. Mengalahkan Gadis Part 12 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 12

0
243

Mengalahkan Gadis Part 12

Falling 1

Suasana di kantor hari ini sudah kembali normal. Sudah sebulan semenjak kepergian Pak Dede yang tragis itu, dan sampai sekarang entah kenapa belum ada yang ditunjuk untuk menggantikannya menjadi kepala dinas, tapi untuk sementara Pak Hamid, pegawai paling senior di kantor ini ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab sementara sampai nanti benar-benar ada yang diangkat menjadi kepala dinas.

Namun sampai saat ini Nadya masih merasa khawatir sebenarnya, masalah hilangnya ponsel Pak Dede ang berisikan video-video persetubuhannya bersama Pak Dede, dan juga Pak Dede dengan beberapa temannya. Nadya khawatir video itu jatuh ke tangan orang yang salah. Jika tidak mengenal mereka, dia takut video itu disebarkan ke dunia maya, sedangkan jika orang itu kenal dengan mereka, dia takut video itu akan digunakan untuk memerasnya dan teman-temannya.

Nadya mencoba untuk berpikir positif saja, dan berharap agar ponsel itu benar-benar lenyap bersama dengan video mereka. Dia juga melihat teman-temannya masih sama khawatirnya dengan dirinya, karena mereka semua kebetulan sudah berkeluarga. Menyebarnya video itu tentu akan mengancam keutuhan keluarga mereka nantinya.

Sementara itu, hubungan Nadya dengan suaminya juga sedang panas-panasnya, seperti saat-saat pertama mereka menikah dulu. Entah kenapa sekarang nafsunya sering meledak-ledak saat bersama suaminya. Bahkan dia juga mulai mengikuti fantasi-fantasi suaminya yang aneh itu, yang membuat suaminya lebih bernafsu ketika menyetubuhinya dengan membayangkan Nadya sedang disetubuhi oleh orang lain. Hal itu tentu saja sedikit banyak mempengaruhi pikiran Nadya. Bagaimana kalau seandainya dia benar-benar bersetubuh dengan orang lain lagi.

Kadang Nadya pun ikut terbawa, membayangkan tubuhnya digarap oleh orang lain, dan hal itu justru membuat Nadya semakin bernafsu ketika bercinta dengan suaminya. Apakah pada dasarnya dia memang sebinal itu? Apakah memang dalam dirinya memang ada sisi liar yang tersembunyi dan kini sedang dibangkitkan oleh sang suami? Entahlah, yang jelas, bercinta dengan membayangkan pasangan mereka menyetubuhi dan disetubuhi orang lain membuat gairah mereka meletup-letup dengan luar biasa.

Beberapa hari terakhir Nadya juga sudah mulai sering berkomunikasi dengan sahabat suaminya yaitu Ramon, meskipun hanya sekedar chating di BBM. Pada awalnya hanya say hello saja, namun belakangan setelah mereka makin akrab, pembicaraan pun mulai menyerempet ke urusan ranjang, meskipun tidak pernah yang terlalu vulgar. Ramon bahkan pernah mengirim BBM yang entah sengaja atau benar-benar salah kirim, yang membuat dada Nadya berdesir.

‘Sayang, cepetan pulang dong, horny nih, pengen ngentotin memek kamu,’ begitu bunyi BBM Ramon.

‘Mas, salah kirim ya? :D’ balas Nadya.

‘Hehe, maaf

Hanya begitu saja Ramon membalas, dan BBM itu ternyata sukses membuat Nadya membayangkan sebesar apakah batang kejantanan Ramon, apakah lebih besar dari punya suaminya? Dan untuk yang satu ini dia tidak memberi tahu suaminya, takutnya nanti malah ada kesalahpahaman diantara mereka. Padahal sejatinya Ramon memang sengaja mengirimkan BBM itu kepada Nadya.

Selain dengan Ramon, Nadya juga mulai dekat dengan Beti, istri Ramon. Mereka sering ketemu, jalan-jalan dan belanja bersama. Beti dalam berpenampilan cenderung lebih seksi dan berani, berbeda dengan Nadya yang selalu tertutup. Meskipun begitu dengan pengaruh dari Beti kini dia mulai berpenampilan lebih modis lagi.

“Hey Nad, ngelamun aja dari tadi?” sapaan Lia mengagetkan Nadya.

“Eh kami Li, ngagetin aja, hehe.”

“Lagiaan, mikirin apa sih Nad ampe ngelamun gitu?”

“Yah, mungkin sama kayak yang kamu, Wulan sama Tika pikirin Li,” jawabnya mengalihkan pembicaraan.

“Ponsel itu ya? Iya sih, aku masih kepikiran sampai sekarang, mana ayahnya Ara belum bisa nemuin lagi, gimana ya?” tanya Lia dengan raut muka yang langsung berubah.

“Entahlah Li, kita berharap aja deh ponsel itu beneran ilang, termasuk video kita juga.”

“Iya Nad, aku juga berharap gitu.”

Mereka pun melanjutkan kembali pekerjaannya. Nadya mencoba untuk membuang jauh-jauh pikirannya mengenai ponsel Pak Dede, biar lah yang terjadi nanti terjadilah. Di tengah larutnya mereka dalam pekerjaan, tanpa mereka tahu, seseorang di suatu tempat, sedang mengocok kemaluannya sambil menonton beberapa video, video yang diambil dari file pribadi Pak Dede, video persetubuhannya dengan beberapa wanita anak buahnya, Nadya, Lia, Wulan dan Tika.

***

Siang ini Hendri mengabari Nadya kalau dia tak bisa menjemput istrinya itu, karena tiba-tiba harus berangkat ke luar kota dan kemungkinan larut malam baru akan pulang. Dia mengatakan sudah meminta bantuan Ramon untuk menjemput Nadya dan Ramon sudah menyanggupinya. Nadya sempat menolak sebenarnya karena bisa pulang nebeng dengan Ara, tapi suaminya memaksa dan mengatakan sudah terlanjur minta bantuan dan nggak enak kalau harus dibatalin, akhirnya Nadya hanya menurut saja.

Sudah sore, sekitar jam 5 lewat Nadya menerima BBM dari Ramon mengabarkan bahwa dia telah menunggu di depan kantor Nadya. Setelah memastikan rekan-rekannya pulang, Nadya pun keluar untuk menemui Ramon. Dia tidak ingin teman-temannya melihatnya pulang dijemput lelaki lain, karena selama ini selalu pulang pergi dengan suaminya. Nadya sempat menengok ke parkiran, ‘hanya ada 2 sepeda motor, pasti milik kedua satpam kantornya’, pikir Nadya. Dilihatnya Ramon sedang berbincang dengan kedua satpam itu. Setelah menyapa kedua satpam itu, dia pun segera masuk ke mobil Ramon.

Sudut matanya sempat melihat kedua satpam itu menyunggingkan senyum misterius, ah jangan-jangan mereka berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Ramon. Sementara itu tanpa diketahui Nadya, kedua satpam itu sebenarnya datang ke kantor ini berboncengan, dan salah satu sepeda motor yang berada di parkiran tadi adalah milik seseorang, yang sedang mengamatinya dari dalam kantor.

“Udah lama mas tadi?” Nadya membuka obrolan dengan Ramon ketika mobil sudah berjalan.

“Yaa lumayan sih Nad, emang masih ada kerjaan tadi?”

“Iya mas.”

“Oh pantas , kamu nggak ngabarin sih, makanya aku ngobrol dulu sama satpam-satpam tadi.”

“Hehe, maaf mas. Emang ngobrol apaan mas?”

“Nggak sih, cuma ngenalin diri aja, aku bilang kalau aku disuruh suamimu jemput kamu.”

“Ooh,” Nadya lega, paling tidak Ramon sudah menjelaskan ke satpam itu, sehingga tak perlu takut mereka berpikir yang macam-macam.

“Suamimu emang kemana Nad?”

“Nggak tahu mas, tadi sih bilangnya mendadak disuruh ke Semarang gitu.”

“Oh, gitu ya,” jawab Ramon tersenyum, karena dia tahu kemana sebenarnya si Hendri.

Nadya sebenarnya agak canggung bersama Ramon dalam satu mobil seperti ini, karena Ramon adalah pria yang beberapa malam terakhir sering menghiasi fantasi dia dan suaminya ketika sedang bercinta. Berbeda dengan Ramon yang terlihat rileks dan biasa saja, padahal Ramon sudah pernah beberapa kali melihat Nadya dalam keadaan polos sedang bercinta dengan suaminya. Darimana? Tentu saja dari kamera pengintai yang dipasang oleh Marto di kamar Nadya.

Ramon juga tahu, pasti Nadya sudah memiliki fantasi untuk bercinta dengan pria lain, mungkin saja itu adalah dirinya. Fantasi-fantasi yang selama ini dihembuskan oleh Hendri kepada istrinya Nadya adalah usul, bahkan arahan dari Ramon. Tujuannya jelas, meracuni pikiran Nadya dengan hal-hal mesum itu dan membangkitkan sisi liarnya, yang nantinya bisa membuatnya dengan mudah untuk menaklukan Nadya.

Mereka pun akhirnya sampai di rumah Nadya. Kondisi sudah mulai gelap apalagi langit mendung pekat sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Nadya sempat ragu apakah harus menawari Ramon untuk mampir atau tidak karena saat ini tidak ada suaminya di rumah, tapi dia berpikir pasti Ramon akan langsung pulang saja, dan hanya sekedar berbasa-basi untuk menawarinya mampir.

“Makasih ya mas, mau mampir dulu nggak?”

“Wah boleh deh, kebetulan aku mau numpang toilet, hehe.”

Nadya tersenyum kecut, niatnya cuma basa-basi, malah Ramon mampir beneran. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah Nadya. Nadya mempersilahkan Ramon untuk menuju kamar mandi sedangkan dirinya menuju dapur menyiapkan minuman hangat untuk mereka berdua. Saat menuju ruang tamu ternyata Ramon sudah berada disana. Sementara itu hujan di luar sudah turun dengan sangat deras.

“Ini mas diminum dulu tehnya.”

“Wah makasih Nad, pas banget ini dingin gini dikasih yang anget-anget, hehe.”

Sudah hampir sejam mereka ngobrol di ruang tamu, tapi belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Belum ada tanda-tanda juga Ramon akan meninggalkan rumah ini. Tapi Nadya juga tak terlalu memikirkannya, karena sekarang dia sudah bisa nyaman berbincang dengan lelaki itu. Wawasan Ramon yang cukup luas membuatnya seolah tak pernah kehabisan tema untuk dibicarakan, dan pembawaan Ramon yang terkesan santai dan humoris makin membuat Nadya serasa nyambung ngobrol dengan Ramon.

***

Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Hendri tengah bergelut dengan panasnya bersama Beti, istri Ramon. Ini bukan pertama kalinya dia bercinta dengan Beti. Bahkan pernah bersama Ramon mereka bersenang-senang dengan seorang wanita lagi yang ia kenal bernama Tata. Mereka saat itu pergi ke sebuah villa di kawasan Kaliurang dari pagi hingga sore. Setelah mengantarkan Nadya ke kantornya, Hendri bukannya berangkat ke kantor malah berputar ke Kaliurang menemui Ramon yang sudah menunggunya bersama dengan Beti dan Tata.

Hendri sebenarnya bukanlah suami yang doyan selingkuh, dia tak pernah melakukan ini sebelumnya. Namun karena pengaruh dari Ramon, kini Hendri mulai merasakan asiknya bercumbu dengan wanita lain, dan mulai melirik wanita lain lagi, yang tak lain adalah sehabat dari istrinya sendiri. Bahkan hari itu ketika mereka melakukan pesta seks di Kaliurang, Hendri telah memberikan lampu hijau kepada Ramon untuk bisa menikmati tubuh istrinya, karena dijanjikan oleh Ramon untuk membantu Hendri mendapatkan wanita yang menjadi incarannya.

Dan siang tadi, Ramon meminta waktu agar hari ini dia bisa menikmati tubuh Nadya. Sebagai gantinya, Hendri dipersilahkan untuk menikmati tubuh Beti sepuasnya. Sejak siang tadi Hendri sudah berada di rumah Ramon. Berbekal obat kuat pemberian Ramon, dia sudah berkali-kali ejakulasi di mulut dan vagina Beti. Hendri begitu bergairah menyetubuhi istri temannya itu. Tubuhnya yang sintal dan montok itu membuat Hendri lupa diri, apalagi permainan ranjang Beti yang lebih liar daripada istrinya Nadya, meskipun sebenarnya Nadya masih lebih cantik dibandingkan Beti.

“Aaahh oohhh aauuuhhh, Hen, kontolmu kok nggak ada matinya sih.”

“Iyaahh mbak, aku kepengen ngentotin mbak terus, aaahh, memek mbak enak banget.”

Beti sedang menungging saat Hendri menyodokkan penisnya dengan kencang. Entah sudah berapa ronde mereka mainkan, entah sudah berapa banyak mani yang keluar dari penis Hendri, entah sudah seberapa becek vagina Beti. Hendri makin bersemangat menyetubuhi Beti saat membayangkan kini istrinya sedang dinikmati oleh Ramon.

“Mbak Bet, balik mbak, aku pengen ngecrot di mulutmu.”

Tanpa menjawab Betipun membalikan badannya dan kini dengan lahapnya mengulum penis Hendri. Kuluman Beti memang jauh lebih hebat daripada istrinya Nadya, membuatnya tak bisa berlama-lama bertahan, hingga akhirnya,

“Aaahhh mbaaak, aku keluaaarrhhh.”

Crot, crot, crot. Cairan mani Hendri keluar, namun tak sederas dan sekental sebelumnya. Hendri mengejang, menekan kepala Beti agar semakin dalam penisnya tertancap di mulut itu. Setelah habis semprotannya, Betipun menjilati dan membersihkan penis Hendri yang kini mulai melemas.

“Aahh, akhirnya lemes juga kontol kamu Hen, aku udah capek banget ini.”

“Hehe, iya mbak, lemes rasanya dengkulku ini.”

Hendripun merebahkan tubuhnya di kasur, sementara Beti pergi ke kamar mandi. Tak lama Beti kembali ke kamarnya dimana Hendri masih terbaring dengan nafas terengah-engah menikmati sisa-sisa kenikmatan permainan berjam-jam mereka.

“Nih minum dulu Hen,” ujar Beti sambil menyodorkan segelas air putih.

“Makasih mbak, gluuk gluuk gluuk,” jawab Hendri sambil meneguk minuman itu hingga habis. Kerongkongannya memang terasa kering sekali. Permainan ini membuatnya mengeluarkan banyak sekali cairan tanpa sedikitpun ada cairan masuk ke tubuhnya sejak pergumulan mereka dimulai.

“Wah mbak, aku puas banget hari ini, Mbak Beti joss banget deh, hehe.”

“Kamu emang gila Hen, berjam-jam ngentotin aku, bikin aku hampir pingsan tahu nggak.”

“Tapi enak kan mbak?”

“Iya sih, enak banget, hehe.”

Mereka kini berbaring berdampingan, masih mengatur nafas mereka yang sudah mulai normal. Sambil itu mereka juga membicarakan tentang beberapa hal, termasuk kira-kira apa yang sekarang sedang terjadi di rumah Hendri, karena mereka tahu kini Nadya dan Ramon sedang berduaan disana, dan memang sudah mereka rencanakan malam ini Ramon akan menikmati tubuh Nadya.

“Istrimu sekarang ini lagi ngapain ya Hen?” tanya Beti.

“Nggak tahu mbak, paling lagi dientot suamimu, hehe.”

“Kamu kenapa mau nyerahin istri kamu?”

“Ya gantian dong mbak, kan aku udah dikasih mbak sama Ramon.”

“Hmm, itu aja? Nggak mungkin ah,” ujar Beti.

“Hehe, ada yang lain lagi sih sebenarnya mbak,” jawab Hendri.

“Emang, siapa lagi yang mau kalian entot?” tanya Beti.

“Lhoh mbak kok tahu?” tanya Hendri terkejut.

“Halah, kalian ini para lelaki, emangnya apalagi yang kalian cari selain memek?”

“Haha, mbak bisa aja.”

“Jadi siapa target kalian sekarang?” tanya Beti lagi.

“Hmm, temennya Nadya mbak,” jawab Hendri ragu-ragu.

“Siapa? Lia? Atau Ara?”

“Hehe, si Lia mbak.”

“Kenapa nggak Ara sekalian?”

“Yaah, nanti lah mbak, satu-satu dulu.”

“Haha, dasar PK kalian ini.”

“Hehe, emang mbak nggak papa kalau Ramon kayak gitu?”

“Kamu tahu sendiri kehidupan kami kan Hen, soal seks, kami bebas-bebas aja kok, asal saling terus terang. Aku tahu Ramon udah pernah ngentot dengan siapa aja, Ramon juga tahu aku ngentot sama siapa aja.”

“Emang Ramon udah pernah sama siapa aja mbak?” tanya Hendri penasaran, sambil berharap.

“Kenapa? Kamu mau juga?” tebak Beti.

“Ya kalau dikasih ngapain nolak, haha.”

Mereka masih terus membicarakan tentang hal itu, dan Beti mulai memberi tahukan siapa saja yang pernah bercinta dengan Ramon, tentu saja tidak semuanya, Beti tidak menceritakan wanita-wanita yang masuk ke dalam rencana Baktiawan. Bukannya Beti tak tahu, dia tahu semuanya karena dia juga adalah bagian dari rencana itu. Dia hanya merasa belum waktunya Hendri tahu karena bisa-bisa malah mengacaukan rencana mereka.

Hujan masih turun dengan derasnya, membuat hawa di kamar itu mulai dingin. Stamina Hendri dan Beti yang mulai pulih, membuat mereka memulai kembali pergumulan panas mereka saat Hendri mulai menciumi leher Beti. Ciuman itu berpindah ke bibir Beti, hingga mereka berciuman dengan ganasnya. Lidah mereka saling membelit dan bertukar liur. Tangan Hendri tak hanya diam, tapi sudah mulai meremasi buah dada Beti yang ukurannya hampir sama dengan istrinya, meskipun sedikit agak kendor.

Tangan Beti juga mulai membelai dan mengocok lembut penis Hendri yang mulai menegang. Penis itu memang tidak sebesar punya suaminya, namun ketahanannya akibat obat kuat yang sudah diminum Hendri tadi mampu membuat Beti sangat menikmati permainan Hendri.

Ciuman Hendri kini turun ke payudara Beti. Dia menjilati dan sesekali menghisap puting kecokelatan yang kini mulai mengeras itu, sedangkan tanganya kini berpindah ke vagina Beti yang sudah mulai basah. Kocokan tangan Beti di penis Hendri pun semakin cepat, membuat penis itu kini sudah semakin mengeras.

“Aahh, terusin Hen, isep pentilku.”

“Aaah susumu mantep banget mbak, bikin aku nagih, sluuurp.”

Hendri masih mencumbui kedua buah dada Beti sambil jari-jarinya mulai mengocok vagina Beti. Kocokannya semakin kencang membuat liang vagina itu semakin basah, membuatnya tak tahan ingin segera memasukan penisnya yang sudah sangat tegang.

“Mbak, aku masukin yaa.”

“Aah iyaa, masukin aja langsung.”

Tanpa menunggu lebih lama, Hendri segera memposisikan tubuhnya di atas tubuh Beti, dia membuka selangkangan wanita itu dan menggesek-gesekan penisnya di bibir kemaluan Beti yang sudah basah.

“Aaahh Hen, jangan digosokin teruss, cepet masukinn,” pinta Beti.

“Iya mbak, ini tak masukin, nih rasain kontolku mbak,” ujar Hendri yang langsung memasukkan penisnya ke vagina Beti.

“Aah, kontolmu enak banget, aaahh ahhhh memekku, aahh enak Hen,” racau Beti.

Hendri semakin kencang menyodoki vagina Beti yang semakin becek. Hawa dingin akibat hujan telah berganti hawa panas dari tubuh keduanya. Kini peluh kembali membasahi tubuh mereka. Beti yang telah berganti posisi kini berada di atas tubuh Hendri dan dengan liarnya bergerak menyetubuhi penis Hendri. Hendri menyukai posisi ini, Beti terlihat begitu liar, begitu binal. Belum pernah dia selama bercinta dengan istrinya, Nadya sebinal itu jika berada di atas tubuhnya.

Nadya. Tiba-tiba Hendri teringat istrinya. Apa yang sekarang sedang dilakukan Nadya ya? Apakah Ramon sudah berhasil menaklukkan istrinya itu? Apakah Ramon sudah berhasil menancapkan penis besarnya ke vagina Nadya? Bayangan tentang istrinya saat ini sedang disetubuhi oleh temannya membuat Hendri semakin bernafsu. Dia menghentak-hentakkan penisnya mengikuti irama goyangan dari Beti.

Hendri terus membayangkan istrinya sedang disetubuhi oleh Ramon. Dia membayangan istrinya berteriak ketika vagina sempitnya ditembus oleh penis Ramon yang memang sedikit lebih besar darinya. Dia membayangkan akan seperti apa Nadya nantinya. Mengingat istri Ramon bisa sebinal ini, bahkan Tata, yang dikenalnya sebagai salah satu wanita Ramon juga sebinal itu, apakah Ramon berhasil membuat istrinya menjadi binal? Bayangan-bayangan yang muncul di benaknya membuatnya semakin bergairah meyetubuhi istri temannya itu.

***

Nadya dan Ramon sudah berpindah, mereka kini duduk bersebelahan di ruang keluarga. Nadya sudah berganti baju, kini dia memakai kaos lengan panjang berwarna hijau muda dan sebuah legging semata kaki, serta sebuah kerudung rumahan berwarna senada dengan kaosnya. Kaos itu tak telalu ketat, namun cukup untuk memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Ramon juga sudah melepas kemejanya dan kini hanya mengenakan kaos dalam berwarna putih, sedangkan celana panjangnya masih dipakainya.

“Kamu nggak mandi sekalian?” tanya Ramon.

“Nggak ah mas, ntar aja,” jawab Nadya.

“Nunggu aku pulang? Apa mau aku mandiin?” goda Ramon.

“Haha, maumu mas mas.”

“Kamu nggak mandi aja masih cantik gini kok Nad,” Ramon mulai meluncurkan rayuannya.

“Ah mas bisa aja, orang dekil gini dibilang cantik,” jawab Nadya, namun terlihat wajahnya tersipu mendengar pujian dari Ramon.

“Beneran deh Nad, kamu ini cantik lho, seksi lagi. Kamu ikut senam-senam gitu ya?” tanya Ramon lagi.

“Nggak tu mas, emangnya kenapa?” tanya Nadya.

“Nggak, kirain ikut senam, badanmu bagus banget,” jawab Ramon kini memuji badan Nadya.

Nadya tersenyum tersipu mendengar Ramon kembali memujinya. Memang Nadya pernah mengikuti senam di salah satu gym dekat rumah Lia, bersama Lia dan beberapa temannya. Ramon terus-menerus memuji kecantikan dan keindahan tubuh Nadya, membuatnya semakin melayang. Yah, wanita mana yang tak senang dipuji?

“Aku kalau punya istri kayak kamu Nad, tak kekepin terus di kamar.”

“Haha, mau diapain emangnya mas?”

“Ya digarap sepanjang hari lah Nad, menurut pengalamanku, cewek kayak kamu ini mainnya lebih ganas di ranjang, entar aku tanyain sama Hendri aah, haha”

“Dih, pake ditanyain. Emang pengalaman Mas Ramon kayak gimana?”

“Iya lah, dari beberapa cewek yang pernak aku en,, eh,” Ramon tiba-tiba terdiam, seolah kaget dengan ucapannya sendiri.

“Hayoo Mas Ramon, beberapa cewek yang udah diapain? Aduin ke Mbak Beti aah, haha,” potong Nadya.

“Haha sialan, malah keceplosan,” jawab Ramon sambil tertawa lebar.

“Yeee, ternyata Mas Ramon nakal yaa, cerita dong mas, haha,” entah kenapa Nadya justru penasaran dengan kata-kata Ramon tadi. Ramon memang terlihat sedikit badboy di mata Nadya, dan tiba-tiba dia ingin tahu seperti apa pengalaman seorang badboy.

“Hehe, ya udah aku ceritain, tapi jangan kasih tahu istriku lho ya?” pinta Ramon.

Ramon mulai bercerita. Cerita yang dia buat-buat sendiri tentunya. Dia bercerita pernah dekat dengan seorang wanita berkerudung seperti Nadya, yang tak lain adalah teman kantornya. Ramon bercerita bahwa wanita itu memiliki postir tubuh yang hampir sama, namun masih kalah cantik dibanding Nadya. Nadya tentu saja merasa tersanjung merasa lebih cantik daripada wanita yang diceritakan Ramon itu.

“Cewek itu bodinya mirip kamu deh Nad, pantatnya bulet padet, susunya kayaknya seukuran sama punyamu, 34B kalau nggak salah, coba deh Nad,” ujar Ramon sambil tiba-tiba menyibak ujung kerudung Nadya yang menutupi dadanya.

Nadya yang terkejut hendak menepis tangan Ramon, namun urung karena Ramon segera melepaskan kerudung itu lagi dan menarik tangannya. Darah Nadya sempat berdesir. Meskipun kaos yang dia pakai masih menutupi dadanya, namun sekilas tadi tangan Ramon sempat sedikit menyentuh gundukan itu.

“Tuh kan, hampir sama kayaknya, hehe,” ujar Ramon cengengesan.

“Ihh Mas Ramon ya tangannya nakal,” ujar Nadya sambil mencubit tangan Ramon.

Ramon kembali melanjutkan ceritanya karangannya. Dia bercerita bahwa saat pertama kali bercinta dengan wanita itu, masih terlihat sangat canggung, namun lama kelamaan wanita itu menunjukkan sisi lainnya, menjadi binal ketika bercinta dengan Ramon. Ramon bercerita pula bahwa wanita itu menjadi ketagihan penisnya yang katanya lebih besar dari punya kekasihnya, membuat Nadya melirik selangkangan Ramon.

Selama bercerita, Ramon memegangi tangan Nadya yang tadi mencubitnya, dan sesekali meremas dan mengelus-elus tangan itu ketika Ramon menceritakan bagian-bagian yang intim. Nadya hanya terdiam, bahkan posisi duduk mereka pun kini semakin dekat. Ramon bercerita bahwa dia terobsesi dengan payudara dan pantat wanita itu, karena lebih padat dan kencang dibanding milik istrinya.

Sambil bercerita, tangan kiri Ramon mulai bergerak menggosok pelan punggung Nadya, semakin turun dan kini berada di bawah pinggang Nadya. Gerakan tangan Ramon ini membuat Nadya serba salah, ingin menepis, tapi sebagian dari dirinya ingin untuk diteruskan. Tiba-tiba saja Ramon mulai meremas pantatnya dengan lembut.

“Eh mas ngapain?” Nadya yang terkejut mencoba menghindar, tapi gerakannya justru membuat pantatnya sedikit terangkat dan tangan Ramon kini berada tepat disana.

“Lebih kenceng punyamu ternyata Nad,” ucap Ramon sambil tersenyum, sambil terus meremas pantat itu.

Nadya menunduk, wajahnya tersipu, dia hendak menolak tapi pujian Ramon membuatnya tak mampu bereaksi. Merasa tak ada penolakan dari Nadya, Ramon mulai berani melanjutkan aksinya. Tangan kanan Ramon yang sedari tadi memegangi tangan Nadya bergerak meraih dagu wanita itu dan mengangkatnya, lalu dengan lembut Ramon mengecup bibir Nadya.

Nadya awalnya hanya diam saja, tapi lumatan dari Ramon dan remasan di pantatnya membuat birahinya mulai naik. Diapun perlahan membalas ciuman Ramon. Kini bibir mereka saling melumat, saling menghisap. Lidah mereka pun tak ketinggalan, saling menjilat dan membelit. Cukup lama mereka berciuman. Ramon bersorak dalam hatinya, dia berhasil memperdaya Nadya sampai sejauh ini, tapi dia belum ingin berhenti karena tahu Nadya sudah jatuh dalam genggamannya. Akhirnya Ramon melepaskan ciuman itu.

“Ciumanmu juga lebih hebat Nad, 2-0.”

Pujian Ramon membuat Nadya tersenyum. Dia senang, ego dalam dirinya bersorak merasa menang dan lebih baik daripada wanita yang diceritakan Ramon. Nadya menatap Ramon, menunggu, apa lagi selanjutnya?

Nadya masih terdiam dan hanya menatap mata Ramon, saat tangan Ramon menyibak kerudungnya dan menyampirkan di pundaknya. Ramon memajukan bibirnya untuk kembali melumat bibir Nadya, sementara tangannya perlahan turun menuju bukit payudaranya. Nadya tersentak dan melenguh pelan ketika telapak tangan Ramon meremas payudaranya dengan sangat lembut.

Tangan kanan Ramon masih meremasi dada Nadya, sedangkan tangan kirinya tanpa permisi telah masuk menelusup ke dalam legging dan celana dalam Nadya dan kembali menuju bulatan pantat Nadya yang masih kencang itu. Kedua tangan Nadya kini memeluk tubuh Ramon. Dia telah pasrah dengan semua perbuatan Ramon, dia telah jatuh ke dalam kuasa Ramon.

Nadya semakin menikmati cumbuan Ramon, bahkan dia diam saja ketika Ramon menarik lepas kaos dan kerudungnya. Bahkan dia membantu Ramon ketika melepaskan bra yang dipakainya.

“Pakai lagi jilbabmu sayang. Dulu aku entotin cewek itu juga masih pakai jilbab,” ujar Ramon, dan dituruti begitu saja oleh Nadya.

“Tokedmu bagus banget, nggak kendor sama sekali, 3-0 sayang,” puji Ramon untuk kesekian kalinya.

“Aaahh masssssshh,” desah Nadya saat bibir Ramon bergerak turun dan mencumbu kedua bukit payudara Nadya yang indah.

Hawa panas dari tubuh Nadya berhasil mengalahkan hawa dingin yang dibawa oleh hujan. Tangannya bergerak tanpa sadar menarik lepas kaos Ramon. Dia mengusapi punggung Ramon yang lebih kekar daripada punggung suaminya. Cumbuan Ramon di payudaranya makin membuat tubuhnya menggelinjang. Dia merasakan pangkal selangkangannya yang mulai basah.

Nadya mengangkat pantatnya ketika dia merasakan kedua tangan Ramon menarik legging dan celana dalamnya sekaligus, hingga terlepas dari kedua kakinya. Kini Nadya telah telanjang bulat di depan sahabat suaminya. Hanya tersisa kerudung saja yang menutupi kepalanya. Ramon menghentikan cumbuannya, memandangi tubuh polos Nadya dengan pandangan kagum, membuat wajah Nadya kian tersipu.

“Mas, jangan dilihatin gitu dong, malu ah.”

“Kenapa malu? Tubuh kamu indah banget ternyata, jauh lebih indah daripada cewek itu. Ah sudahlah, kamu menang segalanya.”

Ramon kemudian merebahkan tubuh Nadya di sofa, lalu membuka kedua kakinya. Tampak bibir kewanitaan Nadya yang dihiasi oleh rambut-rambut halus yang tertata rapi. Ramon segera mendekatkan bibirnya, mengecupi daerah di sekitar bibir kemaluan Nadya, membuat si empunya menggelinjang saking gelinya.

“Maaassshh ngapaiiin, geli massss,” desah Nadya.

Nadya semakin menggelinjang, dia merasakan vaginanya begitu geli menerima serangan dari bibir dan lidah Ramon. Permainan Ramon yang dirasa berbeda dengan suaminya, dan bahkan pria-pria yang pernah menikmati tubuhnya. Permainan lidah itu terasa begitu nikmat, hingga tubuh Nadya semakin menggelinjang tak karuan. Jilatan demi jilatan, hisapan demi hisapan dari Ramon, tak ayal membuat Nadya semakin terbang ke awang-awang. Dia merasakan semakin geli, dan semakin geli, tapi sangat nikmat, dan tak lama kemudian,

“Aaaaahh maaaasss aku dapeeett aaaaaaahhhhh.”

Badan Nadya mengejang, vaginanya menyemburkan cairan cinta yang cukup banyak, dan langsung dihisap habis oleh Ramon. Nadya terpejam, menikmati orgasme yang didapatnya. Dia tak menyadari kalau Ramon tengah menelanjangi dirinya sendiri. Nafas Nadya masih terengah-engah, kenikmatan barusan sungguh luar biasa.

“Giliran kamu sayang, coba kita lihat, seberapa hebat kamu nyepongin kontol,” ujar Ramon yang kini duduk sambil memegangi penisnya.

Mata nadya terbuka dan terkejut melihat penis Ramon yang lebih besar daripada milik suaminya. Dia pun segera bangkit dan kini bersimpuh di depan Ramon. Terpancar kekaguman melihat penis yang besar itu. Nadya mulai memegang dan mengocok pelan penis Ramon, sesekali dikecupi ujung kepalanya. Lidah Nadya bergerak ke kedua biji Ramon, dan mulai menjilatnya, sesekali menariknya dalam kulumannya, sementara tangannya masih mengocok penis itu. Dia sedikit kaget ketika Ramon mengarahkan kamera ponsel ke arahnya, namun dia tak menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Ramon seolah meminta agar jangan merekam aksinya.

“Lanjut aja sayang, aku selalu ngerekam saat pertama kali ada cewek yang nyepongin kontolku, kamu tenang aja,” ujar Ramon.

Nadya pun tak menggubrisnya, dia lebih memilih untuk menikmati penis Ramon dalam kulumannya. Ramon keenakan dengan kuluman Nadya. Cara mengulumnya yang lembut dan dalam membuat penis Ramon kini sudah benar-benar keras , dan setelah hampir 5 menit Ramon mengangkat tubuh Nadya menghentikan kulumannya.

“Sekarang aku mau ngerasain memek kamu Nad, sama goyangan kamu. Aku pengen tahu kamu sebinal apa kalau ngentot.”

Kuping Nadya terasa panas. Bukan, dia tidak tersinggung oleh kata-kata Ramon yang kurang ajar. Dia panas, karena ingin membuktikan kepada Ramon bahwa dia juga tak kalah dengan wanita lainnya. Dengan ekspresi wajah yang penuh birahi, dia segera duduk di pangkuan Ramon, memegang penis Ramon, lalu mengarahkannya ke bibir vaginanya. Setelah dirasa pas, diturunkannya pantatnya perlahan. Kepala penis Ramon mulai membelah bibir kemaluan Nadya.

Perlahan penis itu mulai masuk menggesek setiap mili dinding kemaluan Nadya, hingga akhirnya penis itu masuk seluruhnya tertelan oleh vagina Nadya. Dia berhenti dulu, meresapi setiap sentuhan antara dinding vaginanya dan permukaan kulit penis Ramon. Setelah dirasa terbiasa dengan ukuran itu, dia perlahan menggerakan pinggulnya naik turun.

“Aaahh mas, kontolmu, aahh penuuh bangeet mass, aaaahh,” desah Nadya.

“Memekmu juga enak sayang, udah berapa kontol yang ngerasain jepitan memekmu Nad?”

“Ini yang kelima maasss, aaahhh,” jawab Nadya.

“Wow, lima? Nakal juga kamu, siapa aja?” tanya Ramon.

“Dua oraanghh mantan pacarkuuh oohh, terus suamikuuh, trusss bossku, terakhir kamuuhhh mass, aaahhh.”

“Dasar lonte kamu Nad.”

Hinaan Ramon bukannya membuat Nadya tersinggung, justru birahinya makin naik mendengar Ramon melecehkannya. Membuat gerakan naik turunnya menjadi semakin cepat, seolah mengiyakan bahwa dirinya adalah seorang lonte yang menerima begitu saja penis-penis pria lain memenuhi liang kewanitaannya.

“Segini doang goyanganmu lonte? Kok kalah sama cewek yang aku ceritakan tadi?” ujar Ramon memanas-manasi Nadya.

Mata Nadya terbelalak, tajam menatap Ramon yang juga menatapnya dengan tajam. Dia tak terima, egonya tak terima dikatakan kalah dari wanita lain. Ramon tersenyum, kini gerakan Nadya semakin liar. Pantatnya bergerak naik turun, maju mundur dan memutar dengan begitu liarnya. Dia telah dilecehkan, dibandingkan dengan wanita lain dan dibilang kalah. Tidak bisa. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya tak kalah binal dengan wanita lain.

Gerakannya semakin liar, bahkan lebih binal dibandingkan saat dirinya dibawah pengaruh obat perangsang dan bercinta dengan suaminya. Egonya terusik, dan itu jauh lebih mengena daripada obat perangsang sekalipun. Dia ingin memberi pembuktian, dia tak ingin dilecehkan lagi, dia ingin memberi pelajaran pada lelaku yang sedang ditungganginya itu.

Tak terasa sudah lima menit lebih Nadya bergoyang dengan binalnya. Dia rasakan vaginanya semakin basah. Tapi dia sekuat tenaga menahan puncak orgasmenya, dia ingin lebih lama bisa menggoyang seperti ini, dia ingin membuktikan dirinya tak kalah dengan wanita lain.

“Gimana mas? Gimana goyangan lontemu ini hah? Masih bilang aku kalah dari cewek itu? Ayo bilang mass!” ujar Nadya sambil dirinya bergoyang semakin binal.

“Kamu hebat sayang. Kamu lonte paling binal yang pernah ngentotin aku. Aku puas, sluuuruurp,” jawab Ramon sambil meraih kepala Nadya dan menciuminya dengan ganas.

Nadya tersenyum, dia menang, dia lebih baik daripada cewek lain. Egonya bersorak, bersamaan dengan gelombang orgasme yang datang dengan begitu luar biasa. Dia merangkul Ramon dengan sangat erat. Bibirnya menghisap kuat bibir Ramon, gerakan pinggulnya makin liar, menandakan dia akan segera orgasme. Ramon yang menyadari itupun membantu Nadya dengan menghentakkan pinggulnya, hingga akhirnya badan wanita itu mengejang, kepalanya tengadah dan mulutnya terbuka membentuk huruf O.

“Aaaaaaaahhhhhh shiiiiiitttt, aku keluaarr maaaaassssshhhh.”

Seketika tubuhnya lemas dan ambruk dalam pelukan Ramon. Nafasnya terengah-engah. Ramon melingkarkan kedua tangan Nadya di pundaknya, lalu tangannya meraih kedua kaki Nadya, kemudian dia berdiri, menggendong Nadya dengan posisi kelamin mereka masih menyatu. Ramon menggoyangkan tubuh Nadya naik turun sembari berjalan menuju kamar Nadya. Dia tidak menuju ke ranjang, tapi ke depan meja rias Nadya yang terdapat cermin besar disitu.

Ramon kemudian menurunkan tubuh Nadya, membalikan dan menunggingkannya. Dia menyodoki vagina Nadya dari belakang. Perlahan penis besar itu mulai menyeruak masuk, mili demi mili hingga semuanya tenggelam dalam liang vagina itu. Tak terlalu sulit karena vagina itu sudah sangat basah. Sebelum menggoyangkan pinggulnya, Ramon menarik kepala Nadya dan memaksanya melihat dari cermin bagaimana dirinya disetubuhi dari belakang.

“Lihat baik-baik cermin itu, liat baik-baik bagaimana seharusnya seorang lonte melayani tuannya!”

Nadya memandangi dirinya yang sedang menungging, dan Ramon mulai menghentakkan penisnya dengan kasar.

“Aaaaaahhhh pelan maaassss,” pinta Nadya.

“Diam kau lonte, layani saja aku!” jawab Ramon sambil menahan kepala Nadya agar tetap melihat persetubuhan mereka.

Nadya mulanya meringis kesakitan karena disetubuhi dengan kasar, namun tak lama kemudian justru dia merasa begitu nikmat apa yang dilakukan oleh Ramon. Dia merasa diperlakukan kasar seperti ini malah membuat birahinya begitu cepat naik. Apalagi melihat ekspresi kenikmatan dari Ramon membuatnya senang bisa memuaskan lelaki itu. Tak lama dalam posisi itu, dengan irama yang cepat dari goyangan Ramon, Nadya pun mendapatkan kembali orgasmenya.

Namun Ramon bukannya berhenti untuk memberi nafas kepada Nadya, dia tetep melanjutkan genjotannya,, hingga tak perlu waktu lama bagi Nadya untuk kembali mendapatkan orgasmenya. Bukan hanya sekali, tapi hingga tiga kali Nadya mengalami orgasme dalam posisi itu dan Ramon tak juga menghentikan genjotannya. Barulah pada orgasmenya yang keempat, Ramon berhenti, dan langsung mencabut penisnya.

Dia menarik tubuh Nadya dan menghempaskannya ke ranjang. Tak menunggu waktu lama, Ramon kembali menggenjot vagina Nadya dengan ganasnya, hingga Nadya mendapatkan orgasmenya untuk kesekian kali hingga badan Nadya sudah benar-benar lemas. Menyadari itu, Ramon memperlambat gerakkannya, membuat setiap gesekan antar pemukaan kelamin mereka terasa begitu nikmat. Nadya yang sudah lemaspun turut menikmatinya. Hebat, Ramon benar-benar hebat dalam urusan menaklukan wanita, pikir Nadya.

Tak lama kemudian Ramon mempercepat tempo gerakannya, meskipun tak secepat dan sekasar sebelumnya. Dia merasakan dirinya pun akan segera mencapai klimaksnya.

“Memek kamu nikmat banget, aku puas, aku pejuhin memekmu Nad.”

“Iyaaah mass, pejuhin memekku mas, semprot yang banyaaakk, aaaahh.”

Ramon mempercepat gerakannya, Nadya juga membantunya dengan menggerakan pinggulnya mengikuti setiap gerakan Ramon. Hingga tak lama kemudian tubuh Ramon mengejang, dihentakkannya dengan keras pinggulnya ke pinggul Nadya.

Crot, crot, crot, crot, crot. Entah berapa kali penisnya menyembur, namun begitu banyak dirasakan oleh Nadya cairan sperma Ramon memenuhi rahimnya, hingga diapun ikut mendapatkan orgasme yang kesekian kalinya.

Keduanya berpelukan, kelamin mereka masih menyatu, meskipun kini penis Ramon terasa mulai melemas dan mengecil. Nafas mereka masih memburu. Satu jam lewat mereka mengayuh birahi bersama. Keduanya sama-sama puas. Nadya puas, karena ini pergumulan terhebatnya. Sedangkan Ramon puas, telah berhasil mendapatkan satu lagi wanita yang akan menjadi koleksinya, dan sekaligus rencananya yang telah berjalan lancar.

“Kamu hebat Nadya, kamu menang segalanya dari cewek itu. Kamu bahkan lebih hebat dari istriku,” puji Ramon.

Yang dipuji hanya tersenyum malu, dan menenggelamkan wajahnya di dada Ramon. Nadya pun sama, belum pernah dia sepuas ini, bahkan ketika dia dalam pengaruh obat perangsang yang membuatnya bercinta berjam-jam dengan suaminya, masih kalah dengan permainannya bersama Ramon barusan.

“Aku ketagihan sama kamu Nad, lain kali kita ngentot lagi. Aku mau boolmu juga, siapin ya, nanti suatu saat aku minta,” ujar Ramon dengan yakinnya.

“Terserah mas aja,” jawab Nadya lirih, kepalanya masih ia sembunyikan di dekapan Ramon.

“Udah yuk mandi kita, udah malem ini, aku mau pulang,” ujar Ramon.

Dia menggandeng Nadya yang nampak kepayahan berjalan. Nadya masih merasa selangkangannya sedikit sakit. Di dalam kamar mandi mereka melanjutkan cumbuannya, tapi kali ini tak ada penetrasi, hanya saja Ramon menumpahkan air maninya ke mulut Nadya yang semuanya ditelan oleh perempuan itu.

Hujan sudah reda, keduanya sudah berpakain lengkap. Nadya mengantarkan Ramon ke pintu. Namun sebelum pintu dibuka, ramon meraih Nadya, memeluk dan menciumnya. Nadya membalas ciuman ringan dari Ramon itu, kemudian memeluknya dengan hangat.

Tanpa banyak kata Ramon pun berpamitan dan melajukan mobilnya kembali pulang. Setengah perjalanan dia melihat mobil Hendri menuju ke arah rumahnya. Ramon tersenyum, Nadya sudah didapatkan, tinggal membantu Hendri untuk mendapatkan Lia. Atau lebih tepatnya, memanfaatkan Hendri agar dirinya bisa menguasi Lia.

Beberapa saat kemudian, Nadya membukakan pintu rumahnya ketika mendengar suaminya telah datang. Dia menyalami dan mencium punggung tangan suaminya. Wajah suaminya tampak letih, namun tersirat kebahagiaan disana. Begitu juga Hendri melihat wajah Nadya yang nampak begitu kelelahan, tapi rona-rona kebahagiaan dan kepuasan tak mampu disembunyikannya. Itu artinya Ramon telah berhasil menikmati tubuh istrinya itu. Sayang memang, berbagi wanita secantik Nadya dengan pria lain, tapi tak apalah, diapun mendapat wanita lain juga, dan bahkan berencana untuk menambahnya lagi.

Ada sedikit penyesalan di hati Hendri. Bukan penyesalan karena telah membagi istrinya, tapi penyesalan kenapa tidak dari dulu-dulu dia seperti ini. Dia memang sudah memiliki istri yang cantik dan mampu melayaninya dengan baik, lahir dan batin. Tapi ternyata berpetualang mencari kenikmatan yang lain sungguh menyenangkan. Dia tak sabar untuk petualangan berikutnya, untuk wanita berikutnya.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler