat baru beberapa langkah berlari Ramon ternyata sudah ada persis di belakangnya mencoba meraih tangan Ara. Ara yang menyadari itu langsung berusaha untuk meliukkan badan untuk menghindari kejaran Ramon. Dia berbelok ke sisi kiri membuat Ramon terkecoh dan hampir terjatuh karenanya. Yes berhasil, pikir Ara ketika mengira berhasil menghindar dari kejaran Ramon, namun karena lengah badannya berhasil diraih dan dipeluk oleh Hendri. Belum hilang kekagetan Ara dan belum sempat meronta, Ramon sudah mendekatinya dan memegang kedua kakinya.

“Kyaaaa ampuuun, jangan Mas Hendriii,” teriak Ara berusaha memohon agar mereka melepaskannya.

“Haha, tinggal kamu aja yang belum basah ini Ra,” jawab Hendri.

Mereka berdua pun membawa Ara agak ke tengah. Ara masih sempat melihat ke teman-temannya dengan tatapan memelas seolah ingin bilang ‘tolongin aku’, namun ketiga temannya itu justru tertawa bahkan melambaikan tangan mereka. Dan sesaat sebelum tubuhnya dilempar, dia sedikit tersentak merasakan salah satu tangan Hendri yang memeluk tubuhnya kini menyenggol daerah payudaranya.

Bukan, bukan hanya menyenggol, karena ada sedikit tekanan disana. Ara yang saat itu hanya memakai bra yang tipis di balik blousenya merasakan benar bahwa tangan Hendri bukannya tidak sengaja menyenggol, tapi benar-benar meremas ringan buah dada kenyalnya. Kejadian yang sebenarnya berlangsung cepat ini terasa begitu lambat bagi Ara dan Hendri. Sedikit senyum tampak dari mulut Hendri, tanpa disadari siapapun.

Senyum kepuasan karena dia berhasil meremas salah satu bukit payudara Ara yang ternyata begitu kenyal terasa di tangannya. Momen yang hanya sepersekian detik itu membuat kemaluannya sontak bereaksi. Namun bagi Ara itu adalah suatu yang sangat memalukan. Wajahnya merona, menyadari ada seseorang yang dengan sengaja meremas payudaranya. Dia pun sedikit menyesali pilihannya yang memakai bra tipis, sehingga tangan basah Hendri bisa merasakan kekenyalan buah dadanya itu.

Hal itu benar-benar berlangsung dengan sangat cepat, saat tiba-tiba BYUR, tubuh Ara dilemparkan ke air yang kebetulan bersamaan dengan datangnya ombak yang tak terlalu besar. Bangkit dari air, Ara yang hendak marah justru ikut tertawa melihat kedua pria itu mengangkat kedua tangan mereka seolah telah memenangkan sesuatu, namun tak lama ketiga temannya datang dan mendorong kedua pria itu hingga terjatuh ke dalam air.

Dari situ mereka pun seru-seruan sendiri, bermain air seperti anak kecil, atau seperti orang yang tak pernah bermain di pantai. Kondisi pantai dan airnya yang bersih membuat mereka nyaman-nyaman saja berlama-lama bermain air, meskipun beberapa kali mendapat peringatan dari penjaga pantai agar jangan bermain terlalu ke tengah, karena memang karakter pantai selatan yang memiliki ombak yang besar, yang jika tak waspada dan berhati-hati bisa menyeret mereka.

Ara dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Lia yang terlihat sangat senang. Dia memang sepertinya benar-benar menginginkan liburan kali ini, atau karena mungkin sudah benar-benar lama tak pergi liburan. Dia bahkan hanya tertawa-tawa saja saat badannya dipeluk dari belakang dan diangkat oleh Ramon maupun Hendri. Beti dan Nadya yang melihat suaminya seperti itu bukannya marah namun malah semakin tertawa.

Beberapa kali Lia dalam pelukan kedua lelaki itu dilemparkan ke air, namun karena tangan Ramon maupun Hendri yang masih tersimpul memeluk Lia, mau tak mau pria-pria itu ikut terjatuh memeluk Lia. Entah apa yang terjadi di dalam air sana, tapi Lia terlihat begitu gembira, meskipun mukanya mulai bersemu merah. Nadya dan Beti juga mendapatkan perlakuan yang sama. Dan bahkan pada akhirnya Ara pun tak luput dari kejahilan kedua pria itu.

Ara merasakan bagaimana tubuhya diangkat oleh Ramon dari belakang, lalu dengan memeluk Ara Ramon menjatuhkan diri ke dalam air. Terasa sekali di pantat Ara, ada sesuatu yang keras menempel di belahan pantatnya. Ada rasa risih disana, namun melihat reaksi Ramon dan teman-temannya yang lain dia juga ikut tertawa saja. Lagipula tak ada gerakan-gerakan aneh lainnya yang dibuat oleh Ramon.

Beda halnya dengan Hendri. Ketika melakukan hal yang sama seperti Ramon, kini Hendri mulai usil lagi. Saat hendak menjatuhkan dirinya bersama Ara, tangan Hendri yang memeluk tubuh Ara mendadak berubah posisi dengan sangat cepat. Bersamaan dengan jatuhnya mereka ke air, kedua telapak tangan Hendri tepat berada di kedua bukit buah dada sekal Ara, dan seperti sebelumnya, ada sedikit gerakan dari kedua tangan nakal itu. bahkan terasa oleh Ara ada yang menempel di belahan pantatnya, bukan hanya menempel, tapi batang yang sudah keras itu juga sedikit menggesek dan menekan disana, seolah ingin memamerkan sesuatu.

Entah sudah berapa jam mereka bermain air, yang pasti kini badan mereka sudah basah kuyup. Pakaian yang mereka kenakan menempel sempurna membentuk lekuk tubuh mereka. Terlebih lagi Lia dan Beti yang memakai pakaian putih, sehingga terlihat jelas bra yang mereka pakai. Sementara itu Ara dan Nadya berusaha menutupi bagian dadanya dengan kerudung mereka.

Ara yang merasa cukup lelah mengajak Lia untuk membeli kelapa muda, namun tampaknya Lia masih ingin berlama-lama bermain air, sehingga dia pergi sendiri. Dari kejauhan dilihat teman-temannya itu asyik sekali bermain. Dia membayangkan pasti akan lebih asyik jika pergi berlibur seperti ini bersama dengan suaminya. Sayang sekali di saat-saat seperti ini justru suaminya masih harus bekerja dan dinas ke luar kota.

Memang sebuah resiko dari suatu pekerjaan, dimana sekarang sepertinya kepentingan pekerjaan ada di atas segala-galanya. Ya mau bagaimana lagi, kita mendapatkan nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga dari pekerjaan itu, ya mau tak mau harus mau diatur, dan mengikuti semua instruksi. Kalau tidak mau diatur maka harus menjadi orang yang mengatur, dengan jalan memiliki usaha sendiri dimana kita yang menjadi bossnya disitu.

Tuntutan dalam pekerjaan memang semakin lama semakin tak tahu diri, membuat kita harus mengorbankan waktu dan kebersamaan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Memang jika bekerja dengan baik tanpa banyak neko-neko, kebutuhan secara finansial akan terpenuhi, tapi satu hal yang sangat penting dan tak bisa terbeli dengan apapun adalah kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

Hal ini mulai dirasakan oleh Ara, terutama menjelang akhir bulan, apalagi akhir tahun seperti ini. Dia ingin punya waktu lebih bersama suaminya, namun segala kesibukan mereka berdua membuat hal itu jarang bisa terwujud. Karena itulah saat mendapat kesempatan sekecil apapun selalu mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kalau kuantitas tak bisa didapat, ya harus dikerjar kualitasnya, begitu prinsip Ara. Hal yang mungkin terjadi juga pada kebanyakan orang.

Asyik dalam lamunannya membuat Ara tak sadar kalau di sampingnya kini sudah duduk seseorang. Bahkan saat orang itu mulai menyeruput es kelapa muda yang dipegangnya Ara masih belum menyadarinya. Pandangannya masih lurus ke depan, ke arah teman-temannya yang sedang bermain. Namun pikirannya sedang berada di tempat lain sehingga tak menyadari bahwa temannya yang sedang bermain itu sudah berkurang orangnya.

“Mau disini sambil nunggu sunset

“Astagfirullah, ih Mas Ramon ngagetin aja deh,” ujar Ara terkejut kemudian menoyor lengan Ramon, yang sudah melepaskan kaos yang dipakainya.

“Haha, lha kamu ini malah duduk ngelamun, kesambet lho entar,” canda Ramon.

“Hehehe,” Ara malah nyengir mendengarnya, membuat Ramon semakin gemas saja dengan wanita yang sedang hamil muda ini.

“Kenapa Ra? Inget suami?” tanyanya.

“Iya mas, enak kali ya kalau liburan gini sama suami,” jawabnya kembali menerawang jauh.

“Iya sih, sayang aja suamimu lagi tugas Ra, mana dari Jogja cuma dia yang berangkat,” sahut Ramon sambil menatap Ara. Ramon terkagum dengan sosok Ara ini. Pertama kali melihatnya ketika datang ke pernikahannya, Ramon sudah tertarik dengan gadis ini. Terlihat anggun sekali malam itu.

Pertemuan selanjutnya ketika mengantarkan dan menjemput suaminya yang bersama-sama dia mengikuti training di Surabaya beberapa bulan yang lalu, dan kini mereka bertemu lagi. Penampilannya yang terbilang sederhana tak bisa menutupi pesona yang dipancarkan oleh Ara. Membuat lelaki manapun rasanya tak keberatan untuk meluangkan beberapa detik waktunya hanya untuk menengok dan menikmati keindahan ini.

Mata Ramon mulai jelalatan memandangi tubuh Ara. Bajunya yang masih sedikit basah membuatnya tercetak membentuk lekukan tubuhnya. Dan meskipun tertutup kerudung, Ramon masih bisa melihat gundukan yang cukup menantang di bagian dada Ara. Dia tak sabar untuk segera menelanjangi Ara malam ini, dan mencicipi sedikit kenikmatan dari tubuh indah itu, sebelum nantinya diserahkan kepada bossnya, Fuadi.

Ara yang tengah melamun tak menyadari tatapan nakal dari Ramon. Dia tak menyadari apa yang mengincarnya malam ini. Tapi dia cukup senang karena akhirnya bisa pergi ke pantai setelah beberapa kali rencananya gagal karena kesibukan suaminya. Meskipun tanpa ditemani suaminya kini paling tidak dia bisa pergi beramai-ramai, senasib dengan Lia.

Oh iya, dia teringat Lia. Diedarkan pandangannya di sekitar pantai, tapi tak menemukan keberadaan Lia. Bahkan Hendri, Nadya dan Beti juga sudah tak ada disana. Kemana ya mereka? Pikir Ara. Dia kemudian menatap ke arah Ramon, yang sedang menikmati es kelapa muda di tangannya.

“Yang lain kemana mas? Kok udah pada ngilang?” tanya Ara.

“Kamu sih kelamaan ngelamun disini. Tuh pada naik ke tebing nungguin sunset, aku disuruh nyamperin kamu, mau ikut kesana apa nggak? Atau mau nunggu sunset disini aja?” jelas Ramon.

“Oalah, hehe, ya udah kita nyusul kesana yuk mas,” ajak Ara.

“Entar dulu ya, nanggung nih, habisin kelapa mudanya dulu Ra,” jawab Ramon.

“Oh iya deh,” Ara pun segera mengambil kelapa muda miliknya dan segera menghabiskannya.

“Jadi udah berapa minggu kandunganmu Ra?” tanya Ramon mengalihkan topik.

“Mau tiga minggu mas, hehe,” jawab Ara.

“Oh, ya dijaga yang baik, banyakin tuh makanan-makanan yang baik buat janin,” ujar Ramon menasehati.

“Hihi, iya mas,” jawab Ara singkat.

Ramon ingin tahu tentang kehamilan Ara, karena ini ada hubungannya dengan rencana pesta akhir tahun mereka. Meskipun Ara hamil atau tidak rencana itu akan tetap berjalan, tapi jika usia kandungannya masih muda begini tak akan terlalu berpengaruh. Sekali lagi dia menatap Ara, merasa sayang sekali kalau wanita seistimewa ini nantinya dijadikan budak nafsu preman-preman anak buah mereka. Ramon sedikit berharap agar sang boss tidak berniat memberikan Ara kepada anak buah rendahan mereka, ataupun menyingkirkannya.

Dia berharap sang boss berhasil mencuci otak Ara sehingga di kemudian hari bisa dijadikan gundik bossnya, dan tentunya sesekali dirinya boleh ikut menikmatinya. Menurut pemikiran Ramon, Ara memang perlu dicuci otaknya nanti, karena kalau tidak dia pasti akan membenci mereka seumur hidup.

Jika rencana malam akhir tahun nanti berjalan dengan lancar, maka Ara akan diperkosa di depan orang-orang yang dia cintai, kemudian dengan matanya sendiri Ara akan melihat seluruh keluarganya dibantai. Hal itu tentu saja tak akan diterima begitu saja oleh Ara, sehingga jika tak dicuci otaknya atau tidak disingkirkan, pasti dia akan membalas dendam suatu saat nanti.

Ramon jadi berpikir, sayang sekali Ara terlahir dari keluarga Wijaya. Coba saja dia terlahir dari keluarga lain yang tak memiliki persoalan seberat ini. Ramon pasti sudah dari lama berusaha untuk bisa mendapatkan gadis itu. Setelah belum lama dia bisa meniduri Nadya dan Safitri, kedua wanita ini seolah tak mampu mempertahankan diri mereka dalam memori Ramon ketika kini Ramon sudah terpesona dan terobsesi oleh sosok lembut seorang Ara. Dia benar-benar tak sabar menunggu datangnya nanti malam, menunggu datangnya saat-saat dia menelanjangi Ara, saat-saat dia menikmati setiap jengkal permukaan kulit Ara, dan saat-saat kedua kelamin mereka akhirnya menyatu.

“Udah yuk Ra, kita susul mereka,” ajak Ramon mengulurkan tangannya untuk membatu ara bangkit.

“Yuk mas,” Ara kemudian meraih uluran tangan Ramon dan berdiri. Ditepuk-tepuk pantatnya terlebih dahulu untuk membersihkan dari pasir, lalu mengikuti langkah Ramon menuju ke tempat teman-temannya sedang menunggu matahari terbenam.

***

Pak Yusri nampak sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam para tamunya. Entah kenapa hari Beti meminta dirinya untuk memberikan obat itu dengan dosis yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Dengan dosis itu pastinya akan membuat yang mengkonsumsinya benar-benar kehilangan kesadarannya. Pada korban-korban mereka yang sebelumnya tak pernah dia memberikan dosis yang banyak, hanya untuk membuat mangsanya lemas tanpa bisa melawan sehingga masih dapat merasakan penolakan-penolakan dari para korbannya, dan itu membuat sensasi kenikmatan yang didapatkan lebih lagi.

Mungkin memang ada sesuatu dengan para korbannya itu, atau memang ada kondisi dimana para korban ini harus dibuat benar-benar tidak sadar. Dia tak terlalu memusingkannya karena buatnya yang penting hari ini dia mendapat jatah lagi untuk ikut menikmati salah satu dari wanita yang dibawa oleh keponakannya itu.

Malam ini Pak Yusri menyiapkan menu ikan laut, kepiting dan cumi-cumi. Bahan-bahan yang tentunya sangat mudah dia dapatkan untuknya yang tinggal di lingkungan pantai seperti ini. Setelah semuanya telah siap, termasuk nasi dan lalapannya, diapun segera membawanya ke penginapan. Jarak antara rumahnya dengan penginapan tak terlalu jauh, sehingga Pak Yusri tak terlalu buru-buru. Lagipula matahari juga baru saja terbenam, para tamunnya juga paling-paling baru saja kembali dan masih membersihkan tubuh mereka.

Sesampainya di penginapan ternyata Ramon dan Hendri sedang berada di teras, sedang berbincang sambil menikmati hembusan asap dari rokok mereka. Nampak keduanya belum mandi, masih dengan pakaian tadi siang yang terlihat agak basah. Sebentar Pak Yusri menyapa mereka sambil membawa makanan-makanan itu masuk. Sepintas dia mengerlingkan matanya kepada Ramon, memberikan kode bahwa obat yang diberikan Beti sudah ditambahkan sesuai dengan permintaan, dan Ramon membalasnya dengan tersenyum menganggukkan kepala.

Sesampainya di dalam, terlihat Ara dan Nadya yang sudah selesai membersihkan diri mereka. Ara yang menurut Pak Yusri paling cantik dalam rombongan ini, memakai pakaian yang lebih santai, dengan kaos lengan panjang bergaris-garis vertikal, celana panjang warna biru tua, dan kerudung dengan warna yang senada dengan celananya. Sedangkan Nadya juga nampak menarik dengan balutan kaos lengan panjang yang sedikit lebih ketat daripada yang dipakai Ara, kerudung putih yang menutupi kepalanya, serta celana panjang merah yang juga cukup ketat membentuk keindahan kakinya.

Sempat tersungging senyum dari bibir Pak Yusri. Dia yang sudah memasang kamera pengintai di beberapa sudut di penginapan ini, termasuk di kamar mandi, tentu nanti akan bisa melihat bagaimana tubuh telanjang ketiga wanita itu. Jika memang hanya diberi jatah untuk menikmati Nadya saja, dia bisa melihat bagaimana adegan persetubuhan Lia dan Ara dari rekaman kameranya nanti.

Dia memang tak terlalu banyak menuntut kepada kedua keponakannya itu, karena setiap kesini dan meminta bantuannya, dia pasti mendapatkan jatah juga. Beberapa kali dia diberi kesempatan untuk ikut menikmati semua wanita yang dibawa kesini. Kalau ada yang sampai tidak boleh dia nikmati, itu artinya memang ada kepentingan lain di baliknya, dan Pak Yusri tak pernah mau ambil pusing untuk hal itu, biarlah menjadi urusan Ramon dan Beti saja, baginya asal uang dan kenikmatan bisa dia dapatkan, itu sudah cukup. Apalagi selama ini, dari sekian wanita yang telah dibawa kesini oleh keponakannya itu, tak ada satupun yang gagal memuaskan hasratnya.

Pak Yusri kemudian menyapa Nadya dan Ara dengan sopan, dan mendapatkan balasan yang juga sopan dari keduanya. Melihat Pak Yusri yang sendirian mengurusi hidangan untuk makan malam mereka membuat Nadya dan Ara merasa tak enak hati, hingga akhirnya membantu untuk sekedar membereskan piring-piring dan perlengkapan lainnya.

“Pak Yus kok sendirian? Nggak ada yang bantuin pak?” tanya Ara.

“Tadi yang masak ijin langsung pulang mbak, jadi ya saya sendirian, biasanya sih ada yang bantuin kok,” jawab Pak Yusri.

“Wah kayaknya enak-enak ini pak, yang masak siapa pak?” tanya Nadya.

“Ada tetangga saya, yang emang kerjanya tukang masak buat penginapan ini mbak,” jawab Pak Yusri sopan, padahal dalam hatinya lain.

Setelah menyiapkan semuanya Pak Yusri pun memohon ijin untuk pergi. Saat itulah Beti dan Lia sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dan sekarang giliran Ramon dan Hendri yang membersihkan diri mereka. Sambil menunggu kedua lelaki itu selesai mandi, keempat wanita itupun asyik bergosip ria di ruang tengah. Ara yang memang terbilang lugu sempat beberapa kali dikerjai oleh teman-temannya ini sehingga mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Tak lama kemudian kedua lelaki itu telah selesai mandi dan berpakain. Mereka segera saja menyantap hidangan yang disediakan oleh Pak Yusri. Sebelum makan bersama, tanpa diketahui oleh Ara, Nadya dan Lia, ternyata Ramon, Hendri dan Beti telah meminum sesuatu, yang tak lain adalah penawar dari obat yang diberikan pada makanan mereka. Mereka makan dengan lahapnya tanpa tahu apa yang akan terjadi nantinya. Setelah habis hidangan di meja, kini para wanita bersama-sama membereskan meja makan, dan meletakkan piring-piring kotor itu di belakang, lalu kembali lagi ke ruang tengah untuk bersantai.

Ara sempat kembali ke kamarnya untuk mengabari sang suami. Sebentar dia telepon suaminya untuk memberi tahukan apa saja yang mereka lakukan sesiangan tadi. Budi pun juga menceritakan betapa jengkelnya dia dibuat oleh kantor pusatnya itu, dimana dia dan peserta rapat lain dari masing-masing daerah diharuskan menyiapkan presentasi tentang performa selama satu tahun ini. Beruntung Budi sudah menyiapkan semua data itu sebelum berangkat, sehingga kini materinya sudah selesai. Namun teman-temannya yang tidak siap dari tadi sibuk sendiri-sendiri untuk menghubungi kantor cabangnya minta agar dikirimkan data yang mendukung materi presentasi mereka.

Lia juga berniat menghubungi suaminya untuk memberikan kabar. Namun beberapa kali ditelepon tak ada yang diangkat. Mungkin malam ini memang sedang ada acara dan tak bisa diganggu, hingga dia memutuskan untuk meninggalkan pesan dengan memberi tahukan kondisinya, apa yang tadi mereka lakukan dan apa rencana untuk malam ini dan besok pagi.

Setelah itu keduanya kembali ke ruang tengah untuk berkumpul dengan yang lainnya. Nampak Ramon sedang duduk merangkul Beti, dan Hendra juga merangkul mesra Nadya. Keempatnya sedang terlibat obrolan seru hingga terdengar gelak tawa dari mereka. Lia dan Ara yang baru bergabung pun jadi mengikuti candaan-candaan mereka. Kemesraan yang sepertinya sengaja dipamerkan oleh kedua pasangan itu membuat Lia sedikit risih. Dia membayangkan kalau saja dirinya dan Ara ditemani juga oleh suami mereka masing-masing pastinya suasana malam ini akan bertambah syahdu bagi mereka. Namun yang ada kini dia agak kesal juga dipameri seperti itu.

“Duh yaa, yang sama pasangannya mesra-mesraan teruuus,” ledek Lia.

“Haha, ada yang pengen tu mah,” jawab Hendri.

“Iyaa, salah sendiri suaminya nggak dibawa, haha,” sahut Nadya.

“Yee bukannya nggak dibawa yaa, emang nggak bisa ikut kok,” ujar Lia cemberut.

“Ya udah mesra-mesraan sama Ara itu aja Li,” ujar Ramon sekenanya.

“Lah, emang kita perempuan apaan?” jawab Lia.

“Hahaha,” mereka pun akhirnya tertawa bersama.

Efek dari obat yang diberikan Pak Yusri tadi belum terlihat. Obat itu memang termasuk obat yang reaksinya lambat. Sengaja obat itu yang dipilih oleh Ramon, agar tidak terlalu mencolok, begitu selesai makan langsung pingsan. Dia ingin menampakan kesan seolah mereka begitu keletihan setelah seharian bermain-main di pantai. Dan setelah sekitar 10 menit mereka ngobrol, efek obat mulai terlihat.

Nadya yang pertama kali menguap. Dia sandarkan kepalanya di bahu Hendri, yang kemudian dielus-elus kepalanya oleh suaminya itu. diperlakukan seperti itu tentu saja membuat Nadya semakin nyaman dan semakin berat matanya. Tak lama kemudian Ara menyusul. Dia tiba-tiba saja merasakan kantuk, namun merasa tak enak jika harus meninggalkan teman-temannya yang masih ngobrol, lagipula ini kan masih sore, pikir Ara, sehingga dia berjuang untuk melawan kantuknya itu.

Lia pun menyusul tak lama kemudian. Matanya tiba-tiba menjadi berat, rasa kantuk yang teramat menyerangnya. Lia memang banyak bermain dan berlarian tadi sehingga dia sendiri berpikir kalau dia memang sedang kelelahan saja. Sama seperti Ara, Lia juga sedang berusaha sekuatnya untuk menahan kantuknya itu. Namun lama-kelamaan matanya semakin berat, hingga semua terasa begitu hitam, meskipun sayup-sayup masih dia dengarkan candaan dari Ramon dan Hendri.

Ramon dan Hendri sendiri yang menyadari obat mereka mulai bekerja awalnya acuh saja. Mereka masih asyik dengan guyonan mereka, sambil menunggu ketiga wanita itu benar-benar tertidur dan kehilangan kesadarannya sama sekali. Setelah memastikan istrinya tertidur dalam dekapannya dengan mengguncang-guncang badan Nadya, Hendri kemudian mengoyangkan badan Lia yang duduk di sebelah Nadya, tak ada reaksi juga dari Lia.

Ramon pun berdiri dan mendekati Ara. Digoyangkan bahu wanita itu, tak ada respon. Dielus-elus wajah cantik Ara, tak ada respon juga. Dengan sangat nakalnya tangan Ramon meremas dada Ara, juga tak ada respon. Melihat hal itu kedua lelaki itu tersenyum lebar. Beti pun segera mengirim SMS kepada Pak Yusri untuk segera datang ke penginapan, karena ketiga mangsa sudah siap untuk dinikmati.

“Mereka udah pingsan sepenuhnya Hen,” ujar Ramon.

“Iya Mon, saatnya pesta kita, haha,” jawab Hendri tanpa melihat Ramon. Dia sudah beranjak mendekati Lia, melakukan sama seperti yang dilakukan oleh Ramon kepada Ara, meremasi gemas kedua bukit payudara Lia. Sama sekali tak ada respon dari Lia, ini menandakan bahwa wanita ini telah benar-benar tak sadar. Hendri sudah tak peduli dengan kondisi istrinya, kini dia memajukan bibirnya untuk mengecup ringan bibir Lia.

“Udah, langsung aja angkut cewek itu Hen, bawa ke kamar. Aku juga mau bawa Ara ke kamarnya,” ujar Ramon sambil dia mengangkat tubuh Ara, dan segera menuju ke kamar yang sejatinya di tempat oleh Ara dan Lia.

Hendri pun segera mengangkat tubuh Lia, dan membawa ke kamar yang dia tempati sendiri bersama istrinya. Mereka berdua tak lagi menghiraukan, bahwa di ruangan ini masih ada dua orang wanita lagi. Yang satunya masih sadar, dan yang satunya sudah pingsan. Tapi memang tujuan dari kedua lelaki itu adalah Lia dan Ara, sehingga tubuh pingsan Nadya dibiarkan begitu saja, toh kedua lelaki itu sudah pernah merasakan jepitan liang kemaluan Nadya.

Namun tak lama setelah Ramon dan Hendri masuk ke kamar dengan mangsanya masing-masing, datanglah Pak Yusri yang sebenarnya dari tadi hanya menunggu di dekat penginapan tanpa beranjak. Melihat Nadya yang terkulai pasrah di kursi membuat senyum Pak Yusri mengembang lebar. Dia hampiri Beti terlebih dahulu, dicium dengan ganas bibir keponakannya itu, sambil tangannya meremasi payudara Beti yang kenyal. Dia sudah merindukan kehangatan tubuh dari keponakannya itu. sudah cukup lama Beti tak kesini, baik sendiri maupun membawakan wanita untuknya, sehingga dia lebih sering melampiaskan hasratnya kepada gadis-gadis muda yang ada di sekitar rumahnya.

Puas mencumbui Beti, Pak Yusri kemudian menuju ke Nadya. Wanita ini nampak begitu terlelap dalam tidurnya. Selain karena kelelahan bermain seharian, tentu saja efek dari obat yang dia berikan tadi membuat Nadya tak akan tersadar hingga keesokan harinya, seperti Lia maupun Ara. Namun ternyata Beti dan Ramon punya rencana lain.

Beti sudah menambahkan sesuatu di minuman Nadya. Sesuatu yang sama seperti yang dia, Ramon dan Hendri konsumsi, meskipun dosisnya lebih kecil. Hal ini untuk membuat Nadya tak sampai harus tak sadarkan diri hingga esok hari seperti Lia dan Ara. Obat tidur yang telah ditambahkan Pak Yusri hanya akan bertahan beberapa saat saja pada Nadya, setelah itu dia akan tersadar. Mereka ingin membuat Nadya menikmati persetubuhannya dengan Pak Yusri, dan tentu saja membuat Nadya menjadi wanita binal yang tergila-gila mencari kepuasan dari pria-pria lain.

Pak Yusri ikut saja dengan semua rencana mereka, yang penting baginya adalah dia masih bisa mendapatkan jatah dari korban Ramon dan Beti. Dia lalu duduk di samping Nadya, membelai lembut wajah ayunya. Tangannya turun merogoh gundukan yang sedari tadi siang membuat jakun Pak Yusri naik turun. Terasa kenyal, dan lembut. Bagaimana rasanya ya jika menyentuhnya langsung tanpa penghalang, batin Pak Yusri. Tak mau berlama-lama kemudian Pak Yusri mengangkat tubuh Nadya, dan memasuki sebuah kamar kosong yang tidak terpakai oleh mereka, diikuti oleh Beti setelah sebelumnya dia menutup dan mengunci pintu penginapan, dan pertempuran pun nampaknya akan segera dimulai.

***

Next to Part 2

alan_smith

alan_smith

Tukang Semprot
Thread Starter
Daftar
24 Oct 2015
Post
1.101
Like diterima
1.478
Lokasi
disini aja
Chapter 17
The Fuck-cation, Part 2​

Hendri merebahkan tubuh Lia di ranjangnya. Dengan sangat terburu-buru dia segera saja melucuti pakaiannya sendiri hingga kini bertelanjang bulat. Nampak penisnya yang langsung mengacung, karena memang sedari tadi pikirannya dipenuhi oleh bayangan-bayangan bersetubuh dengan sahabat istrinya itu. Dia berdiri sesaat menatapi tubuh Lia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Senyumnya terkembang lebar. Malam ini, satu lagi wanita selain istrinya sendiri, yang akan dia nikmati sepuasnya.

Dengan tak sabar pula dia segera menelanjangi Lia. Ditariknya kaos Lia ke atas hingga lolos melewati kepalanya, lalu dibuang begitu saja di lantai. Lalu celana legging yang dipakai Lia pun menyusul kaos itu tercampak di lantai. Melihat Lia yang kini hanya tinggal memakai pakaian dalamnya saja semakin membuat penis Hendri mengeras. Wajah Lia yang sendu, dengan rambut panjang tergerai yang diwarnai sedikit kecokelatan, bibirnya yang merah dan tebal, uh sungguh mengundang untuk segera dicumbui.

Dengan cekatan Hendri melepasi bra dan celana dalam Lia, hingga kini mereka berdua benar-benar polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh keduanya. Hendri sempat terpaku, terutama saat menatap daerah selangkangan Lia yang bersih tak ada rambutnya sama sekali, seperti baru dicukur. Ditatapnya payudara Lia, mungkin hampir sama dengan milik istrinya, putingnya pun sama-sama berwarna coklat muda, lebar areolanya pun tak jauh beda, namun kulit Lia sedikit lebih putih daripada istrinya, maupun dengan Beti istri Ramon.

Hendri segera menubruk tubuh telanjang Lia. Bibirnya dengan rakus menciumi wajah cantik wanita ini. Lidahnya dia sapukan ke sekujur wajah Lia, seolah tak ingin ada sejengkal bagian pun yang terlewat. Saking rakusnya Hendri mencumbui Lia sampai-sampai wajah ayu itu penuh dengan air liur Hendri. Tak puas dengan itu, dengan bantuan tangannya Hendri membuka sedikit bibir Lia, lalu lidahnya dia masukan ke rongga mulut Lia, mencari-cari lidah Lia untuk dia kait dan dihisapinya.

Hal yang cukup sulit tentunya mengingat kondisi Lia yang sepenuhnya tak sadarkan diri membuatnya sama sekali tak ada respon. Tapi Hendri tak menyerah, gagal dengan lidah Lia, dia melumat bibir Lia dengan ganasnya. Ditarik-tarik bibir itu, kadang digigitnya dengan gemas namun tak sampai melukainya, lalu sesekali dihisap dengan kuat. Hendri sebenarnya mengharapkan ada reaksi atau respon dari Lia, namun tentu saja tak bisa dia dapatkan.

Untuk pertama kalinya Hendri menyetubuhi seorang wanita dalam keadaan sama sekali tak sadarkan diri. Kurang nikmat menurutnya, karena itu artinya sampai akhir permainan nanti dia hanya akan bekerja sendirian. Namun inilah jalan satu-satunya untuk bisa menikmati tubuh indah sahabat istrinya itu, kalau melakukannya dengan sadar tak mungkin Lia bersedia melayaninya, kecuali harus dipaksa.

Tapi Hendri tak mau terlalu jauh memikirkannya. Yang paling penting baginya malam ini adalah dia bisa menancapkan penis kerasnya itu ke vagina Lia, dan tak lupa untuk mengambil beberapa foto, yang nantinya akan dimanfaatkan oleh Hendri untuk kembali bisa menggauli Lia. Setelah malam ini, dia yakin hari-hari selanjutnya akan lebih untuk bisa menikmati tubuh Lia lagi. Dengan berbekal foto persetubuhan mereka, nantinya pasti akan lebih mudah untuk memintanya kepada Lia, tanpa harus membuat Lia tak sadarkan diri seperti ini, sehingga dia akan mendapatkan perlawanan yang seimbang dari Lia.

Malam ini yang harus dilakukan Hendri adalah memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin, menikmati tubuh Lia semau dia, dan tak lupa membuat barang bukti, siapa tahu berguna kelak. Dan kini, lidah Hendri menyusuri ke samping, menuju telinga Lia. Dijilatinya hingga basah pada bagian itu, tapi tak terlalu berlama-lama dia melakukan itu karena sama saja, tak akan memberikan pengaruh pada Lia. Kedua sisi telinga Lia kini telah basah oleh sapuan lidah Hendri.

Lidahnya turun, menjelajahi leher putih Lia. Disapukannya kembali lidah itu ke seluruh bagian permukaan kulit leher Lia. Hendri tampaknya benar-benar sama sekali tak ingin ada bagian yang terlewat dari cumbuan bibirnya. Kemudian direntangkan tangan Lia ke kiri dan ke kanan, sejenak dipandanganinya tubuh mulus itu, mengaguminya. Dia tak percaya pada akhirnya bisa menikmati tubuh polos sahabat istrinya ini.

Bibir Hendripun perlahan turun menuju ke buah dada Lia. Meskipun sudah memiliki dua orang anak, namun tubuh Lia masih padat, dan terlihat ada lipatan lemak ataupun kerutan di kulitnya, semua ini adalah hasil perawatan dan senam rutin yang dia jalani. Lia yang ingin selalu menjaga penampilan untuk suaminya, kini harus pasrah, bahkan tak sadar saat tubuhnya harus dinikmati oleh pria lain, suami dari sahabatnya sendiri.

Hendri membuat masing-masing sebuah tanda merah kecil di kedua payudara Lia, tanda yang terletah di dekat areolanya, sehingga tak terlalu mencolok. Hendri tak ingin membuat masalah dengan terang-terangan membuat tanda yang mencolok dan mengundang perhatian suami Lia, karena entah jadi apa kedepannya, tapi yang pasti dia akan terbawa-bawa juga, dan kesempatan untuk menikmati tubuh Lia lagi bisa pupus karena hal itu.

Puas dengan bagian atas tubuh Lia setelah lidah Hendri menjelajahi dan mencucupi wangi di badan hingga ketiak Lia, kini kepalanya semakin turun, menuju ke lembah kenikmatan yang telah dia bayang-bayangkan selama beberapa hari terakhir ini. Begitu melihat aslinya, mau tak mau Hendri terdiam dulu disana, merekam selama mungkin dalam memorinya, sebuah garis tipis di pangkal selangkangan, yang di bagian atasnya terlihat ada sebuah tonjolan kecil yang menggoda dan seolah memanggil-manggil minta dijamah.

Semakin tak tahan, Hendri menyapukan lidahnya ke belahan vagina Lia. Dia tahu tak perlu melakukannya terlalu lama, yang penting adalah bibir vaginanya bisa basah sehingga mempermudah penisnya untuk melakukan penetrasi. Dikuak sedikit bibir vagina Lia, lalu lidah Hendri masuk ke dalamnya untuk melumasi dengan air liurnya, sesekali dijilati klitoris yang menggemaskan itu, berharap reaksi alamiah dari tubuh Lia sehingga bisa mengeluarkan sedikit cairan pelumasnya sendiri.

Setelah dirasa cukup basah untuk melakukan penetrasi, Hendri pun menghentikan aksinya itu, bersiap untuk aksi selanjutnya. Dia posisikan badannya di antara kedua kaki Lia, direntangkannya lebar-lebar kaki itu, lalu didekatkan kepala penisnya yang sudah keras sedari tadi ke bibir kemaluan Lia. Digesek-gesekan pelan kepala penisnya, memberikan kesempatan sejenak bagi kedua kelamin itu untuk saling berkenalan, hingga akhirnya, dengan satu hentakan kasar, penis Hendri masuk sepenuhnya ke vagina Lia.

“Liaaaaaaaa,, akhirnyaaaaaaaa.”

***

Di kamar yang lain, kondisi Nadya pun tak jauh berbeda dengan Lia. Tubuh wanita ini juga sudah polos tak tertutup apapun. Tubuh mulusnya terpampang dengan begitu jelasnya, menampakkan keindahan yang selama ini tersembunyi di balik pakaiannya yang selalu tertutup. Meskipun sudah pernah dinikmati oleh pria-pria selain suaminya, namun keseharian Nadya yang menjaga penampilan dan pakaiannya, tentu membuat Pak Yusri semakin terkesima. Dia tahu tubuh ini sudah pernah dinikmati oleh Ramon, hanya saja mereka tak tahu sebelumnya mendiang Pak Dede juga pernah merasakannya.

Namun tubuh Nadya kini masih menganggur, karena saat ini Pak Yusri sedang bercumbu dengan panasnya bersama Beti. Tubuh Beti juga sudah telanjang bulat. Mereka sedang berpagutan, berciuman dengan ganasnya. Tangan Pak Yusri juga sedang beroperasi di daerah dada Beti, sedangkan tangan Beti mengocok pelan penis Pak Yusri.

Beti cukup merindukan penis ini. Penis yang dahulu merobek selaput daranya, penis yang selalu memberikan kenikmatan tersendiri baginya. Ramon yang memang sedari awal mengetahui hal ini bukannya melarang, malah bekerja sama dengan Pak Yusri untuk bisa menjerat perempuan-perempuan lain untuk dia jadikan budak pemuas nafsunya. Beti tak pernah keberatan dengan hal itu, bahkan turut membantu mereka.

Kehidupan seks bebas yang dianut oleh Beti dan Ramon, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Pak Yusri, baik secara finansial maupun kebutuhan biologisnya. Dengan bantuan dari Ramon, Pak Yusri menyulap rumahnya menjadi sebuah penginapan, yang dilengkapi dengan bermacam fasilitas sehingga menarik minat banyak pengunjung untuk menginap disini. Di penginapan ini bahkan terpasang beberapa kamera pengintai di berbagai tempat.

Pada waktu-waktu tertentu, Pak Yusri menolak semua tamu yang ingin menginap disini, karena akan digunakan sendiri oleh dirinya beserta Ramon dan Beti untuk berpesta, seperti malam ini. Semua kegiatan yang mereka lakukan selama ini terekam dan tersimpan dengan baik oleh Pak Yusri. Bahkan beberapa kali, kegiatan pengunjung lain pun ikut terekam, dan beberapa diantaranya digunakan oleh Pak Yusri untuk menjerat pengunjungnya, terutama para gadis-gadis cantik yang hingga kini masih sering datang untuk melayaninya, dengan penuh keterpaksaan dan berbagai ancaman tentu saja.

Cumbuan Pak Yusri kini beralih ke leher dan telinga Beti, membuat wanita itu mulai mengeluarkan desahannya. Lidahnya aktif sekali menjilati leher Beti, lalu sedikit demi sedikit menuju ke bagian telinganya. Sesampainya di telinga, lidah Pak Yusri masuk mengkorek-korek lubang kecil itu, sambil sesekali menggigit dan menarik daun telinganya. Beti yang semakin naik birahinya mengocok penis Pak Yusri semakin kencang, hingga penis itu terasa semakin keras.

Tak lama berselang cumbuan Pak Yusri semakin turun, dan kini bermain-main di kedua payudara Beti, yang dia rasakan sedikir mengendur dari yang terakhir dia ingat. Mungkin sudah terlalu sering diremasi oleh Ramon ataupun pria-pria lainnya, batin Pak Yusri. Kedua puting Beti tak luput dari aksi mulut nakal Pak Yusri, yang membuatnya kini semakin kencang. Tangan Pak Yusri juga kini telah berada di pangkal selangkangan Beti, membelai-belai bibir vaginanya, sesekali memainkan klitoris Beti.

Mendapat rangsangan sedemikian gencar dari Pak Yusri membuat Beti semakin kelojotan. Tangan kanannya makin kencang mengocoki penis Pak Yusri, sedangkan tangan kirinya bergerak ke arah lain, ke arah tubuh telanjang Nadya yang terbaring tak sadarkan diri di sampingnya. Tangan kiri Beti mengelus-elus dada Nadya, dan sesekali meremasinya, meskipun sama sekali tak ada reaksi dari Nadya.

Puas dengan dada Beti, Pak Yusri lalu merebahkan tubuh telanjang Beti tepat di samping Nadya. Kini dilihatnya dua orang wanita muda yang cantik, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Keduanya memiliki keindahan dan pesona masing-masing. Beti, meskipun sudah sering dinikmati olehnya, namun setiap wanita ini datang kepadanya tak pernah sekalipun tak memuaskannya. Bertahun-tahun lalu ketika dia robek keperawanan dari keponakannya ini, hingga beberapa minggu lalu, Beti selalu bisa memuaskan hasrat birahi Pak Yusri yang tak ada habisnya dimakan usia.

Sedangkan tubuh telanjang Nadya yang tak sadarkan diri, tentu memiliki daya tarik tersendiri untuknya. Dia baru pertama kali ini melihatnya, dan malam ini akan menikmati tubuh wanita yang sehari-harinya berkerudung ini. Dia tahu wanita ini sudah pernah dinikmati oleh Ramon, dan entah ada pria lain lagi atau tidak, namun pengalaman pertama menyetubuhi wanita yang baru dikenalnya, biasanya memberi kenikmatan yang lain kepada Pak Yusri.

Puas memandangi dua wanita yang akan segera memuaskan nafsunya ini, kepala Pak Yusri tiba-tiba saja menunduk dengan cepat ke arah vagina Beti. Beti yang tak siap menerima serangan mendadak itu sempat memekik, namun kemudian hanya desahan-desahan manja yang keluar dari mulutnya. Lidah Pak Yusri terasa begitu terampil memainkan apapun yang berada di bibir vagina Beti.

Rangsangan demi rangsangan yang diterima membuat badan Beti semakin memanas, keringatnya semakin bercucuran, dan liang vaginanya semakin banjir. Dia terangsang berat, birahinya naik tak terkendali. Perlakuan lidah dari pamannya di bibir vagina, hingga jilatan di dalam rongga vaginanya, juga permainan bibir Pak Yusri pada klitoris Beti membuat pinggulnya tak bisa diam, terus bergerak mengejar kenikmatan yang semakin lama terasa semakin datang dan memuncak.

Pak Yusri pandai sekali merangsang wanita, dan hal inilah yang sangat disukai dan dirindukan oleh Beti. Memang sudah banyak pria yang menikmati tubuhnya dengan berbagai maacm perlakuan dan gaya. Namun kenangan-kenangan indahnya bersama pamannya sendiri sejak melepas keperawanannya waktu itu, membuat sebuah perasaan muncul di dalam diri Beti, yang ternyata ikut mempengaruhi libidonya.

Pernah dia merasakan penis yang lebih besar dan panjang daripada punya Pak Yusri, namun penis Pak Yusri yang sudah merengut keperawanannya itu selalu memberikan sebuah kenikmatan dengan caranya sendiri, yang sampai sekarang belum bisa dia dapatkan dari pria lain. Mungkin inilah salah satu hal yang menyebabkan kini Beti memiliki kehidupan seks yang bebas untuk berhubungan dengan siapa saja.

Jilatan lidah Pak Yusri masuk semakin dalam membelah rongga vagina Beti. Dia berusaha memasukkan sedalam mungkin yang dia bisa, sambil menggerak-gerakkan membuat kontak antara permukaan lidah dan dinding kemaluan Beti, yang membuat wanita itu semakin menggelinjang tak karuan. Entah sudah berapa menit dalam keadaan seperti itu, hingga akhirnya tubuh Beti mengejang. Perut dan dadanya terangkat ke atas, melenting, matanya terbuka lebar begitu juga dengan bibirnya, meskipun tak banyak suara yang keluar.

“Aaaaaahhh ooom, Beti keluaaaaarrr,” Beti melenguh panjang ketika orgasmenya datang.

Terasa ledakan cairan cinta memenuhi rongga kewanitaan Beti, yang dengan rakusnya segera dijilati dan dihisap oleh Pak Yusri. Pinggul Beti masih mengejat-ejat, menikmati sisa-sisa orgasmenya. Nafasnya tersengal, namun dia tahu tugasnya belum usai. Masih ada yang harus dia kerjakan, untuk membuat batang kejantanan Pak Yusri semakin keras dan siap untuk memasuki lubang sempit yang berada di pangkal paha milih Nadya.

“Sekarang gantian om yang Beti bikin enak,” ujar Beti sambil tersenyum melirik nakal kepada Pak Yusri.

“Hehe, kamu emang paling tahu gimana nyenengin om.”

Beti pun bangkit, kemudian meraih penis Pak Yusri yang sudah cukup keras itu. Dengan nafas yang sebenarnya masih terengah-engah, tapi dia sangat ingin untuk memanjakan penis yang menjebol keperawanannya ini. Beti tahu pasti sebelumnya Pak Yusri sudah meminum obat kuat, karena malam ini akan ada dua orang wanita yang dia garap, atau bahkan mungkin, bisa dapat bonus jika saja Hendri mau berbagi kenikmatan tubuh Lia.

Beti tak berlama-lama menyenangkan pamannya itu hanya dengan tangan. Kepalanya mulai bergerak turun, mengecup manja ujung kepala penis Pak Yusri, membuat lelaki paruh baya itu sedikit bergetar badannya. Sudah seminggu ini dia sengaja tidak berhubungan badan dengan wanita, mempersiapkan dirinya untuk ‘hidangan’ yang telah disiapkan oleh keponakannya itu.

Perlahan Beti menciumi batang yang sudah tegang itu, mulai dari kepala turun hingga ke pangkal penis Pak Yusri, kemudian naik lagi hingga ke ujung. Lalu lidahnya mulai bergerak nakal di lubang kencing Pak Yusri, digerakkan pelan hingga si empunya penis semakin bergetar badannya. Pak Yusri suka sekali diperlakukan demikian oleh Beti. Permainan mulut wanita itu benar-benar membuat Pak Yusri serasa melayang.

Lidah Beti kemudian perlahan menyusuri permukaan penis Pak Yusri. Setiap bagian dari permukaan penis itu tak luput daari sapuan lidahnya, bahkan kedua buah pelirnya pun mendapat jatah juga. Setelah itu lalu mulut Beti terbuka semakin lebar, memasukkan kepala penis yang menyerupai jamur itu, menahannya disana, sementara di dalam lidahnya kembali menyapu permukaan kulit kepala penis Pak Yusri.

Lelaki itu nampak merem melek keenakan, dan tanpa sadar tangannya menekan kepala Beti agar lebih dalam lagi mengulum penisnya. Beti paham, dan dengan perlahan kepalanya bergerak semakin turun. Beti mengulum penis itu hingga hampir mencapai pangkalnya, lalu ditahan disana, dan lidahna kembali bermain-main di dalam mulutnya. Kedua buah pelir Pak Yusri dimainkan dengan tangannya.

Kepala Beti lalu naik perlahan, hingga hampir terlepas penis itu dari mulutnya, lalu bergerak turun lagi. Begitu perlahan dia melakukannya hingga terasa sekali setiap sentuhan di penis Pak Yusri. Semakin lama gerakan Beti semakin cepat saja, membuat penis itu semakin menegang tak terkendali, sedangkan Pak Yusri setengah mati menahan diri dari kenikmatan yang dia dapatkan itu.

Pak Yusri sendiri kini sudah menjamahi tubuh Nadya yang masih tertidur. Dia buka sedikit kedua kaki Nadya, dan langsung saja jarinya mencolok-colok lubang vagina Nadya. Pertama dimasukkan jari tengahnya, lalu dengan gerakan perlahan dia maju mundurkan jarinya itu di dalam kemaluan Nadya. Tak lama kemudian dia tambahkan lagi jari telunjuknya, dan kembali mengocok vagina Nadya, kali ini dengan tempo yang sedikit lebih cepat.

Hal itu rupanya mampu menstimulus vagina Nadya sehingga perlahan mengeluarkan cairan pelumasnya. Kocokan jari Pak Yusri di vagina Nadya semakin kencang seiring dengan semakin cepatnya kepala Beti naik turun di penisnya. Mulut Pak Yusri sendiri perlahan mulai menuju ke vagina Nadya, dan langsung menjilatinya dengan rakus. Tangan Pak Yusri naik ke dada Nadya dan segera meremas kedua bukit indah itu bergantian.

Sudah 5 menit lebih Beti mengulum penis pamannya ini hingga sekarang sudah benar-benar sangat keras, sudah sangat siap untuk memasuki vagina Nadya. Pak Yusri sendiri juga berhasil membuat vagina Nadya basah oleh liurnya dan cairan pelumasnya sendiri. Beti mengangkat kepalanya, hingga kini nampak penis besar itu telah berdiri kokoh, sedikit basah oleh liurnya. Dioral selama itu tak membuat pertahanan Pak Yusri jebol, sehingga Beti yakin sekali malam ini daya tahan Pak Yusri menyetubuhi mereka berdua akan membuat mereka kewalahan.

“Nah om, udah ngaceng banget nih, udah siap buat make temen saya,” Beti tersenyum menggoda, sementara Pak Yusri hanya tersenyum saja, tersenyum mesum.

Setelah mendapatkan servis oral dari Beti, dan kini penisnya sudah benar-benar keras, saatnya dia menguak kenikmatan yang mengintip dari dalam celah kemaluan Nadya. Lelaki itu segera memposisikan dirinya di tengah-tengah kedua kaki mulus yang baru saja dia buka lebar-lebar. Diraih penisnya, lalu digesek-gesekan kepala penis itu di bibir kemaluan Nadya yang nampak mulai basah.

Dengan sedikit dorongan Pak Yusri memasukan sedikit demi sedikit kepala penisnya. Dia diamkan sebentar, ingin meresapi perkenalan kedua kelamin ini terlebih dahulu. Lalu dengan sangat perlahan Pak Yusri mendorong batang kerasnya masuk ke dalam rongga vagina Nadya. Terlihat Pak Yusri sedikit meringis, bukan karena kesakitan, tapi justru karena kenikmatan dari vagina Nadya yang begitu peret, memijati batang penisnya.

Perlahan namun pasti, kini penis itu sudah tertanam sepenuhnya di dalam vagina Nadya. Beti yang melihat ekspresi kenikmatan dari wajah Pak Yusri juga tak tahan, dan memainkan bibir vaginanya sendiri. Memang sudah beberapa kali Pak Yusri mendapatkan jatah untuk menikmati wanita-wanita yang dibawa oleh Ramon dan Beti kemari, namun baru kali ini dia merasakan jepitan seorang istri muda yang kesehariannya mengenakan kerudung. Teringat akan Nadya yang selalu memakai kerudung, Pak Yusri segera menyuruh Beti untuk memakaikan kerudung Nadya lagi.

“Beti, coba kamu pakein kerudungnya si Nadya lagi ya,” pinta Pak Yusri.

“Waah, om pengen ngentotin cewek kerudungan ya om?” goda Beti.

“Iya nduk, udah lama om pengen itu, hehe,” Pak Yusri menjawab cengengesan.

“Bentar ya om,” Beti pun mencari-cari lagi kerudung Nadya, lalu memakaikan asal-asalan di kepala Nadya, meskipun begitu sudah cukup untuk menutup bagian kepalanya, dan itu sudah cukup bagi Pak Yusri.

Dengan gerakan yang tiba-tiba dan cepat Pak Yusri menggoyangkan pinggulnya, menggenjoti liang vagina Nadya yang masih terasa sempit baginya. Jika saja Nadya dalam posisi sadar mungkin dia sudah teriak-teriak dengan perlakuan kasar Pak Yusri ini. Namun dalam keadaan seperti sekarang ini, Nadya sama sekali tak memberikan respon biar diperlakukan seperti apapun oleh Pak Yusri.

Melihat adegan yang panas ini tentu saja membuat Beti mau tak mau semakin naik birahinya. Diapun semakin intens merangsang dirinya sendiri. Dia tak ingin mengganggu keasyikan pamannya ini. Biarlah sang paman menikmati dulu kenikmatan dari wanita di sebelahnya ini, setelah itu dia akan mendapatkan jatah sendiri. Jari-jari Beti sudah masuk ke vaginanya sendiri, mengocok dengan tempo cepat, secepat genjotan Pak Yusri di tubuh Nadya.

Pak Yusri sendiri bukannya tidak tahu apa yang sedang dilakukan keponakannya itu, tapi dia memang ingin menikmati dulu vagina yang kini tengah dia sodoki. Beberapa saat kemudian terdengar desahan dari mulut Nadya. Nampaknya pengaruh obat tidur sudah mulai hilang darinya. Namun matanya masih belum terbuka, hanya mulutnya saja yang sedikit terbuka dan mengeluarkan desahan lirih.

Pak Yusri mempercepat genjotannya. Tangannya juga mulai meremasi kedua payudara Nadya dengan gemas dan sesekali memainkan putingnya yang juga mulai mengeras. Dia ingin Nadya segera tersadar, dan sama-sama menikmati permainan ini. Dan benar saja, lama kelamaan kesadaran Nadya mulai pulih, desahannya semakin keras. Hal itu tak luput dari pengamatan Beti.

Saat Nadya sudah bisa membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat apa yang terjadi. Tubuhnya yang polos tanpa busana, sedang disetubuhi oleh seorang pria yang baru saja dikenalnya tadi siang. Pria itu juga sudah tak memakai apa-apa lagi. Sementara itu di sampingnya, Beti juga sedang terbaring dalam keadaan telanjang, sedang menatapnya dengan tatapan penuh nafsu, dan terlihat tangan Beti sedang berada di selangkangannya sendiri.

“Aahh mbaakk, apaa apaaan iniiih aaaahh,” desah Nadya hendah protes dan meronta.

“Ssstt, udah sayang nikmati aja, malam ini kita senang-senang sama Pak Yusri,” jawab Beti.

“Tapi mbaaaeeemmphh,” belum selesai Nadya bicara mulutnya sudah dilumat oleh Beti dengan ganasnya. Tangan Beti bahkan menggantikan tangan Pak Yusri untuk meremasi payudara Nadya.

Mendapat perlakuan seperti ini membuat Nadya tak mampu lagi untuk meronta. Pikirannya masih mencoba menelaah apa yang sedang terjadi. Bukannya mereka tadi sedang ngobrol di ruang tengah sepelas makan malam? Lalu bagaimana bisa kini mereka berada dalam satu kamar dalam kondisi seperti ini? Dan dimanakah yang lain? Hendri suaminya, Ramon, Ara dan Lia? Apakah jangan-jangan mereka juga sedang melakukan hal ini.

Kalau Lia mungkin tak terlalu mengejutkan bagi Nadya, tapi Ara? Lalu suaminya, apakah sedang menikmati tubuh dari salah satu, atau mungkin kedua sahabatnya itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Nadya yang masih mencari jawaban dari semua pertanyaan di benaknya langsung saja dibekap oleh nafsu birahinya. Otaknya tak bisa berpikir terlalu banyak lagi karena kenikmatan yang dia dapatkan kini telah menguasainya.

Bahkan yang terjadi sekarang adalah, bayangan suaminya dan Ramon sedang bercinta dengan kedua sahabatnya yang terlintas di benaknya, membuat gairahnya semakin membuncah. Ara yang selama ini dia kenal sebagai seorang wanita lugu, yang tak pernah tersentuh siapapun kecuali suaminya, dan juga mendiang Pak Dede, apakah kini sedang disetubuhi oleh salah satu antara kedua lelaki itu, atau malah keduanya sekaligus?

Namun sekali lagi benaknya tak mampu memikirkan itu terlalu jauh. Goyangan pinggul Pak Yusri terasa begitu nikmat dia rasakan. Belum lagi cumbuan Beti di tubuh bagian atasnya. Kini Nadya sudah benar-benar dikuasai oleh nafsunya. Birahinya ingin segera dituntaskan, hingga dengan sendirinya tubuhnya ikut bergerak, mengikuti setiap gerakan Pak Yusri. Bahkan dinding vaginanya juga memberikan respon dengan meremas-remas penis Pak Yusri di dalam sana.

Pak Yusri tentu saja senang bukan main, merasa mendapatkan balasan dari Nadya. Dia semakin semangat menggenjot Nadya. Terlebih lagi pemandangan erotis di depannya dimana kedua wanita cantik itu sedang berpagutan dengan hebatnya. Pak Yusri merasakan vagina Nadya semakin basah, rupanya wanita ini semakin menikmati setiap tusukannya, dan sepertinya tak lama lagi akan segera mencapai puncaknya, sehingga Pak Yusri semakin mempercepat gerakannya.

Saat itu Nadya tak bisa mengeluarkan lenguhan kenikmatan karena bibirnya sama sekali tak terlepas dari bibir Beti. Bibir mereka saling melumat satu sama lain, saling membelit lidah masing-masing dan saling menghisap bibir serta lidah. Nadya merasakan pertahanannya tak lama lagi akan jebol. Mendapat serangan atas bawah seperti ini membuatnya tak bisa bertahan lama, hingga tiba-tiba,

“Liaaaaaaaa,, akhirnyaaaaaaaa.”

Sayup-sayup dia mendengar suara yang sangat familiar baginya. Itu suara suaminya, Hendri. Dia meneriakan nama Lia, apakah dia sedang menyetubuhi Lia sahabatnya? Sudah beberapa kali memang suaminya berfantasi untuk menggarap tubuh Lia, bahkan ketika mereka bercinta, suaminya menyetubuhinya dengan membayangkan sedang menyetubuhi Lia, sedangkan dia sendiri membayangkan dirinya disetubuhi oleh Ramon.

Nadya sudah mendapatkan apa yang dia bayangkan, yaitu benar-benar telah disetubuhi Ramon, dan dia menikmatinya. Dan kini, suaminya berhasil mendapatkan sahabatnya Lia. Bukannya merasa cemburu, bayangan suaminya sedang menyetubuhi sahabatnya itu entah kenapa justru membuat nafsu Nadya semakin meninggi, hingga akhirnya tanpa bisa dia tahan lagi sebuah gelombang dahsyat datang dari dalam tubuhnya, hingga tubuhnya mengejat-ejat.

“Eeeeeeeemmmpppphhhhhhh.”

Nadya melenguh panjang dalam keadaan bibirnya masih dilumat oleh Beti. Setelah itu tubuhya melemas. Pak Yusri dan Beti menghentikan kegiatan mereka, memberikan kesempatan kepada Nadya untuk meresapi kenikmatan yang baru saja dia dapatkan, dan untuk mengatur nafasnya terlebih dahulu, yang terlihat begitu tersengal-sengal. Mata Nadya masih tertutup, mulutnya sedikit terbuka.

Ini pengalaman baru baginya. Disetubuhi oleh pria lain lagi selain suaminya, bahkan kini dia bersama seorang wanita lain yang sama-sama telanjang. Belum pernah sama sekali dia melakukan threesome seperti ini. Memang pernah terlintas dalam angannya, tapi dia merasa tak mungkin akan melakukan itu. Betapa malunya jika dia harus berhubungan intim dengan dilihat oleh orang lain, atau melihat dengan mata kepalanya langsung orang yang sedang berhubungan intim, dimana dia terlibat di dalamnya.

“Gimana Nad, nikmat kan?” tanya Beti memecah kesunyian.

“Hhhh, ii iya mbak,” jawab Nadya, masih dengan mata tertutup.

“Hehe, kamu harus siap-siap Nad, kita bakal main semalam suntuk lho, iya kan om?” ujar Beti lagi.

“Iya nduk,” jawab Pak Yusri.

Apa? Om? Kenapa Beti memanggil Pak Yusri dengan kata om? Apakah memang mereka sebenarnya saling kenal dan memiliki hubungan keluarga? Kalau iya, apakah memang semua ini sudah direncanakan oleh Beti, dan Ramon? Lalu bagaimana dengan Lia dan Ara? Apakah mereka juga, masuk ke dalam rencana Beti? Nadya menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Kini bisa berpikir lebih jernih. Lalu bagaimana dengan suaminya?

“Mbak Beti, suamiku mana mbak?” tanya Nadya, kali ini menatap Beti.

“Kamu dengar sendiri kan tadi? Biarin aja, suamimu lagi senang-senang dengan Lia, kita senang-senang aja disini bertiga,” jawab Beti sambil tersenyum dan mengelus kepala Nadya.

“Lalu Ara?” tanyanya lagi.

“Ara udah diurus sama suamiku, kamu tenang aja,” jawab Beti.

Diurus? Apa maksudnya juga sedang disetubuhi seperti ini juga? Ya Tuhan, kalau sampai Ara benar disetubuhi oleh Ramon, dia akan sangat merasa bersalah padanya, dan juga Budi suaminya, begitu juga dengan Lia dan Erwin suaminya, karena dialah yang mengajak mereka untuk berlibur kesini. Meskipun pada akhirnya suami mereka ikut mendampingi liburan mereka ini, tapi kalau memang sudah direncanakan oleh Beti dan Ramon, semua ini pasti akan tetap terjadi.

Penyesalan kini muncul dalam diri Nadya, namun apa daya dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Tubuhnya sendiri baru saja mendapatkan orgasme yang begitu hebat dari pria selain suaminya, dan Ramon. Bahkan penis Pak Yusri yang masih tegang masih tertancap di dalam vaginanya. Dia juga merasakn Pak Yusri mulai menggoyangkan lagi penisnya, meskipun sangat pelan.

“Udah ngapain bahas orang lain, yuk kita terusin,” ujar Pak Yusri.

“Hehe, buru-buru amat om. Mau ganti pemain apa lanjut sama Nadya?” tanya Beti sambil memelintir puting Nadya, yang membuatnya kembali merintih.

“Aku masih mau sama Mbak Nadya, tapi Mbak Nadya sekarang di atas ya,” ujar Pak Yusri.

Dengan segera Pak Yusri menarik tubuh Nadya hingga terduduk, lalu tanpa melepas pertautan kelamin mereka, dia memposisikan diri untuk rebahan, sementara Nadya duduk di atas tubuhnya. Sebelum merebah Pak Yusri sempat menciumi bibir Nadya dengan buas tanpa sempat mendapatkan balasan dari Nadya yang terlihat kaget.

“Ayo mbak, goyangin yang binal ya, dan kerudungnya jangan sampai lepas,” ujar Pak Yusri ketika sudah merebahkan tubuhnya.

Nadya masih terdiam tak menjawab. Apakah dia harus melanjutkan permainan ini? Dia masih agak bimbang. Dia sempat melihat Beti bergerak mengangkangi wajah Pak Yusri, memberikan vaginanya untuk dilumat bibir pria itu. Sedangkan tubuhnya yang menghadap Nadya, dia condongkan ke depan, merengkuh leher Nadya, mengajaknya untuk kembali berciuman. Tangan Beti yang bebas tak mau tinggal diam, dengan meremasi kedua bukit payudara Nadya bergantian.

Penis Pak Yusri yang masih berada di dalam vagina Nadya juga mulai bergerak ringan. Rangsangan demi rangsangan yang diterimanya membuat Nadya menyerah, dan kini dengan perlahan dia maju mundurkan pinggulnya, mencoba membalas memberi kenikmatan kepada penis yang beberapa saat lalu sudah memberinya kenikmatan.

Tangan Nadya juga mulai bergerak ke arah dada Beti, dan segera meremasinya begitu sampai di bukit buah dadanya. Gerakan Nadya semakin cepat, nafsu birahi sudah menguasainya. Dia hanya ingin apa yang dimulainya ini bisa dituntaskan dengan sebuah kepuasan. Biarlah rasa bersalahnya kepada Lia dan Ara dia simpan dulu sementara, dan baru akan dipikirkan nanti jika semua ini sudah selesai.

Toh kedua sahabatnya ini sudah tak mungkin hamil karena perbuatan pria-pria lain malam ini, karena Ara sendiri sudah dalam kondisi hamil muda, sedangkan Lia sudah disterilkan karena sepakat dengan suaminya untuk tak menambah anak lagi. Pengalihan pikiran ini benar-benar membuat Nadya lepas untuk bergerak liar. Di dalam kamar itu nampak suasana yang begitu erotis, dimana seorang pria paruh baya sedang terlentang, sedang menikmati dua vagina yang sama-sama nikmat, satu dengan mulutnya, satu lagi dengan penisnya.

***

Ramon tak henti-hentinya tersenyum melihat Ara yang sedang terbaring di hadapannya, tak sadarkan diri. Dari sekian banyak wanita yang telah masuk dalam jerat nafsu dan kini menjadi budak birahinya, wanita ini mungkin yang paling spesial. Seorang wanita muda yang begitu lugu dalam urusan perlendiran. Wanita yang belum lama menikah dan kini sedang hamil muda. Wanita yang menurut sepengetahuannya tak pernah tersentuh oleh pria manapun selain suaminya.

Wanita ini begitu cantik dan mempesona. Penampilannya yang senantiasa tertutup membuat wanita ini semakin anggun. Wajahnya terlihat begitu lugu dan polos. Tak heran jika Fuadi benar-benar tergila-gila dengan perempuan muda ini. Yah, siapa juga lelaki yang tak akan tertarik pada wanita ini. Dia sendiri tentu tak akan melepaskan kesempatan langka ini. Sang boss sudah melarangnya untuk menyentuh wanita ini, tapi kucing garong mana yang akan menolak jika ada ikan tak berdaya di hadapannya seperti ini?

Toh sang boss tak akan tahu apa yang akan dia lakukan. Yang penting dia menuruti kemauan Fuadi, untuk memfoto tubuh telanjang Ara dan mengirimkan foto itu padanya. Selebihnya, itu urusan Ramon. Fuadi tak akan pernah tahu kalau Ramon menyetubuhi tubuh indah Ara malam ini. Bahkan Ara yang sedang tak sadarkan diri inipun tak akan menyadari apa yang sedang terjadi.

Dilihat sekali lagi tubuh itu dari atas hingga ke bawah. Kepalanya yang masih tertutup kerudung, wajahnya yang begitu cantik, dadanya yang nampak membusung indah, perutnya yang masih terlihat rata karena usia kehamilannya yang belum sampai sebulan, lalu pinggulnya yang terbentuk sempurna, pantat kenyal yang sempat dia remas tadi sore, dan kedua kakinya yang jenjang.

Masih tertutup semua, namun sudah terlihat begitu indah. Ramon lalu mengambil beberapa foto Ara dengan ponselnya, lalu mengirimkannya kepada Fuadi. Tak lama kemudian balasan dari Fuadi, meminta foto lagi, yang lebih lagi. Namun Ramon tak ingin buru-buru, dia punya banyak waktu malam ini.

Dia mendekati wajah Ara, lalu mengecup ringan bibir tipis itu. Tapi karena tak ingin membuat sang boss curiga, dia kemudian meraih ujung kaos Ara, lalu perlahan menariknya ke atas. Terlihat kulit perutnya yang begitu putih bercahaya. Ditariknya kaos itu semakin ke atas hingga kini nampaklah bra merah mudah yang dipakai Ara. Terlihat belahan dadanya yang mengintip malu-malu disela penutup dadanya itu.

Ramon terkesima, sungguh beruntung sekali dia malam ini bisa menikmati tubuh indah ini. Wajah mesum Ramon tersenyum, hatinya tergelak melihat di dada Ara ada beberapa tanda bekas cupangan suaminya. Tak lupa Ramon segera mengambil beberapa foto dan mengirimkannya lagi kepada Fuadi. Nampaknya sang boss begitu antusias dengan cepatnya balasan darinya datang, meminta Ramon untuk mengirimkan foto lagi. Ramon tersenyum, lalu perlahan dia tarik celana panjang Ara turun, hingga terlepas dari kedua kakinya.

Ramon semakin terpukau. Tubuh ini begitu sempurna baginya. Kedua kakinya yang jenjang juga nampak putih bercahaya, dan sekali lagi dia melihat beberapa tanda merah di sekitar selangkangan wanita cantik yang masih tertutup celana dalam merah muda ini. Si Budi ini gila juga rupanya, batin Ramon. Dia kembali mengambil foto Ara dan mengirimkannya kepada Fuadi. Sang boss yang menerima foto itu semakin kegirangan, dan meminta Ramon untuk segera menelanjangi Ara.

Tanpa diperintahkan lagi, Ramon kemudian melepas pengait bra di punggung Ara, lalu menyibakannya ke atas, setelah itu menarik lepas celana dalam Ara. Senyum di bibir Ramon semakin terkembang, mendapati kesempurnaan yang selama ini tersembunyi di organ-organ intim Ara. Kini dia bisa melihat bagaimana buah dada putih itu dihiasi oleh sebuah tonjolan mungil yang berwarna merah muda.

Diambil beberapa foto di payudara Ara, lalu dikirimkan kembali ke bossnya. Ada balasan dari Fuadi, tapi nanti dulu, dia pasti ingin dikirimi foto kemaluan Ara. Ramon memegang buah dada Ara, meremasnya ringan, terasa begitu kenyal. Masih padat dan sekal. Beruntung sekali si Budi tiap malam menikmati payudara seindah ini, pikir Ramon.

Namun sekali lagi, dia tak ingin berlama-lama dan membuat bossnya curiga. Dia menuju ke bawah sekarang. Menatap kemaluan Ara yang dihiasi dengan bulu-bulu halus. Tidak terlalu tebal, nampaknya Ara menyusun bulu-bulu itu dengan sangat baik sehingga terlihat begitu indah. Dia ambil fotonya, namun tak langsung dia kirimkan.

Dia buka lebar kedua kaki Ara, hingga menampakkan sebuah garis tipis di pangkal selangkangannya. Ini sungguh indah, lebih indah daripada wanita manapun yang pernah dia setubuhi. Kembali diambil beberapa foto, dan kali ini dia kirimkan langsung kepada Fuadi. Dengan cepat Fuadi membalas pesan Ramon, dan mengingatkan untuk tidak menyentuh wanita itu, dan segera memakaikan pakaiannya lagi, memfoto dan mengirimkan padanya, lalu meninggalkan wanita itu.

Tapi Ramon tidak bodoh. Sebelum ditelanjangi tadi, dia sudah mengambil foto Ara dengan pose yang berbeda, dan foto itulah yang kini dia kirimkan, untuk menyakinkan sang boss bahwa dia tak akan menyentuh Ara.

“Liaaaaaaaa,, akhirnyaaaaaaaa.”

Ramon mendengar Hendri berteriak, sepertinya pria itu sudah berhasil mewujudkan fantasinya selama ini, untuk menyetubuhi sahabat dari istrinya itu. Ramon segera keluar dari kamar, untuk membuat alibi. Dia masuk ke dalam kamar yang dipakai Hendri untuk menyetubuhi Lia. Begitu dia membuka pintu terlihat Hendri dengan penuh semangat memompakan penisnya ke dalam liang kemaluan Lia yang tak sadarkan diri. Hendri yang menyadari kehadiran Ramon sempat terkejut dan menghentikan genjotannya.

“Loh ada apa Mon? Kok kesini?” tanya Hendri.

“Lanjutin aja, aku foto ya,” ujar Ramon.

“Ya terserah kamu aja lah,” Hendri nampak cuek dan melanjutkan lagi genjotannya di tubuh Lia.

Dia sama sekali tak tahu kehadiran Ramon disini hanya untuk membuat alibi kepada bossnya. Dia mengira Ramon mengambil foto hanya untuk dijadikan file pribadinya saja. Dia tahu Ramon tak akan memberikan foto itu kepada istrinya, toh nantinya Ramon juga akan mendapatkan Lia juga, dan dia juga sedikit berharap bisa mencicipi tubuh Ara, yang kini nganggur di kamarnya.

Setelah mengambil beberapa foto persetubuhan Hendri dan Lia, Ramon mengirimkan foto itu kepada Fuadi.

‘Lagi nunggu giliran ini boss,’ ketik Ramon di bawah foto yang dia kirimkan.
‘Haha bagus, lanjutin aja, yang penting jangan sekali-kali kamu sentuh Ara,’ balas sang boss.
‘Oke siap boss.’

Ramon tersenyum merasa berhasil mengelabuhi bossnya. Lalu beranjak pergi meninggalkan Hendri yang masih asyik dengan tubuh Lia. Hendri sendiri tak peduli, dia hanya ingin menikmati Lia sepuasnya malam ini. Gairahnya yang terlalu menggebu membuat Hendri tak mampu menahan ejakulasinya hingga tak lama kemudian dia menekan penisnya dengan kuat, dan menyemprotkan cairan spermanya ke dalam vagina Lia.

Sementara itu Ramon kembali ke kamar dimana tubuh telanjang Ara sedang menunggunya. Dia sempat mendengar desahan-desahan di salah satu kamar yang dia yakini itu adalah suara Nadya, namun dia tak peduli, karena sudah tahu apa yang sedang terjadi disana, pasti Nadya sedang disetubuhi oleh Pak Yusri, dan istrinya sedang melihat dan menunggu giliran untuk disetubuhi oleh pamannya itu.

Hal ini sudah biasa bagi Ramon. Dia bahkan beberapa kali terang-terangan bercinta dengan wanita lain di hadapan istrinya, dan sebaliknya istrinya pernah bercinta dengan pria lain di hadapannya. Mereka berdua sama-sama tak mempermasalahkan hal itu. Keduanya bebas untuk mencari kesenangan masing-masing, asal itu hanya sebatas seks saja. Just sex, no feeling, itulah yang menjadi prinsip mereka ketika bercinta dengan orang lain.

Kini Ramon sudah berada kembali di kamar itu. Kembali dia hampiri Ara yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dia menuju ke pangkal paha Ara yang masih terbuka. Dia kuakkan kedua bibir vagina indah itu dengan jari-jarinya, lalu dia mengambil beberapa foto lagi. Kali ini bukan untuk dikirimkan kepada sang boss, tapi untuk dia sendiri.

Setelah itu dia kembali mendekati wajah Ara. Dia tarik kerudung yang dipakai Ara hingga lepas, lalu menarik kaos dan bra Ara hingga terlepas dari tubuhnya. Kini sempurna sudah wanita cantik ini telanjang bulat. Kembali Ramon mengambil beberapa foto dari berbagai sudut dan dengan berbagai macam pose. Setelah itu dia meletakkan ponselnya begitu saja.

Ramon kembali memakaikan kerudung Ara. Dia ingin sekali menikmati wanita ini dengan kerudung di kepalanya. Sudah lama dia menginginkan ini, sejak melihat Ara di malam pesta pernikahannya waktu itu. Dengan kerudung yang dia kenakan, wajah Ara terlihat lebih manis dan menggemaskan, Ramon suka itu.

Dia menurunkan kepalanya, mendekati wajah Ara. Bibir mereka bersentuhan. Untuk beberapa detik tak ada gerakan dari Ramon, dia hanya menyentuhkan bibirnya saja. Lalu tak lama berselang, bibir Ramon mulai bergerak perlahan, melumat bibir tipis Ara dengan lembut. Bibir merah itu beberapa kali dihisap-hisap oleh Ramon. Biarlah dia tak mendapat respon dari Ara, yang penting malam ini dia akan mendahului pria manapun untuk bisa mencicipi tubuh indah ini, disaat suaminya sedang pergi jauh.

Puas dengan bibir Ara, lidahnya turun menyusuri leher dan dada Ara. Menjilat dan sesekali mencucupi bagian itu, tanpa membuat tanda cupangan disana. Lidah Ramon semakin turun hingga kini hinggap di puting mungil Ara yang begitu menggemaskan. Ramon berusaha untuk bermain selembut mungkin, bukannya takut Ara akan tersadar, dia hanya ingin lebih menikmatinya saja. Lagipula tak mungkin Ara akan sadar hingga esok hari.

Lidahnya bermain-main di puting sebelah kanan, sedangkan jarinya dengan gemas memainkan puting sebelah kiri Ara. Meskipun dalam kondisi tak sadar, namun puting itu semakin lama semakin mengeras. Mungkin dalam tidurnya itu Ara sedang memimpikan tengah dicumbui oleh suaminya. Lidah dan jari-jari Ramon bergantian memainkan payudara Ara, membuat kedua puting mungil itu semakin keras saja.

Cukup lama Ramon bermain-main di dada Ara. Meskipun penisnya mulai mengeras, tapi dia tak ingin buru-buru. Dia ingin benar-benar menikmati tubuh Ara jengkal demi jengkal. Setelah beberapa menit menikmati buah dada indah itu, Ramon melihat ke arah pangkal paha Ara, nampak masih kering, berarti dia harus merangsang langsung di daerah itu sebelum menjebolnya.

Diapun bangkit untuk melepas pakaiannya. Satu persatu dia lepas dengan perlahan, sambil matanya tak lepas memandangi tubuh indah yang kini hanya tertutup kerudung saja. Tak lama kemudia Ramon pun sudah bertelanjang bulat. Penis besarnya yang telah memakan banyak korban itu sudah mengacung meskipun belum maksimal. Dia mendekati Ara kembali, memain-mainkan penisnya di wajah Ara, memukul-mukulkannya pelan.

Dalam kondisi sadar, Ara tak mungkin akan menerima perlakuan ini dan meronta habis-habisan. Namun dalam keadaan seperti ini, Ramon dengan bebasnya mengelus-eluskan penisnya ke sekujur wajah Ara. Menggesek-gesekan di bibirnya yang indah, lalu dengan sedikit dorongan memaksa memasukkan penis itu ke dalam mulut Ara.

Perlahan mulut Ara terbuka, dan kepala penis Ramon pun masuk. Tak ada respon dari Ara, namun itu tak merisaukan dirinya. Dia bahkan sedikit menekan penisnya lagi hingga semakin masuk ke dalam mulut Ara, menarik lagi, lalu menekan lagi. Kini Ramon sedang menyetubuhi mulut mungil Ara, sambil tangan kanannya meremas payudara Ara, dan tangan kirinya mengusap kerudung yang menutupi kepala Ara.

Tak berapa lama Ramon mengeluar masukkan penisnya di mulut Ara, kini kedua tangan Ramon memegang kepala Ara, lalu menekan perlahan penisnya agar masuk semakin dalam, semakin dalam ke mulut Ara. Tak sampai semuanya masuk dan Ramon sudah merasa cukup kesulitan, lalu ditariknya lagi. Kemudian dilakukan hal yang sama lagi beberapa kali, hingga akhirnya dia tarik keluar sepenuhnya penis itu, yang kini sudah sangat tegang.

Dia rasa penisnya sudah cukup siap untuk menembus vagina sempit yang hanya pernah dinikmati oleh suaminya saja itu. Ramon mengusap tubuh Ara, dari leher, turun ke dada, sempat berhenti sebentar disana, meremas dengan gemas tanpa menimbulkan bekas atau tanda merah, lalu turun lagi ke perut Ara yang masih rata, mengusapnya perlahan, lalu tangan Ramon semakin turun dan kini telah berada tepat di pangkal paha Ara.

Jarinya mengusap pelan bibir kemaluan Ara, atas ke bawah, atas ke bawah, begitu beberapa kali. Lalu dia berhasil menemukan tonjolan kecil di antara bibir vagina Ara. Jemari Ramon mulai memainkan tonjolan kecil itu. Tonjolan yang merupakan salah satu titik paling sensitif pada wanita. Jika Ara sadar, dia pasti akan mendesah dan menggeliat ketika klitorisnya dimainkan seperti ini. Membayangkan hal itu membuat penis Ramon semakin keras saja, menagih jatah untuk segera dimasukkan ke tempat yang seharusnya.

Ramon yang mengerti keadaan penisnya yang makin tersiksa dan membutuhkan penuntasan segera, langsung beranjak menuju selangkangan Ara. Dia buka lagi kedua kaki indah itu semakin melebar. Sekali lagi, dia terpana melihat bibir kemaluan wanita muda ini. Benar-benar sungguh indah, dan dia bertaruh kalau ini akan menjadi vagina ternikmat yang pernah dia senggamai. Tak tahan dengan pemandangan itu, Ramon mendekatkan mulutnya, dia ingin membasahi vagina itu dengan ludahnya, hingga saatnya nanti, meskipun mungkin hanya sedikit, akan membantu penisnya untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang yang masih terlihat sempit itu.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler