. Mengalahkan Gadis Part 13 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 13

0
217

Mengalahkan Gadis Part 13

Falling 2

Lia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Penat rasanya dengan pekerjaan yang menumpuk hari ini, tapi untung saja sudah dia selesaikan dan bisa pulang tepat waktu. Kini dia sudah berada di rumahnya, mengistirahatkan badannya sejenak. Suaminya sedang pergi mengikuti penataran di Jakarta, penataran untuk kenaikan pangkatnya menjadi kepala sekolah, yang akan menggantikan kepala sekolah lama di SMA tempatnya mengajar karena sudah memasuki masa pensiun, begitulah kata suaminya.

Sudah sejak kemarin, dan rencananya selama seminggu ke depan suaminya akan berada di Jakarta. Sedangkan kedua anaknya untuk sementara ini ikut tinggal bersama kakek neneknya di Bantul sampai suaminya pulang nanti, dan rencananya weekend ini Lia akan mengunjungi mereka. Jadilah sekarang Lia tinggal sendirian di rumah. Tapi dia tahu, malam ini tidak akan dia lewatkan hanya sendiri saja.

Ya, malam ini dia akan ditemani, atau terpaksa menemani lebih tepatnya, seorang pria yang sampai sekarang pun bahkan Lia belum tahu namanya. Beberapa hari yang lalu, dengan terpaksa dia telah membuat janji dengan pria itu. Pria yang ternyata tanpa sengaja mengetahui perselingkuhannya dengan mendiang Pak Dede. Si pemilik angkringan yang berada di seberang jalan dari rumahnya itu melihat dirinya sedang mengoral penis Pak Dede.

Pria itu beberapa kali melihatnya, ketika Lia sering diantar pulang oleh Pak Dede, tapi setelah berhenti di depan rumah Lia tak segera turun. Bahkan beberapa kali terlihat kepalanya naik turun di selangkangan Pak Dede, membuat pria paruh baya itu merem melek menahan nikmatnya. Pada akhirnya Lia berhasil dibuat terkaget oleh pria itu ketika datang ke angkringannya untuk membelikan suaminya susu jahe, dan kemudian pria itu mengambil keuntungan dengan memaksa Lia memberikan servis oral kepadanya.

Sudah dua kali Lia terpaksa memberikan servis dari mulut indahnya itu kepada si pria pemilik angkringan. Pria itu sebenarnya meminta lebih, namun Lia masih berusaha menolaknya dengan berbagai alasan. Tapi malam ini tak ada lagi alasan. Suaminya sedang dan akan tidak berada di rumah untuk seminggu lamanya. Ancaman dari pria itu juga semakin membuat Lia tak punya pilihan, sehingga malam ini si pemilik angkringan itu akan menagih jatahnya, jatah untuk menikmati tubuh Lia.

Lia sudah tak bisa berkelit lagi, mau tak mau harus menuruti pria itu, atau pria itu akan melaporkan apa yang terjadi kepada Erwin, suaminya. Meskipun kini Pak Dede sudah tiada, namun tetap saja pengkhianatan adalah pengkhianatan. Bagaimana nasib keluarga mereka nantinya jika Erwin sampai mengetahui hal itu? Bagaimana dengan pernikahannya? Bagaimana pula dengan nasib anak-anaknya nanti? Hal itulah yang membuat Lia terpaksa tunduk.

Setelah kematian Pak Dede, sebenarnya Lia berniat untuk memperbaiki dirinya. Dia ingin berhenti menyeleweng dari suaminya. Sebelum dengan Pak Dede, dia memang pernah mengkhianati suaminya, dia berselingkuh dengan rekan suaminya sesama guru, yang membuatnya merasakan sensasi baru bagaimana nikmatnya bercinta di tempat umum. Bersama pria ini, bercinta di bioskop, di kolam renang umum, di pantai, bahkan di taman kota pun pernah dia lakukan. Dan semua itu baru bisa berhenti setelah pria itu pindah ke entah kemana.

Ketika masih pacaran pun, Lia sudah beberapa kali berselingkuh dari Erwin, baik itu dengan teman kampusnya, teman kampus Erwin ataupun yang lainnya. Yang paling diingat oleh Lia adalah ketika dia berselingkuh dengan teman kost Erwin, hanya seminggu setelah Erwin memerawaninya. Dengan segala bujuk rayu dan tipu muslihat Lia akhirnya jatuh ke dalam pelukan teman pacarnya itu.

Sebenarnya Lia bukanlah perempuan yang hobi berselingkuh, sama sekali tidak. Hanya saja dia memiliki sifat yang mudah simpati kepada orang lain, mudah untuk tersentuh. Erwin tahu hal itu dan tak begitu mempermasalahkannya. Hanya saja ternyata sifatnya itu justru dimanfaatkan oleh pria lain, tujuannya jelas untuk bisa merasakan kehangatan dan kesintalan tubuh Lia, dan tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan Erwin.

Di setiap penyelewengan yang dia lakukan, selalu terbesit penyesalan dalam diri Lia. Saat dirinya mulai didekati orang lain, ingin rasanya dia bercerita kepada Erwin. Namun Lia merasa terlalu mencintai Erwin, sehingga tak pernah berani untuk mengungkapkannya, karena takut akan membuat Erwin salah paham dan pada akhirnya akan meninggalkannya, sehingga dia lebih memilih untuk diam. Sebuah pilihan yang salah, mengingat kebungkamannya itu justru menariknya kepada sesuatu yang lebih buruk lagi.

Berkali sudah dia ingin menghentikan ini. Dia ingin menjaga kesetiannya kepada suaminya itu terutama saat sudah memiliki momongan, namun ternyata menghilangkan sifat yang sudah menempel di dirinya sejak lama ini sangat sulit sekali. Dengan sedikit diberi perhatian lebih dan rayuan-rayuan gombal, Lia tak kuasa menolak ketika dirinya dibawa ke lubang perselingkuhan untuk kesekian kalinya.

Tetapi sekarang, apa yang akan dia lakukan bukanlah hal yang sama seperti sebelumnya. Dia akan melakukannya bukan karena mendapat rayuan manis dan perhatian berlebih, ataupun karena suka sama suka, tapi karena sebuah keterpaksaan. Keterpaksaan untuk menutupi kebohongannya, dengan melakukan kebohongan yang lain lagi. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila dia tak menuruti kemauan si pemilik angkringan, yang bahkan dia sendiri belum tahu namanya sampai saat ini.

Pusing memikirkan hal ini, Lia segera menuju kamarnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. Dia ingin segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa begitu lengket oleh keringat yang seharian ini menempel, dan mungkin, mempersiapkan dirinya untuk menyambut pria yang akan mendatanginya malam ini, pria kesekian yang akan menikmati tubuh sintal Lia sepuasnya malam ini.

Sore ini nampaknya langit begitu muram, seperti akan menumpahkan hujan yang tidak sedikit. Lia berharap memang akan benar-benar turun hujan yang sangat deras sehingga pria itu tak jadi datang. Ya, dia sangat mengharapkan itu terjadi. Paling tidak itu akan sedikit menunda perselingkuhannya.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian hujan benar-benar turun dengan lebatnya. Lia nampak tersenyum lega, mungkin malam ini dia masih bisa untuk tidak bertemu dengan pria itu. Dia berpakaian santai saja malam itu, dengan balutan kaos ketat tanpa lengan yang ditutup oleh cardigan tipis untuk sedikit mengurangi hawa dingin, dan celana pendek selutut yang menampakkan keindahan kedua kakinya.

Lia sebenarnya tak begitu menyukai suasana ini, hujan yang sangat deras dengan petir menyambar, dan dia hanya sendiri di rumah. Dia takut, tapi juga berharap hujan dan sambaran petir ini akan bertahan cukup lama agar pria itu tak jadi mendatanginya. Namun sepertinya keberuntungan urung menghampiri Lia malam ini.

Setelah selesai menyantap makan malam dan bersantai sambil menonton TV, tiba-tiba dia mendengar pintu rumahnya diketuk. Lia menunduk kecewa, karena tahu siapa yang datang, dan apa yang akan terjadi malam ini. Dengan langkah yang ogah-ogahan dia beranjak membukakan pintu. Dan seperti yang sudah ditebak, seorang pria yang beberapa hari sebelumnya menikmati servis dari mulutnya kini berdiri dengan pakaian yang basah kuyup, tapi tersenyum penuh nafsu menatap Lia dalam balutan pakaian ketatnya.

Lia geleng-geleng tak mempercayai ini. Pria itu bahkan mendatangi rumahnya tanpa membawa payung, membiarkan sekujur tubuhnya basah kuyup oleh hujan. Sebegitu besarkah niatnya untuk bisa menemui Lia malam ini demi menagih jatahnya? Lia menghela nafas, menatap jijik senyum mesum dari pria itu, dan segera mempersilahkan si pria masuk agar tak sampai ketahuan oleh tetangga sekitarnya.

“Nekat sekali kamu mas? Hujan segini derasnya tetap aja datang kesini?” ujar Lia.

“Ah cuma hujan air mbak, paling kan cuma basah aja, nggak masalah kok, kan ada yang ngangetin malam ini, haha,” jawab pria itu.

“Tapi kamu akan membuat rumahku becek semua nanti tau nggak!” ujar Lia jengkel.

“Tenang aja mbak, rumah mbak nggak akan sampai becek kok,” ujar si pria sambil dia melepasi pakaiannya satu persatu hinnga telanjang bulat, dan kemudian meletakkan begitu saja pakaiannya yang basah kuyup itu. Tindakan si pria ini tentu saja sangat mengejutkan Lia, terlebih lagi saat dilihatnya penis yang sudah dua kali menyemprotkan cairan mani ke mulutnya itu.

“Yang bakal becek malam ini cuma memek kamu mbak, hehe,” lanjut pria itu.

Pria itu segera saja menyergap tubuh Lia dan menciumi sekujur wajah Lia. Yang diciumi hanya menutup erat mata dan mulutnya. Masih tersisa rasa tak rela dalam tubuhnya, namun dia juga tahu kalau tak bisa menolak. Malam ini akan menjadi malam yang panjang baginya. Tak lama lagi pakaian yang melekat di tubuhnya akan tanggal satu persatu hingga tak bersisa. Tak lama lagi seluruh bagian tubuhnya akan segera dinikmati oleh pria itu. Tak lama lagi lubang kewanitaannya akan segera dipenuhi oleh batang kejantanan pria itu.

***

Sarbini sedang berada di rumahnya malam ini. Dia merenung, menatap istrinya yang sudah terlelap. Hari memang belum terlalu larut, namun istrinya yang sedang kurang sehat sudah terbawa mimpi setelah meminum obatnya tadi. Malam ini terpaksa dia membatalkan janjinya bertemu dengan Tata karena mendapatkan kabar bahwa istrinya sakit. Sedikit kecewa memang karena sudah seminggu ini hasratnya tak tersalurkan, dan seharusnya malam ini dia mengayuh birahi kembali bersama Tata.

Tadinya dia mengira persetubuhannya dengan Tata setelah pesta pernikahan Ara dulu adalah yang terakhir, namun ternyata minggu lalu tiba-tiba Tata menghubunginya ingin bertemu, dan akhirnya terjadilah pergumulan panas semalam suntuk di hotel itu. Sarbini yang awalnya sempat curiga menjadi lupa diri setelah melihat Tata dalam keadaan tanpa busana menyambut kedatangannya di kamar hotel.

Dia memang tak habis pikir kenapa Tata menghubunginya lagi setelah hilang kontak selepas pernikahan Ara. Bahkan Tata meminta untuk bertemu di sebuah hotel bintang 4 di kawasan jalan Jogja-Solo. Sebuah hotel yang memiliki fasilitas cukup lengkap dan pemandangan yang indah. Sempat ragu awalnya Sarbini untuk memenuhi undangan Tata. Dia sempat bertanya-tanya pula darimana Tata bisa mendapatkan nomor teleponnya.

Namun begitu pintu kamar dibuka, dan dilihatnya seorang wanita muda cantik dengan kulit putih bak pualam, tanpa sehelai benangpun menatap genit ke arahnya, membuat segala kecurigaan yang memenuhi kepalanya menguap begitu saja. Semua tanda tanya di kepalanya berlairan pergi begitu saja. Matanya terbelalak menatap kembali tubuh yang sudah beberapa kali dinikmatinya itu. Tubuh yang dia rindukan. Tubuh yang mampu memuaskan nafsunya yang masih begitu besar meskipun usianya sudah tak muda lagi.

Semalaman Sarbini menyetubuhi Tata habis-habisan. Dia seolah menumpahkan rasa rindunya, rasa rindu kepada Tata, dan rasa rindu bisa bersetubuh dan melampiaskan birahi sepuasnya, yang tak pernah bisa lagi dia lakukan dengan istrinya. Beberapa bulan sudah dia menahan birahinya dan hanya sesekali menyalurkanya dengan tangannya sendiri. Namun malam itu dia bisa menumpahkan segala rasa yang sudah tertahan yang membuat dirinya terlelap saking lelahnya.

Setelah bergumul semalaman, Tata justru memancingnya untuk membicarakan tentang Ara, anak majikannya yang sudah dia kenal sejak kecil. Setiap hari dia mengantarkan dan menjemput Ara ke sekolahnya. Bukan membicarakan hal-hal yang umum, tapi malah membahas hal-hal yang erotis tentang Ara. Membicarakan bagaimana indahnya tubuh Ara, dan seberapa nikmat bila Sarbini menggumuli tubuh anak majikannya itu.

Sebelumnya, tak pernah sedikitpun terlintas pikiran-pikiran buruk tentang putri majikannya itu. Namun setelah pertemuan dan pembicaraannya dengan Tata, pikiran buruk, atau lebih tepatnya pikiran mesum tentang Ara mulai muncul menghiasi hari-harinya. Beberapa hari yang lalu ketika disuruh oleh Wijaya untuk mengantarkan sesuatu ke rumah Ara, diam-diam dia memperhatikan anak majikannya itu.

Ara yang hanya di rumah berdua dengan pembantunya karena suaminya belum pulang kerja sama sekali tak menyadari perubahan Sarbini dalam menatapnya. Pakaian yang dipakai oleh Ara sebenarnya cukup sopan dan tertutup, namun mata mesum Sarbini seperti dapat melihat bagian-bagian tubuh Ara yang tertutup itu. Dia mengamati kemolekan tubuh gadis cantik itu, membayangkan bagaimana keindahan tubuh itu jika tanpa busana.

Terlebih lagi dia juga mendapat informasi dari Tata, mengenai ukuran-ukuran tubuh Ara. Bagiamana putih dan mulusnya kulit yang tertutup rapat itu. Hanya membayangkannya saja sempat membuat penis Sarbini menegang saat itu, hingga berkali-kali dia menelan ludahnya. Diam-diam pula dia mengambil beberapa foto ketika Ara tak menyadarinya. Berbekal foto-foto yang tak seberapa itu membuat angannya melayang kemana-mana.

Sudah berkali-kali dalam beberapa hari ini Sarbini memuaskan dirinya sendiri dengan membayangkan Ara sebagai fantasinya. Namun tetap saja, kepuasan yang dia dapatkan dengan beronani malah membuat dirinya semakin tersiksa. Semakin lama bayangan tentang Ara semakin menjadi, semakin besar keinginannya untuk menyingkap setiap rahasia keindahan tubuh gadis itu, semakin besar pula keinginannya untuk mendapatkan dan menikmati tubuh indah anak majikannya itu.

Karena itulah, malam ini sebenarnya dia berencana untuk bercinta dengan Tata dengan membayangkan dirinya sedang menyetubuhi Ara. Dia bahkan membawa satu stel pakaian Ara yang masih tertinggal di rumah Wijaya lengkap dengan kerudungnya, dan ingin Tata memakai itu, sehingga sempurnalah fantasinya. Namun sayang niat itu belum bisa terlaksana karena dia harus pulang lantaran sang istri sakit.

Kini istrinya sudah tidur. Dia mengeluarkan ponselnya, dan membuka folder galeri yang menyimpan beberapa foto Ara. Foto yang biasa saja sebenarnya. Hanya foto wajah Ara yang tak terlalu jelas karena diambil dengan sembunyi-sembunyi. Juga ada beberapa foto bagian-bagian tubuh Ara yang masih tertutup pakaian namun dengan pintarnya Sarbini bisa mengambil sudut yang bagus sehingga menampakkan betapa menantangnya gundukan buah dada Ara dan juga bulat dan padatnya pantat gadis itu.

Dia memandangi semua foto itu, mengkhayalkan Ara melepaskan semua pakaiannya, mempertontonkan tubuh indahnya yang selama ini tertutup, yang hanya pernah dilihat oleh suaminya saja. Membayangkan setiap lekuk tubuh Ara, membuat kemaluan Sarbini berdiri tegak. Khayalan mesumnya bekerja, membangung imajinasi tentang bagaimana keindahan tubuh polos Ara tanpa sehelai benang yang menutupinya, bagaimana kemulusan setiap senti kulitnya yang putih bersih tanpa noda, dan berhiaskan dua puncak berwarna merah muda di dadanya, juga betapa sempitnya jepitan lubang peranakan Ara.

Tak tahan dengan itu Sarbini segera beranjak ke kamar mandi, dia mulai mengeluarkan kemaluannya dan segera mengocoknya sambil menatap foto-foto Ara. Sesekali matanya tertutup, membayangkan Ara dengan binalnya menjilati setiap senti permukaan penisnya, dan dengan lahap menghisap habis kemaluannya. Sarbini pun membayangkan memasukkan penis besar itu ke vagina sempit Ara, lalu menggoyangkannya dengan penuh gairah.

“Aaaaahh non Ara, terus non, goyangin terusss, aaahhh,” Sarbini mengocok penisnya kencang, penuh nafsu.

Dalam bayangannya Ara yang sedang bergoyang di atas tubuhnya dengan begitu liar, sambil Sarbini meremasi kedua buah dada Ara yang membulat padat. Tubuh telanjang Ara yang hanya menyisakan kerudung yang menutupi kepalanya, bergerak naik turun tanpa henti. Bayangan-bayangan yang hadir dalam benak Sarbini ini membuatnya lupa diri. Entah sudah berapa kali dia melakukan ini, beronani dengan membayangkan tubuh anak majikannya. Kini, hilang sudah kesetiaan dan keengganannya kepada Wijaya, kini dia semakin terobsesi dengan Ara.

Setelah puas beronani dengan Ara sebagai obyek fantasinya, dia duduk merenung di ruang tamunya. Ditemani secangkir kopi pahit dan sebatang rokok kretek, Sarbini berpikir, bagaimana caranya dia bisa mendapatkan kesempatan untuk mencicipi tubuh Ara. Memintanya langsung jelas tidak mungkin. Memperkosanya? Ahh dia bukan orang yang menyukai pemaksaan seperti itu, menurutnya meniduri wanita tanpa keterpaksaan akan jauh lebih nikmat daripada memperkosanya.

Seperti halnya dengan Tata dulu, sama sekali dia tak memaksanya. Semua berawal ketika tanpa sengaja Tata masuk ke kamar mandi saat Sarbini berada di dalamnya sedang buang air kecil. Tata yang tak sengaja melihat justru terpesona dengan ukuran penis Sarbini yang besar padahal tidak dalam keadaan tegang, hingga akhirnya kini, menurut Sarbini, Tata ketagihan dengan batangnya.

Apa sebaiknya seperti itu saja? Menciptakan situasi seolah-olah tanpa sengaja Ara melihat penisnya? Tapi bagaimana membuatnya seperti itu? Ara sehari-harinya bekerja hingga sore, begitu pula dirinya yang sepanjang waktu mendampingi majikannya. Sementara bila akhir pekan seperti ini sudah pasti Ara akan menghabiskan waktunya bersama sang suami. Sarbini juga harus punya alasan yang masuk akal jika akan berkunjung ke rumah Ara. Ah sulit juga, pikirnya.

Apakah dia benar-benar harus meminta bantuan Tata? Tapi bantuan seperti apa yang akan diberikan nanti? Dan apakah imbalan yang nantinya akan diminta oleh Tata? Tentu tak mungkin kan kalau Tata menawarkan sebuah bantuan seperti itu, tanpa meminta imbalan apapun? Tapi apa? Uang? Jelas dia tak punya. Dan Tata tahu persis bagaiama kondisi perekonomiannya, sehingga tak mungkin akan meminta uang. Kalau Tata meminta imbalan dengan jatah seks dari penisnya tentu akan disanggupinya, tapi bagaimana kalau meminta yang lain?

Sepertinya memang ada sesuatu dibalik tawaran dari Tata itu. Entah apa, dan mengapa dirinya, otak Sarbini tak bisa sampai kesana memikirkannya. Terlebih lagi dia sudah diracuni pikirannya oleh Tata, sehingga kini hanya terpikirkan bagaimana untuk bisa merasakan tubuh indah Ara, bukan hanya sekali dan sejengkal, tapi berkali-kali dan merasakan setiap titik permukaan kulit putih mulus Ara.

Aargh, keinginannya untuk bisa mendapatkan Ara kini semakin kuat. Beronani seperti tadi hanya semakin menyiksanya saja. Dia menimbang-nimbang, untung ruginya bila meminta bantuan Tata. Untungnya jelas dia akan mendapatkan surga dunia bernama Ara, dan tetap akan mendapat jatah dari Tata juga, tapi ruginya, apa ya? Dia belum bisa membayangkannya.

Dia juga belum terlalu mengenal seperti apa suami Ara, seperti apa dia dalam menjaga istrinya itu. Yang dia tahu hanyalah Budi adalah seorang pegawai bank biasa. Entah diluar itu apakah dia memiliki keahlian yang lain, Sarbini tidak tahu. Sepertinya dia harus mencari tahu juga mengenai Budi ini, sehingga dia bisa merencanakan bagaimana langkah terbaik untuk bisa menikmati Ara, dengan bantuan Tata tentunya.

Ya, sepertinya dia memang harus menemui Tata, untuk meminta bantuannya. Entah bantuan seperti apa nantinya, dan imbalan apa yang akan diminta Tata nanti, persetan lah, yang jelas keinginannya kini sudah membulat. Dia tak peduli lagi dengan Wijaya. Hmm tohWijaya juga bukan lelaki yang setia. Sarbini pernah beberapa kali mengetahui Wijaya bertemu janji dengan wanita selain istrinya, bahkan selepas pesta pernikahan anaknya pun dia berhubungan intim dengan seorang wanita muda. Sayang dia tak sempat mengambil gambar persetubuhan mereka, kalau saja sempat pasti akan sangat berguna baginya. Entah sekarang masih suka berselingkuh atau tidak, tapi Sarbini rasa Ara merupakan karma yang setimpal untuk perbuatan Wijaya, dan Sarbini akan dengan sangat bersenang hati menjadi pemberi karma itu.

***

Tubuh telanjang Renata naik turun diatas pangkuan pria itu. Peluh telah membasahi tubuhnya hingga terlihat mengkilap, begitu menggairahkan. Sedangkan si pria sedang merangkul tubuh Renata yang membelakanginya, sambil meremas kedua buah dada Renata, dan bibirnya sibuk mencucupi tengkuk wanita itu.

“Toketmu kenyal banget Re, mantepan punyamu daripada punya mbakmu.”

“Uuuhhh, hhmmmpph, aaaahhhh,” tak menjawab, Renata hanya mendesah sambil terus bergoyang.

Gerakan tubuh Renata semakin cepat, dirasakan orgasme keduanya akan segera tiba. Si pria yang mengetahui itu semakin keras meremasi payudara Renata, dan menggerakkan pinggulnya agar penisnya semakin masuk menghentak vagina Renata.

“Aaaahhh maassshhh aku keluaarrr.”

Badan Renata melemas tersandar ke belakang, dadanya naik turun seirama dengan nafasnya. Pria itu segera mengangkat Renata dan merebakan tubuh indah itu ke sofa yang dia duduki tadi. Dia segera membuka paha Renata dan langsung menancapkan kembali penisnya dan langsung menyodokinya dengan kasar. Puncak orgasmenya tak jauh lagi, tak tahan dia dengan permainan Renata tadi, begitu menggairahkan dan mengusik birahinya, hingga tak lama kemudian,

Crot.. Crot.. Crot..
Akhirnya pria itu menyemprotkan spermanya ke dalam lubang vagina Renata, setelah itu tubuhnya ambruk menindih tubuh Renata. Mata keduanya terpejam, nafasnya masih tersengal-sengal.

“Kamu hebat juga Re, nggak kalah dari mbakmu,” bisik pria itu kepada Renata. Sedari tadi mereka berdua memang hanya mengeluarkan suara-suara berupa bisikan seperti itu, agar tak sampai terdengar dan diketahui oleh orang lain.

Renata memejamkan matanya dalam pelukan lelaki itu. Air matanya keluar, membawa kesedihan dan penyesalan yang mendalam, penyesalan karena dia kembali mengkhianati tak hanya suaminya, tapi kini juga mengkhianati kakak kandungnya sendiri, Filli. Lelaki yang baru saja menyetubuhinya itu adalah Taufik, suami Filli, kakak ipar Renata sendiri. Dia bersetubuh dengan kakak iparnya di ruang tamu sedangkan suaminya sedang terlelap di kamar.

Sama sekali tak diduga oleh Renata, kedatangan kakak iparnya ke Solo yang awalnya untuk urusan bisnis harus berakhir seperti ini. Semua ini berawal ketika Taufik meminta ijin untuk menginap di rumah Renata. Taufik pergi ke Solo memang untuk urusan bisnis. Renata dan Wildan, suaminya, tentu tak menolak kehadiran sang kakak ipar karena kebetulan lokasi rumah dan tempat yang berurusan dengan Taufik sangat dekat.

Saat sampai di rumah Renata, semua masih normal-normal saja. Taufik juga bersikap biasa-biasa saja seolah tidak ada apa-apa, ataupun tidak merencanakan apa-apa. Mereka pun menyantap makan malam yang disajikan oleh Renata dengan lahap dan dalam suasana yang hangat. Taufik bahkan memuji masakan Renata, dan berkelakar meminta Renata untuk mengajari kakaknya agar bisa memasak seenak masakannya.

Namun setelah selesai makan malam keadaan menjadi sangat berubah, dan dan sama sekali tak diperkirakan oleh Renata maupun Wildan. Wildan pamit untuk tidur lebih awal karena masih kelelahan sehabis dinas ke luar kota. Renata menemani suaminya sejenak di kamar tidur hingga Wildan benar-benar terlelap, dan kemudian menuju dapur untuk membereskan sisa-sisa makan malam mereka.

Dilihatnya Taufik sedang menonton TV di ruang keluarga. Beberapa menit sebelumnya dia masih bercanda dengan anak Renata yang masih berusia 2 tahun, namun nampaknya sang anak kini sudah tidur karena hanya tinggal Taufik sendirian. Setelah selesai membereskan urusannya di dapur, Renata masuk ke kamar anaknya, memastikan dia sudah tertidur, memberikan kecupan di keningnya dan kemudian keluar menuju ruang TV untuk menemani Taufik.

“Mbak Filli kok nggak ikut tho mas?” tanya Renata membuka pembicaraan.

“Iya, mbakmu lagi sibuk Re, udah kuajak sebenarnya, karena kan tempatku meeting dekat rumahmu, eh dianya sibuk katanya.”

“Sibuk apa emangnya mas? Kan sama kayak Rena, pengangguran, haha.”

“Haha, nggak tahu tu, mbakmu sekarang lagi doyan mainan online shop, dan katanya besok itu ada meeting gitu sama temen-temen komunitas online shop dia yang di Surabaya.”

“Oh ya? Wah seru tu kayaknya mas? Emang mbak Filli sekarang jualan apa?”

“Nggak tahu juga aku, baju-baju gitu katanya.”

“Lha emang barangnya nggak ada dibawa ke rumah gitu?”

“Nggak ada Re, katanya sih barang-barang itu ada di rumah temennya, mbakmu yang bagian ngurusin lapak online-nya. Ya coba aja entar kamu nanya-nanya sama mbakmu, siapa tahu kamu tertarik, kan lumayan Re buat ngisi kesibukan kamu.”

“Iya deh mas entar Rena tanya, kayaknya lumayan ya mas daripada nganggur gini, hehe.”

Mereka pun masih asyik membahas kegiatan yang sedang dilakukan oleh Filli. Filli memang sedang mengikuti bisnis online shop, hal ini bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dari semua musibah yang telah menyeret dia dan Renata ke lembah perbudakan. Dan memang Filli akan mengikuti sebuah meeting dengan komunitas bisnisnya. Selain untuk mengetahui lebih banyak tentang bisnis itu, juga untuk memperluas pergaulan Filli yang semenjak menikah dengan Taufik agak terbatas. Bukan karena dibatasi oleh Taufik, tapi lebih karena dia ingin membatasi dirinya sendiri saja.

Perbincangan Renata dan Taufik mulai mengarah ke hal-hal yang lebih bersifat kekeluargaan, bagaimana kabar keluarga mereka masing-masing, kegiatan-kegiatan keluarga dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Namun tak lama kemudian tiba-tiba Taufik berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Renata terdiam heran melihat kelakuan kakak iparnya itu.

“Re, coba deh sini bentar,” panggil Taufik.

“Kenapa mas?” tanpa kecurigaan sedikitpun Renata yang masih heran hanya mengikuti panggilan Taufik begitu saja.

Dilihatnya Taufik sudah duduk di kursi tamu, sambil memegangi ponselnya. Dengan isyarat dari tangannya Taufik meminta Renata mendekat. Setelah dekat tiba-tiba tangan Taufik menarik Renata hingga dia terduduk di samping Taufik. Mata Renata terbelalak mengetahui apa yang ditampilkan layar ponsel yang sedang digenggam Taufik. Sebuah foto dirinya, tapi sedang dipapah oleh seseorang, seorang pria kurus.

Foto yang menunjukkan saat Renata pulang ke hotel selepas dari pernikahan Budi adiknya. Di dalam foto itu terlihat Renata sedang dipapah oleh seorang pria kurus menuju kamarnya sambil tangan pria itu meremasi buah dada Renata, dan setahu Taufik pria itu baru keluar dari kamar Renata keesokan harinya. Renata tahu mereka memang menginap di hotel yang sama saat itu, tapi bagaimana bisa kakak iparnya bisa mendapatkan foto-foto itu?

“Siapa ini Re?” tanya Taufik dengan tegas.

“Ii, iituuu,,,” Renata tergagap, tak mampu berkata-kata saking terkejutnya.

“Jelasin sama mas, siapa pria ini? Kenapa bisa sama kamu?” desak Taufik.

“Itu temen mas,, yang nganterin Renata balik hotel,” jawab Renata tanpa berani melihat Taufik.

“Temen? Temen seperti apa sampai megang-megang toket kamu gini?”

“……..” Renata masih terdiam, dia bingung bagaimana harus menjelaskan ke kakak iparnya ini.

“Kamu tahu foto ini diambil jam berapa? Hampir jam 3 pagi Re. Sekarang kamu jelasin sama mas, kamu ceritain semua, kenapa kamu bisa dianter balik sama laki-laki ke hotel jam segitu? Dan siapa sebenarnya pria itu sampai dia berani pegang-pegang toket kamu?” desak Taufik.

“Hiiks, mas tolong kasih foto itu ke aku mas, hiks aku nggak bisa jelasin ke mas Taufik,” jawab Renata terisak, memohon pada kakak iparnya agar menyerahkan foto itu.

“Kamu mau semua foto-foto ini?”

“Hiks, iya mas,” jawab Renata mengangguk.

“Kamu jelasin dulu semuanya sama mas, atau semua foto ini aku kasih lihat ke Wildan,” ancam Taufik.

“Mas jangan mas, jangan sampai Mas Wildan tahu ini.”

“Ya terserah kamu, mau pilih yang mana,” ujar Taufik sambil tersenyum.

Renata menunduk, merasa tak punya pilihan lain. Tapi dia bingung, bagian mana yang harus dia ceritakan, dan bagian mana yang tak perlu dia ceritakan. Akhirnya dengan terbata-bata dan masih terisak Renata mulai menceritakan peristiwa di pernikahan Budi yang membuat dia akhirnya pulang ke hotel dalam keadaan seperti itu, dengan diantar oleh seorang pria yang baru dikenalnya. Hanya sampai disitu dia ceritakan, tanpa menceritakan peristiwa lanjutan yang melibatkan Filli, Ramon dan sebuah handycam yang merekam aksi mereka.

Taufik bukan main terkejutnya mendengar polosnya Renata bercerita. Sangat-sangat diluar dugaannya. Awalnya dia mengira Renata saat itu pergi dugem atau semacamnya sepulang dari pernikahan Budi, pulang ke hotel dalam keadaan mabuk dan diantarkan oleh pria yang dia temui di klub hingga terlibat cinta satu malam dengan pria itu. Jika itu yang terjadi, sebenarnya tak terlalu dipermasalahkan oleh Taufik, karena Taufik sendiri sebenarnya juga sering terlibat one night stand dengan beberapa wanita saat dugem, sehingga awalnya dia mengancam Renata ini untuk iseng-iseng saja, tanpa niat yang lain. Bagaimanapun juga Renata adalah adik iparnya.

Namun pengakuan Renata yang sangat jauh dari perkiraannya ini, membuat Taufik berpikiran lain. Bagaimana adik iparnya ini bisa dengan mudah jatuh seperti itu? Kenapa dia tidak berteriak saja ketika diperlakukan seperti itu? Kenapa kesannya Renata justru ikut menikmati perkosaan yang menimpa kepadanya? Paling tidak itulah kesan yang dia tangkap dari cerita Renata, tidak ada usaha lebih untuk menolak dan menghindar, justru membiarkan dan menikmatinya, bahkan ketika dirinya disetubuhi bukan hanya oleh satu laki-laki, tapi empat, dan juga masih dilanjutkan seharian di kamar hotelnya oleh pria kurus yang mengantarnya itu.

‘Wuasu boss, beruntung banget itu cowok-cowok, bisa nikmatin tubuh seger Renata, ayo sikat aja boss’ tiba-tiba sosok bayangan Taufik yang berpakaian dan berkulit merah muncul di sisi kirinya, si iblis.

‘Heh jangan, nggak boleh, itu adik ipar kamu lho, adik kandung dari istrimu, tadi kan niatnya nggak kayak gitu,’ muncul sesosok lagi namun kini berpakaian dan berkulit putih di sisi kanannya, si malaikat.

‘Halah udah, kapan lagi boss, adik ipar boss udah dinikmatin orang lain tuh, banyak lagi, masak boss nggak dapet jatah sih?’ si iblis terus membisiki Taufik.

‘Taufik, jangan yaa, inget istri kamu, gimana perasaannya nanti kalau tahu kamu memperlakukan adiknya seperti itu,’ sergah si malaikat.

‘Boss, kapan lagi boss, Renata boss, wuih bodinya nggak kalah sama istri boss, ayo sikat boss, mumpung pada udah tidur semua, nggak bakal ada yang tahu boss

Nampaknya kali ini si malaikat harus rela mengalah dari si iblis. Niatan awal Taufik yang hanya ingin iseng pada adik iparnya berubah, karena telah mengetahui bahwa kini tubuh adik iparnya ini sudah dinikmati oleh beberapa pria selain suaminya sendiri. Bisikan sang iblis membuat keinginan Taufik untuk juga mencicipi kehangatan adik iparnya ini mucul.

“Udah ya mas, udah aku ceritain semuanya, sekarang kasih foto itu ke aku mas,pliss aku mohon,” ujar Renata memelas.

“Hmm, aku nggak nyangka, ternyata kamu senakal itu Re.”

“Tapi, aku dipaksa waktu itu mas,” sangkal Renata.

“Dipaksa? Kok dari cerita kamu, sepertinya kamu menikmatinya juga Re, iya kan?”

Renata terdiam. Dia tak bisa menyangkal, karena faktanya memang saat itu dia ikut menikmatinya, ikut menikmati bagaimana kehormatannya yang selalu dia jaga malam itu direnggut begitu saja oleh empat orang pria yang bahkan tidak dia ketahui namanya. Dan bahkan lubang analnya yang selama ini tak pernah dimasuki benda apapun malam itu menjadi sasaran keempat orang itu juga. Melihat Renata yang terdiam membuat Taufik tersenyum, karena diamnya Renata seperti membenarkan setiap perkataan Taufik.

“Mas, pliss kasih ke aku fotonya mas, hiks,” tangis Renata pecah lagi.

“Oke, aku kasih kamu semua foto ini, tapi aku mau ditukar dengan tubuh kamu.”

“Apa??”

Perkataan Taufik jelas sangat mengagetkan bagi Renata. Jujur saja dia sudah mengira akan seperti ini permintaan Taufik, tapi mendengar perkataan itu keluar dari mulut Taufik benar-benar membuat Renata seperti dihantam palu godam. Bagaimana mungkin kakak iparnya meminta seperti itu? Ahh, lelaki manapun sama saja, akan meminta seperti itu. Tapi kenapa harus kakak iparnya?

Renata merasa dirinya memang sudah kotor, berapa lagipun pria yang akan menikmati tubuhnya sama saja, tak akan membuat dirinya kembali terhormat seperti dulu lagi. Semua telah melayang karena kekalahan dirinya melawan nafsu birahinya sendiri malam itu. Namun yang meminta kini adalah kakak iparnya, suami dari kakak kandungnya sendiri, hal yang tentu saja membuat Renata bergitu kecewa dan sedih.

“Kamu tahu kamu nggak punya pilihan lagi Re, jadi mendingan sekarang, lepasin baju kamu, semuanya!”

Air mata Renata turun dengan begitu derasnya. Dilihatnya Taufik. Dari sorot matanya, Renata tahu lelaki itu tak mungkin berbalik kasihan kepadanya dan melepaskannya. Tak bisa lagi kembali, lagi-lagi semua harus terjadi. Renata pun berdiri, dengan tangan yang gemetar dilepasi pakaiannya satu persatu hingga tak ada lagi benang yang menutupi tubuhnya. Taufik memandang kagum tubuh polos adik iparnya yang sedang berdiri dihadapannya. Diamatinya tubuh itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Sementara air mata Renata dibiarkan mengalir tanpa dihapus sama sekali. Yang membuat Renata lebih sedih lagi tentu adalah ketidaktahuan Taufik kalau sebenarnya hari itu, selain dirinya Filli juga berada di dalam kamarnya, dan dipaksa untuk melayani dua orang pria asing dan bahkan aksi mereka itu direkam oleh kedua pria itu. Rekaman yang dijadikan alat untuk membuat Renata dan Filli menjadi budak Baktiawan. Renata terpaksa bungkam, tak mungkin memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Taufik, dan dengan terpaksa memberikan kehangatan tubuhnya kepada Taufik.

Hampir satu jam mereka bergelut dengan panasnya. Tubuh Renata sudah tak tertutup apapun, sedangkan Taufik hanya memelorotkan sediki celana dan celana dalamnya, cukup untuk membuat penisnya mendapat pelayanan dari mulut dan vagina adik iparnya itu. Dari sejak membuka pakaiannya, hingga kini kedua saling berpelukan setelah bercinta, tak juga berhenti air mata Renata.

“Udah ya mas, sekarang mas bisa ngasih foto itu ke aku kan?” ujar Renata, masih dengan keadaan telanjang bulat dalam pelukan Taufik.

“Pasti, pasti aku kasih. Kalau perlu kamu sendiri yang ngehapus dari ponselku. Tapi ini bukan akhir ya Re, ini baru awal,” ucap Taufik tersenyum.

Renata mengangguk pelan, dia sudah tahu, pasti tak akan berakhir hanya dengan sekali saja malam ini. Pasti masih ada waktu-waktu lain dimana nantinya sang kakak ipar akan menagih saat-saat menikmati tubuhnya lagi seperti sekarang ini. Dia tak menikmatinya, sama sekali tidak. Tapi mau bagaimana lagi, lagi-lagi harus terjatuh di lubang yang sama, bahkan kali ini harus dengan kakak iparnya.

“Belum jam 10, ayo sekali lagi Re,” Taufik menarik Renata dan kembali menciuminya.

Taufik masih meminta permainan mereka diulang sekali lagi, namun kali ini di kamar yang disediakan untuknya, dengan melepasi semua pakaiannya sehingga kini kedua insan itu telanjang bulat memanaskan suasana kamar dengan permainan mereka. Taufik menyetubuhi Renata dengan berbagai macam gaya. Ada tingkat kepuasan yang lain ketika menyetubuhi Renata. Wanita ini memang bukan yang paling cantik atau paling seksi yang pernah dia nikmati, namun statusnya yang adalah adik kandung dari istrinya sendiri, entah memunculkan sesuatu yang berbeda, kenikmatan yang terasa lain daripada yang selama ini dia dapatkan dari bercinta dengan wanita manapun.

Hampir satu jam lamanya mereka menuntaskan birahi, atau lebih tepatnya Taufik yang menuntaskan birahinya, sebelum akhirnya Renata memakai pakaiannya dan kembali menemani suaminya yang sudah tertidur lelap. Dia memeluk erat suaminya, menangisi nasibnya yang harus jatuh sebegitu dalamnya ke lembah nista ini. Bahkan kakak iparnya sendiri pun menikmati tubuhnya. Bagaimana perasaan Filli jika mengetahui hal ini? Tak bisa dibayangkan oleh Renata. Belum lagi bulan depan, di malam pergantian tahun dia dan kakaknya diminta untuk datang ke Jogja. Baktiawan dan rekan-rekannya sepertinya sudah menyiapkan sebuah pesta. Entah pesta seperti apa, hanya saja Renata dapat memperkirakan, mengira-ngira itu adalah sesuatu yang tidak baik, bahkan mungkin saja, sangat mengerikan bagi mereka.

***

Lia masih menutup matanya, nafasnya tersengal, dada polosnya naik turun mengikuti irama nafasnya. Tubuhnya penuh peluh, membuat kedua buah dadanya yang membusung terlihat berkilau. Kedua kakinya dipentangkan lebar-lebar ke atas, dan dipegangi oleh pria itu, membuatnya membentuk huruf V. Sementara itu di antara selangkangannya masih menancap penis pria itu, yang masih berkedut-kedut menguras isi kantong pelirnya.

Seno, nama pria itu. Pria pemilik angkringan yang beberapa hari yang lalu hanya mendapatkan servis dari mulut, kini dia melepaskan spermanya ke dalam rahim Lia. Memang baru beberapa saat yang lalu Lia mengetahui nama Seno. Dirinya merasa geli sendiri, bisa-bisanya membiarkan seorang pria menikmati tubuhnya tanpa mengetahui namanya. Baru sesaat sebelum Seno mencapai puncaknya Lia bertanya siapa nama pria itu.

Ronde pertama mereka baru saja berakhir. Beberapa kali Lia dibuat orgasme dan puncaknya saat mereka berdua klimaks secara bersama-sama. Lia tak menyangka ternyata Seno cukup kuat juga dalam bercinta, dan membuatnya begitu kewalahan. Lia tak tahu, sebelum berangkat Seno sudah mempersiapkan dirinya dengan beberapa ramuan obat kuat yang dia konsumsi. Dia tentu saja tak ingin malam ini hanya dilewati begitu saja, harus dia nikmati sepuasnya, terlebih lagi semalam suntuk ini sampai esok pagi, akan ditemani oleh Lia, wanita yang sudah lama menjadi perhatiannya, yang sudah lama menjadi fantasinya.

Pengaruh dari obat kuat yang dia minum cukup terasa. Permainannya lebih lama dari biasanya, bahkan kini setelah menyemprotkan sperma ke dalam vagina Lia, penisnya masih cukup keras, seperti meminta untuk segera memulai ronde keduanya. Namun Seno tak ingin buru-buru, kurang nikmat rasanya bila Lia hanya terbaring pasrah saja menerima perlakuan Seno, dia juga ingin mendapatkan perlawanan yang sepadan dari Lia agar kenikmatan sejati bisa dia rasakan malam ini, karena setelah malam ini, dia harus menyerahkan Lia ke seseorang, dan mungkin baru bisa menikmati Lia lagi setelah beberapa lama.

“Tubuh kamu nikmat banget mbak, tahu gitu udah dari dulu-dulu aku entotin, haha,” ujar Seno sambil sedikit memaju mundurkan penisnya yang masih tertanam di vagina Lia.

“Aaaahhh bentar masss, aku masih capek,” Lia meminta Seno untuk menghentikan dulu aksinya, karena dia masih cukup letih.

“Iya mbak tenang aja, kita punya waktu panjang kok malam ini, hehe.”

Namun masih saja gerakan pantat Seno tak berhenti. Meskipun hanya menggerakkan sangat perlahan, karena dia memang hanya ingin memancing birahi Lia agar segera naik lagi. Vagina Lia masih cukup peret untuk penisnya yang sebenarnya tak lebih panjang daripada milik suaminya, hanya saja penis itu sedikit lebih tebal. Lia yang merasakan gesekan-gesekan ringan di dinding kemaluannya perlahan mulai bangkit nafsunya.

Namun Lia masih berusaha untuk mengatur nafasnya. Dia cukup kagum dengan daya tahan yang dimiliki oleh Seno. Bukan yang terbaik, tapi permainannya yang juga termasuk lembut mampu membawa Lia untuk sedikit menikmati di tengah keterpaksaannya, dan juga membuatnya sampai orgasme beberapa kali di ronde pertama tadi. Dia jadi bertanya-tanya, mampu seberapa lama lagi Seno dalam bercinta, dan apakah dirinya yang justru akan kalah dan takluk malam ini?

Rasa penasaran yang datang sedikit banyak membangkitkan kembali birahi Lia yang sempat padam di orgasmenya tadi. Cairan pelumas di vaginanya mulai keluar, membasahi batang pejal yang sedang bergerak di dalamnya. Tanpa disadarinya, pantatnya mulai ikut bergerak mengikuti gerakan-gerakan Seno. Pria itu tersenyum melihat reaksi dari tubuh Lia. Di awal permainan mereka masih terasa penolakan-penolakan dari Lia, namun kini perlahan dia mulai bisa menyeretnya untuk masuk dan menikmati permainannya.

Tiba-tiba saja Seno menghentikan gerakannya dan langsung mencabut penisnya. Lia yang sedang menikmati gesekan di vaginanya terkaget dan membuka matanya. Dilihatnya Seno tersenyum memandanginya, sebelum berdiri dan meninggalkan kamarnya dalam keadaan tanpa busana. Lia heran, mau kemana pria itu, kalau mau ke kamar mandi di dalam kamarnya ini ada kamar mandinya.

Lia pun ikut bangkit dan mengikuti kemana perginya Seno. Lia berjalan menuju pintu kamarnya dengan sedikit tertatih, dan lelehan cairan kental keluar dari bibir vaginanya, mengalir lembut di sela-sela paha dalamnya. Ternyata pria itu menuju ke dapur untuk mengambil dua botol air mineral, kemudian berjalan kembali menuju kamar Lia. Lia menahan senyum kegeliannya, saat dilihat bagaimana lucunya Seno dengan keadaan penis yang masih tegak mengacung berjalan mendekatinya. Seno kemudian menyerahkan salah satu botol itu kepadanya dan berjalan melewatinya menuju tempat tidur.

Seno merebahkan badanya di kasur, lalu memandangi Lia, memberikan isyarat untuk segera datang mendekatinya. Lia menurut saja. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekati pria itu. Lia mengerti kemauan Seno, karena dia sendiri juga mulai menginginkannya. Vaginanya sudah basah dan gatal, ingin segera mendapatkan garukan dari penis yang berdiri tegak itu. Sebentar Lia menggenggam penis itu dan mengocoknya pelan, kemudian melangkah mengangkanginya.

Masih dengan memegangi penis itu, Lia menurunkan pantatnya, mengarahkan penis itu ke lubang vaginanya. Gerakannya terhenti ketika ujung kepala penis itu tepat menyentuh bibir vaginanya, lalu menggesek-gesekan menimbulkan rasa geli bagi Lia. Dirasakan liang kewanitaannya semakin basah, sehingga dia mulai menjejalkan kepala penis itu menerobos kemaluannya. Perlahan tapi pasti, penis itu mulai masuk ke vagina Lia, hingga akhirnya tertelan habis oleh lubang itu. Diresapinya sentuhan demi sentuhan antara permukaan dinding vaginanya dengan permukaan batang penis Seno, membuat keduanya terpejam.

Perlahan Lia memaju mundurkan pinggulnya. Gerakannya erotis sekali, pelan namun begitu terasa. Mata Lia terpejam, bibirnya terkatup menikmatinya. Untuk sedikit mengurangi rasa bersalahnya, dia bergoyang sambil membayangkan suaminya, bergoyang di atas tubuh suaminya, bergoyang menikmati penis suaminya yang lebih panjang daripada penis ini. Seno hanya bergerak perlahan saja. Dibiarkannya Lia mengambil alih permainan, karena Seno memang ingin mengetahui seberapa liar dan binal wanita cantik ini bila sudah dikuasai oleh nafsunya.

Birahi Lia yang semakin naik seiring dengan gerakannya yang semakin cepat. Desahannya pun semakin terdengar di tengah suara hujan yang masih turun dengan lebatnya. Pun begitu dengan Seno, yang tak mampu menahan diri untuk mendesah, dan menggerakan tubuhnya semakin cepat mengikuti gerakan Lia. Kedua kemaluan mereka kini semakin beradu, saling memberikan kenikmatan kepada lawannya masing-masing.

“Ssssshhhhh aaaahhhh aaaahhhhh,” desahan Lia tak tertahankan lagi.

“Uuuhhhh mbak Lia, goyanganmu enak banget mbak, ayo terus entoti aku mbaak,” racau Seno.

“Aaahh kontolmu enaak masss aahhhh,” balas Lia.

Gerakan Lia berubah, tak lagi maju mundur, kini pantatnya bergerak naik turun, mengejar orgasmenya sendiri. Paling tidak, di tengah keterpaksaannya dia ingin memuaskan dirinya sendiri, tak peduli dengan pria yang sedang digoyangnya ini, yang juga begitu menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh Lia. Beberapa menit bergerak seperti itu, dengan tempo yang semakin cepat, akhirnya Lia kembali mendapatkan orgasmenya.

“Aaaaaaahhhhhhh.”

Badannya sedikit mengejang, matanya tetap terpejam namun bibirnya terbuka penuh meluapkan kepuasannya. Entah orgasme yang keberapa, dia tak menghitungnya, tak peduli dengan itu, yang penting adalah kepuasan yang dia dapatkan. Tak lama kemudian tubuhnya lunglai menindih tubuh Seno. Seno segera memeluk erat tubuh wanita itu dan menggoyangkan pinggulnya dengan sangat cepat.

Lia yang tersentak tak mampu bergerak karena terlalu eratnya pelukan Seno. Akhirnya dia pasrah saja diperlakukan demikian. Gerakan kasar Seno yang berbeda dengan gerakan yang sebelumnya sedikit membuat Lia meringis menahan sakit. Meskipun vaginanya sudah sangat basah, namun gerakan itu tak ayal membuat sebagian dari tubuhnya terasa sakit, terlebih dirinya yang sedang dipeluk dengan sangat erat.

Namun gerakan itu lama kelamaan membuat Lia terasa nikmat. Nafasnya semakin memburu secepat gerakan Seno. Dia kembali mengatupkan bibirnya erat menahan agar desahannya tak sampai terdengar jelas oleh Seno. Dia tak ingin terlalu terlihat menikmati persetubuhannya itu, meskipun Seno sendiri mengetahui bahwa perlahan-lahan Lia mulai terbawa dengan permainannya.

Perbuatan Seno ini mau tak mau membuat Lia kembali merasakan orgasmenya akan segera tiba, dan saat itu Seno melepaskan pelukan eratnya di tubuh Lia. Lepas dari pelukan itu membuat tubuh Lia bisa bergerak bebas dan mengikuti gerakan Seno. Bibirnya tak lagi terkatup, kini sudah terbuka, desahannya semakin terdengar. Saat merasakan orgasmenya semakin dekat, dia langsung saja menyambar bibir Seno, menciuminya dengan ganas.

Seno yang mendapat perlakuan itu membalas ciuman Lia tak kalah ganasnya, karena dia sendiri merasakan akan mendapatkan orgasmenya juga. Kedua tangan Seno sudah berada di pantat sekal Lia dan meremasinya dengan gemas. Gerakan mereka semakin cepat, lumatan bibir mereka semakin ganas dan basah. Lia tak mampu lagi mengontrol dirinya. Sedikit lagi, sedikit lagi dia akan mendapatkan orgasmenya, saat terdengar ponselnya berbunyi. Nada dering yang khusus dia pakai untuk panggilan dari suaminya.

Dering ponsel itu membuat keduanya berhenti bergerak, saling diam dan saling pandang. Lia meraih ponselnya yang dia letakkan di ranjang tak jauh dari mereka. Benar, suaminya yang menelepon. Lia memberikan kode kepada Seno untuk diam tak bergerak, sementara dia mengangkat telepon dari Erwin, suaminya.

“Hallo assalamualaikum pah.”

“Waalaikumsalam, belum bobok sayang

“Belum pah, paling bentar lagi ini.”

“Eh kok suaranya berisik gitu, hujan ya mah

“Iya ini pah, ujan deres banget, mana petir lagi. Nah tu kan petirnya kencenng banggeeeeet,” saat itu terdengar petir begitu keras, dan disaat yang bersamaan Seno menggerakkan penisnya di dalam vagina Lia, membuat Lia melotot menyuruh Seno untuk menghentikannya.

Namun bukannya berhenti malah Seno semakin menjadi, malah gerakannya semakin cepat, dan kedua tangannya meremas kencang kedua payudara Lia. Membuat Lia menutup mulutnya berusaha sangat keras agar tak sampai mengeluarkan desahan yang akan membuat suaminya curiga.

“Eh kenapa kamu sayang

“Nggak papa kok paaah, papah kan tahu mamah takut ama petiiirrhh,” Lia berusaha berbicara senormal mungkin.

“Ya udah kalau gitu sayang, kita lanjutin besok aja, bahaya petir-petir gini teleponan

“Ya udah, kalau gitu lanjutin besok aja pah. Dah papah, love you, muuuaaaaccchhhh.”

“Dah mamah, love you too, muuuuach. Assalamualaikum

“Waalaikumsalam.”

Lia segera menutup teleponnya. Lega rasanya selama telepon tadi tak sampai dia membuat suaminya curiga dengan berhasil menahan desahannya. Dia kembali melotot pada Seno yang masih menggoyangkan pinggulnya, dan bahkan kini tertawa terbahak-bahak.

“Nakal banget sih kamu massshh, udah tahu aahh, aku lagi telepon suamikuuh, malah nggak mau berhenti, aaahh.”

“Kamu tu yang nakal mbak, telepon suami kok sambil ngentotin cowok lain, nih rasain dasar perempuan binal, uuuhhh.”

“Aaaaahhhh pelaannn masshh,” pekik Lia saat Seno mulai mengulangi gerakan kasarnya.

Gerakan mereka kembali ke tempo yang cepat. Lia kini tak lagi merebah di tubuh Seno, badannya sudah tegak terlonjak naik turun, membuat kedua buah dadanya bergerak naik turun juga, indah sekali. Setelah sempat terputus akibat telepon dari suaminya tadi, kini dia kembali mengayuh birahi lagi dengan Seno. Orgasmenya sudah semakin dekat, begitu juga Seno, membuat gerakan mereka semakin liar tak terkontrol. Hingga akhirnya kedua insan itu mengejang dan memekik bersamaan ketika orgasme mereka datang bersamaan.

“Aaaaaaaahhhh maassss aku nyampeeeeeee.”

“Mbak Liaaaaa aku keluaaaaarrrrr.”

**

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler