. Mengalahkan Gadis Part 10 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 10

0
237

Mengalahkan Gadis Part 10

Confusion

POV Baktiawan

Sudah seminggu ini sejak aku menyuruh Ramon untuk menyingkirkan Marto, namun aku belum juga bisa menemukan cara untuk mengatasi kamera pengintai yang rusak di rumah anak Wijaya. Lewat info dari seorang oknum polisi anak buah Ramon aku tahu kalau rumah itu kini dijaga oleh orang-orang khusus suruhan Wijaya. Tidak mudah untuk bisa menyusup ke rumah itu sekarang, terlebih lagi orang-orang yang menjaga rumah itu tidak dikenali, dan tidak diketahui keberadaannya, hanya saja sudah dipastikan mereka ada.

Sementara itu Ramon yang selalu mengirimkan laporan kepadaku berkata dia mulai bisa mendekati seorang target. Aku tak terlalu peduli sebenarnya, karena target utamaku adalah Wijaya dan keluarganya. Tapi kerusakan kamera pengintai di rumah Ara itu sedikit menghambat rencanaku. Aku harus secepatnya mencari cara agar bisa mengganti kamera yang rusak itu.

Drrrttt.. Drrrttt..

“Ya hallo.”

“Hallo Bakti, aku dengar kamu sudah menyingkirkan Marto

“Iya benar, seminggu yang lalu kami singkirkan dia.”

“Kenapa

“Kenapa apanya? Bukankah itu termasuk dalam rencana kita?”

“Iya, tapi kamu terlalu buru-buru

“Terlalu buru-buru? Apa maksudmu?”

“Aku jelaskan nanti, 2 jam lagi jemput aku di bandara, ini aku mau ke Jakarta

“Oke.”

Apa maksudnya aku terlalu buru-buru menyingkirkan Marto? Sementara itu memang sudah menjadi rencana kami dari awal. Marto memang hanya aku gunakan untuk mengerjakan beberapa hal, setelah itu dia sudah tak berguna lagi. Terutama kedekatannya dengan polwan itu bisa menjadi penghalang rencanaku kalau sampai keberadaannya terendus oleh Wijaya.

Aku segera menyuruh salah seorang anak buahku untuk menjemput kolegaku itu di bandara. Entah apa yang dia maksud tapi mungkinkan ada sesuatu yang terlewatkan olehku? Rasanya tidak, semua masih berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana yang sudah kami buat, setiap detailnya. Dan aku yakin pesta tahun baru yang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari itu akan sangat meriah dan menggairahkan.

Tok.. Tok.. Tok..

“Ya masuk.”

“Selamat siang pak,” ucap Martha, sekretarisku.

“Ya selamat siang Martha, ada apa?”

“Ini pak, ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani segera, sekaligus juga mengingatkan pak, besok pagi ada janji ketemu dengan Mr. Andrew di Jogja.”

“Astaga, aku lupa, bisa ditunda atau dibatalin nggak itu?”

“Yah bapak tahu sendiri Mr. Andrew seperti apa, kalau sampai tertunda apalagi batal, ya artinya tender kita melayang pak,” jawab Martha.

“Oke lah kalau begitu, kamu hubungi pihak Mr. Andrew, besok tetap jadi ketemu tapi bukan aku yang kesana.”

“Baik pak, lalu siapa yang berangkat pak?”

“Sakti. Dan sekalian kamu carikan tiket pesawat untuk ke Jogja hari ini.”

“Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu.”

Tanpa menunggu jawabanku Martha meninggalkan ruang kerjaku. Aku sampai benar-benar lupa dengan pekerjaanku karena terlalu fokus pada urusanku dengan Wijaya. Aku memang sudah tak terlalu mengurusi bisnis ini lagi, sudah kuserahkan kepada anakku, tapi beberapa hal masih menjadi urusanku, terutama untuk membuat deal dengan klien kelas kakap seperti Mr. Andrew yang tak sembarangan bisa didekati orang lain.

“Hallo pa, kenapa pa

“Hallo Sak, kamu sore ini juga berangkat ke Jogja, besok ada janji ketemu Mr. Andrew, kamu wakilin papa, papa masih ada urusan lain disini.”

“Loh kok mendadak banget pa? Nggak bisa ditunda? Pekerjaanku masih banyak ini pa

“Mana bisa ditunda kalau sama Mr. Andrew. Sudahlah pokoknya hari ini kamu berangkat, kamu minta tiketnya sama Martha, tadi sudah kusuruh dia yang ngurus semuanya.”

“Oke pa

Fiuh, untunglah si Sakti bisa mewakiliku. Dia sudah beberapa kali mewakiliku bertemu dengan klien dan selama ini tak pernah mengecewakan. Dia juga pernah bertemu dengan Mr. Andrew sebelumnya jadi kupikir tak ada salahnya jika menyuruh Sakti yang menemuinya besok, dan aku yakin seperti biasanya, semua urusan itu akan beres.

Selang dua jam kemudian kolegaku menghubungiku memberi tahu kalau dia sudah dalam perjalanan dari bandara, dan aku minta dia untuk langsung menuju ke salah satu apartemenku di pusat kota. Akupun segera meninggalkan kantor setelah memesankan kepada Martha untuk memberi tahu Sakti agar membereskan pekerjaan-pekerjaan di kantor sebelum dia berangkat ke Jogja, termasuk persiapan untuk bertemu Mr. Andrew besok.

Sesampainya di apartemen ternyata kolegaku sudah berada disana. Kami saling bertukar kabar dan ngobrol ringan sebelum akhirnya membahas permasalahan Marto.

“Jadi, apa yang membuatmu bilang kalau aku terlalu buru-buru menyingkirkan Marto?” ujarku membuka pembicaraan.

“Apa kamu sudah memastikan kalau Marto benar-benar sudah mati?”

“Maksudmu? Jelas sudah, bahkan mayatnya sudah dibuang ke jurang.”

“Kalian yakin, yang kalian buang itu mayatnya? Bukan tubuhnya?”

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Aku cuma mau mastiin aja, kalau yang kalian buang ke jurang itu benar-benar mayatnya, bukan tubuhnya yang masih bernyawa. Ingat, Marto bukan orang sembarangan. Meskipun sudah kita cekoki dengan bermacam hal, tetap saja dulu dia adalah seorang polisi elit, pasukan tangguh yang sudah terlatih dan nggak gampang buat dibunuh.”

“Kamu tenang saja, kita tahu itu, dan Ramon sudah mengurusnya dengan baik,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu, hanya saja aku memang merasa kalau kamu terlalu gegabah Bakti.”

“Apa alasanmu bilang seperti itu?” tanyaku tak terima.

“Yang menjadi masalah adalah kamera yang terpasang di rumah Ara, anak Wijaya.”

“Oh masalah itu, sudahlah kita nanti cari cara untuk mengganti kamera yang rusak itu.”

“Nggak sesimpel itu. Pertama, siapa yang bakal menyusup untuk mengganti kamera itu? Sedangkan sekarang rumah itu sedang dalam pengawasan orang-orang khusus, bukan orang sembarangan. Kedua, kalau orang kita sudah bisa menyusup, dimana dan bagaimana Marto dulu memasang kamera itu akan jadi masalah selanjutnya untuk kita. Itu dua masalah yang akan kita hadapi, kalau kamera itu memang rusak, tapi yang aku khawatirkan adalah, kamera itu sebenarnya tidak rusak, Bakti.”

Aku sedikit terkejut mendengar penuturan temanku ini. Memang benar jika kamera itu rusak, bukan hal yang mudah untuk menggantinya sekarang. Aku sudah terlanjur menyuruh Marto untuk sedikit memberi kejutan pada Wijaya dengan memberikan petunjuk bahwa kemungkinan dirinya sudah berada di Jogja, sehingga kini Wijaya meningkatkan kewaspadaannya, termasuk dalam menjaga keluarganya.

Akan sangat sulit melakukan sesuatu ketika kita sedang diawasi, ditambah lagi kita tidak tahu siapa, dimana dan bagaimana kita diawasi. Tapi yang membuatku lebih terkejut lagi adalah perkataannya yang khawatir kemungkinan kamera itu tidak rusak, tapi kenapa gambar yang aku terima tak pernah bagus?

“Apa maksudmu? Kamu bilang kamera itu tidak rusak?”

“Kemungkinan besar, iya.”

“Darimana kamu bisa seyakin itu?”

“Sebenarnya aku juga belum terlalu yakin, karena tidak ada bukti. Tapi apa kamu nggak menyadari sesuatu Bakti? Kamera yang letaknya jauh dari rumahmu, bisa mengirimkan gambar dengan kualitas yang baik, tapi kenapa justru yang di dekat rumah malah seperti itu? Gambarnya berantakan bahkan suaranya pun juga.”

Aku termenung, benar juga yang dibilangnya. Kenapa kamera yang dekat malah tidak bisa sesuai harapan. Kualitas kamera itu dengan kamera yang dipasang di tempat lain sama. Kalau ada kesalahan pemasangan, Marto pasti menyadari itu dan segera memperbaikinya, tapi dia sendiri juga sempat bingung kenapa kamera di rumah Ara seperti itu. Dia bilang hal itu bukan karena kesalahan pemasangan, mungkin ada kerusakan di kameranya.

“Sebelum kamu pasang, apa kalian belum mencobanya?”

“Seharusnya sudah.”

“Ya memang seharusnya sudah, aku tahu Marto, dia pasti sudah memastikan apa yang akan dia kerjakan itu tidak ada masalah, dan jika ada masalah, dia akan memperbaikinya dahulu. Jadi menurutku ini bukan kesalahan dari Marto.”

“Lalu menurutmu, apa yang jadi masalah sebenarnya?” tanyaku penasaran.

“Ada sesuatu di rumah itu Bakti, ada semacam alat pengacak sinyal, yang membuat kamera yang sudah terpasang tidak bisa mengirimkan gambar dengan baik karena sinyalnya kacau.”

“Pengacak sinyal?”

“Iya, dan kalau benar, itulah yang menjadi masalah kita sekarang, masalah yang besar.”

“Masalah yang besar? Kok bisa?”

“Alat ini bukan alat sembarangan yang gampang untuk didapatkan. Alat ini biasa digunakan oleh agen-agen rahasia seperti CIA dalam menjalankan misi mereka, sehingga aksi mereka tidak akan sampai tertekam oleh CCTV. Kalau sampai di rumah itu ada alat pengacak sinyal itu, berarti seseorang sudah menyadari ada kamera pengintai disana.”

“Jadi maksud kamu, kita menghadapi seseorang, atau sesuatu yang lebih hebat, dari Wijaya?” tanyaku memastikan.

“Aku juga belum tahu pasti, karena itulah seharusnya Marto kamu biarkan hidup dulu.”

“Kenapa Marto? Apa karena keahlian menyusupnya saja? Aku bisa mengirim orang lain kesana. Ramon juga adalah teman dari suami Ara, bisa kita manfaatkan hal itu untuk masuk ke rumah mereka bukan?”

“Apa kita tahu bagaimana bentuk dan rupa alat itu? Alat itu bisa berupa apa saja di rumah itu kawan, nggak gampang untuk menemukannya. Itulah kenapa kita perlu Marto, karena dia yang lebih tahu tentang hal ini. Ingat, dia pernah dilatih hal-hal seperti ini di luar negeri, hal yang belum ada di negara ini. Dia yang tahu dan bisa mendeteksi keberadaan alat itu.”

“Apa nggak bisa dilacak dengan detektor?”

“Apa menurutmu jika alat itu begitu gampang untuk dilacak dan dideteksi akan dipakai oleh agen elit sekelas CIA?”

“Oke, kamu benar. Kalau memang benar-benar ada alat seperti itu, yang menjadi pertanyaan adalah, darimana Wijaya bisa mendapatkannya, apa kau ada petunjuk?” tanyaku.

“Tidak, belum ada. Seperti kau tahu sendiri, Wijaya baru saja bertindak setelah tahu kalau Marto dipecat, padahal kita sudah memasang kamera pengintai jauh sebelum itu. Sepertinya, ada orang lain yang membantu mereka. Dan jika benar dia punya alat itu, itu artinya dia juga bisa tahu dan bisa melacak kemana perginya video yang selama ini terekam dari kamera itu.” jawabnya.

“Maksudmu, dia bisa melacak balik markas kita, begitu?”

“Ya,” jawabnya pasti.

Perbincangan kami seputar kamera itu masih terus berlanjut. Kami penasaran, bagaimana bisa alat semacam itu bisa ada di rumah Ara. Apakah itu artinya ada yang membantu Ara? Ataukah itu ulah si Budi suami Ara? Marto memang pernah mengingatkanku perihal si Budi, tapi apakah memang dia sehebat itu? Aku harus lebih waspada, dan lebih menyelidiki menantu Wijaya itu.

Akupun segera menghubungi Ramon, untuk mematikan seluruh instalasi yang ada di ruang kontrol di rumahku, agar tidak sampai terlacak, atau semua rencanaku akan semakin berantakan. Kusuruh juga dia untuk mengamankan semua rekaman yang telah dibuat dari hasil pengintaian kami selama ini, dan memindahkannya ke tempat lain. Aku harus segera mencari tahu, bagaimana bisa menantu Wijaya memperoleh alat seperti itu. Dan kalaupun ada yang membantunya, itu pasti bukan orang sembarangan. Aku harus bergerak cepat, jangan sampai rencana yang sudah aku susun ini hancur karena masalah ini.

***

3[SUP]rd[/SUP] POV

Sakti bergegas menghubungi Martha, sekretaris ayahnya, untuk meminta tiket keberangkatannya ke Jogja. Dia agak jengkel, urusan sepenting itu harus diberitahukan dengan begitu mendadak. Dia hanya punya sedikit waktu untuk mempersiapkan semuanya, belum lagi urusan pekerjaannya sendiri yang belum selesai. Untung saja Cindy, sekretarisnya cukup gesit dan cekatan sehingga kini semua persiapan dan pekerjaannya sudah beres.

Cindy dan Martha memang tepat menduduki posisi ini. Pekerjaan mereka sangat bagus, sehingga selalu memudahkan Sakti dan ayahnya. Beberapa kali mereka menghadapi situasi yang sifatnya mendesak, tapi berkat bantuan mereka berdua semua masalah itu bisa teratasi.

Selain masalah pekerjaan, kedua wanita cantik yang sama-sama belum menikah ini juga selalu mampu membantu urusan ranjang Sakti dan ayahnya dengan baik. Mereka selalu siap kapan saja dipanggil oleh para atasannya itu. Namun mereka sangat profesional jika sudah berhadapan dengan pekerjaan. Kerja ya kerja, ngentot ya ngentot, mungkin itulah prinsip yang mereka anut.

“Hallo Martha, kamu udah pesankan tiket untukku?”

“Iya pak sudah, saya email sekarang ke bapak ya

“Sudah kamu cek lagi? Inget lho, nama saya sama papa cuma beda satu huruf.”

“Haha, tenang saja pak, sudah saya cek lagi, tiket ini sudah atas nama bapak kok

“Oke, baiklah kalau begitu, sekalian hotelnya kan?”

“Iya pak

Sakti menutup teleponnya dan tak lama kemudian masuklah sebuah email di ponselnya. Dia melihatnya, ada dua email, tiket pesawat dan voucher hotelnya, keduanya sudah benar atas namanya sendiri, Saktiawan Mahendra.

***

“Jadi gimana? Sudah ada perkembangan info soal Marto?”

“Siap, belum ada komandan, kami sudah berusaha melacaknya tapi belum ketemu juga.”

“Ya sudah, kembali ke posisimu, terus usahakan untuk mencari Marto!”

“Siap komandan.”

Wijaya masih penasaran dengan Marto. Seharusnya pria itu sudah ada disini, tapi sudah sejak dua minggu lebih sejak dia menerima kabar bahwa Marto dipecat dari anak buahnya ini, sama sekali tidak ada jejaknya. Bahkan orang-orang yang khusus diperintahkan untuk menjaga keluarganya juga tidak mendapatkan informasi apapun. Selain menjaga keluarganya, orang-orang itu juga ditugaskan untuk sekalian mencari Marto.

Sementara itu, oknum polisi yang memberikan info kepada Wijaya terkait Marto tadi juga heran, sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi Marto tapi tak pernah tersambung. Bukan apa-apa, dia hanya ingin menagih hadiah yang dijanjikan oleh Marto kepadanya untuk apa yang telah dilakukannya, yaitu diberi kesempatan untuk menikmati salah satu wanita Marto.

Wijaya sebenarnya juga menyuruh orang untuk membuntuti Safitri, karena dia yakin Marto akan mencarinya. Meskipun sudah mulai menjauhi Safitri, tetap saja Wijaya tak bisa tidak mengkhawatirkan wanita itu. Beberapa kali mereka begitu dekat bahkan menyatukan kedua kelamin mereka tentunya membuat Safitri punya tempat tersendiri di hati Wijaya.

Meski begitu, rasa cinta dan bersalah kepada istrinya, serta rasa takut akan karma yang bisa saja menimpa anaknya membuat Wijaya memutuskan untuk menghentikan perselingkuhannya dengan Safitri dan membiarkan wanita itu untuk segera mencari pria lain yang bisa mengisi kekosongan di hidupnya, karena dia memang masih muda dan tentu saja menarik.

Setelah berhari-hari Safitri diikuti oleh anak buahnya, tapi sama saja, hasilnya juga nihil. Dia mulai berpikir apakah Marto sudah melupakan kejadian dulu dan tak menyimpan dendam sehingga tak muncul lagi disini, dan apakah tindakan yang dia lakukan terlalu berlebihan. Akhirnya dia memutuskan untuk menarik beberapa orang yang ditugaskannya, dan kini hanya fokus ke keluarganya saja.

Dia membuka-buka kembali berkas yang tersimpan di ruangannya, berkas Marto. Berkas itu bukanlah berkas sembarangan. Itu adalah berkas rahasia, mengenai jati diri Marto yang seorang anggota pasukan elit. Dia melihat angka-angka yang berjejer di berkas itu. Angka-angka yang menunjukkan bagaimana prestasi Marto selama berada di tim itu. Terbaik dalam hal penyusupan, penyamaran, dan juga ahli dalam tembakan jarak jauh, siang ataupun malam.

Dia juga hebat dalam penggunaan teknologi dan rekayasa informatika, meskipun dalam kelompok itu ada yang lebih hebat darinya. Sayang semua keunggulan yang dimilikinya itu seperti hilang tak berbekas setelah tragedi yang menimpanya 10 tahun yang lalu. Orang yang begitu hebat dengan segala prestasinya itu hancur ketika orang yang dicintainya pergi dengan cara yang begitu keji.

Tak ada yang mampu membantunya bangkit dari keterpurukan, hingga akhirnya dia memilih jalan yang salah untuk melampiaskan semua kekesalannya. Membuat apa yang sudah pernah diperolehnya selama ini ikut menghilang bersamaan dengan berubahnya tabiat Marto. Sangat disayangkan memang, tapi putaran roda kehidupan memang tak pernah bisa diprediksi, kita hanya harus menjalaninya saja. Seandainya bisa memilih menjalani hidup seperti apa, semua pasti memilih apapun yang terbaik untuknya.

***

Safitri sendiri pun heran. Sudah hampir tiga minggu ini Marto tak muncul. Dia tak bisa menghubunginya karena Marto memang tidak memberi tahukan nomor teleponnya. Dia mulai merasa gelisah, dia mulai merindukan kehadiran Marto. Ya, sejak malam itu Marto memang beberapa kali mendatanginya, dan selalu berakhir dengan hubungan badan.

Setiap hubungan badan yang mereka lakukan tak pernah lagi Marto memperlakukannya dengan kasar. Perlakuannya sangat lembut, sama seperti suaminya dulu. Dia mulai merasakan getaran-getaran aneh jika bersama Marto, getaran yang sama dia rasakan kepada suaminya dulu. Hal inilah yang membuat Safitri selalu menerima kehadiran Marto. Bahkan pernah suatu kali, dia hanya memakai baju tidur yang sangat tipis tanpa pakaian dalam untuk menyambut Marto.

Memang selalu ada rasa was-was jika Marto datang dan mereka bercinta. Safitri khawatir suara mereka terdengar oleh mertua maupun anaknya. Tentu dia tak ingin mertuanya mengetahui hubungan gelapnya dengan Marto karena itu pasti akan menyakitkan untuk mertuanya, meskipun sudah berkali-kali mertuanya ini menyuruhnya untuk mencari pengganti Guntur, tapi belum bisa dipenuhi hingga sekarang. Tapi jujur saja Safitri butuh ini, butuh kehangatan yang ditawarkan oleh Marto, butuh sentuhan-sentuhan dari Marto. Karena itulah mereka selalu melakukannya dengan lembut dan lirih, berusaha sebisa mungkin tak menimbulkan suara.

Dan sampai kini Marto belum datang lagi. Dia rindu, rindu dengan sentuhan Marto, rindu persetubuhan mereka. Setiap malam dia berharap Marto akan datang, tapi sampai pagi dia membuka mata Marto tak kunjung datang. Dia tak berharap sesuatu yang buruk menimpa Marto, apalagi dia sempat dengar bahwa Wijayapun belum menemukan Marto. Dia hanya berharap Marto segera muncul menemuinya, dia sangat merindukan Marto.

Sore itu Safitri telah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Hari sudah menjelang maghrib, dibarengi dengan hujan rintik-rintik. Dia ingin segera pulang bertemu dengan buah hatinya. Besok dia tak bertugas, dan akhir pekan ini tak ada rencana kemana-mana, sehingga dia ingin menghabiskan waktunya di rumah saja bersama dengan anaknya, waktu bermain yang kini jarang bisa dilakoni bersama anaknya.

Dia mengemudikan mobilnya meninggalkan kantor tempatnya bekerja. Mobil itu peninggalan dari mendiang suaminya. Dia mengemudikan dengan kecepatan sedang saja, karena jalanan mulai ramai meskipun hujan gerimis, maklumlah jam pulang kerja, lagipula ini akhir pekan, kaum muda mudipun pasti sudah mempunyai rencana masing-masing untuk menghabiskan malam ini.

Dia tersenyum ketika melihat sepasang muda-mudi sedang berboncengan. Si cewek memeluk erat si cowok, entah karena rasa sayangnya atau hanya berlindung dari gerimis. Dia teringat ketika masa-masa pacaran dulu. Tak banyak waktu yang bisa dia habiskan dengan seperti itu, karena mereka memang menjalani hubungan jarak jauh. Baru setelah menikah mereka bisa tinggal sekota lagi. Ah, andai saja suaminya masih hidup, pasti akan menyenangkan menghabiskan setiap akhir pekan bersama dengan buah hati mereka.

Setelah melewati padatnya kemacetan dia membelokkan kendaraannya memasuki sebuah jalan yang cukup sepi. Sehari-hari dia memang memilih untuk melewati jalan ini tiap berangkat maupun pulang kerja, lebih sepi, tak pernah terkena macet. Dari kejauhan dia melihat ada sebuah motor dan seorang pria tampak tergeletak di jalan. Nampaknya pria itu baru saja mengalami kecelakaan.

Setelah cukup dekat dia menghentikan mobilnya dan segera turun untuk melihat kondisi pria itu. Terlihat ada genangan darah di sekitar pria itu, sedangkan tubuhnya tak bergerak. Saat hendak mengambil ponselnya untuk meminta bantuan, seseorang tiba-tiba mendekapnya dari belakang. Wajahnya dibekap dengan sebuah sapu tangan berkloroform. Dia mencoba untuk berontak, namun bau menyengat dari sapu tangan itu membuat tubuhnya lemas, dan tak lama kemudian dia kehilangan kesadarannya.

Setelah Safitri pingsan, tiba-tiba saja pria yang tergeletak tadi terbangun, kemudian membantu temannya mengangkat tubuh Safitri dan memasukan ke mobilnya sendiri. Mereka bergerak dengan cepat agar tidak ada yang melihat aksinya. Setelah itu pria yang tergeletak tadi menaiki motornya meninggalkan tempat itu, sedangkan pria yang mendekap Safitri mengambil ponsel polwan itu dan mengetik pesan ke mertuanya, mengabarkan kalau tidak bisa pulang dan akan menginap di kantor karena ada kasus yang harus diselesaikan, setelah itu dengan ponselnya sendiri dia menghubungi bossnya.

“Boss, paket sudah siap.”

“Bagus, bawa ke markas, aku segera kesana

Tanpa menjawab lagi pria itu mengemudikan mobil Safitri menuju ringroad utara, menuju ke sebuah perumahan elit yang terletak disana. Sesampainya di sebuah rumah, segera pria itu memasukkan mobil Safitri ke garasi, kemudian mengangkat tubuh Safitri dan membawanya ke sebuah kamar. Pria kurus yang sebelumnya bersama Ramon, bossnya, berhasil menaklukkan kedua kakak perempuan Budi ini menatap kagum pada Safitri.

Dia memang pernah melihat Safitri sebelumnya, tepatnya di pesta pernikahan Ara dan Budi, dimana saat itu dia bekerja sambilan sebagai pegawai katering. Dia melihat Safitri saat itu dengan gaun pestanya, cukup cantik, tapi tak terlalu istimewa karena kebanyakan tamu di pesta berpenampilan seperti itu. Tapi kini, Safitri berada di depannya, terbaring tak sadarkan diri di ranjang, dengan menggunakan pakaian dinas lengkapnya.

Pria kurus itu mendekat dan kemudian duduk di samping tubuh Safitri. Tangannya dengan nakal langsung meraba buah dada Safitri yang tidak terlalu besar. Tangan satunya menuju selangkangan Safitri, menyentuh dan meremasnya. Dia terlihat sangat bernafsu, ingin merasakan bagaimana nikmatnya tubuh polwan cantik itu. Saat dia akan mencium bibir Safitri, tiba-tiba dia mendengar ada suara mobil yang datang, mobil Ramon.

Dia mengurungkan niatnya, dan segera merapikan kembali pakaian Safitri yang agak berantakan akibat ulah tangannya tadi. Setelah itu dia segera keluar dari kamar untuk menemui Ramon.

“Gimana?”

“Udah siap boss, saya taruh di kamar.”

“Oke kalau gitu, kamu boleh pergi sekarang.”

“Oke boss, saya tinggal dulu.”

Sepeninggal anak buahnya, Ramon segera memasuki kamar yang dimaksud. Ramon memang sudah mengincar Safitri. Dia penasaran seperti apa wanita yang sudah membuat rekannya Marto tergila-gila. Memasuki kamar, nampak seorang wanita yang masih memakai seragam dinas lengkap tergeletak di ranjang tak sadarkan diri. Ramon mendekat, mengamati tiap inchi tubuh mungil wanita itu. Dia segera menelanjangi dirinya sendiri hingga hanya tinggal memakai celana dalamnya saja. Setelah itu dia membelai lembut kepala Safitri, wanita yang akan menemaninya malam ini, hingga pagi nanti.

***

Sore ini Wijaya mengunjungi anaknya Ara. Dia datang sendiri tanpa diantarkan oleh Sarbini supirnya. Sore ini Sarbini ijin untuk pulang ke rumahnya, tanpa diketahuinya ternyata Sarbini hendak bermalam di sebuah hotel bersama seorang wanita muda dan menghabiskan malam yang penuh gairah dengan wanita itu, wanita yang pernah disetubuhinya di malam pernikahan anak majikannya.

Wijaya memasuki gerbang rumah itu saat dilihatnya anak dan menantunya sedang bersama-sama merapikan taman kecil di halaman rumah mereka. Hmm, cara yang sederhana untuk mengisi akhir pekan, Kedatangannya yang cukup mengejutkan itu tentu disambut gembira oleh mereka berdua. Segera saja bergantian kedua anak muda itu mencium tangan Wijaya setelah sebelumnya membersihkan tangan mereka.

“Ayah kok sendirian aja? Nggak dianter Pak Sarbini. Ibu mana yah?” tanya sang anak.

“Sarbini ijin pulang tadi. Ibumu lagi di butik Ra, tadi ayah kebetulan lewat daerah sini aja makanya mampir.”

“Yuk masuk dulu yah, kita ngobrol di dalem aja. Dek, buatin minum untuk ayah ya,” ujar Budi.

“Iya mas.”

Budi dan Wijaya pun duduk di ruang tamu sementara Ara masuk ke dapur untuk membuatkan mereka minuman. Mereka berbincang ringan, saling bertanya kabar dan kegiatan masing-masing. Sampai akhirnya Ara datang membawa tiga cangkir teh manis hangat dan beberapa toples kue. Mereka pun melanjutkan obrolan bertiga sambil sesekali menikmati camilan yang disiapkan oleh Ara.

“Wah kita jadi ndak enak ni yah, malah ayah yang kesini, harusnya kita yang kesana, ya dek?” ujar Budi.

“Iya mas, hehe. Ayah juga nggak ngabarin dulu mau kesini, kan bisa Ara siapin makan malam juga yah.”

“Halah nggak papa santai aja. Sebenarnya ada yang pengen ayah omongin sama kalian berdua, makanya ibu nggak ayah ajak,” ucap Wijaya.

Ara dan Budi pun saling berpandangan, heran.

“Emang mau ngomongin soal apa yah?” tanya Budi.

“Ini ada kaitannya sama kecelakan Pak Dede, atasan kamu Ra,” jawab Wijaya.

“Kecelakaan Pak Dede? Emangnya kenapa yah?” kini wajah Ara dan Budi menjadi serius.

“Ada yang janggal sama kecelakaan itu. Sepertinya, kematian Pak Dede bukan karena kecelakaan murni, tapi ada yang berniat mencelakainya.”

“Hah, ada yang berniat mencelakainya?” ujar Budi terkaget.

“Iya Bud. Anggotaku kemarin menemukan ada kerusakan yang nggak wajar di mobil Dede. Dan juga ada barang pribadi Dede yang hilang, ponselnya.”

“Kerusakan yang nggak wajar gimana yah?” tanya Ara.

“Ya, dibagian kanan belakang mobil itu, ada semacam goresan gitu, seperti bekas membentur atau menggesek sesuatu. Padahal jelas-jelas yang nubruk pohon itu bagian depannya. Dan setelah diperiksa, ada kemungkinan rem mobil itu nggak berfungsi.”

“Ah masak yah? Setahu Ara pas Pak Dede mau pergi dari villa itu mobilnya baik-baik aja,” ujar Ara.

“Makanya ayah kemari mau nanyain itu sama kamu. Apa kamu ngelihat sesuatu yang aneh sebelum Pak Dede pulang?”

“Kayaknya sih nggak ada yah. Kemarin itu emang aku sama Pak Dede yang terakhir di villa itu, tapi Pak Dede pulang duluan soalnya aku masih ngurus biaya villa. Setelah beres urusan di villa baru Ara turun yah, nah pas lewat situ udah rame ternyata mobil Pak Dede nabrak pohon,” jelas Ara mengingat-ingat kejadian tempo hari.

“Berapa lama kira-kira selisih kamu sama Pak Dede pulangnya dek?” tanya Budi.

“Berapa lama ya, kira-kira 15-20 menitan lah mas.”

“Hmm, waktu yang cukup buat ngelakuin sesuatu,” Potong Wijaya.

“Maksud ayah?” tanya Budi dan Ara serempak.

“Yah, 15-20 menit itu lumayan lama untuk orang yang mengincar Pak Dede. Kalau seandainya memang benar ada yang mengincarnya, pasti bukan orang sembarangan kan? Dia pasti udah mempersiapkan semuanya. Sayang kemarin jasadnya nggak sempat diperiksa lebih mendalam karena memang dipercaya itu karena kecelakaan, tapi ayah curiga, Pak Dede kehilangan nyawanya sebelum mobil itu menabrak pohon, dia tidak mati karena kecelakaan, tapi dibunuh!”

“HAH? Dibunuh?” Budi dan Ara tersentak.

“Ya, itu baru perkiraan ayah. Karena menurut ayah luka-luka di Pak Dede itu nggak wajar. Kondosi jalan memang menurun, tapi bukan turunan yang terlalu terjal untuk menyebabkan kecelakaan seperti itu. Kerusakan akibat tabrakan itu juga nggak terlalu parah sebenarnya, seharusnya nggak sampai bikin luka separah itu di kepala Pak Dede. Cipratan darahnya sampai kemara-mana, terlalu janggal untuk benturan yang seperti itu.”

Budi dan Ara terdiam, mencoba untuk merekonstruksi penjelasan Wijaya dengan imajinasi mereka. Yah, sepertinya memang cukup aneh, dibutuhkan benturan yang sangat keras, atau dengan benda keras, atau tumbukan antara mobil dan pohon yang sangat keras untuk menghasilkan luka separah itu. Tapi bagi Ara sendiri yang melihat bagaimana kondisi mobil dan kondisi jasad Pak Dede, sepertinya penjelasan dari ayahnya tadi cukup masuk akal, bahwa Pak Dede bukan meninggal karena kecelakaan itu, tapi karena sebab lain.

“Apalagi ponselnya juga nggak ada disitu,” sambung Wijaya.

“Kalau ponsel kan mungkin diambil sama orang-orang yang kemarin pada ngumpul disitu yah?” tanya Ara.

“Bisa jadi, tapi bisa juga nggak Ra, anggotaku udah coba menyelidiki, dan dia memastikan nggak ada seorang pun dari mereka yang ngambil ponsel itu, bahkan mereka nggak menyadari, karena mereka lebih terfokus mengeluarkan tubuh Pak Dede dari mobil itu sebelum terjadi apa-apa, meskipun kondisinya memang sudah tidak bernyawa.”

“Kalau warga disitu juga nggak sadar ada barang yang hilang, trus siapa yang menyadari hilangnya ponsel Pak Dede yah?” tanya Budi.

“Dari istrinya. Begitu dikabari tentang kecelakaan suaminya, istrinya langsung berangkat kesini. Dan setibanya dia disini dia justru menanyakan ponsel suaminya. Katanya, sebelum kami kabari dia sudah lebih dulu menerima kabar kalau suaminya tewas, dari nomor suaminya sendiri. Waktu melihat jam dikirimnya pesan itu, sekitar 15 menit sebelum Ara menghubungi ayah.”

“Hah, kok bisa gitu yah?” tanya Ara.

“Iya, 15 menit sebelum kamu telepon ayah, seseorang, dengan ponsel Pak Dede mengabari istrinya lewat sms, kalau Pak Dede sudah tewas, dan setelahnya ponsel itu sudah nggak aktif lagi, sampai sekarang. Dari situ ayah bisa simpulkan, Pak Dede sudah tewas sebelum mobilnya menabrak pohon itu Ra. Setahu kamu, apa Pak Dede punya musuh di kantor?”

“Nggak tahu juga yah, kalau di kantor dia orangnya baik sih, nggak kelihatan kayak orang yang punya banyak musuh,” jawab Ara.

“Atau mungkin ada orang-orang yang mencurigakan? Misalnya ngincar jabatannya Pak Dede gitu?” tanya Wijaya lagi.

“Waduh nggak tahu kalau ke arah sana yah, sepengetahuan Ara sih nggak ada yang kelihatan berambisi buat ngerebut posisinya Pak Dede. Sekarang aja posisi itu kosong sama sekali nggak ada yang kelihatan buru-buru pengen nempatin yah,” jawab Ara.

“Jadi, yah sebut saja Pak Dede dibunuh, ponsel itu hanya digunakan oleh si pelaku untuk mengabari istrinya saja, atau mungkin ada sesuatu di ponsel itu yah?” tanya Budi.

“Maksudmu Bud?” tanya Wijaya.

“Rasanya kok aneh aja yah, ngapain juga si pelaku ngasih tahu istrinya Pak Dede, pakai ponselnya Pak Dede lagi. Mungkin nggak kalau gini yah, si pelaku sengaja ngasih tahu istri Pak Dede pake ponsel Pak Dede, kemudian membuat sebuah kondisi seolah-olah ponsel itu dibuang supaya nggak bisa melacak sidik jari atau apapun dari ponsel itu,” terang Budi.

“Hmm, iya benar juga, dengan adanya laporan dari istri Pak Dede tentang sms itu, dan setelah kita cari ternyata ponselnya nggak ada, sehingga membuat kita berpikir bahwa ponsel itu dibuang untuk menghilangkan jejak, gitu maksud kamu Bud?” tanya Wijaya

“Iya yah, seolah-olah ponsel itu sengaja dibuang untuk menghilangkan jejak, padahal sebenarnya ponsel itu masih ada di tangan si pelaku. Mungkin, ada sesuatu di ponsel itu yah yang membuat pelaku tertarik untuk menyimpannya,” jawab Budi.

“Kamu benar Bud, mungkin memang ada sesuatu di dalam ponsel itu, yang bukan hanya menarik minat pelaku untuk menyimpannya, tapi juga membunuh si pemilik ponsel. Tapi sayangnya kita sudah nggak bisa melacaknya lagi. Apalagi dari pihak keluarga Pak Dede, nggak mau urusan ini diperpanjang.”

“Hmm, susah juga ya kalau gitu.”

Mereka bertiga terdiam, larut dalam lamunan dan asumsi masing-masing. Wijaya sangat yakin bahwa kematian Dede adalah suatu kesengajaan, sebuah tindak pembunuhan, tapi dia belum tahu darimana harus mengungkap kasus ini, sementara saat ini hal itu sudah ditetapkan sebagai sebuah kecelakaan tunggal. Lagipula tak ada permintaan dari pihak manapun termasuk pihak keluarga untuk melakukan penyelidikan tentang kecelakaan ini.

Kalau saja dia dan anggotanya bisa menyadari hal ini lebih cepat, mungkin dia bisa mendapatkan hasil visum yang lebih mendalam lagi. Sayangnya semua orang sudah terlanjur percaya kalau kejadian itu murni kecelakaan, yang tak perlu diselidiki lebih lanjut apa penyebabnya.

Dia juga memikirkan kemungkinan yang disampaikan Budi tadi. Sebelumnya dia memang merasa janggal dengan menghilangnya ponsel Dede, tapi setelah mendengat analisa dari Budi, dia semakin yakin kalau memang kematian Dede ini adalah sebuah kesengajaan, dia memang diincar untuk sesuatu yang belum diketahui apa itu.

Sementara Ara juga sedang larut dalam lamunannya. Dia sebenarnya tahu kalau ponsel Pak Dede hilang dari Nadya, tapi kalau dia sampaikan ini kepada ayahnya di depan suaminya, mereka pasti bertanya-tanya darimana mereka bisa tahu kalau ponselnya hilang, dan kenapa mereka mengkhawatirkannya. Kalau sampai begitu mau tak mau pada akhirnya dia harus mengungkap apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Tunggu dulu, benar juga. Bagaimana mereka bisa tahu kalau ponselnya hilang, maksudnya, bagaimana Nadya bisa menyadari kalau ponselnya Pak Dede hilang? Sementara para polisi saja juga tidak menyadari kalau ada barang pribadi Pak Dede yang hilang sebelum adanya laporan dari Istri Pak Dede soal sms itu, tapi Nadya?

Apakah karena kekhawatirannya terhadap video-video di dalam ponsel itu membuat dia bertanya pada polisi? Tidak mungkin, karena waktu Ara menawarkan untuk minta bantuan ke polisi dia justru menolaknya dengan berbagai macam alasan. Lalu dari mana Nadya tahu hal ini?

“Ya sudahlah kalau begitu, biar anggota ayah saja yang memecahkan kasus ini, maaf malah bikin kalian jadi kepikiran ya.”

“Iya yah nggak papa, moga-moga cepet ada titik terang, dan kasus ini bisa segera dipecahkan, dan maaf ya yah mungkin kami nggak bisa banyak bantu,” ucap Budi.

“Nggak papa, ya udah, ayah pamit dulu ya, mau jemput ibu kalian dulu.”

“Iya yah,” jawab Budi dan Ara serentak, sambil mencium tangan ayah mereka.

***

Malam Harinya

Malam sudah larut, ketika seorang pria terbangun dari tidurnya. Dia memandang ke samping, terlihat seorang wanita cantik masih terlelap, masih dalam keadaan tanpa busana, menampakkan tubuh indah yang pastinya akan membuat semua pria tak tahan untuk menjamahnya. Tubuhnya yang putih bersih dengan dua gundukan indah di dadanya, dan pantatnya yang bulat dan padat.

Masih terlihat bekas sperma pria itu di pangkal paha sang wanita. Mereka memang baru saja bercinta dengan beberapa jam yang lalu. Pria itu tersenyum membayangkan persetubuhannya tadi, betapa puasnya dia mereguk kenikmatan dengan wanita itu. Jauh lebih nikmat daripada wanita-wanita yang dulu pernah dia tiduri.

Pria itu bangkit menuju dapur, dia haus sekali. Setelah mengambil minum dia tak langsung kembali ke kamar, tapi mencari sesuatu di tas kerjanya yang masih tergeletak di ruang keluarga. Dia meraih sebuah ponsel, kemudian menyalakannya. Setelah beberapa saat mengutak atik ponsel itu, dia kemudian membuka sebuah file, yang berisikan foto-foto dan beberapa video.

Foto wanita telanjang, foto persetubuhan si pemilik ponsel dengan beberapa orang wanita. Dia buka satu persatu sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia membuka satu-persatu video yang ada di file itu. Beberapa dari video itu diberi judul yang diambil dari nama-nama wanita yang ada di dalam video itu sendiri, ada nama Nadya, Lia, Wulan dan Tika, sedangkan beberapa video lagi tidak ada judulnya, namun menampilkan adegan persetubuhan si pemilik ponsel dengan wanita-wanita itu, dan beberapa orang wanita lainnya.

“Lucky bastard. Bisa-bisanya si Dede ngentotin cewek-cewek ini, penjahat kelamin juga ternyata. Pasti target selanjutnya si Ara, tapi sayangnya dia udah mati duluan,” gumam pria itu.

Dia menonton semua video yang ada di ponsel itu sampai selesai, hingga tak terasa kemaluannya yang tadi lemas kini bangkit lagi. Dia segera mematikan lagi ponsel itu dan kembali menyimpan di tas kerjanya. Kemudian dia kembali ke kamar, untuk menuntaskan nafsunya yang sudah bangkit lagi bersama wanita yang masih terpekur di ranjang itu. Besok hari minggu, tak ada salahnya malam ini dia habiskan bersama wanita itu untuk mereguk kenikmatan sepuas-puasnya.

***

Beberapa Hari Sebelumnya

Nampak seorang anak laki-laki sedang terengah-engah berlari menuju rumahnya. Rumah reyot yang hanya dia tinggali bersama ibunya. Sang ibu yang memang menunggu anaknya yang sedang mencari kayu bakar itu terkejut, melihat anaknya berlari dengan kencang menuju arahnya.

“Mak, mak’e,” panggil sang anak.

“Ono opo le kok mlayu-mlayu? (Ada apa nak kok lari-lari?)” jawab sang ibu.

“Kae mak, neng kono kae mak (Itu mak, disana itu mak) jawab si anak sambil menunjuk ke arah jurang.

“Ono opo neng kono? (Ada apa disana?)”

“Ono, ono mayit mak (Ada, ada mayat mak)”

“Hah, mayit? Sing bener kowe le? (Hah, mayat? Yang benar kamu nak?)”

“Iyo mak, bener.”

“Yo wes, ayo rono, didelok sik. (Ya udah, ayo kesana, dilihat dulu)”

“Emoh mak, wedi aku, adoh pisan. (Nggak mau mak, takut aku, jauh lagi.)”

“Wes tho ayo, karo emak. (Udah deh ayo, sama emak.)”

Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke tempat yang dimaksud anak laki-laki tadi. Memang agak jauh dari rumah mereka, terlebih harus melewati jalan setapak yang naik turun. Namun ketika sampai di tempat yang dimaksud, si anak tadi malah kebingungan. Sosok mayat yang dilihatnya beberapa saat yang lalu, sudah menghilang, tak ada lagi di tempatnya.

“Endi le? Jaremu ono mayit? (Mana nak? Katamu ada mayat?)” tanya sang ibu.

“Ndek mau neng kono iku lho mak, kok saiki ra ono yo? (Tadi disitu itu mak, kok sekarang nggak ada ya?)”

“Halah, kowe ki ono-ono wae, senengane kok ngapusi emak. (Halah kamu ini ada-ada aja, sukanya kok ngebohongi emak.)” ujar sang ibu jengkel.

“Lho tenan mak aku ra ngapusi, mau ki ono. (Lho bener mak aku nggak bohong, tadi tu ada.)”

“Wes wes, ayo mulih wae. (Udah udah, ayo pulang aja.)” ajak sang ibu dengan perasaan jengkel karena merasa dibohongi anaknya.

Sementara si anak laki-laki itu kebingungan, dia tadi benar-benar melihat ada mayat seorang pria tergeletak di dekat batuan besar di dasar jurang. Tapi kenapa kini mayat itu tidak ada lagi. Tidak mungkin mayat itu bisa berpindah sendiri. Kalaupun seandainya itu bukan mayat, tapi seseorang yang ternyata belum mati, tak mungkin orang itu bisa menghilang secepat ini, karena anak laki-laki itu melihat kedua kaki pria itu patah di bagian lututnya.

Apa mungkin yang dilihatnya tadi hantu? Tapi hantu di siang bolong, yang benar saja? Lalu bagaimana bisa sosok tubuh tadi bisa hilang dari tempat itu sedemikian cepat? Bulu kuduk anak itupun berdiri, dia segera berlari menyusul ibunya yang telah lebih dulu meninggalkan tempat ini.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler