. Mengalahkan Gadis Part 15 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 15

0
223

Mengalahkan Gadis Part 15

The Preparations

Di sebuah restoran di tengah kota Yogyakarta, nampak seorang pria sedang duduk sendirian. Sepertinya menunggu seseorang, karena setelah duduk sekitar 10 menit disana dia belum memesan makanan atau minuman satupun. Pria itu sedang sibuk bermain dengan ponselnya. Beberapa kali dia merogoh tas kecil yang dibawanya untuk mengambil sesuatu, lalu tangannya bermain-main dengan ponsel itu lagi. Namun kegiatannya terhenti saat melihat sebuah mobil yang dia kenal masuk dan parkir di halaman restoran ini. Turun dari mobil itu sepasang suami istri yang sudah dikenalinya.

Sang suami menuntun istrinya dan segera memasuki restoran bergaya tradisional ini. Sebentar celingak-celinguk, sang suami kemudian tersenyum dan melambaikan tangan kala melihat pria yang sudah menunggu mereka. Mereka pun segera menghampiri pria itu. Pria itu sendiri sejenak terkagum dengan kecantikan dan keanggunan wanita yang datang bersama sahabatnya itu. Terakhir kali, atau mungkin pertama dan terakhir kali lebih tepatnya, dia melihat perempuan itu disaat pernikahan mereka, dan nampak begitu mempesona dengan gaun pengantinnya.

Kini si wanita itu datang dengan menggunakan setelan baju yang lebih santai, namun sama sekali tak mengurangi pesonanya. Di wajahnya nampak sekali betapa minimnya polesan make up yang menempel, terlihat natural. Dengan kepalanya dibalut oleh kerudung putih yang dimodel sederhana tanpa tambahan aksen seperti halnya kerudung gaul jaman sekarang, justru demakin memunculkan keanggunannya. Tubuhnya juga tertutup pakaian yang tidak longgar namun tidak terlalu ketat, sangat pas menurut pria itu. Pas karena masih bisa membentuk lekukan sempurna di bagian dada dan pantatnya.

Selain mengagumi pesona sang wanita, di sisi lain hatinya juga merutuki pria yang sedang menggandeng wanita itu. ‘Betapa beruntungnya kamu Cing, bisa ngedapetin istri sesempurna Tiara’, batin pria itu.

“Hei Sak, udah lama nunggu?” sapa Budi sambil mengulurkan tangannya.

“Belum kok, baru 10 menitan. Apa kabar lu Cing? Ara?” jawabnya sambil membalas jabat tangan Budi, dan kemudian menjabat tangan Ara.

Untuk sepersekian detik, Sakti kembali terpana dengan istri sahabatnya ini. Reputasi Sakti yang dikenal sebagai playboy dari semasa SMA hingga kini, mengusik dirinya untuk sedikit menikmati keindahan dari pesona Ara. Dia mengaguminya. Bukan hanya kecantikan wajah dan fisiknya. Entah mengapa Sakti merasakan sesuatu yang lain. Kalau biasanya dia tertarik dengan wanita berdasarkan fisiknya, lalu mengangankan keindahan tubuhnya, hingga akhirnya bisa menikmatinya, kini rasanya beda. Sesuatu yang lain, entah apa Sakti sendiri juga bingung mendeskripsikannya.

“Alhamdulillah baik,” jawab Budi.

“Ara juga baik mas, Mas Sakti gimana kabarnya?” tanya Ara.

“Baik juga kok, ayo silahkan duduk, kita pesan makan dulu aja ya, udah pas jamnya makan malam nih,” jawab Sakti.

Mereka pun segera memesan makanan, dan sambil menunggu makanannya datang mereka isi waktu dengan ngobrol. Banyak hal yang mereka bicarakan, bertukar kabar, lalu saling cerita kegiatan masing-masing, dan satu tema yang paling membuat Sakti malas untuk membahasnya. Ya apalagi kalau bukan pertanyaan, kapan nikah?

Sakti yang hampir seumuran dengan Budi, tentu saja semakin akrab dengan pertanyaan itu. Mau bagaimana lagi? Umur sudah waktunya, sudah mapan juga. Fisik? Jelas terlihat kalau orang seperti Sakti bukanlah tipe orang yang akan sulit untuk mendapatkan pasangan. Dengan kondisi Sakti yang seperti itu tentunya hal yang sangat mudah bagi Sakti untuk mendapatkan pendamping yang sempurna. Namun sampai saat ini, Sakti masih lebih asyik dengan hobinya yang gonta-ganti teman tidur, tanpa satupun dari mereka yang dipacari.

Obrolan mereka terhenti sejenak ketika makanan yang mereka pesan datang. Lalu sambil menikmati santap malam, mereka melanjutkan obrolan ringan yang terputus tadi. Selama pertemuan itu, Sakti beberapa kali mencuri pandang ke arah Ara, dan beberapa kali pula tatapan mereka bertemu, tentunya dengan sebisa mungkin sangat berhati-hati menimbulkan kecurigaan pada Budi. Di setiap pertemuan tatapan mata itu, ada desir aneh yang menjalar di tubuh Sakti. Dan ternyata, hal yang sama terjadi pada Ara.

Ara sendiri juga merasakan apa yang dirasakan oleh Sakti. Ada getaran-getaran aneh setiap kali dia melihat Sakti, apalagi jika pendangan mereka bertemu. Meskipun berusaha untuk mengacuhkannya, namun tetap saja rasa itu datang menyapa Ara. Namun dia tetap berusaha untuk berlaku sesantai mungkin, dan mengikuti obrolan antara suaminya dan Sakti. Beberapa kali mereka tertawa ketika bercerita tentang hal-hal yang dialami Budi dan Sakti ketika masih jamannya kuliah dulu.

Namun di tengah asyiknya mereka berbincang ini, sebenarnya dalam benak mereka ada hal lain yang terpikirkan. Budi, tengah memikirkan perkataan Kamila beberapa waktu silam, tentang Sakti dan kelakuannya terhadap wanita-wanita yang tak lain adalah kekasih teman satu kost mereka dulu. Bagaimana Sakti yang tega meniduri kekasih para sahabatnya, bahkan ada yang diperawani. Hal yang membuat Budi berpikir, apakah dulu mantan pacarnya juga termasuk menjadi korban Sakti.

Sementara Sakti tengah memikirkan wanita yang duduk di depannya. Bagaimana kecantikan dan keanggunannya mengusik naluri Sakti. Tapi bukan naluri birahi atau semacamnya, tapi rasa kagum, dan entah apa lagi yang lain. Sakti sendiri masih bingung mencari-cari makna dari apa yang sedang dia rasakan. Ara tak jauh beda dengan Sakti. Dia merasakan apa yang dirasakan juga oleh Sakti. Dia juga kebingungan mendeskripsikannya. Terlebih Ara adalah seorang wanita yang masih bisa dimasukkan ke dalam kategori lugu, karena sangat sedikit pengalaman cintanya.

Ketiganya hanya memendam itu dalam pikiran mereka masing-masing. Ya tentu saja tak akan mungkin mereka bahas di sini kan? Hanya menjadi rahasia yang mereka simpan sendiri entah sampai kapan. Tapi mereka tidak tahu, tak lama lagi mereka akan sama-sama tahu tentang yang mereka rasakan dan rahasiakan masing-masing itu, tak lama lagi.

“Jadi besok Mas Sakti udah balik ke Jakarta?” tanya Ara.

“Iya Ra, urusanku disini udah kelar, apalagi disana kerjaan juga masih padet.”

“Wah sayang banget ya Sak, coba lebih lama disini kamu,” ujar Budi.

“Haha iya sih, tapi entar tahun baruan rencana gw kesini kok Cing,” jawab Sakti.

“Beneran? Wah asyik kalau gitu, jangan lupa kabarin ya, entar kita bikin acara sendiri aja kalau misalnya dimana-mana rame, gimana dek?” tanya Budi.

“Aku sih ayuk aja mas,” jawab Ara tersenyum.

“Oke deh, entar gw kabarin kalian lagi kalau gw kesini ya,” ujar Sakti, matanya terpaku sesaat menatap senyuman manis dari bidadari di hadapannya.

Tak terasa sudah 2 jam mereka berada di tempat itu dan menghabiskan waktu dengan obrolan-obrolan seru. Masih banyak sebenarnya yang ingin mereka bicarakan, tapi waktu sudah cukup malam sehingga pertemuan ini harus diakhiri dahulu, terlebih lagi Sakti besok harus kembali ke ibukota. Mereka pun sudah merencanakan untuk pertemuan berikutnya di malam pergantian tahun nanti.

Tapi mereka tak tahu, bahwa malam tahun baru nanti, sudah ada yang mempersiapkan sebuah pesta untuk mereka. Sebuah pesta yang digagas bukan untuk menyenangkan semua orang, tapi untuk menyiksa dan mencelakai beberapa orang, dengan membuat kesenangan sepihak dari si penggagas pesta itu, yang tak lain adalah ayah dari Sakti sendiri.

***

Di waktu yang hampir bersamaan

Sebuah mobil mewah terlihat memasuki sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Rumah ini sendiri juga termasuk mewah, dijaga pula dengan cukup ketat, menunjukkan sang pemilik bukanlah orang sembarangan. Tak lama kemudian turun dari mobil itu seorang pria yang sudah cukup berumur, tapi terlihat masih begitu tegap dan gagah. Di teras rumah itu juga sudah berdiri seorang pria, yang kira-kira seumuran, menyambut kedatangan pria yang baru saja tiba itu. Pria pemilik rumah ini sedikit berbeda, dengan rambutnya yang mulai memutih, dan perutnya yang juga mulai membuncit.

“Selamat datang kawan, gimana perjalanannya?” sambut sang pemilik rumah.

“Aku baik-baik saja Ad, perjalanan juga lumayan lancar,” jawab sang tamu.

“Ayo masuk dulu. Kalian, tolong bawakan barang-barang Pak Bakti ini ya!” perintah sang pemilik rumah kepada ajudannya.

Bakti dan Fuadi kemudian melangkah memasuki rumah mewah itu. Kedatangan Bakti kali ini bukan hanya kunjungan biasa saja, tapi juga untuk membicarakan rencana pesta mereka di malam pergantian tahun nanti. Sebuah pesta yang akan sangat menyenangkan untuk mereka, karena akan ditemani oleh wanita-wanita cantik, terlebih lagi wanita itu adalah wanita yang berstatus sebagai ‘istri yang baik dan setia’ di mata semua orang, kecuali mereka tentunya.

“Jadi gimana perkembangan rencana kita?” Fuadi membuka obrolan mereka.

“Sampai sekarang masih lancar nggak ada kendala. Ramon juga sudah mendapatkan tempat seperti yang kita inginkan,” jawab Bakti.

“Haha bagus bagus, aku udah nggak sabar pengen segera merasakan tubuh si Ara, haha,” sambung Fuadi.

“Haha, sepertinya kamu terobsesi sekali dengan gadis itu Ad? Sampai-sampai kau merencanakan dengan sebegitu detailnya,” tanggap Bakti.

“Tentu saja. Aku sudah mengincar gadis itu sejak lama. Sejak dia masih sekolah, aku sering membuntutinya. Rasa penasaranku makin besar waktu datang ke pernikahannya. Uh, sungguh cantik sekali, lebih cantik daripada wanita-wanita yang pernah kita tiduri.”

“Jadi, apa dia juga akan kita habisi?” tanya Bakti.

“Hmm, kita lihat saja nanti, tapi mungkin tidak, aku sudah jatuh hati sama gadis itu. Lebih baik kujadikan gundikku saja, haha,” gelak Fuadi.

Memang sebagian besar dari rencana ini adalah pemikiran dari Fuadi. Kalau sasaran utama dari Baktiawan adalah bagaimana menghancurkan Wijaya, sasaran utama Fuadi adalah ingin memiliki anaknya Wijaya. Meskipun Fuadi juga memiliki kebencian akibat rasa irinya terhadap Wijaya sejak semasa mereka belum seperti sekarang, karena Wijaya yang selalu dianak emaskan oleh senior-senior dan atasannya.

Fuadi yang sejak lama sudah berkomplot dengan Bakti, merasa memiliki keuntungan dengan menjadi sekutu Bakti. Selain mereka memiliki musuh yang sama, dia juga mendapatkan kekayaan yang tidak sedikit dari bisnis gelap yang dia kelola bersama dengan Bakti. Selama ini bisnis mereka aman-aman saja, karena dengan pengaruhnya yang cukup besar Fuadi bisa menekan pihak-pihak yang ingin menghancurkan bisnis mereka.

Cash flow di organisasi mereka pun diatur dengan sangat baik oleh Ramon, seorang pegawai bank BUMN yang sebenarnya posisinya tidak terlalu tinggi. Tapi hal itu memang disengaja agar Ramon tidak terlihat terlalu mencolok, namun memiliki peran yang sangat penting dalam tubuh organisasi mereka. Dengan dibantu oleh Marto selama sekian tahun sebelum mereka menyingkirkannya, bisnis mereka berkembang dengan sangat pesat, yang berdampak pada semakin menggelembungnya pundi-pundi kekayaan mereka.

Sesaat Fuadi teringat dengan Marto. Sangat disayangkan memang orang sehebat dia harus disingkirkan oleh Bakti. Padahal masih banyak hal dalam diri Marto yang bisa dia manfaatkan. Pada dasarnya Marto adalah seorang yang brilian. Dengan memilikinya, dia seperti mendapat suntikan tenaga 10 orang polisi. Namun jika berada pada pihak yang berseberangan, dia akan sangat sangat merepotkan.

Menurut Fuadi, peran Marto sebenarnya belum selesai, tapi sudah buru-buru disingkirkan oleh Bakti. Sebenarnya ketakutan Bakti cukup masuk akal, namun kurang kuat untuk menyingkirkan Marto, terlebih disaat seperti ini.

“Bakti, apa kamu sudah benar-benar memastikan kematian Marto?” tanya Fuadi.

“Sudahlah Ad, orang itu pasti mati. Dia sudah dihajar habis-habisan dan dilemparkan ke jurang yang sangat dalam, yang penuh dengan bebatuan. Seekor gajahpun masuk ke jurang itu tak akan selamat, kau tenang saja,” jawab Bakti.

“Apa kalian sudah menemukan mayatnya?” tanya Fuadi lagi.

“Ah buat apa, lagi pula jurang itu dalam sekali, tak perlu lah kita repot-repot.”

“Ah sudahlah, terserah kamu aja.”

“Oh iya, kamu bilang kamu curiga di rumah Ara ada alat semacam frequency jammer kan? Alat pengacak gelombang?” tanya Bakti.

“Iya, aku curiga seperti itu, kenapa?”

“Kalau itu memang alat pengacak gelombang atau sinyal, kenapa sinyal ponsel tidak berpengaruh? Setahuku Marto memasang instalasi itu dan sinyalnya dia samakan frekuensinya dengan sinyal ponsel. Kenapa yang di ponsel lancar, tapi yang rekaman itu jadi rusak?” tanya Bakti penasaran.

“Apa benar begitu?” tanya Fuadi.

“Ya, beberapa hari yang lalu aku suruh Ramon untuk bertamu ke rumah mereka, dan ketika disana dia bisa meneleponku, suaranya sangat jernih, begitupun dia menerima suaraku dengan sangat jelas,” terang Bakti, yang sesaat membuat Fuadi terdiam, berpikir.

“Aneh, kenapa bisa seperti itu? Apakah mungkin memang ada kerusakan di kameranya?”

“Entahlah, tapi ya udah biar aja, nggak terlalu penting. Yang penting kita harus pastikan rencana penculikan mereka nanti lancar, agar pesta tahun baru nanti bisa sukses,” ujar Bakti.

“Hmm, baiklah. Lalu ada berapa wanita yang mau kamu bawa kesana?” tanya Fuadi.

“Entah aku juga belum tahu. Tapi yang pasti, semua wanita-wanita itu harus merasakan aku sodomi, hahaha.”

“Dasar kau maniak silit, tapi selain Ara ya? Dia milikku” seloroh Fuadi.

“Terserah kau saja kawan, haha,” jawab Bakti.

“Hahahahaha,” mereka berdua tertawa bersamaan.

Keasyikan mereka berbincang terhenti ketika seorang ajudan Fuadi datang untuk mengabarkan bahwa 2 orang wanita yang akan mereka pakai malam ini sudah siap. Kedua wanita itupun masuk, dengan memakai pakaian kebaya jawa. Dua wanita muda yang sangat cantik, berpenampilan kalem dengan balutan kebaya itu, namun rambut pendek mereka dibiarkan tergerai tanpa disanggul. Keduanya adalah korban dari jeratan maut Fuadi, keduanya tak lain adalah anak buah di Fuadi yang belum ada 2 bulan ini masuk ke kesatuannya.

***

Hari sudah beranjak siang ketika Marto berjalan dengan bantuan tongkat menuju ke tempat latihan yang sudah dipersiapkan oleh temannya, Rio. Marto ditemani oleh seorang anak kecil bernama Zainal. Dari Zainal lah Marto mengetahui cerita tentang bagaimana dia ditemukan dan dibawa oleh Rio ke rumah Zainal.

Zainal sebenarnya adalah anak yang menemukan tubuh Marto di jurang tempo hari, lalu berlari pulang untuk memberi tahu ibunya. Dan ketika dia bersama ibunya kembali ke tempat itu, ternyata tubuh Marto sudah tidak ada. Zainal sempat menyangka yang ditemukannya itu adalah sebangsa makhluk halus, namun ternyata tubuh Marto sudah dibawa oleh Rio, ke rumah Zainal.

Awalnya mereka terkejut, namun setelah Rio bercerita bahwa mereka adalah polisi, dan juga dengan ditunjukkan bukti berupa lencana Rio, mereka pun bersedia ketika diminta bantuan oleh Rio untuk merawat Marto, karena Rio juga memberikan sejumlah uang yang sangat besar kepada mereka. Selama itu pula Zainal dan ibunya merawat Marto dengan baik, hingga akhirnya dia siuman.

Ini adalah hari keempat Marto melatih dirinya. Mengasah kembali kemampuan menembak jarak jauhnya yang telah lama tidak dia gunakan. Namun dasar sudah bakat, baru berlatih sebentar saja keahliannya itu sudah kembali. Apalagi Rio memberikan kepadanya sebuah senapan runduk yang sangat bagus, yaitu SPR-3, sehingga latihan Marto benar-benar sangat efektif. SPR-3 yang beratnya tak sampai 7 kg ini tentu sangat membantu Marto yang kondisinya tidak 100% fit.

Yah, karena nantinya tidak akan berurusan dengan tank lapis baja, maka tak perlu membawa SPR-2 yang sempat menghebohkan dunia itu. Lagi pula SPR-2 yang mencapai hampir 20 kg terlalu berat untuk dirinya yang saat ini tak bisa bergerak bebas. SPR-3 ini menggunakan amunisi kaliber 7,62 mm. Dilengkapi dengan peredam suara dan peredam getaran. Dengan jarak efektif hingga mencapai 1 km dan keceparan peluru 800-810 meter per detik, sudah lebih dari cukup untuk menghadapi anak buah Bakti dan Fuadi.

Kalau memang mereka akan membawa preman-preman untuk menjaga aksi mereka, bukan hal yang terlalu sulit untuk Marto dan rekan-rekannya untuk bisa melumpuhkan mereka. Hal ini karena Marto sudah cukup mengenal seperti apa preman-preman itu, karena pernah menjadi anak buahnya. Senjata apa saja yang mereka miliki, kemampuan apa saja yang mereka bisa, semua Marto tahu, dan dia yakin sekali hanya dengan berempat saja bisa melumpuhkan kawanan itu.

Kondisi Marto sekarang sudah jauh lebih baik. Luka-luka ringan di tubuhnya sudah kering. Yang menjadi masalah sekarang hanya tinggal kakinya yang patah. Itupun sekarang sudah berangsur membaik. Rio meninggalkan sebuah obat untuk dikonsumsi Marto. Dia tak begitu paham dengan obat itu, yang dia tahu itu adalah obat khusus yang tidak digunakan oleh masyarakat umum. Memiliki dosis yang sangat tinggi namun masih aman untuk tubuh, apalagi jika secara alamiah memiliki ketahanan tubuh yang sangat kuat seperti Marto.

Dia berharap, sebelum adanya penyergapan komplotan Bakti dan Fuadi nanti, dirinya sudah dalam kondisi yang lebih baik lagi. Dia ingin membunuh 2 orang mantan rekannya itu. Baktiawan yang sudah menyiksa dan membunuh istrinya, dan Ramon yang telah berani menyentuh Safitri.

Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk kembali menjadi Marto yang seperti dulu. Dia akan memperbaiki dirinya. Dan setelah semua ini selesai, apapun yang terjadi dia ingin segera menemui Safitri, dan memintanya untuk bersedia menjadi istrinya. Dia yakin Safitri pasti bersedia menerimanya, hanya tinggal bagaimana dia mengambil hati anak Safitri, agar mau menerimanya menjadi ayahnya.

Dia tahu kondisi Safitri, yang kini sudah dikuasai oleh Ramon, dan dulu pernah menjadi selingkuhan Wijaya. Namun rasa cinta telah hadir di dalam dirinya. Rasa yang sudah sangat lama menghilang sejak kepergian istrinya, Astri. Dia harus membuka lembaran baru dalam hidupnya, dan berkeinginan untuk mengisinya bersama dengan Safitri dan anaknya.

Hmm, teringat kembali kepada istrinya, dia teringat dengan penuturan Rio tempo hari. Apakah yang dikatakan Rio itu adalah benar-benar yang terjadi? Dia hanya masih penasaran saja, bagaimana Rio bisa mengetahui dengan detail peristiwa yang menimpa mendiang istrinya. Baginya kurang masuk akal bila saat ini Bakti dan Fuadi membahas apa yang telah terjadi 10 tahun yang lalu, meskipun hal itu bukannya tidak mungkin terjadi.

Tapi saat ini, memang hanya Rio lah yang bisa dia percaya, karena Rio telah menyelamatkan hidupnya. Kalau saja Rio berbohong, untuk apa repot-repot mencarinya, membawanya dari dalam jurang, dan meminta kepada Zainal dan ibunya untuk merawatnya. Bahkan Rio juga telah mempersiapkan tempat latihan dan sebuah senjata beserta ratusan amunisi untuknya, yang dia tahu bukan hal yang mudah untuk mendapatkan barang buatan Pindad itu.

Kalaupun memang nantinya Rio ternyata berbohong dan bukan Bakti yang telah membunuh istrinya, dendamnya kepada Bakti masih sangatlah besar. Mengingat jasa-jasa yang tidak sedikit yang dia berikan kepada Bakti, justru dibalas dengan cara menyingkirkannya. Hal ini tentu saja bukan hal yang baru saja direncanakan oleh Bakti. Dia tahu Bakti adalah orang yang teramat licik, namun sayang dia tak menyadari bahwa ternyata dirinya juga masuk ke dalam daftar orang yang harus disingkirkan.

Hari sudah beranjak sore. Puluhan peluru telah dimuntahkan dari senapan runduk canggih itu. Marto memang menggunakan peluru tajam untuk berlatih. Kata Rio dia disuruh untuk berlatih sepuasnya dengan peluru-peluru yang sudah disediakan, dan saat mendekati hari H nanti, Rio akan kembali menyiapkan ratusan peluru lagi untuk berperang.

Hasil dari latihan hari ini sudah mendekati sempurna. Hanya beberapa sasaran saja yang gagal dia kenai dengan tepat, namun jaraknya tak terlalu jauh, hanya hitungan di bawah 10 cm. Tapi Marto belum cukup puas dengan latihannya ini, karena nantinya yang akan dia tembak bukanlah sasaran yang diam, tapi bergerak. Dia harus berusaha lebih keras lagi agar dapat memaksimalkan kemampuan yang dimiliknya itu.

Diapun kembali ke rumah Zainal. Anak berusia 9 tahun itu dengan setia menemani Marto selama masa berlatihnya. Sedikit banyak Marto mengajarkan hal-hal yang dia ketahui kepada Zainal, dan yang membuat Marto terkejut adalah Zainal ternyata anak yang sangat cerdas. Apapun yang diajarkan oleh Marto mampu dikuasainya dengan sangat cepat. Marto sedikit tergelitik untuk mengajari anak kecil ini menggunakan senjata api, tapi dia masih ragu-ragu, salah-salah kedepannya bila tidak mendapatkan tempat dan bimbingan yang benar, justru akan disalah gunakan untuk berbuat kejahatan.

Sesampainya di rumah Zainal mereka mendapati sudah ada makanan tersaji di meja makan. Sementara ibu Zainal mengatakan kepada Marto bahwa tadi Rio sempat mampir dan menitipkan sebungkus obat kepadanya, tanpa memberikan pesan yang lain. Di rumah ini, Zainal dan ibunya memang tinggal berdua saja. Ayah Zainal entah kemana, karena ibunya pun juga tak ingat lagi. Zainal tidak bersekolah, ibunya pun tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehari-harinya dia hanya bekerja membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya, dengan bayaran yang ala kadarnya.

Namun Zainal adalah anak yang cerdas. Dia bisa membaca dan menulis dengan baik. Ibunya hanya mengajarkan sebisanya saja. Jika ada buku-buku yang sudah tak dipakai oleh tetangga, apapun itu, maka akan diminta oleh ibunya untuk diberikan kepada Zainal. Kondisi ekonomi membuat anak itu tak bisa bersekolah. Meskipun untuk biaya pendidikan gratis, tapi biaya diluar itu tentu tak mampu dipenuhi oleh sang ibu.

Zainal sendiri tidak memiliki akta lahir. Ibunya bahkan tidak memiliki kartu identitas sama sekali. Entah apa yang terjadi pada dirinya dulu, tapi dia tidak bisa mengingat masa lalunya. Yang dia tahu hanyalah namanya Yani, dan anaknya ini bernama Zainal. Selebihnya sudah hilang dari memori Yani. Seberapa keraspun Yani mencoba mengingatnya, sama sekali tak ada yang muncul dari ingatannya.

Marto kasihan sebenarnya dengan Zainal dan ibunya, tapi dia juga tak bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk membantu mereka. Marto cukup terhibur dengan tingkah dan keseharian Zainal, apalagi jika sedang diajari sesuatu oleh Marto, anak itu pasti menyimak, dan segera saja menguasainya. Marto tersenyum-senyum sendiri, melihat Zainal seperti itu dia jadi teringat akan dirinya semasa kecil dulu. Dia berharap Zainal kelak punya masa depan yang lebih baik. Bila semua ini sudah berakhir, dia ingin nantinya bisa membantu kedua orang ini, orang-orang yang telah merawatnya dengan sangat baik.

Mungkin kelak dia akan mengangkat Zainal sebagai anaknya, karena Marto cukup menyukai anak ini. Anak yang sangat cerdas, sayang kalau hanya dibiarkan begini saja. Dan mungkin Marto juga akan mencoba membantu Yani, entah menjalani terapi atau apapun, agar ingatan Yani bisa kembali lagi, karena dia yakin ada sesuatu di masa lalu Yani yang membuat mereka harus hidup sengsara seperti ini. Terlepas dari rasa kasihan kepada mereka berdua, Marto merasa ada sesuatu yang berbeda dari mereka, entah apa itu, tapi dia merasa cukup dekat dengan Yani dan Zainal, meskipun baru beberapa hari mengenal mereka.

***

Sore hari yang cukup santai. Paling tidak itulah yang terlihat dari suasana di kantor Ara. Sore ini karena memang pekerjaan yang tidak terlalu banyak, dan sudah diselesaikan sebelum jam makan siang tadi, membuat para karyawan disana sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apalagi Pak Hamid, atasan sementara mereka sedang tidak di tempat. Yang laki-laki banyak yang sudah di luar ruangan untuk sekedar ngobrol sambil menikmati kopi dan rokok.

Sedangkan yang perempuan, seperti biasa kerjaan ibu-ibu, ngerumpi. Sambil ditemani berbagai macam camilan tentunya. Kebetulan sekali wanita-wanita itu bukan tipe wanita yang takut berat badan mereka melar karena terlalu banyak ngemil. Badan wanita-wanita disini memang masih cukup terjaga, padahal beberapa diantarana sudah memiliki anak, seperti Lia, Nadya dan Kartika. Hanya Ara dan Wulan saja yang belum, itupun kini keduanya sedang hamil, Ara masih hamil muda sedangkan Wulan sudah lumayan besar perutnya. Tapi tetap saja, mereka adalah wanita yang terbiasa menjaga kondisi tubuhnya dengan olahraga yang rutin.

Obrolan para wanita sore itu bertemakan liburan. Tapi bukan libur akhir tahun yang sedang mereka bicarakan, melainkan ajakan dari Nadya untuk berlibur ke pantai selatan akhir pekan ini. Dua orang sudah menolaknya. Wulan tentu saja dengan kondisi perutnya yang sudah membesar itu tak bisa bepergian terlalu jauh, sedangkan Kartika akhir pekan ini sudah terlanjur berjanji untuk mengunjungi mertuanya di Temanggung. Sedangkan Lia dan Ara yang masih agak ragu.

“Ayo deh Li, Ra, kita liburan bareng-bareng, entar nyewa penginapan disana,” ajak Nadya.

“Emang yang mau kesana siapa aja Nad?” tanya Lia.

“Yang jelas aku sama suamiku ikut. Terus ada sahabatnya suamiku, Mas Ramon dan istrinya ikut juga. Ayo kalian ikut sama suami-suami kalian, ya ya ya?” rayu Nadya kepada kedua temannya itu.

“Ooh, Mas Ramon dan Mbak Beti ikut juga Nad?” tanya Ara.

“Lho kamu kenal sama mereka Ra?” tanya Nadya.

“Kenal sih, pernah ketemu juga. Mas Ramon kan temennya suamiku, tapi beda cabang,” jawab Ara.

“Nah itu kamu kenal Ra. Mas Ramon kok yang punya ide buat liburan ini, bosen katanya pengen refreshing ke pantai, tapi maunya dia ramean gitu. Kamu sama Mas Budi ikut ya Ra?” ajak Nadya lagi.

“Hmm, aku tanyain sama Mas Budi dulu ya, nanti aku kabari lagi kamunya,” jawab Ara.

“Oke deh, kamu gimana Li? Ikut ya? Tuh Ara aja mau ikut lho,” rayu Nadya.

“Iya deh iya aku ngomong dulu ke suamiku ya,” jawab Lia pasrah.

“Nah gitu dong, biar rame, hehe,” ujar Nadya senang.

“Emang nanti acaranya mau ngapain Nad?” tanya Ara.

“Main ayunan Ra. Ya main-main di pantai lah, kamu kayak nggak pernah ke pantai aja sih,” jawab Nadya agak sewot.

“Haha, santai dong Nad sama Ara, haha,” sahut Lia.

“Emang kenapa sih sama aku?” ujar Ara cemberut.

“Nggak papa kok adekku sayang, hehe,” jawab Lia.

“Ya nanti kita main-main aja disana. Rencananya nanti sabtu pagi kita berangkat, nginep disana, terus minggu siangnya pulang, gitu Ra. Kalau disananya ya nyesuain aja. Lagian kan pergi sama suami masing-masing, acara selain main barengnya di pantai ya terserah, hehe,” jelas Nadya.

“Oh gitu ya?” jawab Ara manggut-manggut, mengundang senyum geli dari teman-temannya yang lain.

“Ya udah deh, aku emang udah dari lama punya rencana mau ke pantai sama Mas Budi tapi belum jadi juga, entar aku bilang sama dia dulu Nad,” sambung Ara.

Permbicaraan mereka pun berlanjut, tapi beralih topik. Kini mereka lebih banyak membahas tentang diskon akhir tahun. Yah, ibu-ibu, nggak jauh-jauh dari tema itu pasti.

Namun mereka tak menyadari, bahwa ajakan liburan dari Nadya ini sejatinya berasal dari Ramon. Dia merencanakan ini bersama Hendri, suami Nadya. Tujuan utamanya mereka mengadakan liburan ini tak lain adalah untuk bisa menjerat sasaran mereka. Awalnya mereka berharap semakin banyak yang ikut, sehingga mangsa yang mereka dapatkan semakin banyak, namun dengan bergabungnya Lia dan Ara saja rasanya sudah cukup, karena memang mereka berdualah yang menjadi sasaran utama. Lia menjadi target dari Hendri, sedangkan Ara menjadi target Ramon, untuk selanjutnya diserahkan kepada sang boss, Fuadi.

Ramon memang tidak mendapatkan ijin untuk menikmati sepenuhnya tubuh Ara, dia hanya boleh menelanjangi tanpa penetrasi. Fuadi menyuruhnya untuk menelanjangi Ara dan mengambil fotonya lalu dikirimkan ke dia. Mungkin suatu saat kelak akan dia gunakan untuk tujuan-tujuan yang tentu saja tidak baik. Karena itulah pada saat liburan nanti, Ramon, Beti istrinya dan Hendri sudah sepakat untuk memakai obat tidur saja, bukan obat perangsang. Tapi dalam benak Ramon sendiri, kalau memang ada kesempatan yang memungkinkan, dia berniat untuk bisa merasakan kehangatan dari tubuh Ara. Toh sang boss tak akan tahu, yang penting cukup diberikan fotonya saja, sudah.

Ramon sudah menyiapkan sebuah penginapan di sebuah pantai di Gunung Kidul. Pantai ini masih cukup sepi, masih jarang ada pengunjung kesini. Kalaupun ada, biasanya mereka tak sampai menginap. Pantai ini baru akan sangat ramai hingga penginapan disini penuh jika sudah memasuki libur panjang, yang biasanya adalah libur anak sekolah. Karena itulah Ramon merasa mereka akan lebih aman dalam melaksanakan aksinya itu.

Nadya sendiri yang mengajak teman-temannya ini sama sekali tak mengetahui maksud tersembunyi dari liburan ini. Dia yang memang sudah cukup lama tidak berlibur tentu saja merasa senang dan langsung mengiyakan ketika suaminya bilang diajak liburan oleh Ramon. Diapun belum mengetahui perihal suaminya yang sudah masuk dalam kekuasaan Ramon, yang berhasil dipengaruhi dengan memanfaatkan Beti istri Ramon, dan juga Tata yang juga satu komplotan dengan Ramon.

Dalam benaknya, sebenarnya Nadya mulai menerka-nerka apa yang akan terjadi di liburan nanti. Dirinya yang sudah berselingkuh dengan Ramon ini, membayangkan kemungkinan akan terjadinya sesuatu diantara mereka. Apakah nantinya disana dia akan bermain-main dengan Ramon dimana suaminya dan istri Ramon ada disana. Ataukah lebih dari itu, mereka akan bermain bersama hingga tukar pasangan. Tapi usulan dari Ramon agar mengajak teman-temannya sedikit demi sedikit mengikis pemikiran itu. Tapi dalam hati kecilnya, ternyata Nadya agak berharap, bahwa hal itu akan benar-benar terjadi, entah seperti apa nantinya.

***

Sesampainya di rumah, Lia segera menemui suaminya yang juga baru pulang dari Jakarta pagi tadi. Dilihatnya sang suami sedang bersantai sambil menonton TV. Hari ini memang Erwin masih beristirahat sehingga tak masuk kerja. Segera Lia menyalami dan mencium tangan suaminya, kemudian mengambil duduk di samping sang suami, lalu membuka pembicaraan untuk menyampaikan rencananya bersama dengan teman-temannya.

“Pah, weekend nanti kita diajak jalan-jalan ke Gunung Kidul sama Nadya, rame-rame pah, papah bisa nggak?” tanya Lia.

“Weekend ini mah? Sabtunya ya?” suaminya bertanya balik.

“Iya pah, rencananya sabtu berangkat, terus nginep disana, minggunya baru pulang gitu pah,” jawab Lia.

“Wah kayaknya papah nggak bisa tu mah,” ujar Erwin.

“Papah mau ada acara ya?” tanya Lia.

“Iya mah, malem minggu nanti ada acara pramuka di sekolah, nginep juga nanti disana, mamah kan tahu papah pembina pramuka, jadi kayaknya nggak bisa deh mah,” jawab Erwin.

“Yaah, nggak bisa ya, hmm ya udah deh kalau gitu entar biar mamah kabarin Nadya aja,” ujar Lia.

“Emang yang mau ikut siapa aja mah?” tanya Erwin.

“Yang pasti ikut sih Nadya sama suaminya, terus ada temen suami Nadya sama istrinya gitu pah, berempat. Ara juga tadi diajak, tapi belum ngabarin lagi sih pah,” kata Lia.

“Oh gitu, wah asyik sebenarnya ya kalau ramean gitu, tapi maaf ya mah papah ada acara juga soalnya,” ujar Erwin.

“Ya udah nggak papa kok pah, kan lain kali kita bisa liburan sendiri bareng anak-anak, hehe,” jawab Lia.

Kemudian mereka melanjutkan obrolan sebelum akhirnya Lia pamit untuk mandi dan mengganti bajunya. Erwin yang sudah sedari tadi mandi mempersilahkan istrinya itu untuk membersihkan dirinya, padahal Lia berharap suaminya mengikutinya dan menemaninya mandi. Sudah beberapa hari ini dia tidak disentuh oleh suaminya. Tapi mungkin suaminya masih lelah jadi Lia paham saja.

Memang sudah beberapa hari ini lia tak disentuh oleh suaminya, tapi dia sudah disentuh oleh pria lain. Lia menikmatinya, namun batinnya menangis. Dia tak tahu apa lagi yang akan terjadi padanya. Entah kenapa keinginannya untuk memperbaiki diri dan mengikrarkan setia kepada suaminya seperti hal yang sulit sekali untuk terwujud. Di bawah guyuran air dia sempat menitikan air matanya. Telah bertambah satu orang lagi yang menikmati tubuhnya tanpa sepengetahuan suaminya.

Selesai mandi Lia bergegas ke kamar untuk berganti baju. Namun sebelum mengambil baju, dengan tubuhnya yang masih berbalut handuk, dia meraih ponselnya. Ada pesan wasap dari temannya, Ara.

‘Lia, kayaknya aku nggak jadi ikut deh besok sabtu, suamiku nggak bisa nih, dinas luar kota lagi
‘Wah sama Ra, suamiku besok sabtu juga ada acara di sekolahnya, nginep pula disana, aku kayaknya juga nggak jadi ikut ini.’

Hmm, rupanya Ara pun sama seperti dirinya, suaminya tak bisa menemani liburan akhir pekan ini karena memiliki kesibukan sendiri. Dia memang sebenarnya sangat ingin liburan, untuk menyegarkan kembali badan dan pikirannya. Namun karena suaminya tak bisa menemaninya, tak mungkin dia pergi sendiri, apalagi teman-temannya itu sama-sama membawa pasangan mereka. Eh, tapi Ara kan suaminya juga tak bisa menemaninya. Apa sebaiknya tetap pergi saja? Dengan dirinya berpasangan dengan Ara? Pikir Lia.

‘Eh Ra, kalau kita tetep pergi aja gimana, jadi kamu nanti sama aku gitu, gimana?’
‘Hmm, aku coba tanya suamiku dulu ya, boleh apa nggak, nanti aku kabarin lagi

‘Aku juga mau bilang sama suamiku, siapa tahu boleh, aku udah pengen banget liburan soalnya, kurang piknik ini, hehe.’
‘Hahaha, oke deh, nanti kabarin juga ya
‘Okeee.’

Lia pun segera berganti pakaian dan menemui suaminya untuk meminta ijin. Siapa tahu sang suami mengijinkan, karena seperti yang dia bilang ke Ara barusan, dia sudah cukup lama tidak pergi untuk piknik.

“Hmm pah, ternyata suaminya Ara juga nggak bisa ikut ke pantai besok sabtu, mau ke luar kota katanya, tadi barusan Ara ngabarin,” ujar Lia.

“Wah, makin sedikit dong mah peserta pikniknya? Hehe,” canda Erwin.

“Iya pah, tapi tadi Ara ngajakin kalau tetep pergi aja gimana, jadi nanti mamah sama dia gitu, katanya udah lama dia pengen piknik, gimana pah?” tanya Lia, berbohong.

“Oh gitu, lha kamunya gimana mah?” tanya Erwin.

“Ya kalau papah kasih ijin sih mamah ikut, kalau nggak ya mamah di rumah aja,” jawab Lia.

“Hmm, kasihan juga kamu di rumah mah, udah lama nggak piknik juga kan?” tanya Erwin lagi.

“Hehe iya nih pah.”

“Ya udah deh, mamah boleh pergi kok kalau memang mau ikut, sekalian nemenin Ara, kasihan juga dianya nanti kalau sendiri nggak ada pasangannya,” ujar Erwin.

“Beneran boleh pah? Nggak papa nih?” tanya Lia memastikan. Wajahnya datar saja seolah tak ada apa-apa, tapi dalam hatinya dia bersorak karena mendapat ijin dari suaminya, dan kini berharap Ara juga mendapatkan ijin dari suaminnya.

“Iya mah, boleh kok,” jawab Erwin.

“Makasih ya pah, kalau gitu mamah kabarin Ara dulu pah,” ujar Lia tersenyum, kemudian mengambil ponselnya untuk memberi kabar kepada Ara. Diapun mengetik pesan di wasap.

‘Ra, aku udah dapet ijin dari suamiku, katanya boleh pergi asal kamu ikut. Kamu gimana?’

Lia meletakkan kembali ponselnya, menunggu balasan dari Ara. Kemudian dia melanjutkan kembali bercengkrama dengan suaminya.

***

“Mas, adek tadi dikabarin sama Lia, dia juga sama suaminya nggak bisa ikut, ada acara katanya,” kata Ara kepada suaminya.

Ara dan suaminya sedang bersantai di teras rumah mereka. Kesibukan Budi akhir-akhir ini yang luar biasa padat membuat kesempatan bersantai sore-sore seperti ini hampir tak pernah bisa mereka dapatkan. Maklum saja, menjelang akhir tahun seperti ini biasanya pekerja kantoran disibukkan dengan persiapan tutup buku dan lain macamnya, sehingga membuat kadang mereka harus lembur sampai malam.

Beruntung hari ini pekerjaan mereka berdua, khususnya Budi tak terlalu banyak sehingga dia bisa pulang lebih awal. Hanya saja yang dia herankan, menjelang tutup tahun begini masih ada saja penggilan ke kantor pusat sana. Apalagi kebetulan istrinya memberitahukan bahwa mereka diajak untuk menghabiskan akhir pekan ini dengan berlibur di pantai. Hal yang pernah dia janjikan kepada Ara namun urung terwujud hingga kini.

Dan kesempatan akhir pekan nantipun tak bisa dia manfaatkan juga, karena lagi-lagi atas nama tugas kantor dia harus berangkat ke Jakarta. Dia sebenarnya sangat ingin pergi berlibur dengan istrinya ini. Dan dia juga tahu, setelah mereka pulang dari bulan madu mereka di Maldives dulu, Ara sudah kepingin lagi untuk bisa bermain-main di pantai. Karena itulah dia merasa sangat bersalah kepada istrinya ini tak bisa menemaninya.

“Oh, jadi Lia nggak bisa ikut juga dek?” tanya Budi.

“Iya mas, tapi dia ngajakin adek buat tetep ikut, katanya pengen banget gitu ke pantai, kurang piknik dia bilang. Jadi nanti adek sama dia gitu, gimana mas?” tanya Ara.

“Yaa nggak papa juga sih sebenarnya dek, lagian yang ikut kan temen-temen kamu semua. Ada Mas Ramon sama istrinya juga kan,” jawab Budi.

“Jadi boleh mas adek pergi besok sabtu?” tanya Ara memastikan.

“Iya sayang boleh kok,” jawab Budi sambil tersenyum.

Budi sebenarnya agak ragu kalau Ara pergi tanpa dirinya. Setelah resmi menikah, Ara memang belum pernah pergi jauh apalagi sampai menginap tanpa dirinya. Kecuali sekali saat memang ada acara kantornya di Kaliurang. Tapi kali ini memang mereka akan pergi beramai-ramai, dengan teman-teman kerjanya. Namun satu yang menjadi ganjalannya adalah dalam rombongan mereka akan ikut Ramon.

Sebelumnya Ara sudah bercerita bahwa ide untuk liburan kali ini berasal dari Ramon, yang mengajak Nadya beserta suaminya. Lalu untuk menambah seru, Ramon meminta teman-teman Nadya diajak juga. Dan dari Ara dia juga tahu kalau dua orang teman mereka yaitu Tika dan Wulan tak bisa ikut karena alasan masing-masing, sehingga tinggal ada Lia dan Ara.

Dan baru saja Ara mengatakan bahwa Lia juga tak bisa ditemani oleh suaminya, tapi karena sangat ingin pergi ke pantai dia mengajak Ara agar ikut bersamanya. Jika Ara dan Lia ikut, tanpa ada orang lain lagi yang ikut berarti hanya mereka berenam saja. Yang menjadi pertanyaan bagi Budi adalah, kenapa tidak ada rekan kerja mereka yang laki-laki yang diajak? Apakah memang Nadya disuruh untuk mengajak yang perempuan saja, ataukah memang murni keinginan dari Nadya sendiri?

Budi kini memang lebih berhati-hati dalam menjaga istrinya. Selain karena kini tengah hamil muda, namun karena Budi pernah mendapatkan peringatan dari seseorang yang mengatakan bahwa ada bahaya yang mengancam Ara. Meskipun kini orang misterius yang suka gonta ganti nomer itu belum lagi menghubunginya, dan sampai saat ini tidak terjadi apa-apa terhadap istrinya. Justru karena kondisi itulah yang membuat Budi tak mau kehilangan kewaspadaannya.

Ara sendiri setelah mendapat persetujuan dari suaminya untuk pergi berlibur kemudian mengambil ponselnya untuk mengabari Lia. Ternyata Lia sudah terlebih dahulu mengabari bahwa dia sudah mendapatkan ijin dari suaminya juga, asalkan Ara ikut menemaninya.

‘Ra, aku udah dapet ijin dari suamiku, katanya boleh pergi asal kamu ikut. Kamu gimana?’ isi pesan wasap dari Lia.
‘Aku juga dapet ijin Li, jadi kita bisa ikut besok sabtu.’

Tak lama berselang Lia membalas lagi.

‘Yeay, akhirnya liburan ke pantai, haha
‘Hadeeh dasar ya ibu yang satu ini, haha. Udah ngabarin Nadya Li?’
‘Belum lah kan nunggu kabar dari kamu. Abis ini aku kabarin dia Ra

Ara pun meletakkan ponselnya. Kembali dipandangi wajah suaminya, hanya sekedar memastikan bahwa sang suami benar-benar memberikan ijin kepadanya. Budi hanya tersenyum saja membalas tatapan istrinya itu. Merekapun kembali larut dalam obrolan-obrolan ringan, sebelum kemudian berangkulan masuk ke dalam rumah untuk makan malam.

***

‘Nad, suamiku dan suaminya Ara besok nggak bisa ikut, tapi aku sama Ara tetep ikut kok
‘Oh oke Li, nanti biar enaknya kita berangkat bareng-bareng aja, kan cuma berenam. Nanti berangkat pakai mobil Mas Ramon aja.’
‘Oke Nad, atur aja deh gimana enaknya

“Kenapa ma kok senyum-senyum gitu?”

“Ini pa, Lia ngabarin, dia sama Ara jadi ikut besok sabtu, tapi suami mereka pada nggak bisa katanya,” jawab Nadya.

“Lhoh suaminya pada nggak ikut? Kenapa?” tanya Hendri.

“Nggak tahu juga pa, mama nggak nanya sih,” jawab Nadya.

“Oh ya udah deh nggap papa, yang penting kan mereka bisa ikut.”

Hendri tersenyum-senyum dalam hati. Rencananya akan menjadi lebih mudah kalau suami Lia dan Ara tidak ikut liburan mereka. Dia sudah merencanakan memang ingin menikmati tubuh Lia, teman istrinya. Awalnya dia bingung bagaimana caranya untuk bisa menjalankan rencananya itu dengan baik. Meskipun Ramon sudah mengatakan dia akan menggunakan obat tidur, tapi kalau suaminya ikut bisa mempersulit rencana mereka.

Tapi kini sepertinya tak perlu lagi repot memikirkannya. Suami Lia tak ikut, artinya memang selangkah lebih mudah baginya. Apalagi suami Ara juga tidak ikut, sehingga Ramon pun bisa dengan mudah melanjutkan rencananya untuk mendapatkan wanita muda itu, dan siapa tahu nanti Ramon mau berbagi dengannya, karena dia sendiri sebenarnya juga menginginkan Ara. Tapi entah kenapa Ramon seperti tak ingin memberinya kesempatan, dan hanya membiarkannya untuk bermain-main dengan Lia. Sepertinya Ramon sudah punya rencana sendiri untuk Ara.

Tapi tak apalah, kalau rencana mereka besok itu berhasil, dia yakin akan mendapatkan jatah untuk menikmati Ara. Kedepannya Ramon pasti tak akan keberatan, karena bahkan istrinya sendiripun diberikannya untuk Hendri, jadi jatah Ara tinggal menunggu waktu saja, sementara dia akan memuas-muaskan dirinya dengan Lia. Sedangkan untuk istrinya sendiri nanti biar diurusi sama Beti saja.

“Ya udah ma, kasih kabar ke Ramon,” ujar Hendri.

“Iya mas, ini lagi mama BBM,” sahut Nadya.

‘PING!’
‘PONG!’

‘Hihi, lagi ngapain mas?’
‘Lagi nyantai aja Nad, kenapa

‘Mau ngabarin soal libuan besok sabtu.’
‘Oh iya, gimana jadinya

‘Yang bisa cuma Ara sama Lia mas.’
‘Oke, berarti kita berdelapan ya

‘Nggak mas, cuma berenam aja.’
‘Loh, kok

‘Suami mereka pada nggak ikut.’
‘Lha kenapa

‘Nggak tahu juga sih mas.’
‘Oke deh kalau gitu

‘Berangkatnya gimana mas?’
Barengan aja, bawa mobilku

‘Oke mas, aku juga bilang gitu tadi sama mereka.’
‘Oke sip, makasih sayang :*’

‘Ih cium-cium, nakallll.’
‘Hahaha, :* :* :* :*’

‘Kok banyak ciumnya mas?’
‘1 buat bibir, 2 buat toket, 1 lagi buat memek

‘Mas Ramon ihhh, nakaalll.’
‘Hahahaha

Nadya berusaha menyembunyikan senyumnya agar tak terlihat suaminya. Aneh rasanya ber-BBM mesum seperti itu di samping suaminya sendiri. Terlihat oleh Nadya sepertinya sang suami lebih terfokus untuk menonton TV daripada melihat reaksinya. Dia tak tahu kalau memang sebenarnya Hendri tak mempedulikan ketika Nadya BBMan dengan Ramon, karena dia sudah tahu apa yang terjadi diantara mereka, hanya saja Nadya yang tak tahu apa yang terjadi antara Hendri dan wanita-wanita Ramon.

***

“Sluuurrppp, mmmppphhh, sluuuuurrrpp.”

“Sssshhhhhh aaah, seporanganmu makin nikmat aja Fit,” ujar Ramon sambil meletakkan kembali ponselnya.

Baru saja dia berbalas pesan BBM dengan gundiknya yang baru, Nadya, yang mengabarkan tentang rencana liburan mereka lusa. Dia sudah tidak terkejut lagi dengan kabar yang baru saja diberikan oleh Nadya. Semua memang sudah diatur oleh Ramon, termasuk kepergian Budi ke Jakarta dan juga acara pramuka di sekolah Erwin, yang menyebabkan keduanya tak bisa ikut menemani istri mereka liburan.

Tentunya dia tak ingin ada pengganggu bagi dirinya dan Hendri untuk bisa menikmati kehangatan tubuh Lia dan Ara. Ramon sudah bertekat untuk sedikit melanggar perintah bossnya, yang melarangnya untuk menggauli Ara. Wanita secantik itu, pria bodoh mana yang mau melepaskan begitu saja. Yang penting keinginan bossnya agar dia mengirimkan foto telanjang Ara dia lakukan, lebih dari itu sang boss tak akan tahu.

Saat ini dia sedang berada di dalam mobilnya, sedang menikmati kuluman seorang wanita yang masih memakai seragam dinasnya. Mobil itu terparkir tak jauh dari rumah sang wanita. Hari ini Ramon memang menjemput dan mengantarkan Safitri pulang karena mobil Safitri sendiri sedang berada di bengkel. Tentu saja biaya antarnya ini tidak gratis. Dia memaksa Safitri untuk mengoral penisnya selama perjalanan tadi.

Safitri yang telah ditaklukan oleh Ramon tak punya pilihan selain menurutinya. Ini sudah kesekian kalinya dia memberikan servis oral kepada Ramon, karena memang sedang kedatangan tamu bulanan. Kalau tidak tentu saja Ramon akan meminta lebih dari ini. Masih seperti saat pertama kali disetubuhi oleh Ramon, Safitri melakukan hal ini dengan penuh keengganan. Namun mau bagaimana lagi, toh dia tak bisa untuk menolaknya.

Safitri melumat penis Ramon sebaik mungkin, bukan karena dia menikmatinya, tapi karena dia ingin agar Ramon segera klimaks dan mengantarkannya sampai ke rumah, yang sebenarnya sudah tak jauh lagi. Kepala Safitri bergerak naik turun, sedangkan tangan kirinya menggenggam dan mengocok penis Ramon yang tak sampai masuk ke mulutnya. Sudah sekitar 5 menit Safitri memberikan pelayanannya kepada Ramon, namun pria itu belum klimaks juga.

Kancing baju Safitri sudah lepas beberapa, memberikan akses bagi tangan Ramon untuk meremasi kedua buah dada mungilnya itu. Beberapa kali ditarik putingnya secara bergantian membuat Safitri mengerang disela kulumannya di penis Ramon. Safitri menahan benar dirinya agar tak terlihat menikmati permainan ini, meskipun Ramon yang sudah berpengalaman dengan wanita mengetahui bahwa Safitri mulai menikmatinya.

Tangan kanan Ramon memegang kepala Safitri dan memaksanya untuk mengulum lebih dalam lagi penisnya yang cukup besar itu. Safitri sampai harus beberapa kali tersedak karena hal itu. Dia tahu kalau Ramon sudah seperti itu artinya klimaksnya tak akan lama lagi. Dan benar saja, dirasakannya penis itu mulai berdenyut. Safitri mempercepat kulumannya agar Ramin segera orgasme.

Ramon semakin merem melek menerima perlakuan Safitri ini. Terasa begitu nikmat hingga dia rasakan orgasmenya akan segera datang. Dan dengan sekali hentakan kasar, disertai tekanan dari tangan Ramon di kepala Safitri, meledaklah cairan sperma Ramon di dalam mulut Safitri, yang langsung berusaha untuk ditelan semua oleh wanita itu.

“Aaaaahhhh, mulut kamu nikmat sekali Fit, telen semua pejuhku, jilati, bersihin kontolku Fit.”

Safitri hanya menuruti saja, dia jilat lagi seluruh permukaan penis pria itu, sekaligus membersihkan sisa-sisa sperma yang sempat meleleh keluar dari mulutnya. Setelah itu Safitri kembali bangkit, bersandar sambil mengatur kembali nafasnya yang tersengal-sengal. Baju dinasnya masih dibiarkan terbuka, hingga nampak gundukan putih dengan putih yang kecoklatan.

Saat masih mengatur nafasnya tiba-tiba dirasakannya mulut Ramon mengenyoti kedua payudaranya bergantian. Safitri berusaha menepis Ramon namun tenaganya yang sudah lemas tak mampu menyingkiran kepala itu dari dadanya, membuatnya pasrah.

“Aaahhh udah masss, aku capeeekkkhh,” lenguh Safitri.

“Bentar ya Fit, aku bikin jejak dulu.”

Ramon pun menggigit-gigit kecil area dada Safitri membuat beberapa cupangan disana, setelah itu Ramon menarik kepalanya, memberikan kesempatan kepada Safitri untuk merapikan bajunya. Safitri mengancingkan kembali kancing bajunya, menutupi dadanya yang tak tertutup oleh bra itu. Ya, hari ini Ramon menyuruh Safitri untuk berangkat bekerja tanpa memakai pakaian dalamnya.

Hal ini tentu saja membuat Safitri risih. Untung saja payudaranya yang masih padat dan kencang ini tak terlihat turun di balik baju dinasnya yang lumayan tebal, sehingga putting susunya pun tak tercetak. Meski begitu tetap saja sepanjang hari ini Safitri merasa was-was, takut ada yang menyadari bahwa tubuh bagian atasnya tidak memakai pakaian dalam. Kalau sampai ada yang menyadari ini tentu akan menimbulkan masalah tersendiri baginya.

“Udah mas, ayo anterin aku.”

“Iya Fit, baiklah.”

Kini mobil itu melaju pelan, dan tak lama kemudian berhenti di depan rumah Safitri. Tanpa banyak berbasa-basi Safitri segera turun dari mobil itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ramon hanya tersenyum melihatnya. Dia tahu Safitri belum sepenuhnya menikmati permainannya itu, namun tinggal menunggu waktu saja, sampai Safitri benar-benar jatuh ke dalam kuasanya, seperti wanita-wanita yang sudah dia taklukan sebelumnya.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler